PMSG DAN HCG SEBELUM PENGAWINAN ABSTRAK
METODE PENELITIAN Bahan
Penelitian ini dimulai dari bulan Desember 2012 sampai April di Peternakan Kalasey Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Percobaan yang digunakan dalam penelitian ini ialah 24 induk babi keturunan Landrace dengan bobot badan berkisar 100-120 kg. Hormon yang digunakan untuk meningkatkan sekresi endogen adalah PMSG dan hCG (PG600 Intervet, The Netherland) dan untuk penyerentakan berahi dipergunakan prostaglandin (Lutalyse, Intervet, The Netherland). Induk babi dipelihara di kandang individu dan diberikan pakan pagi dan sore hari dan air minum diberikan secara ad libitum. Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini ialah: 24 ekor babi induk dari keturunan Landrace dengan bobot badan berkisar 100-120 kg. Hormon yang digunakan untuk meningkatkan sekresi endogen hormon kebuntingan adalah
45 PMSG dan hCG (PG 600,Intervet,The Netherland) dan untuk penyerentakan berahi dipergunakan prostaglandin (Lutalyse,Intervet,The Netherland).
Tahapan Pelaksanaan Penelitian.
Penelitian ini terdiri atas dua tahapan. Pada tahap pertama, 12 induk babi
diserentakkan berahinya dengan menyuntikkan prostaglandin (PGF2α) sebanyak
dua kali masing-masing tiap penyuntikan sebanyak satu mililiter dengan interval
waktu 14 hari. Pada penyuntikan PGF2α kedua, atau 3 hari sebelum berahi, induk babi dibagi dua, masing-masing terdiri atas 6 ekor induk. Induk babi kelompok pertama disuntik PG 600 dosis 400/200 IU secara intramuskuler dan kelompok kedua disuntik dengan NaCl fisiologis 0,9% sebagai kontrol. Induk babi yang menunjukkan gejala berahi dikawinkan dengan cara mencampur dengan pejantan.Selama kebuntingan dan laktasi, babi percobaan dipelihara sesuai manajemen peternak setempat. Parameter yang diamati adalah bobot badan lahir, bobot badan sapih, dan dimensi tubuh anak. Bobot badan lahir per ekor diperoleh dengan cara menimbang semua anak babi yang lahir dari seperindukan. Bobot badan sapih perekor diperoleh dengan cara menimbang semua anak babi pada periode penyapihan. Dimensi tubuh anak meliputi panjang badan, panjang tungkai depan, dan panjang tungkai belakang baik pada saat lahir maupun pada saat penyapihan.
Pada tahap kedua, 12 ekor babi dibagi kedalam 3 kelompok masing-masing 4 ekor. Kelompok pertama (kontrol) adalah induk babi yang disuntik dengan NaCl 0.9% (NSO). Kelompok kedua adalah induk babi yang disuntik dengan PMSG dan hCG 400/200 IU (SO). Kelompok ketiga adalah 4 ekor induk babi dari anak hasil superovulasi (F1SO). Sebelum pengawinan, siklus berahi babi percobaan diserentakkan dengan penyuntikan PGF2α sebanyak dua kali masing -masing 1 mL dengan interval waktu 14 hari. Ketika menunjukkan gejala berahi, pejantan dimasukkan ke dalam kandang betina siap untuk mengawini babi berahi. Selama masa kebuntingan, babi dipelihara di kandang individu yang dilengkapi tempat makan dan minum sampai beranak dan siap disapih. Parameter yang diamati adalah bobot badan lahir, bobot badan sapih, dan dimensi tubuh anak. Bobot badan lahir per ekor diperoleh dengan cara menimbang semua anak babi yang lahir dari seperindukan. Bobot badan sapih perekor diperoleh dengan menimbang anak pada periode penyapihan. Dimensi tubuh anak yang meliputi panjang badan, panjang tungkai depan, dan panjang tungkai belakang diukur pada saat lahir dan penyapihan.
