• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2 Landasan Teori

2.2.8 Metode Pembelajaran

Metode menurut Sagala (2003) dalam Ruminiati (2007: 2.3) adalah cara yang digunakan oleh guru atau peserta didik dalam mengolah informasi yang berupa fakta, data, dan konsep pada proses pembelajaran yang mungkin terjadi dalam suatu strategi. Menurut Tim Penyusun (1990: 580) metode mengandung arti cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan), cara kerja konsisten untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Metode juga dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal (Sanjaya 2010:126).

Berdasarkan beberapa pengertian metode pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan cara yang disusun teratur dan dipikirkan baik-baik yang digunakan oleh guru dan peserta didik dalam mengolah informasi yang berupa fakta, data, dan konsep pada proses pembelajaran yang menerapkan suatu strategi tertentu agar tujuan yang telah disusun dan diinginkan dapat tercapai secara optimal.

2.2.8.1Pemberian Tugas

Pengertian dari metode pemberian tugas (Defifefdia 2012) adalah metode dimana guru memberikan tugas-tugas kepada peserta didik baik untuk di rumah atau di sekolah dengan mempertanggung jawabkan tugas kepada guru. Metode

 

pemberian tugas sering diartikan dengan pekerjaan rumah, namun sebenarnya hakikat pemberian tugas dan pekerjaan rumah memiliki perbedaan. Pekerjaan rumah merupakan suatu keadaan ketika guru menyuruh peserta didik membaca buku kemudian memberi pertanyaan-pertanyaan di kelas, tetapi dalam pemberian tugas guru menyuruh peserta didik membaca dan kemudian guru menambahkan tugas kepada peserta didik untuk dikerjakan.

Metode Pemberian tugas (Defifefdia 2012) digunakan dengan tujuan agar peserta didik memiliki hasil belajar yang lebih baik, karena melalui metode pemberian tugas peserta didik melakukan latihan-latihan selama mengerjakan tugas. Peserta didik dalam mempelajari suatu materi dapat lebih mendalami yang dikarenakan pendalaman dan pengalaman peserta didik yang berbeda-beda pada saat menghadapi masalah atau situasi yang baru. Peserta didik juga dididik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, aktivitas dan rasa tanggung jawab serta kemampuan peserta didik untuk memanfaatkan waktu belajar secara baik dan efektif.

Konsep dari pemberian tugas yang memiliki banyak nilai positif di atas, dapat menjadi alasan penerapan metode ini, namun dalam penerapan yang terjadi, manfaat pemberian tugas ini sulit untuk direalisasikan. Peserta didik cenderung bosan karena diberikan tugas saja, sehingga untuk penerapan metode ini harus benar-benar memperhatikan materi pelajaran. Materi pesan melalui telepon merupakan materi pelajaran yang menggunakan penilaian di aspek berbicara. Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan menggunakan pemberian tugas, dengan cara menyuruh peserta didik membaca teks percakapan di depan kelas, kemudian diikuti dengan mengerjakan tugas-tugas. Kondisi di atas, menyebabkan peserta

didik tidak dapat mengeksplor keterampilan berbicaranya dan menyebabkan kebosanan dalam pembelajaran yang berlangsung.

2.2.8.1.1 Kelebihan Metode Pemberian Tugas

Ada beberapa kelebihan dari penerapan metode pemberian tugas. Kelebihan dari metode pemberian tugas (Wijaya 2012) diantaranya meliputi: (1) dapat memupuk rasa percaya diri sendiri, (2) dapat membina kebiasaan peserta didik untuk mencari, mengolah menginformasikan dan mengkomunikasikan sendiri, (3) dapat mendorong minat belajar, (4) dapat membina tanggung jawab dan disiplin peserta didik, (5) dapat mengembangkan kreativitas peserta didik, dan (6) dapat mengembangkan pola berfikir dan keterampilan peserta didik.

Kelebihan metode pemberian tugas yang dijelaskan di atas dapat dirasakan jika pelaksanaan metode ini dapat dimanfaatkan oleh guru dan peserta didik sebagaimana mestinya. Pelaksanaan metode pemberian tugas seringkali diterapkan oleh guru untuk melatih tanggung jawab peserta didik tanpa memperhatikan tidak semua peserta didik melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru. Metode ini memungkinkan peserta didik mencontek peserta didik lain. Intensitas penggunaan metode ini yang terlalu sering juga berdampak pada rasa bosan peserta didik selama pembelajaran berlangsung. Keadaan ini menyebabkan guru harus pintar memanfaatkan metode ini sebaik mungkin, sehingga manfaat metode pemberian tugas dapat dirasakan baik oleh guru maupun peserta didik dalam pelaksanaannya selama pembelajaran.

2.2.8.1.2 Kekurangan Metode Pemberian Tugas

Metode pemberian tugas tidak hanya memiliki beberapa kelebihan. Metode pemberian tugas juga memiliki kekurangan dalam penerapannya pada pembelajaran di kelas.

 

Kekurangan-kekurangan dari metode pemberian tugas (Wijaya 2012) yaitu sebagai berikut: (1) tugas tersebut sulit dikontrol guru kemungkinan tugas itu dikerjakan oleh orang lain yang lebih ahli dari peserta didik, (2) pemberian tugas terlalu sering dan banyak, akan dapat menimbulkan keluhan peserta didik, (3) dapat menurunkan minat belajar siswa kalau tugas terlalu sulit, (4) pemberian tugas yang monoton dapat menimbulkan kebosanan siswa apabila terlalu sering, (5) khusus tugas kelompok juga sulit untuk dinilai siapa yang aktif.

