BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
Untuk melengkapi penulisan tesis ini dengan tujuan agar dapat lebih terarah dan dapat di pertanggungjawabkan secara ilmiah, maka metode penelitian yang digunakan antara lain :
1. Sifat dan Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisa konstruksi yang di lakukan secara metodollogi, sistematis dan konsisten.28 Dari segi penelitian hukum, penelitian ialah suatu kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisanya. Kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul didalam gejala yang bersangkutan.29
Jenis penelitian hukum yang dipakai oleh peneliti dalam penulisan tesis ini ialah penelitian hukum empiris yang merupakan salah satu penelitian hukum yang menganalisis dan mengkaji bekerjanya di dalam masyarakat. Bekerjanya hukum didalam masyarakat dapat dikaji dari tingkat efektifitasnya hukum, kepatuhan terhadap hukum, peranan lembaga atau institusi hukum di dalam penegakan hukum, implementasi aturan hukum, pengaruh masalah sosial terhadap aturan hukum.
Adapun dalam penelitian hukum ini yang menjadi subjek yaitu perilaku hukum (legal
28Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UI-Press, 1981, hlm 42.
29Bernard Arief Shirdata, Moralitas Profesi Hukum Suatu Tawaran Kerangka Berfikir, Bandung, Refika aditama, 2006, hlm 43.
behavior). legal behavior, yaitu perilaku nyata dari individu atau masyarakat yang sesuai atau dianggap pantas oleh kaidah-kaidah hukum yang berlaku.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan Kabupaten Kampar, Propinsi Riau tepat nya di Kecamatan Siak Hulu dan Kecamatan Tambang, Juga pada Kantor Pertanahan Kabupaten Kampar, dimana penelitian ini akan mengkhususkan pembahasannya pada penelitian tentang Analisa Hukum Atas Kepemilikan Tanah Kavlingan Milik Kelompok Pegawai Pensiunan Departemen Kehutanan di Kabupaten Kampar.
Penelitian ini juga akan membahas masalah bagaimana sejarah kepemilikan tanah, serta bagaimana proses kemilikan alas hak atas tanah, juga melihat bagaimana bisa terjadi sengketa atas tanah serta penyelesaian konflik tanah yang terjadi serta bagaimana upaya penyelesaian sengketa yang terjadi.
3. Sumber Data
Berdasarkan sifat penelitian tersebut diatas, maka data yang dikumpulkan berasal dari data bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti.
a. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang berkekuatan mengikat sebagai landasan utama yang dipakai dalam rangka penelitian yaitu : Undang-undang Dasar 1945, Undang-undang Nomor 5 tahun 1960 (UUPA), Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup, Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang / Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2016 Tentang Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap, Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 11 Tahun 2016 tentang Penyelesaian Kasus Pertanahan.
b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang berkaitan erat dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami bahan hukum primer, seperti hasil-hasil penelittian, hasil seminar, hasil karya dari kalangan hukum dan dokumen-dokumen yang berkaitandenganpermasalahan kepemilikan hak atas tanah juga sengketa tanah antara masyarakat dengan perusahaan.
c. Bahan hukum tertier yaitu bahan yang memberikan informasi tentang bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum, ensiklopedia, dan lain-lain30.
4. Tehnik pengumpulan data
Pada penulisan penelitian ini maka penulis memakai cara pengumpulan data dilapangan yang dilakukan dengan :
a. Wawancara; yaitu dengan melakukan wawancara langsung dengan responden atau orang-orang, lembaga dan /atau badan yang terlibat langsung dengan permasalahan yang sedang diteliti. Dan memberikan beberapa pertanyaan
30Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian hukum, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hlm 30.
yang mengkonstruksikan mengenai : orang; kejadian; kegiatan; perasaan;
motivasi; tuntutan; kepedulian; dan lain-lain.
b. Observasi; yaitu melakukan pengamatan secara langsung terhadap subjek penelitian.31
5. Analisis Data
Dalam penelitian analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data termasuk juga data yang di peroleh dari hasil wawancara dengan para responden yang berkaitan hubungkannya dengan peraturan-peraturan yang berlaku, menghubungkan dengan pendapat pakar hukum serta pihak yang terkait.
