Penelitian ini dilakukan di Desa Sukajadi, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara tertuju (purposive) dengan pertimbangan bahwa mayoritas petani di Desa Sukajadi sudah memanfaatkan limbah ternak sapi lebih dari dua musim tanam dibandingkan desa lainnya yang ada di Kecamatan Cariu. Kegiatan pengumpulan data untuk keperluan penelitian ini dilakukan pada bulan April – Juni 2013.
4.2 Metode Pengambilan Sampel
Penelitian ini menggunakan studi kasus tentang aspek struktur biaya dan efisiensi pendapatan usahatani antara yang melakukan pemanfaatan limbah ternak sapi potong dengan yang tidak melakukannya. Penelitian ini juga akan memaparkan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi petani mau melakukan pemanfaatan limbah. Pemilihan responden dilakukan dengan mengambil dua macam sampel yaitu, petani yang sudah memanfaatkan limbah sapi potong dan petani yang belum memanfaatkan limbah.
Penelitian ini menggunakan 60 responden yang terbagi menjadi dua, yaitu 30 orang petani yang sudah memanfaatkan limbah dan 30 orang petani yang belum memanfaatkan limbah dalam berusahatani. Data awal petani yang sudah melakukan pemanfaatan limbah sapi potong maupun yang belum memanfaatkan diterima dari Dinas UPT Puskeswankan Jonggol-Cariu dan juga Desa Sukajadi. Setelah mendapatkan data petani, peneliti mulai mengambil data primer dengan menerapkan teknik pengambilan sampel bola salju (snowball sampling).
Data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi langsung di lapangan untuk mengetahui situasi dan kondisi lapangan. Penelitian ini juga diperlengkapi dengan studi literatur yang akan memberikan informasi penting berkaitan dengan penelitian.
21 4.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data cross section. Penelitian dilakukan dengan mengamati perkembangan usahatani melalui analisis struktur biaya dan efisiensi pendapatan yang diperoleh petani dalam satu kali musim tanam. Sumber data penelitian diperoleh dari data primer dan sekunder. Data primer dilakukan dengan mengajukan kuesioner secara langsung kepada responden yaitu petani yang memanfaatkan limbah dan petani yang tidak memanfaatkan limbah.
Adapun data primer yang dibutuhkan pada penelitian ini antara lain: karakteristik petani, struktur biaya usahatani, penerimaan usahatani padi, pendapatan usahatani padi, dan data mengenai jumlah limbah yang dihasilkan, digunakan, dan cara petani memanfaatkan limbah sapi potong terhadap usahatani padinya. Tabel 6 di bawah ini akan menjelaskan sumber perolehan data sekunder dalam penelitian ini sekaligus data yang diperoleh dari sumber tersebut.
Tabel 6 Sumber perolehan data sekunder
Uraian Data Sumber Data Produksi padi dan kepemilikan ternak di Kecamatan
Cariu
Dinas Pertanian Kabupaten Bogor
Petani dengan kepemilikan ternak sapi potong yang bisa menjadi responden
Kantor UPT Puskeswankan Cariu-Jonggol dan Desa Sukajadi
Monografi desa dan potensi sumber daya alam desa Desa Sukajadi dan Kantor Kecamatan Cariu
Luas lahan petani di Desa Sukajadi yang menjadi responden
Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K) Cariu
Sumber: Penulis (2014)
Selain data primer dan sekunder, referensi dan sumber informasi yang digunakan dalam menyusun proposal penelitian ini juga melalui skripsi maupun tesis terdahulu yang relevan, buku dan jurnal terkait, serta jaringan internet untuk info-info terkini.
