DAFTAR PUSTAKA
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2013. Sementara penentuan lokasi dilakukan berdasarkan pertimbangan lokasi geografis Kabupaten Serdang Bedagai (Gambar 8) sebagai daerah yang berpotensi untuk kegiatan penangkapan ikan khususnya jenis ikan tembang (Sardinella sp.).
Gambar 8. Peta lokasi penelitian di perairan Selat Malaka, Kabupaten Serdang Bedagai
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan berupa perangkat komputer, program Microsoft Excel dan SPPS. Sementara bahan yang digunakan adalah data primer berupa kuisioner
dan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Serdang Bedagai.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriftif yaitu berdasarkan fakta-fakta yang ada saat ini dan metode cluster sampling dengan memberikan kuisioner terhadap responden. Gambar 9 menunjukkan mekanisme pengumpulan data dan teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini.
Gambar 9. Prosedur penelitian
Tingkat Pengupayaan Analisis Data Tangkapan yang Diperbolehkanan Data Primer Tingkat Pemanfaatan Mulai Tujuan Penelitian
Deskripsi Umum Lokasi Penelitian Metode Pengumpulan Data
Data Sekunder Aspek Ekologi Aspek Ekonomi Aspek Sosial Aspek Kelembagaan Aspek Teknologi Produksi Effort
Metode Surplus Produksi Flag Model Skoring Atribut Model Fox Model Schaffer Status Keberlanjutan Sumberdaya Ikan Tembang Kebijakan Pengelolaan
Pengumpulan data primer dengan menggunakan kuisioner yang diberikan terhadap responden baik nelayan penuh maupun nelayan sampingan. Data yang dibutuhkan terkait keberlanjutan sumberdaya ikan tembang dari segi aspek ekologi, sosial, ekonomi, teknologi dan kelembagaan. Sementara data sekunder diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Serdang Bedagai yaitu data time series interval waktu 5 tahun (2008-2012), berupa produksi per spesies ikan per tahun, produksi per alat tangkap per tahun, trip per alat tangkap per tahun dan jumlah nelayan perikanan tangkap di Kabupaten Serdang Bedagai.
Analisa Data
Pengolahan data primer menggunakan program Microsoft Excel dengan
Flag model untuk melihat keberlanjutan dimensi ekologi, sosial, ekonomi,
teknologi dan kelembagaan.
Pengolahan data sekunder melalui pendekatan model Schaefer dan Fox. Model ini merupakan model analisis regresi dari CPUE terhadap jumlah effort. untuk mengetahui potensi maksimum lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY) dan Effort Optimum (f optimum) terhadap sumberdaya ikan tembang (Sardinella sp.) di perairan Selat Malaka. Analisa dilakukan menggunakan Microsoft Excel 2007. Selanjutnya dilihat tingkat pemanfaatan, pengupayaan serta tangkapan yang diperbolehkan. Secara umum tahapan pengolahan data metode Produksi Surplus, sebagai berikut:
1. Membuat tabulasi hasil tangkapan (catch = C) beserta upaya penangkapan (effort = f), kemudian dihitung nilai hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan (CPUE = Catch Per Unit Effort).
2. Jika ada beberapa macam alat tangkap yang digunakan, maka dilakukan standarisasi alat tangkap. Alat tangkap dominan dijadikan standar, sedangkan alat tangkap lain dikonversikan dalam alat tangkap standar. 3. Memplotkan nilai f terhadap nilai C/f dan menduga nilai intercept (a) dan
slope (b) dengan regresi linier.
4. Menghitung pendugaan potensi lestari (Maximum Sustainable Yield = MSY) dan upaya optimum (effort optimum = f optimum).
Besarnya parameter a dan b secara matematik dapat dicari dengan menggunakan persamaan regresi linier sederhana dengan rumus Y = a + bx. Persamaan Produksi Surplus hanya berlaku bila parameter b bernilai (-), artinya penambahan upaya penangkapan akan menyebabkan penurunan CPUE.
