• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pembelajaran STAD ( Student Team Achievement

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

2. Metode Pembelajaran STAD ( Student Team Achievement

Metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kooperatif STAD berbantuan macromedia flash.

3. Materi Pelajaran

Materi pelajaran kimia dibatasi pada pokok bahasan hidrokarbon terutama kekhasan atom karbon dan Alkana, Alkena, serta Alkuna.

4. Objek penelitian

Obyek penelitian meliputi :

a. Motivasi berprestasi siswa yang dikategorikan dalam motivasi sangat tinggi, tinggi, rendah, dan sangat rendah. Motivasi berprestasi siswa dihitung menggunakan angket motivasi berprestasi.

commit to user

6

b. Rasa ingin tahu siswa yang dikategorikan dalam rasa ingin tahu sangat tinggi, tinggi, rendah, sangat rendah. Rasa ingin tahu siswa dihitung menggunakan angket rasa ingin tahu.

c. Prestasi belajar siswa yang dimaksud adalah ketuntasan belajar siswa pada aspek kognitif. Nilai aspek kognitif diperoleh dari tes siklus I dan tes siklus II. .

d. Proses pembelajaran direncanakan dalam dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Jika pada siklus I belum memenuhi indikator keberhasilan yang direncanakan yaitu motivasi berprestasi sebesar 30%, rasa ingin tahu 25% dan ketuntasan 65% maka dilanjutkan pada indikator keberhasilan siklus II yaitu motivasi berprestasi sebesar 35%, rasa ingin tahu 30% dan ketuntasan 75%.

C. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah serta untuk memperjelas permasalahan, maka dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apakah metode pembelajaran kooperatif STAD (Student Team Achievement Division) berbantuan macromedia flash dapat meningkatkan motivasi berprestasi siswa pada materi pokok hidrokarbon?

2. Apakah metode pembelajaran kooperatif STAD (Student Team Achievement Division) berbantuan macromedia flash dapat meningkatkan rasa ingin tahu dan prestasi belajar siswa pada materi pokok hidrokarbon?

D. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:

1. Peningkatan motivasi berprestasi siswa pada materi pokok hidrokarbon dengan menggunakan metode kooperatif STAD (Student Team Achievement Division) berbantuan macromedia flash.

2. Peningkatan rasa ingin tahu dan prestasi belajar siswa pada materi pokok hidrokarbon dengan menggunakan metode kooperatif STAD (Student Team Achievement Division) berbantuan macromedia flash.

E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini bermanfaat untuk membantu guru menghasilkan pengetahuan relevan untuk memperbaiki pembelajaran dalam jangka pendek.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini dapat dilihat dari hal-hal berikut: a. Manfaat bagi Inovasi Pembelajaran

Meningkatkan kualitas atau memperbaiki proses pembelajaran serta dapat meningkatkan pendekatan, metode, dan gaya pembelajaran yang sebelumnya telah dilakukan oleh guru khususnya pada materi pokok hidrokarbon. b. Manfaat bagi Sekolah

Memberikan sumbangan bagi sekolah dalam perbaikan proses pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya, dan perbaikan kualitas sekolah pada umumnya.

c. Manfaat bagi Pengembangan Profesi Guru

Sebagai motivasi untuk meningkatkan keterampilan memilih strategi pembelajaran yang bervariasi dan dapat memperbaiki sistem pembelajaran, sehingga dapat memberikan pengajaran yang lebih baik kepada siswa serta dapat mengembangkan metode STAD ini pada konsep yang lain.

d. Manfaat bagi Siswa

Memberikan pengalaman pembelajaran yang menarik serta dapat meningkatkan keaktifannya dalam mengerjakan tugas mandiri maupun kelompok.

commit to user

8 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Belajar a. Pengertian Belajar

Dalam kehidupan sehari-hari, kita melakukan banyak kegiatan yang sebenarnya merupakan gejala belajar. Belajar dapat diartikan sebagai usaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Winkel (1996: 53) mengemukakan bahwa belajar merupakan suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap dimana perubahan-perubahan itu dapat berupa suatu hasil yang baru atau penyempurnaan terhadap hasil yang telah diperoleh.

Menurut pendapat Good dan Brophy dalam Ngalim Purwanto (2004: 85), mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang singkat, yaitu “Learning is the development of new associations as a result of experience”. Good dan Brophy mengemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, proses itu terjadi di dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Sehingga yang dimaksud dengan belajar menurut Good dan Brophy bukan tingkah laku yang nampak, tetapi terutama adalah prosesnya yang terjadi secara internal di dalam diri individu dalam usahanya memperoleh hubungan-hubungan baru (new association).

