• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

2. Metode Latihan

3. Kemampuan pukulan forehand mahasiswa putra pembinaan prestasi tenis meja JPOK FKIP UNS 2009/2010

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Adakah Perbedaan pengaruh metode latihan distributed practice dan massed

practice terhadap kemampuan pukulan forehand mahasiswa putra pembinaan

prestasi tenis meja JPOK FKIP UNS 2009/2010 ?

2. Manakah yang lebih baik pengaruhnya antara metode latihan distributed

practice dan massed practice terhadap kemampuan pukulan forehand

mahasiswa putra pembinaan prestasi tenis meja JPOK FKIP UNS 2009/2010 ?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan diatas, penelitian ini mempunyai tujuan:

1 Untuk mengetahui perbedaan pengaruh metode latihan distributed practice dan massed practice terhadap kemampuan pukulan forehand mahasiswa putra pembinaan prestasi tenis meja JPOK FKIP UNS 2009/2010.

2 Untuk mengetahui metode latihan yang lebih baik pengaruhnya antara

distributed practice dan massed practice terhadap kemampuan pukulan forehand mahasiswa putra pembinaan prestasi tenis meja JPOK FKIP UNS

xix

F. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Dapat dijadikan sebagai pedoman pembina pada pembinaan prestasi tenis

meja JPOK FKIP UNS untuk menentukan dan memilih metode latihan yang tepat untuk meningkatkan kemampuan forehand tenis meja para pemainnya. 2. Sebagai masukan bagi pembina atau pelatih dan mahasiswa pembinaan

prestasi tenis meja JPOK FKIP UNS pentingnya pengulangan gerakan dengan frekuensi sebanyak-banyaknya untuk menguasai kemampuan forehand tenis meja.

xx BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Tenis Meja a. Permainan Tenis Meja

Permainan tenis meja mula-mula hanya dikenal sebagai pengisi waktu senggang, hiburan dan rekreasi saja. Kita mengenal permainan ini dengan nama

“ping-pong”, yaitu berasal dari tiruan suara yang ditimbulkan oleh sentuhan bola

dengan meja maupun dengan raket yang lembut. Namun setelah berkembang dengan pesat dan diakui secara resmi kemudian diberi nama “Table Tennis” atau menyebutnya “Tenis Meja”. Permainan tenis meja peraturannya terus berkembang, dari dulu hitungannya sampai 21 poin dan sekarang hanya 11 poin saja dengan 3 kali kemenangan ( set ). Permaian tenis meja dapat dimainkan dengan permaianan single, double ( putra/putri ), dan double mix ( campuran), serta jumlah pemain hanya membutuhkan sedikitnya 2 orang saja.

Pemain yang terampil harus menguasai beberapa macam pukulan. Menurut Hodges L.( 1996:14-15) bahwa macam-macam pukulan dalam tenis meja adalah forehand, backhand, chop, spin, smash, service. Forehand adalah setiap pukulan yang dilakukan dengan bet yang digerakkan ke arah kanan siku untuk pemain yang mengguna kan tangan kanan, dan ke kiri yang menggunakan tangan kiri. Backhand adalah pukulan yang dilakukan dengan menggerakan bet ke arah siku kiri bagi yang menggunakan tangan kanan dan sebaliknya jika tangan kanan. Chop adalah pukulan yang dilakukan perlahan dan biasanya

backhand. Smash adalah pukulan yang keras dan bertenaga, sehingga lawan tidak

bisa mengembalikannya. Service adalah pukulan yang dilakukan untuk memainkan bola pertama kali di awal poin. Pukulan forehand sangat penting dalam permainan tenis meja, karena sedikitnya setengah dari seluruh pukulan tenis meja adalah forehand. Maka dari itu, forehand ini dapat juga menjadi senjata yang bermanfaat di dalam permainan tenis meja.

xxi

Olahraga tenis meja merupakan suatu olahraga yang cepat dan tepat sehingga seseorang yang bermain memerlukan kemampuan tertentu atau seseorang akan terbawa kepada tingkat kemampuan yang dimiliki. Permainan tenis meja merupakan olahraga yang membutuhkan keterampilan gerak, sehingga koordinasi gerak sangat dibutuhkan.

b. Peralatan Bermain Tenis Meja

Langkah awal dalam bermain tenis meja adalah memperhatikan perlengkapan-perlengkapan yang perlu disiapkan dalam bermain.Menurut Hodges L.(1996:5) bahwa “Terdapat empat peralatan yang harus dipersiapkan dan dibutuhkan untuk bermain tenis meja yaitu : meja, net, bola, dan bet”. Menurut peraturan dan ketentuan Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia ( 2007/2008 : 1-3 ) peralatan-peralatan tenis meja antara lain :

1) Meja

Berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 274 cm dan lebar 152,5 cm, sedangkan tinggi meja dari lantai adalah 76 cm. Meja dapat dibuat dari apa saja namun harus menghasilkan pantulan sekitar 23 cm dari bola yang dijatuhkan dari ketinggian 30 cm. Seluruh permukaan meja harus berwarna gelap dan pudar dengan garis putih selebar 2 cm pada tiap sisi panjang meja 274 cm dan tiap lebar meja 152,5 cm. Pemukaan meja dibagi dalm 2 bagian yang sama secara vertikal oleh net paralel dengan garis akhir dan harus melewati lebar permukaan masing-masing bagian meja. Untuk ganda, setiap bagian meja harus dibagi dalam 2 bagian yang sama dengan garis tengah berwarna putih selebar 3 mm, paralel engan garis lurus sepanjang kedua bagian meja, garis tengah tersebut diinggap menjadi 2 bagian kanan dan kiri.

Gambar 1. Meja Tenis Meja 2) Net

Panjang jaring termasuk perpanjangannya 183 cm,tinggi 15,25 cm dari atas meja. Net berwarna hijau dan lubang-lubang jalanya tidak tembus bola dan tepi atasnya direnggangkan dengan seutas tali.

xxii 3) Bola

Bola harus bulat ddengan diameter 40 mm, terbuat dari bahan celluloid atau plastik dan harus berwarna putih atau cerah denagn berat 2,7 gram.

4) Raket/bet

Terbuat dari kayu dengan lapisan berbusa yang dilapisi karet dengan ketebalan lapisan seluruhnya 4 mm.

Adapun ketentuan keadaan tempat pertandingan tenis meja menurut peraturan dan ketentuan PB PTMSI ( 2007/2008 : 13 ) adalah sebagai berikut : 1) Luas area pertandingan (1 meja) tidak kurang dari : panjang 14 m, lebar 7 m

dan tinggi 5 m.

2) Sebagai pemisah antara area pertandingan yang satu dengan yang lain dan dari penonton area harus ditutupi sekelilingnya dengan ketinggian 75 cm dengan latar belakang warna gelap.

3) Intensitas cahaya tidak kurang 1000 lux merata keseluruh meja pertandingan dan 500 lux disekelilingnya.

4) Bila beberapa meja sedang digunakan, cahaya lampu juga harus sama dengan yang lainnya dan cahaya latar belakang pada area pertandingan tidak lebih besar dari cahaya yang ada di area tersebut.

5) Ketinggian lampu tidak kurang dari 5 m. c. Keterampilan Teknik Bermain Tenis Meja

Tenis meja merupakan olahraga permainan, dimana di dalam memainkannya di butuhkan keterampilan yang cukup tinggi. Oleh karena itu agar mampu bermain tenis meja dengan terampil, maka seorang pemain pemula harus menguasai teknik permainan tenis meja. Menurut Hodges L (1996:17) ada lima langkah utama bermain tenis meja untuk pemula yaitu: (1) Cara memegang dan mengontrol bet. (2) Spin dan sudut bet (permainan spin). (3) Posisi siap, pukulan

backhand dan forehand.(4) Servis permulaan. (5) Penempatan dan pengaturan

kaki (footwork).

Adapun penjelasan langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut 1) Cara Memegang dan Mengontrol Bet

Menurut Hodges L (1996 : 14) ada tiga cara memegang bet dalam bermain tenis meja. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

a) Shakehands Grip

Shakehands artinya “berjabat tangan”. Kelebihan pegangan shakehands grip adalah pegangan grip ini seorang pemain dapat

xxiii

melakukan forehand stroke dan backhand stroke tanpa mengubah pegangan, pegangan ini paling baik untuk bermain jauh dari meja, cara memegangnya adalah :

1) Bidang net berstandar pada lekuk antara ibu jari dan jari telunjuk. 2) Kuku ibu jari tegak lurus dengan permukaan bet.

3) Jari telunjuk berada dibawah permukaan bet.

4) Untuk memperkuat pukulan forehand putar bagian atas bet kearah anda.

5) Untuk memperkuat pukulan backhand, putar pada bagian atas bet menjauh dari anda.

