BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Metode Kontrasepsi KB Pria
2.3.2. Metode Kontrasepsi Vasektomi
1. Pengertian Vasektomi
Vasektomi merupakan operasi kecil yang dilakukan untuk menghalangi keluarnya sperma dengan cara mengangkat dan memotong saluran mani (vas different) sehingga sel sperma tidak keluar pada saat senggama. Vasektomi ini tidak sama dengan kebiri atau kastrasi mengangkat buah pelir. Bekas operasi hanya berupa satu luka kecil di tengah atau di antara kiri dan kanan kantong zakar (Suratun, 2008). Senada dengan pendapat tersebut, Indiarti (2009) mengatakan vasektomi kontrasepsi permanen yang dilakukan pada pria dengan cara mengikat saluran sperma sehingga sel-sel sperma tidak dapat keluar saat ejekulasi.
Kontrasepsi mantap pria atau vasektomi merupakan suatu metode konrasepsi operatif minor pada pria yang sangat aman, sederhana dan sangat efektif, memerlukan waktu yang singkat dan tidak memerlukan anastesi umum. Prinsip dasar vasektomi adalah ovulasi vas deferen, sehingga menghambat perjalanan spermatozoa dan tidak didapatkan spermatozoa di dalam semen/ejekulasi (Hartanto, 2010). Sedangkan Everett (2007) menjelaskan bahwa Vasektomi adalah pemotongan vas deferens, yang merupakan saluran yang mengangkut sperma dari epididimis di dalam testis ke vesikula seminalis. Dengan memotong vas deferens, sperma tidak mampu diejakulasikan dan pria akan menjadi tidak subur setelah vas deferens bersih dari sperma.
2. Macam-macam vasektomi
Saifuddin, (2010) mengelompokkan dua cara teknik vasektomi yang dilakukan kepada akseptor yaitu:
a. Vasektomi dengan pisau operasi
Teknik pemasangan vasektomi ini dilakukan pada daerah kulit skrotum pada penis dan daerah tersebut dibersihkan dengan cairan yang tidak merangsang seperti larutan Iodofor (betadine) 0,75 %. Menutup daerah yang telah dibersihkan tersebut dengan kain steril berlubang pada tempat skrotum ditonjolkan keluar. Tepat di linea mediana di atas vas deferens, kulit skrotum diberi anestasi lokal (prokain atau novakain atau xilokain 1%) 0,5 ml, lalu jarum diteruskan masuk dan di daerah distal serta proksimal vas deferens dideponir lagi masing-masing 0,5 ml. Kulit skrotum
diiris longitudinal 1–2 cm, tepat di atas vas deferens yang telah ditonjolkan ke permukaan kulit. Setelah kulit dibuka, vas deferens dipegang dengan klem, disiangi sampai tampak vas deferens mengkilat seperti mutiara, perdarahan dirawat dengan cermat. Sebaiknya ditambah lagi obat anestasi ke dalam fasia disayat longitudinal sepanjang 0,5 cm. Usahakan tepi sayatan rata (dapat dicapai jika pisau cukup tajam) hingga memudahkan penjahitan kembali.
Setelah fasia vas deferens dibuka terlihat vas deferens yang berwarna putih mengkilat seperti mutiara. Selanjutnya vas deferens dan fasianya dibebaskan dengan gunting halus berujung runcing. Jepitlah vas deferens dengan klem pada dua tempat dengan jarak 1-2 cm dan ikat dengan benang kedua ujungnya. Setelah diikat jangan
dipotong dulu. Tariklah benang yang mengikat kedua ujung vas deferens tersebut untuk melihat kalau ada perdarahan yang tersembunyi. Jepitan hanya pada titik perdarahan, jangan terlalu banyak, karena dapat menjepit pembuluh darah lain seperti
arteri testikularis atau deferensialis yang berakibat kematian testis itu sendiri. Potonglah diantara 2 ikatan tersebut sepanjang 1 cm.