4.4 Metode Pengambilan dan Analisis Data
Data dan informasi yang telah didapat kemudian diolah dengan bantuan
Microsoft Excel 2007 dan SPSS 17. Data dan informasi dikelompokkan terlebih dahulu ke dalam komponen biaya dan penerimaan. Analisis data dalam penelitian dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk
22
mengetahui gambaran umum mengenai keragaan usahatani padi yang dilakukan petani di Desa Sukajadi. Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis struktur biaya petani dan efisiensi pendapatan petani yang memanfaatkan limbah maupun petani yang tidak memanfaatkan limbah serta analisis menggunakan regresi logistik untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan petani melakukan usahatani padi dengan memanfaatkan limbah ternak sapi potong sehingga pada akhirnya diketahui keuntungan menerapkan usahatani padi dengan memanfaatkan limbah ternak sapi potong dimana petani sudah memanfaatkan limbah kotoran ternak sapi miliknya.
4.4.1 Analisis Struktur Biaya dan Pendapatan Usahatani
Menurut Soekartawi (1986), pendapatan bersih usahatani adalah selisih antara pendapatan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani. Persamaannya secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :
∑ ∑ Keterangan: i = 1 = tunai i = 2 = tidak tunai P = Pendapatan usahatani (Rp) TR = Total penerimaan (Rp) TC = Total pengeluaran (Rp)
Adapun penerimaan usahatani merupakan perkalian antara jumlah produksi dengan harga jual (Soekartawi, 1995). Rumus penerimaan dapat ditulis sebagai berikut :
Keterangan:
TR = Total penerimaan (Rp)
P = Harga jual produksi per unit (Rp/kg)
Q = Produksi yang diperoleh dalam satuan usahatani (Kg)
Nilai total biaya diperoleh dengan menjumlahkan semua biaya yang dikeluarkan selama proses produksi berlangsung. Biaya tersebut terdiri atas total biaya tetap dan total biaya variabel. Persamaannya secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: ∑ ∑ ∑
23 Keterangan:
TC = biaya total (Rp)
TVC = biaya variabel total (Rp)
TFC = biaya tetap total (Rp)
Menentukan upah tenaga kerja di pedesaan ditentukan juga oleh umur tenaga kerja. Mereka yang tergolong di bawah usia dewasa akan menerima upah yang juga lebih rendah bila dibandingkan dengan tenaga kerja yang dewasa. Oleh karena itu, penilaian terhadap upah perlu distandarisasi menjadi “Hari Kerja Orang” (HKO). Perhitungannya didasarkan pada upah dan hitung sebagai berikut:
satu HKO = (X/Y) Z dimana:
X = upah tenaga kerja yang bersangkutan Y = upah tenaga kerja pria
Z = satu HKO
Dengan demikian, karena upah sehari tenaga kerja pria di Desa Sukajadi adalah Rp 30 000 dan upah tenaga kerja anak adalah Rp 20 000 per hari, maka untuk tenaga kerja anak setara dengan (20 000/30 000) x 1HKO = 0.66 HKO. Upah tenaga kerja wanita di Desa Sukajadi sama dengan upah tenaga kerja pria.
Menurut Krista et al. (2010), biaya penyusutan peralatan pertanian diperhitungkan dengan membuat asumsi periode satu kali produksi selama berapa bulan kemudian mengestimasi umur ekonomis peralatan yang masuk dalam kategori investasi. Setelah itu umur ekonomis peralatan tersebut disesuaikan dengan mengacu kepada satu periode produksi. Adapun rumus penyusutan adalah sebagai berikut:
Struktur biaya usahatani padi yang memanfaatkan limbah ternak sapi potong dapat diamati melalui pengambilan data primer yang ditunjukkan Tabel 7.
