• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini menggunakan disain cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di dua wilayah yaitu Sekolah Khusus Al-Ihsan yang berlokasi di Villa Melati Mas, Bumi Serpong Damai, Tangerang dan Pondok Indah Cilegon Blok B5 No 5, Cilegon, Provinsi Banten. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secarapurposive, dimana tempat tersebut memiliki jumlah anak ASD yang cukup banyak dan bersedia untuk dijadikan sebagai tempat penelitian. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Februari sampai dengan Mei 2008 yang meliputi pengumpulan, pengolahan serta analisis data.

Teknik Penarikan Contoh

Populasi dan contoh pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak ASD yang sedang melakukan terapi di Sekolah Khusus Al-Ihsan Tangerang dan Cilegon, Provinsi Banten. Penentuan contoh dilakukan secarapurposive dengan mempertimbangkan kesediaan ibu yang memiliki anak ASD untuk berpartisipasi dan bersedia untuk diwawancarai.

Gambar 2 Bagan penarikan contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan alat bantu kuesioner yang diisi oleh contoh setelah mendapatkan penjelasan dari peneliti ataupun melalui wawancara langsung dengan contoh (Lampiran 1). Data primer meliputi karakteristik anak ASD (usia dan jenis kelamin), karakteristik keluarga (usia

Ibu yang memiliki anak ASD dan sedang terapi di Al-

Ihsan

Al-Ihsan Cilegon 38 anak berkebutuhan khusus

(20 anak ASD)

Al-Ihsan Tangerang 49 anak berkebutuhan khusus (39 anak ASD)

11 orang contoh yang bersedia diteliti

20 orang contoh yang bersedia diteliti

contoh dan suami, lama pendidikan contoh dan suami, jenis pekerjaan contoh dan suami, besar dan tipe keluarga, pendapatan keluarga), pengetahuan contoh mengenai ASD, dukungan keluarga, persepsi contoh terhadap ASD, dan strategi koping. Data sekunder yaitu mengenai keadaan umum Sekolah Khusus Al-Ihsan meliputi profil sekolah, jumlah terapi, identitas dan jumlah anak ASD yang diperoleh dari Tata Usaha Yayasan. Adapun jenis peubah, skala data dan cara pengukurannya disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Jenis peubah, skala data dan kategori pengukuran

No Peubah Skala

Data

Kategori Pengukuran 1 Karakteristik Anak ASD :

Usia anak ASD (bulan) Interval 36-47 48-59 60-71 72-83 84-95 96 Jenis Kelamin Nominal 1= Laki-laki

2= Perempuan 2 Karakteristik Keluarga :

Usia contoh dan suami (tahun) Interval 30 31-40 41-50 >50

Lama Pendidikan Ordinal Rendah (9 tahun) Sedang (12 tahun) Tinggi (>15 tahun) Jenis Pekerjaan Nominal 1= PNS

2= Ibu rumah Tangga 3= Wiraswasta 4= Tentara

5= Pegawai Swasta 6= Tidak bekerja

Besar Keluarga Rasio Keluarga kecil ( 4 orang) Keluarga sedang (5-7 orang) Keluarga besar ( 8 orang) Tipe Keluarga Nominal 1= Keluarga Inti

2= Keluarga Luas Pendapatan Keluarga Ordinal 1= Rp 2,5 juta

2=Rp 2,51- 5 juta 3=Rp 5,1- 7,5 juta 4=Rp 7,51-10 juta 5=Rp10,1-15 juta 6=> Rp 15 juta 3 Pengetahuan mengenai ASD Ordinal Kurang (<60%)

Sedang (60-80%) Baik (>80%) 4 Dukungan Keluarga Ordinal Sangat Kuat (>90%)

Kuat (80-90%) Kurang kuat (<80%) 5 Persepsi terhadap anak ASD Ordinal Positif ( 80%)

Negatif (<80%) 6 Strategi koping Ordinal Pola I

Pola II Pola III

Pengolahan dan Analisis Data

Semua data yang diperoleh diolah dan dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan program komputer Microsoft Excel dan SPSS (Statistical Package for Social Science) 10.0 for Windows. Proses pengolahan mencakup langkah- langkahediting,coding, skoring,entry,cleaning, dan analisis data. Pada metode deskriptif ini digambarkan bagaimana data yang berbentuk kualitatif dijelaskan secara kuantitatif. Data deskriptif yang sudah diolah disajikan dalam bentuk tabel frekuensi.

