• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pelatihan dan Pengembangan

Dalam dokumen PENGARUH TRAINING NEEDS ASSESSMENT (Halaman 35-42)

TINJAUAN PUSTAKA

B. Training Needs Assesment (TNA)

7. Metode Pelatihan dan Pengembangan

Berdasarkan klasifikasi metode pelatihan dan pengembangan

tersebut, rincian metode pelatihan dan pengembangan menjadi sebagai

berikut:

a. On The Job

On the job adalah metode penelitian yang dilaksanakan di tempat kerja

yang sebenarnya dan dilakukan sambil bekerja. Kategori metode on the

job terdiri dari dua jenis, yaitu : 1) Informal in the job

Dalam metode ini tidak tersedia pelatihan secara khusus. Peserta

sedang bekerja untuk kemudian melakukan pekerjaan tersebut sendiri.

2) Formal on the job

Peserta mempunyai pembimbing khusus. Pembimbing tersebut

sambil melakukan tugasnya, diberi tugas tambahan umtuk

membimbing peserta pelatihan yang bekerja di tempat kerjanya.

Berikut beberapa manfaat on the job :

a) Karyawan melakukan pekerjaan yang sesungguhnya, bukan tugas

yang disimulasikan.

b) Karyawan mendapat instruksi dari karyawan senior

berpengalaman yang telah melaksanakan tugas dengan baik.

c) Pelatihan dilaksanakan di dalam lingkungan yang sesungguhnya,

dalam kondisi normal tanpa membutuhkan fasilitas pelatihan

khusus.

d) Bersifat informal, tidak mahal, dan mudah dijadwalkan.

e) Dapat menciptakan hubungan kerja sama langsung antara

karyawan dan pelatih.

f) Pelatih sangat relevan dengan pekerjaan dan membantu

memotivasi kinerja tinggi.

Adapun kelemahan on the job :

a) Motivasi pelatih kurang melatih, sehingga pelatihan jadi kurang

serius.

b) Pelatih dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, namun kurang

memiliki kemampuan melatih orang lain agar dapat melaksanakan

c) Pelatih kurang/tidak memiliki waktu untuk melatih dan kemudian menghapus elemen penting dalam proses pelatihan.

d) Karyawan yang tidak terlatih mungkin memiliki dampak negatif pada pekerjaan dan organisasional.

e) Efektif biaya.

b. Off The Job

Off the job methode adalah pelatihan yang dilaksanakan di tempat kerja terpisah/diluar tempat kerja dan di luar waktu regular:

1) Simulation (simulasi)

Dilakukan dengan cara menggunakan alat/mesin dalam kondisi

lingkungan yang dibuat sama dengan sebenarnya. Simulasi mengacu

pada materi yang berupaya menciptakan lingkungan pengambilan

keputusan yang realistik bagi pelatih. Adapun macam dari metode

simulasi adalah:

a) Case study (studi kasus/telaah kasus)

Penyajian tertulis dan naratif serangkaian fakta dari

permasalahan yang dinamis dan dipecahkan oleh peserta

pelatihan. Pelatih yang menggunakn metode ini hendaknya tidak

mendominasi diskusi, memberi kesempatan pada beberapa

peserta pelatihan untuk mendominasi diskusi dan mengarahkan

diskusi ke arah solusi yang disukainya. Studi kasus dilakukan

dengan cara peserta diminta untuk membahas masalah/kasus

tertentu dalam organisasi. Pembahasan kasus biasanya diambil

dari kasus nyata.

1) Menentukan masalah ari suatu kasus.

2) Memiliki kemampuan untuk memisahkan fakta yang penting

dari yang tidak penting.

3) Menganalisis pokok masalah dan menggunakan logika untuk

menjembatani kesenjangan yang ada dalam fakta.

4) Menemukan berbagai cara untuk memecahkan masalah

b) Role playing (bermain peran)

Tujuan pokok bermain peran adalah menganalisis masalah

antara pribadi dan memupuk keahlian hubungan manusia.

Bermain peran lazin digunakan untuk mengasah kecakapan

wawancara, negosiasi, konseling, pekerjaan, pendisiplinan,

penilaian kinerja, penjualan dan tugas pekerjaan lain yang

melibatkan komunikasi antar pribadi. Peserta diharapkan memiliki

pemahaman pada situasi tertentu dan kondisi tertentu pula,

melalui pengalihan dan pengalaman.

c) Business game (permainan peran dalam bisnis)

Permainan dalam bisnis adalah bentuk latihan simulasi yang

dilakukan dalam kelas. Pengorganisasian para pesertanya

dilakukan dengan membagi peserta dalam tim yang bertugas

secara kompetitif memecahkan masalah tertentu dari suatu

organisasi tiruan. Dengan membandingkan kualitas keputusan

pemecahan masalah an kualitas diskusi yang berlangsung.

Sasaran yang ingin dicapai ari metode ini adalah memapuan untuk

mengambil keputusan atau keputusan yang integral. d) Vestibule Training (pelatihan beranda)

Pelatihan beranda adalah metode pelatihan yang digunakan untuk menggambarkan pelatihan dalam sebuah runag kelas bagi

pekerjaan klerikal atau semi ahli. Metode ini tepat untuk keadaan dimana karyaawan yang dilatih banyak ( untuk jenis pekerjaan

yang sama).

Penekanan metode ini cenderung pada belajar dibanding

dengan produksi. Pelatihan ini biasanya dipakai untuk melatih

klerk, teller bank, operator mesin, juru ketik dan pekerja sejenis.