Selanjutnya menggunakan benang sutra No. 00,0, atau 1 cm untuk mengikat
vas tersebut. Ikatan tidak boleh terlalu longgar tetapi juga jangan terlalu keras karena dapat memotong vas deferens. Untuk mencegah rekanalisasi spontan yang dianjurkan adalah dengan melakukan interposisi fasia vas deferens, yakni menjahit kembali fasia
yang terluka sedemikian rupa, vas deferens bagian distal (sebelah ureteral dibenamkan dalam fasia dan vas deferens bagian proksimal (sebelah testis) terletak di luar fasia. Cara ini akan mencegah timbulnya kemungkinan rekanalisasi. Lakukan kembali tindakan untuk vas deferens yang sebelahnya. Dan setelah selesai, tutuplah kulit dengan 1-2 jahitan plain catgut No. 000 kemudian rawat luka operasi sebagaimana mestinya, tutup dengan kasa steril dan diplester.
b. Vasektomi tanpa pisau operasi
Penis diplester ke dinding perut. Daerah kulit skrotum dibersihkan dengan cairan yang merangsang seperti larutan Iodofor (betadine). Tutuplah daerah yang telah dibersihkan tersebut dengan kain steril berlubang pada tempat skrotum ditonjolkan keluar. Tepat di linea mediana di atas vas deferens, kulit skrotum diberi anestasi local (prokain atau novakain atau xilokain 1 %) 0,5 ml, lalu jarum diteruskan
masuk dan di daerah distal, kemudian dideponir lagi masing-masing 3-4 ml. Prosedur ini dilakukan sebelah kanan dan kiri. Vas deferens dengan kulit skrotum yang ditegangkan difiksasi di dalam lingkaran klem fiksasi pada garis tengah skrotum. Kemudian klem direbahkan ke bawah sehingga vas deferens mengarah ke bawah kulit. Kemudian tusuk bagian yang paling menonjol dari vas deferens, tepat di sebelah distal lingkaran klem sebelah ujung klem diseksi dengan membentuk sudut 45 derajat.
Sewaktu menusuk vas deferens sebaiknya sampai kena vas deferens kemudian klem diseksi ditarik, tutupkan ujung-ujung klem dan dalam keadaan tertutup ujung klem dimasukkan kembali dalam lobang tusukan, searah jalannya vas deferens.
Renggangkan ujung-ujung klem pelan-pelan. Semua lapisan jaringan dari kulit sampai dinding vas deferens akan dapat dipisahkan dalam satu gerakan. Setelah itu dinding vas deferens yang telah telanjang dapat terlihat. Dengan ujung klem diseksi menghadap ke bawah, tusukkan salah satu ujung klem ke dinding vas deferens dan ujung klem diputar menurut arah jarum jam, sehingga ujung klem menghadap ke atas. Ujung klem pelan-pelan dirapatkan dan pegang dinding anterior vas deferens.
Lepaskan klem fiksasi dari kulit dan pindahkan untuk memegang vas deferens yang sudah telanjang dengan klem fiksasi lalu lepaskan klem diseksi.
Pada tempat vas deferens yang melengkung, jaringan sekitarnya dipisahkan pelan-pelan ke bawah dengan klem diseksi. Kalau lobang telah cukup luas, lalu klem diseksi dimasukkan ke lobang tersebut. Kemudian dibuka ujung-ujung klem pelan-
pelan paralel dengan arah vas deferens yang diangkat. Diperlukan kira-kira 2 cm vas deferens yang bebas. Vas deferens di-crush secara lunak dengan klem diseksi, sebelum dilakukan ligasi dengan benang sutra 3-0. Diantara dua ligasi kira-kira 1-1,5 cm vas deferens dipotong dan diangkat. Benang pada putung distal sementara tidak dipotong. Kontrol perdarahan dan kembalikan putung-putung vas deferens dalam skrotum. Tarik pelan-pelan benang pada puntung yang distal. Pegang secara halus
fasia vas deferens dengan klem diseksi dan tutup lobang fasia dengan mengikat sedemikian rupa sehingga puntung bagian epididimis tertutup dan puntung distal ada di luar fasia. Apabila tidak ada perdarahan pada keadaan vas deferens tidak tegang. Maka benang yang terakhir dapat dipotong dan vas deferens dikembalikan dalam skrotum. Untuk vas deferens sebelah yang lain, melalui luka di garis tengah yang sama. Kalau tidak ada perdarahan, luka kulit tidak perlu dijahit hanya aproksimasikan dengan band aid atau tensoplas.