Analisis data sebagai tindak lanjut proses pengolahan data merupakan kerja seorang peneliti yang memerlukan ketelitian, dan pencurahan daya pikir secara optimal. Kemudian dianalisis secara menyeluruh tentang gejala dan fakta yang terdapat dalam hasil penelitian terhadap Proses Pembuatan Alas Hak Tanah Kaplingan Milik Kelompok Pegawai Pensiunan Departemen Kehutanan Kabupaten Kampar, sehingga terlihat bagaiman penerapan hukum jika terjadi permasalahan.
Analisis data ini dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif di karnakan kedua data ini sangat digunakan dalam penelitian hukum empiris.
31H. Salim HS,dan Erlies Septiana Nurbani, Op., Cit., hlm 26.
BAB II
PROSES PEMBUATAN ALAS HAK TANAH KAVLINGAN MILIK KELOMPOK PEGAWAI PENSIUNAN
DEPARTEMEN KEHUTANAN DI KABUPATEN KAMPAR
A. Gambaran Umum Kabupaten Kampar
Sejarah perkembangan Kabupaten Kampar diawali dengan diterbitkannya Surat Keputusan Gubernur Militer Sumatera Tenggah Nomor 3/DC/STG/50 Tanggal 06 Februari 1950, hal ini tertuang dalam Perda Kabupaten Kampar Nomor 02 Tahun 1999, yang menyatakan bahwa Kabupaten Kampar merupakan salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Riau terdiri dari Kewedanan Pelalawan, Pasir Pengarayan, Bangkinang, dan Pekanbaru Luar Kota dengan Ibukota Pekanbaru. Kemudian berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1956 Ibukota Kabupaten Kampar dipindahkan ke Bangkinang dan baru terlaksana tanggal 6 Juni 1967.
Ibukota Kabupaten Kampar terletak di Kota Bangkinang yang berjarak ± 61 Km dari Kota Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau. Sedangkan jarak ibukota kecamatan terjauh dari Kota Bangkinang adalah Gema yang merupakan ibukota Kecamatan Kampar Kiri Hulu dengan jarak lurus ± 61 Km. Sebagai ibukota Kabupaten Kampar, Kota Bangkinang saat ini telah tumbuh menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan dan jasa.
Kondisi infrastruktur perhubungan yang semakin baik turut memperlancar akses dari setiap ibukota kecamatan ke Kota Bangkinang, sehingga pelayanan
administrasi pemerintahan dapat berjalan dengan baik32. Pada awalnya Kabupaten Kampar terdiri dari 19 Kecamatan dengan luas 30.569,56 Km2, Kemudian berdasarkan Keputusan Mentri Dalam Negeri Nomor 105 Tahun 1994 dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1995 dan Peraturan Daerah Tingkat I Riau Nomor 06 Tahun 1995, Kabupaten Kampar ditetapkan sebagai salah satu Proyek Percontohan Otonomi.
Pelaksanaan Otonomi Daerah di tingkat Kabupaten dan Kota sesuai dengan Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999, bermunculan daerah Kabupaten/Kota yang baru di Provinsi Riau yang berasal dari pemekaran beberapa Kabupaten, salah satunya yaitu Kabupaten Pelalawan termasuk Kabupaten Kampar. Terjadinya pemekaran di Kabupaten sehingga saat ini Kabupaten Kampar mempunyai Luas wilayah Kabupaten Kampar saat ini kurang lebih ± 1.128.928 Ha. Dari 2 kecamatan yang ada di Kabupaten Kampar, Kecamatan Tapung merupakan kecamatan yang memiliki wilayah terluas yakni 136.597 Ha (12,1%), diikuti oleh Kecamatan Kampar Kiri Hulu yakni 130.125 Ha (11,5%) dan Kecamatan Tapung Hulu 116.915 Ha (10,4%). Sedangkan kecamatan dengan luas wilayah terkecil yaitu Kecamatan Rumbio Jaya 7.692 Ha (0,7%), Kecamatan Kampar Utara 7.984 Ha (0,7%).
