• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu dari Juni sampai dengan Agustus 2005. Penelitian dilakukan dibagian Ilmu Produksi Ternak Perah, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor, Laboratorium Formulasi Tablet, Departemen Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia dan Lembaga Farmasi Angkatan Laut, Jakarta.

Materi

Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah susu kambing PE beku yang diperoleh dari Daya Mitra Primata. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan tablet hisap adalah bahan pengisi (mannitol), bahan pengikat polivinilpirolidon (PVP), Hidroksipropil metilselulosa (HPMC), khitosan dan amilum, aquades, alkohol, Mg stearat dan talk yang diperoleh dari Laboratorium Farmasi Universitas Indonesia, aspartam dan asam asetat diperoleh dari toko kimia di wilayah Bogor. Bahan-bahan yang digunakan dalam pengujian sifat kimia adalah larutan NaOH 30%, HCl 0,01 N, H2SO4 pekat 91-92%, batu didih, asam borat 2%, heksana, SeO2, K2SO4, CuSO4.5H2Odan indikator phenolptalin

Peralatan yang digunakan adalah panci, kompor listrik, sendok pengaduk, separator, eksikator, corong, kertas saring, labu erlenmeyer, centrifuge, buret, cawan, tanur listrik, alat penyuling, labu Kjedahl 100 ml, pipet, labu soxhlet, kapas bebas lemak, spray dryer merek Buche tipe B-190, mesin cetak tablet (Erweka), hardness tester (Erweka TBH 28), friability tester (Erweka TAR), oven, flowmeter (Erweke GDT), bulk density tester, timbangan analitik dengan ketelitian 0,001 g (EB-330H), jangka sorong, gelas piala dan ayakan (12 dan 20 mesh).

Rancangan Perlakuan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah dengan empat taraf perlakuan formula bahan (Formula A, B, C dan D) dan tiga kali ulangan.

Model

Model matematika yang digunakan dalam penelitian ini : Yij = μ + τi + εij

Keterangan :

Yij = hasil pengamatan pada perlakuan ke i dan ulangan ke j μ = nilai rataan umum

τi = pengaruh formula ke-i

ε = galat percobaan akibat pada ulangan ke-j dari perlakuan ke-i i = A, B, C dan D

j = ulangan (1, 2 dan 3) Peubah

Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah sifat fisik, kimia dan organoleptik. Sifat fisik yang diuji meliputi evaluasi granul (laju alir dan kompresibilitas) dan evaluasi tablet (kekerasan, keregasan, keseragaman bobot dan keseragaman ukuran). Sifat kimia yang diuji terdiri atas kadar air, abu, lemak dan protein. Uji organoleptik meliputi uji mutu hedonik terhadap warna, aroma, tekstur dan rasa. Uji hedonik dilakukan terhadap warna, aroma, tekstur, rasa dan penampakan umum.

Analisis Data

Data sifat fisik, kimia dan organoleptik (uji mutu hedonik) yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam (Analysis of Variance/ANOVA). Jika perlakuan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap peubah yang diukur, maka akan dilanjutkan dengan uji peringkat berganda Duncan (Duncan’s Multiple Range Test) untuk mengetahui perbedaan diantara perlakuan tersebut (Steel dan Torrie, 1995).

Uji hedonik dianalisis secara statistik non parametrik dengan uji Kruskal Wallis dan jika hasilnya berbeda nyata akan dilanjutkan dengan uji banding rataan ranking (Mean Comparison Rank Test) yang dikembangkan oleh Gibbons (1975).

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

Ri-Rj < Zα [ Κ (Ν+1) /6 ]0,5

Keterangan:

Ri = Rataan rangking pada perlakuan ke-i Rj = Rataan rangking pada perlakuan ke-j

Zα = Nilai Z untuk pembanding lebih dari dua rata-rata (α=0,05 dan α=0,01) Ν = Jumlah total pengamatan (jumlah panelis x jumlah sampel)

K = Jumlah taraf dalam perlakuan (1, 2, 3 dan 4)

Jika nilai Ri-Rj > Zα [ Κ (Ν+1) /6 ]0,5 , maka perlakuan Ri dan Rj dikatakan berbeda nyata pada taraf α.

Z pada 0,05 = 1,64 Z pada 0,01 = 2,33

Prosedur

Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Penelitian pendahuluan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu (a) penentuan karakteristik kimia susu kambing segar, (b) penentuan karakteristik kimia susu skim bubuk dan (c) pembuatan produk untuk mendapatkan formula terpilih.

