METODE PENELITIAN
3.1 Kerangka Pemikiran
Pemerintah Kabupaten Sukabumi, dengan menggunakan paradigma pemberdayaan masyarakat, menyelenggarakan suatu program yaitu program transmigrasi lokal. Program transmigrasi lokal ini merupakan program untuk menanggulangi kepadatan penduduk dan untuk mengingkatkan kesejahteraan. Penduduk yang dimaksud adalah warga Sukabumi sendiri juga warga transmigran yang datang kembali (eksodan) ke Sukabumi dikarenakan adanya masalah keamanan di lokasi transmigrasi.
Program transmigrasi lokal yang diselenggarakan di Kabupaten Sukabumi perlu adanya pengevaluasian. Evaluasi yang dilakukan bersifat formatif yang mana program yang dievaluasi masih berlangsung (on-going evaluation). Dengan menggunakan pendekatan yang berorientasi pada pencapaian tujuan, program transmigrasi ini dievaluasi untuk diketahui sejauhmana perkembangan dan keberhasilan program. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menilai keberhasilan program transmigrasi yaitu : pendapatan warga transmigran, pendidikan warga transmigran, sarana lingkungan atau fasilitas yang ada di lokasi UPT, keamanan yang tercipta di lokasi UPT, kesehatan warga dan lingkungan, dan kelembagaan sosial yang terbentuk, yang kemudian semua hal tersebut dapat meningkatkan kesejahateraan warga transmigran dalam pemenuhan kebutuhan serta dapat membentuk warga transmigran mandiri.
23
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
TRANSMIGRASI LOKAL Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sukabumi
Paradigma Pemberdayaan Komunitas Transmigran
Evaluasi Program Transmigrasi Lokal (on-going evaluation)
Peningkatan Pendapatan Kelembagaan sosial masyarakat Penanaman komoditas Pendidikan Kesehatan Sarana lokasi Keamanan Kesejahteraan warga transmigran Warga transmigran mandiri Keterangan: = Menghasilkan = Dilakukan
3.2 Hipotesis Penelitian
Penilitian yang dilakukan di UPT Cimanggu II merumuskan beberapa hipotesis penelitian yaitu:
1. Pendapatan berhubungan positif dengan kesejahteraan warga transmigran. Semakin tinggi tingkat pendapatan maka pemenuhan terhadap kebutuhan juga semakin tinggi.
2. Kelembagaan sosial berhubungan positif dengan kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan warga transmigran. Terbentuknya kelembagaan memungkinan warga untuk mengorganisasikan diri dengan warga lain kaitannya dengan peningkatkan pendapatan.
3. Penanaman komoditas unggulan berhubungan positif dengan kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan warga transmigran. Peningkatan hasil panen meningkatkan pendapatan warga transmigran.
4. Pendidikan berhubungan positif dengan kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan warga transmigran. Semakin tinggi kapabilitas warga maka semakin beragam juga usaha yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan.
5. Kesehatan berhubungan positif dengan kesejahteraan warga transmigran. Semakin tinggi tingkat kesejahteraan seseorang maka semakin tinggi juga kualitas kesehatannya.
6. Sarana lokasi berhubungan positif dengan kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan warga transmigran. Semakin beragamnya keberadaan fasilitas di lokasi memungkinkan warga untuk meningkatkan upaya peningkatan pendapatan.
25
7. Keamanan berhubungan positif dengan kesejahteraan warga transmigran. Status keamanan yang baik menciptakan kenyamanan warga transmigran tinggal di UPT.
8. Kesejahteraan berhubungan positif dengan kemandirian warga transmigran. Kesejahteraan warga melahirkan jiwa warga transmigran mandiri.
