• Tidak ada hasil yang ditemukan

PMSG DAN HCG SEBELUM PENGAWINAN ABSTRAK

PEMBAHASAN UMUM

Penelitian dengan menggunakan perlakuan superovulasi pada induk babi kampung (native) dan eksotik terbukti telah mampu memperbaiki lingkungan uterus yang berakibat pada peningkatan bobot badan lahir, daya hidup dan laju pertumbuhan prasapih, bobot sapih serta total bobot sapih perekor induk. Pada hewan mamalia, produktivitas ditentukan oleh keberhasilan reproduksi untuk menghasilkan anak dan keturunannya.

PMSG dan hCG sebagai hormon eksogen merupakan hormon

gonadotropin yang dihasilkan dengan aktivitas biologik “like” FSH dan hCG berfungsi meningkatkan aktivitas FSH dan LH endogen dalam proses folikulogenesis. PMSG memiliki kadar asam sialat yang tinggi yang dapat mengakibatkan waktu paruh yang cukup panjang dibandingkan dengan gonadotropin endogen. Dengan demikian pada babi memiliki kemampuan dimana folikel matang membantu perkembangan folikel kurang matang, olehnya aktivitas tersebut didukung oleh kemampuan hormon PMSG yang mempunyai waktu paruh yang lebih lama olehnya menyebabkan lebih banyak jumlah folikel yang matang untuk selanjut terjadi peningkatan derajat ovulasi, kemudian selanjutnya mekanisme sekresi estrogen dan progesteron terjadi peningkatan.

Estrogen dan progesteron adalah hormon kunci dalam pengaturan dan perkembangan uterus pada mamalia. Hormon-hormon inilah yang mengawali perubahan histologis awal pada jaringan uterus sebagai persiapan untuk implantasi dan pertumbuhan uterus dan embrio pada awal kebuntingan yang diikuti dengan pertumbuhan dan perkembangan fetus dan plasenta sampai kelahiran. Pertumbuhan uterus dan plasenta yang rendah dan kurang optimum akan membatasi pertumbuhan dan perkembangan embrio dan fetus dan yang pada akhirnya menurunkan bobot badan lahir dan daya tahan hidup anak yang baru lahir.

Pada hewan politokus, peningkatan jumlah folikel dan korpus luteum yang tumbuh dan berkembang dan jumlah fetus di dalam uterus tidak linear dengan peningkatan sekresi kebuntingan. Terdapat indikasi penurunan rasio hormon kebuntingan (progesteron dan estrogen) per fetus selama periode kebuntingan yang berkaitan dengan penurunan bobot lahir dengan meningkatnya jumlah anak sekelahiran atau litter size. Dengan demikian, perbaikan sekresi hormon kebuntingan selama periode kebuntingan dapat memperbaiki persiapan uterus untuk implantasi dan untuk pertumbuhan dan perkembangan uterus untuk mendukung pertumbuhan prenatal. Faktor prenatal dan postnatal berpengaruh pada kelangsungan hidup babi. Lingkungan rahim pada induk babi sebelum kelahiran sangat penting bagi kelangsungan hidup anak babi. Pada babi sekresi

52

Spencer, T.E.,Bazer, F.W., 2004. Uterine and placental factors regulating conceptus growth in domestic animals. J. Anim. Sci.82: E4-E13.

Spencer, T.E., Johnson, G.A., Burghardt, R.C., Bazer, F.W., 2004. Progesterone and placental hormone actions on the uterus: Insights from domestic animals.

Biol.Reprod. 71: 2–10.

PEMBAHASAN UMUM

Penelitian dengan menggunakan perlakuan superovulasi pada induk babi kampung (native) dan eksotik terbukti telah mampu memperbaiki lingkungan uterus yang berakibat pada peningkatan bobot badan lahir, daya hidup dan laju pertumbuhan prasapih, bobot sapih serta total bobot sapih perekor induk. Pada hewan mamalia, produktivitas ditentukan oleh keberhasilan reproduksi untuk menghasilkan anak dan keturunannya.

