commit to user BAB II
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori 1. Hakekat Belajar
3. Metode Pembelajaran a. Metode Discovery
Menurut Sund, yang dikutip Roestyah N. K. (2001 : 20) dicoveryadalah proses mental di mana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip-prinsip. Discovery terjadi apabila siswa terlibat dalam menggunakan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip. Yang dimaksudkan dengan proses mental tersebut antara lain ialah: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya.
Menurut Carl J. Wenning dalam jurnal internasional “Levels of inquiry” (2004:3) “Discovery learning is perhaps the most fundamental form of inquiry-oriented learning. The focus of discovery learning is not on finding applications for knowledge but, rather, on constructing meaning or knowledge from experiences. As such, discovery learning employs reflection as the key to understanding. (Pembelajaran discovery merupakan bentuk paling dasar dari inquiry. Focus dari pembelajaran discoverytidaklah terpancang pada aplikasi pengetahuan saja, tetapi lebih diartikan untuk membangun pengetahuan dari pengalaman. Sedemikian rupa sehingga pembelajaran discoverymerupakan kunci dari pemahaman).”
Cara belajar dengan metode discovery menurut E. Mulyasa (2005:110), menempuh langkah-langkah berikut :
1) Adanya masalah yang akan dipecahkan
2) Sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik
3) Konsep atau prinsip yang harus ditemukan oleh peserta didik melalui kegiatan tersebut perlu dikemukakan dan ditulis secara jelas.
4) Harus tersedia alat dan bahan yang diperlukan.
5) Susunan kelas diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran peserta didik dalam kegiatan belajar-mengajar.
6) Guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengumpulkan data.
7) Garu harus memberikan jawaban dengan cepat dan tepat dengan data informasi yang diperlukan peserta didik
Adapun keunggulan teknik discoveryyang dirangkum menurut pendapat Roestiyah N.K (2001:20-21) adalah :
1). Teknik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif / pengenalan siswa.
2). Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi / individual sehingga dapat kokoh atau mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut.
3). Dapat membangkitkan kegairahan belajar siswa.
4). Teknik ini mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
commit to user
5). Mampu mengarahkan cara siswa belajar, sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar lebih giat.
6). Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri.
7). Strategi ini berpusat pada diri siswea tidak pada guru. Guru hanya sebagai teman belajar saja.
Sedangkan kelemahannya antara lain :
1) Pada siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk cara belajar ini. Siswa harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadan sekitarnya dengan baik.
2) Bila kelas terlalu besar penggunaan teknik ini akan kurang berhasil.. 3) Bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan
pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan teknik penemuan.
4) Dengan teknik ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu
mementingkan proses pengertian saja, kurang memperhatikan
perkembangan/ pembentukan sikap dan keterampilan bagi siswa.
5) Teknik ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk berpikir secara kreatif.
b. Metode Inquiry
Inquiry dibentuk dan meliputi discovery, karena siswa harus menggunakan kemampuan discovery dan lebih banyak lagi Inquiry adalah perluasan proses-proses discovery yang digunakan dengan cara yang lebih
dewasa. inquiry mengandung proses–proses mental yang lebih tinggi
tingkatannya. Misalnya, merumuskan problem, mendesain eksperimen,
melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menaarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka dan sebagainya.
Dalam jurnal internasional (Randy L. Bell, dkk, 2005:1) dipaparkan penggambaran oleh The National Science Education Standards bahwa “inquiry
instruction as involving students in a form of active learning that emphasizes questioning, data analysis, and critical thinking. (Pembelajaran inquiry merupakan pembelajaran yang menyertakan siswa untuk aktif dalam proses belajar yang menekankan pada tanya jawab, analisa data, dan kritis berfikir).”
Sund dan Trowbridge (E. Mulyasa, 2005 : 109) mengemukakan tiga macam metode inquirysebagai berikut :
1) Inquiry terbimbing (Guide inquiry)
Peserta didik memperoleh pedoman sesuai dengan yang dibutuhkan. Pedoman-pedoman tersebut biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang membimbing. Metode ini digunakan terutama bagi para peserta didik yang belum berpengalaman belajar dengan metode inquiry, dalam hal ini guru memberikan bimbingan dan pengarahan yang cukup luas. Pada tahap awal bimbingan lebih banyak diberikan, dan sedikit demi sedikit dikurangi sesuai dengan perkembangan peserta didik. Dalam pelaksanaannya sebagian besar perencanaan dibuat oleh guru. Petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun dan mencatat data diberikan oleh guru.
2) Inquiry bebas (free inquiry)
Pada inquirybebas peserta didik melakukan penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuwan. Pada pengajaran ini peserta didik harus dapat mengidentifikasikan dan merumuskan berbagai topik permasalahan yang akan diselidiki. Metodenya adalah inquiryrole approach yang melibatkan peserta didik dalam kelompok tertantu, setiap anggota kelompok memiliki tugas sebagai, misalnya koordinator kelompok, pembimbing teknis, pencatat data dan pengevaluasi proses.
