Pengertian ASD
ASD merupakan gangguan perkembangan yang berhubungan dengan perilaku yang umumnya disebabkan oleh kelainan struktur otak atau fungsi otak. ASD ini ditandai oleh gangguan-gangguan yang serius dalam interaksi sosial dan komunikasi dan tingkah laku yang sangat terbatas, berulang-ulang ataustereotip (Dumas & Nielsen 2003).
ASD ini dapat terlihat dari masa kanak-kanak sebelum usia tiga tahun. Akan tetapi gejala-gejala ASD akan semakin terlihat jelas pada saat anak telah mencapai usia tiga tahun. Secara umum gejala ASD meliputi beberapa gangguan yaitu sebagai berikut (Budiman 1998 dalam Yusuf 2003):
1. Gangguan dalam berkomunikasi secara verbal maupun non-verbal seperti terlambat bicara, menggunakan kata-kata yang hanya dapat dimengerti oleh dirinya sendiri, sering meniru dan mengulang kata.
2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata, tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain sendiri. 3. Gangguan pada bidang perilaku, terlihat dari adanya perlaku yang berlebih
(excessive) dan kekurangan (deficient), melakukan permainan yang sama. 4. Gangguan pada bidang perasaan atau emosi, seperti kurangnya empati,
simpati dan toleransi. Selain itu, terkadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang jelas dan sering marah tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
5. Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai sentuhan dan pelukan.
Gejala pada setiap anak ASD tidak ada yang sama. Selain itu, intensitas gejala ASD juga berbeda-beda, dari yang sangat ringan sampai sangat berat.
Penderita ASD semakin meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Autism Research Institute dalam Askari (2008), jumlah anak penderita ASD di San Diego pada tahun 1987 diperkirakan 1:5.000 anak. Sedangkan prevalensi anak dengan gangguan ASD di Amerika pada tahun 2007 diperkirakan 1:152 (Askari 2008). Menurut Yusuf (2003) terdapat bebarapa faktor yang diperkirakan menjadi penyebab timbulnya ASD antara lain:
1. Faktor Psikogenik
ASD pertama kali dikemukakan oleh Leo Kanner pada tahun 1943. Pada saat itu ASD diperkirakan disebabkan oleh pola asuh yang salah karena kasus ASD banyak ditemukan pada keluarga yang berpendidikan dan berasal dari keluarga menengah, dimana orangtua bersikap kaku pada anak. Akan tetapi, faktor psikogenik ini tidak mampu menjelaskan ketertinggalan perkembangan kognitif, tingkah laku, maupun komunikasi anak ASD.
2. Faktor Biologis dan Lingkungan
Kondisi lingkungan seperti virus dan zat-zat kimia atau logam berat dapat menimbulkan ASD. Zat-zat beracun tersebut seperti timah (Pb), cadmium serta amalgam. Sebuah vaksin, MMR (Measles, Mumps & Rubella) pun awalnya diperkirakan menjadi penyebab ASD.
Akan tetapi, hingga saat ini faktor genetiklah yang diduga kuat penyebab terjadinya ASD. Selain itu, beberapa faktor lain yang diperkirakan menjadi penyebab terjadinya ASD adalah usia ibu (semakin tua usia ibu, kemungkinan memiliki anak dengan gangguan ASD semakin besar), urutan kelahiran, pendarahan trisemester pertama dan kedua serta penggunaan obat yang tidak terkontrol selama kehamilan.
Karakteristik Anak Usia Anak ASD
Pada saat usia balita, anak ASD merespon sesuatu secara pasif dan kaku. Selain itu, anak ASD tidak melakukan kontak mata atau tersenyum, dan menimbulkan reaksi yang berlebihan terhadap berbagai macam bunyi. Pada usia dua tahun, anak ASD cenderung menghindari orang dewasa dan anak-anak seumurnya, jarang mau dipeluk dan merasa nyaman bila sendiri, juga menunjukkan sedikit atau tidak ada minat terhadap sesuatu yang dilakukan orang lain. Selain itu, pada saat anak ASD berusia empat atau lima tahun, gejala ini masih tetap ada (Dumas & Nielsen 2003). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen remaja dengan gangguan ASD menunjukkan kemunduran fungsi secara tetap atau sementara (Gillberg 1991; Kobayashi, Murata & Yoshinaga 1992 dalam Dumas & Nielsen 2003).
Jenis Kelamin
Secara keseluruhan, anak ASD rata-rata empat hingga lima kali terjadi lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Anak perempuan yang menderita ASD mempunyai tingkat fungsi intelektual yang lebih rendah dibandingkan anak laki-laki (Dumas & Nielsen 2003).
Karakteristik Keluarga Usia Ibu
Ibu mengalami lebih banyak stres dan merasa dirinya kurang kontrol diri dalam menghadapi situasi dimana memiliki anak cacat dibandingkan dengan ayah (Hodapp 2002). Selain itu, ibu bereaksi berlebihan dibandingkan dengan ayah dalam menghadapi anak cacat.
Pendidikan
Tingkat pendidikan dilihat dari lamanya seseorang menyelesaikan pendidikan formal yang diikuti. Individu dengan pendidikan tinggi pada umumnya lebih positif dalam menghadapi situasi dan bersikap optimis (Pearlin & Schooler 1976 diacu dalam Furi 2006).
Pendapatan
Keluarga yang memiliki pendapatan besar atau keluarga yang mapan dalam membesarkan anak dengan kecacatan lebih baik dibandingkan keluarga yang membesarkan anak cacat dengan sedikit uang (Farber 1970 dalam Hodapp 2002).
Besar keluarga dan tipe Keluarga
Besar keluarga ditentukan oleh banyaknya jumlah anggota keluarga. Jumlah anggota keluarga berpengaruh terhadap pengasuhan yang diberikan kepada anak (Ariotejo 2002). Adanya orang lain yang tinggal bersama dalam satu rumah secara tidak langsung akan memberikan pengaruh terhadap tumbuh kembang anak (Hurlock 1991).
Keluarga yang utuh lebih baik dibandingkan dengan keluarga yang tidak lengkap atau single-parent dalam membesarkan anak dengan kecacatan (Beckman 1983 dalam Hodapp 2002). Sehingga semakin besar atau lengkapnya anggota keluarga kemungkinan dapat membantu ibu dalam menghadapi masalah sehingga dapat menurunkan tingkat stres atau tekanan yang dihadapi ibu.
Tipe keluarga terdiri dari keluarga inti dan keluarga luas. Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari ayah/suami, ibu/isteri, dan anak yang tinggal
dalam satu rumah. Sedangkan yang dimaksud dengan keluarga luas adalah keluarga yang terdiri dari ayah/suami, ibu/isteri, anak, nenek, kakek ataupun saudara lainnya.
Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga dapat mendorong hasil yang sehat dan positif. Dukungan keluarga lebih penting bagi mental ibu dibandingkan dukungan dari teman. Hal ini mungkin disebabkan dukungan keluarga memiliki sebuah nilai yang lebih tinggi daripada dukungan teman (Serovich 2001 dalam Galvin, Bylund & Brommel 2004). Juga, dukungan keluarga mempunyai efek yang positif bagi penderita stroke, orang yang depresi dan status sosial. Khususnya dukungan keluarga penting bagi anggota keluarga yang stres berat (Tsouna, Vemmos, Zakopoulos & Stamatelopoulos 2000 dalam Galvin, Bylund & Brommel 2004).
Orang tua yang memiliki anak cacat mempunyai jaringan sosial yang lebih kecil akan tetapi hubungannya erat. Para ibu menerima sejumlah dukungan informal dimana dukungan tersebut berasal dari ibunya, saudara perempuan, atau beberapa kerabat. Jaringan seperti itu lebih kuat satu sama lain dalam berinteraksi (Hodapp 2002). Dukungan keluarga pun dapat diperoleh ibu dari sibling anak. Hubungan sibling anak meliputi saling membantu, menolong, belajar, dan bermain. Lebih dari 80 persen anak-anak di Amerika memiliki satu atau lebih sibling. Anak dapat memberikan dukungan emosi dan sebagai teman berkomunikasi (Carlson 1995 dalam Santrock 1997).
Dukungan yang diperoleh terjadi karena adanya hubungan antar anggota keluarga yang baik. Dimana keterampilan dalam berkomunikasilah yang membantu dalam menciptakan hubungan lebih baik dengan teman, keluarga, dan kerabat dekat sehingga dapat menurunkan tingkat stres yang dialami dalam menghadapi masalah stres (Greenberg 2002).