PMSG dan hCG sebagai hormon eksogen merupakan hormon

gonadotropin yang dihasilkan dengan aktivitas biologik “like” FSH dan hCG

berfungsi meningkatkan aktivitas FSH dan LH endogen dalam proses folikulogenesis. PMSG memiliki kadar asam sialat yang tinggi yang dapat mengakibatkan waktu paruh yang cukup panjang dibandingkan dengan gonadotropin endogen. Dengan demikian pada babi memiliki kemampuan dimana folikel matang membantu perkembangan folikel kurang matang, olehnya aktivitas tersebut didukung oleh kemampuan hormon PMSG yang mempunyai waktu paruh yang lebih lama olehnya menyebabkan lebih banyak jumlah folikel yang matang untuk selanjut terjadi peningkatan derajat ovulasi, kemudian selanjutnya mekanisme sekresi estrogen dan progesteron terjadi peningkatan.

Estrogen dan progesteron adalah hormon kunci dalam pengaturan dan perkembangan uterus pada mamalia. Hormon-hormon inilah yang mengawali perubahan histologis awal pada jaringan uterus sebagai persiapan untuk implantasi dan pertumbuhan uterus dan embrio pada awal kebuntingan yang diikuti dengan pertumbuhan dan perkembangan fetus dan plasenta sampai kelahiran. Pertumbuhan uterus dan plasenta yang rendah dan kurang optimum akan membatasi pertumbuhan dan perkembangan embrio dan fetus dan yang pada akhirnya menurunkan bobot badan lahir dan daya tahan hidup anak yang baru lahir.

Pada hewan politokus, peningkatan jumlah folikel dan korpus luteum yang tumbuh dan berkembang dan jumlah fetus di dalam uterus tidak linear dengan peningkatan sekresi kebuntingan. Terdapat indikasi penurunan rasio hormon kebuntingan (progesteron dan estrogen) per fetus selama periode kebuntingan yang berkaitan dengan penurunan bobot lahir dengan meningkatnya jumlah anak sekelahiran atau litter size. Dengan demikian, perbaikan sekresi hormon kebuntingan selama periode kebuntingan dapat memperbaiki persiapan uterus untuk implantasi dan untuk pertumbuhan dan perkembangan uterus untuk mendukung pertumbuhan prenatal. Faktor prenatal dan postnatal berpengaruh pada kelangsungan hidup babi. Lingkungan rahim pada induk babi sebelum kelahiran sangat penting bagi kelangsungan hidup anak babi. Pada babi sekresi

53 uterus, faktor pertumbuhan, pengiriman nutrisi oleh rahim mempengaruhi tingkat pertumbuhan, perkembangan dan daya hidup. Kenaikan hormon progesteron pada awal kehamilan mempercepat sekresi protein, meningkatkan sekresi estrogen dan konsepsi dan memperbesar ukuran embrio. Dengan demikian penelitian dengan penyuntikan PMSG dan hCG sebelum pengawinan meningkatkan progesterone dan estrogen pada induk yang disuperovulasi juga menstimulasi peningkatan pertumbuhan prenatal dan perbaikan uterus dan plasenta. Superovulasi dengan PMSG dan hCG secara signifikan meningkatkan sekresi endogen estrogen dan progesterone dan selama kebuntingan dan selanjutnya meningkatkan pertumbuhan rahim dan plasenta yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan embrio dan fetus yang pada akhirnya meningkatkan bobot lahir dan kelangsungan hidup. Bobot lahir telah digunakan sebagai parameter seleksi untuk seleksi bakalan atau ternak unggul. Bobot lahir ditentukkan dan dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perkembangan prenatal yang sangat rumit di dalam uterus.