3.3 Lokasi Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di UPT Cimanggu II, Desa Langkapjaya, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi. Pemilihan lokasi dilakukan dengan sengaja. Hal ini dilakukan karena UPT merupakan lokasi yang dipandang sangat memerlukan upaya pemberdayaan masyarakat. Di lokasi UPT terdapat suatu sistem baru yang terbentuk secara sengaja dengan tujuan pembangunan. Waktu penelitian dan pengambilan data dilakukan pada bulan Juli sampai dengan September 2007. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik triangulasi data yaitu pengumpulan data kuantitatif dengan menggunakan kuisioner, pengamatan berperan serta, dan penelusuran dokumen yang relevan dengan topik penelitian. Pengamatan berperan serta yang dilakukan peneliti diantaranya keikutsertaan peneliti dalam beberapa kegiatan pemberdayaan yang dilakukan di UPT Cimanggu II. Penelusuran dokumen-dokumen yang dianggap memberikan informasi dilakukan di kantor Disnakertrans sebagai bahan gambaran umum lokasi penelitian.
3.4 Teknik Pengambilan Sampel
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan kuisioner sebagai instrumen penelitian. Dengan menggunakan kuisioner, diharapkan responden dapat memberikan data yang akurat pada tiap kali proses pengambilan data. Selain kuantitatif, untuk dapat memperoleh data yang yang lebih lengkap, pendekatan yang dilakukan juga dengan pendekatan kualitatif untuk menggali informasi dan menjelaskan informasi yang didapat langsung dari responden ataupun informan. Pada saat pengumpulan data, peneliti mendatangi informan dan responden pada waktu yang disesuaikan dengan kesibukan informan atau responden. Penyesuaian waktu pengambilan data ini dikarenakan kesediaan informan atau responden tidak tentu. Tidak tentu disini maksudnya tidak semua responden dan informan memiliki kesediaan waktu yang sama satu dengan yang lainnya.
Populasi sampel penelitian ini adalah masyarakat transmigran. Pada penelitian ini terdapat sumber informasi yang terdiri dari Informan merupakan pihak yang akan memberikan informasi tentang pihak lain dan lingkungannya, dan responden yang memberikan informasi mengenai dirinya sendiri dan kegiatan yang dilakukannya. Pemilihan sampel, untuk memenuhi syarat N=30 (N adalah besar sampel), maka dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling yang mana jumlahnya 30 KK dari 79 KK. Hal ini dilakukan karena pada program transmigrasi lokal masyarakat yang menjadi populasi sampel merupakan masyarakat yang homogen yaitu sebagai transmigran yang bermatapencaharian sebagai petani atau dengan kata lain responden masih bergantung pada lahan pertanian. Kehomogenan warga transmigran juga dapat dilihat pada tingkat
27
pendidikan yang mana semua warga transmigran hanya mengenyam pendidikna sekolah dasar. Selain dipandang sebagai petani, warga transmigran juga dipandang sebagai orang yang memiliki luas lahan yang sama. Jadi dalam penelitian ini kehomogenan warga tidak hanya dalam status pekerjaan saja tetapi juga dalam hal sumberdaya lahan.
3.5 Pengambilan Data dengan Kuisioner
Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer mencakup semua data yang berkenaan dengan variabel pengaruh dan variable terpengaruh. Data primer juga mencakup data yang didapat dari hasil observasi dan hasil wawancara dengan warga transmigran, apabila diperlukan. Data sekunder yang dikumpulkan mencakup semua data yang diambil dan ditelusuri dari dokumen Disnakertrans Sukabumi dan dokumen lain (misalnya, catatan pribadi petugas translok UPT Cimanggu II) yang dipandang mendukung penelitian ini. Dalam pengumpulan data informasi, yaitu dengan menggunakan kuisioner, kuisioner disebarkan pada responden dengan tujuan responden dapat memberikan informasi yang lengkap mengenai UPT Cimanggu II. Kuisioner ini dibuat dan disesuaikan dengan topik penelitian yang terkategori dalam beberapa variabel dan sebisa-bisa kuisioner disajikan dalam bentuk pertanyaan yang mudah dipahami, memandang bahwa tingkat pendidikan warga transmigran hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar. Sehingga penggunaan istilah-istilah pun di sesuaikan dengan tingkat pemahaman warga terhadap istilah tersebut. Istilah-istilah yang dimaksud misalnya ‘konflik’ diganti dengan ‘pertengkaran’, ‘konsumsi’ dengan ‘menggunakan’ atau ‘memakan’, dan sebagainya.
