BAB III METODOLOGI PENELITAN
D. Teknik Pengumpulan Data
3. Penyusunan Instrumen
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes untuk memperoleh data tentang prestasi belajar matematika dan angket motivasi belajar matematika siswa. Instrumen penelitian disusun berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat. Setelah instrumen penelitian selesai disusun, dilakukan uji validitas isi dan selanjutnya diujicobakan terlebih dahulu sebelum dikenakan pada sampel penelitian. Tujuan uji coba ini adalah untuk mengetahui apakah butir-butir instrumen yang telah disusun memenuhi syarat-syarat butir instrumen yang baik. Butir-butir instrumen yang digunakan dalam penelitian ini hanyalah butir-butir instrumen yang telah memenuhi syarat. Cara untuk mengetahui bahwa instrumen yang disusun memenuhi syarat-syarat tersebut adalah:
commit to user
a. Tes Prestasi Belajar Matematika1) UjiValiditas Isi
Menurut Budiyono (2003: 58), suatu instrumen valid menurut validitas isi apabila isi instrumen tersebut telah merupakan sampel yang representatif dari keseluruhan isi hal yang akan diukur. Pada kasus ini, validitas tidak dapat ditentukan dengan mengkorelasikannya dengan suatu kriteria sebab tes itu sendiri adalah kriteria dari suatu kinerja.
Budiyono menyarankan suatu langkah-langkah yang dapat dilakukan pembuat soal untuk mempertinggi validitas isi, yaitu:
a) Mengidentifikasi bahan-bahan yang telah diberikan beserta tujuan instruksionalnya.
b) Membuat kisi-kisi dari soal tes yang akan ditulis. c) Menyusun soal tes beserta kuncinya.
d) Menelaah soal tes sebelum dicetak.
Untuk menilai apakah instrumen tes mempunyai validitas isi yang tinggi atau tidak, biasanya dilakukan melalui penilaian yang dilakukan oleh para pakar. Dalam hal ini, para penilai menilai apakah kisi- kisi yang dibuat oleh pengembang tes telah menunjukkan bahwa klasifikasi kisi-kisi telah mewakili isi (substansi) yang akan diukur. Langkah berikutnya, para penilai menilai apakah masing-masing butir tes yang telah disusun cocok atau relevan dengan klasifikasi yang ditentukan. Pada cara ini, diberikan petunjuk kepada para penilai, bahwa apabila butir tes telah relevan dengan klasifikasi kisi-kisi yang ditentukan, maka dalam lembar penilaian diberi tanda cek (√) dan jika belum sesuai maka diberi tanda minus (-) untuk kemudian perlu diadakan perbaikan sebelum instrumen tes tersebut digunakan.
Supaya tes mempunyai validitas isi yang tinggi, harus diperhatikan hal-hal berikut.
a) Bahan ujian (tes) harus merupakan sampel yang representatif untuk mengukur sampai seberapa jauh tujuan pembelajaran tercapai ditinjau dari materi yang diajarkan maupun dari sudut proses belajar.
commit to user
b) Titik berat bahan yang harus diujikan harus seimbang dengan titik berat yang telah diajarkan.
c) Tidak ada pengetahuan lain yang tidak atau belum diajarkan untuk menjawab soal-soal ujian dengan benar.
2) Uji Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran butir soal ialah proporsi peserta tes menjawab benar terhadap butir soal tersebut.
Untuk menentukan tingkat kesukaran, digunakan rumus: =
Keterangan:
I = indeks kesulitan untuk setiap butir soal
B = banyaknya siswa yang menjawab benar setiap butir soal N = jumlah seluruh peserta tes
Kriteria yang digunakan adalah makin kecil indeks yang diperoleh, makin sulit soal tersebut. Kriteria indeks kesulitan soal itu adalah sebagai berikut
a) 0 – 0,30 = Soal kategori sukar b) 0,31 – 0,70 = Soal kategori sedang c) 0,71 – 1,00 = Soal kategori mudah
(Nana Sudjana, 2008: 137) Apabila indeks kesulitan butir soal mendekati nol atau mendekati satu, maka butir soal tersebut harus dibuang karena indeks kesulitan yang mendekati nol artinya butir soal tersebut terlalu sukar, sedangkan indeks kesulitan yang mendekati satu artinya butir soal tersebut terlalu mudah. Butir soal yang terlalu sukar atau terlalu mudah tidak memberikan informasi apa-apa sehingga tidak dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur oleh instrumen.
commit to user
3) Daya Beda
Daya beda butir soal ialah indeks yang menunjukkan tingkat kemampuan butir soal membedakan kelompok berprestasi (kelompok atas) dari kelompok yang berprestasi rendah (kelompok bawah) di antara para peserta tes. Daya beda suatu butir soal yang didasarkan pada hasil tes suatu kelompok belum tentu akan berlaku pada kelompok yang lain, apalagi bila tingkat kemampuan masing-masing kelompok peserta tes itu berbeda.