Pada penelitian selanjutnya terhadap F1SO (dari turunan anak induknya disuperovulasi yang kemudian telah menjadi induk) kemudian dikawinkan tanpa dilakukan superovulasi, juga anak-anak yang dihasilkan memiliki bobot badan lahir, bobot badan sapih dan laju pertumbuhan prasapih yang tidak berbeda nyata dengan hasil dari induk yang disuperovulasi. Fenomena ini menarik untuk dipelajari lebih lanjut karena didapatkannya perbaikan fenotipe pertumbuhan dan peningkatan produktivitas induk yang meningkat drastic tanpa perbaikan managemen dan kualitas pakan secara umum.

Efektivitas peningkatan sekresi hormon kebuntingan melalui superovulasi untuk meningkatkan ekspresi gen pertumbuhan selama fase differensiasi embrional babi dan meningkatkan fenotipe pertumbuhan pascalahir. Estrogen dan progesteron memegang peranan penting dalam mengendalikan pertumbuhan uterus dan plasenta serta perkembangan. Peningkatan estrogen dan sekresi selama siklus estrus diikuti dengan peningkatan sintesis dan sekresi progesteron dan korpus luteum setelah ovulasi oleh plasenta (Ash dan Heap 1975; Flawers et al.1991; Przala et al. 1985). Hormon-hormon memprakarsai perubahan histologis dalam uterus dalam persiapan implantasi dan pertumbuhan dan perkembangan uterus dan embrio pada awal kehamilan diikuti oleh pertumbuhan dan perkembangan embrio dan plasenta sampai partus (Gray et al.2001; Spencer dan Bazer 2004, 2002; Spencer et al. 2004). Uterus dan plasenta yang kurang baik akan menurunkan bobot lahir dan vitalitas neonatal (Ohtaki et al. 2012). Bobot lahir memiliki pengaruh yang sangat signifikan pada kemampuan bertahan hidup, kompetitif antarsesamanya dalam usaha memperoleh susu, kemampuan bertahap terhadap lingkungan dan jika berat lahir kurang maka mempengaruhi kinerja dan menurunkan tingkat produktivitas ternak (Milligan etal. 2001; Fix et al. 2010).

Peningkatan sekresi endogen hormon kebuntingan melalui penyuntikan hormon eksogen gonadotropin, seperti FSH, PMSG, dan HCG sebelum pengawinan meningkatkan pertumbuhan uterus dan plasenta dengan pertumbuhan dan perkembangan embrio dan fetus. Pertumbuhan fetus selama di dalam kandungan yang digambarkan oleh bobot lahir, tinggi dan panjang badan anak, dan pertumbuhan prasapih meningkat pada anak babi yang dilahirkan oleh induk yang mengalami superovulasi sebelum perkawinan. Penelitian ini membuktikan bahwa peningkatan sekresi endogen hormon-hormon kebuntingan selama periode kebuntingan pada induk yang disuperovulasi meningkatkan ekspresi gen

54

pertumbuhan. Pada ternak babi politokus, superovulasi tetap dapat digunakan untuk memperbaiki bobot lahir dan fenotipik pertumbuhan anak sebagai bakalan atau bibit yang mempunyai keunggulan pertumbuhan.

Ternak babi adalah hewan yang memiliki kemampuan dengan satu kelahiran menghasilkan sejumlah anak. Walaupun demikian, produktivitas pada ternak prolifik belum maksimal yang dapat digambarkan dengan tingginya kematian embrio selama periode kebuntingan, tingginya keragaman jumlah anak sekelahiran perinduk serta rendahnya bobot lahir anak sekelahiran dan tingginya mortalitas prasapih menjadikan penurunan fenotipik pertumbuhan.