Prosedur Analisis Data
Data dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan dengan selang kepercayaan 95% (α=0.05). Analisis keseluruhan dengan menggunakan perangkat lunak Minitab 16.
46
HASIL DAN PEMBAHASAN
Rataan bobot badan lahir, panjang badan lahir, tinggi tungkai depan lahir dan tinggi tungkai belakang lahir disajikan pada Tabel 5. Bobot badan lahir anak babi SO dan F1SO meningkat masing-masing sebesar 33,89 dan 32,00% (P< 0,05), dibandingkan dengan bobot badan lahir anak babi NSO. Koefisien keragaman bobot badan lahir pada babi SO (5,24%) dan F1SO (6,03%)secara signifikan lebih rendah (P<0,05) dibandingkan dengan keragaman pada anak babi NSO (23,25%). Perbaikan dan homogenitas parameter pertumbuhan pada anak babi yang dilahirkan oleh indukSO diwariskan kepada keturunannya (F1SO). Bobot badan lahir yang lebih tinggi pada anak babi SO dan F1SO juga disertai dengan peningkatan panjang badan. Peningkatan panjang tubuh dan tinggi tungkai depan antara SO dan F1SO lebih homogen dibandingkan babi NSO (P<0.05). Panjang badan lahir anak babi SO dan F1SO meningkat sebesar 7,1 dan 9,4% dibandingkan dengan babi NSO (P<0,05). Panjang badan anak babi SO dan F1SO lebih homogen dibandingkan dengan anak babi NSO. Keragaman panjang tubuh pada anak babi NSO adalah 7,22%. Tinggi tungkai depan pada anak babi SO dan F1SO meningkat masing-masing 20,30 dan 21,07% dibandingkan tinggi tungkai depan babi NSO(P<0,05). Keragaman ketinggian tungkai depan saat lahir pada anak babi SO, F1SO, dan NSO secara berturut-turut adalah 7,24, 5,25, dan 5,41%. Ketinggian tungkai belakang saat lahir di SO dan F1SO babi juga meningkat 20,31% dan 21,07% dibandingkan dengan babi NSO (P<0,05). Keragaman tinggi tungkai belakang di NSO, SO, dan F1SO masing-masing adalah 9,54, 6,19, dan 6,16%.
Pada saat penyapihan, anak babi pada kelompok SO dan F1SO memiliki bobot badan yang sama dan secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan babi NSO (Tabel 6). Peningkatan bobot badan sapih pada anak babi SO diwariskan kepada keturunannya F1SO. Bobot badan sapih anak babi SO dan F1SO meningkat sebesar 19,76 dan 141% dibandingkan dengan anak babi NSO(P<0,05). Keragaman bobot sapih pada babi NSO (9.05%) lebih tinggi dibandingkan dengan babi SO (4,58%) dan F1SO (3,87%).
Tabel 6 Bobot badan, panjang badan, tinggi tungkai depan, tinggi tungkai belakang lahir anak babi SO, NSO, dan F1SO
Parameter
Kelompok
SO1 NSO2 F1SO3
Bobot badan lahir (kg/ekor) 1,58±0,074a 1,17±0,13b 1,55±0,005a
Panjang badan lahir (cm) 33,96±0,98a 31,69±1,48b 34,69±0,40a
Tinggi tungkai depan (cm) 14,16±0,35a 11,77±0,75b 14,25±0,38a
Tinggi tungkai belakang (cm)
47
ab
Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0,05),
1
SO induk yang disuntik PMSG dan hCG sebelum pengawinan,
2
NSO sebagai kontrol adalah induk tanpa penyuntikan PMSG dan HCG sebelum pengawinan,
3
F1SO induk babi keturunan dari induk SO yang disuntik PMSG dan hCG sebelum pengawinan,
Perbedaan panjang tubuh dan ketinggian tungkai depan sapih antara babi SO, F1SO, dan NSO lebih kecil dibandingkan dengan bobot badan lahir. Meskipun bobot badan sapih masih lebih tinggi pada babi SO dan F1SO, kenaikan panjang badan, tinggi tungkai depan, dan tinggi tungkai belakang babi sapih secara statistik tidak signifikan dibandingkan dengan babi NSO (P>0,05). Peningkatan panjang badan, tinggi tungkai depan, dan tinggi tungkai belakang pada saat penyapihan tidak diwariskan kepada keturunan F1SO. Meskipun secara statistik tidak signifikan, panjang tubuh dan tinggi tungkai saat penyapihan lebih rendah pada keturunan F1SO dibandingkan dengan SO. Panjang badan sapih pada SO dan F1SO hanya meningkat sebesar 0,83 dan 1,096% dibandingkan dengan babi NSO.