Kategori usia contoh dan suami berdasarkan pada interval sepuluh. Besar keluarga dibedakan menjadi keluarga besar, sedang, dan kecil berdasarkan Hurlock (1991). Untuk pendapatan keluarga menggunakan jenis data ordinal karena contoh hanya memilih salah satu rentang yang telah disediakan pada kuesioner. Hal ini bedasarkan pada saat uji coba sebelumnya bahwa contoh tidak bersedia mengungkapkan pendapatannya secara terbuka.

Pengukuran variabel pengetahuan contoh mengenai ASD meliputi 10 penyataan yang diberikan pada contoh yang terdiri dari dua jenis pernyataan, yaitu pernyataan positif dan negatif. Pernyataan positif diberi skor 2 jika contoh menjawab ya, skor 1 jika menjawab ragu-ragu, dan 0 jika menjawab tidak, sedangkan untuk pernyataan negatif pemberian skor dilakukan sebaliknya. Dengan demikian, diperoleh skor minimum 0 dan maksimum 20. Sebelum skor contoh tersebut dikategorikan terlebih dahulu skor tersebut distandarisasi dengan dikonversi kedalam bentuk persen. Begitu pula dengan variabel dukungan keluarga, persepsi terhadap anak ASD, dan strategi koping.

Untuk pengkategorian variabel pengetahuan contoh mengenai ASD dibagi kedalam tiga kategori yang mengacu pada Khomsan (2000) dimana kategori kurang apabila skor contoh kurang dari 60 persen, sedang antara 60 hingga 80 persen, dan baik lebih dari 80 persen.

Pengukuran variabel dukungan keluarga meliputi 10 penyataan yang diberikan pada contoh yang terdiri dari dua jenis pernyataan, yaitu pernyataan positif dan negatif. Pernyataan positif diberi skor 2 jika contoh menjawab ya, skor 1 jika menjawab kadang-kadang, dan 0 jika menjawab tidak, sedangkan untuk pernyataan negatif pemberian skor dilakukan sebaliknya. Dengan demikian, diperoleh skor minimum 0 dan maksimum 20.

Pengkategorian varibel dukungan keluarga didasarkan pada median skor kelompok, yaitu jika jumlah skor contoh kurang dari median skor kelompok maka

dikategorikan dukungannya kurang kuat. Sedangkan jika lebih besar sama dengan median skor kelompok, kategori dibagi menjadi dua yaitu kategori dukungan kuat dan sangat kuat. Median skor variabel dukungan keluarga adalah 80 persen (Lampiran 3), sehingga dukungan keluarga 80-90 persen termasuk ke dalam kategori dukungan kuat dan >90 persen termasuk ke dalam kategori dukungan sangat kuat.

Pengukuran variabel persepsi ibu terhadap ASD meliputi 10 penyataan yang diberikan pada contoh yang terdiri dari dua jenis pernyataan, yaitu pernyataan positif dan negatif. Pernyataan positif diberi skor 2 jika contoh menjawab setuju, skor 1 jika menjawab kurang setuju, dan 0 jika menjawab tidak setuju, sedangkan untuk pernyataan negatif pemberian skor dilakukan sebaliknya. Dengan demikian, diperoleh skor minimum 0 dan maksimum 20.

Pengkategorian untuk variabel persepsi ibu terhadap ASD didasarkan pada median skor kelompok, yaitu jika jumlah skor contoh kurang dari median skor kelompok maka dikategorikan negatif. Sedangkan jika lebih besar sama dengan median skor kelompok maka termasuk kategori positif. Median skor persepsi yaitu 80 persen (Lampiran 3).

Pengukuran variabel strategi koping contoh berdasarkan pada strategi koping untuk orang tua atau CHIP dari McCubbin & Thompson (1987) yang telah disesuaikan. Pada variabel ini terdapat tigat pilihan jawaban, dimana jawaban diberi skor 2 jika contoh menjawab membantu, 1 jika kurang membantu, dan 0 jika tidak membantu.

Strategi koping contoh dibagi kedalam tiga pola koping, yaitu Pola I (mempertahankan keutuhan keluarga, kerjasama dan situasi optimis), Pola II (memelihara dukungan sosial, kepercayaan diri, dan stabilitas psikologis), dan Pola III (memahami situasi medis melalui komunikasi antar orang tua dan konsultasi dengan staf medis). Penentuan pengkategorian kecenderungan pola koping yang digunakan contoh berdasarkan pada persentase skor jawaban untuk masing-masing pola koping. Persentase skor terbesar dari ketiga pola koping akan menentukan kecenderungan pola koping yang digunakan contoh dalam merawat anak ASD.

