• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan selama lima bulan yaitu bulan Juli hingga November 2012 di Penangkaran Kupu-kupu IPB Dramaga. Sebagai data pembanding dilakukan juga pengamatan pada dua lokasi penangkaran lainnya yakni penangkaran kupu-kupu Cilember Bogor, dan penangkaran kupu-kupu Cihanjuang Bandung, serta penangkaran kupu-kupu Bali sebagai data sekunder.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kupu-kupu sebagai satwa yang ditangkarkan, sedangkan alat yang dipergunakan adalah jaring serangga, buku identifikasi kupu-kupu Butterfly of Borneo dan Butterffly of the world.

Jenis dan Metode Pengambilan Data

Data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Jenis dan metode pengumpulan data penelitian secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Data yang dibutuhkan dalam penelitian

Data Satuan Sumber Metode Pengambilan A. Kesesuain lokasi penangkaran

1. Abiotik a. Suhu b. Kelembapan

c. Lama penyinaran matahari d. Curah hujan e. Sumber air 2. Biotik a. Vegetasi pakan b. Sumber bibit c. Kupu-kupu lokal B. Perencanaan tapak 1. Penyusunan zonasi - Zona penangkaran - Zona perkantoran - Zona wisata C. Perencanaan Pengelolaan 1. Manajemen perkandangan 2. Manajemen Pakan 3. Manajemen reproduksi 4. Manajemen pemanenan D. Finansial usaha 1. Komponen biaya 2. Komponen penerimaan ºC % % mm/bln - - - - - - - - - - - Rp Rp Lapang Lapang BMKG BMKG Lapang Lapang Lapang Lapang Lapang Lapang Lapang Lapang Lapang Lapang Lapang Pengelola Pengelola Pengukuran Pengukuran Studi pustaka Studi pustaka Pengamatan Pengamatan Pengamatan Pengamatan Pengamatan Pengamatan Pengamatan

Pengamatan dan wawancara Pengamatan dan wawancara Pengamatan dan wawancara Pengamatan dan wawancara Wawancara

Analisis Data Kesesuain Habitat

Analisis faktor penentu kesesuaian habitat penangkaran kupu-kupu dilakukan melalui pendekatan ekologi dari satwa ini di alam, yakni bagaimana hubungan kupu-kupu dengan faktor abiotik dan biotik penyusun ekosistem serta kondisi-kondisi yang mempengaruhi hidupnya di penangkaran. Secara umum faktor lingkungan yang berpengaruh besar terhadap kehidupan kupu-kupu antara lain suhu, cahaya matahari, curah hujan, ketersediaan sumber air, dan vegetasi pakan (Dephut 2003).

Rencana Tapak dan Pengelolaan

Menurut Gold (1980), proses perencanaan terdiri dari enam tahap, yaitu: persiapan, inventarisasi, analisis, sintesis, perencanaan dan perancangan. Perolehan data berupa catatan-catatan dari hasil pengukuran, pengamatan langsung (observasi) di lapangan, wawancara mendalam, dan studi pustaka atau literatur dianalisis berdasarkan jalur analisis data kualitatif, yaitu reduksi data dan penyajian data. Reduksi data dilakukan dengan menyederhanakan data yang diperoleh dari lapangan dengan meringkas dan menggolongkannya. Kegiatan ini dilakukan untuk menajamkan dan mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga didapat data utama yang menjadi pokok penelitian. Penyajian data dilakukan secara naratif deskriptif serta ditunjang dengan bentuk-bentuk bagan, tabel, dan gambar untuk mempermudah pemahaman mengenai hasil analisis data yang diperoleh secara lebih terpadu.