Langkah-langkah untuk mengkalkulasi daya beda adalah sebagai berikut.
a) Menyusun urutan peserta tes berdasarkan skor yang diperolehnya, mulai dari skor tertinggi sampai ke skor terendah.
b) Membagi peserta tes tersebut menjadi dua kelompok yang sama jumlahnya. Bila jumlah peserta tes ganjil, maka peserta yang di tengah-tengah tak usah dimasukkan ke dalam salah satu kelompok. Kelompok pertama dinamakan kelompok prestasi tinggi (kelompok atas) dan kelompok kedua dinamakan prestasi rendah (kelompok bawah). Bila jumlah peserta cukup besar (lebih dari 50 orang), maka diambil 27% dari kelompok atas dan 27% dari kelompok bawah. c) Menghitung jumlah kelompok atas yang menjawab benar terhadap
butir soal yang akan dikalkulasi daya bedanya. Demikian pula untuk kelompok bawah.
d) Mengkalkulasi proporsi peserta yang menjawab benar terhadap butir soal tersebut untuk masing-masing kelompok.
e) Menghitung indeks daya beda butir soal dengan cara mengurangi proporsi kelompok atas dengan proporsi kelompok bawah.
Langkah-langkah di atas dapat disusun ke dalam rumus daya beda sebagai berikut.
= −
0.5 Keterangan:
commit to user
= jumlah kelompok atas yang menjawab benar = jumlah kelompok bawah yang menjawab benar
T = jumlah peserta tes (bila jumlah peserta tes ganjil, maka T = jumlah peserta tes kurang satu)
Indeks atau koefisien daya beda berkisar antara +1,0 sampai dengan -1,0. Daya beda yang dianggap masih memadai untuk sebutir soal ialah apabila sama atau lebih besar dari +0,25. Bila lebih kecil dari itu, maka butir soal tersebut dianggap kurang mampu membedakan peserta tes yang mempersiapkan diri dalam menghadapi tes tersebut dari peserta tes yang tidak mempersiapkan diri. Bahkan bila daya beda itu negatif, maka butir soal itu sama sekali tidak dapat dipakai sebagai alat ukur prestasi belajar siswa. Makin tinggi daya beda suatu butir soal, maka makin baik butir soal tersebut.
(Asmawi Zainul dan Noehi Nasoetion, 1995: 161-163) 4) Berfungsiatau Tidaknya Pengecoh
Untuk menentukan berfungsi atau tidaknya pengecoh, diadakan analisis butir soal. Untuk keperluan analisis ini, lembar jawaban peserta ujian yang termasuk kelompok atas dan kelompok bawah yang dijadikan sumber informasi. Apabila ada satu atau lebih pengecoh yang tidak dipilih oleh peserta tes, maka butir soal tersebut harus diperbaiki, terutama pengecoh yang tidak berfungsi. Demikian juga apabila pilihan jawaban benar banyak dipilih oleh kelompok bawah sedangkan kelompok atas banyak yang memilih pengecoh, butir soal tersebut harus diperbaiki. 5) Uji Reliabilitas
Budiyono (2003: 65) menyatakan bahwa “Kata reliabel sering disebut dengan nama lain, misalnya terpercaya, terandalkan, ajeg, stabil, konsisten, dan lain sebagainya”. Menurutnya, suatu instrumen dikatakan reliabel jika hasil pengukuran dari suatu instrumen tersebut adalah sama jika sekiranya pengukuran tersebut dilakukan pada orang yang sama pada waktu yang berlainan atau pada orang yang berlainan (tetapi dalam kondisi yang sama) pada waktu yang sama atau pada waktu yang berlainan.
commit to user
Sedangkan Ngalim Purwanto (2008: 137) menyatakan “Keandalan adalah kualitas yang menunjukkan kemantapan ekuivalensi atau stabilitas suatu pengukuran yang dilakukan”.