24
Tabel7 Struktur biaya usahatani padi dengan dan tanpa pemanfaatan limbah per musim per kg per ha di Desa Sukajadi
Komponen Biaya
Petani yang memanfaatkan limbah
Petani yang tidak memanfaatkan limbah Rp Persentase (%) Rp Persentase (%) I. Biaya Tunai Biaya Tetap a. Penyusutan alat-alat b. Sewa mesin air c. Sewa mesin bajak d. Sewa lahan e. Pajak Sub total Biaya Variabel a. Benih
b. Pupuk (campuran urea/ KCL) c. Pestisida kimia
d. Tenaga kerja luar keluarga Sub total
Total biaya tunai II. Biaya Tidak Tunai Biaya Tetap
a. Penyusutan alat pertanian b. Tenaga kerja dalam keluarga Total biaya tidak tunai Total biaya
Keterangan : Persentase dalam total biaya Sumber: Penulis (2014)
4.4.2 Analisis Efisiensi Pendapatan
Menurut Soekartawi (1995), perhitungan rasio R/C secara matematik, dapat dirumuskan sebagai berikut:
a= {(Py.Y)/(TFC+TVC)}
R= Py.Y C= TFC+TVC Keterangan:
R = penerimaan padi (Rp/ha) C = total biaya (Rp/ha) Py = harga output Y = padi (ha/musim) TFC = biaya tetap (fixed cost) TVC = biaya variabel (variable cost)
25 Secara teoritis rasio R/C = 1 artinya tidak untung dan tidak rugi sehingga jika rasio R/C > 1 maka usahatani tersebut layak dilakukan dan menguntungkan. Menganalisis pendapatan menggunakan rasio R/C lebih baik jika dibagi dua. Pertama dengan menggunakan data pengeluaran (biaya produksi) yang secara riil
dikeluarkan oleh petani yaitu berdasarkan biaya tunai (selanjutnya akan disebut Tipe 1) sedangkan tipe lainnya sudah memasukkan biaya yang diperhitungkan sehingga berdasarkan biaya total. (selanjutnya akan disebut Tipe 2). Cara seperti ini akan memperlihatkan nilai R/C Tipe 1 selalu lebih besar dibandingkan Tipe 2 dan dengan menampilkan kedua tipe R/C tersebut akan membantu pembuat keputusan (petani) dalam mengambil keputusan (Soekartawi, 1995).
4.4.3 Uji Beda Pendapatan Menggunakan Paired Sample T-Test
Uji Beda Pendapatan Menggunakan Paired Sample t-test merupakan salah satu jenih uji perbedaan dua mean yang digunakan untuk menguji kesamaan rata- rataa dari dua sampel yang saling bebas atau tidak berpengaruh. Uji t bebas digunakan untuk mengetahui secara statistik apakah terdapat perbedaan yang nyata terhadap pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total antara petani yang memanfaatkan limbah ternak dengan petani yang tidak memanfaatkan limbah ternak. Hal ini dilakukan karena walaupun secara nominal pendapatan petani tersebut tidak sama, namun secara statistik belum tentu berbeda (Nazir, 1988). Asumsi yang digunakan pada pengujian ini adalah sampel menyebar secara normal.
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
H0 : Pendapatan usahatani padi dengan pemanfaatan limbah ternak = pendapatan usahatani padi tanpa pemanfaatan limbah ternak
H1 : Pendapatan usahatani padi dengan pemanfaatan limbah ternak lebih tinggi dibandingkan pendapatan usahatani padi tanpa pemanfaatan
limbah ternak
Taraf nyata (α) yang digunakan adalah 5% (0.05). Hipotesis H0 akan ditolak apabila P value < α dan sebaliknya hipotesis H0 akan diterima apabila P value > α.