Keragaman panjang tubuh sapih pada anak babi NSO (6,24%) secara angka lebih tinggi dibandingkan dengan anak babi SO (5,14% dan F1SO (4,57%). Ketinggian tungkai depan saat penyapihan pada anak babi SO hanya meningkat masing-masing sebesar 6,43 dan 4,39% dibandingkan dengan anak babi NSO. Keragaman ketinggian tungkai depan saat penyapihan pada babi NSO,SO, dan F1SO masing-masing adalah 5,46,4,43, dan 4,83%. Ketinggian tungkai belakang saat penyapihan pada anak babi SO dan F1SO hanya meningkat sebesar 7,83 dan 5,51% dibandingkan dengan anak babi NSO. Keragaman ketinggian tungkai belakang saat penyapihan pada babi NSO, SO, dan F1SO masing-masing adalah 5,50, 4,57, dan 4,82%. Produktivitas induk babi dievaluasi dengan membandingkan total bobot badan babi lahir hidup per kelahiran, total bobot sapih per induk babi, tingkat pertumbuhan prasapih, mortalitas prasapih pada babi NSO, SO, dan F1SO (Tabel 6).
Tabel 7 Bobot badan, panjang badan, tinggi tungkai depan, dan tinggi tungkai belakang pada saat sapih pada anak babi SO, NSO, dan F1SO.
Parameter
KELOMPOK
SO1 NSO2 F1SO3
Bobot badan sapih (kg) 14,30±0,42a 11,94±1,31b 13,78±0,43a
Panjang badan sapih (cm) 48,77±2,11a 48,37±5,22a 48,90±1,54a
Tinggi tungkai depan sapih (cm)
24,30±1,55a 22,83±1,25a 23,88±1,30a
Tinggi tungkai belakang sapih (cm)
48
ab
Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0.05).
1
SO induk yang disuntik PMSGdan hCG sebelum pengawinan.
2
NSO sebagai kontrol adalah induk tanpa penyuntikan PMSG dan HCG sebelum pengawinan.
3
F1SO induk babi keturunan dari induk SO yang disuntik PMSG dan hCG sebelum pengawinan.
. Secara umum, bobot total anak babi lahir hidup per kelahiran, total bobot badan sapih per induk dan tingkat pertumbuhan prasapih dari babi SO dan F1SO secara konsisten sama dan lebih tinggi dibandingkan dengan anak babi NSO (P<0.05). Data ini sangat menunjukkan bahwa fenotip pertumbuhan yang baik saat lahir meningkatkan pertumbuhan prasapih dan kelangsungan hidup yang akhirnya meningkatkan produktivitas induk babi dan fenotippertumbuhan yang diwariskan kepada keturunannya.