3.6 Pengolahan Data
Data yang diperoleh dari kuesioner merupakan data primer yang dianalisa berdasarkan masing-masing sub-pokok bahasan. Sesuai dengan rancangan dan tujuan penelitian, maka data dianalisa dengan menggunakan tabulasi frekuensi untuk mengecek konsistensi jawaban, dan tabulasi silang untuk menentukan klasifikasi terbaik dengan melihat hubungan atau keterkaitan antara variabel-variabel penelitian yang akan diuji (Sofian dan Chris Manning dalam
Singarimbun dan Effendi, 1989). Hubungan antar variabel penelitian ditentukan dengan menggunakan analisis korelasi peringkat Spearman yang kemudian diinterpretasikan. Uji korelasi Spearman dipergunakan untuk melihat tingkat keeratan (signifikansi) antar variabel-variabel tersebut. Untuk memudahkan dalam proses pengolahan data, pengeolahan data penelitian dilakukan dengan menggunakan software SPSS 13 for Windows. Dalam statistika, rumus untuk mencari tingkat keeratan variabel adalah sebagai berikut:
rs =
( 1)
6
1
2 2−
−
∑
N
N
D
n ,Keterangan : rs = koefisien korelasi peringkat Spearman D = selisih antara peringkat Xi dan Yi N = banyaknya pasangan data
29
Tabel 1. Nilai Korelasi Peringkat Spearman.
No. Besarnya nilai rs Interpretasi
1. Antara 0,000 sampai dengan 0,200 Sangat lemah/tidak berkorelasi 2. Antara 0,201 sampai dengan 0,400 Lemah
3. Antara 0,401 sampai dengan 0,600 Cukup kuat 4. Antara 0,601 sampai dengan 0,800 Kuat 5. Antara 0,801 sampai dengan 1,000 Sangat Kuat
Data yang didapat kemudian di tabulasi silang. Pada tabulasi silang masing-masing variabel yang terkait dibedakan ke dalam tiga kategori yang didasarkan pada nilai rata-rata. Nilai rata-rata merupakan perolehan nilai dari keseluruhan responden untuk masing-masing variabel dibagi dengan jumlah responden. Adapun tiga kategori yang dimaksud ditentukan oleh nilai-nilai yang berada di atas, di bawah, dan pada nilai rata-rata. Nilai yang berada di atas rata-rata masuk pada kategori tinggi sedangkan nilai-nilai yang berada di bawah rata-rata masuk pada kategori rendah. Hubungan antara dua variabel yang dihubungkan dilihat dari perolehan persentase pada kombinasi kategori dua variabel terkait. Sedangkan pada korelasi Spearman, signifikansi hubungan dua variabel tampak dari nilai r (koefisien korelasi) yang diperoleh dari hasil perhitungan.
3.7 Variabel Penelitian
Variabel secara harfiahnya adalah konsep yang memiliki nilai. Dalam melakukan penelitian, peneliti memperhatikan beberapa variabel penelitian. Variabel yang digunakan ada dua jenis variabel, variabel yang
mempengaruhi (independent variable) dan variabel yang dipengaruhi (dependent variable). Merujuk pada pernyataan Tjiptoherijanto (1986), Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menilai perkembangan program transmigrasi diantaranya; pendapatan warga transmigran, pendidikan warga transmigran, sarana lingkungan atau fasilitas yang ada di lokasi UPT, keamanan yang tercipta di lokasi UPT, kesehatan warga dan lingkungan, dan kelembagaan sosial yang terbentuk. Beberapa hal tersebut merupakan variabel yang mempengaruhi. Sedangkan variabel yang dipengaruhi dalam penelitian ini adalah variabel kesejahteraan yang membentuk jiwa warga transmigran yang mandiri.
