BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Karakter Islami
1. Pengertian Karakter Islami
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Karakter memiliki arti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari orang lain. Karakter dapat diartikan sebagai tabiat perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan (kebiasaan).57 Istilah karakter juga disamakan dengan kepribadian sebab ilmu pengetahuan yang mempelajari kepribadian juga disebut karakteologi. Adapun kaitannya dengan karakteologi, karakter dapat diartikan sebagai suatu
56
Ibid, Bukhari Umar, hal. 121
57
WJS. Poerwardarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1997), hal. 20
keadaan jiwa yang tampak dalam tingkah laku dan perbuatan sebagai akibat pengaruh pembawaan dan lingkungan.
Menurut istilah lain karakter tergantung pada kekuatan dari luar, jadi lingkungan dan pembawaan dapat mempengaruhi karakter individu atau dapat dikatakan bahwa karakter dapat diubah atau dididik dengan membutuhkan terapi panjang, butuh konsentrasi, butuh biaya, butuh waktu, butuh pikiran serta energy yang sangat banyak.58 Wyne mengungkapkan bahwa “Kata karakter berasal dari bahasa Yunani “karasso” yang berarti “to mark” yaitu menandai atau mengukir, yang
memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku”59
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat.60 Dalam hal ini karakter dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang terbentuk dalam diri manusia sebagai ciri yang membedakan satu dengan yang lainnya. Karakter pada manusia perlu di bentuk, jika dia menginginkan menjadi seseorang yang baik maka harus membentuk karakternya untuk menjadi orang baik.
58 Abdullah Munir, Pendidikan Karakter Membangun Karakter Anak Sejak Dari
Rumah, (Yogyakarta: Pedagogia, 2010), hal.10 59
Wyne, dalam Zainudin, Pendidikan Karakter Islami,
( http://tarbiyahiainib.ac.id/artikel/194-mendidikan-karakter-islami, diakses 22 Maret 2015 jam 14.35 WIB)
60 Mohammad Mufid, Strategi Pembentukan Karakter Religius Siswa Di Ma’had
Hakekat karakter menurut Winnie, memahami bahwa :
Istilah karakter memiliki dua pengertian yaitu pertama, ia menunjukan bahwa seseorang bertingkah laku, apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku yang baik. Kedua, istilah karakter erat kaitanya dengan personality. Seseorang bisa dikatakan orang yang berkarakter apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral.61
Karakter adalah perilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai yang berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat, dan estetika. Pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil.
Penggambaran karakter dalam Islam tidak jauh dari nilai-nilai positif yang harus ada pada manusia sebagai makhluk yang beragama. Karena karakter sering dikaitkan dengan norma-norma agama yang selalu membawa manusia ke jalan yang benar, berprilaku yang baik, serta menjauhi hal-hal yang dinilai buruk atau negatif.
Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan istilah karakter, diantaranya yaitu :
a. Karakter ; watak atau sifat, fitrah yang ada pada diri manusia yang terikat dengan nilai hukum dan ketentuan Tuhan. Bersemayam dalam diri seseorang sejak kelahirannya. Tidak bisa berubah, meski apapun yang terjadi, Bisa tertutupi dengan berbagai kondisi.62
61 Zainudin, Pendidikan Karakter Islami,
( http://tarbiyahiainib.ac.id/artikel/194-mendidikan-karakter-islami, diakses 22 Maret 2015 jam 14.35 WIB)
62 Hamka Abdul Aziz, Pendidikan Karakter Berpusat Pada Hati, (Jakarta: Al-Mawardi, 2011), hal.48
b. Tabiat ; sifat, kelakuan, perangai, kejiwaan seseorang yang bisa berubah-ubah karena interaksi social dan sangat dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan. Sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia yang dikehendaki dan tanpa diupayakan.63
c. Adat ; sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui latihan, yakni berdasarkan keinginan.
d. Kepribadian ; tingkah laku atau perangai sebagai hasil bentukan dari pendidikan dan pengajaran baik secara klasikal atau non formal. Bersifat tidak abadi, karena selalu berhubungan dengan lingkungan.64
e. Identitas ; alat bantu untuk mengenali sesuatu. Sesuatu yang bisa digunakan untuk mengenali manusia.
f. Moral ; ajaran tentang budi pekerti, mulia, ajaran kesusilaan. Moralitas, adat istiadat, sopan santun, dan perilaku
g. Watak ; sifat batin manusia yang mempengaruhi pikiran dan perilaku h. Etika ; ilmu tentang akhlak dan kesopanan
i. Akhlak ; budi pekerti atau kelakuan, dalam bahasa arab; tabiat, perangai, kebiasaan
j. Budi pekerti ; perilaku, sikap yang dicerminkan oleh perilaku.65 Karakter cenderung disamakan dengan kepribadian. Orang yang memiliki karakter berarti memiliki kepribadian. Keduanya
63
M. Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa, (Semarang: Yuma Pustaka UNS Press, 2010), hal.11
64 Hamka Abdul Aziz, op.cit., hal.50 65
diartikan sebagai totalitas nilai yang dimiliki seseorang yang mengarahkan manusia dalam menjalani kehidupannya. Totalitas nilai meliputi tabiat, akhlak, budi pekerti dan sifat-sifat kejiawaan lainya.
Sedangkan karakter Islami lebih cenderung mengarah pada akhlak atau perilaku yang baik.
Menurut Abudin Nata secara sederhana akhlak islami dapat diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan ajaran islam atau akhlak yang bersifat islami. Dengan demikian akhlak islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging, dan sebenarnya yang didasarkan pada ajaran islam.66
Akhlak diartikan sebagai ilmu tata karma, ilmu yang berusaha mengena tingkah laku manusia, kemudian memberi nilai kepada perbuatan baik atau buruk sesuai dengan norma-norma dan tata susila.67 Dalam Islam, akhlak menempati kedudukan yang penting dan dianggap memiliki fungsi vital dalam memandu kehidupan masyarakat. Akhlak Islam benar-benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat sesuai dengan fitrohnya.