BAB II KAJIAN TEOR
B. Metode Pendidikan Akidah Akhlak
Menurut pengertian etimologi, metode adalah” cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud”.27 Dengan demikian untuk melaksanakan sesuatu diperlukan cara-cara yang tepat dan teratur. Al-Ghazali sebagai tokoh pendidikan islam menyatakan tentang metode pendidikan sebagai berikut:
“Bila seorang dokter mengobati seluruh pasiennya dengan satu obat saja, maka banyak dari mereka yang mati begitu pula bila seorang guru membawakan satu metode, sistem dan latihan kepada seluruh muridnya, tentu banyak pula dari mereka yang akan rusak dan mati jiwanya dan tumpul semangat berpikirnya. Seharusnya para guru meneliti terlebih dahulu sifat, umur, watak dan milie anak-anak didik, kemudian barulah ditetapkan metodenya, asuhannya, latihan dan metode yang harus dibawakan kepada muridnya”28.
Berdasarkan pendapat Al-Ghazali diatas dapat diketahui tidak ada satu metodepun yang sempurna tanpa diselingi metode lain. Konsep ini sangat berguna bagi para pendidik, sebab suatu metode tepat untuk pelajaran tertentu tetapi belum tentu untuk pelajaran yang lain. Dengan diketahuinya bermcam- macam metode mengajar, seorang guru akan mendapatkan metode yang tepat. Adapun metode yang dipakai dalam pendidikan akhlak selain, serita dan tanya jawab dapat dipergunakan beberapa metode dibawah ini:
1. Metode Keteladanan
26
Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Sekolah, (Bandung: Sinar Baru, 1989), Cet, Ke-1, h. 21
27
W.J.S, Purwadarminta……h. 766 28
Nasrusin Thala, Tokoh-tokoh Pendidikan Zaman Islam Jaya, (Jakarta: Mutiara, 1993), h. 82
Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak.
Mengingat pendidikan adalah seorang figur terbaik dalam pandangan anak, yang tindak tanduk dan sopan santunnya,
didasari atau tidak akan ditiru oleh mereka. Bahkan bentuk perkataan, perbuatan dan tindak tanduknya, akan senantiasa tertanam dalam kepribadian anak”29.
Metode keteladanan merupakan keharusan bagi para guru, yakni memberikan contoh yang baik bagi para siswa dalam berbagai hal, baik itu sikap perilaku keseharian maupun etika bersosialisasi dengan para siswa, sehingga para siswa dapat menjadikan para guru sebagai suritauladan yang patut diikuti.
2. Metode Pembiasaan
Seorang anak sejak lahir telah diciptakan dengan dibekali fitrah tauhid yang murni, agama yang benar dan iman kepada Allah SWT. Ini termasuk masalah yang sudah merupakan ketetapan dalam syari”at Islam. Dari sini tampak peranan pembiasaan, pengajaran dan pendidikan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Tidak ada yang menyangkal bahwa anak akan tumbuh dengan iman yang benar, berhiaskan diri dengan etika islami, bahkan sampai pada puncak nilai- nilai spiritual yang tinggi, dan kepribadian yang utama. Jika anak menerima pendidikan yang baik dari orang tuanya yang soleh dan pengajarannya yang tulus, disamping tersediannya lingkungan yang baik, maka tidak diragukan bahwa anak tersebut akan terdidik dalam keutamaan iman dan takwa, juga akan terbiasa dengan akhlak yang terpuji.”30
29
Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam Jilid 2, (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), Cet. Ke-2, h. 142
30
Ada hal-hal penting yang harus diketahui oleh para pendidik dalam hal mengajarkan kebaikan kepada anak-anak dan membiasakan anak berbudi pekerti yang luhur, yaitu mengikuti sistem stimulasi kepada anak-anak dengan kata-kata uyang baik dan pemberian hadiah. Sewaktu-waktu menggunakan metode targhib ( pemberian stimulus berupa pujian) dan dengan metode tarhib ( pemberian stimulus berupa peringatan atau sesuatu yang ditakuti).
Metode pembiasaan adalah termasuk prinsip utama dalam pendidikan merupakan metode paling efektif dalam pembentukan akidah dan penelusuran akhlak anak, karena didasarkan pada perhatian dan pengikutsertaan, didirikan atas dasar targhib dan tarhib serta bertolak dari bimbingan dan pengarahan.
