• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study. Penelitian ini merupakan penelitian lapang yang dilakukan di Kampung Tablanusu, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Lokasi penelitian dipilih secara purposive dengan alasan sebagai berikut: 1) Lokasi jauh dari perkotaan, 2) Memiliki kondisi fisik wilayah yang unik yaitu dikelilingi pegunungan, danau dan laut, dan 3) Kemudahan akses. Penelitian ini dilakukan selama satu bulan yaitu pada bulan Mei sampai dengan Juni 2011.

Jumlah dan Cara Penarikan Contoh

Contoh dalam penelitian ini adalah keluarga yang bertempat tinggal di lokasi penelitian. Pemilihan contoh dilakukan secara sensus yaitu mengambil semua sampel yang sesuai dengan kriteria. Kriteria inklusi contoh yaitu : 1) Penduduk asli Papua, 2) Keluarga lengkap atau utuh yang tinggal dalam rumah tangga yang sama yang terdiri dari kepala keluarga (KK), isteri KK, dan anak, dan 3) Bersedia untuk dijadikan contoh. Responden dalam penelitian ini adalah isteri dari KK atau ibu rumah tangga, karena ibu memiliki peranan dalam mempersiapkan makanan, mulai dari mengatur menu, berbelanja, memasak, meyiapkan atau menghidangkan makanan, dan mendistribusikan makanan (Suhardjo 1989).

Total contoh pada penelitian ini adalah sebanyak 48 keluarga (257 Jiwa) yang diperoleh dari 81 populasi keluarga yang berada di Kampung Tablanusu. Pemilihan contoh diharapkan dapat mewakili populasi dari wilayah tersebut. Cara penarikan contoh disajikan pada Gambar 3.

Populasi Keluarga (81 Keluarga)

Kriteria inklusi

48 Keluarga

Gambar 3 Cara penarikan contoh Jenis dan Cara Pengambilan Data

Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara, observasi langsung terhadap responden, yaitu ibu rumah tangga dan anggota keluarga

lainnya yang dianggap perlu. Wawancara dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan terlebih dahulu. Data primer meliputi :

1. Data karakteristik sosial ekonomi keluarga (pendidikan terakhir orang tua, pekerjaan orang tua, pendapatan keluarga, dan besar keluarga).

2. Data mengenai konsumsi pangan keluarga meliputi jenis pangan dan jumlah konsumsi pangan.

3. Data mengenai pola konsumsi pangan keluarga meliputi frekuensi konsumsi pangan, frekuensi konsumsi menurut kelompok pangan, cara memperoleh pangan, cara mengolah pangan, preferensi pangan (pangan yang disukai), dan pantangan pangan serta alasannya.

Jenis data karakteristik sosial ekonomi contoh diperoleh dengan teknik wawancara dengan menjawab pertanyaan pada kuesioner yang telah disiapkan. Jenis data mengenai konsumsi pangan diperoleh melalui wawancara menggunakan metode recall 1x24 jam. Data yang dikumpulkan yaitu jumlah pangan yang dikonsumsi dan dinyatakan dalam satuan ukuran rumah tangga (URT), seperti nasi (piring), lauk (potong, buah, butir), sayur (mangkuk), buah (buah, iris, biji), dan sebagainya.

Jenis data mengenai frekuensi konsumsi pangan, frekuensi konsumsi menurut kelompok pangan, cara memperoleh, dan mengolah pangan diperoleh melalui wawancara menggunakan food frequency questionnaire (FFQ) konsumsi pangan selama satu bulan terakhir. Data mengenai preferensi pangan dan pantangan pangan (taboo) diperoleh dengan teknik wawancara dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan. Data sekunder adalah data tentang keadaan umum geografis dan karakteristik demografi yang diperoleh dari kantor kecamatan lokasi penelitian. Tabel 1 menunjukkan jenis data yang dikumpulkan dan cara pengumpulannya.

Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data

Variabel Data Jenis Data Cara Pengumpulan Data Karakteristik sosial ekonomi • Pendidikan • Pekerjaan • Pendapatan Primer Wawancara

Konsumsi pangan • Jenis pangan

• Jumlah konsumsi

pangan

Primer Recall 1 x 24 jam,

Variabel Data Jenis Data Cara Pengumpulan Data Pola konsumsi pangan • Frekuensi konsumsi pangan • Frekuensi konsumsi menurut kelompok pangan • Cara memperoleh pangan • Cara mengolah pangan • Preferensi pangan • Pantangan pangan (taboo) dan alasannya

Primer Wawancara dan food

frequency questionnaire (FFQ)

Keadaan umum lokasi penelitian

Sekunder Kantor kecamatan

dan desa Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh dari kuesioner diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan Microsoft excel 2007 dan Statistical Program for Social Sciences (SPSS) 16.0 for Windows. Pengolahan data yang dilakukan berupa editing, coding, cleaning, dan analisis. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan analisis statistik korelasi digunakan untuk menguji hubungan antar variabel.

