Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Peneliti menggunakan kualitatif karena peneliti bermaksud untuk mendeskripsikan, menginterpretasi, dan menganalisis kondisi-kondisi yang terjadi secara mendalam, tanpa mengubah fakta yang terjadi. Oleh karenanya, penelitian kualitatif juga disebut sebagai penelitian naturalistik, yang merupakan penelitian dengan melihat fakta yang ada di lapangan secara apa adanya.
Fokus dari penelitian ini adalah pada aspek relasi budaya dan kekuasaan yang memengaruhi hakikat pendidikan seni anak. Relasi ini terpusat pada makna sehari-hari dari nilai, benda-benda material atau simbolis, norma yang digunakan untuk menjalani hidup sehari-hari. Sesuai dengan karakteristik tersebut, penelitian ini berusaha mendapatkan informasi yang mendalam mengenai habitus yang memengaruhi selera, dan kekerasan simbolik sebagai mekanismenya, yang terjadi dalam arena dunia pendidikan seni di Globalart. Maka dari itu, digunakanlah pendekatan studi kasus.31 Di dalam pendekatan studi kasus, data yang dihasilkan dari teknik pengumpulan data dengan wawancara lebih mendominasi. Hal tersebut bertujuan agar data yang diperoleh dapat membedah
31 Pendekatan studi kasus adalah deksripsi dan analisis intensif terhadap sebuah fenomena, kasus, atau individu Eugene Zechmeister, dkk.,
dan menelaah secara detail dan mendalam mengenai kasus pendidikan seni lukis anak di Globalart.
1. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek atau objek penelitian, tetapi oleh Spradley dinamakan sebagai situasi sosial yang terdiri dari tiga elemen yaitu tempat, pelaku, dan aktivitas yang berinteraksi secara sinergis.32 Situasi sosial tersebut dapat dinyatakan sebagai objek penelitian yang ingin dipahami secara mendalam tentang apa yang terjadi di dalamnya. Pada situasi sosial atau objek penelitian, peneliti dapat mengamati secara mendalam aktivitas (activity) orang-orang (actors) yang ada pada tempat (place) tertentu.
Aktivitas penelitian ini adalah praktik pendidikan seni lukis anak yang bertempat di Globalart Yogyakarta.33 Yogyakarta dipilih karena Yogyakarta merupakan kota pelajar dan kota budaya, yang
32 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011), 297.
33 Anak dalam penelitian ini adalah anak usia 3-6 tahun yang masih tergolong pada masa kanak-kanak awal. Anak pada masa kanak-kanak awal, memiliki presentase perkembangan otak yang pesat, di mana anak pada usia 0-6 tahun mempunyai potensi perkembangan otak mencapai 80%, sedangkan pada usia 17-18 tahun hanya berkembang sebanyak 20%. Sementara itu, teori neurosains modern menyatakan bahwa pada masa pertumbuhan tersebut
(golden ages) memungkinkan anak untuk mengembangkan kreativitas dan juga
terjadi tahapan pra-operasional dalam perkembangan kognitif. Anak pada usia 3-6 tahun mulai menjelaskan dunia dengan kata-kata dan gambar, meningkatkan pemikiran simbolis serta mendapatkan kemampuan untuk menggambarkan secara mental sebuah objek yang tidak ada. Oleh karenanya, pada usia tersebut anak akan sering melakukan kegiatan seni sebagai media penuangan imajinasinya. Periksa John W. Santrock, 2007, 49 dan 160.
secara singkat dapat dikaitkan erat dengan dunia pendidikan seni. Globalart dipilih karena memiliki manajemen atau pengelolaan yang baik. Hal tersebut akan dicari relasinya dengan sisi artistik, ditinjau dari proses pendidikan seni anak di Globalart. Pelaku yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah manajemen, guru, dan orang tua, sedangkan pelaku sekunder adalah anak (murid) di Globalart.
Di dalam menentukan sumber data penelitian, digunakan teknik purposive yang merupakan teknik pengambilan sumber data berdasarkan tujuan penelitian yang akan diteliti. Kriteria-kriteria ini penting agar sumber data yang dipilih bersifat representatif terhadap situasi sosial dari penelitian sehingga valid dalam menentukan data. Agar memperoleh pemahaman yang lebih dalam untuk melengkapi data penelitian, peneliti dibantu oleh tujuh orang informan utama dengan rincian empat orang tua, dan tiga lainnya semuanya adalah guru, alumni guru Globalart, dan pemerhati anak. Tujuh orang tersebut dipilih berdasarkan justifikasi peneliti terhadap pengalaman dan pengetahuan mereka terhadap dunia pendidikan seni anak. Terdapat empat kriteria yang digunakan untuk memilih informan dalam penelitian ini. Kriteria pertama adalah waktu keterlibatan dalam dunia pendidikan seni anak di Globalart. Kriteria ini digunakan sebagai acuan tentang kemampuan dan ketepatan informan menjawab
pertanyaan yang diajukan. Kriteria kedua adalah motivasi masuk dunia pendidikan seni anak. Penggunaan kriteria ini bertujuan untuk melihat pola pilihan dan kepemilikan modal yang dimiliki informan untuk menjadikan dirinya berbeda. Kriteria ketiga adalah proses ‘pembelian’ yang telah dialami informan untuk mendapatkan prestise yang dipertaruhkan di Globalart. Kriteria ini digunakan untuk melihat pola-pola kekerasan simbolik yang terjadi ketika informan mempertaruhkan posisinya di Globalart. Kriteria keempat adalah peran informan dalam dunia pendidikan seni anak. Dengan menggunakan kriteria ini maka dapat diperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang dunia pendidikan seni anak. 2. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dari teknik observasi, wawancara, dan studi pustaka. Teknik ini merujuk pada pengumpulan data yang diperoleh melalui sejumlah literatur kepustakaan.
Sebelum melalukan observasi, peneliti menghimpun berbagai literatur yang berhubungan dengan perkembangan seni rupa di Yogyakarta, perkembangan pendidikan seni rupa di Yogyakarta, seni rupa anak di Yogyakarta, lomba seni rupa anak, kegiatan Globalart, kurikulum Globalart, dan prestasi Globalart yang terdapat di internet atau dokumen lain dan dinilai relevan dengan penelitian ini. Melalui studi pustaka tersebut akan
diperoleh gambaran atau pemetaan tentang bagaimana perkembangan dunia pendidikan seni rupa diwacanakan dan terepresentasikan dalam praktik pendidikan seni anak di Globalart.
Setelah diperoleh gambaran umum tentang pendidikan seni rupa anak di Globalart, peneliti melakukan studi ke lapangan penelitian untuk melakukan observasi. Observasi dilakukan untuk membuka wacana peneliti mengenai kasus yang diteliti. Selain itu peneliti juga dapat memperoleh gambaran secara lebih mendalam dari permasalahan yang diteliti. Observasi dilakukan di lingkungan Globalart (termasuk ketika Globalart menyelenggarakan lomba di mall). Melalui observasi dapat diperoleh data mengenai pendekatan pendidikan seni rupa anak, pengelolaan sanggar, dan proses berkarya anak Globalart.
Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak terstruktur, yaitu wawancara bersifat bebas di mana peneliti tidak perlu menggunakan daftar pertanyaan wawancara yang telah terstruktur secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan data, namun peneliti tetap menggunakan pedoman wawancara berupa garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.34 Wawancara tidak terstruktur juga diharapkan mampu memberikan data yang
34 Sugiyono, 2011, 320.
akurat, karena informan memiliki kebebasan dan kesempatan untuk mengeluarkan pemikiran, pendapat, dan perasaannya tanpa diatur ketat oleh peneliti.35
Wawancara dilakukan terhadap ketujuh informan yang telah dipilih. Ketujuh orang informan ini dipilih karena dianggap sesuai dengan kriteria pemilihan sumber data, dan dapat memberikan gambaran umum anggota Globalart sehingga dapat memberikan informasi yang mendalam berkaitan dengan habitus, dan modal-modal dalam arena dunia imajiner Globalart. Informan pertama adalah Melati (nama disamarkan) yang telah terlibat dalam dunia pendidikan seni di Globalart sejak 2011. Saat itu yang menjadi peserta didik di Globalart adalah anak pertamanya, dan dilanjutkan oleh anak keduanya di tahun 2014. Informan ini dianggap penting karena mengetahui secara umum perkembangan dan perjalanan Globalart di Yogyakarta. Selain alasan tersebut, Melati memiliki dua orang anak yang memiliki IQ di atas rata-rata. Keduanya pernah menjuarai olimpiade matematika di Singapura. Maka dari itu, sebagai penyeimbang otak kiri yang dianggap mendominasi anaknya, diikutsertakanlah anaknya ke Globalart. Informan ini dipilih juga berdasarkan pertimbangan motivasi memasukkan anaknya ke Globalart.
35 S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung: Tarsito, 2003), 72.
Informan kedua adalah Mawar (nama disamarkan) yang memilih memasukkan anaknya ke Globalart karena dirinya tidak memiliki waktu untuk ‘mendidik’ anaknya di rumah. Mawar memiliki kesibukan sebagai wanita karir, sehingga waktunya di rumah sering digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Mawar memberikan fasilitas pendidikan tambahan kepada anaknya dari hari Senin sampai Jumat, dari jam 15.00 sampai 20.30. Informan ini dianggap penting karena dapat mewakili orang tua modern yang gila kerja.
Informan ketiga adalah Lily (nama disamarkan), seorang wirausaha pakaian dan properti. Ketika antar-jemput anaknya di Globalart, Lily selalu menggunakan pakaian, dan beberapa kali menggunakan mobil yang berbeda. Dari hasil observasi, Lily merupakan sumber perhatian para orang tua lainnya di Globalart, dan yang paling dihormati di Globalart. Informan ini dianggap penting karena dianggap mampu mewakili gaya hidup modern orang tua di Globalart, dan dianggap memiliki modal ekonomi yang besar sehingga dianggap mampu menjelaskan pola konsumsi anggota Globalart secara lebih detail.
Informan keempat adalah Krisan (nama disamarkan) merupakan pasangan muda yang baru memasukkan anaknya ke Globalart selama 8 bulan. Informan ini dipilih karena dapat
memberikan gambaran tentang orang tua yang memberikan fasilitas pengembangan potensi anak. Selain itu informan ini dipilih atas pengalamannya sebagai anggota baru Globalart agar dapat diterima dan memperoleh posisi dalam dunia pendidikan seni di Globalart.
Selain empat orang informan di atas, terdapat tiga informan lainnya yang merupakan guru les privat, guru seni rupa anak, mantan guru di Globalart, dan pemerhati anak. Melanjutkan dari informan-informan di atas, informan kelima adalah Yuni (nama disamarkan) yang merupakan alumni dari universitas keguruan dan mantan guru di Globalart. Informan ini dipilih karena dianggap mengetahui secara detail bagaimana praktik pendidikan seni di Globalart berlangsung. Selain itu, Yuni dianggap mampu memberikan data yang akurat baik dalam pendidikan seni sampai manajemen di Globalart, mengingat dirinya pernah menjadi anggota Globalart.
Informan keenam adalah Yudi (nama disamarkan), seorang guru seni anak. Yudi dipilih karena pengalamannya di bidang pendidikan seni anak non-formal. Yudi memiliki cara mengajar yang menjadikan anak sebagai subjek. Hal ini menjadi menarik karena trend kesekarangan di mana guru sering menjadikan anak sebagai objek pendidikan. Maka terkait penelitian ini, Yudi diharapkan mampu memberi perspektif yang berbeda dari guru
pendidikan seni anak non-formal.
Informan ketujuh adalah Yuki (nama disamarkan), seorang guru senior yang telah lama mendedikasikan dirinya untuk pendidikan seni anak. Selain itu, Yuki juga merupakan salah satu pendiri sanggar di Yogyakarta. Pengalaman Yuki dalam dunia pendidikan seni anak menjadi alasan dirinya dipilih sebagai informan.
Selain tujuh informan di atas, wawancara juga dilakukan terhadap front office Globalart, para pemerhati seni anak, dan guru-guru sanggar lain yang dijumpai ketika penelitian berlangsung. Setelah dilakukan wawancara maka data yang diperoleh akan digunakan untuk mengeksplorasi tidak hanya pengalaman dari anggota Globalart tersebut tapi juga kondisi-kondisi sosial yang memungkinkan pengalaman serta perilaku sosial terjadi. Dengan menggunakan metode ini, perilaku anggota Globalart dapat dilihat tidak hanya sebagai suatu tindakan yang ditentukan oleh struktur atau agen saja, tapi juga dapat dilihat relasi diantara keduanya. Dengan demikian penelitian ini lebih berfokus pada proses yang diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih lengkap dan mendalam tentang berbagai aspek yang diteliti seperti tentang relasi sosial dalam membentuk praktik reproduksi dan konsumsi citra simbolik melalui program pendidikan seni di Globalart.
Berdasarkan hasil wawancara dengan para informan tersebut, data yang diperoleh akan dianalisis berdasarkan peran-peran setiap pelaku dalam arena pendidikan seni di Globalart dan/atau di pendidikan seni saat ini yang dilengkapi dengan analisis data-data sekunder yang relevan. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman tentang relasi yang terjadi pada arena tersebut. Untuk mengetahui mekanisme kekerasan simbolik dari pendidikan seni anak di Globalart, analisis wawancara akan digabungkan dengan analisis pada beberapa tanda-tanda yang umum digunakan dan dilihat oleh para anggota Globalart seperti brosur, slogan, prestasi, alat dan bahan khas Globalart, lukisan anak khas Globalart, pola mengajar, pola pendidikan seni di Globalart, iklan, seragam serta keseragaman Globalart.
3. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan skema interaktif milik Miles dan Huberman. Analisis data Miles dan Huberman digunakan secara serempak mulai dari proses pengumpulan data, reduksi data yang
didalamnya terdapat identifikasi dan klasifikasi data, penyajian data, dan penarikan simpulan.36