• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAKHRIJ HADITS TALAK TIGA SEKALIGUS

A. Studi Takhrij 1. Definisi Takhrij

5. Metode-metode Takhrij dan Kitab-kitab Penunjangnya

Jika kita mendapatkan sebuah hadits dan ingin men-takhrij-nya, mengetahui keberadaannya pada sumbernya yang asli, atau jika kita diminta men-takhrij sebuah hadits, maka pertama kai yang kita lakukan – sebelum mencarinya pada kitab-kitab adalah memperhatikan status hadits yang kita jumpai atau hadits yang kita diminta men-takhrij-nya, dengan jalan memperhatikan orang-yang meriwayatkannya – jika disebutkan dalam hadits – atau memperhatikan judulnya, atau memperhatikan sifat spesifik yang dikandung hadits tersebut pada sanadnya, atau pada matannya. Yang demikian untuk memudahkan kita mendapatkan takhrij-nya.

Menurut Al Thahhan (1983:38-41), metode-metode takhrij tidak lebih dari lima hal, yaitu:

a. Takhrij dengan jalan mengetahui sahabat perawi hadits.

Metode ini digunakan ketika nama sahabat tersebut disebut pada sebuah hadits yang hendak ditakhrij. Jika nama sahabat tidak disebut pada hadits dan tidak mungkin mengetahuinya, metode ini tidak dapat digunakan. Jika nama sahabat disebut pada hadits, atau kita mengetahuinya dengan jalan tertentu, lalu kita tetapkan

langkah-20

langkah mentakhrijnya setelah mengetahui sahabat-perawinya. Untuk hal ini kita memerlukan tiga macam kitab:

1) Al-Masanid (musnad-musnad)

Musnad ialah kitab-kitab hadits yang disusun para pengarangnya bersandar pada nama-nama sahabat. Mereka menghimpun hadits-hadits tiap sahabat secara kritis.

Musnad-musnad yang disusun para ahli hadits cukup banyak, lebih dari seratus. Dalam “Ar-Risalah al-Mutatharrifah” Al-Kattany menyebut 82 musnad. Kemudian beliau berkata:

ُدْيِناَسَمْلا َو

ُهاَنرَكَذ اَم ى َوِس ٌة َرْيِثَك

“Dan musnad-musnad itu banyak selain yang kami sebutkan”. Para ahli hadits, musnad diklasifikasikan kitab yang tersusun berdasarkan bab atau huruf, bukan berdasarkan sahabat.

Berikut nama-nama sebagian musnad: a) Musnad Ahmad bin Hanbal (-241 H)

b) Musnad Abu Bakar Abdullah bin Zubair al-Humaidi(219 H) c) Musnad Abu Daud Sulaiman bin Daud at-Thayalisy(-204 H) d) Musnad Asad bin Musa al-Umawi (-212 H)

e) Musnad Musaddad bin Musarhad al-Asady al-Bashri (-228 H) f) Musnad Nu’aim bin Hammad

g) Musnad Ubaidillah bin Musa al-Absy h) Musnad Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb

21

i) Musnad Abu Ya’la Ahmad bin ali al-Matsna al-Mushili (-307 H)

j) Musnad ‘Abd Ibnu Humaid (-249) 2) Al-Ma’ajim(mu’jam-mu’jam)

Al-Ma’ajim bentuk jamak dari Al-Mu’jam. Menurut istilah ahli hadits mu’jam ialah kitab yang padanya disusun hadits-hadits berdasarkan musnad-musnad sahabat, guru-guru, negeri dan seterusnya.

Biasanya, penyusunan nama-nama tersebut berdasarkan huruf-huruf ensiklopedis.

