• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Dan Teknik Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang mendeskripsikan objek sesuai fakta. Penelitian ini mendeskripsikan mengenai wacana persuasi rubrik Sangu Leladi majalah Jaya Baya dilihat dari aspek kohesi dan koherensi yang mendukung keutuhan wacana. Metode kualitatif menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong 2007:4) ialah prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Subroto menegaskan penelitian kualitatif itu bersifat deskriptif. Peneliti mencatat dengan teliti dan cermat data yang berwujud kata-kata, kalimat-kalimat, wacana, gambar-gambar/foto, catatan harian, memorandum, video-tape (1992:7). Penelitian ini termasuk deskriptif kualitatif karena data yang digunakan berupa data tulis, khususnya teks, dan bukan berwujud angka-angka.

2. Alat Penelitian

Alat penelitian dibagi menjadi dua yaitu alat utama dan alat bantu. Alat utama penelitian adalah peneliti sendiri, karena peneliti sangat berperan dalam penelitian dan perannya paling dominan. Alat bantu bersifat pendukung proses penelitian. Alat bantu tersebut berupa bolpoint, kartu data, buku catatan, komputer, dan kertas HVS.

commit to user 3. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data menggunakan metode simak dan catat. Metode simak dipakai karena data berupa bahasa yang sifatnya teks. Metode simak dapat diartikan menyimak/mengamati penggunaan bahasa yang dipakai pada wacana. Metode simak selanjutnya didukung dengan metode catat, peneliti mencatat data yang sesuai dengan objek penelitian pada sebuah kartu data. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut.

1. Menyimak

Menyimak merupakan langkah awal dari proses mengumpulkan data. Menyimak dilakukan dengan memeriksa dan mempelajari objek yang diteliti yaitu wacana persuasi rubrik Sangu Leladi pada majalah Jaya Baya. Kemudian dipilih wacana-wacana yang sesuai dengan pokok permasalahan yang diteliti.

2. Mencatat

Pencatatan dilakukan jika wacana yang didapat dirasa cukup sebagai data penelitian. Data yang ditemukan dicatat pada kartu data untuk diidentifikasi sesuai masalah yaitu mengenai kohesi dan koherensi. Pencatatan data ditunjang dengan menggaris bawahi, cetak miring atau kurung kurawal pada wacana yang sesuai dengan objek penelitian. Data yang telah diidentifikasi kemudian dipilah berdasar kategorinya.

Contoh kartu data beserta penulisan data:

Potongan Wacana:

Olehe mbangun angger dadi, tanpa perduli karo kualitase, nek cepet rusak,batine malah ngguyu, jalaran bisa enggal oleh….borongan maneh.

Analisis :

jalaran → konjungsi sebab-akibat

No. Data: JB/II/07/2014

commit to user 4. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang dipakai ialah metode agih dan padan. Metode agih alat penentunya bahasa itu sendiri dapat berupa bagian atau unsur dari bahasa objek sasaran itu sendiri, seperti kata (kata ingkar, preposisi, adverbia, dsb), fungsi sintaksis (subjek, objek, predikat, dsb), klausa, silabe kata, titinda, dan yang lain (Sudaryanto, 1993:16).

Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya di luar kebahasaan, sehingga metode ini berkaitan dengan penanda koherensi.

Metode agih digunakan untuk menganalisis penanda kohesi. Pelaksanaan dasar dari metode agih menggunakan teknik Bagi Unsur Langsung (BUL), yaitu membagi satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur, dan unsur-unsur yang bersangkutan dipandang sebagai bagian langsung membentuk satuan lingual yang dimaksud (Sudaryanto, 1993:31). Jadi wacana yang dianalisis berupa penggalan-penggalan wacana yang terdiri dari klausa atau kalimat.

Teknik lanjut yang digunakan adalah teknik lesap dan teknik ganti. Teknik lesap adalah teknik melesapkan (melepaskan, menghilangkan, menghapus, mengurangi) unsur tertentu satuan lingual yang bersangkutan. Kegunaan teknik ini untuk mengetahui kadar keintian unsur yang dilesapkan (Sudaryanto, 1993:42). Unsur yang dilesapkan dapat berupa kata, frasa dan klausa sebagai penanda kohesi. Teknik ganti adalah penggantian unsur satuan lingual yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993:37).

Penggantian unsur yang diganti dan penggantinya dapat berupa kata, frasa dan klausa.

