• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PELAKSANAAN PROGRAM A. Metode Intervensi Sosial

Mark Twain

METODE PELAKSANAAN PROGRAM A. Metode Intervensi Sosial

Intervensi sosial adalah perubahan yang dilakukan oleh pelaku perubahan terhadap berbagai sasaran perubahan yang terdiri dari individu, keluarga, dan kelompok kecil (level mikro), komunitas dan organisasi (level mezzo), dan kelompok masyarakat yang lebih luas baik di tingkat kabupaten atau kota, provinsi, negara, maupun tingkat global (level makro)1.

Perubahan yang terencana tentunya akan memberikan suatu perubahan yang dapat dievaluasi serta diukur keberhasilannya. Selain sebagai metode perubahan terencana, intervensi sosial dapat digunakan untuk memperbaiki keberfungsian sosial dari kelompok sasaran perubahan dalam hal ini adalah individu, keluarga, maupun kelompok. Keberfungsian sosial menunjuk pada kondisi di mana seseorang dapat berperan sebagaimana seharusnya sesuai dengan harapan lingkungan yang dimilikinya. 2

Tujuan utama yang ingin dicapai melalui intervensi adalah membantu klien (individu, kelompok, atau masyarakat yang menjadi sasaran perubahan) mengalami perubahan yang diinginkan3, serta dapat memperbaiki fungsi sosial yang merupakan sasaran perubahan ketika fungsi sosial berfungsi dengan baik, maka dapat diasumsikan bahwa kondisi sejahtera akan semakin mudah dicapai. Kondisi sejahtera dapat terwujud apabila jarak antara harapan dan kenyataan tidak terlalu lebar. Melalui intervensi sosial, hambatan sosial yang dihadapi kelompok sasaran perubahan akan diatasi. Dengan kata lain, intervensi sosial berupaya memperkecil jarak antara harapan dan lingkungan dengan kondisi realita sasaran perubahan.

1 Isbandi Rukminto Adi, Intervensi Pengembangan Masyarakat Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2008), h.49.

2 Isbandi Rukminto Adi, Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial: Pengantar Pada Pengertian dan Beberapa Pokok Bahasan (Jakarta: FISIP UI Press, 2005), h. 152.

3Epivania Yovita Ere Wangge. “Peran Pekerja Sosial dalam Meningkatkan Kondisi Agen pada Golden Eagle Agency yang Tidak Produktif di PT Commonwealth Life: Studi Kasus di PT Commonwealth Life Jakarta Selatan”. Insani nomor 13, 2 Desember 2013, h. 56.

16 | Sianida Beraksi: Banyuwangi Lebih Beredukasi

Ketika melaksanakan kegiatan KKN-PpMM di Desa Banyuwangi, kelompok Sianida melakukan beberapa tahapan metode intervensi yang antara lain:

1. Tahapan pertama, yaitu fase persiapan. Dalam tahap ini kami mempelajari dokumen-dokumen terkait keadaan Desa Banyuwangi. Dokumen-dokumen tersebut berupa laporan pembangunan, profil daerah setempat, laporan-laporan program pengembangan masyarakat yang pernah dilakukan di Desa Banyuwangi sebelumnya.

2. Tahapan kedua, yaitu pengumpulan data. Dalam tahap ini kami melakukan survei lokasi dan menanyakan kepada pejabat desa setempat terkait keadaan Desa Banyuwangi sehingga kami mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada di desa tersebut dengan didukung adanya data yang telah kami dapatkan pada tahap persiapan sebelumnya. 3. Tahapan ketiga, yaitu tahap perencanaan dan analisis. Pada tahapan ini

kami merencanakan program apa saja yang akan kami laksanakan selama satu bulan di Desa Banyuwangi dan kami menganalisis setiap program yang kami canangkan apakah sesuai dengan kebutuhan masyarakat Desa Banyuwangi atau tidak sesuai.

4. Tahap keempat, yaitu pelaksanaan. Pada tahap ini kami melaksanakan kegiatan yang telah kami rencanakan dan kami analisis sebelumnya. Kegiatan tersebut antara lain berhubungan dengan keagamaan, pendidikan, ekonomi, kebersihan, dan juga tentang pengetahuan akan penanaman secara vertikultur.

