BAHAN DAN METODOLOGI PENELITIAN
C. Metode Penelitian
C. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan lapangan dalam rumah plastik Split Plot Design faktorial 3 x 3 dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi K (Kalium) sebagai main plot yang terdiri atas tiga aras yaitu:
K1 : 200 ppm K2 : 300 ppm K3 : 400 ppm
Faktor kedua adalah konsentrasi Giberelin sebagai sub plot yang terdiri atas tiga aras yaitu:
G0 : Tanpa Giberelin G1 : 25 mg/l
G2 : 50 mg/l
Dari kedua faktor tersebut didapat 9 (3 x 3) kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali. Sehingga diperoleh 27 unit percobaan dengan masing-masing unit percobaan terdiri dari tanaman (5 tanaman sampel + 3 tanaman korban) sehingga jumlah keseluruhan sebanyak 216 (3 x 3 x 3 x 8) tanaman.
Dari kedua faktor perlakuan tersebut terbentuk 9 kombinasi perlakuan sebagai berikut:
K1G0 K2G0 K3G0
K1G1 K2G1 K3G1
K1G2 K2G2 K3G2
D. Pelaksanaan Penelitian 1. Pembuatan rumah plastik
Rumah plastik yang digunakan berukuran 6 x 4,5 x 2,5 meter. Alat yang digunakan yaitu gergaji, parang, meteran, dan palu. Sementara untuk
bahan yang digunakan yaitu bambu, plastik UV, paku, polinet, dan paranet.
2. Pembibitan
Stroberi dapat berkembang biak secara vegetatif dengan menggunakan stolon (sulur) yang nantinya akan berkembang menjadi tanaman baru. Anakan inilah yang digunakan sebagai bibit. Setelah daun dari anakan berjumlah kurang lebih 3 daun anakan dapat dipisahkan dari tanaman induk. Kemudian setelah daun bertambah menjadi 4-5 helai, bibit siap dipindahkan pada netpot yang berisikan rockwool dan diletakkan pada instalasi hidroponik.
3. Persiapan instalasi hidroponik
Berdasarkan rancangan percobaan yang dipilih sebelumnya, maka tandon nutrisi yang digunakan berjumlah 3 buah. Masing-masing tandon berisi nutrisi dengan konsentrasi K yang berbeda. Kemudian untuk 1 tandon nutrisi dialirkan dengan pompa aquarium melalui pipa kapiler berukuran 0,5 inci ke 4 pipa dengan ukuran diameter 2,5 inci. Kemudian aliran nutrisi ditampung dalam pipa 2,5 inci dan disalurkan kembali ke tandon nutrisi.
Jarak tanam yang dipakai yaitu 25x25 cm sedangkan lubang tanam yang digunakan berjumlah 18 lubang tanam sehingga pipa yang dibutuhkan sepanjang 4,5 meter. Jarak antar pipa satu dengan yang lain yaitu 25 cm. Dengan demikian dalam 1 set perlakuan konsentrasi K diperoleh 72 tanaman (18 lubang tanam x 4 pipa).
4. Pembuatan larutan stok
Dalam penelitian ini menggunakan nutrisi dengan 3 konsentrasi Kalium yang berbeda yaitu 200, 300, dan 400 ppm, sehingga terdapat 3 larutan stok yang dibuat. Langkah-langkah dalam pembuatan larutan stok adalah sebagai berikut, nutrisi AB mix sayuran buah (1,5 liter) yang berupa padatan dilarutkan dalam 1,5 liter air dan dimasukkan dalam botol sebagai larutan stok. Masing-masing nutrisi dengan konsentrasi K yang berbeda ditempatkan dalam botol yang berbeda. Simpan larutan stok di tempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari.
5. Mengecek pH, EC, dan TDS
Cara mengukur TDS dan EC nutrisi yaitu sebagai berikut:
memegang unit TDS & EC meter, kemudian lepaskan Protective cap (tutup bawah), mencelupkan bagian elektroda pada air/larutan yang akan di ukur TDS & ECnya sampai batas immersion level. Menekan tombol ON/OFF untuk menghidupkan alat. Lalu mengaduk-aduk pada nutrisi, menunggu beberapa saat (sekitar 5-10 detik) hingga layar menunjukan angka yang stabil. Jika angka sudah stabil/diam, maka itulah angka hasih pengukuran TDS, EC ataupun suhu larutannya.
Kemudian untuk mengukur pH nutrisi dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: menyalakan alat dengan menekan tombol ON pada pH meter, memasukkan pH meter ke dalam wadah yang berisi air yang akan diuji. Pada saat mencelupkan alat ke dalam air, skala
angka akan bergerak acak, menunggu hingga angka tersebut berhenti dan tidak berubah-ubah. Hasil akan terlihat di display digital.
Tanaman stroberi dapat tumbuh dengan baik dengan EC (Electric conductivity) sebesar 1, tingkat kepekatan nutrisi berkisar antara 1260-1540 ppm, dan pH nutrisi sebesar 6.0.
6. Pembuatan konsentrasi Giberelin
Penelitian ini menggunakan Giberelin dengan 3 konsentrasi yang berbeda yaitu tanpa Giberelin, 25 mg/l, dan 50 mg/l, sehingga membutuhkan 2 kali pembuatan konsentrasi Giberelin. Pembuatan konsentrasi Giberelin dimulai dengan menimbang 25 mg serbuk Giberelin kemudian larutkan dalam 1 liter aquades untuk memperoleh Giberelin dengan konsentrasi 25 mg/l. Ulangi langkah yang sama untuk memperoleh Giberelin dengan konsentrasi 50 mg/l. Apabila aquades yang akan digunakan sebanyak 2 liter maka berat Giberelin yang ditimbang adalah 50 mg, apabila aquades yang akan digunakan sebanyak 3 liter maka berat Giberelin yang ditimbang adalah 75 mg, dan seterusnya.
7. Pindah tanam
Pemindahan tanam dilakukan saat bibit memiliki 2-4 daun dan akar. Bibit dalam polybag diambil dan dibersihkan dari sisa-sisa tanah dan cuci akar sampai benar-benar bersih. Kemudian siapkan netpot dan rockwool lalu masukkan bibit dalam netpot dan timbun dengan rockwool.
8. Pemeliharaan
Hama stroberi antara lain yaitu ulat, semut, dan belalang. Ulat dan belalang akan merusak daun tanaman sedangkan semut melubangi bagian luar hingga ke dalam buah. Untuk mengatasi hama-hama tersebut dilakukan pengendalian secara mekanik. Hama semut dikendalikan dengan menggoreskan kapur anti semut pada tiang penyangga dan memberikan gelas air pada dasar tiang penyangga instalasi hidroponik sehingga semut tidak dapat mencapai tanaman. Sementara untuk hama ulat dan belalang dikendalikan dengan cara mengambil dengan tangan untuk kemudian dibasmi. Kemudian pada jaringan irigasi NFT diperiksa kelancaran pemberian unsur hara dengan mengecek aliran nutrisi pada tanaman.
Apabila terjadi hambatan atau jalannya hara tidak lancar maka saluran airnya dibersihkan. Hal ini bertujuan agar aliran nutrisi selalu lancar dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman tetap terpenuhi.
9. Pemotongan sulur dan daun rusak
Pemotongan sulur dan daun yang rusak baik itu daun yang terserang hama maupun daun tua adalah agar nutrisi tanaman dan fotosintat terfokus pada buah, sehingga produksi dari buah dapat maksimal.
10. Penyemprotan ZPT Giberelin
Perlakuan Giberelin disemprotkan pada tanaman sebanyak 2 kali yaitu pada umur 2 minggu dan 4 minggu setelah pindah tanam (Iolalei et
al., 2013). Volume semprot giberelin yang diberikan yaitu 384 ml/plot (Sibuea, 2014).
11. Panen
Pemanenan dilakukan 6 minggu setelah pindah tanam. Dengan karakteristik buah yang dapat dipanen yaitu kulit buah dominan berwarna merah mengkilap dipetik bersama dengan tangkai dan kelopaknya, dengan menggunakan gunting.