Komunikasi yang lebih baik menimbulkan lebih sedikit konflik, lebih banyak pernyataan-pernyataan positif dan ucapan-ucapan khusus yang memelihara dan mendukung anggota keluarga. Jadi, komunikasi yang lebih baik sangat diperlukan bagi keluarga-keluarga yang mengalami stres (Galvin, Bylund & Brommel 2004).
Persepsi Ibu Terhadap Anak ASD
Persepsi adalah proses yang digunakan oleh seorang individu untuk memilih, mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi untuk memaknai sesuatu (Kotler 2000). Persepsi adalah proses dimana seseorang menerima, memperhatikan, dan memahami informasi yang diberikan kepadanya. Persepsi ini sifatnya kompleks dan subjektif tergantung pada subjek yang melaksanakan persepsi tersebut (De Vito 1997 diacu dalam Sutiah 2006).
Dua individu yang menerima dan memperhatikan suatu stimulus tersebut berbeda karena pemahaman stimulus oleh seseorang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai, harapan dan kebutuhannya yang sifatnya sangat individual (Sumarwan 2003). Perbedaan persepsi terjadi karena setiap orang memiliki kesan yang sangat individual dalam melihat suatu objek. Kesan tersebut dihasilkan oleh lingkungan fisik dan sosial, struktur fisiologis, kebutuhan, dan cita-citanya serta pengalaman masa lalu (Sarwono 1999 diacu dalam Sutiah 2006).
Persepsi ditentukan oleh faktor internal dalam diri individu dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kecerdasan, minat, emosi, pendidikan, pendapatan, kapasitas alat indera dan jenis kelamin, sedangkan faktor eksternal meliputi pengaruh kelompok, pengalaman masa lalu dan perbedaan latar belakang sosial budaya (Kayam 1985 diacu dalam Okturna 2004).
Strategi Koping
Koping adalah usaha tingkah laku dan kognitif untuk menguasai, mengurangi atau mentoleransi tuntutan-tuntutan. Koping digunakan untuk mencari solusi yang dapat memperkecil akibat dari tuntutan-tuntutan tersebut (Lazarus & Folkman 1980 diacu dalam Rice 1999). Koping adalah usaha untuk mengatasi kondisi bahaya, ancaman atau tantangan ketika respon rutin atau otomatis tidak tersedia, tuntutan lingkungan harus memenuhi solusi perilaku baru atau lama dan harus disesuaikan untuk menghadapi stres saat ini (Selye 1983 diacu dalam Hernawati & Herawati 2006).
Koping merupakan suatu usaha untuk berpikir positif dalam menghadapi suatu kondisi yang menyebabkan stres, sehingga pada akhirnya dapat menciptakan harapan baru yang lebih nyata. McElroy dan Townsend (1985) diacu dalam Astuti (2007) menyatakan bahwa salah satu aspek kunci dari koping adalah upaya individu untuk menerima kenyataan atau mengeneralisir ketidakpuasan.
Proses dan upaya yang dilakukan oleh seseorang dalam mengatasi masalah disebut sebagai koping. Koping ini terdiri dari dua bentuk, yaituproblem- focused coping dan emotion-focused coping. Problem-focused coping merupakan strategi seseorang dalam memecahkan masalah fokus terhadap masalah yang sedang dihadapi. Jika seseorang fokus untuk mengatasi emosi yang berhubungan dengan situasi stres, walaupun situasi yang terjadi tidak dapat dirubah disebut denganemotion-focused coping (Lazarus & Folkman 1984 dalam Atkinson, Atkinson, Smith & Bem 2000). Akan tetapi, sebagian besar orang menggunakan kedua bentuk koping tersebut saat menghadapi situasi stres.
Strategi dalam memecahkan masalah antara lain dengan menentukan masalah, menciptakan alternatif pemecahan, memikirkan alternatif berkaitan dengan biaya dan manfaat, kemudian memilih salah satunya dan mengimplementasikan alternatif yang dipilih (Atkinson et al. 2000). Seseorang yang cenderung menggunakan problem-focused coping dalam situasi stres menunjukkan tingkat stres yang lebih rendah baik selama atau setelah situasi stres (Billing & Moos 1984 dalam Atkinsonet al. 2000).
Nolen Hoeksema (1991) dalam Atkinson et al. 2000 mengklasifikasikan emotion-focused coping menjadi strategi perenungan, strategi pengalihan, dan strategi penghindaran negatif. Strategi perenungan antara lain mengisolasi diri untuk memikirkan betapa buruknya perasaan dan mengkhawatirkan konsekuensi dari peristiwa stres atau mengulang pembicaraan mengenai buruknya kehidupan tanpa mengambil tindakan untuk mengubahnya. Strategi pengalihan yaitu dengan melibatkan diri dalam aktifitas yang menyenangkan, sedangkan strategi penghindaran negatif adalah aktifitas yang dapat membahayakan.
Strategi koping penyesuaian dimana sebuah keluarga mungkin mempergunakan sekurang-kurangnya tiga dasar strategi koping penyesuaian, baik yang digunakan sendiri atau penggabungan untuk meciptakan penyesuaian keluarga meliputi penghindaran, eliminasi, dan asimilasi. Penghindaran diartikan sebagai usaha keluarga menyangkal atau membiarkanstressor dan tuntutan lain dengan keyakinan dan harapan bahwastressor akan berlalu atau hilang dengan sendirinya. Eliminasi merupakan sebuah usaha aktif dari keluarga menghilangkan seluruh tuntutan dengan cara merubah atau menggantistressor. Baik penghindaran atau eliminasi meminimalkan atau melindungi anggota keluarga dari modifikasi struktur keluarga. Asimilasi, melibatkan usaha keluarga utnuk menerima tuntutan yang diakibatkan oleh stressor terhadap struktur
keluarga yang ada dan pola interaksi. Keluarga menerima tuntutan melalui perubahan kecil dalam unit keluarga (McCubbin & Thompson 1987).
Adaptasi keluarga menjadi konsep sentral dalam fase adaptasi dan digunakan untuk menggambarkan hasil usaha keluarga meraih tingkat keseimbangan yang baru setelah krisis keluarga. Dalam situasi krisis, anggota keluarga berjuang meraih keseimbangan dan kestabilan baik pada tingkat fungsi antara individu dengan keluarga maupun keluarga dengan masyarakat. Adaptasi keluarga diperoleh melalui hubungan timbal balik dimana tuntutan satu sama lain dipertemukan oleh kapabilitas yang lainnya (McCubbin & Thompson 1987).
Selain strategi koping problem-focused coping dan emotion-focused coping juga terdapat strategi koping keluarga yang telah dikembangkan oleh McCubbin dan Patterson (1987). Strategi koping keluarga tersebut yaituCoping Health Inventory for Parents (CHIP). CHIP ini dikembangkan untuk menggambarkan keluarga beradaptasi pada situasi di bawah tekanan terutama dalam tindakan menanggulangi masalah-masalah kesehatan.
Strategi koping tersebut dibedakan kedalam tiga pola yaitu pola koping I yaitu mempertahankan keutuhan keluarga, kerjasama dan situasi optimis yang pusat pada keluarga dan orang tua, menjaga kebersamaan keluarga, menciptakan kerjasama dan menciptakan kebebasan didalam keluarga. Pola koping II yaitu memelihara dukungan sosial, kepercayaan diri, dan stabilitas psikologis. Pola koping II fokus pada usaha orang tua menjaga perasaan personal melalui pencapaian dukungan sosial, memelihara kepercayaan diri dan mengatur perasaan dan ketegangan psikologis. Pola koping III memahami situasi medis melalui komunikasi antar orang tua dan konsultasi dengan staf medis. Pola koping tahap ini fokus pada hubungan diantara orang tua yang memiliki situasi yang sama, staf medis dan programnya, juga usaha orang tua untuk memahami dan menguasi informasi medis yang diperlukan (McCubbin & Thompson 1987).
Kapasitas koping keluarga diikat oleh empat faktor yaitu pertama, anggota keluarga menghadapi sejumlah stressor sebelumnya di tahun-tahun terakhir. Kedua, tingkat peranan merubah koping. Ketiga, dukungan sosial yang didapat oleh anggota keluarga. Keempat, dukungan institusional yang didapat oleh anggota keluarga. Pengalaman masa lalu yang disertai krisis mempersiapkan anggota keluarga untuk memahami krisis baru apabila terjadi;
mereka juga menghapus kesedihan, kejadian yang tidak dapat diduga akan mempengaruhi koping (Hondapp 2000).