Uji statistik yang digunakan adalah Paired sample T-test, korelasi Spearman dan chi-square. Paired sample T-test untuk mengetahui perbedaan antara strategi koping contoh saat pertama mengetahui anak menderita ASD dan saat ini. Korelasi Spearman digunakan untuk mengetahui hubungan antara

karakteristik anak dan keluarga dengan pengetahuan contoh, dukungan keluarga, dan persepsi contoh terhadap anak ASD. Uji chi-square digunakan untuk melihat hubungan strategi koping contoh berdasarkan karakteristik keluarga, dukungan keluarga, pengetahuan dan persepsi contoh terhadap anak ASD.

Kualitas data dikontrol melalui uji reliabilitas variabel dukungan keluarga, pengetahuan contoh mengenai ASD, persepsi contoh terhadap ASD dan strategi koping. Hasil uji reliabilitas dengan menggunakan metode Cronbach’s Alpha menunjukkan reliabilitas variabel dukungan keluarga (0.6111), pengetahuan contoh mengenai ASD (0.6790), persepsi contoh terhadap ASD (0.6902), dan strategi koping (0.7344) (Lampiran 2). Dengan demikian bahwa item-item pertanyaan tersebut reliabel untuk menentukan dukungan keluarga, pengetahuan dan persepsi contoh terhadap anak ASD serta strategi koping yang digunakan contoh dalam merawat anak ASD.

Definisi Operasional

Besar keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang tinggal bersama dalam satu rumah. Besar keluarga diukur melalui kuesioner dengan mengkategorikan menjadi keluarga kecil dengan jumlah individu kurang dari sama dengan empat orang, keluarga sedang terdiri dari lima sampai tujuh orang, dan keluarga besar dengan jumlah individu lebih dari sama dengan delapan orang (Hurlock 1991).

Contoh adalah ibu yang memiliki anak ASD yang sedang diterapi di Sekolah khusus Al-Ihsan dan bersedia untuk diwawancarai.

Dukungan keluarga adalah suatu perhatian yang diberikan keluarga terhadap ibu dan anak ASD. Dukungan ini dapat diperoleh dari keluarga inti dan luas. Dukungan keluarga diukur dengan memberikan 10 pertanyaan kepada ibu dan dikategorikan menjadi dukungan yang sangat kuat, kuat dan kurang kuat.

Lama pendidikan keluarga adalah lamanya waktu dalam menyelesaikan pendidikan formal terakhir. Lama pendidikan ini antara lain 9 tahun atau setingkat tamat SMP (tingkat pendidikan rendah), 12 Tahun atau setingkat tamat SMA (tingkat pendidikan sedang), lebih dari atau sama dengan 15 tahun atau setingkat tamat Perguruan Tinggi (tingkat pendidikan tinggi).

Pendapatan keluarga adalah jumlah pendapatan yang diperoleh oleh anggota keluarga setiap bulannya.

Pengetahuan Ibu adalah besarnya pengetahuan dan informasi yang dimiliki oleh ibu mengenai ASD. Kategori pengukuran pengetahuan ibu dibedakan menjadi rendah, sedang, dan tinggi (Khomsan 2000).

Persepsi ibu terhadap anak ASD adalah suatu cara pandang ibu terhadap anak ASD yang diukur melalui kuesioner dengan memberikan 20 pertanyaan. Kategori pengukuran persepsi ibu terhadap anak ASD dibedakan menjadi positif dan negatif.

Strategi koping adalah suatu cara dan upaya ibu yang berorientasi pada suatu situasi yang sedang dihadapi untuk menguasai dan mengurangi tekanan dalam merawat anak ASD. Kategori pengukuran strategi koping dibagi menjadi tiga pola yaitu Pola I, Pola II, dan Pola III yang sesuai dengan pola koping yang dikembangkan oleh McCubbin dan Thompson (1987). Pola I adalah pola koping dimana ibu berorientasi terhadap keutuhan keluarga,

saling kerjasama dan memiliki persepsi yang optimis terhadap suatu situasi atau keadaan anak ASD. Strategi koping pola I terdiri dari 19 pernyataan.

Pola II adalah pola koping dimana ibu membina hubungan baik dengan anggota

Dokumen terkait