Pekerjaan orang tua. Data jenis pekerjaan orang tua yang dikategorikan menjadi petani, nelayan, PNS, wirausaha, karyawan swasta, perangkat desa, dan tidak bekerja.

Pendidikan orang tua. Data tingkat pendidikan terakhir orang tua yang dikategorikan menjadi tidak sekolah, tidak tamat SD, tamat SD, tamat SMP, tamat SMA, dan perguruan tinggi.

Pendapatan per kapita keluarga adalah besarnya rata-rata penghasilan yang diperoleh dari seluruh anggota keluarga dan dibagi dengan jumlah anggota keluarga.

Tingkat kecukupan energi dan zat gizi. Data konsumsi pangan diperoleh dengan metode recall 1x24 jam yang meliputi jumlah dan jenis pangan, kemudian dikonversikan ke dalam kandungan zat gizi, yaitu energi (kkal) dan protein (g). Tingkat kecukupan energi dan protein dihitung dengan membandingkan konsumsi energi dan protein dengan angka kecukupan gizi

(AKG) yang dianjurkan kemudian dinyatakan dalam persen. Secara umum, tingkat kecukupan energi dan zat gizi dirumuskan sebagai berikut (Hardinsyah & D Briawan 1994) :

Konsumsi energi dan zat gizi aktual

x 100 % Tingkat kecukupan energi dan zat gizi =

AKG yang dianjurkan

Pengukuran tingkat kecukupan energi dan protein keluarga digambarkan kecukupan energi dan protein per kapita per hari. Proses ini dilakukan terpisah untuk setiap keluarga. Untuk mengetahui tingkat kecukupan energi dan protein keluarga dapat digunakan cara seperti di atas, akan tetapi didata dahulu jumlah anggota keluarga beserta umur, jenis kelamin, dan berat badan masing-masing anggota keluarga. Dari data tersebut kemudian dihitung tingkat kecukupan energi dan protein masing-masing individu di dalam keluarga. Kemudian hasil perhitungan dijumlahkan dari masing-masing anggota keluarga. Angka penjumlahan yang didapatkan merupakan angka kecukupan energi dan protein keluarga tersebut(Nasution Amini dan Riyadi 1995).

Klasifikasi tingkat kecukupan energi dan protein menurut Departemen Kesehatan (1996) adalah :

(1) Defisit tingkat berat (<70% AKG) (2) Defisit tingkat sedang (70-79% AKG) (3) Defisit tingkat ringan (80-89% AKG) (4) Normal (90-119% AKG)

(5) Kelebihan (>120% AKG).

Definisi Operasional

Keluarga adalah sekelompok manusia dalam suatu rumah tangga yang terdiri dari KK, isteri KK serta anak dan anggota keluarga lainnya yang hidup dari pengelolaan sumberdaya keluarga yang bersangkutan.

Karakteristik sosial ekonomi adalah karakteristik keluarga yang terdiri dari pendidikan terakhir orang tua, jenis pekerjaan orang tua, pendapatan per kapita keluarga, dan besar keluarga.

Pekerjaan orang tua. Data jenis pekerjaan orang tua yang dikategorikan menjadi petani, nelayan, PNS, wirausaha, karyawan swasta, perangkat desa dan tidak bekerja.

Pendapatan per kapita keluarga adalah besarnya rata-rata penghasilan yang diperoleh dari seluruh anggota keluarga dan dibagi dengan jumlah anggota keluarga.

Pendidikan orang tua adalah data tingkat pendidikan orang tua yang diolah dengan mengelompokkannya menjadi lima kategori yaitu tidak sekolah, tidak tamat SD, tamat SD, tamat SMP, tamat SMA, dan perguruan tinggi. Frekuensi konsumsi pangan adalah berapa kali individu mengonsumsi

makanan lengkap dalam waktu sehari.

Frekuensi konsumsi menurut kelompok pangan adalah derajat keseringan mengonsumsi pangan dalam satu bulan terakhir.

Tabu makanan adalah suatu larangan untuk mengkonsumsi suatu jenis pangan tertentu, karena terdapat ancaman bahaya atas hukuman terhadap orang yang melanggarnya.

Preferensi pangan adalah tingkat kesukaan keluarga contoh terhadap jenis pangan tertentu, termasuk pangan yang disukai.

Tingkat kecukupan energi atau protein adalah persentase energi atau protein yang dikonsumsi per kapita per hari dibagi dengan angka kecukupan energi atau protein yang dianjurkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait