• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

F. Metode dan Teknik Analisis data

Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis statistik

dengan menggunakan software SPSS 16. Sebelum data dianalisis, maka untuk

keperluan analisis data tersebut terlebuh dahulu dilakukan uji asumsi klasik.

1. Pengujian Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik yang dilakukan adalah uji normalitas data, uji

multikolonieritas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,

variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Kalau nilai

jumlah sampel kecil (Ghozali, 2005:110). Menurut Ghozali (2005:110), ”cara

untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak ada dua, yaitu

analisis grafik dan analisis statistik. Normalitas dapat dideteksi dengan melihat

penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dan grafik dengan melihat histogram

dari residualnya”. Dasar pengambilan keputusannya adalah:

1) jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal

atau grafik histogramnya menunjukkan pola berdistribusi normal, maka model

regresi memenuhi asumsi normalitas,

2) jika data menyebar jauh dari diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal

atau grafik histogram tidak menunjukkan data berdistribusi normal, maka

model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

”Uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah

uji statistik Kolmogorov-Smirnov (K-S)”, yang dijelaskan oleh Ghozali

(2005:115). Uji K-S dibuat dengan membuat hipotesis:

Ho : Data residual berdistribusi normal

Ha : Data residual tidak berdistribusi normal

Bila signifikansi >0,05 dengan α = 5% berarti distribusi data normal dan Ho diterima, sebaliknya bila nilai signifikan <0,05 berarti distribusi data tidak normal

b. Uji Multikolinieritas

Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

ditemukan korelasi antar variabel bebas. Pengujian ini dapat dilihat dari nilai VIF

dan korelasi di antara variablel bebas. Jika terjadi korelasi di antara variabel

bebas lebih besar dari 0,9 berarti terjadi masalah multikolinieritas. Model regresi

yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebasnya (Ghozali,

2005: 91).

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji ini memiliki tujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi

ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain.

Menurut Erlina (2007:108) “jika varians dari residual satu pengamatan ke

pengamatan lainnya tetap, maka disebut homoskedastisitas. Sebaliknya jika

varians berbeda, maka disebut heterokedasitas”. Ada tidaknya heteroskedastisitas

dapat dilakukan dengan melihat grafik Scaterplot antar nilai prediksi variabel

independen dengan nilai residualnya. Dasar analisis yang dapat digunakan untuk

menentukan heteroskedastisitas, antara lain:

1) jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu

yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka

mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas,

2) jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik-titik menyebar di atas dan di bawah

angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas atau terjadi

d. Uji Autokorelasi

Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model regresi linear

ada korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada

periode t-1 (sebelumnya). Model regresi yang baik adalah yang bebas dari

autokorelasi. Masalah autokorelasi umumnya terjadi pada regresi yang datanya

time series. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi masalah dalam autokorelasi di antaranya adalah dengan Uji Durbin Watson pada buku

stastistik relevan. Namun, secara umum dapat diambil patokan sebagai berikut:

1. angka D-W di bawah –2 berarti ada autokorelasi positif,

2. angka D-W di antara -2 sampai +2, berarti tidak ada autokorelasi,

3. angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif.

2. Uji Hipotesis

Hipotesis diuji dengan menggunakan analisis regresi linear berganda,

dengan persamaan sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + e

Dimana:

Y = Variable dependen (Pertumbuhan Laba = PL)

a = Konstanta

X1 = Variabel independen 1 (CAR)

X2 = Variabel independen 2 (DER)

b1, b 2, b 3 = Koefisien regresi CAR, DER

Hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Uji F dan Uji t.

a. Uji F

Uji ini dilakukan untuk menilai pengaruh variabel independen secara

bersama-sama terhadap variabel dependen. Hipotesa yang akan diuji

adalah sebagai berikut :

H0 : b1=b2=0, artinya tidak semua variabel independen berpengaruh

simultan.

Ha : b1≠b2≠0, artinya semua variabel independen berpengaruh secara simultan.

Uji ini dilakukan dengan membandingkan signifikansi F-hitung dengan

F-tabel dengan ketentuan :

Jika Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima

Jika Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak.

b. Uji t

Uji t (t-test) digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu

variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Hipotesa

yang akan diuji adalah sebagai berikut :

H0 : b1=b2=0, artinya tidak semua variabel independen berpengaruh

parsial.

Ha : b1≠b2≠0, artinya semua variabel independen berpengaruh secara parsial.

Uji ini dilakukan dengan membandingkan t-hitung dengan t-tabel dengan

Jika thitung < ttabel, maka H0 diterima

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Data Penelitian

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

analisis statistik yang menggunakan persamaan regresi berganda. Analisis data

dimulai dengan mengolah data dengan menggunakan Microsoft excel, selanjutnya

dilakukan pengujian asumsi klasik dan pengujian menggunakan regresi berganda.

Pengujian asumsi klasik dan regresi berganda dilakukan dengan menggunakan

software SPSS versi 16. Prosedur dimulai dengan memasukkan variabel-variabel penelitian ke program SPSS tersebut dan menghasilkan output-output sesuai

metode analisis data yang telah ditentukan. Berdasarkan kriteria yang telah

ditetapkan, didapat 16 perusahaan yang memenuhi kriteria dan dijadikan sampel

Tabel 4.1

Sampel Perusahaan Perbankan

No Kode Nama Emiten

1 INPC Bank Artha Graha Internasional Tbk. 2 BBCA Bank Central Asia Tbk.

3 BDMN Bank Danamon Tbk.

4 BNII Bank Internasional Indonesia Tbk.

5 BKSW Bank Kesawan Tbk.

6 BMRI Bank Mandiri Tbk.

7 MAYA Bank Mayapada Internasional Tbk.

8 MEGA Bank Mega Tbk.

9 BBNI Bank Negara Indonesia Tbk.

10 NISP Bank OCBC NISP Tbk.

11 BBNP Bank Nusantara Parahyangan Tbk. 12 PNBN Bank Pan Indonesia Tbk.

13 BNLI Bank Permata Tbk.

14 BBRI Bank Rakyat Indonesia Tbk. 15 BSWD Bank Swadesi Tbk.

16 BVIC Bank Victoria International Tbk. Sumber : Data yang diolah penulis, 2011.

B. Analisis Hasil Penelitian 1. Analisis Statistik Deskriptif

Informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini merupakan data sekunder

yang diperoleh dari www.idx.co.id dan Indonesian Capital Market Directory

berupa data keuangan sampel perusahaan perbankan dari tahun 2006 sampai tahun

2008 yang dijabarkan dalam bentuk statistik.

Variabel dari penelitian ini terdiri dari Capital Adequacy Ratio dan Debt to

Equity Ratio sebagai variabel bebas (independent variable) dan Pertumbuhan Laba (Laba) sebagai variabel terikat (dependent variable). Statistik deskriptif dari

variabel tersebut dari sampel perusahaan perbankan selama periode 2006 sampai

dengan tahun 2008 disajikan dalam tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.2

Statistik Deskriptif Variabel-Variabel

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

CAR 48 .0937 .3327 .177417 .0534702

DER 48 3.7520 19.0413 9.874269 3.1313976

PrtmbhnLaba 48 -.9478 2.3607 .218973 .5481315 Valid N (listwise) 48

Sumber : Diolah oleh penulis dengan SPSS, 2011.

Dari tabel 4.2 dijelaskan bahwa :

1. Variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) memiliki nilai minimum 0,0937

dan nilai maksimum 0,3327. Nilai rata-rata CAR 0,177417 dengan standar

deviasi 0,0534702.

2. Variabel Debt to Equity Ratio (DER) memiliki nilai minimum 3,7520 dan

nilai maksimum 19,0413. Nilai rata-rata DER 9,874269 dengan standar

deviasi 3,1313976.

3. Variabel Pertumbuhan Laba (Laba) memiliki nilai minimum -0.9478 dan

nilai maksimum 2,3607. Nilai rata-rata Laba 0,218973 dengan standar

deviasi 0,5481315.

4. Observasi berjumlah 48

2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Uji normalitas data bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model

diketahui bahwa uji-t dan uji-F mengasumsikan bahwa residual mengikuti

distribusi normal.