3.8 Definisi Operasional
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengandung beberapa definisi operasional. Definisi operasional ini menjelaskan konsep-konsep yang ada dalam penelitian. Definisi operasional tersebut diantaranya:
1. Pendapatan. Pendapatan adalah uang yang didapat atau dihasilkan oleh warga transmigran di UPT Cimanggu II satu bulan terakhir. untuk pengkategorian, peneliti menentukan rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan acuan nilai pendapatan yang paling tinggi yang ada di UPT. kategori:
a. untuk responden yang memilih jawaban a, maka responden tersebut dikategorikan berpendapatan rendah yaitu dibawah Rp. 562.000,- /bulan.
31
b. untuk responden yang memilih jawaban b, maka responden tersebut dikategorikan berpendapatan sedang yaitu antara Rp. 562,000,- sampai Rp. 1000.000,- / bulan.
c. untuk responden yang memilih jawaban c, maka responden tersebut dikategorikan berpendapatan tinggi yaitu diatas Rp. 1.000.000,-/bulan.
2. Pendidikan. Pendidikan adalah pengetahuan yang dimiliki oleh warga transmigran. Pengetahuan tersebut dapat berupa pengetahuan yang didapat sebelum menjadi transmigran atau setelah menjadi transmigran. Pendidikan juga mencakup kemampuan keterampilan warga transmigran. Baik melalui jenjang formal maupun informal. pendidikan ini diukur dari :
a. untuk responden yang memilih jawaban a, maka responden tersebut dikategorikan sebagai warga yang kurang memandang penting pengetahuan.
b. untuk responden yang memilih jawaban b, maka responden tersebut dikategorikan sebagai warga yang cukup memandang penting pengetahuan.
c. untuk responden yang memilih jawaban c, maka responden tersebut dikategorikan sebagai warga yang sangat memandang penting pengetahuan.
3. Sarana lingkungan. Sarana lingkungan yang dimaksud disini adalah segala sarana yang ada di lokasi UPT Cimanggu II. Sarana lingkungan adalah sarana yang berupa fasilitas, baik fasilitas umum maupun pribadi
yang kaitannya dengan kenyamanan warga untuk tetap tinggal di UPT. pengkategorian ini diukur:
a. untuk responden yang memilih jawaban a, maka responden tersebut dikategorikan tidak nyaman berada di UPT.
b. untuk responden yang memilih jawaban b, maka responden tersebut dikategorikan cukup nyaman tinggal di UPT.
c. untuk responden yang memilih jawaban c, maka responden tersebut dikategorikan sangat nyaman tinggal di UPT.
4. Keamanan. Keamanan adalah suatu kondisi dimana warga transmigran di UPT Cimanggu II tidak merasa berada dalam bahaya apabila mereka berada di lokasi UPT. Pengukuran variabel keamanan diukur:
a. untuk responden yang memilih jawaban a, maka responden tersebut dikategorikan merasa tidak aman berada di UPT.
b. untuk responden yang memilih jawaban b, maka responden tersebut dikategorikan merasa cukup aman berada di UPT.
c. untuk responden yang memilih jawaban c, maka responden tersebut dikategorikan merasa sangat aman di UPT.
5. Kesehatan. Kesehatan adalah konsisi warga transmigran UPT Cimanggu II tidak pada kondisi yang tidak sehat. Konsisi tersebut terkait dengan lingkungan tempat warga transmigran tinggal maupun kondisi tubuh warga transmigran itu sendiri. Pengkategorian kesehatan diukur:
a. untuk responden yang memilih jawaban a, maka responden tersebut dikategorikan berada pada kondisi tidak sehat.
33
b. untuk responden yang memilih jawaban b, maka responden tersebut dikategorikan berada pada kondisi kurang sehat.
c. untuk responden yang memilih jawaban c, maka responden tersebut dikategorikan berada pada kondisi sehat.