Peserta biasanya menggunakan alat/mesin yang digunakan di

tempat kerjanya nanti dengan dibimbing oleh pelatih khusus.

Dengan metode ini, organisasi bisa menghindar deri kerugian

karna terjadinya kesalahan yang dilakukan oleh peserta. Peserta

juga terhindar dari tekanan dan kebingungan dalam bekerja

sehingga berkonsentrasi pada materi, sehingga diharapkan

organisasi dapat memperoleh tingkat kemahiran tertentu dengan

lebih cepat.

e) Laboratory training (pelatihan dengan peralatan training)

Metode pelatihan dengan peralatan laboratorium

dilaksanakan dengan cara peserta dibawa ke dalam situasu yang

dapat menyaksikan, merasakan dan mencoba sendiri tentang

suatu keadaan/peran sehingga pelatihan dapat lebih mantap dan

lebih berkesan.

2) Sensitivity Training (pelatihan sensivitas)

Metode pelatihan sensivitas adalah metode pelatihan untuk

terbuka dan jujur tentang perasaan, sikap dan perilaku peserta pelatihan. Partisipasi dalam pelatihan ini didorong agar

memberitahukan kepada peserta lainnya secara jujur bagaimna perilaku dimata orang lain dan perasaan orang lain terhadap

perilakunya.

3) Outbond/widerness (pelatihan alam terbuka)

Metode pelatihan alam terbuka adalah metode yang digunakan

untuk menggambarkan program pengembangan manajemen dan

eksekutif yang berlangsung dialam terbuka yang meliputi pendakian

gunung, pelayaran, berkano, arung jeram, sepeda gunung, dan

lain-lain. Tujuan pelatihan alam terbuka bukanlah pengembangan

keahlian teknis namun lebih pada pengembangan dan pengasahan

keahlian antar pribadi seperti : keyakinan diri, penghargaan diri, kerja

tim, penetapan tujuan da kepercayaan.

4) Presentation information (presentasi informasi)

Merupakan metode pengembangan yang berupa penyampaian

informasi terkait hal-hal yang akan dikembangkan.

5) Kursus formal

Metode off the job dengan cara karyawan mengikuti kursus

diluar agar mampu menambah keahliannya. Metode ini tidak selalu

C. Human Capital Development 1. Pengertian Human Capital

Istilah kapital manusia atau modal manusia (Human Capital)

berasal dari Theodore Schultz pemenang Hadiah Nobel tahun 1979 (

Jac Fitz-enz, 2000) seorang pakar ekonomi yang tetarik kepada

kegentingan negara-negara yang sedang berkembang. Ia berpendapat

bahwa memperbaiki kesejahteraan orang miskin tidak tergantung pada

tanah, peralatan atau energi, akan tetapi lebih tergantung pada ilmu

pengetahuan. Ia menyebut aspek kualitatif ekonomi tersebut sebagai

human capital. Ia mengemukakan sebagia berikut (terjemahan Wirawan): Memerhatikan bahwa semua sebagai sesuatu yang

berkembang dari dalam atau diperoleh. Setiap orang lahir suatu set

khusu gen, yang menemtukan kemampuan bawaan. Sifatnya-sifatn

kualitas populasi yang di peroleh, yang bernilai dan dapat diperbesar

dengan invesmen yang tepat, akan diperlakukan sebagai modal

manusia.

Human capital atau modal manusia adalah stok kompetensi, pengetahuan, keterampilan, pengalaman, tenaga, pikiran, perilaku,

kepribadian, aktivitas dan inovasi dan lain-lain yang merupakan

karakteristik yang ada dalam diri manusia sehingga mampu

melaksanakan fungsinya sebagai tenaga kerja atau buruh untuk menciptakan nilai ekonomi. Human capital hidup dan berkembang

sehingga dapat memberikan kerja secara terus menerus dan

Pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia), merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan organisasi, agar pengetahuan

(knowladge), kemampuan (ability), dan keterampilan (skill) mereka

sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang mereka lakukakan. Dengan

kegiatan pengembangan ini, maka diharapkan dapat memperbaiki dan

mengatasi kekurangan dalam melaksanakan pekerjaan dengan lebih

baik, sesuai dengan perkembangan ilmu teknologi yang digunakan oleh

organisasi.

Dengan demikian, pengembangan SDM merupakan sebuah cara

efektif untuk menghadapi tantangan-tantangan, termasuk ketertinggalan

SDM serta keragaman SDM yang ada dalam organisasi, perubahan

teknik kegiatan yang disepakati dan perputaran SDM. Dalam

menghadapi tantangan-tantangan di atas, Unit

kpegawaian/Personalia/SDM dapat memelihara para SDM yang efektif

dengan pengembangan SDM. Pentingnya organisasi melakukan

investasi peralatan kapital untuk tetap kompetitif untuk menyesuaikan

diri dengan perubahan teknologi, namun peralatan kapital tidak dapat

beroperasi secara efisien bila para SDM-nya tidak kapabel dan terampil.

Ini semakin penting utnuk ditekankan, bila kita menyadari bahwa

perubahan teknologi terjadi sangat cepat usang atau investasi dalam

teknologi hanya memberikan keunggulan kompetitif terbatas, karena

machines don’t make things, people do. (Kadarisman, 2012: 5).

Dalam dokumen PENGARUH TRAINING NEEDS ASSESSMENT (Halaman 35-42)

Dokumen terkait