Pengujian normalitas dalam penelitian ini menggunakan dua cara, yaitu

analisis grafik, yang terdiri dari histogram dan normal probability plot, serta

analisis statistik dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov (K-S).

Hasil uji grafik dalam penelitian ini menunjukkan distribusi residual yang

relatif normal, hal ini dapat ditunjukkan oleh grafik histogram yang tidak

menceng ke kiri atau ke kanan. Selain itu, normal probability plot menunjukkan

pola titik-titik yang menyebar mendekati dan searah garis diagonal grafik, hal ini

mengindikasikan data sudah relatif normal.

Gambar 4.1

Uji Normalitas dengan Histogram

Gambar 4.2

Uji Normalitas dengan Plot

Sumber : Diolah oleh penulis dengan SPSS, 2011.

Untuk memastikan lebih akuratnya prediksi asumsi normalitas, maka

selain uji grafik, dilakukan juga uji Kolmogorov-Smirnov. Uji ini mensyaratkan

nilai signifikansi residual lebih besar dari 0,005 agar suatu distribusi residual

Tabel 4.3 Uji Normalitas Data

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 48

Normal Parametersa Mean .0000000

Std. Deviation .62141428

Most Extreme Differences Absolute .191

Positive .191

Negative -.116

Kolmogorov-Smirnov Z 1.326

Asymp. Sig. (2-tailed) .059

a. Test distribution is Normal.

Sumber : Diolah oleh penulis dengan SPSS, 2011.

Dari tabel diatas, besarnya Kolmogorv-Smirnov (K-S) adalah 1,326 dan

signifikansi pada 0,059 sehingga dapat disimpulkan bahwa data dalam model

regresi telah terdistribusi secara normal, dimana nilai signifikansinya lebih dari

0,005 (p=0,059 > 0,005). Dengan demikian, secara keseluruhan dapat disimpulkan

bahwa nilai-nilai observasi data telah terdistribusi secara normal dan dapat

dilanjutkan dengan uji asumsi klasik lainnya.

b. Uji Multikolinieritas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model

regresi ditemukan adanya korelasi di antara variabel bebas (independen). Model

regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen.

Akibat dari terjadinya korelasi antar variabel bebas ini adalah

koefisien-koefisien regresi menjadi tidak dapat ditaksir dan nilai standart error bagi setiap

koefisien menjadi tidak terhingga. Hasil uji multikolinearitas disajikan dalam

tabel 4.4 dan tabel 4.5.

Tabel 4.4

Uji Multikolinearitas (1)

Model CAR DER

1 Correlations CAR 1.000 .767

DER .767 1.000

Covariances CAR .002 .073

DER .073 5.605

a. Dependent Variable: Laba

Sumber : Diolah oleh penulis dengan SPSS, 2011.

Tabel 4.5 Uji Multikolinearitas (2) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) .505 .774 .652 .518

CAR -.376 2.368 -.037 -.159 .875 .412 2.425

DER -.022 .040 -.127 -.549 .586 .412 2.425

a. Dependent Variable: Laba

Sumber : Diolah oleh penulis dengan SPSS, 2011.

Dari tabel 4.4 dapat dilihat bahwa hasil besaran korelasi antar variabel

bebas masih di bawah 95 %, maka dapat dikatakan bahwa tidak terjadi

Hasil perhitungan nilai tolerance pada tabel 4.5 menunjukkan tidak ada

variabel independen yang memiliki nilai tolerance kurang dari 0.10 yang berarti

tidak terjadi korelasi antar variabel independen yang nilainya lebih dari 95%.

Hasil perhitungan nilai Variance Inflation Factor (VIF) juga menunjukkan hal

yang sama, tidak ada variabel bebas yang memiliki nilai VIF lebih dari 10.

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinieritas

antar variabel independen dalam model regresi.

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke

pengamatan yang lain (Ghozali, 2005: 105). Untuk mendeteksi ada tidaknya

heteroskedastisitas, dapat dilihat dari grafik scatterplot antara nilai prediksi

variabel terikat yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Jika ada pola tertentu

seperti titik-titik yang teratur, maka telah terjadi heteroskedastisitas. Sebaliknya

jika tidak ada pola yan gjelas serta titik-titik yang menyebar, maka tidak terjadi

heteroskedastisitas.