Produksi Per Alat Tangkap Per Tahun
Pengolahan data produksi per alat tangkap per tahun dilakukan, karena tidak diperolehnya data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Serdang Bedagai pada tahun 2008-2009. Sehingga menurut Tangke (2010), untuk memperoleh data produksi per alat tangkap dengan menggunakan rumus :
Cpi Keterangan : = [ ∑F� ∑F x 100%] x Ci……….(1) CPi ∑F
= Produksi/alat tangkap/jenis ikan i
pada tahun ke i (unit)
= Jumlah total alat tangkap yang menangkap jenis ikan tertentu ∑F = Jumlah unit alat tangkap yang menangkap jenis ikan tertentu
pada tahun ke i (unit)
Estimasi Effort (Trip)
Estimasi effort dalam satuan trip dilakukan karena data yang diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Serdang Bedagai pada tahun 2008-2009 hanya jumlah unit penangkapan. Sementara untuk trip penangkapan belum diketahui, sehingga perlu dilakukan estimasi effort dalam satuan trip. Sesuai dengan Direktorat Jenderal Perikanan (1990), jumlah trip dari tiap jenis unit penangkapan dapat diestimasi dengan rumus :
Jumlah trip = N x p ………(2) Keterangan :
N = Jumlah unit penangkapan
p = Rata-rata banyaknya trip per unit penangkapan
Hasil Tangkapan Per Upaya Penangkapan (CPUE)
Produktivitas suatu alat tangkap dapat diduga dengan melihat hubungan antara hasil tangkapan (catch) dengan upaya penangkapan (effort) disebut dengan
Catch Per Unit Effort (CPUE). Dalam penelitian ini data catch adalah data hasil
tangkapan ikan tembang dari 5 jenis alat tangkap dan upaya penangkapan (effort)
berupa jumlah trip. Rumus untuk mencari nilai CPUE adalah sebagai berikut (Gulland, 1991) :
CPUE = Ci
�i ………..(3) Keterangan :
CPUE = Catch Per Unit Effort Ci
F
= Hasil tangkapan pada tahun ke-i (ton)
Standarisasi Effort
Menurut Melmambessy (2010), unit effort sejumlah armada penangkapan ikan dengan alat tangkap dan waktu tertentu dikonversi ke dalam satuan. “boat-days” (trip). Pertimbangan yang digunakan adalah :
1. Respon stok terhadap alat tangkap standar akan menentukan status sumberdaya selanjutnya berdampak pada status perikanan alat tangkap lain.
2. Total hasil tangkap ikan per unit effort alat tangkap standar lebih dominan dibanding alat tangkap lain.
3. Daerah penangkapan alat tangkap standar meliputi dan atau berhubungan dengan daerah penangkapan alat tangkap lain.
Prosedur standarisasi alat tangkap ke dalam satuan baku unit alat tangkap standar, dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Alat tangkap standar yang digunakan mempunyai CPUE terbesar dan
memiliki nilai faktor daya tangkap (fishing power index, FPI)
sama dengan 1. Nilai FPI dapat diperoleh dengan rumus (Gulland, 1991): CPUEr CPUE = Catch� ������� ……….(4) s = Catch� ������� FPI ……….(5) i = CPUEr ����� Keterangan : ………(6)
r = 1, 2, 3, … (alat tangkap yang distandarisasi) s = 1, 2, 3, … (alat tangkap standar)
CPUEr
tangkap r yang akan distandarisasi (ton/trip)
= total hasil tangkapan (catch) per upaya tangkap (effort) dari alat
CPUEs
tangkap s yang dijadikan standar (ton/trip)
= total hasil tangkapan (catch) per upaya tangkap (effort) dari alat
FPIi
alat tangkap standar)
= fishing power index dari alat tangkap i (yang distandarisasi dan
2. Sementara menurut Tangke (2010), nilai FPIi digunakan untuk menghitung total upaya standar dengan rumus :
� = ∑i
i=1 ���i x �i
Keterangan :
………...(7)
E = total effort atau jumlah upaya tangkap dari atat tangkap yang distandarisasi dan alat tangkap standar (trip)
Ei = effort dari alat tangkap yang distandarisasi dan alat tangkap standar (trip)
Pendugaan Potensi Lestari (MSY) dan Effort Optimum
Data yang digunakan dalam metode produksi surplus berupa hasil tangkapan (catch) dan upaya penangkapan (effort), kemudian dilakukan pengolahan data melalui pendekatan Model Schaefer dan Model Fox. Menurut Kekenusa (2009), model Schaefer dan Fox merupakan model analisis regresi dari CPUE terhadap jumlah effort.
