Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Aceh Barat, Kecamatan Mereubo yang meliputi 5 desa yaitu Desa Sumber Batu, Buloh, Pucok Reudep, Reudep dan Balee. Alasan pemilihan lokasi didasari oleh letak kelima desa tersebut yang berada di sekitar areal kerja PT MBA. Desa tersebut merupakan desa lingkar pertama yang terkena dampak operasional PT MBA dan merupakan desa ring satu berdasarkan klasifikasi rencana program Corporate Social Responsibility (CSR) PT MBA. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Februari 2014. Berikut disajikan peta Kabupaten Aceh Barat yang merupakan wilayah penelitian pada Gambar 5.
Gambar 5 Peta Administrasi Kabupaten Aceh Barat
Kecamatan Mereubo terletak di sebelah selatan Kabupaten Aceh Barat. Berbatasan langsung dengan Kecamatan Kaway Emam belas di sebelah utara, sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Hindia, sebelah timur dengan Kecamatan Johan Pahlawan dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Nagan Raya. Desa yang masuk dalam cakupan penelitian terletak di utara dan timur laut dari Kecamatan Mereubo. Desa tersebut saling berbatasan dan merupakan desa terdekat dengan wilayah operasional PT MBA.
Metode Pengambilan Sampel
Pengambilan sample dilakukan dengan metode non probability sampling yaitu teknik sampling yang memberi peluang atau kesempatan tidak sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Pengambilan
sample pada penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling disebabkan oleh kebutuhan data pada penelitian yang membutuhkan kriteria tertentu sebagai responden. Purposive sampling adalah teknik sampling yang memilih dengan sengaja berdasarkan suatu kriteria tertentu untuk dijadikan narasumber (Juanda 2009). Penentuan jumlah responden di dasari oleh ketersediaan populasi dari masyarakat di lima desa. Jumlah populasi kepala keluarga di 5 desa penelitian yaitu sebesar 356 kepala keluarga yang terdiri dari 84 KK di Desa Sumber Batu, 37 KK di Desa Bulo, 60 KK di Desa Reudep, 35 KK di Desa Pucok Reudep dan 140 KK di Desa Balee. Jumlah sample pada penelitian ini adalah 85 responden yang dipilih secara purposive.
Pengambilan sample dilakukan pada jumlah populasi Kepala Keluarga (KK) yang ada di 5 desa penelitian, kelima desa tersebut merupakan desa terdekat dengan perusahaan pertambangan (desa ring satu berdasarkan klasifikasi pendanaan program Corporate Social Responsibility PT MBA) sehingga pada penelitian ini, 5 desa tersebut dianggap sebagai satu kesatuan. Berikut disajikan Tabel 5 jumlah responden berdasarkan desa dan kebutuhan data:
Tabel 5 Matriks Responden Berdasarkan Desa Desa Penelitian Tenaga Kerja Lokal Lahan Penyedia Barang dan Jasa Petani Karet Masyarakat Lokal Persentate (%) Sumber Batu 15 1 8 7 15 19 Buloh 8 3 3 8 15 15 Pucok Reudep 3 5 1 6 15 13 Reudep 6 7 4 14 17 20 Balee 16 9 12 18 23 33 Total 48 25 28 53 85 100
Berdasarkan Tabel 5, jumlah responden terbesar berada di Desa Balee yaitu sebesar 33 persen yang terdiri dari 16 tenaga kerja lokal yang bekerja di PT MBA, 9 pemilik lahan yang telah dibebaskan oleh PT MBA, 12 penyedia barang dan jasa untuk PT MBA dan tenaga kerja PT MBA, 18 petani karet dan 23 masyarakat lokal yang terkena dampak, hal tersebut disebabkan oleh jumlah populasi Desa Balee yang lebih besar dibandingkan desa lainnya yaitu sebesar 140 KK. Sedangkan jumlah responden terkecil berada di Desa Pucok Reudep dengan persentase sebesar 13 persen yang terdiri dari 3 tenaga kerja lokal yang bekerja di PT MBA, 5 pemilik lahan yang telah dibebaskan oleh PT MBA, 1 penyedia barang dan jasa untuk PT MBA dan tenaga kerja PT MBA, 6 petani karet dan 15 masyarakat lokal yang terkena dampak. Poluasi di Desa Pucak Reudep lebih kecil dibandingkan dengan populasi penduduk Desa Balee yaitu sebesar 35 KK.