Hasil dari Uji Heteroskedastisitas dapat ditunjukkan dalam grafik

Gambar 4.3 Uji Heteroskedastisitas

Sumber: Hasil olah data statistik, 2010

Suatu regresi dikatakan terdeteksi heteroskedastisitas apabila diagram

pencar residual membentuk pola tertentu. Tampak pada pola output di atas,

diagram pencar residual tidak membentuk pola tertentu serta titik-titik menyebar

di atas dan di bawah angka 0 baik pada sumbu Y maupun sumbu X.

Kesimpulannya adalah bahwa regresi terbebas dari kasus heteroskedastisitas dan

d. Uji Autokorelasi

Ghozali (2005:95) menyatakan bahwa :

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data runtut waktu (time series) karena “gangguan” pada seseorang individu/kelompok cenderung mempengaruhi “gangguan” pada individu/kelompok yang sama pada periode berikutnya.

Cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi masalah autokorelasi adalah dengan menggunakan nilai uji Durbin Watson (D-W) dengan ketentuan sebagai berikut :

1) angka D-W dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif,

2) angka D-W di antara -2 sampai +2, berarti tidak ada autokorelasi,

3) angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif.

Tabel 4.6

Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .101a .010 -.034 .5572947 2.269

a. Predictors: (Constant), CAR, DER b. Dependent Variable: Laba

Sumber : Diolah oleh penulis dengan SPSS, 2011.

Tabel 4.7 memperlihatkan nilai statistik D-W sebesar 2,269. Angka ini

terletak di atas +2, dari pengamatan ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi

3. Pengujian Hipotesis

Melalui hasil pengujian asumsi klasik disimpulkan bahwa bahwa model

regresi yang dipakai dalam penelitian ini telah memenuhi model estimasi yang

Best Linear Unbiased Estimator (BLUE) dan layak dilakukan analisis regresi. Untuk menguji hipotesis, peneliti menggunakan analisis regresi berganda.

Berdasarkan hasil pengolahan data dengan program SPSS 16, maka diperoleh

hasil sebagai berikut:

a. Persamaan Regresi

Dalam pengolahan data dengan menggunakan regresi linear, dilakukan

beberapa tahapan untuk mencari hubungan antara variabel independen dan

variabel dependen, melalui pengaruh CAR dan DER terhadap Laba. Hasil regresi

dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut ini.

Tabel 4.7 Analisis Hasil Regresi

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) .505 .774 .652 .518

CAR -.376 2.368 -.037 -.159 .875 .412 2.425

DER -.022 .040 -.127 -.549 .586 .412 2.425

a. Dependent Variable: Laba

Berdasarkan tabel 4.7, didapat persamaan regresi sebagai beikut:

Y = 0,505 - 0,376 CAR – 0,022 DER + ε

Keterangan :

1) konstanta sebesar 0,505 menunjukkan bahwa apabila tidak ada variabel

independen (CAR = DER = 0) maka Pertumbuhan Laba sebesar 0,505.

2) b1 sebesar -0,376 menunjukkan bahwa setiap penambahan Capital

Adequacy Ratio sebesar 1% akan diikuti oleh penurunan Pertumbuhan Laba sebesar 0,376 dengan asumsi variabel lain tetap.

3) b2 sebesar -0.022 menunjukkan bahwa setiap penambahan Debt to Equity

Ratio sebesar 1% akan diikuti oleh penurunan Pertumbuhan Laba sebesar 0.022 dengan asumsi variabel lain tetap.

b. Analisis Koefisien Korelasi dan Koefisien Determinasi

Nilai koefisien korelasi (R) menunjukkan seberapa besar korelasi atau

hubungan antara variabel-variabel independen dengan variabel dependen.

Koefisien korelasi dikatakan kuat apabila nilai R berada di atas 0.5 dan

mendekati 1.

Koefisien determinasi (R square) menunjukkan seberapa besar variabel

independen menjelaskan variabel dependennya. Nilai R square adalah nol sampai

dengan satu. Apabila nilai R square semakin mendekati satu, maka

memprediksi variasi variabel dependen. Sebaliknya, semakin kecil nilai R square,

maka kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi

variabel dependen semakin terbatas. Nilai R square memiliki kelemahan yaitu

nilai R square akan meningkat setiap ada penambahan satu variabel independen

meskipun variabel independen tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap

variabel dependen.

