• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penentuan Daerah Penelitian

Penentuan daerah penelitian secara Purposive Sampling yaitu di Desa Dalu Sepuluh B Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang. Dengan pertimbangan bahwa daerah penelitian merupakan daerah sentra industri emping melinjo yang terbesar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1 :

Tabel 1. Daftar Sentra Emping Melinjo di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara Tahun 2010

NO. A L A M A T UNIT USAHA TENAGA KERJA NILAI PRODUKSI DESA/KEL. KEC. KAB./KOTA (UNIT) (ORANG) (Rp. 000) 1 Bandar Setia Percut Sei Tuan D. Serdang 40 80 735,000 2 Suka Raya Pancur Batu D. Serdang 4 11 168,000 3 Bandar Khalifah Percut Sei Tuan D. Serdang 40 80 735,000 4 Dalu X-B Tanjung Morawa D. Serdang 100 200 1,512,000 5 Naga Timbul Tanjung Morawa D. Serdang 20 20 126,000

6 Sidua-dua Kuala Hulu Lab. Batu 2 8 20,000

7 Rengas Pulau Medan Labuhan Medan 6 18 11,520 8 Tanah Merah Perbaungan Sergei 25 25 94,500

9 Bangun Siantar Simalungun 2 25 71,500

10 Huta Parik Ujung Pandang Simalungun 40 80 420,000

Sumber : Disperindag Sumut, 2010

Berdasarkan tabel di atas dapat kita ketahui di Desa Dalu Sepuluh B Kecamatan Tanjung Morawa merupakan daerah terbanyak penghasil emping melinjo di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.

Metode Pengambilan Sampel

Sampel dimulai dengan cara menelusuri saluran tataniaga mulai dari pangkal rantai tataniaga yaitu pengolah yang terdapat di Desa Dalu Sepuluh B sampai pada konsumen akhir.

1. Pengolah

Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel pengolah adalah secara accidental, yaitu siapa saja pengolah emping melinjo yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2006). Dalam penelitian ini sampel pengolah emping melinjo yang diambil adalah sebanyak 30 pengolah.

2. Pedagang

Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel pedagang yang digunakan adalah penelitian penelusuran (tracer study). To trace artinya mengkuti jejak yang tidak lain adalah menelusuri. Dari arti kata menelusuri dapat diketahui bahwa kegiatan yang ada dalam penelitian ini adalah mengikuti jejak seseorang yang sudah pergi atau sesuatu yang sudah lewat waktu (Arikunto, 2002). Dengan jumlah pedagang yang dijadikan sampel adalah sebanyak 23 pedagang yang diketahui dari sampel pengolah emping melinjo yang dipilih, yang terdiri dari 7 pedagang pengumpul, 5 pedagang perantara dan 11 pedagang pengecer.

Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner) kepada responden dan data sekunder merupakan data daerah sentra produksi emping diperoleh dari lembaga atau instansi terkait seperti Dinas Pertanian dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Deli Serdang, serta buku-buku yang mendukung penelitian ini.

Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dari lapangan terlebih dahulu ditabulasi dan selanjutnya di analisis. Adapun analisis datanya adalah sebagai berikut :

Untuk identifikasi masalah 1 akan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan menganalisis saluran-saluran tataniaga emping melinjo yang terdapat di daerah penelitian.

Untuk identifikasi masalah 2 akan diuji derngan menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan menganalisis hubungan antara harga yang di terima petani/ pedagang dengan harga yang dibayar oleh konsumen yang disebut dengan share

margin.

Menurut Sihombing (2011), adapun formula untuk menghitung margin tataniaga dan distribusinya pada masing-masing lembaga perantara adalah sebagai berikut : MP = Pr – Pf atau: MP =�Bi �=1 + � �� �=1 Keterangan : MP = Margin Tataniaga Pr = Harga di tingkat pengecer Pf = Harga di tingkat petani

� ��

�=1

= jumlah biaya tiap lembaga perantarake−i

� ��

�=1

Share biaya (SBi) masing-masing lembaga perantara menggunakan model :

��� = Bi

Pr−Pfx 100%

Share keuntungan (SKi) masing-masing lembaga perantara menggunakan model :

���= Ki

Pr−Pfx 100%

Share petani produsen (Sf) masing-masing lembaga perantara menggunakan

model : �� = Pf

Pr x 100%

Untuk menganalisis nisbah margin keuntungan, secara matematis dapat ditulis sebagai berikut : I

bti

Keterangan :

bti = Biaya tataniaga masing-masing lembaga pemasaran tingkat ke-i I = Keuntungan masing-masing lembaga pemasaran tingkat i

Untuk identifikasi masalah 3 akan diuji dengan metode analisis deskriptif yaitu dengan menganalisis Efisiensi Tataniaga emping melinjo di Kecamatan Tanjung Morawa Desa Dalu Sepuluh B.

Menurut Mubyarto (1989), sistem tataniaga dianggap efisien apabila memenuhi dua syarat yaitu :

1. Mampu menyampaikan hasil-hasil dari petani produsen kepada konsumen dengan biaya semurah-murahnya.

2. Mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen terakhir kepada semua pihak yang ikut serta di dalam kegiatan produksi dan tataniaga barang itu.

Menurut Herman Southworth di dalam buku Gultom (1996), cara untuk menghitung efisiensi tataniaga adalah dari share margin pengolah/produsen dengan rumus sebagai berikut :

� =

Pf ��

= 1-

M

Pr

x 100%

Keterangan :

S =Share Margin Produsen (pengolah) Pf =Harga jual petani

Pr =Harga beli konsumen M = Marketing margin

Apabila S>50% ; maka dikatakan efisien dan S<50% ; tidak efisien.

Defenisi dan Batasan Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan dalam penelitian ini maka dibuat defenisi dan batasan operasional sebagai berikut :

Defenisi

1. Produsen (pengolah) adalah petani yang melakukan pengolahan dari bahan baku menjadi barang jadi sebagai mata pencaharian.

2. Tataniaga adalah kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen.

3. Lembaga tataniaga adalah orang atau badan usaha yang terlibat dalam proses tataniaga emping melinjo.

4. Saluran tataniaga adalah seluruh channel bagian tataniaga yang terdiri dari lembaga-lembaga yang berperan dalam penyampaian barang atau

jasa dari produsen (pengolah) sampai ke konsumen akhir di kota Medan.

5. Pedagang besar adalah pedagang yang membeli produk langsung dari pengolah dan menjualnya kepada pedagang menengah dan pedagang kecil.

6. Pedagang pengecer adalah pedagang yang membeli produk dari pedagang menengah maupun dari pedagang besar dan menjual langsung ke konsumen.

7. Biaya tataniaga adalah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga dalam menyalurkan produk dari produsen ke konsumen.

8. Biaya produksi adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi atau proses pengolahan dari bahan baku menjadi barang jadi.

9. Share Margin adalah bagian yang diterima pengolah yaitu ratio antara

harga jual akhir pada tingkat petani/pengolah dengan harga yang dibayar oleh konsumen akhir.

10.Price Spread adalah sebaran harga atau totalitas harga pada setiap

komponen biaya tataniaga dan lembaga tataniaga.

11.Efisiensi Pemasaran adalah keberhasilan penyampaian barang dan jasa

sampai ke tangan konsumen dengan perolehan keuntungan sebesar-besarnya dan biaya semurahnya.

Batasan Operasional

Adapun batasan operasional dari penelitian ini adalah :

1. Daerah penelitian adalah di Desa Dalu X B, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.

2. Sampel penelitian adalah usaha pengolahan melinjo menjadi emping melinjo.

3. Responden penelitian adalah pengusaha pembuatan emping melinjo. 4. Waktu penelitian adalah tahun 2011.

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN

Dokumen terkait