Total bobot babi lahir hidup per induk babi SO dan F1SO meningkat masing-masing sebesar 37,61 dan 32,20% dibandingkan dengan induk babi NSO. Keragaman babi lahir hidup perkelahiran pada induk SO (5,24%) dan F1SO (6,03%) secara dramatis lebih rendah dibandingkan dengan NSO (23,25%). Kelangsungan hidup dan tingkat pertumbuhan babi selama periode prasapih pada anak babi yang dilahirkan oleh induk SO dan F1SO meningkat secara signifikan. Mortalitas prasapih pada anak babi SO dan F1SO adalah sama dan secara dramatis menurun masing-masing sebesar 67,59 dan 79,10% dibandingkan dengan anak babi yang dilahirkan oleh induk NSO. Penurunan angka kematian prasapih meningkat secara signifikan dan daya hidup prasapih babi anak babi SO (42,44%) dan F1SO (49,67%) lebih tinggi dibandingkan dengan anak babi NSO (P<0,05). Keragaman mortalitas prasapih babi NSO (38,57%) lebih tinggi dibandingkan babi SO (12,50% dan F1SO (8,06%).. Tingkat pertumbuhan prasapih pada anak babi SO dan F1SO meningkat masing-masing sebesar 17,07 dan 13,32%, dibandingkan dengan anak babi NSO (P<0,05). Keragaman tingkat pertumbuhan prasapih pada anak babi NSO (20,67%) lebih tinggi dibandingkan dengan anak babi SO (8,08% dan F1SO (7,85).
Kesamaan tingkat pertumbuhan prasapih antara babi SO dan F1SO dalam percobaan ini sangat menguatkan bahwa fenotip pertumbuhan yang baik yang dihasilkan oleh kondisi prenatal yang baik pada babi SO yang diwariskan kepada keturunannya. Sebagai hasil pertumbuhan fenotip pada SO dan F1SO meningkat secara dramatis masing-masing sebesar 46,23% dan 47,86% dibandingkan dengan babi NSO. Keragaman bobot total anak yang disapih per induk babi NSO, SO, dan F1SO adalah 9,07, 4,56, dan 6,08%.
Hasil penelitian menggambarkan bahwa perbaikan lingkungan uterus dan plasenta melalui peyuntikan gonadotropin sebelum pengawinan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak yang dilahirkan. PMSG dan hCG merupakan hormon yang aktivitas keduanya mirip dengan FSH dan LH yang berfungsi merangsang pertumbuhan dan perkembangan serta meningkatkan derajat ovulasi dalam perkembangannya merangsang proliferasi sel granulosa menstimulasi sintesis estrogen dan selanjutnya bersama merangsang proses ovulasi (Estiene dan Harper 2003).
49 Tabel 8 Total bobot lahir hidup, mortalitas prasapih, rataan laju pertumbuhan, dan
total bobot badan babi sapih per induk pada babi SO, NSO,dan F1SO. .
Parameter
Kelompok
SO1 NSO2 F1SO3
Total bobot badan lahir hidup (kg/induk)
17,83±1,52a 12,95±2,009b 17,12±1,10a
Mortalitas prasapih (%) 12,50±9,57a 38,57±21,44b 8,06±10,56a
Rataan laju pertumbuhan (g/hari) 257,12±11,21a 219,62±26,09b 248,87±8,47a
Total bobot badan sapih
(kg/induk)
146,60±7,98a 100,25±15,68b 148,23±11,63a
ab
Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaanyang signifikan (P<0.05).
1
SO induk yang disuntik PMSGdan hCG sebelum pengawinan.
2
NSO sebagai kontrol adalah induk tanpa penyuntikan PMSG dan HCG sebelumpengawinan.
3
F1SO induk babi keturunan dari induk SO yang disuntik PMSG dan hCG sebelum pengawinan.
Perkembangan korpus luteum selanjutnya mensintesis progesterone yang merupakan hormon penting untuk implantasi dan plasentasi.
Selama kebuntingan, progesteron berperan untuk mempertahankan kebuntingan dan fungsi semua sistem kebuntingan untuk mempertahankan dan mensekresi serta mengangkut nutrisi ke dalam lumen uterus untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan embrio dan fetus (Dunlap dan Stromshak 2004). Pertumbuhan fetus selama di dalam kandungan digambarkan oleh bobot embrio dan peningkatan plasenta, bobot lahir tinggi, tinggi dan panjang badan anak (Mege et al. 2007,2006; Lapian et al. 2013). Peningkatan plasenta dan janin merupakan refleksi dari ekspresi gen pertumbuhan yang ditunjukkan dengan bobot lahir yang lebih baik dan tingkat keragaman yang kecil.