3. Metode Nasihat
Dalam mewujudkan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, nasehat dan cerita merupakan metode yang bertumpu pada bahasa, baik lisan maupun tertulis.Termasuk metode pendidikan yang cukup berhasil dalam pembentukan akidah anak dan mempersiapkannya baik secara moral, emosional maupun sosial, adalah pendidikan anak dengan petuah dan memberikan kepadanya nasehat-nasehat. Karena nasehat dan petuah memilki pengaruh yang cukup besar dalam membuka mata anak-anak terhadap kesadaran akan hakekat sesuatu.31
Cara seperti ini banyak sekali dijumpai dalam al-Qur’an,karena nasehat dan cerita pada hakekatnya bersifat penyampaian pesan dari sumbernya kepada pihak yang dipandang memerlukannya.Bahasa al- Qur’an dalam berdakwah serta dalam menyampaikan petuah dan nasehat sungguh sangat beragam.
Metode al-Qur’an dalam menyajikan nasehat dan pengajaran mempunyai ciri tersendiri, yaitu:
31
• Seruan yang menyenangkan, secara dibarengi dengan kelembutan atau upaya penolakan.
• Metode cerita disertai perumpamaan yang mengandung pelajaran dan nasehat.
• Metode wasiat dan nasehat
Metode-metode di atas, masing-masing mempunyai pengaruh yang sangat besar. Karenannya, jika para pendidik menggunakan metode yang telah digunakan al-Qur’an ini, maka tidak diragukan lagi, anak-anak akan tumbuh dalam kebaikan, keutamaan akhlak dan tingkah laku yang terpuji.
4. Metode Perhatian dan Pengawasan
Yang dimaksud metode perhatian dan pengawasan adalah senantiasa mencurahkan perhatian penuh dan mengikuti perkembangan aspek akidah dan moral anak, mengawasi dan memperhatikan kesiapan mental dan sosial.
Berikut ini beberapa contoh tentang perhatian dan pengawasan Rasulullah SAW, yaitu:
• Perhatian dalam pendidikan sosial
• Perhatian dalam memperingatkan yang haram • Perhatian dalam mendidik anak
• Perhatian dalam memberi petunjuk kepada kaum dewasa, dan • Perhatian dalam pendidikan spiritual.32
Demikianlah sebagian conto dalam upaya perhatian dan pengawasan Rasulullah SAW kepada anggota masyarakat yanmg melaksanakan petunjuk perbaikannya. Ini merupakan contoh nyata menguatkan bahwa Rasul sangat memperhatikan pendidikan umat Islam. Oleh karena itu hendaklah kita senantiasa memperhatikan dan mengawasi anak-anak dengan sepenuh hati. Dengan begitu anak akan
32
menjadi seorang mukmin yang bertakwa disegani, dihormati dan terpuji.
5. Metode Hukuman
Hukuman-hukuman dalam Islam dikenal dengan dua macam, yaitu hudud dan ta’zir. Hudud adalah hukuman yang telah ditentukan oleh syari’at Islam, yang wajib dilaksanakan karena Allah SWT. Seperti had bagi orang yang minum-minuman keras, adalah dicambuk antara- 40-80 kali. Sedangkan ta’zir adalah hukuman yang tidak ditentukan oleh Allah SWT untuk setiap perbuatan maksiat yang didalamnya tidak terdapat untuk memberi pelajaran bagi orang lain demi kemaslahan umat, karena hukuman ta’zir ini tidak ditentukan, maka hendaknya diperhitungkan bentuk hukuman yang sesuai dengan kesalahannya.33
Para ahli pendidikan melarang pendidikan menggunakan metode hukuman kecuali setelah mengeluarkan ancaman, peringatan dan nasehat. Metode hukuman adalah cara yang paling akhir, ini berarti bahwa disana terdapat beberapa cara dalam memperbaiki dan mendidik.
Pendidikan hendaknya bijaksana dalam menggunakan cara hukuman, yang sesuai, tidak bertentangan dengan tingkat kecerdasan anak. Pendidikan dan pembawaannya. Disamping itu, hendaknya ia tidak segera menggunakan hukuman, keculai setelah menggunakan cara-cara lain, metode hukuman adalah cara yang paling akhir.