Perbaikan sekresi endogen hormon kebuntingan dapat dilakukan dengan cara sederhana melalui penyuntikan gonadotropin, misalnya PMSG (pregnant mare serum gonadotropin) dan hCG (human chorionic gonadotropin). Teknologi sederhana ini bertujuan meningkatkan derajat ovulasi dan menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan folikel mensekresi estrogen dan peningkatan ovulasi dan sekresi progesteron yang selanjutnya memperbaiki lingkungan uterus dan proses plasentasi. Penelitian penggunaan PMSG dan HCG telah dilakukan memperbaiki pertumbuhan embrio dan fetus (Manalu et al. 1998, Adriani et al.

2007, Mege et al. 2006, 2007) dan meningkatkan pertumbuhan bobot lahir dan memperpendek usia potong (Lapian et al. 2013).

Hasil penelitian pada babi lokal (Tabel 1) menunjukkan perbaikan fenotipe pertumbuhan yang sangat tinggi dibandingkan dengan kontrol. Hasil ini secara umum meningkatkan daya tahan hidup, laju pertumbuhan prasapih, dan bobot sapih serta total bobot sapih per ekor induk pada babi lokal. Hasil ini menunjukkan bahwa teknologi ini sangat efektif digunakan pada babi lokal dengan tingkat litter size yang rendah dengan keberhasilan reproduksi yang secara umum lebih rendah dibandingkan dengan babi ras. Perbaikan kinerja reproduksi ini akan memberi dampak ekonomi yang baik pada peternak. Dengan bobot lahir yang baik, kelangsungan hidup dan bobot sapih yang tinggi sangat menguntungkan bagi usaha peternakan dengan produktivitas reproduksi yang tinggi.

Pengembangan produktivititas ternak ditentukan oleh kualitas bibit yang ada. Produksi bibit biasanya membutuhkan seleksi dan program pemuliaan yang rumit dan lama. Dengan demikian, penyediaan bibit ternak untuk dipelihara sampai siap dipasarkan sangat menentukan keberhasilan produksi. Perbaikan lingkungan uterus dan plasenta selama perkembangan embrio dan fetus ternak mamalia akan mempengaruhi perkembangan dan diferensiasi sel-sel dan ekspresi gen yang selanjutnya akan mempengaruhi kualitas hidup dan ekspresi gen anak yang dihasilkan. Perbaikan ekspresi gen selama perkembangan embrio dan fetus diharapkan akanterus diwariskan kepada anaknya sehingga bisa diwariskan pada keturunan selanjutnya. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa fenotipe pertumbuhan anak dapat ditingkatkan melalui proses epigenetik dimana fenotippertumbuhan yang lebih baik itu bisa diwariskan ke keturunannya. Teknik ini akan lebih penting lagi digunakan untuk memperbaiki genotip pertumbuhan ternak lokal Indonesia yang sudah beradaptasi dengan lingkungan tropika lembap Indonesia. Dengan daya adaptasi yang sudah baik ini akan mendukung produktivitas melalui perbaikan ekspresi genotip pertumbuhan dan lingkungan.

Satu aspek yang menonjol dari penelitian ini ialah bahwa didapatkan perbaikan fenotipe pertumbuhan dan produktivitas induk yang meningkat drastis

55 tanpa perbaikan manajemen dan kualitas pakan secara umum. Walaupun hasil penelitian Lapian et al. (2013) menunjukkan bahwa induk babi menunjukkan peningkatan konsumsi pakan, tapi anak babi hasil superovulasi tumbuh dengan laju yang lebih baik tanpa peningkatan konsumsi pakan yang signifikan. Selain itu juga, teknologi ini tidak memerlukan perbaikan manajemen. Dengan demikian, teknologi ini dapat diterapkan pada peternak kecil tradisional dan juga pada pemeliharaan secara ekstensif. Penelitian awal pada kambing kacang yang dilepas liar tanpa pemberian pakan di Kabupaten Kupang menunjukkan hasil yang tetap tinggi, yaitu produktivitas induk meningkat hampir dua kali lipat pada induk kambing yang disuperovulasi sebelum pengawinan (Andriyanto et al. 2014, pengamatan yang belum diterbitkan).

Dokumen terkait