• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.8 Metode – Metode Penyusutan Aktiva Tetap

Berbagai metode pengalokasian harga perolehan aktiva dapat digunakan oleh perusahaan berdasarkan pertimbangan dari pihak manajemen perusahaan sendiri. Metode apapun yang dipilih oleh perusahaan harus dapat diterapkan secara konsisten dari periode ke periode. Metode penyusutan yang digunakan mencerminkan pola pemakaian manfaat ekonomik masa depan aset yang diharapkan oleh entitas.

Berbagai metode penyusutan dapat digunakan untuk mengalokasikan jumlah tersusutkan dari aset secara sistematis selama umur manfaatnya. Ada beberapa metode yang berbeda untuk menghitung besarnya beban penyusutan. Dalam praktek, kebanyakan perusahaan akan memilih satu metode penyusutan dan akan menggunakannya untuk seluruh aktiva yang dimilikinya. Beberapa metode tersebut yaitu (Hery, 2016):

a. Berdasarkan Waktu

1. Metode garis lurus (straight line method)

Model metode garis lurus cukup sederhana. Metode ini menghubungkan alokasi biaya dengan berlalunya waktu dan mengakui pembebanan periodik yang sama sepanjang umur aktiva. Asumsi yang mendasari metode garis lurus ini adalah bahwa aktiva yang bersangkutan akan memberikan manfaat yang sama untuk setiap periodenya sepanjang umur aktiva, dan pembebanannya tidak dipengaruhi oleh perubahan produktivitas. Selisih antara harga perolehan aktiva dengan nilai residunya dibagi dengan masa manfaat aktiva akan menghasilkan beban penyusutan periodik (Hery, 2016). Menggunakan metode garis lurus, perhitungan besarnya beban penyusutan periodik dapat dihitung sebagai berikut:

Rumus = Harga perolehan – Estimasi Nilai Residu Estimasi Masa Manfaat

Gambar 2. 1 Rumus Perhitungan Biaya Depresiasi dengan Metode Garis Lurus

Sumber: Hery (2016)

Menurut Mulya (2013), metode penyusutan garis lurus ini, juga seringkali dinyatakan dalam bentuk persentase. Persentase ini ditentukan dengan membagi 100% dengan lamanya umur manfaat, tetapi secara formulasi, metode penyusutan garis lurus dapat diformulasikan seperti di atas. Jika suatu aktiva ditaksir tidak mempunyai nilai residu, maka nilai penyusutan cukup dihitung dengan membagikan taksiran umur dari harga perolehan aktivanya. Metode penyusutan garis lurus ini lebih cocok digunakan untuk aktiva tetap yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi.

18

Kelemahannya, tidak menghubungkan fluktuasi produktivitas aktiva tetap dengan alokasi biaya penyusutannya secar periodik.

2. Metode pembebanan yang menurun (dipercepat) a) Metode jumlah angka tahun

Metode ini menghasilkan beban penyusutan yang menurun dalam setiap tahun berikutnya. Perhitungannya dilakukan dengan mengalikan suatu seri pecahan ke nilai perolehan aktiva yang dapat disusutkan. Besarnya nilai perolehan aktiva yang dapat disusutkan adalah selisih antara harga perolehan aktiva dengan estimasi nilai residunya. Pecahan yang dimaksud didasarkan pada masa manfaat aktiva bersangkutan. Unsur pembilang dari pecahan ini merupakan angka tahun yang diurutkan secara berlawanan (dengan kata lain mencerminkan banyaknya tahun dari umur ekonomis yang masih tersisa pada awal tahun bersangkutan). Unsur penyebut dari pecahan diperoleh dengan dengan cara menjumlahkan seluruh angka tahun dari umur ekonomis aktiva, atau dapat juga dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

n (n + 1) 2

Gambar 2. 2 Rumus Pecahan Perhitungan Biaya Depresiasi dengan Metode Jumlah Angka Tahun

Sumber: Hery (2016)