Gambar 2. Shakehands Grip (Hodges L, 1996: 16)

b) Penhold Grip

Penhold artinya “memegang pena”. Cara ini memegan bet ini adalah

seperti memegang pena. Style ini lebih populer di Asia. Dengan grip ini hanya mempergunakan salah satu sisi bet. Cara memegang bet gaya

penhold grip adalah:

1) Pegang bet mengarah ke bawah dengan pegangan mengarah ke atas, (gambar 2a), pegang bet tepat dimana pegangan menyatu dengan bidang bet dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk. 2) Tekukkan tiga jari lainnya pada sisi bet yang lain (forehand grip

gaya China, lihat gambar 2b) atau meluruskannya mengarah ke bagian bawah bet dengan jari yang dirapatkan, (penhold grip gaya Korea, lihat gambar 2c).

Gambar 3. Penhold Grip (Kertamanah A, 2003: 2-3)

xxiv c) Seemiler Grip

Seemiler grip yang juga dikenal dengan American grip, adalah versi

dari Shakehands grip. Kelebihannya antara lain memberikan kesempatan para pemain untuk melakukan blok yang baik. Adapun cara memegang bet adalah sebagai berikut:

1) Pegang bet dengan shakehands grip.

2) Putar bagian atas bet dari 20 sampai 90 derajat ke arah tubuh.

3) Lekukan ibu jari telunjuk disepanjang sisi bet.

Gambar 4. Seemiller Grip (Hodges L, 1996: 17)

2) Spin dan Sudut Bet (Permainan Spin)

Tenis meja adalah sebuah permainan putaran. Hampir setiap pukulan dan servis yang dilakukan menyebabkan bola berputar, dan untuk memahami cara melakukannya maka pemain harus memahami tipe putaran (spin). Setiao yang baik harus menggunakan spin pada setiap pukulan mereka. Pemain penyerang menggunakan topspin untuk mengontrol serangannya sedangkan pemain yang bertahan menggunakan backspin untuk mengontrol pertahanannya. Hampir setiap pemain menggunakn sidespin untuk melakukan servis agar lawan tidak dapat mengembalikan bola dengan keras.

Menurut Hodges L (1996 : 25) ada tiga dasar spin yaitu : Topspin,

Backspin, dan Sidespin (lihat gambar 4)

Gambar 5. Tiga-tipe Dasar Spin (Hodges L, 1996: 25)

xxv a) Topspin

Topspin dilakukan dengan memukul bagian belakang bola (biasanya

mengarah ke atas) dengan pukulan mengarah ke atas. Ciri-ciri pukulan

topspin adalah : (1) Bola bergerak mengarah ke bawah, ini berarti bola

yang dipukul dengan keras biasanya akan menuju bagian ujung meja dan masih tetap bisa menyentuh meja. (2) Bola memantul setelah menyentuh meja, menjauhi dari jangkauan lawan sehingga sulit dikembangkan. (3) Pengembalian bola tinggi dan keluar dari meja.

b) Backspin

Backspin dilakukan dengan memukul bagian belakang bola (biasanya

mengarah ke bawah) dengan pukulan mengarah ke bawah. Ciri-ciri pukulan backspin adalah : (1) Bola bergerak lurus. Ini membuat bola berada dalam ketinggian yang sama dalam periode yang lebih lama dari bola lainnya. (2) Apabila backspin tidak diperhitungkan maka pengembalian akan tersangkut di net. (3) Bola akan melambat setelah memantu meja.

c) Sidespin

Sidespin dilakukan dengan memukul bagian belakang bola (biasanya

mengarah ke samping) dengan pukulan mengarah ke samping. Bola berputar seperti piringan hitam. Ciri-ciri sidespin adalah : (1) Bola berputar menyamping. (2) Bola akan memantul ke samping saat menyentuh meja. (3) Bila spin tidak diperhitungan sebelumnya bola akan keluar dari sisi meja. (4) Sidespin sangat efektif dilakukan pada saat servis

.

Pengembalian bola dalam permainan tenis meja sangat variatif sesuai dengan apa yang dikehendaki berdasarkan respon yang diterima. Hal ini disebabkan sudut-sudut bet saat mengembalikan bola mempunyai ciri khas tersendiri, pukulan yang berbeda.

xxvi 3) Posisi Siap Pukulan Forehand

Posisi siap adalah posisi terpenting sebelum bermain tenis meja. Menurut Hodges L (1996 : 34), “ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pemain pemula dalam mengambil posisi siap yaitu:

1) Tubuh harus diseimbangkan.

