• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Karakter Islami

3. Metode Pembentukan Karakter

Dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembentukan karakter Islami, maka semua komponen dilingkungan pendidikan saling mengupayakan untuk menciptakan situasi dan lingkungan yang Islami.

Pendidikan Islam berarti pembentukan pribadi muslim. Isi pribadi muslim itu ialah pengamalan sepenuhnya ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya. Tetapi pendidikan muslim tidak akan tercapai atau terbina kecuali dengan pengajaran dan pendidikan. Membina pribadi muslim adalah wajib, karena pribadi muslim tidak mungkin terwujud kecuali dengan pendidikan. Maka pendidikan itu pun menjadi wajib dalam pandangan Islam.70

Namun seiring dengan perkembangan hidup manusia banyak faktor-faktor yang akan mempengaruhi hidupnya. Bahkan perjalanan hidup yang dijalani akan mengubah sifat yang sudah tertanam sebelumnya. Seperti faktor keluarga, lingkungan dimana ia tinggal, dan juga pendidikan yang ia dapatkan.

Selain itu dalam pembentukan karakter Islami, ada beberapa metode yang bisa diterapkan, metode ini juga bisa digunakan dalam pendidikan formal maupun non formal seperti kegiatan keagamaan. Adapun metodenya yaitu sebagai berikut :71

70

M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam (Jilid I), (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hal.3 71 Nur Laily Farida, Penanaman Nilai-nilai Religius Pada Anak Usia Remaja Di Majlis

Ta’lim Wad Da’wah Lil Ustadz Al Habib Sholeh Bin Ahmad Al Aydrus Malang, Skripsi, (UIN

a. Metode Hiwar, yakni metode yang digunakan oleh pendidik dengan cara mengajak peserta didik untuk membuat tulisan atau membaca teks kemudian dibaca atau dihafal melalui percakapan secara bergantian dalam suatu materi tertentu. Bisa dengan cara yang satu bertanya yang satu lagi menjawab, sehingga peserta didik mengalami dan meresapi sendiri materi yang sedang dipelajari. Penerapan metode ini dapat menjadikan peserta didik saling aktif dan tidak membosankan dalam proses belajar mengajar.

b. Metode Qishah, yakni metode yang digunakan oleh pendidik dengan cara bercerita suatu kejadian untuk diresapi peserta didik, atau peserta didik disuruh bercerita sendiri dengan mengambil tema-tema materi kisah sejarah Islam yang perlu diresapi dan diteladani.

c. Metode Amtsal, yanki metode yang digunakan oleh pendidik dengan cara mengambil perumpamaan-perumpamaan dalam ayat-ayat Al-Qur’an untuk diketahui dan diresapi peserta didik, sehingga peserta

didik dapat mengambil pelajaran dari perumpamaan tersebut. Seperti QS. Al-Baqarah ayat 17 dan QS. Al-Ankabuut ayat 41.

                 

Artinya : Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.72

                     

Artinya : Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.73

d. Metode Teladan, yakni metode yang digunakan pendidik dengan cara memberikan contoh tauladan atau perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bisa ditiru oleh peserta didik. Teladan-teladan itu bisa saja dari pendidik yang bersangkutan dan bisa juga dari teladan-teladan yang dicontohkan oleh Nabi dan Sahabat Nabi, serta teladan para tokoh Islam.

e. Metode Mau’idzah, yakni metode yang digunakan oleh pendidik dalam proses pendidikan dengan cara memberi nasihat-nasihat yang baik dan dapat digugu atau dipercaya, sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman oleh peserta didik untuk bekal kehidupan sehari-hari. Islam juga merupakan agama nasehat (al-Din al-Nasihah). f. Metode Pembiasaan, yakni metode yang digunakan pendidik dengan

cara memberikan pengalaman yang baik untuk dibiasakan dan sekaligus menanamkan pengalaman yang dialami oleh para tokoh untuk ditiru dan dibiasakan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman-pengalaman yang baik tersebut harus diciptakan oleh guru kepada siswa dalam setiap proses pembelajaran. Peserta didik

bisa diajak ke beberapa tempat untuk dialami dan diresapi, seperti belajar tentang shalat mereka diajak ke masjid, belajar tentang hadis diajak ke perpustakaan dengan mencari kitab-kitab hadis dan dibaca, belajar tentang sejarah Islam diajak ke museum atau tempat-tempat peninggalan sejarah dan lainnya.

g. Metode Targhib dan Tarhib, yakni metode yang digunakan pendidik dengan cara memberikan targhib (janji-janji kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai dengan bujukan) dan tarhib (ancaman karena melakukan perbuatan dosa). Metode ini dimaksudkan agar peserta didik menjauhi larangan-larangan dari Allah SWT, dan mentaati segala perintah-Nya.

Tahapan-tahapan Pembentukan Karakter74

Gambar 2.2 Diadopsi dari Direktoral Jenderal Pendidikan Dasar

Usaha pembentukan karakter melalui sekolah menurut Azyumardi azra ada tiga pendekatan :

Pendekatan tersebut yaitu: pertama, menerapakn pendekatan modeling atau uswah hasanah yakni mensosialisasikan dan membiasakan lingkungan sekolah untuk menghidupkan dan

74 Direktoral Jenderal Pendidikan Dasar, Pendidikan Karakter Untuk Membangun

Karakter Bangsa, (Jakarta: Direktoral Jenderal Pendidikan Dasar, 2011), hal.8

Memper -tahankan Melakukan sesuai 1,2,3,4 Meyakini Membiasakan Memahami Mengetahui 1 2 3 5 4 6

menegakkan nilai-nilai akhlak dan moral melalui model teladan. Kedua, menjelaskan atau mengklarifikasikan kepada peserta didik secara terus menerus tentang berbagai nilai yang baik dan buruk. Usaha ini bisa dibarengi dengan memberi penghargaan dan menumbuhsuburkan nilai- nilai yang baik dan mencegah berlakunya nilai-nilai yang buruk. Ketiga, menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (character based education).

Pendapat lain menyebutkan bahwa unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran yang didalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya, dan merupakan pelopor dari segalanya. Program ini kemudian membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola pikir yang bisa memengaruhi perilakunya. Jika program yang tertanam tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilakunya berjalan selaras dengan hukum alam.75

Hasilnya perilaku tersebut membawa ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika program tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum universal, maka perilakunya membawa kerusakan dan menghasilkan penderitaan. Oleh karena itu, pikiran harus mendapatkan perhatian serius.

Dalam berbagai literature ditemukan bahwa kebiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang yang didahului oleh kesadaran dan pemahaman akan menjadi karakter seseorang.

75 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung: PT. Rosdakarya,2011), hal.16