Untuk menguji reliabilitas instrumen tes prestasi belajar matematika, digunakan rumus dari Kuder Richardson, yang biasanya disebut dengan rumus KR-20, sebagai berikut.
2 2 11 1 t i i t s q p s n n r Dengan:= indeks reliabilitas instrumen n = banyaknya butir instrumen
pi = proporsi banyaknya subyek yang menjawab benar pada butir ke-i
qi = 1 - pi
st2 = variansi total
Dalam penelitian ini, suatu instrumen dikatakan reliabel jika r11 ≥ 0,70.
(Budiyono, 2003: 69)
b. Angket Motivasi Belajar Matematika Siswa
1) Uji Validitas Isi
Menurut Budiyono (2003: 58), suatu instrumen valid menurut validitas isi apabila isi instrumen tersebut telah merupakan sampel yang representatif dari keseluruhan isi hal yang akan diukur.
Untuk menilai apakah angket mempunyai validitas isi yang tinggi atau tidak, biasanya dilakukan melalui penilaian yang dilakukan oleh para pakar. Dalam hal ini, para penilai menilai apakah kisi-kisi yang dibuat oleh pengembang angket telah menunjukkan bahwa klasifikasi kisi-kisi telah mewakili isi (substansi) yang akan diukur. Langkah berikutnya, para penilai menilai apakah masing-masing butir angket yang telah disusun cocok atau relevan dengan klasifikasi yang ditentukan. Pada cara ini, diberikan petunjuk kepada para penilai, bahwa apabila butir angket telah relevan dengan klasifikasi kisi-kisi yang ditentukan, maka dalam lembar penilaian diberi tanda cek (√) dan jika belum sesuai maka diberi tanda
commit to user
minus (-) untuk kemudian perlu diadakan perbaikan sebelum angket tersebut digunakan.
2) Uji Konsistensi Internal
Budiyono (2003: 65) mengemukakan bahwa “Sebuah instrumen tentu terdiri dari sejumlah butir-butir instrumen. Kesemua butir itu harus mengukur hal yang sama dan menunjukkan kecenderungan yang sama pula. Ini berarti harus ada korelasi positif antara skor masing-masing butir tersebut”. Korelasi internal masing-masing butir dilihat dari korelasi antara skor butir-butir tersebut dengan total skornya. Rumus yang dipakai adalah korelasi moment product Karl Pearson sebagai berikut.
} ) ( }{ ) ( {n X2 X 2 n Y2 Y 2 Y X XY n rxy Keterangan:rxy = indeks konsistensi internal untuk butir ke-i
n = cacah subjek yang dikenai tes (instrumen) X = skor butir ke-i; I = 1, 2, …, m
Y = skor total (dari subjek uji coba)
Butir soal yang dipakai adalah butir soal dengan rxy≥ 0,3.
(Budiyono, 2003: 65) 3) UjiReliabilitas
Budiyono (2003: 65) menyatakan bahwa “Kata reliabel sering disebut dengan nama lain, misalnya terpercaya, terandalkan, ajeg, stabil, konsisten, dan lain sebagainya”. Menurutnya, suatu instrumen dikatakan reliabel jika hasil pengukuran dari suatu instrumen tersebut adalah sama jika sekiranya pengukuran tersebut dilakukan pada orang yang sama pada waktu yang berlainan atau pada orang yang berlainan (tetapi dalam kondisi yang sama) pada waktu yang sama atau pada waktu yang berlainan. Sedangkan Ngalim Purwanto (2008: 137) menyatakan “Keandalan adalah kualitas yang menunjukkan kemantapan ekuivalensi atau stabilitas suatu pengukuran yang dilakukan”.
commit to user
Untuk menguji reliabilitas angket motivasi belajar matematika, digunakan teknik Alpha sebagai berikut.
2 2 11 1 1 t i s s n n r Dengan:= indeks reliabilitas instrumen n = banyaknya butir instrumen
si2 = variansi belahan ke-i, i = 1, 2, …, k (k≤n)
atau variansi butir ke-i, i = 1, 2, 3, 4, ...,n
st2 = variansi skor-skor yang diperoleh subjek uji coba
Dalam penelitian ini, suatu instrumen dikatakan reliabel jika r11≥ 0,70.
(Budiyono, 2003: 70)