Tabel 4.8

Koefisien Korelasi dan Koefisien Determinasi

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .101a .010 -.034 .5572947 2.269

a. Predictors: (Constant), CAR, DER b. Dependent Variable: Laba

Sumber : Diolah oleh penulis dengan SPSS, 2011.

Dari hasil pengolahan regresi berganda pada tabel 4.6, dapat diketahui

bahwa nilai R adalah 0,101 atau 10,1 %. Nilai R pada intinya mengukur seberapa

besar hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Sedangkan

nilai R Square (R2= koefisien determinasi) mengukur seberapa jauh kemampuan

model dalam menerangkan variasi variabel independen. Nilai R Square (R2)

berada di antara 0 dan 1. Nilai R2yang kecil berarti kemampuan variabel

independen dalam menerangkan variasi variabel dependen sangat terbatas.

Nilai R-square dari output di atas adalah sebesar 0,010. ini berarti bahwa

variasi dari variabel independen yang terdiri dari Capital Adequacy Ratio dan

(Pertumbuhan Laba) sebesar 1 %. Selebihnya dijelaskan oleh variabel lain yang

tidak dimasukkan dalam model regresi.

c. Pengujian Hipotesis

Untuk mengetahui apakah variabel independen dalam model regresi

berpengaruh terhadap variabel dependen, maka dilakukan pengujian dengan

menggunakan uji t (t test) dan uji F (F test).

1) Uji t (t Test)

Uji t digunakan untuk menguji signifikansi konstanta dan setiap variabel

independennya. Berdasarkan hasil pengolahan SPSS versi 16, diperoleh hasil

sebagai berikut : Tabel 4.9 Hasil Uji t Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) .505 .774 .652 .518

CAR -.376 2.368 -.037 -.159 .875 .412 2.425

DER -.022 .040 -.127 -.549 .586 .412 2.425

a. Dependent Variable: Laba

Sumber : Diolah oleh penulis dengan SPSS, 2011.

a. Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Pertumbuhan Laba

H0 : CAR = 0, artinya variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) tidak

berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba (Laba).

Ha : CAR ≠ 0, artinya variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba (Laba).

Kriteria :

H0 diterima jika t hitung < t tabel untuk α = 5% atau signifikansi > 0,05 Ha diterima jika t hitung > t tabel untuk α = 5% atau signifikansi < 0,05

Nilai t hitung untuk variabel Capital Adequacy Ratio (CAR)

sebesar -0,159, dan t tabel untuk df = N-5 dan α = 5% diketahui sebesar 2,016692173. Dengan demikian, nilai t hitung lebih kecil dari nilai t tabel (-0,159

< 2,016692173). Dengan melihat nilai signifikansi CAR, hasil hipotesis

menunjukkan hasil dimana nilai signifikansi sebesar 0,875 lebih besar dari 0,05,

sehingga dapat disimpulkan bahwa Capital Adequacy Ratio secara individu

(parsial) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Pertumbuhan Laba.

b. Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Pertumbuhan Laba (Laba)

diuji dengan menggunakan hipotesis berikut:

H0 : DER = 0, artinya variabel Debt to Equity Ratio (DER) tidak

berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba (Laba).

Ha : DER ≠ 0, artinya variabel Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba (Laba).

Kriteria:

H0 diterima jika t hitung < t tabel untuk α = 5% atau signifikansi > 0,05 Ha diterima jika t hitung > t tabel untuk α = 5% atau signifikansi < 0,05

Nilai t hitung untuk variabel Debt to Equity Ratio (DER) sebesar -0,549,

dan t tabel untuk df = N-5 dan α = 5% diketahui sebesar 2,016692173. Dengan demikian, nilai t hitung lebih kecil dari nilai t tabel (-0,549 < 2,016692173).

Dengan melihat nilai signifikansi DER, hasil hipotesis menunjukkan hasil dimana

nilai signifikansi sebesar 0,586 lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan

bahwa Debt to Equity Ratio secara individu (parsial) tidak memiliki pengaruh

yang signifikan terhadap Pertumbuhan Laba.