Seluruh responden pada penelitian ini dapat beririsin antara faktor yang diamati. Hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan jumlah masyarakat yang dapat dijumpai. Selain itu, masyarakat di lokasi penelitian yang memiliki pekerjaan rangkap. Sedangkan penentuan responden untuk evaluasi kebijakan menggunakan alat Analisis Hirarki Proses (AHP) didasari oleh aktor yang telah dipetakan dalam rumusan permasalahan dan memiliki kriteria tertentu sesuai dengan desain penelitian, sehingga jumlah key informan yang dibutuhkan adalah 9 responden.
Jenis dan Sumber Data
Pengambilan data bertujuan untuk mendapatkan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara berdasarkan daftar pertanyaan (questionnaire) yang telah disusun sesuai dengan analisa tujuan penelitian. Data sekunder yang relevan diperoleh dari penelusuran perpustakaan seperti buku, jurnal, dokumen instansi pemerinta, dokumen perusahaan dan informasi dari stakeholder.
Metode Analisis Data
Setelah melakukan pengambilan data primer dan pengumpulan data sekunder dari pihak-pihak terkait, data yang diperoleh selanjutnya akan dianalisis menggunakan metode analisis kuantitatif dan kualitatif dan selanjutnya dilakukan pengolahan data secara manual dan menggunakan komputer dengan program Microsoft Office Excel 2013 dan Expert Choice 11. Agar lebih jelas mengenai metode yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 6 matrik penelitian.
Tabel 6 Matriks Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian Alat Analisis Sumber Informasi Teknik Pengambilan
Sample
Jumlah Responden
Menganalisis seberapa besar dampak ekonomi dari kegiatan pertambangan batubara oleh PT MBA terhadap masyarakat lokal dan regional. Dampak ekonomi lokal (local econormics impact anlysis) dan Keynesian Local Income Multiplier
Data Penerimaan daerah dari PT MBA (royalti dan
landrent)
Studi Pustaka Data Sekunder Data pembiayaan program
Corporate Social Responsibility (CSR) untuk masyarakat lokal
Studi Pustaka Data Sekunder
Biaya pembebasan lahan Purposive Sampling
25 Masyarakat lokal yang
menjadi tenaga kerja di PT MBA
Purposive Sampling
48
Penyedia barang dan jasa lokal
Purposive Sampling
28 Mengestimasi seberapa besar
nilai kerusakan dampak lingkungan dari kegiatan pertambangan batubara oleh PT MBA terhadap masyarakat lokal. Perubahaan produksi (change in productivity)
Petani karet yang memiliki lahan di sekitar pertambangan Purposive Sampling 53 Biaya kesehatan (cost of illness)
Masyarakat lokal yang terkena dampak Purposive Sampling 85 Kehilangan Penghasilan (loss of earning)
Masyarakat lokal yang terkena dampak
Purposive Sampling
85
Mengidentifikasi dampak sosial akibat dari kegiatan pertambangan batubara oleh PT MBA terhadap masyarakat lokal.
Analisis Kuantitatif Deskriptif
Masyarakat lokal yang terkena dampak
Purposive Sampling
85
Mengevaluasi kebijakan pemerintah Kabupaten Aceh Barat dalam pemanfaatan dan pengelolaan pertambangan batubara terhadap kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi pertambangan
Analisis Hirarki Proses
Key Informan Purposive Sampling
Analisis Dampak Ekonomi
Menurut Plumstead (2012), Economics Impact Analysis merupakan suatu dasar yang transparan dalam mengukur dampak ekonomi dari operasi perusahaan pertambangan disuatu daerah. Untuk menginformasikan akan pentingnya keberadaan perusahaan pertambangan maka digunakan standar ukuran ekonomi seperti Product Domestic Bruto (PDB), lowongan kerja, upah dan pajak, perhitungan ini biasanya menggunakan metode input-output untuk penelitian skala regional akan tetapi untuk skala lokal dapat digunakan dengan melakukan survey lapangan dan penggunaan metode pengukuran arus uang (multiplier effect).