2) Kaki mengarah tegak lurus terhadap endline (garis ujung garis). 3) Kaki kanan sedikit ke belakang, dengan tubuh tetap menghadap neja

atau arah datangnya bola.

4) Berat badan bertumpu pada kedua kaki.

5) Lutut harus diletakkan, dengan badan yang sedikit dicondongkan. 6) Jaga posisi siap tetap rileks, lihat gambar

Gambar 6. Posisi Siap Pukulan Forehand (Hodges L, 1996 : 34)

4) Servis Permulaan

Servis adalah pukulan bola pertama yang dilakukan oleh server. Pukulan ini dimulai dengan bola yang dilambungkan ke atas dari telapak tangan dan kemudain dipukul dengan bet. Dalam bermain tenis meja servis merupakan hal yang penting dan sangat diperlukan.

Anda dapat saja memukul bola tinggi di atas net saat anda melakukan servis, hanya untuk memulai permainan. Tapi servis ini akan memberikan kesempatan kepada lawan anda untuk melepaskan pukulan yang akan memulai rally, karena lawan anda pasti telah melewati banyak waktu untuk menyempurnakn sevisnya, ia akan menggunakan inisiatif saat melakukan servis dan anda akan rugi sekali jika tidak melakukan hal yang sama. (Hodges L , 1996 : 43)

5) Penempatan dan Pengaturan Kaki

Cara menempatkan diri pada dekat meja sering kali menentukan permainan. Apabila pemain menempatkan diri dengan benar, maka pemain tersebut cenderung bermain dengan benar apabila tidak maka ia tidak mungkin dapat bermain dengan benar. Menurut Hodges L (1996 : 55) bahwa:

xxvii

Terdapat tiga hal yang harus diperhitungkan sebelum menempatkan diri yang harus dilaksanakan secara otomatis yaitu: (1) Siku tangan yang menandakan titik tenaga antara forehand dan backhand. (2) Kebanyakan pemain memiliki forehand yang lebih kuat dari backhand dan oleh sebab ituharus dibantu selama memungkinkan, (3) Posisi lawan harus dimasukkan dalam perhitungan.Posisi terbaik adalah posisi siap berada kira-kira agak sebelah kiri garis tengah meja. (lihat gambar 6)

Gambar 7. Penempatan Diri Pukulan Forehand (Hodges L, 1996 : 56)

d. Teknik Pukulan Forehand

Pukulan forehand adalah setiap pukulan yang dilakukan dengan bet yang digerakkan ke arah kanan siku untuk pemain yang menggunakan tangan kanan, dan ke kiri untuk pemain yang menggunakan tangan kiri (Hodges L.1996:12). Adapun langkah-langkah pukulan forehand adalah sebagai berikut:

1) Dalam posisi siap. 2) Tangan dilemaskan.

3) Bet sedikit dibuka untuk menghadapi backspin, sedikit ditutup untuk menghadapi topspin.

4) Pergelangan tangan lemas dan sedikit di miringkan ke bawah.

5) Bergerak untuk mengatur posisi, kaki kanan sedikit ke belakang untuk

melakukan forehand. (Gambar 8a)

Tahap pelaksanaan pukulan forehand dalam tenis meja adalah sebagai berikut:

1) Backswing

a) Putar tubuh ke belakang bertumpu pada pinggul dan pinggang. b) Putar tangan ke belakang dengan bertumpu pada siku.

c) Berat badan di pindahkan ke kaki kanan.

d) Untuk menghadapi backspin bet harus di gerakkan lebih rendah. (gambar 8b)

2) Forward Swing

a) Berat badan dipindahkan ke kiri.

xxviii

c) Tangan diputar ke depan dengan bertumpu pada siku.

d) kontak bola dilakukan didepan sisi kanan tubuh. (Gambar 8c) Tahap akhir pukulan forehand adalah:

1) Bet bergerak ke depan dan sedikit dinaikkan keatas. 2) kembali keposisi siap.(Gambar 8d)

Gambar 8. Rangkaian Gerakan Pukulan Forehand (Hodges L, 1996: 36-37)

2. Metode Latihan

a. Pengertian Metode Latihan

Metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan dikehendaki. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2007: 740) metode adalah “Cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanakan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan”.