Teknik ganti digunakan untuk mengetahui kadar kesamaan kelas kata/ kategori unsur terganti atau unsur ginanti dengan unsur pengganti. Berikut ini merupakan contoh penerapan metode agih;

commit to user

(13) Para leluhur kita wis paring pepakem, kasusahan iku nguwohake kaluhuran. Lire: sapa kang wis isa methik sari pathining kasusahan, bakal melu ngrasa rinujit-rujit nyipati panandhange para kang nadhang papa.

(JB/III/06/2014)

„Para leluhur kita sudah memberi pedoman, kasusahan itu menumbuhkan keluhuran. Seperti: siapa yang sudah bisa mengambil sari pati kesusahan, pasti ikut merasa terkoyak melihat orang yang sedang mengalami kesusahan.‟

Kata kita „kita‟ pada data termasuk kohesi gramatikal berupa pengacuan persona II jamak. Data kemudian di bagi atas unsur langsungnya menggunakan teknik bagi unsur langsung (BUL).

(13a) Para leluhur kita wis paring pepakem, kasusahan iku nguwohake kaluhuran.

„Para leluhur kita sudah memberi pedoman, kasusahan itu menumbuhkan keluhuran.‟

(13b) Lire: sapa kang wis isa methik sari pathining kasusahan, bakal melu ngrasa rinujit-rujit nyipati panandhange para kang nadhang papa.

„Seperti: siapa yang sudah bisa mengambil sari pati kesusahan, pasti ikut merasa terkoyak melihat orang yang sedang mengalami kesusahan.‟

Data selanjutnya diuji dengan teknik lesap, dan diperoleh hasil sebagai berikut:

(13c) Para leluhur Ø wis paring pepakem, kasusahan iku nguwohake kaluhuran.

„Para leluhur Ø sudah memberi pedoman, kasusahan itu menumbuhkan keluhuran.‟

Hasil pengujian menunjukkan penanda persona II berupa satuan lingual kita „kita‟

meskipun dilesapkan wacana tetap gramatikal dan berterima. Akan tetapi wacana lebih padu jika satuan lingual kita dihadirkan. Selanjutnya data diuji dengan teknik ganti.

Berikut pengujian data dengan teknik ganti.

(13d) Para leluhur

commit to user

Hasil analisis menunjukkan kita „kita‟ sebagai penanda kohesi terganti dapat digantikan dengan awake dhewe „kita‟.

Metode padan digunakan untuk menganalisis wacana yang bersifat situasional (eksternal), sehingga metode ini dipakai untuk menganalisis penanda koherensi. Metode padan alat penentunya di luar bahasa. Alat penentu tersebut dibagi menjadi 5 yaitu:

1. Metode padan referensial dengan alat penentunya organ bicara atau bahasa atau referen bahasa.

2. Metode padan fonetis artikulatoris dengan alat penentunya organ bicara atau oragan pembentukn bahasa,

3. Metode padan translational dengan alat penentunya bahasa lain, 4. Metode padan ortografis dengan alat penentunya tulisan,

5. Metode padan pragmatis dengan alat penentunya mitra tutur.

Penelitian ini menggunakan metode padan referensial yaitu bahasa atau referen bahasa untuk mengetahui makna yang ditunjukkan oleh sarana koherensi. Berikut ini contoh penerapan metode padan dalam data.

(13b) Lire: sapa kang wis isa methik sari pathining kasusahan, bakal melu ngrasa rinujit-rujit nyipati panandhange para kang nadhang papa.

Seperti: siapa yang sudah bisa mengambil sari pati kesusahan, pasti ikut merasa terkoyak melihat orang yang sedang mengalami kesusahan.‟

Kata lire „seperti‟ merupakan koherensi contoh yang memberikan contoh atau keterangan kalimat sebelumnya yaitu apa yang dimaksudkan dengan kesulitan itu menumbuhkan keluhuran.

commit to user 5. Metode Penyajian Hasil Analisis Data

Data yang telah dianalisis kemudian hasilnya disajikan menggunakan metode penyajian data. Metode penyajian data ada dua yaitu informal dan formal. Metode informal artinya perumusan dengan kata-kata biasa sedangkan metode formal adalah metode perumusan dengan tanda dan lambang-lambang (Sudaryanto, 1993:145).

Penyajian laporan penelitian menggunakan metode informal dan formal. Metode informal menyajikan data menggunakan kata-kata biasa sehingga dengan serta merta ketika dibaca bisa langsung dipahami. Selanjutnya didukung metode formal, menggunakan tanda seperti tanda kurung biasa ((...)); tanda garis miring (/); tanda pelesapan (Ø); tanda kurung kurawal ({...}), tanda petik („...‟) untuk menampilkan hasil terjemahan data yang berupa bahasa Jawa ke bahasa Indonesia atau bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.

Dokumen terkait