Gambar 2 Bagan analisis data rencana tapak dan pengelolaan Pengumpulan data (inventarisasi) Analisis Sintesis Perencanaan Perancangan - Pengamatan - Pengukuran - Wawancara - Identifikasi permasalah di penangkaran kupu-kupu IPB - Kemungkinan arah pengembanagan penangkaran

- Mencari jalan keluar permasalahan

- Menyusun konsep penangkaran kupu-kupu IPB

- Gambar dan sketsa rancangan

- Menyatukan rencana - Harmonisasi

Setelah proses analisis data selesai maka selanjutnya dilakukan sintesis data, pada tahap ini data yang sudah dianalisis disusun menjadi konsep-konsep berdasarkan teori yang ada baik dari rencana tapak maupun rencana pengelolaan penangkaran. Tahapan selanjutnya dilakukan proses perencanaan. Perencanaan merupakan pengembangan dari berbagai konsep yang dihasilkan pada tahap-tahap sebelumnya. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah merencanakan tapak dan merencanakan teknik pengelolaan. Terakhir adalah perancangan yaitu tahap yang dilakukan untuk memilih materi, dan bentuk yang digunakan dalam tapak sehingga membentuk ruang, obyek, atau konstruksi tertentu pada tapak sesuai dengan tujuan dan fungsi yang diinginkan. Perancangan juga dilakukan pada aspek pengelolaan penangkaran, rancangan pengelolaan yang akan disusun meliputi manajemen perkandangan, pakan, reproduksi, kesehatan, dan pemanenan. Bagan analisis data rencana tapak dan pengelolaan dapat dilihat pada Gambar 2.

Analisis Finansial Usaha

Analisis kelayakan finansial dilakukan dengan membuat asumsi-asumsi biaya dan pemasukan berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian. Analisis kelayakan finansial menggunakan tiga kriteria utama yakni Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), dan Internal Rate of Return (IRR)

(Kadariah 1999), setelah itu dilakukan analisis Break Event Point (BEP) dan analisis sensitivitas. Analisis BEP bertujuan untuk mengetahui berapa unit minimum produk yang harus diproduksi suatu unit usaha agar tidak mengalami kerugian, sedang analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana usaha mampu bertahan akibat adanya pengaruh inflasi. Analisis kelayakan finansial dilakkan dengan mengacu pada Kadariah (1999) dengan rumus sebagai berikut;

1. Net Present Value (Nilai Bersih Saat Ini)

Keterangan :

Bt = Manfaat pada tahun t Ct = Biaya pada tahun t i = Discount rate (%)

t = Tahun kegiatan bisnis (t= 0, 1, 2, 3, ...., n) n = Umur usaha (tahun)

Kriteria :

• NPV > 0 : usaha layak

• NPV = 0 : usaha tidak untung dan tidak rugi • NPV < 0 : usaha tidak layak

Keterangan :

Bt = Manfaat pada tahun t Ct = Biaya pada tahun t N = Umur bisnis i = Discount rate(%) Kriteria :

• Net B/C > 1 : usaha layak

• Net B/C = 1 : usaha tidak untung atau rugi • Net B/C < 1 : usaha tidak layak

3. Internal Rate of Return (Tingkat Pengembalian Hasil Intern)

IRR i NPV – NPV NPV i i

Keterangan :

NPV1= NPV positif NPV2 = NPV negatif

i1 = Discount rateyang menghasilkan NPV positif i2 = Discount rateyang menghasilkan NPV negatif Kriteria :

• IRR > discount rate: usaha layak • IRR < discount rate: usaha tidak layak

4. Break Event Point (Titik Impas)

BEP B

H – B

5. Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas dilakukan dengan metode Switching value, yaitu dengan cara menaikkan biaya yang digunakan dan menurunkan penerimaan perusahaan sampai pada tingkat dimana usaha tidak layak lagi untuk dijalankan Kadariah (1999)

6. Asumsi Usaha

Untuk memudahkan dalam perhitungan analisis finansial, maka dibuat beberapa asumsi terkait pengelolaan dan pemanenan kupu yang didasarkan pada pendekatan bioekologi dari satwa itu sendiri. Asumsi tersebut antara lain:

a. Masa usaha 5 tahun

b. Produk yang dihasilkan meliputi barang kerajinan seperti kupu-kupu awetan serta jasa seperti wisata pendidikan.

c. Kemampuan kupu-kupu bertelur sekitar 200 butir per betina bibit

d. Kegiatan wisata yang dilakukan adalah wisata pendidikan terbatas dengan sararan pengunjung dari sekolah-sekolah (SD, SMP, dan SMA). Pengunjung datang perkelompok, satu kelompok dapat dinyatakan sebagai satu buah even kunjungan.

e. Jumlah pengunjung wisata per even kegiatan adalah 30 orang, satu bulan terdiri dari empat belas even kunjungan.

Dokumen terkait