Kekurangan dari penerapan metode pemberian tugas di atas, dapat menjadi pertimbangan peneliti untuk mencari metode yang tepat dalam materi pesan melalui telepon. Metode yang tepat dicari dengan mempertimbangkan kecocokan antara metode dengan materi pesan melalui telepon sehingga tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan dapat tersampaikan kepada peserta didik dengan baik dan tepat.

2.2.8.2Bermain Peran (Role Playing)

Pengertian bemain peran (role playing) menurut Sanjaya (2006: 161) adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang. Pendapat lain dari Zaini (2008: 98) menyatakan bermain peran sebagai suatu aktivitas pembelajaran terencana yang dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan yang spesifik. Sementara Cobo, dkk (2011: 1) mendefinisikan bermain peran (role playing) lebih sempit, di mana lebih berorientasi pada pembelajaran dengan menyatakan bahwa:

“Role playing, as a learning tool, may be defined as when students (and perhaps the instructor) are asked to imagine that they are in a particular situation (either as themselves or as another person), and are instructed to behave as they (or their assumed person) would behave in that given situation.”

Maksud dari pendapat di atas yaitu bermain peran, sebagai sebuah perangkat pembelajaran, bisa didefinisikan ketika peserta didik (dan mungkin juga instruktur/guru) diminta untuk membayangkan mereka ada disituasi tertentu (baik mereka sendiri maupun orang lain), diinstruksikan berperilaku seperti yang akan mereka (atau orang yang mereka asumsikan) lakukan dalam situasi yang akan diberikan.

Pengajar melibatkan peserta didik dalam bermain peran (role playing) karena berbagai alasan. Berbagai alasan yang mendukung bermain peran (role playing) yaitu karena dalam bermain peran (role playing) dapat:

(1) membandingkan dan mengkontraskan posisi-posisi yang diambil dalam pokok permasalahan, (2) menerapkan pengetahuan pada pemecahan masalah, (3) menjadikan problem yang abstrak menjadi konkret, (4) melibatkan peserta didik dalam pembelajaran yang langsung dan eksperiensial, (5) mendorong peserta didik memanipulasi pengetahuan dalam cara yang dinamik, (6) dan mengembangkan pemahaman yang empatik (Zaini 2008: 102).

Menurut Maier (2002: 1), metode bermain peran (role playing) merupakan salah satu metode pembelajaran yang disukai baik oleh peserta didik maupun guru. Hal tersebut dibuktikan dengan penyataan Maier yang menyatakan bahwa:

“Role playing seems to be an educational tool favored by students and instructors alike. Students or trainees welcome role playing because this activity brings variations, movement, and most likely, simulated life experience into the classroom or training session. Teacher, trainers or supervisors favor role playing as a handy means of enlivening the learning content; in particular, this method brings concrete study materials which are more difficult to explain by the way of lecture and disscussion.”

 

Maksud dari pernyataan tersebut yaitu bermain peran terlihat seperti sebuah perangkat pendidikan yang disukai oleh peserta didik dan instruktur/guru. Peserta didik atau pelatih-pelatih menerima bermain peran karena aktivitas ini membawa variasi gerakan, dan yang paling disukai, pengalaman hidup yang disimulasikan dalam ruang kelas atau sesi pelatihan. Guru, pelatih, atau pengawas menyukai bermain peran sebagai sebuah arti dari menghidupkan isi dari pembelajaran; khususnya metode ini membawa materi pembelajaran menjadi konkret ketika yang lebih sulit dijelaskan oleh metode ceramah dan diskusi.

Alasan yang dikemukakan di atas, secara tidak langsung mengemukakan kelebihan menggunakan metode bermain peran (role playing) dalam pembelajaran di kelas. Kelebihan ini menjadi salah satu alasan peneliti untuk menggunakan metode bermain peran (role playing) pada pembelajaran materi pesan melalui telepon yang menitikberatkan keterampilan berbicara peserta didik.

2.2.8.2.1 Kelebihan Metode Bermain Peran (Role Playing)

Metode bermain peran (role playing) memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan dari metode bermain peran (role playing) menurut Zaini diantaranya yaitu:

Kelebihan metode bermain peran (role playing) menurut Zaini (2008: 100) diantaranya yaitu: (1) bermain peran dapat membandingkan dan mengkontraskan posisi-posisi yang diambil dalam pokok permasalahan, (2) menerapkan pengetahuan pada pemecahan masalah, (3) menjadikan problem yang abstrak menjadi konkret, (4) melibatkan peserta didik dalam pembelajaran yang langsung dan eksperiensial, (5) mendorong peserta didik memanipulasi pengetahuan dalam cara yang dinamik, (6) memfasilitasi ekspresi sikap dan perasaan peserta didik, (7) mengembangkan pemahaman yang empatik, (8) dan memberikan timbal balik (feedback) yang segera bagi pengajar dan peserta didik.

2.2.8.2.2 Kekurangan Metode Bermain peran (Role Playing)

Metode Bermain Peran tidak hanya memiliki kelebihan. Metode bermain peran (role playing) juga memiliki kelemahan. Kelemahan dari metode Bermain peran (role playing) antara lain:

Kelemahan metode Bermain peran (role playing) diantaranya yaitu: (1) bermain peran (role playing) memakan waktu yang banyak, (2) peserta didik sering mengalami kesulitan untuk memerankan peran secara baik khususnya jika mereka tidak diarahkan atau tidak ditugasi dengan baik (3) bermain peran (role playing) tidak akan berjalan dengan baik jika suasana kelas tidak mendukung, (4) peserta didik yang tidak dipersiapkan dengan baik ada kemungkinan tidak akan melakukan secara sungguh-sungguh, (5) dan tidak semua materi pelajaran dapat menerapkan metode ini (Afroh 2012).

Dokumen terkait