Menurut Ngalim Purwanto (2004: 85) ada beberapa elemen yang mencirikan pengertian belajar yaitu: (1) Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku, (2) Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, (3) Perubahan yang terjadi dalam belajar relatif mantap dan merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang, (4) Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis.

Dari berbagai definisi belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perkembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dilakukan seseorang baik secara individu maupun kelompok untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman dan latihan dalam interaksi dengan lingkungannya.

b. Teori-teori Belajar

1) Teori Belajar Kognitif

Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pemahaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang. Teori yang termasuk dalam teori belajar kognitif, antara lain:

a) Teori Belajar Bruner

Bruner dalam Ratna Wilis Dahar (1989: 103) menyarankan agar dalam proses belajar siswa dapat berpartisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip dan melakukan eksperimen–eksperimen yang memberi kesempatan siswa untuk menemukan prinsip-prinsip sendiri. Jadi siswa tidak menerima informasi tetapi juga aktif dalam memperoleh informasi.

b) Teori Belajar Gagne

Gagne mengemukakan teori belajarnya yaitu bahwa belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan, dan tingkah laku. Menurut Gagne dalam Ratna Wilis Dahar, belajar terdiri dari tiga komponen penting, yaitu kondisi eksternal, kondisi internal, dan hasil belajar.

Kondisi eksternal terdiri diri delapan fase belajar, yaitu (1) fase motivasi, (2) fase pengenalan, (3) fase perolehan, (4) fase retensi, (5) fase pemanggilan, (6) fase generalisasi, (7) fase penampilan, (8) fase umpan balik. Kondisi internal merupakan proses yang terjadi di dalam pikiran siswa. Sedangkan hasil belajar, Gagne menyebutnya sebagai kemampuan-kemampuan (capabilities).

commit to user

10

c) Teori Belajar Ausubel

Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan bagaimana cara penyampaian informasi meliputi penerimaan dan penemuan. Dimensi kedua berhubungan dengan cara siswa mengaitkan informasi ke dalam struktur kognitif yang ada meliputi belajar hafalan dan belajar bermakna.

d) Teori Belajar Piaget

Pengertian belajar menurut Jean Piaget yaitu belajar merupakan pengembangan aspek kognitif sebagai bekal untuk dapat memecahkan persoalan yang dihadapi siswa dalam kehidupannya dan untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif menjadi empat, yaitu tahap sensori-motor (0-2 tahun), tahap pra-operasional(2-7 tahun), tahap operasional konkret (7-11 tahun), dan tahap operasi formal (11 tahun- ke atas)

2) Teori Konstruktivistik

Paul Suparno (1997: 63), dalam paham konstruktivisme menyatakan bahwa peserta didik harus menemukan sendiri, menyimpan, mengecek, dan mengorganisasikan suatu konsep (informasi) baru dengan konsep lama dan merevisinya apabila tidak sesuai lagi. Pandangan konstruktivisme menyatakan bahwa peserta didik diberi kesempatan agar menggunakan suatu strategi sendiri dalam belajar secara sadar dan pendidik dalam hal ini membimbing peserta didik ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Pandangan konstruktivistik sangat berbeda dengan pandangan behavioristik maupun kognitif yang menekankan bahwa pikiran peserta didik dapat dipetakan oleh seorang guru. Dalam konstruktivistik, tujuan pembelajaran bukanlah mengajarkan informasi melainkan untuk menciptakan situasi sehingga peserta didik dapat menginterpretasikan informasi dalam pemahaman mereka sendiri.

Konstruktivistik menekankan belajar sebagai proses operatif, bukan figuratif. Belajar operatif adalah belajar memperoleh dan menemukan struktur pemikiran yang lebih umum yang dapat digunakan pada bermacam-macam situasi. Belajar operatif tidak hanya menekankan pada pengetahuan deklaratif

(pengetahuan tentang “apa”), namun juga pengetahuan struktural (pengetahuan tentang “mengapa”) serta pengetahuan prosedural (pengetahuan tentang “bagaimana”). Belajar figuratif adalah belajar memperoleh pengetahuan dan penambahan pengetahuan.

Konstruktivistik menekankan pada belajar autentik, bukan artifisial. Belajar autentik adalah proses interaksi seseorang dengan objek yang dipelajari secara nyata. Belajar bukan sekedar mempelajari teks-teks (tekstual), terpenting ialah bagaimana menghubungkan teks itu dengan kondisi nyata atau kontekstual.