6. Kelembagaan Sosial. Kelembagaan sosial yang dimaksud adalah keadaan sosial yang ada di lokasi UPT Cimanggu II. Kondisi sosial tersebut merupakan cerminan dari terbentukanya sistem masyarakat yang solid dibentuk oleh program transmigrasi lokal (translok). pengkategorian diukur:
a. untuk responden yang memilih jawaban a, maka responden tersebut dikategorikan tidak solid atau peduli satu sama lain.
b. untuk responden yang memilih jawaban b, maka responden tersebut dikategorikan cukup solid atau peduli satu sama lain.
c. untuk responden yang memilih jawaban c, maka responden tersebut dikategorikan sangat solid atau peduli satu sama lain.
7. Kesejahteraan. Kesejahteraan yang dimaksud adalah suatu keadaan dimana warga transmigran dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengukuran nilai kesejahteraan ini memakai pendekatan mikro subyektif. Hal ini dikarenakan tingkat kepuasan warga transmigran dengan warga masyarakat kota atau masyarakat sekitarnya berbeda. pengkategorian ini diukur:
a. untuk responden yang memilih jawaban a, maka responden tersebut dikategorikan kurang sejahtera.
b. untuk responden yang memilih jawaban b, maka responden tersebut dikategorikan cukup sejahtera.
c. untuk responden yang memilih jawaban c, maka responden tersebut dikategorikan sangat sejahtera.
8. Kemandirian. Kemandirian adalah kemampuan warga transmigran UPT Cimanggu II untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa adanya bantuan dari puhak luar dengan harapapan adanya pengoptimalisasian sumberdaya yang dimiliki sendiri. pengkategorian variabel kemandirian diukur:
a. untuk responden yang memilih jawaban a, maka responden tersebut dikategorikan kurang mandiri.
b. untuk responden yang memilih jawaban b, maka responden tersebut dikategorikan cukup mandiri.
c. untuk responden yang memilih jawaban c, maka responden tersebut dikategorikan sangat mandiri.
9. Kondisi rumah hunian. Kondisi Baik, bagian struktur rumah masih layak dan berfungsi baik. Kondisi kurang baik, Bagian struktur rumah sebagian ada yang tidak berfungsi misalnya, adanya atap rumah yang sudah tembus air. Kondisi rusak, banyak bagian struktur rumah yang sudah tidak berfungsi dan perlu adanya perbaikan kondisi rumah.
10. UPT. UPT kependekan dari unit pemukiman transmigrasi. UPT merupakan lokasi dimana warga transmigran tinggal.
11. Kepala Keluarga (KK) adalah orang yang dijadikan pemimpin dalam suatu keluarga yang dalam hal ini dijadikan sebagai responden.
35
12. Petugas Lapangan adalah orang yang memiliki tanggung jawab dalam menangani segala urusan yang ada di UPT Cimanggu II. Maksud menangani di sini adalah berupaya untuk melaporkan dan mengatasi permasalahan yang timbul di UPT Cimanggu II.
13. Pembinaan adalah upaya yang dilakukan baik oleh petugas lapangan maupun penyuluh dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang ada di UPT Cimanggu II yang dalam pelaksanaannya warga dibimbing dan diajari tentang bagaimana cara-cara bertani, memberantas hama, berekonomi, mengembangbiakan ternak dan sebagainya.
14. Pengembangan UPT adalah upaya yang dilakukan untuk membentuk UPT yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
15. Pendapatan perkapita adalah jumlah pendapatan wilayah dalam satu tahun dibagi dengan jumlah warga yang ada di wilayah tersebut.