Economics Impact Analysis terdiri dampak ekonomi langsung (direct impacts), dampak ekonomi tidak langsung (indirect impacts) dan dampak ekonomi imbas/lanjutan (induced impact). Dampak ekonomi langsung diukur dengan menilai besaran modal pengeluaran operasional perusahaan, dampak ekonomi tidak langsung dan dampak ekonomi imbas diukur dengan menghitung besaran tambahan dari berbagai sektor yang mendukung kegiatan perusahaan pertambangan. Perhitungan tersebut dilakukan dengan menggunakan tabel input-output. Sedangkan untuk dampak ekonomi lokal (local economics impact) perhitungannya dapat dilakukan dengan mengetahui rincian dari pengeluaran perusahaan untuk pembangunan dan operasional perusahaan pertambang. Dampak ekonomi langsung secara lokal dapat dilihat dari besaran penyerapan tenaga kerja dan upah tenaga tenaga kerja, biaya pembeasan lahan, program Corporate Social Responsibility (CSR) dan penerimaan daerah dari perusahaan pertambangan. Dampak ekonomi tidak langsung secara lokal dihitung dari hasil dari biaya pengeluaran perusahaan dan tenaga kerja perusahaan kepada penyedia barang dan jasa lokal, sedangkan dampak ekonomi imbas secara lokal dihitung dari hasil pengeluaran rumah tangga dari penyedia barang dan jasa yang memperoleh sebagian penerimaan dari perusahaan pertambangan dan tenaga kerja perusahaan. Berdasarkan Plumstead 2012 dalam panduan menghitung dampak ekonomi (Economics Impact Analysis), dampak ekonomi lokal dapat dimodelkan dengan modifikasi persamaan matematis sebagai berikut, Plumstead (2012):
Direct Impacts = a b c +d (1)
Indirect Impacts = e f (2)
Induced impact = gh (3)
Keterangan :
a : Penerimaan daerah dari perusahaan yaitu royalti dan landrent b : Biaya program CSR kepada 5 desa sekitar perusahaan
c : Biaya pembebasan lahan oleh perusahaan kepada masyarakat lokal d : Upah yang diberikan perusahaan kepada tenaga kerja lokal
e : Penerimaan penyedia barang dan jasa lokal yang bersumber dari perusahaan f : Penerimaan penyedia barang dan jasa dari karyawan pertambangan
g : Pengeluaran tenaga kerja lokal (konsumsi rumah tangga) secara lokal
Hasil dari dampak ekonomi lokal (local economics impact) tersebut digunakan sebagai data awal untuk mengukur dampak pengganda dari arus uang secara lokal (local multiplier effect) akibat dari kegiatan perusahaan pertambangan di 5 desa yang merupakan wilayah penelitian. Menurut Armstrong dan Taylor (2000) dalam buku yang berjudul Regional Economics and Policy, multiplier effect adalah jumlah perubahan pengeluaran yang dikalikan untuk menentukan pengeluaran atau hasil kali dari pertambangan setiap penerimaan. Secara umum multiplier effect yang populer seperti pengganda pajak, pengganda investasi dan pengganda belanja pemerintah. Dasar dari multiplier effect dari Keynesian Income Expenditure Approach adalah peningkatan investasi dapat meningkatkan pengeluaran agregat dalam Gross Domestic Product (GDP) yang menyebabkan peningkatan pengeluaran induced (imbas/lanjutan) dan menyebabkan peningkatan lebih lanjut dalam pengeluaran agregat dan GDP sehingga GPD meningkat lebih dari peningkatan awal.
Dampak pengganda dari arus uang secara lokal dinilai menggunakan pendekatan Keynesian Income Expenditure Approach yang secara teoritis merupakan pendekatan dasar yang sederhana dalam menilai penerimaan suatu daerah. Modifikasi model matematis Keynesian Income Expenditure Approach dilakuan untuk mengukur local income multiplier effect. Keynesian Local Income Multiplier diartikan sebagai nilai yang menunjukan seberapa besar pengeluaran perusahaan pertambangan yang berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat lokal, secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut, Armstrong dan Taylor (2000):
Keynesian Local Income Multiplier = D N U
E
(4)
Keterangan:
E : Pengeluaran perusahaan terhadap masyarakat lokal (rupiah) D : Pendapatan lokal yang diperoleh secara langsung dari E (rupiah) N : Pendapatan lokal yang diperoleh secara tidak langsung dari E (rupiah) U : Pendapatan lokal yang diperoleh secara induced dari E (rupiah)
Nilai Keynesian Income Multiplier memiliki kriteria-kriteria sebagai berikut : 1. Apabila nilai-nilai tersebut kurang dari atau sama dengan nol (≤ 0), maka
kegiatan pertambang tersebut belum mampu memberikan dampak ekonomi terhadap masyarakat.