Selain menekankan pada belajar operatif dan autentik, konstruktivisme juga memberikan kerangka pemikiran belajar sebagai proses sosial atau belajar kolaboratif dan kooperatif. Belajar merupakan hubungan timbal balik dan fungsional antara individu dan individu, antara individu dan kelompok, serta kelompok dan kelompok. Singkatnya, belajar adalah interaksi sosial. Secara sosiologis, pembelajaran konstruktivisme menekankan pentingnya lingkungan sosial dalam belajar dengan menyatakan bahwa integrasi kemampuan dalam belajar kolaboratif dan kooperatif akan dapat meningkatkan pengubahan secara konseptual. Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi peserta didik untuk mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman mereka saat mereka bertemu dengan pemikiran orang lain dan saat mereka berpartisipasi dalam pencarian pemahaman bersama. Kata kunci belajar kolaboratif dan kooperatif adalah purposeful talk yaitu percakapan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik menelaah, mengelaborasi, mengakses, dan membangun pengetahuannya di dalam konteks social (Agus Suprijono, 2009: 39-40).

c. Prinsip-prinsip Belajar Kooperatif

Pada umumnya, prinsip-prinsip belajar kooperatif meliputi: (1) Adanya perencanaan, yaitu pembentukkan kelompok-kelompok kecil, anggota dalam kelompok dipilih secara heterogen yang bertujuan untuk saling membantu setiap anggota sehingga tiap anggota mampu menguasai materi yang diajarkan; (2) Pelaksanaan, dalam hal ini guru memberikan bimbingan belajar pada setiap kelompok. Dalam proses belajar, diharapkan siswa aktif dan terlibat langsung sehingga hasil belajar melekat dalam ingatan siswa. Tiap siswa bertanggung

commit to user

12

jawab secara individu untuk kemajuan kelompoknya; (3) Evaluasi, dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana penyerapan materi oleh siswa. Evaluasi dapat dilakukan dengan tanya jawab maupun pemberian kuis.

2. Metode Pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division)

Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik. Komunikasi transaksional adalah bentuk komunikasi yang dapat diterima, dipahami, dan disepakati oleh pihak-pihak yang terkait dalam proses pembelajaran (Robinson, 2005: 9.4). Kegiatan belajar dan pembelajaran merupakan satu kesatuan dari dua kegiatan yang searah. Kegiatan belajar adalah kegiatan primer dalam kegiatan belajar pembelajaran tersebut, sedangkan pembelajaran merupakan kegiatan sekunder yang diupayakan untuk dapat tercapainya kegiatan belajar yang optimal.

Metode secara harfiah berarti suatu cara yang teratur atau yang telah difikirkan secara mendalam untuk mencapai sesuatu. Dengan demikian, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang telah direncanakan oleh guru untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Sebagai cara yang telah direncanakan, metode harus dapat dijadikan sebagai ujung tombak dalam pencapaian tujuan pembelajaran di samping komponen lainnya. Fungsi metode dalam pembelajaran akan optimal apabila di dalam penggunaannya mampu memberikan kesenangan dan kegembiraan bagi peserta didik. Hal ini dapat dicapai apabila setiap guru dapat memilih metode yang tepat dengan tujuan, peserta didik, dan materi pelajaran.

a. Metode Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang didasarkan pada pemahaman konstruktivisme. Dalam teori konstruktivisme peserta didik harus menemukan sendiri dan memecahkan informasi baru dengan aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai lagi. Sesuai dengan disiplin ilmu kimia dimana dalam hal ini perkembangan dalam dunia kimia sangat dinamis maka kondisi seperti ini mutlak diperlukan. Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) merupakan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada

penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar (Sugiyanto, 2008: 35).

Menurut Anita Lie (2004: 41) dalam pembelajran kooperatif siswa dikelompokkan secara heterogen dengan memperhatikan keanekaragaman jenis kelamin, latar belakang sosio ekonomi, serta kemampuan akademis. Dalam penelitian ini hanya akan memperhatikan faktor keanekaragaman gender dan kemampuan akademis. Selanjutnya Slavin (2008: 10) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif mempunyai kelebihan yang tidak ditemukan dalam pembelajaran lain seperti penghargaan tim, pertanggungjawaban individual dan kesempatan sukses yang sama. Dalam kegiatan belajar individual cenderung mementingkan pribadi dan tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya.

Menurut Arends (2001: 6-7) terdapat enam fase atau langkah utama yang terlibat dalam pelajaran yang menggunakan model cooperative learning adalah: (1) Pelajaran dimulai dengan guru membahas tujuan-tujuan pelajaran dan membangkitkan motivasi belajar siswa, (2) Pada fase kedua diikuti oleh presentasi informasi, biasanya dalam bentuk teks lebih disukai daripada bentuk ceramah, (3) Siswa kemudian diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok belajar, (4) Dalam langkah berikutnya, siswa dibantu oleh guru, bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan tugas-tugas interdependen, (5) Presentasi hasil akhir kelompok atau menguji segala yang sudah dipelajari siswa, dan (6) Memberi pengakuan pada usaha kelompok maupun individu.

