BAB II LANDASAN TEORI
A. Landasan teori
5. Metode Economic Value Added (EVA)
a. Pengartian Economic Value Added (EVA)
Nilai tambah kepada pemegang saham oleh manajemen dalam
suatu periode tertentu. EVA merupakan estimasi laba ekonomis yang
sesungguhnya dari perusahaan dalam tahun berjalan, dan hal ini sangat
berbeda dengan laba akuntansi. EVA menunjukan sisa laba setelah biaya
modal, termasuk modal, ekuitas, sedangkan laba akuntansi ditentukan
tanpa perhitungan modal ekuitas(Brigham, 2001:51).
b. Tujuan dan Perhitungan Economic Value Added (EVA)
EVA memberikan pengukuran yang lebih baik atas nilai tambah
yang diberikan perusahaan kepada pemegang saham. Oleh karena itu
manajer yang menitikberatkan pada EVA dapat diartikan telah beroperasi
pada cara-cara yang konsisten untuk memaksimalkan kemakmuran
pemegang saham.
EVA dapat dirumuskan sebagai berikut (Iramani, (2005):
EVA = NOPAT – (Capital x c*) atau
Keterangan:
EVA = economic value added
NOPAT = net operating profit after tax /laba bersih operasi setelah
pajak
Capital = jumlah modal yang terdiri dari ekuiditas dan hutang
jangka panjang
EBIT = earning before interast and tax /laba sebelum bunga dan
pajak
C* = cost of capital /biaya modal
T = pajak
Namun, manakala dalam struktur perusahaan terdiri dati hutang
dan modal sendiri, secara sistematis EVA dapat dirumuskan sebagai
berikut:
EVA = NOPAT – (WACC x TA)
Keterangan:
NOPAT = Laba bersih operasi setelah pajak
WACC = Biaya modal rata-rata tertimbang (Weighted Average Cost
of Capital)
Dari perhitungan akan diperoleh kriteria penilaian sebagai
berikut(Widiyanto, 1993: 51-52):
1. EVA > 0
Artinya pihak manajemen mampu menghasilkan nilai tambah Bagi
para perusahaan melalui kegiatan operasionalnya sehingga bukan saja
mampu untuk membayar seluruh kewajibannya kepada penyandang dana
dan pemerintahan melainkan juga mampu menyisakan laba bagi
perusahaan. Dengan kata lain perusahaan memiliki EVA positif adalah
perusahaan sehat.
2. EVA = 0
Artinya pihak manajemen hanya mampu untuk membayar seluruh
kewajiban perusahaan kepada penyandang dana dan pemerintah.
3. EVA < 0
Artinya pihak manajemen tidak mampu menghasilkan nilai tambah
bagi peusahaan karena laba yang dihasilkan tidak mencukupi kebutuhan
untuk membayar semua kewajibannya kepada penyandang dana dan
pemerintah.
c. Pengertian dan komponen biaya modal
Sebelum menghitung EVA ditentukan terlebih dahulu yaitu biaya
makna, tergantung dari sisi investor atau perusahaan. Dari sudut pandang
investor cost of capital adalah opportunity cost (biaya pengorbanan) dari
dana yang ditanamkan investor pada sustu perusahaan. Sedangkan dari
sudut pandang perusahaan, cost of capital adalah biaya yang dikeluarkan
oleh perusahaan untuk memperoleh sumber dana yang dibutuhkan.
Untuk praktisi keuangan, istilah cost of capital ini digunakan sebagai :
1. Discount rate (suku bunga diskonto) untuk membawa cash
flow (aliran kas) pada masa mendatang.
2. Tarif minimum yang diinginkan untuk menerima laporan
keuangan baru.
3. Biaya modal dalam perhitungan EVA.
4. Benchmark (pengukuran dalam bidang statistik) untuk
menaksir tarif biaya pada modal yang digunakan oleh
perusahaan.
Pada umumnya komponen Biaya Modal (Cost of Capital) terdiri dari
Cost of Debt (biaya hutang) dan Cost of Equity (biaya modal sendiri).
Dengan penjelasan sebagai berikut:
1) Biaya hutang (Cost of Debt)
Biaya hutang adalah tingkat pengembalian sebelum pajak yang
dibayar perusahaan kepada pemberi pinjaman (O‟Byne, 2001:150).
Biaya hutang bisa diartikan biaya yang harus dibayar sekarang dan
Biaya hutang sebelum pajak bisa dirumuskan sebagai berikut (Husna, 1996:48) Kd = Panjang Jangka Hutang Bunga Biaya Keterangan:
Kd = biaya bunga sebelum pajak
Apabila tingkat pajak diperhitungkan maka biaya hutang setelah pajak.