3. Persyaratan menjadi akseptor vasektomi
Pelayanan vasektomi ini hanya diberikan kepada akseptor yang memenuhi syarat sebagai berikut, yaitu: 1) Tidak ingin memiliki anak lagi di kemudian hari; 2)Telah memiliki jumlah anak yang ideal, sehat jasmani dan rohani; 3) Rumah tangga bahagia dan harmonis; 4) Telah persetujuan dari istri; dan (5) Sukarela tanpa paksaan. 4. Keuntungan vasektomi
Hartanto (2010), menyebutkan keuntungan vasektomi antara lain: (1)Tidak ada mortalitas (kematian); (2)Morbiditas (akibat sakit) kecil sekali; (3)Tidak perlu
mondok di rumah sakit; (4)Waktu operasi hanya 15 menit dan dilakukan dengan pembiusan setempat; (5)Sangat efektif (kemungkinan gagal tidak ada) karena dapat diperiksa kepastiannya di laboratorium; dan (6)Tidak membutuhkan biaya yang besar. Hal senada juga diungkapkan Meilani dkk (2010) bahwa metode vasektomi bersifat permanen dan memiliki kelebihan antara lain:
a. Tidak akan mengganggu ereksi, potensi seksual dan produksi hormon.
b. Perlindungan terhadap terjadinya kehamilan sangat tinggi dan dapat digunakan seumur hidup.
c. Tidak mengganggu kehidupan seksual suami istri. d. Lebih aman atau keluhan lebih sedikit.
e. Lebih praktis, hanya memerlukan satu tindakan.
f. Lebih efektif karena tingkat kegagalannya sangat kecil.
g. Lebih ekonomis, hanya memerlukan biaya untuk sekali tindakan. h. Tidak ada mortalitas/kematian dan tidak ada risiko kesehatan. i. Pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit.
4. Kerugian Vasektomi
Meliani dkk (2010) berpendapat ada kerugian suami melakukan vasektomi antara lain yaitu harus ada tindakan pembedahan, tidak dilakukan pada suami yang masih ingin memiliki anak, kadang-kadang terasa nyeri atau terjadi perdarahan setelah operasi, dan kadang-kadang timbul infeksi pada kulit skrotum, apabila operasinya tidak sesuai dengan prosedur.
5. Indikasi dan Kontra Indikasi
Vasektomi merupakan upaya untuk menghentikan fertilitas dimana fungsi reproduksi merupakan ancaman atau gangguan kesehatan pria dan pasangannya serta melemahkan ketahanan dan kualitas keluarga (Arum, 2008). Sedangkan kontra- indikasi menurut Everett (2008) adalah : a. Ketidakmampuan fisik yang serius; b. Masalah urologi; c. Masalah hubungan; d. Tidak didukung oleh pasangan.
Adapun kontraindikasi yang lain menurut Meilani dkk (2010), adalah :
a.Penderita hernia; b. Penderita kencing manis; c. Penderita kelainan pembekuan darah; d. Penderita penyakit kulit atau jamur di daerah kemaluan; e. Tidak tetap pendiriannya; f.Infeksi di daerah testis; g. Varikokel (varises pada pembuluh darah balik buah zakar); h.Buah zakar membesar karena tumor; i. Hidrokel (penumpukan cairan pada kantong zakar); j. Buah zakar tidak turun (kriptokismus); k. Penyakit kelainan pembuluh darah.
6. Kegagalan vasektomi
Walaupun vasektomi dinilai paling efektif untuk mengontrol kesuburan pria namun masih mungkin dijumpai suatu kegagalan. Menurut (Saifuddin, 2010)
Vasektomi dianggap gagal apabila pada analisis sperma setelah 3 bulan paska vasektomi atau setelah 20 kali ejakulasi masih dijumpai spermatozoa, dijumpai spermatozoa setelah sebelumnya azoosperma dan istri (pasangan) hamil. Muchtar (2011) kegagalan vasektomi dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:
a. Rekanalisasi spontan, tidak akan terjadi jika kedua ujung dibakar. b. Jika yang dipotong bukan vas deferens, misalnya pembuluh darah. c. Akseptor telah bersetubuh dengan istri sebelum benar-benar steril. 7. Komplikasi
Akseptor vasektomi dapat mengalami komplikasi atau gangguan yang mungkin timbul pasca vasektomi antara lain: perdarahan, apabila perdarahan sedikit cukup diobservasi saja tetapi apabila perdarahan agak banyak segera rujuk ke RS yang memiliki fasilitas lengkap. Setiap ada pembengkakan di daerah scrotum harus dicurigai adanya perdarahan. Adanya hematoma biasanya terjadi apabila di daerah scrotum diberi beban yang terlalu berat seperti naik sepeda, duduk terlalu lama, atau naik kendaraan di jalan yang rusak, infeksi biasanya terjadi pada kulit epididimis atau orkitis, terjadi sekitar 0,1 % (Handayani, 2010).