Kabupaten Kampar terletak antara 01°00’40’’ Lintang Utara sampai dengan 00°27’00’’ Lintang Selatan, dan 100º28’30’’ sampai dengan 10 14’30’’ Bujur Timur, dengan batas wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Pakanbaru dan Kabupaten Siak;
32Profil Kabupaten Kampar
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Kuantan Singingi;
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hulu dan Provinsi Sumatera Barat;
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Siak.33 Kabupaten Kampar saat ini secara administrasi pemerintahan terdiri dari 21 (dua puluh satu) Kecamatan dengan 8 Kelurahan dan 242 Desa. Berdasarkan kondisi wilayah, dari 250 Desa/Kelurahan yang ada, saat ini terdapat 177 desa/kelurahan (70,8%) merupakan desa non tertinggal (desa biasa), 55 desa (22%) adalah desa tertinggal, dan 18 desa (7,2%) adalah desa sangat tertinggal yang sebagian besar desa-desa tersebut berada di wilayah Kecamatan Kampar Kiri Hulu dan Kecamatan Koto Kampar Hulu.
Di wilayah Kabupaten Kampar terdapat beberapa potensi bahan galian tambang non migas. Potensi bahan galian wilayah ini terdiri dari pasir, batubara, kerikil, dan pasir kuarsa, batu gamping/batu kapur, timah putih, timah hitam, mangan dan bitumen. Potensi bahan galian tersebut terdapat di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Kampar meliputi Kecamatan Kampar Kiri, Kampar Kiri Hulu, XIII Koto Kampar, Bangkinang Barat, Salo, Tapung, Bangkinang, Kampar, Tambang, dan Siak Hulu. Untuk pertambangan migas, Kabupaten Kampar mempunyai produksi yang cukup besar. Produksi tambang migas tersebar di beberapa kecamatan yaitu Tapung, Tapung Hulu, dan Tapung Hilir.
33Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 tahun 2015 tentang Batas Daerah Kabupaten Kampar Dengan Kota Pekanbaru Provinsi Riau
Perkembangan ekonomi nasional tentu akan berimbas pada kinerja ekonomi Kabupaten Kampar tahun 2015.34 Pertumbuhan ekonomi diharapkan membaik apabila terjadi keseimbangan antara pertumbuhan makro dan mikro ekonomi di berbagai sektor dan subsector, agar proyeksi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kampar pada tahun 2014 tidak jauh berbeda dengan Tahun 2015 yang diharapkan akan terus meningkat, maka perlu didukung dengan nilai investasi yang cukup tinggi serta nilai ekspor dan impor yang proporsional.
Selain itu perlu peningkatan penguatan daya tahan ekonomi lokal melalui peningkatan daya saing dan diversifikasi produk serta perluasan kesejahteraan rakyat, sehingga pertumbuhan ekonomi diharapkan akan terus meningkat. Laju inflasi akan mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan laju inflasi nasional dan regional Riau, sehingga perlu adanya policy khusus untuk menjaga stabilitas harga. Pada Tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kampar diproyeksikan meningkat pada kisaran 7,35%. Sementara itu, inflasi diperkirakan sebesar 6,46%. Gambaran lengkap tentang kondisi investasi dan inflasi Kabupaten Kampar dapat dilihat pada tabel berikut.
