LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori 1. Minat
3. Metode Investigasi Kelompok a. Model Pembelajaran Kooperatif
Teori belajar, paradigma pembelajaran, model pembelajaran,
metode pembelajaran, teknik pembelajaran merupakan suatu hirarki.
Komponen yang pertama yaitu teori belajar menempati tempat
tertinggi, komponen dibawahnya merupakan upaya pengkhususan dari
komponen diatasnya dan teknik pembelajaran menempati hirarki pada
tempat paling bawah (Severinus, 2013:2). Salah satu teori belajar
untuk mengkonstruksi/ membangun pengetahuan melalui kegiatan
mengalami sendiri.
Paradigma pembelajaran merupakan kerangka perpikir
mengenai pembelajaran. Menurut paradigma pembelajaran
konstruktivistik, belajar adalah proses siswa mengkonstruksi
pengetahuan dan pembelajaran memberi kesempatan kepada siswa
untuk membangun pengetahuan melalui interaksi sosial. Model
pembelajaran merupakan stuktur dan proses pembelajaran untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning)
merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan
bekerja dalam kelompok–kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur
kelompok yang bersifat heterogen (Rusman, 2011:202).
Model pembelajaran kooperatif merupakan kegiatan belajar
siswa yang dilakukan dengan cara berkelompok. Model pembelajaran
kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh
siswa dalam kelompok–kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan (Sanjaya, 2006, dalam Rusman
2011:203).
Dari dua pendapat terkait model pembelajaran kooperatif
tersebut, dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif
berkelompok dengan maksud untuk mencapai tujuan pembelajaran
tertentu.
b. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Ciri–ciri dalam pembelajaran kooperatif dikemukaan oleh Rusman (2011:207) sebagai berikut :
1) Pembelajaran secara tim
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan
secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh
karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Setiap
anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
2) Didasarkan Pada Manajemen Kooperatif
Fungsi manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan
menunjukan bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan sesuai
perencanaan dan langkah–langkah pembelajaran yang sudah ditentukan. Fungsi manajemen sebagai organisasi, menunjukan
bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang
matang agar proses pembelajaran berjalan dengan efektif. Fungsi
manajemen sebagai kontrol, menunjukan bahwa dalam
pembelajaran kooperatif perlu ditentukkan kriteria keberhasilan
baik melalui bentuk tes maupun nontes.
3) Kemauan untuk Bekerja Sama
Keberhasilan pembelajaran koperatif ditentukan oleh
kebersamaan atau kerja sama perlu ditekankan dalam pembelajaran
kooperatif.
4) Keterampilan Bekerja Sama
Kemampuan berkerja sama dipraktikkan melalui aktivitas
dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan
demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup
berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
c. Prinsip–Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Roger dan Johson (Lie, 2008) dalam Rusman (2011:212)
menguraikan prinsip–prinsip dalam pembelajaran kooperatif, yaitu : 1) Prinsip ketergantungan positif (positive interdependence), yaitu
dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian
tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok
tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja
masing–masing anggota kelompok.
2) Tanggung jawab perseorangan (individual accountability), yaitu
keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing–masing anggota kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok
mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan
dalam kelompok tersebut.
3) Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction), yaitu
memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota
untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota
kelompok lain.
4) Partisipasi dan komunikasi (participation communication), yaitu
melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi
dalam kegiatan pembelajaran.
5) Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi
kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil
kerjasama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan
lebih efektif.
d. Fase–Fase dalam Pembelajaran Kooperatif
Ada enam fase dalam pembelajaran kooperatif yang
dikemukakan oleh Suprijono (2009:65-66). Fase yang pertama yaitu
present goals and set (menyampaikan tujuan dan mempersiapkan
peserta didik), guru mengklarifikasi maksud pembelajaran kooperatif.
Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa peserta didik harus memahami
dengan jelas prosedur dan aturan dalam pembelajaran.
Fase selanjutnya yaitu present information (menyajikan
informasi), guru menyampaikan informasi, sebab infomasi ini
merupakan isi akademik. Fase ketiga yaitu organize students into
learning teams (mengorganisasikan peseta didik ke dalam tim–tim belajar), kekacauan bisa terjadi pada fase ini, oleh sebab itu transisi
pembelajaraan dari dan ke kelompok–kelompok belajar harus diorkestrasi dengan cermat. Sejumlah elemen perlu dipertimbangkan
dalam menstrukturisasikan tugasnya. Guru harus menjelaskan bahwa
peserta didik harus saling bekerja sama didalam kelompok.