3) Inquiry bebas yang dimodifikasi (modified free inquiry)
Pada inquiry ini guru memberikan permasalahan atau problem dan kemudian peserta didik diminta untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.
Adapun keunggulan teknik inquiry dirangkum dari pendapat (Roestiyah N.K,2001:76-77) sebagai berikut:
1) Dapat membentuk dan mengembangkan self-conceptpada diri siswa. 2) Membantu dan menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses
belajar yang baru.
3) Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri, bersikap obyektif, jujur dan terbuka.
4) Mendorong siswa untuk intuitif dan merumuskan hipotesis sendiri. 5) Memberi kepuasan yaang bersifat intrinsik.
commit to user
7) Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
8) Memberi kebebasan siswa daripada cara-cara belajar yang tradisional. 9) Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka
dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.. Sedangkan kelemahannya adalah :
1) Tidak dapat diterapkan secara aktif pada semua tingkatan kelas 2) Tidak semua guru/instruktur mampu menerapkannya.
3) Terlalu menekankan aspek kognitif dan kurang menekankan aspek afektif.
4) Memerlukan banyak waktu.
(Slameto, 1991:117) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada kegiatan discovery-inquiry, dalam proses menemukaan (discovery), siswa menggunakan proses – poses mentalnya untuk menemukan konsep atau prinsip. Proses-proses mental ini, antara lain: mengamati, menggolong-golongkan, mengukur, membuat dugaan, dan sebagainya. Dalam proses menyelidiki (inquiry), siswa mungkin menggunakaan semua proses mental untuk menemukan konsep atau prinsip, ditambah proses-proses mental lain yang memberikan ciri-ciri seorang dewasa yang sudah matang.
Moh. Amin (1988: 23) menguraikan tentang tujuh jenis discovery-inquiry yang dapat diikuti sebagai berikut :
1) Guided Discovery-Inquiry Lab. Lesson
Sebagian perencanaan dibuat oleh guru. Selain itu guru menyediakan kesempatan bimbingan atau petunjuk yang cukup luas kepada siswa. Dalam hal ini siswa tidak merumuskan problema, sementara petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun dan mencatat diberikan oleh guru.
2) Modified Discovery-Inquiry
Guru hanya memberikan problema saja. Biasanya disediakan pula bahan atau alat-alat yang diperlukan, kemudian siswa diundang untuk memecahkannya melalui pengamatan, eksplorasi dan atau melalui prosedur penelitian untuk memperoleh jawabannya. Pemecahan masalah dilakukan atas inisiatif dan caranya sendiri secara berkelompok atau perseorangan. Guru berperan sebagai pendorong, nara sumber, dan memberikan bantuan yang diperlukan untuk menjamin kelancaran proses belajar siswa.
3) Free Inquiry
Kegiatan free inquiry dilakukan setelah siswa mempelajarai dan mengerti bagaimana memecahkan suatu problema dan telah memperoleh pengetahuan cukup tentang bidang studi tertentu serta telah melakukan
modified discovery-inquiry. Dalam metode ini siswa harus
mengidentifikasi dan merumuskan macam problema yang akan dipelajari atau dipecahkan.
4) Invitation Into Inquiry
Siswa dilibatkan dalam proses pemecahan problema sebagaimana cara-cara yang lazim diikuti scientist. Suatu undangan (invitation) memberikan suatu problema kepada siswa, dan melalui pertanyaan masalah yang telah direncanakan dengan hati-hati mengundang siswa untuk melakukan beberapa kegiatan atau kalau mungkin, semua kegiatan sebagai berikut :
a) merancang eksperimen b) merumuskan hipotesis c) menetapkan control d) menentukan sebab akibat e) menginterpretasi data f) membuat grafik 5) Inquiry Role Approach
Inquiry Role Approach merupakan kegiatan proses belajar yang melibatkan siswa dalam tim-tim yang masing-masing terdiri tas empat anggota untuk memecahkan invitation into inquiry. Masing-masing anggota tim diberi tugas suatu peranan yang berbeda-beda sebagai berikut: a) koodinator tim
b) penasihat teknis c) pencatat data d) evaluator proses e) Pictorial Riddle
Pendekatan dengan menggunakan pictorial riddleadalah salah satu teknik atau metode untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa di dalam diskusi kelompok kecil maupun besar. Gambar atau peragaan, peragaan, atau situasi yang sesungguhnya dapat digunakan untuk meningkatkan cara berfikir kritis dan kreatif siswa. Suatu ridlle biasanya berupa gambar di papan tulis, papan poster, atau diproyeksikan dari suatu trasparansi, kemudian guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan ridlle itu.
6) Synectics Lesson
Pada dasarnya syntetics memusatkan pada keterlibatan siswa untyuk membuat berbagai macam bentuk metafora (kiasan) supaya dapat membuka intelegensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Hal ini dapat dilaksankan karena metafora dapat membantu dalam melepaskan “ikatan struktur mental” yang melekat kuat dalam memandang suatu problema sehingga dapat menunjang timbulnya ide-ide kreatif.