Prioritas pembangunan daerah merupakan penjabaran dari proses tahapan kedua Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Kampar Tahun 2011-2016. Prioritas yang disusun dan yang akan dilaksanakan juga merupakan jawaban atas isu-isu strategis dan permasalahan yang berkembang saat ini. Karena kemampuan keuangan daerah masih terbatas, penentuan prioritas pembangunan
34Ibid
daerah di tahun 2015 harus berdasarkan pada RPJMD Kabupaten Kampar Tahun 2011-2016 dan permasalahan yang dihadapi tahun 2014. Di samping itu, prioritas pembangunan daerah ditetapkan berdasarkan pada hasil evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu, dan capaian kinerja yang direncanakan dalam RPJMD, identifikasi isu strategis dan masalah krusial, rancangan kerangka ekonomi daerah serta kerangka pendanaan.
Prioritas pembangunan daerah ini menjadi arahan bagi seluruh SKPD dalam menjabarkan program dan kegiatan yang direncanakan serta kebutuhan pendanaan untuk mencapai sasaran pembangunan yang diinginkan35. Kabupaten Kampar yang berbatasan dengan Ibu kota Propinsi, pada tahun 1980 an masyarakat biasanya mengadakan pembukaan lahan dengan cara yang dikenal dengan tebang tebas, kemudian oleh orang yang membuka lahan denagn tebang tebas ini berinisiatif untuk meminta tanda bukti atas pembukaan lahan tersebut. Maka terbitlah yang disebut Surat Izin Tebang Tebas.
Terbitnya Surat Izin Tebang Tebas yang dimiliki oleh masyarakat di suatu lahan atau tanah, sehingga msyarakat dengan bebas mengarap tanah untuk peladangan padi dan lain-lain. Dan pada saat pemegang izin tersebut ingin mengalihkan tanah tersebut barulah ada yang disebut Surat Keteranagn Ganti Rugi (SKGR). Sebagai imbalan yang diterima oleh orang yang telah membuka lahan tersebut36.
35Ibid
36 Novita Kristian, Tinjauan Yuridis Tentang Diterimanya Tanah-Tanah yang Belum Bersertipikat sebagai Jaminan Fidusia, (Studi Kasus Surat Keterangan Ganti Rugi Di Pekanbaru), Tesis Universitas Indonesia, 2007, hlm 55.
Dalam hal pengurusan penerbitan SKGR tersebut yang menjadi alas hak dasar berupa Surat Keterangan Pembukaan Hutan kepada yang ingin membukanya melalui prosedur yang telah ditelaah, ditentukan, dan untuk pengajuan pembukaan lahan tersebut haruslah memiliki surat keterangan tanah yang dikeluarkan oleh kepala desa/camat di tempat tanah tersebut berada. Sedangkan dengan surat izin tebang tebas tersebut tidak selamanya dimiliki oleh yang mendapatkan izin membuka hutan karena adakalanya tanah tersebut dijual kepada pihak lain, dalam ketentuan apabila seseorang mau menjual tanahnya kepada pihak lain maka pihak lain itu harus menganti rugi atas lahan atau tanah tersebut37.
Karena kebutuhan masyarakat terhadap bukti kepemilikan hak atas tanah di Provpinsi Riau cukup tinggi, oleh sebab itu masyarakat menginginkan jaminan kepastian hukum dibidang pertanahan guna dapat memiliki penguasaan yang aman untuk mengunakan dan menguasai tanah mereka sehingga dikemudian hari tidak terdapat gangguan-gangguan dari pihak lain.
B. Kepemilikan Tanah kavlingan Kelompok Pegawai Pensiunan Departemen Kehutanan
Setelah dibentuknya UUPA maka semua transaksi tanah dan hak peralihan atas tanah diatur dalam UUPA, maka dilihat dari konsep kepemilikan bagi pihak yang secara hukum memiliki hak atas tanah, baik yang telah didaftarkan maupun belum didaftarkan dapat mengalihkan hak atas tanah. Maksudnya memindahkan hak hak atas tanah yang dimiliki oleh pihak lain, dengan perpindahan dimaksud, maka hak
37Ibid
akan berpindah. Hak (right) yang dimaksud, adalah hubungan hukum yang melekat sebagai pihak yang berwenang atau yang berkuasa untuk melakukan tindakan hukum.
