Proses eksplorasi dilakukan guna menemukan ide kreatif terkait dengan tingkah laku anak. Cara yang digunakan dengan cara observasi atau pengamatan. Pada pengamatan atau observasi dapat dilakuakan melalui foto, video, pengamatan langsung di lingkungan sekitar yang banyak anak-anak bermain, membaca buku tantang perkembanagan tingkah laku anak, dan juga melaui berita. Hal ini dilakukan dengan maksud agar dapat menangkap tingkah laku anak lebih dalam yang kemudian nantinya divisualisasikan ke dalam bentuk lukisan. Setelah melakukan ekplorasi selanjutnya membayangkan bagaimana tingkah laku dari anak divisualisasikan dan akhirnya ditemukan suatu bentuk yang variatif sesuai dengan komposisi bidang, garis, warna dan unsur-unsur lainnya. Proses selanjutnya setelah penemuan yang sesuai dengan yang diinginkan kemudian divisualisasikan kedalam lukisan dengan menggunakan pertimbangan prinsip-prinsip seni rupa dengan tujuan mendapatkan sebuah pandangan dan pendapat secara luas dalam persepsi pribadi.
b. Eksperimen (Experimentation)
Eksperimen dalam proses melukis merupakan tindakan atau upaya untuk menghasilkan sesuatu yang tak terduga, supaya ide penciptaan dapat diangkat atau
dimunculkan secara tepat, dilakukanlah suatu percobaan bagaimana tingkah laku anak itu sendiri dapat divisualisasikan sesuai dengan ide, dengan cara mencoba-coba (trial and error).
Tahapan pertama dalam proses ekperimen yang dilakukan yaitu membuat sketsa. Pada proses pembuatan sketsa merupakan tahapan pencarian bentuk, warna, komposisi, proporsi yang nantinya dituangkan pada kanvas. Proses penuangan sketsa penulis lakukan di atas kertas dengan menggunakan pensil charcoal, pensil warna di atas kertas dengan percobaan pengubahan bentuk atau
deformasi. Penulis menggunakan warna hanya untuk background saja. Dalam
lukisan ini, objek-objek utama yang penulis visualisasikan objek anak yang dideformasi dan distorsi sesuai dengan pola perkembangan tingkah laku anak. Penulis menggunakan warna lembut dan sederhana sebagai background.
c. Visualisasi (Visualization)
Visualisasi merupakan proses akhir dari penciptaan sebuah karya seni. Visualisasi merupakan pengungkapan suatu gagasan atau perasaan dengan jalan menggunakan bentuk gambar, tulisan yang berupa angka dan kata, peta grafik, dan sebagainnya.Visualisasi bisa juga diartikan sebagai proses pengubahan konsep menjadi gambar yang disajikan lewat karya seni (Susanto, 2011: 427).
Bentuk representasional merupakan bentuk visualisasi yang diangkat dalam
lukisan.
Proses awal yang dilakukan membuat sketsa di atas kanvas dengan berpedoman pada sketsa kertas yang sudah dibuat. Kemudian mengarsir objek tersebut dengan pensil dan charcoal untuk mencapai kesan gelap terang. Setelah
objek dengan pensil dan charcoal selesai kemudian proses painting dengan menggunakan teknik plakat dengan menggunakan kuas ukuran sedang .Warna-warna yang digunakan .Warna-warna lembut. Dalam proses visualisasi ini penulis menggabungkan teknik kering dan teknik basah dalam penciptaan karya lukis.
Permainan kontras sangat kuat antar objek dengan background. Adapun pada
finishing, merapikan objek dengan menggunakan pensil dan sapuan kuas kecil
dengan charcoal bubuk. Dilanjutkan dengan proses glossing untuk mengikat
bubuk charcoal yang ditorehkan di kanvas agar tidak jatuh dan juga sebagai
pengkilat lukisan. 2. Pendekatan
Berdasarkan tema dan visualisasi tingkah laku anak-anak penulis
menggunakan metode pendekatan surealisme karena surealisme memberikan
kesan imajinasi sehingga memberikan bentuk-bentuk visual yang baru yang dapat
menimbulkan pertanyaan pada apresiator. Surealisme menurut Mikke Susanto
(2011: 386), merupakan gerakan dalam sastra. Istilah ini dikemukakan Apollinaire untuk dramanya tahun 1917. Dua tahun kemudian Andre Breton mengambilnya untuk menyebut eksperimennya dalam metode penulisan yang spontan. Gerakan ini dipengaruhi oleh teori psikologi dan psiko analis Sigmund Freud. Karya surealisme memiliki unsur kejutan, tidak terduga, ditempatkan berdekatan satu sama lain tanpa alasan yang jelas. Banyak seniman dan penulis surealis yang memandang karya mereka sebagai ungkapan gerakan filosofis yang pertama dan paling maju. Andre Breton mengatakan bahwa surealis berada di atas segala
terpentingnya di Paris. Sejak tahun 1920-an aliran ini menyebar keseluruh dunia. Adapun manifesto dari surealisme yang ditulis Breton berisi sebagai berikut. Surealisme adalah otomatisme psikis yang murni, dengan apa proses pemikiran yang sebenarnya ingin diekspresikan, baik secara verbal, tertulis maupun cara-cara lain. Surealisme bersandar pada keyakinan kami pada realitas yang superior dan kebebasan asosiasi kita yang telah lama ditinggalkan dan kebebasan asosiasi yang telah lama ditinggalkan, pada keseba-bisaan mimpi, pada pemikiran yang otomatis tanpa control dari kesadaran kita. Surealisme memilki dua tendensi yaitu: (1) Surealisme ekpresif yaitu seniman melewati semacam kondisi tidak sadar, kemudian melahirkan symbol-symbol dan bentuk-bentuk dari pendaharaannya yang terdahulu, yang tergolong dalam tendensi ini adalah Andre Masson, Joan Miro, dan Marc Chagal; (2) Surealisme murni atau sering disebut dengan surealisme fotografik, yaitu seniman menggunakan teknik-teknik akademik untuk menciptakan ilusi yang tampak absurb. Tokohnya adalah Salvador Dali, lainnya seperti Rene Magritte, dan Roberto Matta. Tokoh yang dianggap sebagai pelopor surealis adalah Marc Chagall (1889-), seorang Rusia yang dalam usia dua puluhan pindah dan menetap di Paris. Sekalipun hampir seluruh sisa hidupnya di Paris, tetapi ingatannya pada tanah asal masih segar, pada kampungnya, cerita-cerita rakyatnya, yang menghidupi ciptaan-ciptaannya. Joan Miro (1893-) adalah pelukis kelahiran Spanyol yang pada tahun 1925 bertemu dengan kaum surealis. surealisme baginya mempengaruhi untuk berfantasi lebih bebas dengan caranya sendiri.
32 1. Konsep Penciptaan
Konsep penciptaan lukisan dengan judul “Tingkah Laku Anak sebagai Inspirasi Penciptaan Lukisan Surealistik” penggambaran objek anak-anak mempertahankan bentuk aslinya tetapi untuk tubuh anak-anak mengalami deformasi bentuk dan distorsi. Distorsi dan deformasi tubuh disini sebagai metafora dari tingkah laku anak. Alasan mengapa penulis mempertahankan
bentuk aslinya anak kemudian tubuhnya didistorsi dan dideformasi karena
penulis menganut aliran surealisme dan ingin menciptakan bentuk baru tetapi sesuai dengan konsep penciptaan awal.
Penciptaan lukisan dengan judul “Tingkah Laku Anak sebagai Inspirasi Penciptaan Lukisan Surealistik” tidak semata-mata langsung terjadi begitu saja. Ada proses yang cukup panjang. Penulis harus melakukan beberapa pengkajian yaitu melalui pengamatan dari tingkah laku anak-anak. Kemudian penulis mengimajinasikan bagaimana bentuk tingkah laku anak itu divisualisasikan dengan distorsi dan deformasi bentuk ke dalam lukisan dan juga kesesuaiaan warna background karena penulis tidak menggunakan banyak warna. Warna yang penulis gunakan hanya sebagai background saja karena menurut penulis
untuk mengesankan kesan minimalis kemudian pada pembuatan background
merupakan dunia yang penuh warna warni kehidupan dan juga dunia yang penuh keceriaan. Adapun teknik dan visualisasi terinspirasi oleh karya Anton Subiyanto. 2. Tema Penciptaan
Tema penciptaan karya ini adalah tingkah laku anak diantaranya menangis, bermain, ingin tahu, tawuran dan juga berkelahi.