Penelitian utama melakukan pembuatan produk berdasarkan formula terpilih yang diperoleh dari penelitian pendahuluan.

Tujuan penelitian pendahuluan yaitu untuk memperoleh formula tablet hisap susu kambing terpilih berdasarkan bahan pengikat yang berbeda. Formula terbaik dinilai dengan mempertimbangkan kekerasan tablet yang dihasilkan. Penelitian utama bertujuan untuk mengaplikasikan formula terpilih dengan kombinasi pemanis tambahan dan bahan pengisi. Skema alur penelitian tablet hisap disajikan pada Gambar 1.

Penelitian Pendahuluan

Mutu bahan yang digunakan dalam pembuatan tablet hisap susu kambing sangat penting untuk menentukan mutu produk akhir yang dihasilkan. Mengacu pada metode penelitian yang dilakukan Said (2005), penelitian diawali dengan pengujian kualitas susu kambing segar meliputi kadar air, abu, lemak dan protein. Susu kambing selanjutnya dipanaskan sampai dengan suhu 40°C, diseparasi hingga diperoleh kadar lemak kurang dari 1%, kemudian susu kambing skim dikeringkan dengan spray draying.

Gambar 1. Skema Alur Penelitian Pembuatan Tablet Hisap Susu Kambing Susu kambing segar

Separasi

Spray Draying

Pemanasan pada suhu 40 °C

Analisis proksimat

• Sifat fisik tablet (kekerasan, keregasan, keseragaman ukuran dan keseragaman bobot)

• Sifat kimia ( kadar air, abu, lemak dan prorein)

• Organoleptik (uji hedonik dan uji mutu hedonik) Tablet

Susu kambing skim bubuk yang dihasilkan diuji kualitasnya meliputi : kadar air, abu, lemak dan protein. Susu bubuk yang telah dihasilkan selanjutnya digunakan sebagai bahan baku dalam formula untuk memperoleh formula yang terbaik berdasarkan perbedaan bahan pengikat. Massa tablet dicetak dengan mesin pencetak tablet dengan bobot tiap tablet 200 mg. Formula tablet hisap susu kambing dengan bahan pengikat yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Formula Tablet Hisap dengan Bahan Pengikat yang Berbeda Bahan Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4

-(%)- -(%)- -(%)- -(%)-

-(mg)-Susu kambing 65 130 65 130 65 130 65 130

Mannitol 25,98 51,96 25,98 51,96 25,98 51,96 25,98 51,96 Aspartam 0,02 0,04 0,02 0,04 0,02 0,04 0,02 0,04

Amilum 5 10 - - -

Khitosan - - 5 10 - - - -

HPMC - - - - 5 10 - -

PVP - - - 5 10

Talk 3 6 3 6 3 6 3 6

Mg Stearat 1 2 1 2 1 2 1 2

Total 100 200 100 200 100 200 100 200

Bahan Penyusun Tablet Hisap Susu Kambing. Komposisi setiap formula terdiri atas bahan aktif susu kambing skim bubuk, mannitol sebagai pengisi, aspartam sebagai pemanis tambahan, HPMC sebagai pengikat, talk dan Mg stearat sebagai pelicin (lubrikan), pelincir (glidan) dan anti lekat (antiadherent). Mannitol banyak digunakan sebagai pengisi karena mempunyai kompresibilitas yang baik, tidak bersifat higroskopis sehingga massa tablet yang agak lembab akibat bahan aktif susu bubuk skim tidak bertambah lembab, dan memiliki mouth feel yang enak. Mannitol selain berfungsi sebagai pengisi dapat juga berfungsi sebagai pemanis, walaupun tingkat kemanisan mannitol menurut Salminen et al. (1990), hanya 0,4-0,5 dari sukrosa.

Aspartam dipilih sebagai pemanis karena mempunyai tingkat kemanisan yang tinggi, seperti yang diungkapkan Rohdiana (2004). Aspartam memiliki daya kemanisan 100-200 kali lebih manis daripada gula tebu. Aspartam sangat disukai

karena rasa manis yang ditimbulkannya sangat mirip dengan gula. Kemanisan yang tinggi pada aspartam tidak setinggi sukrosa, tetapi penggunaan aspartam akan lebih murah dibandingkan dengan sukrosa. Jumlah aspartam yang digunakan pada penelitian ini mengacu Badan Pengawas Obat dan Makanan (2004) yaitu maksimal 0,06%.