Karakteristiknya dapat dilihat dalam hasil perhitungannya yang menunjukkan nilai penyusutan yang jauh lebih besar pada tahun - tahun pertama periode penyusutan dan angkanya menurun sejalan dengan umur aktiva. Asumsinya, aktiva tetap yang baru dianggap lebih produktif sehingga layak dibebani penyusutan yang lebih besar. Biaya penyusutan dengan metode jumlah angka tahun dapat dihitung dengan menggunakan formula:

Beban penyusutan= Dasar penyusutan x Faktor jumlah Angka tahun

Gambar 2. 3 Rumus Perhitungan Biaya Depresiasi dengan Metode Jumlah Angka Tahun

Sumber: Samryn (2016)

Keterangan: Dasar penyusutan dapat berupa harga perolehan setelah dikurangi estimasi nilai residu.

b) Metode saldo menurun

Metode ini menghasilkan suatu beban penyusutan periodik yang menurun selama estimasi umur ekonomis aktiva. Jadi, metode ini pada hakekatnya sama dengan metode jumlah angka tahun dimana besarnya beban penyusutan akan menurun setiap tahunnya. Beban penyusutan periodik dihitung dengan cara mengalikan suatu tarif persentase ke nilai buku aktiva yang kian menurun. Besarnya tarif penyusutan yang umum dipakai adalah dua kali tarif penyusutan garis lurus, sehingga dinamakan sebagai metode saldo menurun ganda. Dengan metode saldo menurun ganda, besarnya estimasi nilai residu tidak digunakan dalam perhitungan, dan penyusutannya tidak akan dilanjutkan apabila nilai buku aktiva telah sama atau mendekati estimasi nilai residunya. Besarnya penyusutan untuk tahun terakhir dari umur ekonomis aktiva harus disesuaikan agar supaya nilai buku di akhir masa manfaat akiva tetap tersebut mencerminkan besarnya estimasi nilai residu.

b. Berdasarkan penggunaan: 1. Metode unit produksi

Metode ini umumnya digunakan apabila umur manfaat aktiva tetap bergantung kepada tingkat pemakaiannya. Metode ini paling cocok digunakan jika tingkat pemakaiannya sangat bervariasi dari tahun ke tahun. Oleh sebab

20

itu, metode unit produksi akan menghasilkan jumlah beban penyusutan yang sama dengan bagi setiap unit yang diproduksi untuk menerapkan metode ini, umur manfaat aktiva diekspresikan dalam istilah unit kapasitas produksi seperti jam (Mulya, 2013). Dengan metode satuan unit ini, besarnya beban penyusutan dapat dihitung dengan formula sebagai berikut (Pulungan, dkk 2013):

Depresiasi unit produksi = Biaya perolehan – Nilai sisa Total Estimasi Unit Produksi

Biaya Depresiasi = Unit produksi x Depresiasi per unit produksi

Gambar 2. 4 Rumus Perhitungan Biaya Depresiasi dengan Metode Unit Produksi

Sumber: Pulungan, dkk (2013)

Metode penyusutan ini lebih realistis karena lebih menggambarkan korelatif antara input dan output penggunaan aktiva tetap. Ketika aktiva menghasilkan banyak output, maka pada periode itu akan dibebani biaya penyusutan yang lebih besar. Pada periode lain dimana volume output lebih kecil, maka periode tersebut akan dibebani biaya penyusutan yang juga relatif lebih kecil.

2. Metode Jam Jasa

Perhitungan besarnya beban penyusutan dalam metode ini membutuhkan estimasi umur aktiva berupa jumlah jam jasa yang dapat diberikan oleh aktiva bersangkutan. Harga perolehan yang dapat disusutkan (harga perolehan dikurangi dengan estimasi nilai residu) dibagi dengan estimasi total jam jasa, menghasilkan besarnya tarif penyusutan untuk setiap jam pemakaian aktiva. Pemakaian aktiva sepanjang periode (jumlah jam jasanya) dikalikan dengan tarif penyusutan tersebut akan menghasilkan besarnya beban penyusutan

periodik. Besarnya beban penyusutan ini akan berfluktuasi setiap periodenya tergantung pada jumlah konstribusi jam jasa yang diberikan oleh aktiva bersangkutan.

22

Dokumen terkait