2) Uji F (F Test)

Untuk melihat pengaruh Capital Adequacy Ratio, Debt to Equity Ratio,

Operating Cost Ratio, dan Loan to Deposit Ratio terhadap Pertumbuhan Laba secara simultan dapat dihitung dengan menggunakan F test. Berdasarkan hasil

pengolahan data dengan program SPSS 16, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.10 Hasil Uji F

ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression .145 2 .073 .234 .793a

Residual 13.976 45 .311

Total 14.121 47

a. Predictors: (Constant), CAR, DER b. Dependent Variable: Laba

Sumber: Diolah oleh penulis dengan SPSS, 2011.

Untuk memprediksi pengaruh dari variabel-variabel bebas terhadap

variabel terikat secara simultan, digunakan hipotesis sebagai berikut:

H0 : CAR = DER = 0, artinya variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) dan

Debt to Equity Ratio (DER) secara bersama-sama (simultan) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Pertumbuhan Laba (Laba).

Ha : CAR = DER ≠ 0, artinya variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Debt to Equity Ratio (DER) secara bersama-sama (simultan) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Pertumbuhan Laba (Laba).

Dengan kriteria:

H0 diterima jika f hitung < f tabel untuk α = 5%

Ha diterima jika f hitung > f tabel untuk α = 5%

Dari uji ANOVA atau F test, diperoleh F hitung sebesar 0,234 dengan

tingkat signifikansi 0,793, sedangkan F tabel sebesar 2,588836146 dengan

signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Capital

Adequacy Ratio dan Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba karena F hitung < F tabel (0,234 <

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Manfaat rasio keuangan dalam memprediksi pertumbuhan laba dapat

diukur dengan signifikan atau tidaknya hubungan antara rasio keuangan dengan

pertumbuhan laba. Hasil pengolahan regresi berganda di atas menunjukkan nilai R

sebesar 0,101 atau 10,1%. Nilai R pada dasarnya menggambarkan seberapa besar

hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Ini berarti

variabel dependen dalam penelitian ini, yaitu Capital Adequacy Ratio dan Debt to

Equity Ratio secara bersama-sama hanya memiliki hubungan sebesar 10,1 % dengan variabel dependen, yaitu Pertumbuhan Laba.

Pengolahan regresi berganda di atas juga menunjukkan nilai R square

sebesar 0,010 atau sebesar 1%. Berbeda dengan nilai R, R-square menunjukkan

seberapa jauh kemampuan variabel independent dalam menjelaskan variasi

variabel dependen. Nilai R-square berada di antara 0 sampai 1. Nilai R-square

yang mendekati 1 menunjukkan bahwa dalam model regresi, kemampuan variabel

independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen semakin baik. Dalam

model regresi di atas, kemampuan variabel independent yaitu Capital Adequacy

Ratio dan Debt to Equity Ratio secara bersama-sama dalam menjelaskan variasi variabel dependen Pertumbuhan Laba sangat kecil, yaitu sebesar 1%. Sedangkan

sisanya sebesar 99% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diikutsertakan oleh

penulis dalam model regresi ini.

Penelitian ini menunjukkan hasil yang kurang sesuai dengan teori yang

telah diungkapkan sebelumnya karena hubungan antara variabel independen

faktor. Misalnya, jumlah sampel yang diambil terlalu sedikit atau data sampel

yang diambil, periodenya sangat singkat yaitu hanya dari tahun 2006 hingga 2008.

Hal lain yang mungkin turut mempengaruhi adalah jumlah variabel yang

diambil. Ada variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi besar-kecilnya

pertumbuhan laba. Seperti Besaran Perusahaan (SIZE) yang diukur dengan jumlah

nasabah. Semakin besar suatu perusahaan, biasanya pangsa pasar yang dapat

dijangkau juga semakin luas. Semakin besar SIZE, maka pendapatan semakin

meningkat sehingga memaksimalkan laba.

Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji ANOVA dalam

melihat apakah kedua variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan

terhadap variabel dependen. Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan nilai

Dokumen terkait