Pemilihan HPMC sebagai pengikat, karena penggunaannya tidak memerlukan konsentrasi yang besar (2-5%) untuk memberikan daya ikat yang baik dan memiliki tingkat viskositas yang seragam sehingga dapat disesuaikan dengan fungsinya. Talk digunakan sebagai bahan pelincir (glidant) dan anti lekat (antiadherent) karena dapat meningkatkan daya alir granul. Penggunaan Mg stearat sebagai pelicin (lubricant) karena sifat spesifiknya yang berminyak saat disentuh, sehingga adanya sifat tersebut gesekan antara massa tablet dan alat cetak dapat dikurangi.

Pembuatan Tablet Hisap Susu kambing. Pembuatan tablet hisap susu kambing dilakukan dengan menggunakan metode granulasi basah (Gambar 2). Susu kambing skim bubuk ditambah mannitol dan aspartam, lalu diaduk sampai homogen. Bila massa telah homogen kemudian ditambahkan larutan pengikat (amilum/kitosan/PVP /HPMC) sedikit demi sedikit hingga terbentuk massa yang dapat dikepal. Hasil pencampuran awal diayak dengan menggunakan ayakan 12 mesh, kemudian dikeringkan di dalam oven pada suhu 40°C selama 2 jam. Massa yang kering kemudian diayak dengan menggunakan ayakan 20 mesh sampai dihasilkan granul.

Granul yang dihasilkan ditimbang, kemudian ditambah talk dan Mg stearat masing-masing 3% dan 1% terhadap bobot granul, lalu diaduk sampai homogen. Granul yang telah homogen diuji terlebih dahulu meliputi laju alir, kemudian dicetak menjadi tablet.

Pada keempat formula tersebut dilakukan pengujian terhadap sifat fisik tablet (evaluasi tablet) yaitu kekerasan, keregasan, keseragaman bobot dan keseragaman ukuran. Berdasarkan sifat fisik kekerasan tablet hisap susu kambing yang dihasilkan, akan diperoleh formula terbaik untuk digunakan pada penelitian utama (Formula 3).

V-Blend

Lubricant &

Externaldisintegrate (talk dan Mg stearat)

(In Process Control)

- Kekerasan - Keregasan

- Keseragaman ukuran Evaluasi granul (laju alir dan kompresiblitas) - Keseragaman bobot

Gambar 2. Proses Pembuatan Tablet Hisap Susu Kambing dengan Metode Granulasi Basah

Sumber : Lieberman et al. (1989) Compression Tablet

Evaluasi : Final

mixing Sifting 2 (20 mesh)

Drying (40°C) Fluid Bed

Dryer

Bulk Milling Premixing Sifting 1

(12 mesh) Wetmixing

Binder solution (HPMC) Ballmill

V-Blend

Planetary Mixer drug, filler, internal

disintegrant (Susu bubuk, mannitol

dan aspartam)

Penelitian Utama

Pembuatan tablet hisap susu kambing selanjutnya dilakukan dengan mengaplikasikan formula terpilih (Formula 3) dengan kombinasi bahan pemanis tambahan (aspartam) dan bahan pengisi (mannitol). Kombinasi tersebut bertujuan untuk menjaga kualitas organoleptik tablet hisap susu kambing, khususnya dari segi rasa. Penggunaan aspartam digunakan dari konsentrasi terkecil 0% sampai dengan batas maksimum penggunaan yaitu 0,06%. Formula tablet dibuat dalam empat formula yakni formula A, B, C dan D. Formula selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Formula Tablet Hisap dengan Konsentrasi Pemanis yang Berbeda Bahan Formula A Formula B Formula C Formula D

-(%)- -(mg)- -(%)- -(mg)- -(%)- -(mg)- -(%)-

-(mg)-Susu kambing 65 130 65 130 65 130 65 130

Mannitol 26 52 25,98 51,96 25,96 51,92 25,94 51,88 Aspartam 0 0 0,02 0,04 0,04 0,08 0,06 0,12

HPMC 5 10 5 10 5 10 5 10

Talk 3 6 3 6 3 6 3 6

Mg Stearat 1 2 1 2 1 2 1 2

Total 100 200 100 200 100 200 100 200 Tablet hisap kemudian akan diuji kualitasnya meliputi sifat fisik granul (laju alir dan kompresibilitas), sifat fisik tablet (kekerasan, keregasan, keseragaman bobot dan keseragaman ukuran), sifat kimia (kadar air, abu, kadar lemak dan kadar protein) dan organoleptik (mutu hedonik dan hedonik).

Prosedur Analisa Sifat Kimia

Kadar Air sesuai SNI 01-2891-1992 (Dewan Standarisasi Nasional, 1992).

