• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

2. Metode Mengajar

a. Pengertian Metode Mengajar

Pada uraian di atas, telah dijelaskan mengenai belajar dan faktor- faktor yang mempengaruhinya. Sedangkan proses belajar itu sendiri sangat erat hubungannya dengan proses mengajar yang dilakukan oleh guru. Mengajar adalah usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar itu secara optimal. (W. Gulo, 2004: 8). Oleh karena itu, metode mengajar yang digunakan oleh guru menjadi salah satu faktor penting untuk mencapai tujuan belajar.

Metode mengajar sering juga disebut metode pembelajaran. Purwoto (2003: 65) menyatakan “Metode mengajar adalah suatu cara mengajarkan topik tertentu agar proses pengajaran tersebut berhasil dengan baik”. Pendapat serupa juga dinyatakan oleh Hamzah B. Uno (2008: 21) yang mendefinisikan “Metode pembelajaran sebagai cara yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran”.

Selain disebut dengan metode pembelajaran, metode mengajar disebut juga sebagai teknik penyajian pelajaran.

Metode mengajar atau teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh guru atau instruktur. Pengertian lain ialah sebagai teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, agar pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami dan digunakan oleh siswa dengan baik. (Roestiyah N. K., 2008: 1)

Dari pendapat beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa metode mengajar adalah suatu cara atau teknik untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa guna mencapai tujuan pembelajaran.

b. Metode Penemuan

Metode penemuan adalah terjemahan dari discovery learning. Kata penemuan sebagai metode mengajar merupakan penemuan yang dilakukan oleh siswa. Dalam belajarnya ia menemukan sendiri sesuatu hal yang baru. Ini tidak berarti yang ditemukannya itu benar-benar baru, sebab sudah diketahui oleh yang lain. (Karso dkk, 1993: 57).

commit to user

Menurut Sund dalam Roestiyah N. K. (2008: 20) Discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksudkan dengan proses mental tersebut antara lain ialah: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya”. Sedangkan Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana (2009: 77) menyatakan “Discovery merupakan suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan sikap”.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode penemuan adalah metode pembelajaran yang melibatkan siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan, sikap, dan keterampilan sehingga mampu mengasimilasikan suatu konsep dan prinsip berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

Secara umum, urutan langkah metode penemuan adalah sebagai berikut.

1) Guru merumuskan masalah yang akan dipaparkan kepada siswa dengan data secukupnya, dan dengan perumusan yang jelas sehingga tidak menimbulkan salah tafsir.

2) Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun dan menambah data baru, memproses, mengorganisir dan menganalisis data tersebut. Guru membimbing siswa agar melangkah ke arah yang tepat, biasanya dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan.

3) Siswa menyusun konjektur (prakiraan atau dugaan) dari hasil analisis yang dilakukannya.

4) Mengkaji kebenaran konjektur dengan alasan-alasan yang masuk akal. Verbalisasi konjektur beserta buktinya diserahkan kepada siswa untuk menyusunnya.

5) Jika siswa sudah dapat menemukan yang dicari, guru dapat memberikan soal tambahan untuk memeriksa kebenaran penemuan itu serta tingkat pemahaman mereka.

(Fadjar Shadiq, 2009: 20) Belajar dengan menggunakan metode penemuan dapat membantu siswa untuk menemukan konsep-konsep yang akan membuatnya terampil dalam memilih langkah yang diperlukan dalam menyelesaikan masalah dan

commit to user

akan memotivasi siswa senang belajar matematika. Roestiyah N. K. (2008: 20- 21) mengungkapkan keunggulan dari metode penemuan adalah sebagai berikut.

1) Teknik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan;

memperbanyak kesiapan; serta penguasaan ketrampilan dalam proses kognitif/pengenalan siswa.

2) Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi/individual sehingga dapat kokoh/mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut. 3) Dapat membangkitkan kegairahan belajar para siswa.

4) Teknik ini mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk

berkembang dan maju sesuai dengan kemampuannya masing-masing. 5) Mampu mengarahkan cara siswa belajar, sehingga lebih memiliki motivasi

yang kuat untuk belajar lebih giat.

6) Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri

sendiri dengan proses penemuan sendiri.

Secara singkat dan jelas, Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni (2008: 129-130) menyatakan

Discovery learning mempunyai beberapa keuntungan dalam belajar, antara

lain siswa memiliki motivasi dari dalam diri sendiri untuk menyelesaikan pekerjaannya sampai menemukan jawaban-jawaban atas problem yang dihadapi mereka. Selain itu, siswa juga belajar untuk mandiri dalam memecahkan problem dan memiliki keterampilan berpikir kritis, karena mereka harus menganalisis dan mengelola informasi.

Walaupun demikian, metode penemuan juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu:

1) Metode ini banyak menyita waktu. Juga tidak menjamin siswa tetap bersemangat menemukan.

2) Tidak setiap guru mempunyai selera atau kemampuan mengajar dengan cara penemuan. Kecuali itu tugas guru sekarang cukup sarat.

3) Tidak setiap anak mampu melakukan penemuan. Apabila bimbingan guru

tidak sesuai dengan kesiapan intelektualsiswa, ini dapat merusak struktur pengetahuannya. Juga bimbingan yang terlalu banyak dapat mematikan inisiatifnya.

4) Metode ini tidak dapat digunakan untuk mengajarkan tiap topik.

5) Kelas yang banyak muridnya akan sangat merepotkan guru dalam

memberikan bimbingan dan pengarahan belajar dengan metode penemuan. (Purwoto, 2003: 84)

c. Metode Ceramah

Cara mengajar yang paling tradisional dan telah lama digunakan dalam sejarah pendidikan adalah cara mengajar dengan metode ceramah. Roestiyah N. K. (2008: 137) menyatakan “Cara mengajar dengan ceramah

commit to user

dapat dikatakan juga sebagai teknik kuliah, merupakan suatu cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi, atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan”.

Karso dkk (1993: 54) mendefinisikan “Ceramah merupakan suatu cara penyampaian informasi dengan lisan dari seorang kepada sejumlah pendengar di suatu ruangan. Metode ceramah merupakan metode mengajar yang paling banyak dipakai, terutama untuk bidang studi noneksakta”.

Sama seperti metode penemuan, metode ceramah juga mempunyai keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dari metode ceramah adalah sebagai berikut.

1) Dapat menampung kelas yang besar, tiap murid mempunyai kesempatan yang sama untuk mendengarkan dan karenanya biaya yang diperlukan relatif lebih murah.

2) Bahan pelajaran atau keterangan dapat diberikan secara lebih urut oleh guru, konsep-konsep yang disajikan secara hierarki akan memberikan fasilitas belajar kepada siswa.

3) Guru dapat memberikan tekanan terhadap hal-hal yang penting, sehingga waktu dan energi dapat digunakan sebaik mungkin.

4) Isi silabus dapat diselesaikan dengan lebih mudah, karena guru tidak harus menyesuaikan dengan kecepatan belajar siswa.

5) Kekurangan alat tidak adanya buku pelajaran dan alat bantu pelajaran tidak menghambat dilaksanakannya pelajaran dengan ceramah.

Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah

1) Pelajaran berjalan membosankan dan murid menjadi pasif karena tidak berkesempatan untuk menemukan sendiri konsep yang diajarkan. Murid hanya aktif membuat catatan saja.

2) Kepadatan konsep-konsep yang diberikan dapat berakibat murid tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan.

3) Pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah lebih cepat terlupakan. 4) Ceramah menyebabkan belajar murid menjadi “belajar menghafal” yang

tidak menimbulkan pengertian.

(Purwoto, 2003: 67-68)

Dokumen terkait