1. Model Schaefer :
Hubungan antara C (hasil tangkapan) dengan f (upaya penangkapan) adalah : C = af + b(f)2 ……….……..(8)
Sedangkan hubungan CPUE dengan f (upaya penangkapan) adalah : CPUE = a + b(f) ./……….……..(9)
Nilai Upaya Optimum (f optimum) adalah : fopt = −2�� ….………...(10) Nilai Potensi Maksimum Lestari (MSY) adalah : MSY = −�4�2 …...………...(11)
2. Model Fox
Hubungan antara C (hasil tangkapan) dan f (upaya penangkapan) adalah : C = f exp (a+ b(f)) ...………(12)
Nilai Upaya Optimum (f opt) adalah : fopt = −1
�…..………..…..(13) Nilai Potensi Maksimum Lestari (MSY) adalah : MSY = - (1/b) exp (a-1)
Keterangan :
.………(14)
C = Jumlah hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan (ton/trip) a = Intercept
b = Slope
f = Upaya penangkapan (trip) pada periode ke-i fopt = Upaya penangkapan optimal (trip)
MSY = Nilai potensi maksimum lestari (ton/tahun)
Pendugaan Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan
Pendugaan tingkat pemanfaatan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan tembang di perairan Selat Malaka.
Pendugaan dilakukan dengan cara mempresentasikan jumlah hasil tangkapan pada tahun tertentu dengan nilai potensi maksimum lestari (MSY). Rumus dari tingkat pemanfaatan adalah (Paully, 1983 diacu dalam Astuti, 2005) :
TPc = Ci
MSY�100% ………...(15) Keterangan :
TPc = Tingkat pemanfaatan pada tahun ke-i (%) Ci = Hasil tangkapan ikan pada tahun ke-i (ton) MSY = Maximum Sustainable Yield (ton)
Menurut Latukonsina (2010), pendugaan tingkat pengupayaan dilakukan untuk mengetahui tingkat upaya tangkap sumberdaya ikan. Pendugaan dilakukan dengan mempresentasekan effort standar pada tahun tertentu dengan nilai effort optimal (fopt). Rumus dari tingkat pengupayaan adalah :
TPf = fs
f���� 100% ,………..(16) Keterangan :
TP = Tingkat pengupayaan pada tahun ke-i (%)
fs = Upaya penangkapan (effort standar) pada tahun ke-i (trip) fopt = Upaya penangkapan optimum (ton/thn)
Sementara jumlah tangkapan yang diperbolehkan dengan rumus : TAC = 80% x MSY ……….(17)
Penentuan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua nelayan yang berada di Kecamatan Tanjung Beringin dengan metode cluster sampling. Menurut
Hoddi et al. (2011), penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin, yaitu : n = N 1+N (e)² ……….(18) Keterangan : n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi e = Tingkat kelonggaran (10%)
Analisa Status Keberlanjutan
Analisis status keberlanjutan sumberdaya ikan tembang dilakukan dengan pendekatan Flag model. Analisa atribut ekologi (Tabel 2), ekonomi (Tabel 3), sosial (Tabel 4), teknologi (Tabel 5), serta kelembagaan (Tabel 6) merupakan olahan data penelitian Nur (2011) dan dengan metode deskriptif yaitu dengan fakta-fakta yang ada sekarang. Kuisioner diberikan terhadap responden khususnya nelayan yang tangkapan utamanya ikan pelagis kecil di Kecamatan pesisir Selat Malaka, Kabupaten Serdang Bedagai dan selanjutnya akan diolah dengan
Microsoft Excel 2007. Selanjutnya untuk melihat instrumen skala likert dapat
dilihat pada (Tabel 7).