Menurut Anita Lie (2004: 31) untuk mencapai hasil maksimal lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan, yaitu: (1) Saling ketergantungan positif , untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. Intinya setiap anggota mempunyai tugas yang berlainan, kemudian bertukar pikiran atau informasi. Selanjutnya pengajar akan mengevaluasi semua anggota mengenai seluruh bagian, sehingga dengan cara ini mau tidak mau setiap angota harus merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar anggota yang lain juga dapat berhasil, (2) Tanggung jawab perseorangan, unsur ini

commit to user

14

merupakan akibat langsung dari unsur pertama. Jika tugas dan prosedur penelitian dibuat menurut prosedur Cooperative Learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilannya adalah persiapan pengajar dalam penyusunan tugasnya, (3) Tatap muka, setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil pemikiran beberapa anggota akan lebih baik daripada hasil pemikiran dari individu saja. Lebih jauh lagi hasil kerjasama ini jauh lebih besar daripada jumlah hasil masing-masing anggota. Inti dari sinergi adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing, (4) Komunikasi antar anggota, unsur ini juga menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai ketrampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai keahlian mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan suatu kelompok bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mengutarakan pendapat mereka, (5) Evaluasi proses kelompok, pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama kelompok tersebut agar selanjutnya bisa bekerjasama dengan efektif.

Terdapat lebih dari sepuluh metode pembelajaran kooperatif yang telah dikembangkan. Masing-masing metode pembelajaran kooperatif atau tipe pembelajaran kooperatif memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Pemilihan metode untuk mengajar harus disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan. Untuk melihat dengan jelas perbandingan masing-masing metode pembelajaran kooperatif berdasarkan kesesuaian materi pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Beberapa Tipe Pembelajaran Kooperatif

Metode Kesesuaian materi

STAD Materi yang sudah didefinisikan dengan jelas, seperti matematika, berhitung dan studi terapan, penggunaan dan mekanika bahasa, geografi dan kemampuan peta, dan konsep-konsep ilmu pengetahuan ilmiah.

TGT Materi yang dapat dibuat permainan (game akademik)

TAI Digunakan pada materi yang berkaitan dengan penguasaan materi sebelumnya.

CIRC Digunakan pada materi-materi yang bersifat narasi, yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami bacaan

GI Digunakan pada materi yang berhubungan dengan penguasaan, analisis, dan mensintesiskan informasi sehubungan dengan upaya menyelesaikan masalah yang bersifat multi aspek.

Jigsaw Materi yang bersifat penjelasan terperinci, misalnya siswa diminta membaca bab, buku kecil ataupun materi lain biasanya bidang studi sosial, biografi, dan sebagainya.

Complex Instruction

Digunakan pada materi yang berorintasi penemuan, khususnya bidang ilmu pengetahuan ilmiah, matematika, dan ilmu sosial.

b. Metode Kooperatif STAD (Student Team Achievement Division)

STAD (Student Team Achievement Division) merupakan pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Robert E. Slavin. STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif.

Metode pembelajaran ini lebih menekankan berbagai ciri pembelajaran langsung, dan merupakan metode yang mudah untuk diterapkan dalam pembelajaran sains. Seperti dalam kebanyakan metode pembelajaran kooperatif, metode STAD didasarkan pada prinsip bahwa siswa bekerja bersama-sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap belajar teman dan dirinya sendiri. Secara umum terdiri dari 5 komponen utama, yaitu:

1) Presentasi Kelas

Materi dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi di dalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering kali

commit to user

16

dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru, tetapi bisa juga memasukkan presentasi audiovisual.

2) Tim/kelompok

Tim terdiri dari 4-5 siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnisitas. Fungsi utama dari tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, dan lebih khususnya lagi adalah untuk mempersiapkan anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik.

3) Kuis

Setelah sekitar satu atau dua periode setelah guru memberikan presentasi dan sekitar satu atau dua periode praktik tim, para siswa akan mengerjakan kuis individual. Para siswa tidak diperbolehkan untuk saling membantu dalam mengerjakan kuis. Sehingga, tiap siswa bertanggung jawab secara individual untuk memahami materinya.

4) Skor Kemajuan Individual

Gagasan dibalik skor kemajuan individual adalah untuk memberikan kepada siswa tujuan kinerja yang akan dapat dicapai apabila mereka bekerja lebih giat dan memberikan kinerja yang lebih baik daripada sebelumnya.

5) Rekognisi Tim

Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain dilihat dari nilai rata-rata kuis masing-masing kelompok. Predikat penghargaan yang akan diperoleh digolongkan menjadi tiga, yaitu Good Teams (Tim Baik), Great Teams (Tim Hebat), dan Super Teams (Tim Istimewa).

Dokumen terkait