Dari sejumlah kitab ensiklopedia (mu’jam) yang paling terkenal adalah:

a) Al-Mu’jam Al-Kabir karangan Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad At-Thabarany (-360 H).

b) Al-Mu’jam Al-Ausath karangan Abu al-Qasim juga. c) Al-Mu’jam Ash-Shaghir karangan Abu al-Qasim juga.

d) Mu’jam Ash-Shahabah karangan Ahmad bin Ali al-Hamadani (-394 H)

e) Mu’jam Ash-Shahabah karangan Abu Ya’la Ahmad bin Ali al -Mushili (-307)

22 3) Kitab-kitab Al-Athraf

Kata al-Athraf bentuk jamak dari al-Tharf . Tharaf al-hadits artinya bagian dari matan al-hadits yang menunjukkan kata-kata berikutnya. Seperti hadits “ عاَر ْمُكُّلُك“ dan lain sebagainya.

Kitab al-Athraf merupakan salah satu rumpun (jenis) kitab hadits dimana penyusunnya membatasi diri hanya menyebut permulaan bunyi hadits yang mengindikasikan bunyi selanjutnya. Ia menyebut sanad-sanadnya yang ada pada matan dimaksud; adakalanya dikaitkan dengan kitab-kitab khusus. Sebagian penyusun menyebut sanad-sanad matan tersebut secara lengkap, sebagian lagi menyederhanakan menyebut guru penyusun saja.

Kitab al-Athraf banyak jumlahnya. Yang paling terkenal adalah:

a) Athraf Ash-Shahihain (نيحيحصلا فارطا), karangan Abu Mas’ud Ibrahim bin Muhammad Ad-Dimasyqy, wafat 401 H.

b) Athraf Ash-Shahihain (نيحيحصلا فارطا) karangan Abu Muhammad Khalaf bin Muhammad al-Wasithy, wafat 401 H. c) Al-Asyrof ‘Ala Ma’rifat al-Athraf (فارطلْا ةفرعم ىلع فرشلْا)

atau Athraf As-Sunnah – yang empat karangan al-hafidz Abu Qasim Ali bin Hasan yang terkenal dengan nama Ibnu Asaakir Ad-Dimasyqy, wafat 571 H.

23

d) Tuhfat al-Asyraf Bi Ma’rifat al-Athraf ( ةفرعمب فارشلْا ةفحت فارطلْا) atau Athraf al-Kutub as-Sittah karangan Abu al-Hajaj Yusuf Abdur Rahman al-Mizzy, wafat 742 H.

e) Ittihaf al-Maharah Bi Athraf al-‘Asyarah ( فارطأب ةرهملا فاحتا ةرشعلا) karangan Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalany, wafat 852 H.

f) Athraf al-Masanid al-‘Asyarah (ةرشعلا ديناسملا فارطا) karangan al-Abbas Ahmad bin Muhammad al-Bushairy, wafat 840 H. g) Dzkhair al-Mawaarits Fi Ad-Dilalat ‘Ala Mawadhi’i al-Hadits

(ثيدحلا عضاوم ىلع ةللادلا ىف ثيراوملا رئاخذ) karangan Abdul Ghany Al-Nabulsy, wafat 1142 H.

b. Takhrij dengan jalan mengetahui lafadz pertama dari matan hadits. Metode ini digunakan ketika kita akan memperkuat pengetahuan akan kata-kata pertama matan hadits, karena tanpa hal ini kita kehilangan banyak waktu.

Untuk menggunakan metode ini kita memerlukan tiga jenis kitab penunjang, yaitu:

1) Kitab-kitab yang khusus memuat hadits-hadits yang terkenal dan beredar luas dari mulut ke mulut.

Yang dimaksud dengan hadits-hadits yang popular dari mulut ke mulut adalah pembicaraan yang banyak beredar di masyarakat dan mereka saling mengutipnya yang dinisbatkan kepada Nabi. Sebagian hadits ini shahih, dan sebagiannya lagi

24

hasan. Tetapi yang terbanyak adalah dha’if, maudhu’ (palsu) atau yang tidak mempunyai sumber sama sekali.