2. Apabila nilai-nilai tersebut diantara angka nol dan satu (0 < - < 1), maka kegiatan pertambangan tersebut masih memiliki dampak ekonomi yang rendah terhadap masyarakat.
3. Apabila nilai-nilai tersebut lebih besar atau sama dengan satu (≥ 1), maka kegiatan pertambangan tersebut telah mampu memberikan dampak ekonomi terhadap masyarakat.
Estimasi Nilai Dampak Lingkungan
Estimasi nilai dampak lingkungan akibat kegiatan pertambangan pada penelitian ini menggunakan tiga indikator lingkungan yaitu pencemaran air dan penurunan debit air, penurunan kualitas udara, dan polusi suara (kebisingan). Indikator lingkungan tersebut diukur bersadarkan persepsi masyarakat dan dinilai dalam bentuk kerugian (rupiah). Estimasi biaya penurunan kualitas lingkungan atua kerugian masyarakat yang diakibatkan oleh kegiatan pertambangan menggunakan pendekatan damage assessment sumberdaya alam dan lingkungan.
Perubahan kondisi bentang alam, pencemaran air akibat aktifitas pertambangan berpotensi mempengaruhi hasil produksi pertanian/perkebunan khususnya tanaman karet di lokasi penelitian. Sehingga dilakukan pendekatan harga pasar (market pricing approcah) untuk menilai kerugian penurunan petani karet akibat dari perubahaan produksi tanaman karet. Hussen (2004), menyatakan bahwa pendekatan harga pasar digunakan untuk mengetahui perubahaan kesejahteraan akibat perubahaan lingkungan.
Pendekatan nilai pasar yang digunakan pada penelitian ini adalah metode change in productivity yang merupakan salah satu metode untuk valuasi ekonomi dalam menilai kerusakan lingkungan. Metode ini menggunakan nilai pasar yang ada dari suatu sumberdaya alam dengan mengetahui harga pasar dan kuantitas sumberdaya alam, maka dapat diketahui nilai total dari sumberdaya alam tersebut dikarenakan kuantitas sumberdaya alam dipandang sebagai faktor produksi, perubahan kualitas lingkungan dapat mempengaruhi produksi dan biaya produksi yang selanjutnya dapat mempengaruhi tingkat penerimaan petani karet. change in productivity digunakan untuk penilaian perubahan hasil produksi tanaman karet sebelum dan sesudah adanya kegiatan pertambangan. Menurut panduan valuasi ekonomi ekosistem hutan dari KLH (2012), tahapan pelaksanaan change in productivity adalah menggunakan pendekatan langsung dan menuju sasaran, menentukan perubahan kuantitas sumberdaya alam yang dihasilkan untuk jangka waktu tertentu, memastikan bahwa perubahan merupakan hal yang berkaitan dengan perubahan lingkungan yang terjadi dan mengalikan perubahan kuantitas dengan harga pasar. Pendekatan change in productivity dapat dirumuskan sebagai berikut, KLH (2012):
1 ( ) n iNKPK JHPKBi JHPKAi HTKi
(5)Keterangan :
NKPK = Nilai kerugian akibat penurunan hasil produksi tanaman karet (Rp) JHPKBi = Jumlah hasil produksi tanaman karet responden ke-i sebelum ada
kegiatan pertambangan batubara (kg)
JHPKAi = Jumlah hasil produksi tanaman karet responden ke-i setelah ada kegiatan pertambangan batubara (kg)
HTKi = Harga hasil tanaman karet ke-i (Rp/kg) i = Responden petani karet
Metode lain yang digunakan dalam estimasi nilai kerusakan lingkungan adalah metode cost of illness. Penggunaan metode cost of illness didasari oleh keadaan lingkungan yang tercemar menyebabkan kesehatan masyarakat terganggu dan menimbulkan berbagai macam penyakit sehingga menimbulkan biaya untuk mengobati penyakit tersebut. Menurut Dwight et al (2004), pendekatan Cost of Illness atau biaya penyakit dapat digunakan untuk mengukur nilai dari kerugian kesehatan karena pencemaran, pendekatan ini didasarkan kepada keterkaitan fungsi kerusakan yang berhubungan dengan tingkat pencemaran dan pengaruhnya terhadap kesehatan fisik. Metode ini digunakan untuk memperkirakan biaya morbiditas akibat perubahan yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan.