4.4.4 Analisis Keputusan Petani Memanfaatkan Limbah
Adapun faktor-faktor yang diduga mempengaruhi keputusan petani di Desa Sukajadi adalah pendapatan dari usahatani padi miliknya, pendapatan dari
26
usaha sampingan selain usahatani padi, biaya pupuk kimia yang dikeluarkan oleh petani, jumlah tanggungan keluarga, dan juga pendidikan formal pertani. Model dugaan dari faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani untuk melakukan usahatani padi dengan memanfaatkan limbah ternak sapi potong adalah :
Z = α + X1 +X2 + X3 + X4 + X5 + ε Keterangan:
z = peluang petani menyatakan bersedia melakukan usahatani padi pemanfaatkan limbah ternak sapi potong (1) atau tidak bersedia melakukannya (0)
X1 = pendapatan usahatani padi terhadap biaya tunai (Rp) X2 = biaya pupuk kimia (Rp)
X3 = jumlah tanggungan keluarga (orang) X4 = lama pengalaman berusahatani (tahun) X5 = pendidikan formal petani (tahun) ε = error term
4.4.3.1 Hipotesis
Hipotesis yang digunakan dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan petani untuk melakukan usahatani padi yang memanfaatkan limbah ternak sapi potong adalah pendapatan usahatani padi milik petani, biaya pupuk kimia, jumlah tanggungan keluarga, lama pengalaman berusahatani, dan pendidikan formal petani diduga bernilai positif terhadap kesediaan petani mau melakukan usahatani padi yang memanfaatkan limbah ternak sapi potong.
4.4.3.2 Interpretasi Model Regresi Logistik
Interpretasi model regresi logistik dapat dilihat dari beberapa hal. Hal pertama yang dilihat adalah tabel overall test. Tabel ini menunjukkan signifikansi variabel X terhadap variabel Y. Apabila nilai signifikan dalam tabel < α dengan nilai model yang diperoleh maka akan diketahui berapa besar pengaruh variabel X terhadap variabel Y
Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:
H0 : tidak ada variabel X yang signifikan mempengaruhi variabel Y H1 : minimal ada satu variabel yang signifikan mempengaruhi variabel Y
27 Hal kedua yang dilihat untuk menginterpretasikan model regresi logistik adalah dengan melihat tabel partial test. Pada tabel ini menunjukkan apakah faktor-faktor yang mempengaruhi variabel Y mempengaruhi nyata terhadap keputusan petani melakukan pemanfaatan limbah. Penelitian ini mengangkat lima faktor, yaitu pendapatan usahatani padi, pendapatan usaha sampingan, biaya pupuk kimia, jumlah tanggungan keluarga, pendidikan formal petani.
Hal ketiga yang dilihat adalah goodness of Fit. Kelayakan model dapat dilihat dari dua sisi, yaitu secara substansi dan secara statistik. Kelayakan model secara substansi, yaitu dengan pengujian Hosmer Lemeshow, Negalgarke R- Square, dan juga Classification Plot. Hasil pengujian nilai Hosmer Lemeshow
berhubungan dengan tingkat kelayakan model yang digunakan telah cukup mampu atau tidak dalam menjelaskan data. Hasil pengujian nilai Negalgarke R- Square berhubungan dengan kesediaan petani memanfaatkan limbah yang bisa dijelaskan oleh model sebesar berapa persen. Hasil pengujian nilai Classification Plot berhubungan dengan penjelasan kesediaan petani memanfaatkan limbah yang ditunjukkan oleh model yang digunakan apakah telah cukup baik atau tidak menggunakan faktor-faktor yang diangkat oleh peneliti.
Interpresi rasio odds adalah dengan melihat apabila suatu peubah penjelas mempunyai tanda koefisien positif, maka nilai rasio odds akan lebih besar dari satu, sebaliknya jika tanda koefisiennya negatif maka nilai rasio oddsnya akan lebih kecil dari satu. Interpretasi koefisien dari nilai rasio odds untuk peubah penjelas yang berskala nominal X = 1, memiliki kecenderungan untuk Y = 1 sebesar a kali dibandingkan dibandingkan X = 0 atau dapat dikatakan X = 1 memiliki kecenderungan untuk Y = 0 sebesar 1/a kali dibandingkan X = 0. Interpretasi koefisien dari nilai rasio odds untuk peubah penjelas kontinu, jika a lebih besar atau sama dengan satu maka semakin besar nilai peubah X diikuti semakin besarnya kecenderungan Y = 1 (Hosmer et al 1989).
28