8. Perawatan Pra Operasi Vasektomi
a. Dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui indikasi, kontra indikasi dan hal-hal lain yang diperlukan untuk kepentingan calon peserta kontap, sebaiknya dilakukan oleh yang akan melakukan pembedahan.
1) Anamnesis
Identitas calon peserta serta pasangannya, umur peserta, jumlah anak hidup dan umur anak terkecil yanga ada, metode kontrasepsi yang pernah digunakan istri serta metode kontrasepsi yang saat ini digunakannya, riwayat penyakit yang pernah diderita, perilaku seksual calon peserta dan
pasangannya, dan adakah pengalaman perdarahan yang terlalu lama apabila luka.
2) Pemeriksaan fisik
Lakukan pemeriksaan fisik dengan lengkap termasuk tanda vital, cardiovaskuler, paru-paru dan ginjal serta genitali. Apabila ditemukan keadaan yang abnormal lakukan rujukan sesuai dengan keluhan dan kelainan yang ditemukan.
b). Persiapan pra operasi
1) Jelaskan secara lengkap mengenai tindakan vasektomi termasuk mekanisme dalam mencegah kehamilan dan efek samping yang mungkin terjadi.
2) Berikan nasehat untuk perawatan luka bekas pembedahan, kemana minta pertolongan bila terjadi kelainan atau keluhan sebelum waktu kontrol. 3) Berikan nasehat tentang cara menggunakan obat yang diberikan sesudah
tindakan pembedahan.
4) Klien dianjurkan membawa celana khusus untuk menyangga scrotum. 5) Anjurkan calon peserta puasa sebelum operasi atau sekurang- kurangnya 2
jam sebelum operasi. c) Perawatan pasca operasi
1) Akseptor diminta untuk beristirahat dengan berbaring selama 15 menit sebelum dibenarkan untuk pulang.
2) Mengamati perdarahan dan rasa nyeri pada luka.
3) Memberikan nasehat sebelum pulang: istirahat selama 1–2 hari dengan tidak bekerja berat dan menaiki sepeda, menjaga agar luka operasi jangan basah dan kotor, gunakan celana dalam yang bersih, anjurkan untuk menghabiskan obat yang diberikan sesuai dengan petunjuk, datang ke klinik satu minggu kemudian, satu bulan dan tiga bulan kemudian untuk pemeriksaan, segera kembali apabila terjadi perdarahan dan panas, nyeri yang hebat atau ada muntah dan sesak nafas, boleh berhubungan seksual dengan istri tetapi harus dengan menggunakan kondom paling tidak sampai 15 kali senggama atau sampai hasil pemeriksaan sperma nol. Setelah itu boleh berhubungan bebas tanpa kondom (Suratun, dkk, 2008). 9. Reanastomosis atau Rekanalisasi (Pemulihan)
Pemulihan fertilitas pada suami yang telah dioperasi vasektomi bukanlah hal yang tidak mungkin. Tetapi permintaan pemulihan (Renastomosis/ Rekanalisasi) demikian sangat jarang. Menurut catatan paling permintaan seperti itu datang dari pihak suami-istri di India. Banyak dokter yang diminta melakukan operasi renastomosis/rekanalisasi memerlukan pengecekan berbagai hal terhadap permohonan sebelum melakukannya. Berdasarkan segi teknis antara lain yang diteliti adalah seberapa jauh kerusakan vasdeferens yang terjadi pada saat akseptor tersebut menjadi vasektomi, beberapa lama sudah pasien itu dalam keadaan steril, dan apakah istrinya memang masih potensi untuk hamil dan lain-lain. Apabila perbedaan
reanastomatis harus dilakukan, maka hal ini merupakan proses yang lebih lama dan lebih rumit ketimbang dengan proses vasektomi sebelumnya. Harus dilakukan pembiusan umum, dan biasanya yang dipulihkan kembali cuma salah satu dari saluran sperma yang dipotong pada proses vasektomi, kecuali bila ternyata mengalami kegagalan atau infeksi, maka penyambungan saluran kembarnya akan dilakukan. Untuk itu diperlukan tenggang waktu beberapa bulan kemudian (Saifuddin, 2010).