E. Parameter Pengamatan 1. Parameter Pertumbuhan
Tanaman korban berfungsi sebagai parameter pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dalam penelitian ini menggunakan 3 tanaman korban tiap perlakuan yang diukur parameternya pada 3 waktu yang berbeda yaitu 2, 4, dan 6 minggu setelah tanam (MST). Sehingga dapat diperoleh 3 titik yang menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
a) Tinggi tanaman (cm)
Pengukuran tinggi tanaman dilakukan saat tanaman berumur 2, 4, dan 6 MST dengan menggunakan alat ukur penggaris. Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang yang berada di atas tanah sampai pada ujung titik tumbuh, yaitu pucuk daun terpanjang.
b) Luas daun (cm2)
Pengukuran luas daun dilakukan pada saat tanaman berumur 2, 4, dan 6 MST dengan menggunakan aplikasi pada smartphone android yaitu Petiole. Aplikasi ini memanfaatkan kamera dari smartphone dan menggunakan latar belakang pemotretan yang dinamakan calibration pad (kertas kalibrasi). Terdapat 4 macam kertas kalibrasi yang digunakan tergantung dari besar kecilnya daun yang akan ditentukan luasnya.
c) Bobot kering tanaman (gram)
Bobot kering diukur pada saat tanaman berumur 2, 4, dan 6 MST.
Beberapa langkah yang dilakukan yaitu tanaman dicabut dari media tanam terlebih dahulu. Untuk memudahkan dan menghindari kerusakan akar, pencabutan dapat dilakukan di dalam air. Pastikan sudah tidak ada media tanam yang menempel pada akar. Tanaman diangin-anginkan untuk menghilangkan air, kemudian dibungkus dengan kertas yang sudah diberi label, dan selanjutnya dioven.
d) Panjang akar (cm)
Panjang akar diukur pada saat tanaman berumur 2, 4, dan 6 MST, dari pangkal batang sampai pada ujung akar terpanjang. Pengukuran panjang akar dilakukan setelah tanaman dicabut dan dibersihkan dari media, sebelum pengukuran bobot kering tanaman dilakukan.
Pengukuran panjang akar dengan menggunakan penggaris.
e) Volume akar (cm3)
Pengukuran volume akar dilakukan pada saat tanaman berumur 2, 4, dan 6 MST diawali dengan memotong seluruh bagian akar dari pangkal batang, kemudian bersihkan dari kotoran dan sisa media tanam. Pengukuran volume akar dilakukan dengan memasukkan akar ke dalam gelas ukur yang sudah berisi air. Volume akar dapat ditentukan dengan menghitung selisih pertambahan volume air sebelum dan sesudah akar dimasukkan ke dalam gelas ukur.
2. Parameter Hasil a) Jumlah bunga
Jumlah bunga dihitung mulai dari munculnya bunga pertama sampai dengan bunga yang muncul pada tanaman umur 6 MST tanam secara manual.
b) Jumlah buah
Penghitungan jumlah buah dilakukan secara manual mulai dari buah pertama sampai dengan buah pada tanaman umur 6 MST.
c) Bobot buah total per tanaman (gram)
Pengukuran bobot buah dilakukan mulai buah pertama muncul sampai dengan tanaman berumur 6 MST dengan menggunakan timbangan digital.
d) Kekerasan buah (N)
Kekerasan buah diukur pada buah yang matang saat tanaman berumur 6 MST menggunakan alat Force Gauge. Buah ditusukkan ke bagian tengah buah hingga nilai kekerasannya muncul dan ditampilkan dalam satuan Newton (Weliana et al., 2014).
e) Diameter buah (cm)
Pengukuran diameter buah dilakukan pada buah matang yang pertama muncul sampai dengan buah yang matang saat tanaman berumur 6 MST. Pengukuran diameter buah dilakukan dengan menggunakan jangka sorong.
f) Kandungan vitamin C (mgr/100gr)
Kandungan vitamin C dilakukan pada buah yang matang saat tanaman berumur 6 MST. Pengukuran kandungan vitamin C dilakukan di laboratoium Chem-mix Pratama dengan metode titrasi iodimetri.