Dalam fase berikutnya Assist team work and study (membantu
tim kerja dan belajar), guru perlu mendampingi tim–tim belajar, mengingatkan tentang tugas–tugas yang dikejakan peserta didik dan waktu yang dialokasikan. Dalam fase ini bantuan yang diberikan guru
dapat berupa petunjuk dan pengarahan. Fase kelima yaitu test on
materials (mengevaluasi), guru melakukan evaluasi dengan
menggunakan strategi evaluasi yang konsisten dengan tujuan
pembelajaran. Fase yang terakhir yaitu fase keenam yang berisi
provide recognition (memberikan pengakuan atau penghargaan), guru
mempersiapkan struktur reward yang akan diberikan kepada peserta
didik.
e. Model Pembelajaran Kooperatif Metode Investigasi Kelompok
Metode merupakan cara teratur yang digunakan untuk
melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang
dikehendaki (Departemen Pendidikan Nasional, 2008). Pengertian
metode diatas sesuai dengan pemilihan investigasi kelompok yang
dipandang sebagai metode. Investigasi kelompok memiliki cara
teratur seperti langkah-langkah investigasi kelompok yang digunakan
untuk melaksanakan kegiatan investigasi kelompok serta untuk
Dalam model pembelajaran kooperatif metode investigasi
kelompok siswa teribat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari
dan bagaimana jalannya penyelidikan mereka. Dalam pembelajaran
ini memerlukan strategi dalam mengajar terkait dengan keterampilan
komunikasi antar siswa dan proses kelompok yang baik.
Metode pembelajaran merupakan cara-cara sistematis yang
lebih khusus untuk mencapai tujuan pembelajaran (Severinus,
2013:1). Dalam implementasi metode investigasi kelompok guru
membagi kelas menjadi kelompok–kelompok dengan anggota 5-6 siswa yang heterogen. Kelompok dapat dibentuk dengan
mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama
dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk
diselidiki, dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik
yang dipilih. Selanjutnya kelompok kerja mempersiapkan dan
mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas (Trianto,
2009:78-79).
Sharan, dkk. (1984) dalam Trianto (2009:80) membagi
langkah–langkah pelaksanaan dalam Investigasi Kelompok meliputi 6 (enam) fase, yang meliputi :
1) Memilih topik
Siswa memilih subtopik khusus di dalam suatu daerah
masalah umum yang biasanya ditetapkan oleh guru. Selanjutnya
siswa diorganisasikan menjadi dua sampai enam anggota tiap
tugas. Kelompok–kelompok hendaknya heterogen secara akademis maupun etnis.
2) Perencanaan Kooperatif
Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran,
tugas dan tujuan khusus yang konsisten dengan subtopik yang telah
dipilih pada tahap pertama.
3) Implementasi
Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan
di dalam tahap kedua. Kegiatan pembelajaran hendaknya
melibatkan ragam aktivitas dan keterampilan yang luas dan
hendaknya mengarahkan siswa kepada jenis–jenis sumber belajar yang berbeda baik di dalam atau diluar sekolah. Guru secara ketat
mengikuti kemajuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila
diperlukan.
4) Analisis dan Sintesis
Siswa menganalisis dan menyintesis informasi yang
diperoleh pada tahap ketiga dan merencanakan bagaimana
informasi tersebut diringkas dan disajikan dengan cara yang
menarik sebagai bahan untuk dipresentasikan kepada seluruh kelas.
5) Presentasi hasil final
Beberapa atau semua kelompok menyajikan hasil
penyelidikannya dengan cara yang menarik kepada seluruh kelas,
dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif luas pada
topik itu. Presentasi dikoordinasikan oleh guru.
6) Evaluasi
Dalam hal kelompok–kelompok menangani aspek yang berbeda dari topik yang sama, siswa dan guru mengevaluasi tiap
kontribusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai suatu
keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan dapat berupa penilaian
individual atau kelompok.
Dari uraian beberapa pendapat tersebut dapat dikatakan
bahwa investigasi kelompok adalah metode pembelajaran yang
melakukan pembagian kelompok untuk kepentingan penyelidikan
terhadap sub materi tertentu kemudian siswa mempersiapkan hasil
laporan penyelidikannya dan mempresentasikan didepan kelas.
Langkah–langkah dalam metode investigasi kelompok menurut pendapat para ahli diatas akan digunakan oleh peneliti,
namun peneliti akan tetap mengembangkan sendiri
langkah-langkah kegiatan dalam pembelajaran dengan metode investigasi
kelompok tanpa keluar konteks dari pendapat para ahli tersebut.