Didalam terminologi hukum kata-kata “right” diartikan hak yang legal atau dasar untuk melakukan sesuatut indakan secara hukum38.
Secara yuridis, Peralihan hak atas tanah dapat dilakukan melalui beberapa proses, antara lain : 1) Jual Beli; 2) Hibah; 3) Tukar Menukar; 4) Pembagian hak bersama; 5) Pemasukan dalam perusahaan; 6) Penyerahan Hibah Wasiat. Terkait dengan pemindahan atau peralihan hak atas tanah, dilihat dari karaktaristik hak dan proses peralihan haknya, memiliki unsure berbeda, terutama yang terkait formil dan materil, prosedur, maupun mekanisme yang sangat ditentukan oleh sifat atau keadaan subjek dan objek hak. Namun demikian syarat utama adalah harus adanya alat bukti hak atas tanah, yakni bukti kepemilikan secara tertulis (formil) yang berupa
“sertipikat” untuk tanah yang sudah terdaftar, maupun “bukti pendukung” untuk tanah yang belum didaftarkan atau yang belum bersertipikat.
Bukti yang dimaksud untuk tanah yang belum bersertipikat dapat berupa : akta jual beli, hibah, fatwa waris, surat keputusan pemberian hak atas tanah tersebut memenuhi syarat legalitas menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Peralihan hak atas tanah menurut yuridis dilakukan secara tertulis dengan akta yang dibuat oleh pejabat yang berwenang dan didaftarkan pada badan pertanahan nasional (kantor pertanahan Kabupaten/kota)39.
38I.P.M Ranuhandoko, Terminologi Hukum Inggris-Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika, cet ke 2, 2000, hlm 487.
39Andy Hartanto, Op. Cit.
Berikut akan dipaparkan bagaiman Riwayat Kepemilikan tanah kavlingan Kelompok Pegawai Pensiunan Departemen kehutanan Provinsi Riau yang membeli tanah kavlingan di Desa Kuabang raya Kecamatan Siak Hulu, dengan melakukan wawancara langsung. Tanah kavlinagan yang dibeli dengan surat Akta Jual Beli (AJB) pada tahun 1986, dengan surat Dasar SKT tahun 1985, pada awal SKT terbit atas dasar awalnya adalah tanah Negara yang dulu ditebang tebas oleh 9 (Sembilan) orang sebagai perintis penggarap tanah untuk dijadikan lahan pertanian, diantara dari 9 (Sembilan) orang.
Bapak M. Nasir, Bapak Muklis dan Ibu Ani. Kemudian Tanah tersebut di pecah-pecah sehingga menjadi tanah kavlingan, kemudian Kelompok Pegawai Departemen Kehutan yang pada saat itu masih sebagai Pegawai bersama-sama membeli tanah kavlingan dengan cara cicilan (Kredit) tiap bulan dipotong langsung dari gaji dengan di Koordinir oleh Maulana Harahap dengan memakai bukti kwitansi disetiap pembayaran, dan semua pengurusan Surat Akta Jual Beli (AJB) diserahkan sepenuhnya kepada Maulana Harahap, apabila sudah lunas baru diserahkan AJB tersebut kepada kelompok pegawai pensiunan.40
Pernyataan Bapak Mukhlis sebagai salah satu dari 9 (Sembilan) orang penggarap tanah, bahwa 9 (Sembilan) orang perintis yang menamakan merekan sebagai kelompok petani dulu benar-benar menggarap lahan dan mempergunakan sebagai tambahan penghasilan dengan menanami padi, dan kemudian setelah
40 Hasil Wawancara dengan Bpk Dahlan Napitupulu, sebagai salah satu pihak Kelompok Pegawai Pensiunan Departemen Kehutanan, Pekanbaru, Kantor Konservasi Sumber Daya Alam (Balai Besar Departemen Kehutanan), Jln HR Subrantas Panam, tanggal 26 Agustus 2016.
beberapa tahun kelompok petani bersama-sama berinisiatif untuk menjual tanah yang kelompok petani garap tersebut, berdasarkan SKT (Surat Keteranagan Tanah) yang kelompok petani miliki lalu kelompok petani memecah-mecah lahan tersebut sehingga menjadi Kavlingan yang siap untuk dijual kepada masyarakat yang mau membeli41.