Tersebarnya hadits-hadits dha’if atau maudhu’

dikalangan awam umat Islam akan merusak agama mereka, karena mereka yakin hal itu diriwayatkan dari Nabi mereka. Berikutnya perbuatan mereka sesuai dengan tuntunan hadits palsu tersebut, dan mereka mengira hadits-hadits selainnya tidak benar. Karena itu, banyak ulama spesialis hadits pada abad-abad berikutnya mengarang sejumlah kitab yang didalamnya mereka kumpulkan hadits-hadits popular yang beredar dari mulut ke mulut pada masa itu. Mereka menjelaskan mana yang shahih dan mana yang tidak shahih. Mereka jelaskan orang yang meriwayatkannya dan kitab yang men-takhrij-nya jika hadits-hadits itu mempunyai asal (sumber). Hal demikian untuk mengingatkan banyak orang awam umat Islam agar berhati-hati dalam mengamalkan hadits-hadits dha’if atau hadits palsu, dan menjelaskan hal itu dusta atau tidak bersumber jika kenyataannya – setelah diselidiki dengan cermat – memang demikian.

Kata “popular” )ةرهشلا( dalam hal ini berbeda artinya dengan kata “Masyhur” istilah hadits yang berarti suatu hadits diriwayatkan dari tiga jalan atau lebih.

Adapun kitab-kitab yang memuat hadits-hadits yang terkenal dari mulut ke mulut cukup banyak, yang popular adalah:

25

a) At-Tadzkirah Fi al-Ahadits al-Musytahirah karangan Badruddin Muhammad bin Abdullah Zarkasyi.

b) Ad-Durar al-Muntatsirah Fi al-Ahadits al-Musytahirah karangan Jamaluddin Abdul Rahman Al-Suyuthi (-911 H). c) Al-Lai al-Mantsurah Fi al-Ahadits al-Musytahirah karangan

Ibnu Hajar (852 H).

d) Al-Maqashid al-Hasanah Fi Bayani Katsirin Min al-Ahadits al-Musytahirati ‘Ala al-Alsinah karangan Muhammad bin Abdur Rahman as-Sakhawi (-902 H).

e) Tamyiz at-Thayyib Min al-Khabits Fi Ma Yaduru ‘Ala

Alsinati an-Nas Min al-Ahadits karangan Abdur Rahman bin Ali bin Diba’ Asy-Syaibai (-944 H).

f) Al-Badr al-Munir Fi Gharib Ahadits al-Basyir a-Nadzir karangan Abdul Wahab bin Ahmad Asy-Sya’rani (-973 H). g) Tashil as-Sabil Ila Kasyf al-Iltibas ‘Amma Dar Min al

-Ahadits Baina an-Nas karangan Muhammad bin Ahmad al-Khalili (1057 H)

h) Itqan Ma Yahsunu Min al-Ahadits ad-Dairi ‘Ala al-Alsun karangan Najmuddin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (-985 H)

i) Kasyf al-Khafai Wa Muzil al-Ilbas ‘Amma Isytahara Min

al-Ahadits ‘Ala Alsinah al-Nas karangan Ismail bin Muhammad al-‘Ajluiy (-1162 H).

26

j) Asna al-Mathalib Fi Ahadits Mukhtalifah al-Maratib karangan Muhammad bin Darwisy, terkenal dengan nama al-Hut al-Bairuti (-1276 H).

2) Kitab-kitab yang memuat hadits-hadits yang tersusun berdasar urutan huruf mu’jam (ensiklopedis).

Diantara kitab-kitab yang memuat hadits-hadits yang tersusun berdasar urutan huruf mu’jam adalah kitab al-Jami’ ash -Shaghir Min Hadits al-Basyir a-Nadzir, disusun oleh Jalaluddin Abdur Rahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (-911 H).

3) Kunci-kunci dan daftar isi yang disususn oleh para ulama untuk kitab-kitab tertentu.

Sebagian ulama mutaakhirin sudah mengarang “kunci atau daftar isi” untuk kitab-kitab tertentu. Mereka susun hadits-hadits pada kitab-kitab tersebut berdasar huruf ensiklopedi. Hal demikian untuk memudahkan para perujuk kitab-kitab tersebut, dan menghemat waktu untuk menemukan hadits yang mereka inginkan. Diantara sejumlah kitab kunci dan daftar isi adalah:

a) Miftah Ash-Shahihain karangan Muhammad Syarif bin Mushthafa at-Tauqady, selesai disusun tahun 1312 H.

b) Miftah at-Tartib Li Ahadits Tarikh al-Khathib karangan Sayid Ahmad bin Sayid Muhammad bin Sayid Shiddiq al-Ghumary al-Maghribi.