Latihan merupakan suatu proses yang harus dilaksanakan oleh seorang atlet untuk mencapai prestasi yang setinggi-tingginya. Berikut ini disajikan pengertian latihan secara umum yang dikemukakan oleeh beberapa ahli, sebagai berikut :

1) Menurut Suharno HP. (1993: 7) latihan adalah suatu proses penyempurnaan atau pendewasaan atlet secara sadar untuk mencapai mutu prestasi maksimal dengan diberi beban-beban fisik dan mental secara teratur dan terarah, meningkat, bertahap dan berulang-ulang waktunya.

2) Menurut Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (1996: 145) latihan adalah proses yang sistematis dari berlatih yang dilakukan secara berulang-ulang,

xxix

dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihan serta intensitas latihannya.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, metode latihan merupakan cara kerja atau berlatih yang sistematis dan kontinyu serta berulang-ulang dengan beban latihan dan intensitas latihan yang semakin meningkat untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Peningkatan beban dan intensitas latihan ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan atlet yang berlatih. Dalam pelaksanaan latihan ada beberapa aspek yang sangat penting untuk mencapai prestasi. Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (1996: 145) mengemukakan bahwa aspek-aspek yang perlu dilatih dan dikembangkan untuk mencapai prestasi meliputi “(1) latihan fisik, (2) latihan teknik, (3) latihan taktik, dan (4) latihan mental”.

b. Latihan Teknik

Setiap cabang olahraga selalu berisikan teknik-teknik dari cabang olahraga yang bersangkutan. Untuk menguasai teknik dengan baik, diperlukan latihan teknik yang sistematis dan kontinyu. Berikut ini disajikan pengertian-pengertian latihan teknik yang disajikan oleh beberapa ahli, sebagai berikut :

1) Menurut Sudjarwo (1995: 41) latihan teknik bertujuan untuk pengembangan dan pembentukan sikap dan gerak melalui pengembangan motorik dan system persyarafan menuju gerakan otomatis.

2) Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (1996: 127) latihan teknik adalah latihan yang khusus dimaksudkan untuk membentuk dan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan motorik dan neuromuskular.

Berdasarkan pengertian latihan teknik di atas dapat diambil kesimpulan bahwa latihan teknik merupakan latihan yang bertujuan untuk mengembangkan dan menyempurnakan teknik-teknik gerakan pada cabang olahraga. Suatu teknik dalam cabang olahraga dapat dikuasai dengan baik apabila dilakukan secara sistematis dan kontinyu dengan berpedoman pada prinsip-prinsip latihan yang tepat.

xxx c. Prinsip-Prinsip Latihan

Di dalam pelaksanaan latihan, baik atlet maupun pelatih harus memperhatikan prinsip-prinsip latihan. Dengan memperhatikan prinsip latihan maka diharapkan kemampuan atlet akan meningkat dan mengurangi akibat yang buruk yang terjadi pada fisik maupun teknik atlet. Menurut A. Hamidsyah Noer (1996: 8-11) prinsip-prinsip latihan dalam olahraga meliputi : “(1) Latihan-latihan yang dilakukan hendaknya diulang-ulang, (2) Latihan yang dilakukan harus cukup berat, (3) Latihan yang diberikan harus cukup meningkat, (4) Latihan harus dilakukan secara teratur, dan (5) Kemampuan berprestasi”. Berikut disampaikan prinsip-prinsp latihan:

1) Latihan Harus Diulang-ulang

Mengulang-ulang terhadap bentuk gerakan yang dipelajari adalah sangat penting untuk menguasai teknik suatu cabang olahraga atau meningkatkan kemampuan fisik. Pengulangan gerakan hendaknya dilakukan dengan frekuensi yang sebanyak-banyaknya. Hal ini dimaksudkan untuk mempermahir teknik yang dipelajari menuju otomatisasi gerakan yang efektif dan efisien. Seperti dikemukakan oleh Sudjarwo (1995: 44) bahwa,”Latihan teknik yang dilakukan secara berulang-ulang bertujuan untuk mengotomatisasikan gerakan sesuai dengan teknik yang dikehendaki. Pada hakekatnya pengembangan teknik merupakan bagian dari usaha meningkatkan keterampilan menuju gerakan cermat, efisien, dan efektif”.