Menurut KLH (2012), tahapan pelaksaan cost of illness adalah mengidentifikasi gangguan kesehatan yang berakibat perlunya biaya pengobatan (cost of illness), mengetahui biaya pengobatan yang dibutuhkan sampai sembuh dan menghitung total biaya pengobatan yang telah dikeluarkan oleh masyarakat yang terkena dampak dari suatu kegiatan yang mempengaruhi kualitas lingkungan. Cost of illnes dapat dirumuskan sebagai berikut, KLH (2012):
1 (RFS ) n i NKS i BPSi
(6) Keterangan :NKS = Nilai kerugian responden akibat sakit (Rp/tahun)
RFSi = Rata-rata frekuensi sakit responden ke-i dalam satu tahun BPSi = Biaya pengobatan dan pembelian obat ke-i (Rp/orang)
i = Responden
n = Jumlah responden ke i
Penyakit yang diderita oleh masyarakat disebabkan oleh penurunan kualitas lingkungan akibat dari hasil sampingan (ekternalitas negatif) perusahaan pertambangan dapat menimbulkan kehilangan penerimaan masyarakat akibat sakit. Sehingga digunakan metode loss of earnings untuk menghitung nilai kerugian akibat kehilangan penerimaan. Loss of earnings adalah kerugian masyarakat yang tidak dapat melakukan aktifitas pekerjaan pada saat terkena sakit (KLH, 2012). Prinsip dari loss of earnings pada dasarnya sama dengan cost of illness akan tetapi dibedakan oleh pengunaan sumberdaya, pada cost of illness sumberdaya finansial yang dimiliki harus dikeluarkan sebagai biaya pengobatan sedangkan pada loss of earnings sumberdaya berupa tenaga tidak dapat digunakan untuk memperoleh sumberdaya finansial disebabkan oleh kondisi kesehatan. Tahapan pelaksanaan loss of earnings yaitu: mengidentifikasi terjadi dampak yang signifikan terhadap kesehatan manusia akibat adanya perubahan fungsi lingkungan sehingga menyebabkan seseorang kehilangan kesempatan untuk memperoleh penerimaan, mengidentifikasi sumber penerimaan yang hilang akibat terganggunya kesehatan, misalnya upah hilang selama sakit dan mengetahui lamanya waktu yang hilang akibat gangguan sakit. Loss of earnings dapat dirumuskan sebagai berikut, KLH (2012): 1 ( ) n i KP RHTBi UPHi
(7)Keterangan :
KP = Nilai kehilangan penerimaan responden (Rp)
RHTBi = Rata-rata hari tidak bekerja responden ke-i dalam satu tahun UPHi = Upah per hari responden ke-i (Rp/orang)
i = Responden
n = Jumlah responden ke i
Biaya kesehatan sebelum adanya kegiatan pertambangan dikonversi kedalam nilai saat ini (present value) sesuai dengan tingkat suku bunga Bank Indonesia. Selisih dari biaya kesehatan sebelum adanya kegiatan pertambangan dengan biaya kesehatan setelah adanya kegiatan pertambangan merupakan biaya tambahan yang mengambarkan nilai dari penurunan kualitas lingkungan di desa sekitar pertambangan. Perhitungan present value dari biaya kesehatan adalah sebagai berikut (Pearce 1998).
PV = Pei (1+r)-t (8)
Keterangan :
PV = Nilai saat ini (Rupiah)
PEi = Biaya kesehatan sebelum adanya kegiatan pertambangan r = Suku Bunga Bank Indonesia saat ini
Apabila rerata kerugian responden akibat perubahan kualitas lingkungan dikalikan dengan jumlah populasi maka akan diperoleh nilai kerugian total akibat dari perubahan kualitas lingkungan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
1 i KR KT N n
(9) Keterangan : KT = Kerugian total (Rp/KK)KR = Kerugian responden ke-i dalam satu tahun (Rp) n = Jumlah responden (Rp)
i = Jumlah populasi masyarakat disekitar lokasi tambang (KK) i = Responden ke i
Identifikasi Dampak Sosial
Dampak sosial yang diakibatkan oleh kegiatan pertambangan diidentifikasi dengan menggunakan alat analisis kuantitatif deskriptif. Menurut Sugiyono (2004), analisis kuantitatif deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya. Identifikasi dampak sosial yang diakibatkan oleh kegiatan pertambangan terhadap masyarakat di lokasi penelitian dengan proses mengkatagorikan dan menginterpretasikan data kualitatif yang diperoleh dari lapangan dengan statistik sederhana, proses tersebut berusaha mendeskripsikan fenomena sosial yang diteliti secara sistematis, faktual dan akurat. Beberapa hal yang ingin diketahui pada identifikasi dampak sosial adalah mengetahui (1)
persepsi masyarakat tentang kehadiran perusahaan pertambangan, (2) kemudahan masyarakat memperoleh akses publik, dan (3) penyebab konflik sosial.