Biaya utang setelah pajak dapat dicari dengan mengalikan biaya utang
sebelum pajak dengan (1 - T), dengan T adalah tingkat pajak marginal
(Warsono, 2003: 139)
Rumus:
ki = kd (1 – T)
Keterangan:
ki = Biaya utang setelah pajak
kd = Biaya utang sebelum pajak
T = Tarif pajak
2) Biaya ekuitas/Biaya modal sendiri(Cost of Equity)
Biaya modal saham merupakan tingkat hasil pengembalian atas
yang dapat digunakan dalam perhitungan biaya modal laba ditahan,
yaitu pendekatan Capital Aset Pricing Model (CAPM), biaya modal
laba ditahan adalah tingkat pengembalian atas modal sendiri yang
diinginkan oleh investor yang terdiri dari tingkat bunga bebas risiko
dengan premi risiko pasar dikalikan dengan β (resiko saham
perusahaan) (Iramani, (2005). Ada tiga komponen (Ri, RM, RBR) dapat
dihitung dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Return Saham Rumus: Rit = 1 1 it it it P P P Keterangan :
Rit : Return saham pada waktu t
Pit : Harga saham pada waktu t
Pit-1 : Harga saham pada waktu t-1
b. Return Pasar ( Rm )
Return pasar dapat diketahui dengan menggunakan Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) per bulan untuk tiap-tiap tahun
Rumus: Rm = 1 1 t t t IHSG IHSG IHSG Keterangan:
Rm =Tingkat pengembalian yang diharapkan pasar
IHSG t = Harga penutupan IHSG akhir hari transaksi bulan
ini
IHSG t-1 = Harga penutupan IHSG akhir bulan lalu
Setelah semua komponen didapatkan maka biaya ekuitas (Ke) dapat
dihitung dengan metode CAPM dengan persamaan sebagai berikut:
Ke = KBR + β x (KM -KBR)
Keterangan :
Ke = Return atas saham i
KBR= Return bebas resiko
KM = Return portopolio pasar
3) Biaya modal rata-rata tertimbang (WACC)
Menurut Iramani dan Febrian (2005), dalam praktek pembiayaan
atau pendanaan yang digunakan perusahaan diperoleh dari berbagai
sumber. Dengan demikian biaya riil yang ditanggung oleh perusahaan
merupakan keseluruhan biaya untuk semua sumber pembiayaan yang
digunakan.
Rumus :
WACC = (We . Ke) + (Wd . Kd*) (Iramani, (2005))
Keterangan :
WACC = Biaya modal rata-rata tertimbang
We = Proporsi Ekuitas
Wd = Proporsi hutang
Ke = Biaya modal/ biaya ekuitas
Kd* = Biaya utang
4) Keunggulan dan Kelemahan Economic Value Added (EVA) a) Keunggulan EVA
Menurut Iramani dan Febrian (2005), EVA sebagai penilai
kinerja perusahaan mempunyai keunggulan yaitu: EVA dapat
Adapun keunggulan EVA yang lain adalah:
1. EVA memfokuskan penilaian pada nilai tambah dengan
memperhitungkan beban sebagai konsekuensi investasi.
2. EVA merupakan alat perusahaan dalam mengukur harapan
yang dilihat dari segi ekonomis dalam pengukurannya yaitu
dengan memperhatikan harapan penyandang dana secara adil,
derajat keadilan dinyatakan dengan ukuran tertimbang dari
struktur modal yang ada dan berpedoman pada nilai pasar dan
bukan pada nilai buku.
3. Perhitungan EVA dapat dipergunakan secara mandiri tanpa
memerlukan data pembanding seperti standar industri atau data
perusahaan lain sebagai konsep penilaian.
4. Konsep EVA dapat digunakan sebagai dasar penilaian
pemberian bonus pada karyawan terutama pada divisi yang
memberikan EVA lebih sehingga dapat dikatakan bahwa EVA
menjalankan stakeholders satisfaction concepts.
5. Pengaplikasian EVA yang mudah menunjukan bahwa konsep
tersebut merupakan ukuran praktis, mudah dihitung dan mudah
digunakan sehingga merupakan salah satu bahan pertimbangan
dalam mempercepat pengambilan keputusan bisnis.
b) Kelemahan EVA
Menurut Iramani dan Febrian (2005), EVA mempunyai kelemahan
1. EVA hanya mengukur hasil akhir (result) dan tidak mengukur
aktivitas-aktivitas penentu, seperti loyalitas dan tingkat retensi
konsumen.
2. EVA terlalu bertumpu pada keyakinan bahwa investor sangat
mengandalkan pendekatan fundamental dalam mengkaji dan
mengambil keputusan untuk menjual dan membeli saham
tertentu.
c) Manfaat Economic Value Added (EVA)
Terdapat beberapa manfaat yang dapat diperoleh
perusahaan dalam menggunakan EVA sebagai alat ukur kinerja
dan nilai tambah perusahaan. Menurut Iramani dan Febrian (2005),
manfaat EVA adalah sebagai berikut:
1. EVA merupakan suatu ukuran kinerja perusahaan yang dapat
berdiri sendiri tanpa memerlukan ukuran-ukuran lain baik berupa
perbandingan dengan menggunakan perusahaan sejenis atau
menganalisis kecenderungan (trend).
2. Hasil perhitungan EVA mendorong mengalokasikan dana
perusahaan untuk investasi dengan biaya modal yang rendah.