Strategi koping negatif yaitu menghindar atau menarik diri merupakan strategi koping yang lain yang pada umumnya digunakan untuk melindungi melawan emosi yang tidak diinginkan. Seseorang yang menggunakan penghindaran biasanya mencoba mengurangi stres dengan suasana yang membekas secara mental atau fisik. Penghindaran merupakan melarikan diri dari kenyataan dan ketika digunakan lebih hal itu dapat mengganggu manajem stres yang efektif lebih jauh lagi bentuk penghindaran berakibat negatif menurunkan kepercayaan diri dan kewibawaan.
Strategi koping individu dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pengalaman, faktor lingkungan, keperibadian, konsep diri dan faktor sosial. Hal tersebut mempengaruhi kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah. Sarwono (1992) diacu dalam Astuti (2007) menyatakan bahwa untuk mengurangi atau menghilangkan stres, individu melakukan tingkah laku penyesuaian (coping behavior). Individu yang berhasil akan berada pada keadaan homeostatis tetapi seseorang yang tidak berhasil mengatasi masalah akan kembali pada situasi stres dan kemungkinan stres tersebut akan semakin besar.
Penelitian sebelumnya mengenai strategi koping orang tua yang memiliki anak autis dengan orang tua yang tidak memiliki anak autis berbeda. Penelitian ini dilakukan di negara Swedia dimana strategi koping pada penelitian tersebut diukur dengan menggunakan Sence of Coherence (SOC) dan Purpose in Life (PIL-R). Hasil penelitian menunjukan bahwa pada kelompok orang tua yang memiliki anak autis memiliki SOC yang sedang dan pada kelompok orang tua yang tidak memiliki anak autis SOC tinggi. PIL-R kelompok orang tua yang memiliki anak autis tidak memiliki pandangan mengenai kehidupan yang baik atau positif sedangkan PIL-R kelompok orang tua yang tidak memiliki anak autis tergolong memandang kehidupan lebih positif (Sivberg 2005).
Berdasarkan penelitian strategi koping keluarga terhadap penderita TB paru menunjukkan bahwa perilaku koping keluarga dalam menghadapi masalah penyakit tuberculosis (TB) paru yang terjadi pada anggota keluarga, rata-rata keluarga mengembangkan perilaku positif terhadap upaya pemecahan masalah penyakit TB paru. Perbedaan strategi koping yang digunakan antara keluarga penderita TB paru yang dibantu dengan yang tidak dibantu dalam hal pengobatan lebih disebabkan karena faktor jumlah keluarga, pendidikan
keluarga, pengetahuan pasangan, sikap keluarga, dukungan keluarga dan persepsi keluarga terhadap penyakit TB paru (Lukman 2002).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi strategi koping keluarga dengan kasus TB paru pada pasangannya antara lain faktor pendidikan, tingkat pengetahuan pasangan mengenai TB paru, sikap keluarga, dukungan keluarga, ketersediaan sarana dan fasilitas serta persepsi keluarga mengenai TB paru mempengaruhi penerapan strategi koping yang dilakukan keluarga. Tingkat kepatuhan penderita TB paru dipengaruhi secara bermakna oleh strategi koping keluarga dan tingkat stres, dimana pada keluarga yang mengembangkan strategi koping adaptif atau positif menunjukkan lebih patuh begitu pula pada penderita dengan tingkat stres yang rendah (Lukman 2002).
Hasil penelitian tingkat stres dan strategi koping ibu dengan anak retardari mental menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan besar keluarga dan tingkat pendidikan keluarga. Tidak terdapat hubungan antara kondisi psikososial anak dengan usianya, jenis kelamin, serta tidak terdapat hubungan antara persepsi dengan usia dan pendidikan. Akan tetapi terdapat hubungan yang positif antara persepsi dengan status pekerjaan (Thantina 2002). Sebesar 57,1 persen ibu cenderung menerapkan strategi koping terfokus pada emosi dan 34,3 persen ibu cenderung terfokus pada masalah dan 8,6 persen ibu tidak mempunyai kecenderungan. Selain itu, tidak terdapat hubungan antara tingkat stres dengan strategi koping yang diterapkan ibu (Thantina 2002).