Setelah dilakukan analisis data dari kondisi sosial budaya masyarakat, hasil analisis baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif lalu dideskripsikan dengan menggunakan berbagai bentuk yang diperlukan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai agar lebih dapat dengan mudah untuk dijelaskan. Hasil analisis data sosial budaya ini dapat dideskripsikan dengan beberapa bentuk misalnya grafik, pie chart, histogram, pyramid, dan sebagainya sesuai dengan penjelasan dan tujuan yang diinginkan.
Evaluasi Kebijakan Pertambangan Batubara Pemerintah Aceh Barat
Kebijakan terkait pertambangan batubara disatu sisi dapat meningkatkan perekonomian daerah dan disisi lain berdampak terhadap degradasi lingkungan serta berimbas kepada kesejahteraan masyarakat sekitar area pertambangan. Saat ini, pemerintah Aceh Barat telah membuat kebijakan pengelolaan pertambangan oleh pihak swasta dengan beberapa ketentuan yang telah disepakati berdasarkan peraturan yang berlaku. Hal tersebut bertujuan agar tercapainya pertumbuhan ekonomi daerah dan dapat menangulangi risiko degradasi lingkungan serta dapat mensejahterakan masyarakat.
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengenai pengelolaan pertambangan batubara yang telah berlangsung dapat dianalisis dengan metode Analisis Hierarchy Proses (AHP). Langkah-langkah yang dilakukan dalam evaluasi kebijakan adalah sebagai berikut : (1) Mendefenisikan suatu kegiatan yang memerlukan pemilihan dalam penggambilakan keputusan, atau dalam hal ini adalah evaluasi dari kebijakan pertambangan batubara di Kabupaten Aceh Barat, (2) menentukan kriteria dari pilihan terhadap identitas kegiatan dan membuat hirarki, (3) menentukan alternatif yang di dapat dari hasil survey dan wawancara terhadap masyarakat sekitar pertambangan, dalam hal ini akan dibahas mengenai kebijakan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar terkait dengan pertambangan, (4) mengambil data yang dibutuhkan dengan menggunakan kuesioner kepada responden dan (5) menyusun matrik dari hasil rata-rata yang didapat pada penelitian ini dan selanjutnya dianalisis untuk mengetahui nilai inkonsistensi dan prioritas.
Jika nilai konsistensinya lebih dari 0.10 maka hasil tersebut dikatakan tidak konsisten. Namun jika nilai tersebut kurang dari 0.10 maka hasil tersebut dikatakan konsisten. Dari hasil tersebut akan ditemukan hasil yang diprioritaskan, untuk elemen-elemen yang diprioritaskan dalam satu permasalahan keputusan adalah dengan membuat pairwise comparison yaitu setiap elemen dibandingkan berpasangan terhadap suatu kriteri yang ditentukan (Saaty 1993).
Model AHP memakai persepsi manusia yang dianggap ekspert sebagai input utamanya. Kriteria ekspert disini adalah terlibat secara langsung terhadap pelaksanaan kebijakan pemberian izin pertambangan batubara kepada PT MBA. Aktor, kriteria dan alterantif pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 6 Kerangka Hirarki Evaluasi Kebijakan Keterangan:
K1: Sumber penerimaan daerah K2: Lapangan pekerjaan K3: Peningkatan penerimaan K4: Kualitas air
K5: Pencemaran udara K6: Polusi suara (kebisingan) K7: Konflik sosial K8: Akses publik K9: Perubahan norma
Aktor
Evaluasi kebijakan pemerintah Kabupaten Aceh Barat untuk pertambangan batubara
Masyarakat Perusahaan
Pemerintah
Melanjutkan pemberian izin dengan program penguatan
ekonomi lokal (A1)
Melanjutkan pemberian izin dengan program ramah lingkungan dan
reklamasi lahan tambang (A2)
Melanjutkan pemberian izin dengan program CSR dan melestarikan kebudayaan lokal
(A3)
K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7 K8 K9
Kriteria