Tanah kavlingan yang dimiliki oleh Kelompok pegawai pensiunan Departemen Kehutanan tidak hanya milik dari Bapak Mukhlis, melainkan juga milik Bapak M.
Nasir dan Ibu Ani sebab kavlingan tersebut satu hamparan yang tidak terpisahkan satu sama lainnya dikarenakan berdasar kan SKT yang juga satu hamparan dengan masing-masing :
1. SKT No. 79/SK/85 ukuran 80 x 253;
2. SKT No. 172/SK/85 Ukuran 90 x 110 x 400;
3. SKT No.594/SK/87 Ukuran 80 x 100 x 400.
Sehingga tetap menjadi sempadan dan tercantum dalam Surat Akta Jual Beli.
Surat Akta Jual Beli dikeluarkan oleh Camat Siak Hulu dan pada saat itu ditandatnagani oleh Drs Raja Thamsir Rachman.
Tanah dengan SKT Nomor 79/SK/85 yang terletak didaerah RT. I, RW. V Desa Teratak Buluh (dulu) Kubang Jaya (sekarang) Kecamatan Siak Hulu Tinggat II Kampar dengan Ukuran serta batas sebelah menyebelah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara dengan tanah sdr H. Saib = 253 Meter
41Hasil Wawancara dengan Bpk Mukhlis, sebagai Pemilik dasar Tanah Kavlingan, Kubang Raya, Rumah Kediaman, tanggal 19 November 2016.
2. Sebelah Timur dengan tanah sdr Robu = 80 Meter 3. Sebelah Selatan dengan tanah sdr Mukhlis = 253 Meter 4. Sebelah Barat dengan tanah sdr Ani = 80 Meter
Dalam gambar situasi sebidang tanah yang dikeluarkan oleh Kepala Desa Teratak Buluh atas nama sdr M Nasir yang teletak di RT.I RW.V Kedesaan Teratak Buluh (dahulu) Kubang Jaya (sekarang) Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar dgn SKT No. 79/SK/85 dengan luas tanah 20.999 M2(Dua puluh ribu Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan meter persegi), terlihat bahwa tanah tersebut telah dijual dengan cara di Kavling maka di uruslah ke kantor Desa Teratak Buluh (dahulu).
Kavlingan tanah milik Bapak M. Nasir di beli oleh beberpa orang Pegawai Departemen Kehutanan Provinsi Riau, yaitu :
1. Maulana Harahap 2. Elmida
3. Zamansyur 4. Sahnan siregar 5. Deliater sitompul 6. Desmanelly 7. Dahlan napitupulu 8. Nong wilis
9. Nurhayati
Sedangkan Tanah dengan SKT Nomor 172/SK/85 yang terletak didaerah RT.
I, RW. V Desa Teratak Buluh (dulu) Kubang Jaya (sekarang) Kecamatan Siak Hulu Tinggat II Kampar dengan Ukuran serta batas sebelah menyebelah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara dengan tanah sdr Maulana Hrp/Ani = 200 Meter 2. Sebelah Selatan dengan tanah sdr Sinur = 200 Meter
3. Sebelah Timur dengan tanah sdr Suman = 90 Meter 4. Sebelah Barat dengan tanah sdr Mukhlis = 110 Meter
Dalam gambar situasi sebidang tanah yang dikeluarkan oleh Kepala Desa Teratak Buluh atas nama sdr Mukhlis yang teletak di RT.I RW.V Kedesaan Teratak Buluh (dahulu) Kubang Jaya (sekarang) Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar dgn SKT No. 172/SK/1985 dengan luas tanah 40.000 M2 (Empat puluh ribu meter persegi), terlihat bahwa tanah tersebut telah dijual dengan cara di Kavling maka di uruslah ke kantor Desa Teratak Buluh (dahulu).