Tabel 2. Atribut keberlanjutan dimensi ekologi dan kriteria pemberian skor No Atribut
Keberlanjutan
Penjelasan Kriteria Pemberian Skor 1 Status eksploitasi Status pemanfaatan sumberdaya berdasarkan MSY Under Fully-exploited (3); Fully-exploited (2); Over-exploited (1)
2 Rentang migrasi Yurisdiksi perairan dalam daur hidup (mil)
4 (3); 3 (2); 1-2 (1) 3 Tingkatan
kolaps
Pengurangan lokasi area penangkapan ikan tembang
Tidak ada (3); Beberapa (2) ; Banyak dan cepat (1)
No Atribut
Keberlanjutan
Penjelasan Kriteria Pemberian Skor 4 Jumlah spesies
tangkapan
Jumlah jenis ikan tertangkap tahun 2008-2012 1-35 (3); 36-70 (2); 71-105 (1) 5 Ukuran ikan tangkapan
Persentase ikan berukuran ±20 cm yang tertangkap tahun 2008-2012 <20% (3); 20-40% (2); >40% (1) 6 Perubahan tingkat tropik
Perubahan jenis atau ukuran ikan tangkapan periode tahun 2008-2012 Tidak menurun (3); Menurun perlahan (2); Menurun cepat (1) 7 Tangkapan belum dewasa
Persentase ikan berukuran <10 cm yang tertangkap tahun 2008-2012
<10% (3); 10-16% (2); >16% (1)
Sumber : Olahan data Nur (2011)
Tabel 3. Atribut keberlanjutan dimensi ekonomi beserta kriteria pemberian skor No Atribut
Keberlanjutan
Penjelasan Kriteria Pemberian Skor 1 Harga jual Harga ikan tembang per kg
(Rp) 2.000-5.000(3); 5.000<a≤10.000 (2); 10.000<a≤15.000 (1) 2 Tingkat pendapatan
Penghasilan rata-rata per bulan (Rp)
>4 jt (3); 2-4 jt(2); <2(1)
3 Sumber
pendapatan lain
Proporsi waktu beraktifitas sebagai nelayan Penuh (3); Musiman (2); Paruh waktu (1) 4 Kontribusi terhadap PDRB Kontribusi perikanan ke PDRB Kab.Serge (Studi deskriftif) >10% (3); 2,5-10% (2); <2,5% (1) 5 Serapan tenaga kerja Persentase jumlah
penduduk terserap di sektor perikanan
>50% (3); 25-50% (2) < 25% (1)
6 Kepemilikan usaha
Pihak yang lebih banyak menerima manfaat usaha
> 50% internal (3); 25-50% internal (2);
<25% internal (1) 7 Pasar utama Tujuan utama pemasaran
hasil tangkapan
50% ekspor (3); 50% regional (2); 75% lokal (1) 8 Subsidi Jenis subsidi yang diterima
nelayan dari pemerintah
Kapal (3); Subsidi tidak langsung (2); Tidak ada (1) Sumber : Olahan data Nur (2011)
Tabel 4. Atribut keberlanjutan dimensi sosial dan kriteria pemberian skor No Atribut
Keberlanjutan
Penjelasan Kriteria Pemberian Skor 1 Pola kerja Pola kerja nelayan dalam
kegiatan penangkapan
Individu (3); Keluarga (2); Kelompok (1)
2 Rumah tangga nelayan
Proporsi jumlah nelayan dalam total penduduk laki-laki dari kecamatan pesisir Serdang Bedagai
>30% (3); 10-30% (2); <10% (1)
3 Pengalaman nelayan
Lama waktu bekerja sebagai nelayan <2 tahun (3); 2-5 tahun (2); >5 tahun (1) 4 Pelaku usaha baru Persentase pertumbuhan pelaku usaha baru tahun 2008-2013
<10% (3); 10-25% (2); >25% (1)
5 Status konflik Jenis konflik yang terjadi (Konflik kelas, cara, produksi/alat tangkap, usaha)
Tidak ada (3); 1 jenis (2); >1 jenis (1) 6 Kontribusi pendapatan Persentase kepada pendapatan keluarga >80% (3); 50-80% (2); < 50% (1) 7 Kesadaran lingkungan
Persentase responden yang sadar lingkungan >40% (3); 20-40% (2); <20% (1) 8 Partisipasi keluarga Bentuk partisipasi Keluarga Pengolahan hasil (3); Penjualan hasil (2); Persiapam melaut (1) Sumber : Olahan data Nur (2011)