27

c) Al-Bughyah Fi Tartib Ahadits al-Hilyah karangan Sayid Abdul Aziz bin Sayid Muhammad bin Sayid Shiddiq al-Ghumary.

d) Fahras Litartib Ahadits Shahih Muslim al-Qauliyah karangan Muhammad Fuad Abdul Baqi.

e) Miftah Li Ahadits Muwatha’ Malik karangan Muhammad Fuad Abdul Baqi.

f) Fahras Litartib Ahadits Sunan Ibnu Majah karangan Muhammad Fuad Abdul Baqi.

c. Takhrij dengan jalan mengetahui kata-kata yang jarang digunakan dari suatu bagian matan hadits.

Dalam metode ini diperlukan kitab penunjang, yaitu kitab

al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfadh al-Hadits an-Nabawi. Kitab ini merupakan kamus daftar isi lafadz-lafadz hadits Nabi yang terdapat pada Sembilan referensi dari sejumlah referensi terkenal kitab-kitab as-Sunnah.

Kamus ini disusun oleh sejumlah orientalis dan didistribusikan oleh salah seorang dari mereka bernama DR.A.J. Weinsck (-1939 M) guru besar Bahasa Arab di Universitas Leiden. Dicetak oleh percetakan Brill, Leiden, Belanda. Ikut terlibat mentakhrijnya adalah Muhammad Fuad Abdul Baqi. Proyek besar ini dapat terealisir berkat bantuan dari Komunitas Ilmiah Inggris, Denmark, Swedia, Belanda, Unesco, Alez F.S, dan Pergerakan Belanda untuk pembahasan ilmu murni dan PBB

28

bidang perkumpulan ilmiah. Kamus ini terdiri tujuh jilid. Yang pertama dicetak pada tahun1936 M, dan jilid terakhir –jilid ke tujuh – pada tahun 1969 M. proses pencetakannya memakan waktu 33 tahun. d. Takhrij dengan jalan mengetahui topik hadits.

Metode ini digunakan oleh orang yang memiliki ketajaman ilmu yang memungkinkannya menemukan topik hadits, atau menentukan letakya jika hadits tersebut mempunyai lebih luas dan banyak bergelut dan mengamati kitab-kitab hadits.

Dalam mentakhrij hadits dengan menggunakan metode ini diperlukan kitab-kitab hadits penunjang yang tersusun berdasarkan bab-bab dan topik-topik. Kitab jenis ini banyak sekali, dan diklasifikasikan menjadi tiga bagian sebagai berikut:

a. Kitab-kitab yang bab dan topiknya mencakup semua bab agama. Kitab ini beraneka ragam, yang paling terkenal adalah:

Al-Jawami’, al-Mustakhrajat wa al-Mustadrakat ‘Ala al-Jawami’,

al-Majami’, az-Zawaid, Miftah Kunuz as-Sunnah.

b. Kitab-kitab yang bab dan topiknya umumnya berkenaan dengan hal ihwal agama. Kitab ini beberapa macam, yang paling terkenal adalah: as-Sunan, al-Mushannafat, al-Muwaththa’at, al-Mustakhrajat ‘Ala as-Sunan.

c. Kitab-kitab khusus yang menyangkut bab-bab agama atau salah satu aspeknya. Jeis kitab-kitab ini banyak sekali, yang paling terkenal ialah: al-Ajza’, at-Targhib wa at-Tarhib, az-Zuhdu wa

al-29

Fadhail wa al-Akhlaq, al-Ahkam, Maudhu’at khashshah, Kutub al-Funun al-Ukhra, Kutub at-Takhrij, asy-Syuruh al-Haditsiyah wa at-Ta’liqat ‘alaiha.

e. Takhrij dengan jalan memperhatikan keadaan matan dan sanad hadits. Maksud metode ini adalah memperhatikan hal ihwal hadits dan sifat-sifatnya yang terdapat pada matan hadits itu atau sanadnya. Lalu mencari makhroj (sumber takhrij) hadits itu dengan jalan mengetahui keadaan itu atau sifat itu pada matan atau sanad.