Kavlingan tanah milik Bapak Mukhlis di beli oleh beberpa orang Pegawai Departemen Kehutanan Provinsi Riau, yaitu :
1. Nukman
Tanah dengan SKT Nomor 594/SK/87 yang terletak didaerah RT. I, RW. V Desa Teratak Buluh (dulu) Kubang Jaya (sekarang) Kecamatan Siak Hulu Tinggat II Kampar dengan Ukuran serta batas sebelah menyebelah sebagai berikut:
1. Sebelah Utara dengan tanah sdr H. Saib = 400 Meter 2. Sebelah Timur dengan tanah sdr M Nasir = 80 Meter 3. Sebelah Selatan dengan tanah sdr Mukhlis = 400 Meter 4. Sebelah Barat dengan tanah sdr M. Nasir = 100 Meter
Dalam gambar situasi sebidang tanah yang dikeluarkan oleh Kepala Desa Teratak Buluh atas nama sdri ANI yang teletak di RT.I RW.V Kedesaan Teratak Buluh (dahulu) Kubang Jaya (sekarang) Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar dgn SKT No. 594/SK/87 dengan luas tanah +- 90.000 M2 (Sembilan puluh ribu meter persegi), tanah milik Ibu Ani tidak Mengkavling semua tanah miliknya. Hanya sebahagian dari tanah tersebut telah dijual dengan cara di Kavling maka di uruslah ke kantor Desa Teratak Buluh (dahulu).
Kavlingan tanah milik Ibu ANI di beli oleh beberpa orang Pegawai Departemen Kehutanan Provinsi Riau, yaitu :
1. Riyanto 2. Tri harianto
3. Abdul hakim purba 4. Blisker manurung 5. Japarlin purba 6. Tongam panjaitan 7. Drs. Wesly panjaitan 8. E.p simatupang 9. Maulana harahap
C. Proses Pembuatan Alas Hak Tanah Kavlingan Milik Kelompok Pegawai Pensiunan Departemen Kehutanan di Kabupaten Kampar
Kabupaten Kampar saat ini sedang masa pemekaran dan pengembangan wilayah sehingga masyarakat banyak yang ingin memiliki sebidang tanah, baik itu
untuk berkebun/berladang, investasi serta ingin langsung membangun tempat tinggal42. Namun banyak masyarakat yang tidak memperhatikan bagaimana dasar alas hak yang dimiliki oleh sipenjual tanah kavlingan, banyak masyarakat hanya tergiur atau terlena dengan bahasa dan kata-kata dari sipenjual tanah kavlingan dengan menyatakan kalau nantinya wilayah ini akan masuk wilayah kota madiyah Pekanbaru yang akan diperluas.
Dengan demikian masyarakat berminat ingin memiliki tanah kavlingan tanpa terlebih dahulu mengetahui bagaimana kondisi atau letak tanah yang akan dibeli serta bagaimana status tanah dan juga bagaimana dasar alas hak atas tanah, setelah masyarakat membeli sebidang tanah tidak jarang masyarakat membiarkan tanah mereka dalam kata lain masyarakat tidak menguasai langsung fisik dari tanah
Dengan demikian masyarakat berminat ingin memiliki tanah kavlingan tanpa terlebih dahulu mengetahui bagaimana kondisi atau letak tanah yang akan dibeli serta bagaimana status tanah dan juga bagaimana dasar alas hak atas tanah, setelah masyarakat membeli sebidang tanah tidak jarang masyarakat membiarkan tanah mereka dalam kata lain masyarakat tidak menguasai langsung fisik dari tanah