Pertumbuhan prasapih meningkat pada anak babi yang dilahirkan oleh induk yang mengalami superovulasi sebelum perkawinan.Variasi bobot lahir berkontribusi pada kelangsungan anak sampai usia sapih, dengan bobot lahir yang lebih ringan memiliki tingkat pertumbuhan yang rendah dan lebih lambat untuk mencapai bobot potong (Milligan et al. 2001).Peningkatan bobot lahir yang baik terjadi karena peningkatan sekresi endogen hormonkebuntingan yang akan memperbaiki lingkungan uterus dan plasenta. Perbaikan plasenta juga akan memperbaiki aliran darah sehingga meningkatkan transportasi nutrisi yang baik yang disebabkan karena peningkatan aliran darah dengan demikian nutrisi ke janin juga meningkat selama perkembangan prenatal (Milligan et al. 2002; Quiniou et al. 2002).
50
Fenotipe pertumbuhan anak babi lahir dapat ditingkatkan melalui proses epigenetik dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan uterus dan plasenta. Perkembangan embrio bergantung pada keterkaitan antara nutrisi dan regulasi hormon dan faktor pertumbuhan (Fix et al. 2010). Bobot badan lahir rendah berimplikasi pada kinerja pertumbuhan prasapih yang rendah, memiliki laju pertumbuhan rendah dan lebih lambat mencapai bobot sapih yang baik. Sebaliknya, kinerja bobot badan lahir yang tinggi memiliki kinerja pertumbuhan prasapih yang baik seperti yang dapat dilihat pada penelitian ini. Keragaman bobot badan lahir merupakan kontribusi yang baik dimana kinerja bobot lahir yang baik memberikan kelangsungan hidup anak yang baik, peningkatan bobot sapih, usia potong, dan kualitas karkas yang baik yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas babi (Milligan et al. 2001; Lapian et al. 2013).
Dengan demikian, peningkatan sekresi endogen hormon-hormon kebuntingan selama periode kebuntingan pada induk yang disuperovulasi meningkatkan ekspresi gen pertumbuhan dan pada babi superovulasi memperbaiki bobot lahir dan fenotipe pertumbuhan anak dan diwariskan serta memberi kontribusi penyediaan bibit unggul yang berkualitas. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan gonadotropin eksogen atau superovulasi meningkatkan perkembangan folikel dan ovulasi dan perkembangan korpus lutea yang meningkatkan sekresi endogen estrogen dan progesteron. Peningkatan sintesis estrogen dan progesteron memperbaikilingkungan uterus dan kualitas embrio dan meningkatkan keberhasilan transfer embrio dan peningkatan kinerja reproduksi pada babi (Angel et al. 2014; Arlaud et al. 2010; Hazelegeret et al. 2000)
SIMPULAN
Perbaikan sekresi endogen hormon kebuntingan melalui penyuntikan PMSG dan hCG dapat memperbaiki fenotipe pertumbuhan anak yang diturunkan ke anaknya sehingga dapat digunakan untuk menghasilkan bibit unggul.
DAFTAR PUSTAKA
Angel, M.A., Gil, M.A., Cuello, C., Sanchez-Osorio,J., Gomis, J., Parrilla, I., Vila, J., Colina, I., Diaz, M., Reixach, J., Vazquez, J.L., Vazquez, J.M., Roca, J., Martinez, E.A. 2014. The effects of superovulation of donor sows on ovarian response and embryo development after nonsurgical deep-uterine embryo transfer. Theriogenology. 81, 832-839.
Arlaud, J.J., Baker, L., Williams, R.L., French, A.J., 2010. Oestrous synchronization, ovarian superovulation and intraspecific transfers from a closed breeding colony of inbred SLA miniature pigs. Reprod. Domest. Anim. 45, 951-958.
Dunlap K A, Stomshak F.2004. Nongenomic inhibition of oxytocin binding by progesterone in the ovine uterus. Biol.Rep.79:65-68.
51 Estiene J M Harper A F, 2003. Uses of PG600 in swine breeding herd
management http://ext.vt.edu/news/livestock/aps-0344.html.