Cawan kosong dikeringkan dalam oven dengan suhu 105°C selama 30 menit dan didinginkan dalam eksikator, kemudian ditimbang. Sampel sebanyak 3 g dimasukkan ke dalam cawan, selanjutnya dikeringkan dalam oven 105°C selama 6 jam hingga beratnya konstan. Kadar air sampel dihitung dengan rumus sebagai berikut :

w

Kadar air (%) = x 100%

w1

Keterangan :

w = bobot sampel awal - bobot sampel akhir w1 = bobot sampel awal

Kadar Abu sesuai SNI 01-2891-1992 (Dewan Standarisasi Nasional, 1992).

Cawan kosong dikeringkan dalam oven dengan suhu 105°C selama 30 menit dan didinginkan dalam eksikator, kemudian ditimbang. Sampel seberat 2-3 g dimasukkan ke dalam cawan, lalu diarangkan di atas nyala pembakar dan diabukan dalam tanur listrik dengan suhu 550°C selama 2 jam. Cawan berisi sampel setelah diabukan, didinginkan dalam eksikator dan ditimbang sampai bobot tetap. Kadar abu dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

w1 - w2

Kadar abu (%bb) = x 100%

w Keterangan :

w = bobot sampel sebelum diabukan, dalam gram

w1 = bobot sampel + cawan sesudah diabukan, dalam gram w2 = bobot cawan kosong, dalam gram

kadar abu (%)

Kadar abu (%bk) = x 100%

(100-kadar air)%

Kadar Lemak sesuai SNI 01-2891-1992 (Dewan Standarisasi Nasional, 1992).

Sampel seberat 1-2 g dimasukkan ke dalam selongsong kertas yang dialasi dengan kapas. Selongsong kertas disumbat dengan kapas, dikeringkan dalam oven pada suhu + 80°C selama 1 jam, kemudian dimasukkan ke dalam alat Soxhlet yang telah dihubungkan dengan labu lemak berisi batu didih yang telah dikeringkan dan diketahui bobotnya. Sampel dalam labu lemak diekstraksi dengan heksana atau pelarut lemak lainnya selama 6 jam. Heksana atau pelarut lemak lainnya disuling.

Ekstraksi lemak dikeringkan dalam oven pada suhu 105°C. Ekstraksi lemak didinginkan dalam eksikator, kemudian ditimbang. Pengeringan diulangi hingga tercapai bobot konstan. Kadar lemak dapat dihitung dengan rumus berikut :

w1 - w2

Kadar lemak (%bb) = x 100%

w Keterangan :

w = bobot sampel, dalam gram

w1 = bobot labu lemak sesudah ekstraksi, dalam gram w2 = bobot labu lemak kosong, dalam gram

kadar lemak (%)

Kadar lemak (%bk) = x 100%

(100-kadar air)%

Kadar Protein sesuai SNI 01- 2891-1992 (Dewan Standarisasi Nasional, 1992).

Sampel seberat 0,51 g dimasukkan dalam labu Kjedahl 100 ml, kemudian ditambahkan 2 g campuran selen dan 25 ml H2SO4 pekat. Larutan tersebut dipanaskan di atas pemanas listrik atau api pembakar sampai mendidih dan larutan menjadi jernih kehijau-hijauan. Setelah dingin, larutan diencerkan dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml, ditepatkan sampai tanda garis. Larutan sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam alat penyuling, ditambahkan 5 ml NaOH 30% dan beberapa tetes indikator PP, lalu disuling selama + 10 menit, sebagai penampung digunakan 10 ml larutan asam borat 2% yang telah dicampur indikator. Ujung pendingin dibilas dengan air suling. Larutan dititar dengan larutan HCl 0,01N. Blanko dibuat sebagai penetapan. Kadar protein dapat dihitung dengan rumus berikut :

(v1 - v2) x N x 0,014 x fk x fp

Kadar protein (%bb) = x100%

w Keterangan :

w = bobot sampel (g)

v1 = volume HCl 0,01N yang digunakan penitaran sampel (ml) v2 = volume HCl 0,01N yang digunakan penitaran blanko (ml)

fk = faktor konversi untuk protein dari makanan secara umum 6,25; untuk susu dan olahannya 6,38

fp = faktor pengenceran

kadar protein (%)

Kadar protein (%bk) = x 100%

(100-kadar air)%

Prosedur Evaluasi Granul (Wells, 1987)

Laju Alir. Sebanyak 100 g massa tablet ditimbang, lalu dimasukkan dalam corong dan diratakan. Alat Flowmeter dinyalakan dan waktu yang diperlukan seluruh massa untuk mengalir melalui corong dicatat. Laju alir dinyatakan sebagai banyaknya gram serbuk yang melewati celah mesin per detik.