B. Pendekatan dengan Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan adalah proses yang ditujukan membantu suatu klien (individu, kelompok, atau masyarakat yang menjadi sasaran pemberdayaan) memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki antara lain transfer daya dan lingkungannya4.

Dalam melakukan pemberdayaan masyarakat, pendekatan proses lebih memungkinkan pelaksanaan pembangunan yang memanusiakan manusia.

4 Prosiding Seminar Nasional. “Peran STISIP Widuri dalam Pemberdayaan Masyarakat: Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Ekologi dan Kesejahteraan Sosial” (Jakarta: PPPM-STISIP Widuri, 2015), h.44.

Sianida Beraksi: Banyuwangi Lebih Beredukasi | 17 Dalam pandangan ini, pelibatan masyarakat dalam pembangunan lebih mengarah kepada bentuk partisipasi, bukan dalam bentuk mobilisasi. Partisipasi masyarakat dalam perumusan program membuat masyarakat tidak semata-mata berkedudukan sebagai konsumen program, tetapi juga sebagai produsen karena telah ikut serta terlibat dalam proses pembuatan dan perumusannya, sehingga masyarakat merasa ikut memiliki program tersebut dan mempunyai tanggung jawab bagi keberhasilannya serta memiliki motivasi yang lebih tinggi bagi partisipasi pada tahap-tahap berikutnya5.

Pemberdayaan merupakan suatu upaya agar seseorang atau masyarakat dapat mencapai tujuan pengembangan diri, oleh sebab itu pemberdayaan harus mencakup enam hal sebagai berikut:

a. Learning by doing, artinya pemberdayaan adalah sebagai proses hal belajar dan ada suatu tindakan konkret yang terus menerus dampaknya dapat dilihat.

b. Problem solving, pemberdayaan harus memberikan arti terjadinya pemecahan masalah yang dirasakan krusial dengan cara dan waktu yang tepat.

c. Self evaluation, pemberdayaan harus mampu mendorong seseorang atau kelompok tersebut untuk melakukan evaluasi secara mandiri.

d. Self development and Coordination, artinya mendorong agar mampu melakukan hubungan koordinasi dengan pihak lain secara lebih luas. e. Self selection, suatu kumpulan yang tumbuh sebagai upaya pemilihan dan

penelitian secara mandiri dalam menetapkan langkah ke depan.

f. Self decism, dalam memilih tindakan yang tepat hendaknya dimiliki kepercayaan diri dalam memutuskan sesuatu secara mandiri6.

Dalam pendekatan pemberdayaan masyarakat tak jarang ditemukan ada permasalahan-permasalahan dalam pelaksanaannya. Dalam penyelesaian masalah tersebut terdapat tahapan agar pendekatan pemecahan masalah dapat berhasil, yaitu sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi masalah

b. Setelah masalah diidentifikasi, dipelajari, dan dimengerti, langkah berikutnya adalah menggerakkan sumber daya untuk mengaktifkan

5 Edi Soeharto. Membangun Masyarakat Memberdayakan, (Bandung: PT Refika Aditama, 2005), h.11.

18 | Sianida Beraksi: Banyuwangi Lebih Beredukasi

beragam jenis kemampuan masyarakat, mengaktifkan energi, dan imajinasi sebagai suatu proses penting dalam pengembangan komunitas. c. Merencanakan program pengembangan masyarakat. Dalam kerangka perencanaan, masyarakat harus mempunyai kesempatan untuk mengkritik dan memberikan saran yang membangun.

d. Dengan dukungan penuh dari masyarakat, dilakukan upaya penggerakkan kapasitas masyarakat untuk melayani dan mendukung suatu kegiatan pengembangan masyarakat.

e. Tahap pemecahan masalah yang efektif membutuhkan evaluasi. Penilaian akhir harus dilakukan terhadap semua tahap untuk pelaksanaan kegiatan yang akan dianalisis dengan kritis dalam hal kekuatan, kelemahan, kesuksesan, dan kegagalan7.

7 Fredian Tonny Nasdian, Pengembangan Masyarakat (Jakarta: Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014), h.74.

19 BAB III

KONDISI DESA BANYUWANGI