Tabel 5. Atribut keberlanjutan dimensi teknologi dan kriteria pemberian skor No. Atribut
Keberlanjutan
Penjelasan Kriteria Pemberian Skor 1 Ukuran Kapal Ukuran panjang kapal >17m (3); 8-17m (2);
<8 m(1) 2 Lama trip Jumlah hari yang diperlukan
untuk satu trip
>11 (3); 2-10 (2); 1 (1)
3 Rumpon Pola penangkapan ikan Berburu (3); campuran (2); rumpon (1) 4 Tempat
pendaratan
Lokasi pendaratan hasil tangkapan
TPI desa sendiri (3); Pelabuhan kecamatan lain (2); Pelabuhan kabupaten lain (1)
5 Penanganan di perahu
Teknologi penanganan hasil tangkapan di atas kapal
Tangki penampungan (3);
Freezer (2); Boks
pendingin (1) 6 Pengolahan
pra-jual
Standar pengolahan ikan sebelum dijual
Produk setengah jadi (3); Bersih perut dan insang (2); Ikan utuh (1)
No. Atribut Keberlanjutan
Penjelasan Kriteria Pemberian Skor 7 Perubahan
kapasitas tangkap
Pertambahan jumlah kapal sekoci dan jumlah trip 2008-2012
<10% (3); 10-30% (2); >30% (1)
8 Selektivitas alat tangkap
Ukuran minimum mata jaring gill net dan purse
seine (inci)
>1,5 (3); 1,5 (2); 1(1) Sumber : Olahan data Nur (2011)
Tabel 6. Atribut keberlanjutan dimensi kelembagaan dan kriteria pemberian skor No Atribut
Keberlanjutan
Penjelasan Kriteria Pemberian Skor 1 Ketersediaan
aturan
Ketersediaan aturan pengelolaan pada berbagai tingkatan, formal maupun non formal
Aturan nasional (3); Aturan perda provinsi dan kabupaten (2); Aturan Perdes (1) 2 Lembaga pelaksana (formal/non formal)
Keberadaan lembaga pada setiap tingkatan pengelolaan
Ada hingga provinsi (3); Ada hingga kabupaten (2); Ada tingkat lokal (1) 3 Penegakan
aturan
Jenis tindakan terhadap pelanggaran
Sanksi (3); Peringatan (2); Tidak ada sanksi (1) 4 Pelabuhan
perikanan
Tingkat pelayanan pelabuhan perikanan
PPS (3); PPP (2); TPI (1)
5 Pelibatan nelayan
Persentase nelayan yang pernah terlibat penyusunan aturan >15% (3); 10% (2); <5% (1) 6 KUD dan Lembaga Keuangan Mikro
Jumlah fungsi yang berjalan dengan baik >4 fungsi (3); 3-4 fungsi (2); <3 fungsi (1) 7 Kelompok nelayan
Jenis peran kelompok yang berjalan baik
Perbekalan, pelelangan, pengolahan (3);
Perbekalan, pelelangan (2); Belum jelas (1) 8 IUU fishing Frekuensi responden
menemui praktek IUU
fishing
Setiap 6 bulan (3); Setiap 3 bulan (2); Setiap bulan (1)
Sumber : Olahan data Nur (2011) Tabel 7. Instrumen skala likert
No Jawaban Skor
1 Berkelanjutan 3
2 Cukup Berkelanjutan 2
3 Tidak Berkelanjutan 1
Sumber : Sugiyono (2006) diacu dalam Karlina (2011) Tabel 5. Lanjutan..
Analisa jawaban responden dilakukan dengan metode rating scale yaitu jumlah hasil jawaban responden yang telah diskoring dibagi total jumlah responden dan dikalikan 100 sebagai persentasinya. Menurut Nijkamp dan Ouwersloot (1997), untuk menetapkan seperangkat kondisi ambang batas kritis (Critical Threshold Value/CTV) sebagai berikut :
CTV = CTV max −CTVmin
Jumlahkelas ………(19)
Kondisi ambang batas kritis (Critical Threshold Value/CTV) dapat dibagi kedalam kelas warna sebagai berikut:
Gambar 10. Rentang nilai CTV berdasarkan warna bendera (Nijkamp dan Ouwersloot, 1997)
Keterangan :
Hijau = Berkelanjutan Merah = Tidak Berkelanjutan Kuning = Sedang