2) Latihan yang Diberikan Harus Cukup Berat

Latihan yang diberikan harus cukup berat maksudnya adalah, latihan yang menekankan pada pembebanan latihan yang semakin berat atau prinsip overload. Beban latihan yang diberikan harus cukup berat, yaitu di atas ambang rangsang. Jika latihannya terlalu ringan, maka kemampuan tubuh tidak akan meningkat. Dalam hal ini Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (1996: 131) mengemukakan bahwa, ”Kalau beban latihan terlalu ringan (di bawah ambang rangsang), walaupun latihan sampai lelah, berulang-ulang dan dengan waktu yang lama, peningkatan prestasi tidak akan mungkin tercapai”.

xxxi 3) Latihan Harus Cukup Meningkat

Pemberian latihan harus dilakukan secara bertahap yang kian hari kian bertambah jumlah bebannya yang akan memberikan efektifitas kemampuan fisik atau teknik. Peningkatan beban latihan hendaknya disesuaikan dengan tingkat kemampuan atlet serta ditingkatkan bertahap. Apabila latihan diberikan secara cepat dengan peningkatan beban yang cepat pula, maka akan mengakibatkan terjadinya kelainan di dalam tubuh serta munculnya gejala-gejala overtraining. Seperti yang dikemukakan oleh Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (1996: 131), ” Kalau bebannya terlalu berat, maka perkembangan pun tidak akan mungkin karena tubuh tidak akan dapat memberikan reaksi terhadap beban latihan yang terlalu berat tersebut. Hal ini juga dapat mengakibatkan cedera atau

overtraining”.

4) Latihan Harus Dilakukan Secara Teratur

Menurut Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (1996: 131) bahwa, “ Sistem faaliah tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan rangsang-rangsang latihan (adaptasi). Adaptasi adalah penyesuaian fungsi dan struktur organisme atlit akibat beban latihan yang diberikan oleh pelatih”. Latihan yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan membuat tubuh dapat menyesuaikan diri kembali dengan alam sekitarnya secara teratur. Dengan adaptasi tubuh terhadap situasi latihan ini maka kemampuan tubuh akan meningkat sesuai dengan rangsangan yang diberikan.

5) Kemampuan Berprestasi

Kemampuan berprestasi seseorang sangat ditentukan oleh faktor latihan, Pemberian dosis latihan harus direncanakan, disusun dan diprogramkan dengan baik sehingga tujuan dapat tercapai. Kemampuan berprestasi juga dipengaruhi oleh faktor lain, A. Hamidsyah Noer (1996: 11) mengemukakan, “Kemampuan berprestasi disamping ditentukan oleh faktor latihan juga ditentukan oleh faktor usia, jenis kelamin, bakat, dan kemauan”.

xxxii d. Komponen-Komponen Latihan

Setiap kegiatan olahraga yang dilakukan oleh atlet akan mengarah kepada sejumlah perubahan yang bersifat anatomis, fisiologis, biokimia, dan kejiwaan. Menurut Andi Suhendro (2004: 3.22) bahwa,”Dalam proses latihan yang efisien dipengaruhi : (1) Volume latihan, (2) Intensitas latihan, (3) Densitas latihan,dan (4) Kompleksitas latihan”. Apabila seorang pelatih merencanakan suatu latihan yang dinamis, maka harus mempertimbangkan semua aspek yang menjadi komponen latihan tersebut di atas. Untuk lebih jelasnya komponen-komponen latihan dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut :

1) Volume Latihan

Sebagai komponen utama, volume adalah prasyarat yang sangat penting untuk mendapatkan tehnik yang tinggi dalam pencapaian fisik yang lebih baik. Menurut Andi Suhendro (2004: 3.17) bahwa, “ volume latihan adalah ukuran yang menunjukkan jumlah atau kuantitas derajat besarnya suatu rangsang yang dapat ditunjukkan dengan jumlah repetisi, seri atau set dan panjak jarak yang ditempuh”. Sedangkan repetisi menurut Suharno HP (1993: 32) adalah “ ulangan gerak berapa kali atlet harus melakukan gerak setiap giliran”.

Peningkatan volume latihan merupakan puncak latihan dari semua cabang olahraga yang memiliki komponen aerobik dan juga pada cabang olahraga yang menuntut kesempurnaan tehnik atau keterampilan taktik. Hanya jumlah pengulangan latihan yang tinggi yang dapat menjamin akumulasi jumlah keterampilan yang diperlukan untuk perbaikan penampilan secara kuantitatif. Perbaikan penampilan seorang atlet merupakan hasil dari adanya peningkatan jumlah satuan latihan serta jumlah kerja yang diselesaikan setiap satuan latihan.

2) Intensitas Latihan

Intensitas latihan merupakan salah satu komponen yang sangat erat kaitannya dengan komponen kualitatif kerja yang dilakukan dalam jangka waktu yang telah diberikan. Lebih banyak kerja yang dilakukan dalam satuan waktu,

Dokumen terkait