Fix J S, Cassady J P, Holl J W, Herring W O, Culbertson M S, See M T. 2010. Effect of piglet birth weight on survival and quality of commercial market swine. Livest Prod. Sci, 132:98-106.
Fowden A L, Giussani D A, Forhead, A J. 2005. Endocrine and metabolic programming during intrauterine development. Early Hum. Dev. 81, 723-734. Fowden, A.L., Forhead, A.J., Coan, P.M., Burton, G.J., 2008. The placenta and
intrauterine programming. J.Neuroendocrinol. 20: 439–450.
FowdenA.L.,Ward, J.W.,Wooding, F.P.B., Forhead, A.J., Constancia, M., 2006. Programming placental nutrient transport capacity. J. Physiol. 572: 5–15. Foxcroft, G.R., 2012. Reproduction in farm animals in an era of rapid genetic
change: will genetic change outpace our knowledge of physiology? Reprod.Domest. Anim. 47 Suppl 4: 313-319.
Foxcroft, G.R., Dixon, W.T., Dyck, M.K., Novak, S., Harding, J.C., Almeida, F.C. 2009. Prenatal programming of postnatal development in the pig. Soc. Reprod. Fertil.Suppl. 66: 213-31.
Foxcroft, G.R., Dixon, W.T., Novak, S., Putman, C.T., Town, S.C., Vinsky, M.D.A., 2006. The biological basis for prenatal programming of postnatal performance in pigs. J. Anim. Sci 84, E105-E112.
Hazelegert, W., Bouwman, E.G., Noordhuizen, J.P., Kemp, B., 2000. Effect of superovulation induction on embryonic development on day 5 and subsequent development and survival after nonsurgical embryo transfer in pigs.Theriogenology 53: 1063-1070.
Lapian, M.T.R., Siagian, P.H., Manalu, W., Priyanto, R., 2013.Carcass qualities of finisher pig born to superovulated sows before mating. J. Veteriner 14: 350-357.
Mege, R.A., Manalu, W., Kusumorini, N., Nasution, S.H., 2006. Effect of superovulation on piglet production. Animal Production 8: 8-15.
Mege, R.A., Nasution, S.H., Kusumorini, N., Manalu, W., 2007. Growth and development of the uterus and placenta of superovulated gilts. Hayati J. Biosciences 14: 1-6.
Milligan, B. N., Fraser, D., Kramer, D.L., 2001. Birth weight variation in the domestic pig: effect on spring survival, weight gain and suckling behavior. Applied Animal Behaviour Science 73: 179-191.
Milligan, B. N., Fraser, D., Kramer, D.L., 2002. Within-litter birth weight variation in the domestic pig and its relation to pre-weaning survival, weight gain, and variation in weaning weights. Livest. Prod. Sci. 76, 181–191.
Ohtaki, T., Moriyoshi, M., Nakada, K., Nakao, T., Sawamukai, Y., 2012. Relationships among steroid hormone levels in newborn piglets, birth weight, placental weight, vitality of offspring and litter size. Anim. Sci. J. 83: 644-649.
Quiniou, N., Dagorn, J., Gaudre, D., 2002. Variation of piglets’ birth weight and
consequences on subsequent performance. Livest. Prod. Sci. 78: 63–70.
Reynolds, L.P.,Redmer,.D.A., 1995. Utero-placental vascular development and placental function. J. Anim. Sci.73: 1839-1851.
Spencer, T.E., Bazer, F.W., 2002. Biology of progesterone action during pregnancy recognition and maintenance of pregnancy. Front Biosci. 7: d1879–
52
Spencer, T.E.,Bazer, F.W., 2004. Uterine and placental factors regulating conceptus growth in domestic animals. J. Anim. Sci.82: E4-E13.
Spencer, T.E., Johnson, G.A., Burghardt, R.C., Bazer, F.W., 2004. Progesterone and placental hormone actions on the uterus: Insights from domestic animals. Biol.Reprod. 71: 2–10.