Kompresibilitas. Kompresibilitas dievaluasi dengan menggunakan alat bulk density tester dalam 300 ketukan. Sejumlah massa tablet dimasukkan dalam gelas ukur 100 ml, lalu diukur volumenya (V1). Berat jenis bulk = m/V1. Massa dalam gelas ukur diketuk-ketuk sampai volume tetap (V2). Berat jenis mampat = m/V2. Kriteria kompresibilitas dapat dilihat pada Tabel 5.

(Berat jenis mampat – Berat jenis bulk)

Indeks Kompresibilitas (%) = x 100%

Berat jenis mampat Tabel 5. Kriteria Indeks Kompresibilitas

Indeks kompresibilitas (%) Kategori

5-15 Istimewa 12-16 Baik 18-21 Sedang 23-35 Jelek

33-38 Sangat jelek

>40 Sangat-sangat jelek

Sumber : Wells (1987) Prosedur Evaluasi Tablet

Kekerasan Tablet. Kekerasan tablet diukur dengan menggunakan alat hardness tester (Erweka TBH 28). Tablet diletakkan pada posisi vertikal diantara dua posisi logam penjepit dari alat pengukur kekerasan. Satuan kekerasan tablet ditentukan dengan menekan tombol sesuai dengan yang diinginkan, lalu tombol start ditekan sehingga logam penjepit bergerak untuk memecah tablet. Kekerasan tablet dibaca pada layar digital, satuan hasil untuk kekerasan tablet yaitu kilo Pascal (kP) (Lieberman et al., 1989).

Keregasan Tablet. Sebanyak 20 tablet yang telah dibebas debukan ditimbang, kemudian dimasukkan dalam alat uji keregasan tablet. Alat diset dengan kecepatan 25 rpm selama 4 menit. Setelah itu tablet dikeluarkan, dibebas debukan dan ditimbang kembali untuk mengetahui perbedaan berat sebelum dan setelah diuji keregasan, kemudian dihitung persentasenya, dengan cara menghitung selisih antara bobot tablet sebelum pengujian dengan bobot tablet setelah pengujian dibandingkan dengan bobot tablet sebelum pengujian dikalikan 100%. Nilai keregasan tablet

< 0,8%. Keregasan tablet dapat dihitung dengan rumus berikut : w1 - w2

Keregasan tablet (%) = x 100%

w1

Keterangan :

w1 = bobot tablet sebelum pengujian w2 = bobot tablet setelah pengujian

Keseragaman Bobot. Dua puluh tablet ditimbang satu persatu dengan menggunakan timbangan digital. Dihitung bobot rata-rata dari tablet tersebut. Bobot tiap tablet dibandingkan dengan bobot rata-rata. Ketentuan yang harus dipenuhi menurut Farmakope Indonesia III adalah tidak boleh lebih dari 2 tablet yang bobotnya menyimpang dari rata-rata lebih dari kolom A dan tidak boleh 1 tablet yang bobotnya menyimpang dari rata-rata lebih dari kolom B (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979).

Tabel 6. Persentase Penyimpangan Bobot Rata-rata Tablet menurut Farmakope Indonesia III

Bobot rata-rata Penyimpangan bobot rata-rata (%)

A B

25 mg atau kurang 15 30

26 mg – 150 mg 10 20

151 mg – 300 mg 7,5 15

Lebih dari 300 mg 5 10

Sumber : Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1979)

Keseragaman Ukuran. Sebanyak 20 tablet dari tiap formula diukur diamaternya dengan jangka sorong. Keseragaman ukuran tablet ditentukan dengan mengukur diameter dan tebal tablet dari 10 tablet dari tiap-tiap formula dengan menggunakan jangka sorong (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979).

Uji Organoleptik

Sifat organoleptik dari tablet hisap susu kambing yang dihasilkan dianalisis dengan uji hedonik dan mutu hedonik. Panelis diminta memberikan penilaian tingkat kesukaan terhadap sampel atau sifat-sifat spesifik. Pengujian menggunakan panelis tidak terlatih sebanyak 40 orang (uji hedonik) dan agak terlatih sebanyak 30 orang (uji mutu hedonik). Sampel disajikan kepada panelis secara acak disertai segelas air putih sebagai penawar rasa dan panelis diminta memberikan kesan pada lembar kuesioner yang disajikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait