BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1
1.1 Gambaran Gambaran Umum Umum Objek Objek PenelitianPenelitian 1.1.1
1.1.1 Gambaran Gambaran Umum Umum PerusahaanPerusahaan Eatlah merupakan salah satu pelopor
Eatlah merupakan salah satu pelopor salted egg salted egg yang telah menjadi sasaranyang telah menjadi sasaran bagi kaum
bagi kaum remaja remaja saat saat ini. ini. MenuMenu salted salted eggegg di era sekarang memiliki peminat yangdi era sekarang memiliki peminat yang cukup signifikan. Melihat dengan adanya varian menu makanan dengan olahan cukup signifikan. Melihat dengan adanya varian menu makanan dengan olahan salted
salted eggegg yang menggiurkan, tak sedikit masyarakat yang mengkonsumsi makananyang menggiurkan, tak sedikit masyarakat yang mengkonsumsi makanan tersebut. Eatlah merupakan sebuah inovasi dan kreativitas karya anak bangsa.
tersebut. Eatlah merupakan sebuah inovasi dan kreativitas karya anak bangsa.
Rizky Fernandes salah satu dari pendiri eatlah memiliki harapan merk Rizky Fernandes salah satu dari pendiri eatlah memiliki harapan merk makanan yang berasal dari Indonesia tidak hanya diterima di dalam negeri saja, makanan yang berasal dari Indonesia tidak hanya diterima di dalam negeri saja, melainkan juga di kancah internasional. Memulai awal karirnya dengan membuka melainkan juga di kancah internasional. Memulai awal karirnya dengan membuka satu
satu outletoutlet makanan di bulan Juni 2016 dan di daerah Jl. MH Thamrin, Plazamakanan di bulan Juni 2016 dan di daerah Jl. MH Thamrin, Plaza Indonesia,
Indonesia, Lantai Lantai 5, 5, Jakarta PuJakarta Pusat. sat. Dan Dan saat ini,saat ini, Eatlah Eatlah telah memiliki 6telah memiliki 6 outlet outlet termasuk yang telah ada
termasuk yang telah ada di Bandung.di Bandung.
Eatlah buka setiap hari, pada hari Senin s.d. Jumat & Minggu buka dari pukul Eatlah buka setiap hari, pada hari Senin s.d. Jumat & Minggu buka dari pukul 11.00 sampai dengan pukul 22.00 sedangkan pada hari Sabtu buka dari pukul 11.00 11.00 sampai dengan pukul 22.00 sedangkan pada hari Sabtu buka dari pukul 11.00 sampai dengan pukul 23.00. Harga yang ditawarkan pun bervariasi mulai dari harga sampai dengan pukul 23.00. Harga yang ditawarkan pun bervariasi mulai dari harga Rp 35.000 s/d Rp 55.000 untuk makanan, dan dari harga Rp 5.000 s/d Rp 15.000 Rp 35.000 s/d Rp 55.000 untuk makanan, dan dari harga Rp 5.000 s/d Rp 15.000 untuk minuman. Eatlah juga memiliki camilan yang diolah dengan saus
untuk minuman. Eatlah juga memiliki camilan yang diolah dengan saus salted egg salted egg asli olahan dari perusahaan Eatlah yang dibandrol dengan harga Rp 30.000 /
asli olahan dari perusahaan Eatlah yang dibandrol dengan harga Rp 30.000 / pcs pcs-nya.-nya. (sumber: hasil wawancara dengan
(sumber: hasil wawancara dengan Leader Leader Eatlah Bandung, 2018). Eatlah Bandung, 2018).
1.1.2 Profil 1.1.2 Profil Jenis
Jenis Usaha Usaha : : MakananMakanan Nama Perusahaan
Nama Perusahaan : Eatlah: Eatlah Nama Pemilik
Nama Pemilik : Hendy dan Kiki Supra: Hendy dan Kiki Supra Lokasi
Lokasi : : Jl. Jl. Pasir Pasir Kaliki Kaliki No.175 No.175 Kota Kota Bandung, Bandung, Jawa Jawa Barat.Barat. Telepon
1.1.3
1.1.3 Visi Visi dan dan MisiMisi Visi :
Visi : Menjadikan menuMenjadikan menu salted egg salted egg dengandengan brandbrand EatlahEatlah terkenal di dalamterkenal di dalam negeri dan mancanegara.
negeri dan mancanegara. Misi :
Misi :
-- Memperkenalkan menuMemperkenalkan menu salted egg salted egg di kalangan masyarakat.di kalangan masyarakat. -- Branding Branding menumenu salted egg salted egg menjadi terkenal pada masyarakat.menjadi terkenal pada masyarakat.
Sumber: Leader
Sumber: Leader EatlahEatlah BandungBandung (15 Juli, 2018) (15 Juli, 2018) 1.1.4
1.1.4 Logo Logo PerusahaanPerusahaan
Makna dari logo Eatlah dapat dilihat dari gambar dibawah bahwa sebenarnya Makna dari logo Eatlah dapat dilihat dari gambar dibawah bahwa sebenarnya ada 2 kalimat yang tertera sebelum kata eatlah yaitu
ada 2 kalimat yang tertera sebelum kata eatlah yaitu ‘no more diet, no more bullshit,‘no more diet, no more bullshit, just
just eatlaheatlah’ ’ . Maksud dari kalimat itu sendiri berarti ‘tidak perlu diet, tidak perlu ribet,. Maksud dari kalimat itu sendiri berarti ‘tidak perlu diet, tidak perlu ribet, langsung makan saja’.
langsung makan saja’.
Gambar 1.1 Gambar 1.1
Logo Perusahaan Eatlah Logo Perusahaan Eatlah Sumber
1.1.5
1.1.5 Struktur Struktur Organisasi Organisasi EatlahEatlah
Gambar 1.2 Gambar 1.2
Struktur Organisasi Eatlah Bandung Struktur Organisasi Eatlah Bandung Sumber: Leader
Sumber: Leader Eatlah Bandung (15 Juli 2018)Eatlah Bandung (15 Juli 2018) 1.1.6
1.1.6 Produk Produk EatlahEatlah 1.
1. Salted Egg ChickenSalted Egg Chicken Menu
Menu salted egg salted egg chickenchicken merupakan salah satu menu yang dijual dimerupakan salah satu menu yang dijual di Eatlah.
Eatlah. Menu yang satu ini adalah menu yang sering dipesan oleh paraMenu yang satu ini adalah menu yang sering dipesan oleh para konsumen pecinta ayam.
konsumen pecinta ayam. 2.
2. Salted Egg Jumbo ChickenSalted Egg Jumbo Chicken
Dalam menu yang satu ini, eatlah menyajikan
Dalam menu yang satu ini, eatlah menyajikan salted salted egg egg chickenchicken dalam versi jumbo yang berarti dalam jumlah banyak. Menu ini menjadi dalam versi jumbo yang berarti dalam jumlah banyak. Menu ini menjadi pilihan
pilihan utama utama bagi bagi para para konsumen konsumen yang yang mampu mampu memakan memakan makanan makanan dalamdalam jumlah besar.
jumlah besar. 3.
3. Salted Egg Dory FishSalted Egg Dory Fish
Salted egg dory fish
Salted egg dory fish adalah menu yang menjadi pilihan utama paraadalah menu yang menjadi pilihan utama para pecinta
pecinta ikan. ikan. Pada Pada menu menu ini, ini, para para konsumen konsumen bisa bisa memanjakan memanjakan lidahnyalidahnya dengan
dengandory fishdory fish yang disiram sausyang disiram saus salted egg salted egg .. 4.
4. Salted Egg Jumbo Dory FishSalted Egg Jumbo Dory Fish
Menu andalan yang satu ini sangat cocok untuk konsumen yang Menu andalan yang satu ini sangat cocok untuk konsumen yang memang pecinta ikan dory yang isinya lebih banyak dibandingkan dengan memang pecinta ikan dory yang isinya lebih banyak dibandingkan dengan
Dalam variasi menu satu ini, merupakan terobosan inovasi terbaru Dalam variasi menu satu ini, merupakan terobosan inovasi terbaru dari Eatlah. Dimana Eatlah tidak hanya menyediakan menu makanan dengan dari Eatlah. Dimana Eatlah tidak hanya menyediakan menu makanan dengan olahan saus
olahan saus salted salted egg,egg, tetapi juga memanjakan lidah para konsumen yangtetapi juga memanjakan lidah para konsumen yang suka akan olahan sambal.
suka akan olahan sambal.
1.2
1.2 Latar Latar Belakang Belakang MasalahMasalah
Indonesia kaya akan kuliner nusantara yang memiliki cita rasa tersendiri di Indonesia kaya akan kuliner nusantara yang memiliki cita rasa tersendiri di setiap daerahnya. Ditinjau dari berbagai macam makanan yang telah ada, setiap daerahnya. Ditinjau dari berbagai macam makanan yang telah ada, masyarakat semakin pintar dalam mengkolaborasikan rempah khas indonesia masyarakat semakin pintar dalam mengkolaborasikan rempah khas indonesia dengan masakan barat. Salah satu terobosan resep makanan tersebut adalah
dengan masakan barat. Salah satu terobosan resep makanan tersebut adalah salted salted egg chicken
egg chicken. Dimana bahan utama dari makanan ini adalah telur asin yang. Dimana bahan utama dari makanan ini adalah telur asin yang bermula
bermula dari dari kegemaran kegemaran masyarakat masyarakat Singapura Singapura mengonsumsi mengonsumsi kudapan kudapan ini. ini. DanDan sejak 1300 tahun silam, metode dalam mengawetkan telur bebek dengan garam sejak 1300 tahun silam, metode dalam mengawetkan telur bebek dengan garam sering dilakukan oleh masyarakat Tiongkok. Tak perlu menunggu lama, menu sering dilakukan oleh masyarakat Tiongkok. Tak perlu menunggu lama, menu unik yang satu ini langsung melejit di dunia per-kulineran dan mampu menyihir unik yang satu ini langsung melejit di dunia per-kulineran dan mampu menyihir lidah masyarakat Indonesia. Tren menu
lidah masyarakat Indonesia. Tren menu Salted EggSalted Egg berawal berawal dari dari negerinegeri Singapura. Dimana masyarakat Singapura menyediakan banyak makanan yang Singapura. Dimana masyarakat Singapura menyediakan banyak makanan yang diolah dengan
diolah dengan Salted Egg Salted Egg . Tidak hanya diolah dengan makanan pokok saja,. Tidak hanya diolah dengan makanan pokok saja, namun juga diolah dengan camilan dan telah terkenal menjadi buah tangan dari namun juga diolah dengan camilan dan telah terkenal menjadi buah tangan dari Singapura. Berbagai macam makanan sangat cocok dicampur dengan olahan Singapura. Berbagai macam makanan sangat cocok dicampur dengan olahan
salted
salted eggegg yang lezat. Menu makanan dengan olahanyang lezat. Menu makanan dengan olahan salted salted eggegg dapat masuk didapat masuk di Indonesia karena dapat diterima oleh lidah masyarakat Indonesia.
Indonesia karena dapat diterima oleh lidah masyarakat Indonesia. Salted eggSalted egg
pada zaman
pada zaman sekarang, sangat disekarang, sangat digemari oleh gemari oleh kalangan masyarakat, namun kalangan masyarakat, namun saat inisaat ini pun
pun telah telah muncul muncul berbagai berbagai kompetitor kompetitor dari dari Eatlah Eatlah seperti seperti mamayumamayu kitchenkitchen dan dan sebagainya.
sebagainya.
Dengan adanya kompetitor lain yang memiliki menu hampir mirip dengan Dengan adanya kompetitor lain yang memiliki menu hampir mirip dengan Eatlah, membuat konsumen semakin mempertimbangkan produk makanan mana Eatlah, membuat konsumen semakin mempertimbangkan produk makanan mana yang akan dipilih untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut hasil wawancara yang akan dipilih untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut hasil wawancara dengan
dengan Leader Leader Eatlah Bandung, untuk saat iniEatlah Bandung, untuk saat ini salted salted eggegg dari Eatlah masihdari Eatlah masih digemari oleh masyarakat Bandung maupun wisatawan yang sedang berlibur di digemari oleh masyarakat Bandung maupun wisatawan yang sedang berlibur di kota Bandung. Segmentasi pasar Eatlah sendiri adalah para pelajar, mahasiswa, kota Bandung. Segmentasi pasar Eatlah sendiri adalah para pelajar, mahasiswa, pegawai kantoran dan masyarakat di kota Band
Eatlah mempunyai ciri khas tersendiri dengan menu andalannya yaitu salted egg chicken dan salted egg dory. Dimana sebelum adanya kompetitor lain seperti halnya mamayu kitchen, Eatlah sudah lebih dulu menjadi pelopor dalam memasarkan produk makanan salted egg di kota Jakarta hingga membuka cabangnya di Bandung. Berikut merupakan varian menun yang ditawarkan oleh Eatlah.
Gambar 1.3
Menu Eatlah Bandung
(Sumber : https://pergikuliner.com, diakses 15 Juli 2018)
Menurut situs www.pergikuliner.com mengatakan Eatlah Bandung memiliki rating cukup baik. Dimana dalam situs pergikuliner.com memberikan penilaian dari 1 sampai 5 poin, dan Eatlah Bandung mendapat penilaian 3,67 poin (https:www.pergikuliner.com/restaurants/bandung/eatlah-pasir-kaliki, diakses 15 Juli
Surabaya ( http://republika.co.id/berita/gaya-hidup/kuliner/16/11/30/ohg652384-ini-dia-keunggulan-situs-dan-aplikasi-pergikuliner, diakses 15 Juli 2018).
Kini Eatlah memiliki cabang di beberapa kota besar, yaitu : 1. Plaza Indonesia lantai 5
2. Jl. Bumi Cipete 3. Grogol
4. Pantai Indah Kapuk 5. Kelapa Gading 6. Bintaro 7. Depok 8. Sunter 9. Bogor 10. Bandung (Sumber: https://www.instagram.com/eatlahjkt/)
Menurut Bennion dan Scheulle (2004:11-18) karakteristik dari makanan adalah faktor penentu yang paling penting saat mencoba menikmati suatu makanan, diantaranya adalah : Penampilan, Harga, Rasa, Tekstur, dan Kemasan.
Peneliti melakukan survey awal terhadap 30 orang yang merupakan konsumen dari Eatlah di Bandung dan didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 1.1
Hasil Survey Pendahuluan Atribut Produk Salted Egg Eatlah
No. Pertanyaan Ya Tidak
1 Apakah menurut anda Salted egg Eatlah memiliki rasa yang enak ?
27 3
2 Apakah menurut anda Salted egg Eatlah memiliki kemasan yang menarik?
27 3
3 Apakah menurut anda hargaSalted egg Eatlah adalah terjangkau?
30 0
4 Apakah menurut andaSalted egg Eatlah memiliki tekstur yang empuk?
30 0
5 Apakah menurut anda Salted egg Eatlah memiliki penampilan yang menggugah selera?
30 0
Berdasarkan hasil survey pendahuluan, Peneliti menanyakan kepada 30 orang yang pernah datang ke Eatlah minimal satu kali dalam kurun 1 tahun terakhir. Pertanyaan pertama “Apakah Salted egg eatlah memiliki rasa yang enak?”
berdasarkan data yang sudah diolah Peneliti , hasil survey mengatakan bahwa 27 dari 30 konsumen (90% konsumen) menyatakan rasa dari salted egg Eatlah adalah enak, sisanya menyatakan rasanya tidak enak karena terlalu banyak saus yang tercampur dengan ayamnya, sehingga menyebabkan rasa mual jika terlalu banyak memakannya.
Pertanyaan kedua “Apakah menurut Anda Salted egg Eatlah memiliki kemasan yang menarik?” berdasarkan data yang sudah diolah Peneliti, hasil survey mengatakan bahwa 27 dari 30 konsumen (90% konsumen) menyatakan kemasan Salted egg
Eatlah adalah menarik, sedangkan sisanya menyatakan kurang menarik karena kemasannya berukuran kecil dan sempit. Sehingga membuat konsumen kesusahan dengan kemasan makanan yang terbatas.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka peneliti melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor Atribut Produk
Salted E gg
Eatlah diBandung”.
1.3 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka perumusan masalah yang akan menjadi tolak ukur dalam penelitian ini adalah :
1. Faktor-faktor atribut produk apa saja dari Salted egg Eatlah menurut pandangan konsumen Eatlah di Bandung ?
2. Faktor-faktor atribut produk apa saja yang dominan dari Salted egg Eatlah menurut pandangan konsumen Eatlah di Bandung ?
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui faktor-faktor atribut produk apa saja dari Salted egg Eatlah menurut pandangan konsumen Eatlah di Bandung .
1.5 Kegunaan Penelitian
Harapan penulis terhadap penelitian ini agar berguna untuk : 1.5.1 Kegunaan Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya dan melengkapi khazanah keilmuan di bidang perkulineran khususnya yang berkaitan dengan atribut produk dan dapat menjadi referensi serta masukan terhadap inovasi dalam bidang marketing dan juga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.
1.5.2 Kegunaan Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan dan menjadi salah satu bahan masukan serta tolak ukur yang dapat digunakan bagi perusahaan serta individual yang hendak terjun ke dunia wirausaha terutama bagi perusahaan yang bergerak di bidang kuliner serta memperhatikan faktor-faktor atribut produk terhadap hal-hal yang menjadi pertimbangan konsumen dalam membuat keputusan pembelian.
1.6 Waktu dan Periode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu mulai Juli s.d. Desember 2018. Tempat penelitian adalah Eatlah yang berlokasi di Jl. Pasir Kaliki No.175 Kota Bandung, Jawa Barat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka Penelitian
2.1.1 Pengertian Pemasaran
Menurut American Marketing Association “Pemasaran adalah aktivitas serangkaian institusi, dan proses menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan, dan mempertukarkan tawaran (offerings) yang bernilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat umum”, (Tjiptono, 2016:3). Menurut Kotler dan Armstrong (2015:27), “Marketing as the process by which companies create value for customers and build strong customer relationship in order to capture value from customer in return”. Pemasaran adalah proses dimana perusahaan menciptakan nilai untuk pelanggan dan membangun hubungan pelanggan yang kuat guna untuk meningkatkan nilai dari pelanggan di kemudian hari. Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2016:51) mengungkapkan bahwa “Marketing is an organizational function and a set of processes for creating, communicating, and delivering value to customers and for managing customer relationships in ways that benefit the organization and its stakeholders”. Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan memberikan nilai kepada pelanggan untuk mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan bagi organisasi dan pemangku kepentingan.
Pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penentuan harga, promosi dan pendistribusian barang dan jasa, dan ide sehingga dapat memuaskan pelanggan juga tujuan perusahaan, maka pemasaran merupakan proses menciptakan barang atau menghantarkan jasa dengan nilai yang diberikan, (Alma, 2016:3).
Dengan demikian, menurut Fitriyana (2017:27) dapat disimpulkan bahwa pemasaran adalah proses kegiatan dari mulai menciptakan produk sampai pada akhirnya produk tersebut memberikan keuntungan bagi perusahaan dan para pemangku kepentingan. Proses kegiatan tersebut meliputi menciptakan produk, mengkomunikasikan kepada pelanggan, bertukar penawaran yang memiliki nilai
2.1.2 Pengertian Bauran Pemasaran
(Marketing Mix)
Menurut Tjiptono (2014:41) bauran pemasaran (marketing mix) merupakan seperangkat alat yang dapat digunakan pemasar untuk membentuk karakteristik jasa yang ditawarkan kepada pelanggan. Alat-alat tersebut dapat digunakan untuk menyusun strategi jangka panjang dan juga untuk merancang program taktik jangka pendek.
Kotler dan Armstrong (2015:76) mendefinisikan bauran pemasaran sebagai berikut ,“Marketing mix is the set of tactical marketing tools that the firm blends to produce the response it wants in the target market”. Bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran taktis yang dipadukan perusahaan untuk menghasilkan respon yang diingkan dalam pasar sasaran.
Bauran promosi adalah kombinasi empat komponen promosi yang mencakup iklan, penjualan pribadi, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publikasi, (Efendi et al , 2015:232). Sebuah promosi yang efektif membutuhkan difrensiasi produk, segmentasi pasar, melakukan jual beli, dan membeli merek.
Menurut Kotler dan Amstrong (2015:76) bauran pemasaran dikelompokan menjadi empat kelompok variabel yaitu, product (produk), price (harga), place
(tempat/lokasi), promotion (promosi). Oleh karenanya sejumlah pakar memodifikasi, seperti Zeithaml dan Bitner (2017:64), menambah elemen baru dalam pemasaran jas a yang pada awalnya terdiri dari empat aspek (product, price, place, dan promotion)
dalam pemasaran jasa menjadi tujuh aspek pokok yaitu product, price, place, promotion, people, process, dan physical evidence.
Menurut Tjiptono (2014:42) mendefinisikan setiap unsur bauran pemasaran sebagai berikut:
a. Products(Produk)
Merupakan bentuk penawaran organisasi jasa yang ditunjukan untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemasaran kebutuhan dan keinginan pelanggan. Dalam konteks ini, produk bisa berupa apa saja (baik yang berbentuk fisik maupun yang tidak) yang dapat ditawarkan kepada pelanggan potensial untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tertentu.
b. Pricing (Harga)
Merupakan keputusan bauran harga yang berkenaan dengan kebijakan strategik dan taktikal, seperti tingkat harga, struktur diskon, syarat pembayaran, dan tingkat
diskriminasi harga di antara berbagai kelompok pelanggan. Pada umumnya, aspek-aspek ini mirip dengan yang biasa dijumpai pemasar barang. Akan tetapi, berbeda dengan pemasar jasa yaitu bahwa karakteristik intangible jasa menyebabkan harga menjadi indikator signifikan akan kualitas. Adanya beberapa tipe jasa memungkinkan diskriminasi harga dalam pasar jasa tersebut, sementara banyak pula jasa yang dipasarkan oleh sektor publik dengan harga yang disubsidi atau bahkan
gratis. Hal ini menyebabkan kompleksitas dalam penetapan harga jasa. c. Promotion (Promosi)
Merupakan bauran promosi tradisional meliputi berbagai metode untuk mengkomunikasikan manfaat jasa kepada pelanggan potensial dan aktual. Metode-metode tersebut terdiri atas periklanan, promosi penjualan, direct marketing, personal selling , dan public relation. Meskipun secara garis besar bauran promosi untuk barang sama dengan jasa, promosi jasa seringkali membutuhkan penekanan tertentu pada upaya meningkatkan kenampakan tangibilitas jasa. Selain itu, dalam kasus pemasaran jasa, personil produksi juga menjadi bagian penting dalam bauran promosi.
d. Place (Tempat)
Merupakan keputusan distribusi menyangkut kemudahan akses terhadap jasa bagi para pelanggan potensial. Keputusan ini meliputi keputusan lokasi fisik (misalnya keputusan mengenai di mana sebuah hotel atau restoran akan didirikan), keputusan mengenai penggunaan perantara untuk meningkatka akesibilitas jasa bagi para pelanggan (misalnya, apakah pelanggan akan menggunakan jasa agen perjalanan ataukah harus memasarkan sendiri secara langsung kepada konsumen), dan keputusan non-lokasi yang ditetapkan demi ketersediaan jasa.
2.1.3 Pengertian Produk
Menurut Kotler dan Amstrong (2015:268) produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk menarik perhatian, akuisisi, penggunaan, atau konsumsi yang dapat memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan. Produk-produk yang dipasarkan meliputi barang fisik, jasa, pengalaman, acara-acara, orang, tempat, properti, organisasi, dan gagasan.
2.1.4 Pengertian Atribut Produk
Atribut produk merupakan unsur-unsur yang dianggap penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan untuk membeli suatu produk. Atribut produk terdiri dari merek, harga, kualitas produk, fitur, dan desain produk. Semua atribut produk ini menjadi bahan pertimbangan penting dalam meluncurkan suatu produk, karena produk diluncurkan sangat ditentukan oleh oleh atribut-atribut produk yang mampu memberikan kepuasan kepada konsumen sehingga akan mempengaruhi loyalitas konsumen terhadap produk. Atribut produk merupakan karakteristik yang dimiliki produk. Atribut produk adalah suatu komponen yang merupakan sifat-sifat produk yang menjamin agar produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan yang diterapkan pembeli.
Ferrinadewi & Darmawan dalam Ferrinadewi (2014:130) menyatakan bahwa produk adalah seperangkat atribut dan manfaat yang dianggap penting hingga kurang penting oleh pemakainya. Atribut produk dapat berupa sesuatu yang berwujud (tangible) maupun sesuatu yang tidak berujud (intangible). Atribut yang berwujud dapat berupa merek, kualitas produk, desain produk, label produk, kemasan dan sebagainya. Sedangkan yang tidak berwujud seperti kesan atau image konsumen terhadap nama merek yang diberikan kepada produk tersebut. Setiap produk akan memiliki atribut yang berbeda dengan jenis produk yang lain.
Tjiptono (2014:103) menambahkan bahwa atribut produk adalah unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian.Dari atribut-atribut produk inilah suatu produk dapat dibedakan dengan produk sejenis lainnya, dan setiap perusahaan akan memberikan produk yang terbaik bagi para konsumennya.
Sedangkan menurut Bennion dan Scheulle (2004:11) karakteristik dari makanan adalah faktor penentu yang paling penting saat mencoba menikmati suatu makanan, diantaranya adalah :
a. Penampilan. Penampilan menciptakan kesan terhadap suatu makanan, contohnya warna, porsi, desain. Kesegaran suatu makanan paling sering tampak dari penampilan makanan itu sendiri. Dalam setiap penyajian makanan sudah ditentukan porsi standarnya yang disebut standard portion size. Standard portion size didefinisikan sebagai kuantitas item yang harus disajikan setiap kali item tersebut dipesan. Manajemen dianjurkan untuk
membuat standard portion size secara jelas, misalnya berapa gram daging yang harus disajikan dalam sebuah porsi makanan.
b. Harga. Harga adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk suatu produk atau jasa. Jumlah ini yang dipertukarkan konsumen untuk manfaat yang dimiliki dengan menggunakan produk atau jasa. “Harga adalah sejumlah uang sebagai alat tukar untuk memperoleh produk atau jasa atau dapat juga dikatakan penentuan nilai suatu produk dibenak konsumen”(Saladin,2008:95; dalam Jackson R.S. Weenas, 2013:3). Merupakan aspek yang tampak jelas (visible) bagi para pembeli, bagi konsumen yang tidak terlalu paham hal-hal teknis pada pembelian jasa, seringkali harga menjadi satu-satunya faktor yang bisa mereka pahami, tidak jarang pula harga dijadikan semacam indikator untuk kualitas jasa.
c.
Rasa. Rasa adalah sensasi yang diterima saat makanan berada di mulut. Rasa primer meliputi manis, asin, asam, dan pahit. Titik perasa dari lidah adalah kemampuan mendeteksi dasar yaitu manis, asam, asin, pahit. Dalam makanan tertentu empat rasa ini digabungkan sehingga menjadi satu rasa yang unik dan menarik untuk dinikmati.d. Tekstur. Tekstur adalah bagian-bagian dari makanan itu sendiri yang menunjukan sebuah struktur, misalnya tekstur dari sebuah roti atau tekstur dari saus krim yang lembut. Ada banyak tekstur makanan antara lain halus atau tidak, empuk atau padat, keras atau lembut, kering atau lembab. Tingkat tipis dan halus serta bentuk makanan dapat dirasakan lewat tekanan dan gerakan dari reseptor di mulut.
e. Kemasan. Kemasan adalah wadah atau pembungkus dari suatu produk. “Daya tarik visual pada penampilan kemasan yang mencakup unsur-unsur grafis untuk menciptakan suatu kesan” (Wirya, 1999; dalam Listia Natadjaja dan kawan-kawan, 2009:96). Sebuah kemasan yang berhasil merupakan perpaduan antara pemasaran dan desain, yang harus memenuhi kriteria stand out (menonjol), contents (isi) kemasan harus dapat memberikan informasi tentang isi kemasan dan apa yang terkandung dalam produk, distinctive (unik).
14 2.2 Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian terdahulu ini terdapat beberapa karya ilmiah serta jurnal nasional dan internasional yang telah dilaksanakan sebelumnya. Hal tersebut dimaksudkan untuk membedakan fokus penelitian yang sedang dilakukan dan dapat dijadikan sebagai referensi. Berikut penjelasan tentang karya ilmiah, jurnal nasional dan internasional:
Tabel 2.1 Skripsi Terdahulu
Penelitian Variabel Teknik Analisis Data Kesimpulan Perbedaan
Judul Penulis Tahun Pengaruh Media Promosi Instagram Terhadap Minat Beli Konsumen Marita Hijab KhairunnisaK 2017
Minat Beli Kuantitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa, media promosi
instagram berpengaruh terhadap minat beli konsumen marita hijab sebesar 78%. Pada objek penelitiannya, yaitu Dakken Restaurant Bandung.
15
Tabel 2.1 (Sambungan)
Penelitian Variabel Teknik Analisis Data Kesimpulan Perbedaan
Judul Penulis Tahun Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Produk Garucci Shoes P. E. Rachmadany Y. 2014 Atribut Produk (X) dan Keputusan Pembelian (Y) Metode kuantitas, dengan jenis penelitian
berupa studi deskriptif dan kausal, Sampel diperoleh
menggunakan rumus Rao Purba (1996)
Berdasarkan analisis terhadap keputusan pembelian produk Garucci Shoes, bahwa atribut produk sudah diterapkan dengan baik ini terlihat dari garis kontinum yang menunjukkan persentase sebesar 85,86%. Berdasarkan hasil pengolahan data secara simultan menunjukkan variabel atribut produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Sedangkan dengan uji parsial dapat diketahui bahwa variabel kualitas (X1), gaya dan desain (X2), merek (X3), kemasan (X4), harga (X5), dan jaminan (X6) mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat. Kesimpulan dari penelitian ini, atribut produk Garucci Shoes sudah berada dalam sangat baik. Namun ada aspek yang mendapatkan kategori baik yaitu warna dari produk yang ditawarkan, sehingga perusahaan harus memperbaiki dalam aspek tersebut seperti dengan penambaharuan warna yang beragam.
Objek penelitian adalah sepatu Garucci
16 Tabel 2.1 (Sambungan)
Penelitian Variabel Teknik Analisis Data Kesimpulan Perbedaan
Judul Penulis Tahun Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Sport Yamaha V-Ixion (Studi Pada Pengguna Sepeda Motor Sport Yamaha V-Ixion di Yamaha Flagship Shop Bandung) Adiko Wahdiyanto 2015 Atribut Produk (X) : Kualitas Produk (X1), Fitur Produk (X2), Gaya (X3) dan Desain Produk (X4). Keputusan Pembelian (Y) pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif kausal. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda dengan uji F dan uji t untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama dan pengaruh secara parsial antara variabel
yang diteliti.
Berdasarkan analisis regresi linier berganda,secara simultan atribut produk Produk berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian yaitu sebesar 40,2% sedangkan sisanya sebesar 59,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam model penelitian ini. Secara parsial kualitas produk berpengaruh secara signifikan yaitu sebesar 47,3%, sedangkan fitur produk, gaya dan desain produk tidak berpengaruh secara signifikan. Untuk itu, diharapkan perusahaan mampu lebih memperhatikan kualitas produk yang dimiliki oleh motor sport Yamaha Vixion guna terus meningkatkan penjualannya
Objek penelitian adalah sepeda motor Yamaha Vixion
17
Tabel 2.1 (Sambungan)
Penelitian Variabel Teknik Analisis Data Kesimpulan Perbedaan Judul Penulis Tahun Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Sepatu Converse All Star (Study pada Mahasiswa Administrasi Bisnis Angkatan 2013 Telkom University) Rayhan 2015 Atribut produk (X), keputusan pembelian (Y) Pengumpulan data menggunakan metode kuesioner. Jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa Atribut Produk memiliki persentase sebesar 75,44% dan Keputusan Pembelian sepatu Converse All Star sebesar 73,32%. Persentase tersebut menunjukkan bahwa atribut produk dan keputusan pembelian sepatu Converse All
Star termasuk dalam kategori baik. Berdasarkan pengujian
hipotesis determinasi
mendapatkan hasil bahwa atribut produk memiliki pengaruh
sebesar 33,3% terhadap
keputusan pembelian mahasiswa administrasi bisnis angkatan 2013 Telkom University. Sedangkan 67,7% dipengaruhi oleh faktor lain diluar atribut produk.
Objek Penelitian adalah sepatu Converse
18 Tabel 2.2
Jurnal Nasional Penelitian Variabel Teknik Analisis
Data Kesimpulan Perbedaan Judul Penulis Tahun Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Suzuki Satria FU (Studi Kasus Pada Dealer Suzuki Sanggar Mas Jaya Karawang) Edi suswardji, SE., MM., Sungkono,SE., MM., Lutfi Alfajri, SE. 2012 Atribut Produk (X), Keputusan Pembelian (Y)
Uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas, analisis statistic deskriptif
Hubungan antara atribut produk terhadap keputusan pembelian adalah rendah, ini terlihat dari hasil uji korelasi yang
menunjukan nilai 0.245.
Sedangkan pengaruhnya sebesar 6%, ini berarti bahwa keputusan pembelian dipengaruhi oleh
atribut produk sebesar 6% sedangkan sisanya 94%
dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar dari atribut produk
Objek Penelitiannya Adalah Sepeda Motor Suzuki Satria FU
19
Tabel 2.2 (Sambungan)
Penelitian Variabel Teknik Analisis Data Kesimpulan Perbedaan
Judul Penulis Tahun Analisis Pengaruh Atribut Produk danWord of Mouthterhadap Keputusan Pembelian Tas Eiger di Kota Palembang Nina Destari, Yulizar Kasih 2013 Atribut Produk (X1),Word Of Mouth (X2), Keputusan Pembelian (Y)
Uji validitas, uji reliabilitas, Analisis regresi linier berganda
Hasil penelitian menjelaskan terdapat hubungan variabel atribut produk danword of mouthterhadap keputusan pembelian tas Eiger sebesar
38,3% denganadjusted R square37%, sisanya dijelaskan
oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil uji F menunjukkan variabel atribut produk dan word of mouthsecara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian tas Eiger di Kota
Palembang dan variabel yang paling berpengaruh signifikan
adalah variabelword of mouth.
Objek Penelitian nya adalah tas Eiger, variabelword of mouth.
20 Tabel 2.2 (Sambungan)
Penelitian Variabel Teknik Analisis Data Kesimpulan Perbedaan
Judul Penulis Tahun Analisis Pengaruh Atribut Produk, Bauran Promosi dan Kualitas Pelayanan Terhadap Keputusan Pembelian Produk Merchandise Imroatul Khasanah, Novian Yuga Pamujo 2011 Atribut Produk (X1), Bauran Promosi (X2), Kualitas Pelayan (X3), Keputusan Pembelian (Y)
Uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, uji F, uji determinasi
Dalam jurnal ini pada atribut produk, bauran promosi dan
kualitas layanan yang lebih baik akan meningkatkan keputusan pembelian. Kualitas layanan
memiliki pengaruh yang paling besar terhadap keputusan pembelian. Kondisi ini
mencerminkan kinerja semua staf yang selalu cepat tanggap dalam memahami keinginan konsumen. Serta Kedai Digital 7 memiliki layout yang menarik, membuat konsumen nyaman untuk melakukan pembelian
Objek Penelitiannya Adalah produk merchandise, variabel bauran promosi dan
21 Tabel 2.2 (Sambungan)
Penelitian Variabel Teknik Analisis Data Kesimpulan Perbedaan Judul Penulis Tahun Pengaruh Persepsi Atribut Produk terhadap Keputusan Pembelian Rokok Merek Gudang Garam Surya Professional Mild (Studi pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Angkatan 2011/2011 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) Mochammad Ikhwanudin, Gatot Isnani, Djoko Dwi Kusumajanto 2012 Merek (X1), Kemasan (X2), Harga (X3), Kualitas Produk (X4), Keputusan Pembelian (Y) Analisis Regresi Linier Berganda, analisis deskriptif
Dari hasil analisis deskriptif cukup membuktikan bahwa atribut produk mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian. Dari hasil analisis inferensial dapat
disimpulkan bahwa: (1) Atribut produk yang terdiri dari variabel
merek dan variabel kemasan secara parsial berpengaruh positif atau
signifikan terhadap keputusan pembelian, sedangkan variabel
harga dan variabel kualitas produk secara parsial berpengaruh negatif atau signifikan terhadap keputusan pembelian, (2) Terdapat pengaruh
yang signifikan pada atribut produk yang terdiri dari merek, kemasan, harga, kualitas produk secara simultan terhadap keputusan pembelian, (3) Pada variabel atribut produk meliputi merek, kemasan,
harga, kualitas produk, variabel kemasan memiliki pengaruh yang dominan terhadap keputusan pembelian.
Objek Penelitiannya adalah Rokok Merek Gudang Garam Surya Profesional mild, variable harga
22 Tabel 2.3
Jurnal Internasional Penelitian Populasi dan
Sampel
Teknik Analisis Data Kesimpulan Perbedaan
Judul Penulis Tahun The Influence of Product Atributte on Consumer Purchase Decision in The Nigerian Food and Beveranges Industry : A Study of Lagos Metropolis Oghojafor Ben Akpoyomare, Ladipo Patrick Kunle Adeosun and Rahim Ajao Ganiyu 2012 Populasinya adalah 400 responden dan sampelnya adalah sebagian dari populasi Koefisien determinasi, Uji validitas, uji reliabilitas
Metode analisis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan koefisien korelasi digunakan sebagai metode analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan survei langsung dan menyebar kuesioner kepada 400 konsumen (responden) pada dua perusahaan yang
dipilih dalam industri food and baverages.Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat korelasi positif antara variabel atribut produk terhadap variabel
keputusan pembelian konsumen
Objek penelitian adalah Nigerian Food and
23
Tabel 2.3 (Sambungan)
Penelitian Populasi dan Sampel
Teknik Analisis Data Kesimpulan Perbedaan
Judul Penulis Tahun Influence of Product Atributte on Mobile Phone Preference Among University Student : A Case of Undergraduate Student John M. Malasi 2012 Populasinya adalah 500 Responden dan sampelnya sebagian dari populasi
Uji validitas, uji reliabilitas, koefisien determinasi
Sebagian besar siswa
dipengaruhi oleh atribut produk dalam menentukan keputusan pembelian ponsel yang mereka beli. Atribut produk seperti
kualitas, fitur penyimpanan data, gaya, dan desain, merek dan harga sangat menentukan dalam keputusan pembelian konsumen
Objek penelitian nya adalah Mobile Phone
24 Tabel 2.3 (Sambungan)
Penelitian Populasi dan Sampel
Teknik Analisis Data Kesimpulan Perbedaan
Judul Penulis Tahun Factors Affecting Customers Buyying decisions of Mobile Phone: A Study on Khulna City, Bangladesh Md Reaz Uddin, Nusrat Zahan Lopa, Md. Ohedduzaman 2014 Populasi sebanyak 200 responden dan sampelnya sebagian dari populasi
Skala Likert, analisis deskriptif, convinience sampling
method (csm)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mendasari mereka memiliki peran untuk
menentukan merek ketika pelanggan membeli ponsel. Penelitian ini telah mengidentifikasi bahwa banyak faktor yang dianggap sebagai kriteria dari pembelian ponsel. Belum tentu semua variabel mempengaruhi seseorang dengan cara yang sama dan tingkat yang sama. Dalam kasus memilih merek ponsel, sebagian besar merupakan faktor yang
dianggap oleh pelanggan termasuk atribut fisik, harga, pengisian dan operasi fasilitas,
ukuran dan berat,
teman dan kolega rekomendasi, rekomendasi tetangga dan iklan.
Objek Penelitian adalah ponsel, variabel bebas
25 Tabel 2.3 (Sambungan)
Penelitian Populasi dan Sampel Teknik Analisis Data Kesimpulan Perbedaan Judul Penulis Tahun The Effect Of Product Quality Atributte on Thai Consumer Buying Decisions Pajaree Ackaradejruangsri 2013 Populasinya adalah 500 Responden dan sampelnya sebagian dari populasi
Uji validitas, uji Reliabilitas
Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh dimensi atribut kualitas produk terhadap
keputusan pembelian rata-rata konsumen Thailand. Penelitian tentang dimensi atribut kualitas produk , dan dampaknya terhadap keputusan pembelian rata-rata konsumen Thailand memberikan hasil yang signifikan. Atribut dimensi seperti kehandalan, fungsi, dan daya tahan adalah tiga dimensi atribut yang paling penting yang memiliki pengaruh terbesar pada keseluruhan keputusan pembelian
konsumen Thailand dalam tiga kategori produk. Objek penelitiannya konsumen di Thailand, dan variabel atribut kualitas produk
2.3 Kerangka Pemikiran
Ferrinadewi & Darmawan dalam Ferrinadewi (2014:130) menyatakan bahwa produk adalah seperangkat atribut dan manfaat yang dianggap penting hingga kurang penting oleh pemakainya. Atribut produk dapat berupa sesuatu yang berwujud (tangible) maupun sesuatu yang tidak berujud (intangible). Atribut yang berwujud dapat berupa merek, kualitas produk, desain produk, label produk, kemasan dan sebagainya. Sedangkan yang tidak berwujud seperti kesan atau image konsumen terhadap nama merek yang diberikan kepada produk tersebut. Setiap produk akan memiliki atribut yang berbeda dengan jenis produk yang lain.
Menurut Bennion dan Scheulle (2004:11) karakteristik dari makanan adalah faktor penentu yang paling penting saat mencoba menikmati suatu makanan, diantaranya adalah :
a. Penampilan. Penampilan menciptakan kesan terhadap suatu makanan, contohnya warna, porsi, desain. Kesegaran suatu makanan paling sering tampak dari penampilan makanan itu sendiri. Dalam setiap penyajian makanan sudah ditentukan porsi standarnya yang disebut standard portion size. Standard portion size didefinisikan sebagai kuantitas item yang harus disajikan setiap kali item tersebut dipesan. Manajemen dianjurkan untuk membuat standard portion size secara jelas, misalnya berapa gram daging yang harus disajikan dalam sebuah porsi makanan.
b. Harga. Harga adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk suatu produk atau jasa. Jumlah ini yang dipertukarkan konsumen untuk manfaat yang dimiliki dengan menggunakan produk atau jasa. “Harga adalah sejumlah uang sebagai alat tukar untuk memperoleh produk atau jasa atau dapat juga dikatakan penentuan nilai suatu produk dibenak konsumen”( Saladin,2008:95; dalam Jackson R.S. Weenas, 2013:3). Merupakan aspek yang tampak jelas (visible) bagi para pembeli, bagi konsumen yang tidak terlalu paham hal-hal teknis pada pembelian jasa, seringkali harga menjadi satu-satunya faktor yang bisa mereka pahami, tidak jarang pula harga dijadikan semacam indikator untuk kualitas jasa.
f.
Rasa. Rasa adalah sensasi yang diterima saat makanan berada di mulut. Rasa primer meliputi manis, asin, asam, dan pahit. Titik perasa dari lidah adalah kemampuan mendeteksi dasar yaitu manis, asam, asin, pahit. Dalam makananFaktor-Faktor Atribut Produk 1. Rasa 2. Kemasan 3. Harga 4. Tekstur 5. Desain
Bennion dan Scheulle (2004:11-18)
Faktor-Faktor Atribut Produk yang Baru
tertentu empat rasa ini digabungkan sehingga menjadi satu rasa yang unik dan menarik untuk dinikmati.
c. Tekstur. Tekstur adalah bagian-bagian dari makanan itu sendiri yang menunjukan sebuah struktur, misalnya tekstur dari sebuah roti atau tekstur dari saus krim yang lembut. Ada banyak tekstur makanan antara lain halus atau tidak, empuk atau padat, keras atau lembut, kering atau lembab. Tingkat tipis dan halus serta bentuk makanan dapat dirasakan lewat tekanan dan gerakan dari reseptor di mulut.
d. Kemasan. Kemasan adalah wadah atau pembungkus dari suatu produk. “Daya tarik visual pada penampilan kemasan yang mencakup unsur-unsur grafis
untuk menciptakan suatu kesan” (Wirya, 1999; dalam Listia Natadjaja dan kawan-kawan, 2009:96). Sebuah kemasan yang berhasil merupakan perpaduan antara pemasaran dan desain, yang harus memenuhi kriteria stand out (menonjol), contents (isi) kemasan harus dapat memberikan informasi tentang isi kemasan dan apa yang terkandung dalam produk, distinctive (unik). Analisis Faktor Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran 2.4 Hipotesis
diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Berdasarkan skema kerangka pemikiran di atas maka hipotesis yang diajukan dan akan dibuktikan kebenarannya adalah “Faktor-Faktor Penampilan, Harga, Rasa, Tekstur dan Kemasan merupakan Faktor-Faktor Atribut Produk
Salted E gg
Eatlah di Bandung”.2.5 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian atau batasan dalam penelitian bertujuan untuk menjaga konsistensi tujuan dari penelitian, sehingga hasil dan pembahasan menjadi terarah. Batasan atau ruang lingkup dari penelitian ini adalah faktor-faktor atribut produk salted egg Eatlah di Bandung yang terdiri dari penampilan, harga, rasa, tekstur, dan kemasan. Dalam penelitian ini lokasinya berada di Eatlah Bandung. Waktu dan periode penelitian dimulai pada bulan Juli 2018 sampai dengan Desember 2018.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis PenelitianJenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis dengan metode kuantitatif. Menurut Sugiyono (2014:22) metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas.
Metode penelitian kuantitatif digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2014:13).
3.2 Operasional Variabel dan Skala Pengukuran 3.2.1 Operasional Variabel
Menurut Sugiyono (2013:58) variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Untuk memperjelas 29ariable operasional dalam penelitian ini maka dikemukakan 29ariable operasional dalam table 3.1 berikut
Tabel 3.1 Operasional Variabel
Variabel Dimensi Indikator Skala No.
Atribut Produk
Penampilan 1. Salted egg Eatlah memiliki penampilan yang menggugah selera 2. Porsi yang disajikan
Salted egg Eatlah sesuai dengan keinginan konsumen, Ordinal Ordinal 1 2
Harga 3. Harga untuk membeli
Salted egg Eatlah
sesuai dengan perkiraan konsumen.
4. Harga untuk membeli
Ordinal
Ordinal
3
Variabel Atribut Produk
Dimensi Indikator Skala No.
Rasa 5. Cita rasa Salted egg
Eatlah benar berbahan dasar telur asin.
6. Salted egg Eatlah memiliki rasa yang unik untuk dinikmati.
Ordinal
Ordinal
5
6
Tekstur 7. Tekstur Salted egg
Eatlah lembut. 8. Tekstur Salted egg
Eatlah empuk.
Ordinal
Ordinal
7
8 Kemasan 9. Kemasan Salted egg
Eatlah bentuknya unik. 10. Tampilan kemasan menarik perhatian konsumen. Ordinal Ordinal 9 10
Sumber: Penelitian Terdahulu 3.2.2 Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif (Sugiyono, 2014:132).
Skala peneltian yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala ordinal/rating scale. Skala ordinal adalah data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Dalam model skala ordinal, responden tidak menjawab salah satu jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu skala ordinal ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan dan lain-lain (Sugiyono, 2014:98)
Skala yang digunakan dalam desain pengukuran penelitian ini adalah skala Likert. Menurut Sugiyono (2014:132) skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan presepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.
Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian, variabel yang akan diukur
dijabarkan menjadi indikator variabel kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert
mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif.
Dalam penelitian ini, pilihan jawaban untuk kuesioner penelitian ini berupa kalimat positif yaitu 5= Sangat Setuju (SS), 4= Setuju (S), 3= Cukup Setuju (CS), 2= Tidak Setuju (TS), 1= Sangat Tidak Setuju (STS).
3.3 Tahapan Penelitian
Gambar 3.1 Tahapan Penelitian Sumber : (Sugiono, 2014:82) 3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan sekedar jumlah yang ada pada objek atau subjek yang dipelajari, tetapi juga meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subjek tersebut. Sugiyono (2014:115). Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen dari Eatlah di Bandung sebanyak 1500 orang yang
3.4.2 Sampel
Sugiyono (2014:116) menyatakan sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Karena dalam penelitian ini populasi besar dan jumlah populasi tidak diketahui secara pasti maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut sehingga jumlah sampel yang diambil cukup mewakili populasi responden yang diteliti. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non Probability Sampling , yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono, 2014:154).
Peneliti menggunakan incidental sampling , diharapkan kriteria sampel yang diperoleh benar-benar sesuai dengan yang dilakukan. Kriteria sampel yang digunakan peneliti adalah konsumen yang mengetahui, mengunjungi dan melakukan pembelian di Eatlah di Bandung. Untuk menentukan jumlah sampel dari populasi
konsumen Eatlah di Bandung, maka peneliti menggunakan teknik penghitungan sampel Slovin dengan rumus:
=
. 2 + 1
Keterangan : n : Sampel N: Populasi
d : Error Tolerance (toleransi terjadinya galat 0.1)
Setelah itu dapat dilihat dibawah ini penghitungan untuk menentukan jumlah sampel dibawah ini dengan menggunakan rumus penghitungan sampel Slovin sebagai berikut: = 1500 1500. (0,1)2 + 1 = 1500 16 = 93,75 n = 93,75 dibulatkan menjadi 94.
Dengan disimpulkan bahwa sampel yang diambil ialah 94 dan dibulatkan menjadi 100 agar lebih mewakili populasi. Berdasarkan hasil pertimbangan peneliti dalam menentukan sampel, peneliti menentukan sampel dalam penelitian ini ialah konsumen dari Eatlah di Bandung.
3.4.3 Teknik Sampling
Teknik sampling adalah teknik untuk megambil sampel (Sugiyono, 2014:116). Dalam penelitian ini teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling . Menurut Darmawan (2013:152) teknik yang diambil dari nonprobability sampling adalah teknik purposive sampling yaitu responden yang terpilih menjadi anggota sampel atas dasar pertimbangan peneliti sendiri. Pertimbangan yang dimaksud untuk sampel adalah konsumen yang pernah membeli produk di Eatlah Bandung.
3.5 Jenis Data 3.5.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung meliputi dokumen-dokumen perusahaan berupa sejarah perkembangan perusahaan, struktur organisasi dan lain-lain yang berhubungan dengan penelitian (Sugiyono 2013:137). Sedangkan menurut (Suharsimi Arikunto 2013:127), data primer merupakan data yang dikumpulkan melalui pihak pertama, biasanya dapat melalui wawancara, jejak pendapat dan lain-lain. Untuk penelitian ini penulis melakukan teknik pengumpulan
data dengan menggunakan kuisioner (angket).
Menurut (Suharsimi Arikunto 2013:127), data primer merupakan data yang dikumpulkan melalui pihak pertama, biasanya dapat melalui wawancara, jejak pendapat dan lain-lain. Untuk penelitian ini penulis melakukan teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner (angket). Data primer mengacu pada informasi yang diperoleh dari tangan pertama oleh peneliti yang berkaitan dengan variabel minat untuk tujuan spesifik studi. Data primer yang dilakukan peneliti adalah dengan menyebarkan kuisioner (daftar pertanyaan) dan yang dijawab oleh objek penelitian adalah konsumen Eatlah di Bandung.
3.5.2 Data Sekunder
Suharsimi Arikunto (2013:172) menyatakan bahwa Data sekunder adalah data yang dikumpulkan melalui pihak kedua, biasanya diperoleh melalui instansi yang bergerak di bidang pengumpulan data seperti Biro Pusat Statistik dan lain-lai n.
majalah dan lain sebagainya. Data yang diperoleh dari data sekunder tidak perlu untuk diolah lagi. Data sekunder mengacu pada informasi pada informasi yang dikumpulkan oleh seseorang, dan bukan peneliti yang melakukan studi mutakhir. Data yang diperlukan untuk mendukung hasil penelitian berasal dari literature, artikel dan berbagai sumber lainnya yang berhubungan dengan penelitian (Sugiyono 2013). Contoh data sekunder adalah data yang diambil dari web, koran, majalah, jurnal, buku literature dan publikasi lainnya.
3.5.3 Teknik Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi dan kuesioner yang diuraikan sebagai berikut:
1. Kuesioner
Menurut Sugiyono (2014:199) kuesioner atau angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan
atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. 2. Studi Kepustakaan
Dalam penelitian ini dilakukan studi kepustakaan melalui teori-teori dari buku- buku teks, referensi, literatur, jurnal maupun dari hasil penelitian orang lain baik
yang sudah dipublikasikan maupun yang belum. 3. Wawancara
Menurut Sugiyono (2014:137) dalam penelitian ini dilakukan wawancara dimana wawancara digunakan sebagi pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil.
3.6 Uji Validitas dan Uji Realibilitas
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan penulis untuk menguji instrument penelitian. Menurut Sugiyono (2014:146) instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati, secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian. Instrumen yang baik akan mampu mengumpulkan data secara valid dan reliabel sehingga benar-benar menggambarkan fenomena yang ada.
3.6.1 Uji Validitas
Priyatno (2014:51) menyatakan uji validitas item merupakan uji instrument data untuk mengetahui seberapa cermat suatu item dalam mengukur apa yang ingin diukur. Item dapat dikatakan valid jika adanya korelasi yang signifikan dengan skor totalnya, hal ini menunjukkan adanya dukungan item tersebut dalam mengungkap suatu yang ingin diungkap. Item biasanya berupa pertanyaan atau pernyataan yang ditujukan kepada responden dengan menggunakan bentuk kuesioner dengan tujuan untuk mengungkap sesuatu. Sedangkan menurut Siregar (2014:47), setelah membuat kuesioner (instrument penelitian) langkah selanjutnya menguji apakah kuesioner yang dibuat tersebut valid atau tidak.
Rumus yang bisa digunakan untuk uji validitas dengan teknik korelasi product moment(Siregar, 2014:28), yaitu:
Keterangan:
rxy : Koefisien korelasi antara x dan y
N : Jumlah sampel
∑ : Jumlah perkalian antara skor x dan skor y x : Jumlah total responden
y : Jumlah total pernyataan masing-masing responden
Untuk menafsirkan hasil uji validitas, kriteria yang digunakan adalah:
a) Jika nilai r hitung lebih besar (>) dari nilai r tabel maka item kuesioner dinyatakan valid dan dapat digunakan
b) Jika nilai r hitung lebih kecil (<) dari nilai r tabel maka item kuesioner dinyatakan tidak valid dan tidak dapat dipergunakan.
Tabel 3.2
Hasil Uji Validitas Faktor-Faktor Atribut Produk No.
Item
Rhitung Rtabel Keterangan
1 .451 0,361 VALID 2 .578 0,361 VALID 3 .720 0,361 VALID 4 .665 0,361 VALID 5 .646 0,361 VALID 6 .741 0,361 VALID 7 .784 0,361 VALID 8 .613 0,361 VALID 9 .621 0,361 VALID 10 .669 0,361 VALID
Sumber : Hasil Olah Data Peneliti, tahun 2018
Berdasarkan hasil uji validitas pada tabel 3.2 dapat diketahui semua item memiliki r hitung yang lebih besar dari r tabel (0,361), maka semua item dapat dinyatakan valid.
3.6.2 Uji Reliabilitas
Menurut Priyatno (2014:64) uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur yang biasanya menggunakan kuesioner. Maksudnya apakah alat ukur tersebut akan mendapatkan pengukuran yang tetap konsisten jika pengukuran diulang kembali. Uji reliabilitas merupakan kelanjutan dari uji validitas, dimana item yang masuk pengujian adalah item yang valid saja. Metode yang sering digunakan dalam penelitian untuk mengukur skala rentangan (seperti skala Likert 1-5) adalah Cronbach Alpha, dengan rumus sebagai berikut (Siregar, 2014:58):
r Keterangan:
r : Reabilitas instrumen
k : Banyaknya butir pertanyaan Σσ2 b: Jumlah varian butir
σ2t : Varians total
Kategori koefisien reliabilitas menurut (Guilford, 1956: 145) adalah sebagai berikut:
0,80 < r11 1,00 reliabilitas sangat tinggi 0,60 < r11 0,80 reliabilitas tinggi
0,40 < r11 0,60 reliabilitas sedang 0,20 < r11 0,40 reliabilitas rendah.
-1,00 r11 0,20 reliabilitas sangat rendah (tidak reliable)
Reliabilitas 0,767 maka masuk ke dalam kategori reliabelitas tinggi. Tabel 3.3
Hasil Uji Reliabilitas
No. Variabel Cronbach Alpha Keterangan
1 Atribut Produk 0,767 RELIABEL
Sumber : Hasil Olah Data Peneliti, tahun 2018
Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada tabel 3.3 diketahui nilai Cronbach’s
Alpha sebesar 0,767. Karena nilai Cronbach’s Alpha lebih dari 0,6 maka instrumen
dinyatakan reliabel.
Dalam lestari (2013:56), untuk menguji ketepatan dari faktor yang terbentuk digunakan uji statistik Barlett test sphericity dengan nilai signifikan ≤ 0,05 dan Kaiser Mayer Olkin (KMO) untuk mengetahui kelayakan analisis faktor. Apa bila
indeks berkisar antara 0,5 hingga 1, analisis faktor tidak la yak dilakukan. Tabel 3.4
Hasil Uji KMO & Bartlett KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling
Adequacy. ,753 Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square 53,290 df 10 Sig. ,000
Sumber : Hasil Olah Data Peneliti, tahun 2018 3.7 Analisis Data
Analisis data merupakan proses mencari serta menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil catatan lapangan, wawancara, serta dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, mejabarkan ke dalam
unit-dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2017:244). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Principal Component Analysis (PCA) dalam
melakukan analisis data. PCA adalah salah satu metode analisis faktor yang menggunakan total varian dalam analisisnya. Tahapan melakukan analisis data dengan menggunakan analisis faktor adalah:
a. Menentukan tujuan dari analisis faktor. Tujuan utama dari analisis faktor adalah: 1) Data summarization, adalah mengidentifikasi adanya hubungan antar variabel
dengan melakukan uji korelasi.
2) Data Reducation, adalah setelah melakukan korelasi dengan proses membuat kumpulan variabel baru yang dinamakan faktor untuk menggantikan sejumlah variabel tertentu.
b. Membuat desain analisis faktor. Membuat desain analisis faktor melibatkan tiga keputusan dasar, yaitu:
1) Menentukan desain jumlah variabel, teknik pengukuran, dan jenis variabel yang diijinkan. Teknik pengukuran dengan menggunakan skala Likert.
2) Menentukan ukuran sampel.
3) Melakukan perhitungan data yang dimasukkan (correlation matrix), untuk memenuhi tujuan tertentu dari pengelompokan variabel atau responden.
c. Membuat asumsi dalam analisis faktor.
Proses analisis faktor tergantung pada koralasi variabel-variabelnya. Untuk memperolehnya, digunakan matriks korelasi antara variabel yang satu dengan variabel lainnya.
d. Menentukan Jumlah Faktor
Dalam analisis faktor, variabel dikelompokkan berdasarkan korelasinya. Dengan demikian untuk tujuan analisis faktor tersebut perlu diketahui berapa banyak varians dari variabel. Varians dalam variabel dapat diklasifikasikan dalam tiga jenis varians yaitu:
1) Common variance, adalah varians dari suatu variabel yang juga dimiliki oleh variabel-variabel lain.
2) Specific, adalah varian yang dimiliki hanya oleh sebuah variabel.
3) Error variance, adalah varians yang salah, disebabkan oleh kesalahan pengukuran, alat ukur, ataupun kesalahan pemilih sampel.
Interpretasi faktor dilakukan dalam beberapa tahapan:
1) Menentukan nilai MSA melalui tabel KMO dan Barlett’s Test
2) Menentukan jumlah komponen yang dapat dipertahankan dengan menggunakan nilai eigenvalue melalui tabel total variance atau dengan menggunakan analisis scree plot dari komponen yang didapat.
3) Menentukan atau menilai besarnya penjelasan serta unique variance masing-masing variabel terhadap komponen yang dipertahankan melalui komunitas. 4) Menentukan kriteria signifikan factor loadings, yaitu menentukan faktor
loading yang layak untuk dipertimbangkan dengan menggunakan kriteria signifikansi statistic.
5) Melalui analisis tabel component matrix, dapat dilihat loading dan variance dari setiap variabel, sehingga dapat dilihat hubungan antara variabel dengan faktor-faktornya.
6) Melihat besarnya nilai-nilai komunalitas dari setiap variabel untuk menentukan signifikansi kontribusi masing-masing variabel terhadap setiap faktor yang didapat.
7) Jika penganalisisan varian belum memuaskan atau belum memberikan hasil yang diinginkan, maka penganalisisan akan dilanjutkan menggunakan metode Rotasi Varimax (memaksimalkan nilai varians).
8) Penamaan faktor ( Labelling ). Setelah terbentuk kelompok kelompok yang merupakan faktor faktor dari proses analisis faktor, maka selanjutnya dilakukan proses penanaman faktor.
Lampiran-1 Pra Survey Kuesioner
Screening Question:
Apakah Anda merupakan konsumen Salted Egg Eatlah Bandung?
Jika Ya lanjutkan dengan menjawab pertanyaan berikut ini. Namun, jika tidak cukup sampai di sini.
Analisis Faktor-Faktor Atribut Produk
Salted E gg
Eatlah di BandungResponden yang terhormat, terima kasih atas partisipasi anda dalam megisi kuesioner ini. Berilah tanda checklist untuk jawaban yang dianggap paling sesuai dengan pendapat anda.
I. Identitas Responden
(Pilih salah satu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut) 1. Jenis kelamin Anda?
a. Pria b. Wanita 2. Usia Anda? a. <20 tahun b. 21 – 30 tahun c. 31 – 40 tahun d. > 40 tahun
3. Frekuensi pembelian dalam satu bulan? a. 1 kali b. 2 – 3 kali c. 4 – 5 kali d. > 5 kali 4. Pekerjaan Anda? a. Mahasiswa/ Pelajar b. Pegawai Negeri c. Pegawai Swasta d. Wiraswasta e. Lainnya ______
II. Petunjuk Pengisian
1. Jawablah setiap pernyataan secara jujur sesuai pendapat
Bapak /Ibu/Saudara/i perlu diketahui bahwa jawaban dari kuesioner ini tidak berkaitan dengan benar atau salah.
2. Beri tanda checklist untuk setiap pernyataan yang paling sesuai dengan pendapat dan kondisi anda pada kolom jawaban yang telah tersedia.
3. Apabila salah menempatkan tanda checklist pada jawaban yang tersedia, lingkari jawaban yang salah dan beri tanda checklist pada kolom yang anda anggap benar.
4. Anda hanya diperkenankan untuk memberikan satu jawaban pada setiap pernyataan yang ada dan mohon jangan sampai satu penyataan pun yang terlewat.
Keterangan:
SS = Sangat Setuju (diberi nilai 5)
S = Setuju (diberi nilai 4)
CS = Cukup Setuju (diberi nilai 3)
TS = Tidak Setuju (diberi nilai 2)
STS = Sangat Tidak Setuju (diberi nilai 1)
III. Daftar Pernyataan
No. Pernyataan SS S CS TS STS
1. Salted egg Eatlah memiliki penampilan yang
menggugah selera.
2. Porsi yang disajikan Salted egg Eatlah sesuai dengan keinginan konsumen. 3. Harga untuk membeli
Salted egg Eatlah sesuai dengan perkiraan
No. Pernyataan SS S CS TS STS
5. Cita rasa Salted eggEatlah benar berbahan dasar telur
asin.
6. Salted egg Eatlah memiliki rasa yang unik untuk
dinikmati.
7. Tekstur Salted egg Eatlah lembut.
8. Tekstur Salted egg Eatlah empuk.
9. Kemasan Salted egg Eatlah bentuknya unik. 10 Tampilan kemasan
menarik perhatian konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Adhisatya, Deo. (2017). Pengaruh Bauran Promosi Terhadap Keputusan Pembelian Domino’s Pizza Di Kota Bandung. e-Proceeding of Management, Vol. 4, No.
2 Agustus 2017, pp. 17841788.
Alma. (2016). Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung: Alfabeta ss. Arikunto, Suharsimi. (2013). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Kotler and Keller. 2016. Marketing Management. Pearson: Prentice hall.
Kotler, P., & Armstrong, G. (2014). Principles of Marketing (15th ed.) Harlow: Pearson.
Lupiyoadi, Rambat. (2013). Manajemen Pemasaran Jasa Bebasis Kompetensi (Edisi 3). Jakarta: Salemba Empat.
Malau, Harman. (2017). Manajemen Pemasaran Teori dan Aplikasi Pemasaran Era Tradisional Sampai Era Modernisasi Global . Yogyakarta: Alfabeta.
Priyatno, Duwi. (2014). SPSS 22: Pengolahan Data Terpraktis. Yogyakarta: CV.
ANDI
Siregar, Syofian. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif . Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Darmawan. Deni. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif . Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R.D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian dan Pengembangan (Research and Development/R&D).Bandung: Alfabeta.
Sugiono. 2017. Penelitian kuantitatif dan kualitatif. Bandung : Alfabeta
Sujarweni, Wiratna. 2015. SPSS Untuk Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Baru Press Tjiptono, Fandy. (2014), Pemasaran Jasa: Prinsip, Penerapan, Penelitian.
Yogyakarta: Andi Offset.
Zikmund, William G, dan Babin, Barry J. (2013). Essential of Marketing Research 5/E. China, Asia: South-Wester Cengage Learning.