1) Matan

Jika pada matan hadits terdapat gejala-gejala palsu, adakalanya dari segi kerancuan lafadz, rusaknya arti, bertentangan dengan nash al-Qur’an atau dari segi lainnya, maka cara yang paling singkat untuk mengetahui makhrojnya adalah melihat kitab-kitab al-Maudhu’at, akan ditemukan takhrijnya, komentar atasnya dan pemalsunya sekaligus.

Kitab-kitab al-Maudhu’at ada yang tersusun berdasar huruf dan ada yang berdasar bab-bab. Diantara yang tersusun berdasar huruf ialah: al-Mashnu’ Fi Ma’rifat al-Hadits

al-Maudhu’, yang disebut al-Maudhu’at ash-Shughra karangan Syekh Ali al-Qadri al-Harawi (-1014 H). dan diantara kitab yang tersusun berdasar bab ialah kitab Tanzih asy-Syari’at al-Marfu’ah ‘An Ahadits asy-Syani’ah al-Maudhu’ah karangan Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Iroq al-Kinay (-963 H)

30

Jika hadits itu hadits qudsy, maka sumber tercepat untuk mencarinya adalah kitab-kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits qudsy. Kitab-kitab ini terkadang menyebut hadits-hadits dan menyebut pentakhrijnya. Antara lain sebagai berikut: Misykat

al-Anwar Fi Ma Ruwiya ‘An Allah SWT Min al-Akhbar karangan Muhyiddin Muhammad bin Ali bin ‘Arabi al-Hatimy al-Andalusy (-638 H), al-Ittihaf as-Saniyah Bi al-Ahadits al-Qudsiyah karangan Syekh Abdur Ra’uf al-Manawi (-1031 H).

2) Sanad

Jika pada sanad terdapat salah satu isyarat sanad, seperti: a) Terdapat ayah yang meriwayatkan hadits dari putranya, maka

sumber tercepat untuk mentakhrijnya adalah kitab-kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits yang diriwayatkan bapak dari anak-anaknya, seperti kitab Riwayat al-Aaba ‘An al

-Abnaa’ karangan Abu Bakr Ahmad bin Ali Khathib al-Baghdadi (-463 H).

b) Jika isnad itu berangkai, diperlukan kitab-kitab yabg menghimpun hadits-hadits yang berangkai, seperti kitab al-Musalsalat al-Kubra karangan as-Suyuthi, kitab al-Manahil as-Silsilah karangan Muhammad bin Abdul Baqi al-Ayyubi (-1364 H).

c) Jika sanad itu mursal, maka diperlukan kitab-kitab al-Marosil, seperti kitab al-Marasil karangan Abu Daud

as-31

Sajistany, kitab al-Marasil karangan Ibnu Abi Hatim Abdur Rahman bin Muhammad al-Handhaly al-Razy (-327 H). atau terdapat perawi yang dha’if pada sanad, dapat dicari pada kitab ad-Dhu’afa wa al-Mutakallamu Fihim, seperti kitab Mizan al-I’tidal karangan Dzahabi.

3) Matan dan Sanad sekaligus

Ada sifat dan hal ihwal yang terjadi terkadang pada matan, terkadang pada sanad. Yang demikian seperti ‘illat dan ibham. Jika dijumpai hadits seperti ini hendaknya dicari pada kitab-kitab yang dikhususkan para ulama untuk membicarakan masalah ini. Diantara kitab-kitab jenis ini adalah:

1) ‘Ilal al-Hadits karangan Ibnu Abi Hatim al-Razy.

2) Al-Asmaa’ al-Mubhamah Fi al-Anbaa’ al-Muhkamah karangan Khathib al-Baghdadi.

3) Al-Mustafad Min Mubhamat al-Matn Wa al-Isnad karangan Abu Za’rah Ahmad bin Abdur Rahim al-‘Iraqi (-862 H).

Dokumen terkait