• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

Dalam dokumen BAB 1,2,3 SEVILLA EATLAH.docx (Halaman 30-41)

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis dengan metode kuantitatif. Menurut Sugiyono (2014:22) metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil  penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas.

Metode penelitian kuantitatif digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2014:13).

3.2 Operasional Variabel dan Skala Pengukuran 3.2.1 Operasional Variabel

Menurut Sugiyono (2013:58) variabel penelitian adalah segala sesuatu yang  berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Untuk memperjelas 29ariable operasional dalam penelitian ini maka dikemukakan 29ariable operasional dalam table 3.1 berikut

Tabel 3.1 Operasional Variabel

Variabel Dimensi Indikator Skala No. Atribut

Produk

Penampilan 1. Salted egg Eatlah memiliki penampilan yang menggugah selera 2. Porsi yang disajikan

Salted egg Eatlah sesuai dengan keinginan konsumen, Ordinal Ordinal 1 2

Harga 3. Harga untuk membeli Salted egg Eatlah

sesuai dengan perkiraan konsumen.

4. Harga untuk membeli

Ordinal

Ordinal

3

Variabel Atribut Produk

Dimensi Indikator Skala No.

Rasa 5. Cita rasa Salted egg Eatlah benar berbahan dasar telur asin.

6. Salted egg Eatlah memiliki rasa yang unik untuk dinikmati.

Ordinal

Ordinal

5

6

Tekstur 7. Tekstur Salted egg Eatlah lembut. 8. Tekstur Salted egg

Eatlah empuk.

Ordinal

Ordinal

7

8 Kemasan 9. Kemasan Salted egg

Eatlah bentuknya unik. 10. Tampilan kemasan menarik perhatian konsumen. Ordinal Ordinal 9 10 Sumber: Penelitian Terdahulu 3.2.2 Skala Pengukuran

Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif (Sugiyono, 2014:132).

Skala peneltian yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala ordinal/rating scale. Skala ordinal adalah data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Dalam model skala ordinal, responden tidak menjawab salah satu jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu skala ordinal ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan dan lain-lain (Sugiyono, 2014:98)

Skala yang digunakan dalam desain pengukuran penelitian ini adalah skala Likert. Menurut Sugiyono (2014:132) skala Likert digunakan untuk mengukur sikap,  pendapat, dan presepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.

Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian, variabel yang akan diukur

dijabarkan menjadi indikator variabel kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau  pernyataan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert

mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif.

Dalam penelitian ini, pilihan jawaban untuk kuesioner penelitian ini berupa kalimat positif yaitu 5= Sangat Setuju (SS), 4= Setuju (S), 3= Cukup Setuju (CS), 2= Tidak Setuju (TS), 1= Sangat Tidak Setuju (STS).

3.3 Tahapan Penelitian

Gambar 3.1 Tahapan Penelitian Sumber : (Sugiono, 2014:82) 3.4 Populasi dan Sampel

3.4.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan sekedar jumlah yang ada pada objek atau subjek yang dipelajari, tetapi juga meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subjek tersebut. Sugiyono (2014:115). Populasi dalam  penelitian ini adalah konsumen dari Eatlah di Bandung sebanyak 1500 orang yang

3.4.2 Sampel

Sugiyono (2014:116) menyatakan sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Karena dalam penelitian ini populasi besar dan jumlah populasi tidak diketahui secara pasti maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut sehingga jumlah sampel yang diambil cukup mewakili populasi responden yang diteliti. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah  Non Probability Sampling , yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono, 2014:154).

Peneliti menggunakan incidental sampling , diharapkan kriteria sampel yang diperoleh benar-benar sesuai dengan yang dilakukan. Kriteria sampel yang digunakan peneliti adalah konsumen yang mengetahui, mengunjungi dan melakukan  pembelian di Eatlah di Bandung. Untuk menentukan jumlah sampel dari populasi

konsumen Eatlah di Bandung, maka peneliti menggunakan teknik penghitungan sampel Slovin dengan rumus:

 =

. 2 + 1

Keterangan : n : Sampel  N: Populasi

d : Error Tolerance (toleransi terjadinya galat 0.1)

Setelah itu dapat dilihat dibawah ini penghitungan untuk menentukan jumlah sampel dibawah ini dengan menggunakan rumus penghitungan sampel Slovin sebagai berikut:  = 1500 1500. (0,1)2 + 1  = 1500 16 = 93,75 n = 93,75 dibulatkan menjadi 94.

Dengan disimpulkan bahwa sampel yang diambil ialah 94 dan dibulatkan menjadi 100 agar lebih mewakili populasi. Berdasarkan hasil pertimbangan peneliti dalam menentukan sampel, peneliti menentukan sampel dalam penelitian ini ialah konsumen dari Eatlah di Bandung.

3.4.3 Teknik Sampling

Teknik  sampling adalah teknik untuk megambil sampel (Sugiyono, 2014:116). Dalam penelitian ini teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling . Menurut Darmawan (2013:152) teknik yang diambil dari nonprobability sampling   adalah teknik  purposive sampling   yaitu responden yang terpilih menjadi anggota sampel atas dasar pertimbangan peneliti sendiri. Pertimbangan yang dimaksud untuk sampel adalah konsumen yang pernah membeli  produk di Eatlah Bandung.

3.5 Jenis Data 3.5.1 Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung meliputi dokumen-dokumen perusahaan berupa sejarah perkembangan perusahaan, struktur organisasi dan lain-lain yang berhubungan dengan penelitian (Sugiyono 2013:137). Sedangkan menurut (Suharsimi Arikunto 2013:127), data primer merupakan data yang dikumpulkan melalui pihak pertama, biasanya dapat melalui wawancara, jejak  pendapat dan lain-lain. Untuk penelitian ini penulis melakukan teknik pengumpulan

data dengan menggunakan kuisioner (angket).

Menurut (Suharsimi Arikunto 2013:127), data primer merupakan data yang dikumpulkan melalui pihak pertama, biasanya dapat melalui wawancara, jejak  pendapat dan lain-lain. Untuk penelitian ini penulis melakukan teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner (angket). Data primer mengacu pada informasi yang diperoleh dari tangan pertama oleh peneliti yang berkaitan dengan variabel minat untuk tujuan spesifik studi. Data primer yang dilakukan peneliti adalah dengan menyebarkan kuisioner (daftar pertanyaan) dan yang dijawab oleh objek penelitian adalah konsumen Eatlah di Bandung.

3.5.2 Data Sekunder

Suharsimi Arikunto (2013:172) menyatakan bahwa Data sekunder adalah data yang dikumpulkan melalui pihak kedua, biasanya diperoleh melalui instansi yang bergerak di bidang pengumpulan data seperti Biro Pusat Statistik dan lain-lai n.

majalah dan lain sebagainya. Data yang diperoleh dari data sekunder tidak perlu untuk diolah lagi. Data sekunder mengacu pada informasi pada informasi yang dikumpulkan oleh seseorang, dan bukan peneliti yang melakukan studi mutakhir. Data yang diperlukan untuk mendukung hasil penelitian berasal dari literature, artikel dan berbagai sumber lainnya yang berhubungan dengan penelitian (Sugiyono 2013). Contoh data sekunder adalah data yang diambil dari web, koran, majalah,  jurnal, buku literature dan publikasi lainnya.

3.5.3 Teknik Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi dan kuesioner yang diuraikan sebagai berikut:

1. Kuesioner

Menurut Sugiyono (2014:199) kuesioner atau angket merupakan teknik  pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan

atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. 2. Studi Kepustakaan

Dalam penelitian ini dilakukan studi kepustakaan melalui teori-teori dari buku- buku teks, referensi, literatur, jurnal maupun dari hasil penelitian orang lain baik

yang sudah dipublikasikan maupun yang belum. 3. Wawancara

Menurut Sugiyono (2014:137) dalam penelitian ini dilakukan wawancara dimana wawancara digunakan sebagi pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil.

3.6 Uji Validitas dan Uji Realibilitas

Uji validitas dan reliabilitas dilakukan penulis untuk menguji instrument  penelitian. Menurut Sugiyono (2014:146) instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati, secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian. Instrumen yang baik akan mampu mengumpulkan data secara valid dan reliabel sehingga benar-benar menggambarkan fenomena yang ada.

3.6.1 Uji Validitas

Priyatno (2014:51) menyatakan uji validitas item merupakan uji instrument data untuk mengetahui seberapa cermat suatu item dalam mengukur apa yang ingin diukur. Item dapat dikatakan valid jika adanya korelasi yang signifikan dengan skor totalnya, hal ini menunjukkan adanya dukungan item tersebut dalam mengungkap suatu yang ingin diungkap. Item biasanya berupa pertanyaan atau pernyataan yang ditujukan kepada responden dengan menggunakan bentuk kuesioner dengan tujuan untuk mengungkap sesuatu. Sedangkan menurut Siregar (2014:47), setelah membuat kuesioner (instrument   penelitian) langkah selanjutnya menguji apakah kuesioner yang dibuat tersebut valid atau tidak.

Rumus yang bisa digunakan untuk uji validitas dengan teknik korelasi  product moment (Siregar, 2014:28), yaitu:

Keterangan:

rxy : Koefisien korelasi antara x dan y  N : Jumlah sampel

∑  : Jumlah perkalian antara skor x dan skor y x : Jumlah total responden

y : Jumlah total pernyataan masing-masing responden

Untuk menafsirkan hasil uji validitas, kriteria yang digunakan adalah:

a) Jika nilai r hitung lebih besar (>) dari nilai r tabel maka item kuesioner dinyatakan valid dan dapat digunakan

 b) Jika nilai r hitung lebih kecil (<) dari nilai r tabel maka item kuesioner dinyatakan tidak valid dan tidak dapat dipergunakan.

Tabel 3.2

Hasil Uji Validitas Faktor-Faktor Atribut Produk No.

Item

Rhitung Rtabel Keterangan

1 .451 0,361 VALID 2 .578 0,361 VALID 3 .720 0,361 VALID 4 .665 0,361 VALID 5 .646 0,361 VALID 6 .741 0,361 VALID 7 .784 0,361 VALID 8 .613 0,361 VALID 9 .621 0,361 VALID 10 .669 0,361 VALID

Sumber : Hasil Olah Data Peneliti, tahun 2018

Berdasarkan hasil uji validitas pada tabel 3.2 dapat diketahui semua item memiliki r hitung yang lebih besar dari r tabel (0,361), maka semua item dapat dinyatakan valid.

3.6.2 Uji Reliabilitas

Menurut Priyatno (2014:64) uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur yang biasanya menggunakan kuesioner. Maksudnya apakah alat ukur tersebut akan mendapatkan pengukuran yang tetap konsisten jika pengukuran diulang kembali. Uji reliabilitas merupakan kelanjutan dari uji validitas, dimana item yang masuk pengujian adalah item yang valid saja. Metode yang sering digunakan dalam penelitian untuk mengukur skala rentangan (seperti skala Likert 1-5) adalah Cronbach Alpha, dengan rumus sebagai berikut (Siregar, 2014:58):

Keterangan:

r : Reabilitas instrumen

k : Banyaknya butir pertanyaan Σσ2 b: Jumlah varian butir

σ2t : Varians total

Kategori koefisien reliabilitas menurut (Guilford, 1956: 145) adalah sebagai berikut:

0,80 < r11 1,00 reliabilitas sangat tinggi

0,60 < r11 0,80 reliabilitas tinggi

0,40 < r11 0,60 reliabilitas sedang

0,20 < r11 0,40 reliabilitas rendah.

-1,00 r11 0,20 reliabilitas sangat rendah (tidak reliable)

Reliabilitas 0,767 maka masuk ke dalam kategori reliabelitas tinggi. Tabel 3.3

Hasil Uji Reliabilitas

No. Variabel Cronbach Alpha Keterangan 1 Atribut Produk 0,767 RELIABEL

Sumber : Hasil Olah Data Peneliti, tahun 2018

Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada tabel 3.3 diketahui nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,767. Karena nilai Cronbach’s Alpha lebih dari 0,6 maka instrumen dinyatakan reliabel.

Dalam lestari (2013:56), untuk menguji ketepatan dari faktor yang terbentuk digunakan uji statistik  Barlett test sphericity dengan nilai signifikan ≤ 0,05 dan  Kaiser Mayer Olkin (KMO) untuk mengetahui kelayakan analisis faktor. Apa bila

indeks berkisar antara 0,5 hingga 1, analisis faktor tidak la yak dilakukan.

Tabel 3.4

Hasil Uji KMO & Bartlett

KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling

Adequacy. ,753 Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square 53,290 df 10 Sig. ,000

Sumber : Hasil Olah Data Peneliti, tahun 2018

3.7 Analisis Data

Analisis data merupakan proses mencari serta menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil catatan lapangan, wawancara, serta dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, mejabarkan ke dalam

unit-dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2017:244). Dalam  penelitian ini peneliti menggunakan  Principal Component Analysis (PCA) dalam

melakukan analisis data. PCA adalah salah satu metode analisis faktor yang menggunakan total varian dalam analisisnya. Tahapan melakukan analisis data dengan menggunakan analisis faktor adalah:

a. Menentukan tujuan dari analisis faktor. Tujuan utama dari analisis faktor adalah: 1) Data summarization, adalah mengidentifikasi adanya hubungan antar variabel

dengan melakukan uji korelasi.

2) Data Reducation, adalah setelah melakukan korelasi dengan proses membuat kumpulan variabel baru yang dinamakan faktor untuk menggantikan sejumlah variabel tertentu.

 b. Membuat desain analisis faktor. Membuat desain analisis faktor melibatkan tiga keputusan dasar, yaitu:

1) Menentukan desain jumlah variabel, teknik pengukuran, dan jenis variabel yang diijinkan. Teknik pengukuran dengan menggunakan skala Likert.

2) Menentukan ukuran sampel.

3) Melakukan perhitungan data yang dimasukkan (correlation matrix), untuk memenuhi tujuan tertentu dari pengelompokan variabel atau responden.

c. Membuat asumsi dalam analisis faktor.

Proses analisis faktor tergantung pada koralasi variabel-variabelnya. Untuk memperolehnya, digunakan matriks korelasi antara variabel yang satu dengan variabel lainnya.

d. Menentukan Jumlah Faktor

Dalam analisis faktor, variabel dikelompokkan berdasarkan korelasinya. Dengan demikian untuk tujuan analisis faktor tersebut perlu diketahui berapa banyak varians dari variabel. Varians dalam variabel dapat diklasifikasikan dalam tiga  jenis varians yaitu:

1) Common variance, adalah varians dari suatu variabel yang juga dimiliki oleh variabel-variabel lain.

2) Specific, adalah varian yang dimiliki hanya oleh sebuah variabel.

3)  Error variance, adalah varians yang salah, disebabkan oleh kesalahan  pengukuran, alat ukur, ataupun kesalahan pemilih sampel.

Interpretasi faktor dilakukan dalam beberapa tahapan:

1) Menentukan nilai MSA melalui tabel KMO dan Barlett’s Test

2) Menentukan jumlah komponen yang dapat dipertahankan dengan menggunakan nilai eigenvalue melalui tabel total variance atau dengan menggunakan analisis scree plot dari komponen yang didapat.

3) Menentukan atau menilai besarnya penjelasan serta unique variance masing-masing variabel terhadap komponen yang dipertahankan melalui komunitas. 4) Menentukan kriteria signifikan factor loadings, yaitu menentukan faktor

loading yang layak untuk dipertimbangkan dengan menggunakan kriteria signifikansi statistic.

5) Melalui analisis tabel component matrix, dapat dilihat loading dan variance dari setiap variabel, sehingga dapat dilihat hubungan antara variabel dengan faktor-faktornya.

6) Melihat besarnya nilai-nilai komunalitas dari setiap variabel untuk menentukan signifikansi kontribusi masing-masing variabel terhadap setiap faktor yang didapat.

7) Jika penganalisisan varian belum memuaskan atau belum memberikan hasil yang diinginkan, maka penganalisisan akan dilanjutkan menggunakan metode Rotasi Varimax (memaksimalkan nilai varians).

8) Penamaan faktor ( Labelling ). Setelah terbentuk kelompok kelompok yang merupakan faktor faktor dari proses analisis faktor, maka selanjutnya dilakukan proses penanaman faktor.

Lampiran-1 Pra Survey Kuesioner

Dalam dokumen BAB 1,2,3 SEVILLA EATLAH.docx (Halaman 30-41)

Dokumen terkait