BAB IV
GAMBARAN UMUM WILAYAH
4.1 Sejarah Lokasi Transmirasi Lokal UPT Cimanggu II
Unit pemukiman transmigrasi (UPT) lokal yang ada di Kabupaten Sukabumi tidak hanya UPT Cimanggu II saja tetapi juga ada UPT-UPT lain. UPT yang ada terdiri dari enam lokasi UPT. UPT-UPT tersebut dinamakan berdasarkan kawasan pemerintahan desa setempat. UPT-UPT tersebut diantaranya di:
1. Desa Cikarang, Kecamatan Cidolog yang dinamakan UPT Cikarang,
2. Desa Curug Luhur, Kecamatan Sagaranten dinamakan UPT Curug Luhur, UPT Cikopeng, UPT Gunung Gedogan, UPT Puncak Kembar. Khusus pada kecamanan ini terdapat empat UPT,
3. Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas dinamakan UPT Balewer, dan
4. Desa Langkapjaya, Kecamatan Lengkong dinamakan UPT Cimanggu II.
Kembali pada UPT Cimanggu II, Unit pemukiman transmigrasi (UPT) Cimanggu II berlokasi di Desa Langkapjaya, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi. UPT Cimanggu II terletak di daerah perkebunan teh yang mana perkebunan teh ini dahulunya dimiliki oleh pemerintah Belanda. Setelah Indonesia merdeka, perkebunan teh ini ditinggalkan oleh pemerintah Belanda dan hak guna usahanya (HGU) dianggap sudah habis. Hal ini menyebabkan Pemda Kabupaten Sukabumi memiliki bagian wilayah yang belum termanfaatkan. Oleh karena itu, Pemda Kabupaten Sukabumi memilih wilayah perkebunan teh di Desa Langkapjaya
37
sebagai lokasi UPT. Proses pembentukan lokasi UPT Cimanggu II dilaksanakan berdasarkan pada surat-surat kebijakan pembangunan sebagai berikut:
1. Surat Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat yang ditujukan kepada Menteri Transmigrasi dan PPH RI Nomor: 475.1/29-99/BAPPEDA tanggal 9 November 1999 perihal Permohonan Penempatan Wilayah Pengembangan dengan pola transmigrasi yang sesuai dengan PP Nomor 2 tahun 1999.
2. Ditindaklanjuti dengan Surat Kepala Kantor Wilayah Departemen Transmigrasi dan PPH Provinsi Jawa Barat yang ditujukan kepada Para Kepala Kantor Departemen Transmigrasi dan PPH Garut, Cianjur, Sukabumi, dan Pandeglang Nomor: 4023.HK.03.33.99 tanggal 20 November 1999 perihal Permohonan Penetapan Wilayah Pengembangan dengan pola transmigrasi.
3. Ditindaklanjuti dengan Surat Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Sukabumi Nomor: 525/639/BIRYS tanggal 17 Desember 1999 tentang status lahan bekas perkebunan Cimanggu II.
4. Berdasarkan Surat Menteri Transmigrasi dan Kependudukan Nomor: 344.PR.01.31.2000tanggal 17 Februari 2000 tentang Penetapan Lokasi Cimanggu II seluas 118,72 Ha sebagai lokasi pemukiman transmigrasi lokal.
5. Langka Selanjutnya adalah penjajagan lahan yang dilakukan oleh Team Tingkat II yang dipimpin oleh Kepala Kantor Departemen Transmigrasi dan PPH Kabupaten Sukabumi seperti yang dilaporkan Kepala Desa
Langkapjaya dalam Surat Nomor: 595/241UPT/2000 tanggal 8 April 2000 perihal Rencana Pemukiman Transmigrasi di Cimanggu II.
6. Surat Bupati Nomor: 475.1/879-Tapem tanggal 2 Juni 2000 perihal Penetapan Wilayah Pengembangan dengan Pola Transmigrasi.
7. Berita Acara yang ditanda tangani oleh Kepala Desa Langkapjaya dengan beberapa saksi nomor: 595/01/2000 tanggal 24 Agustus yang pada dasarnya tidak keberatan apapun pengalihan status peruntukan Cimangu II serta sangat mendukung untuk segera dibangun Wilayah Pengembangan dengan Pola Transmigrasi di Cimanggu II.
4.2Batas-batas Wilayah UPT Cimanggu II
UPT Cimanggu II memiliki batas-batas wilayah; Hutan Lindung Departemen Kehutanan di sebelah utara, Kampung Cisuren di sebelah selatan, Kampung Ciwaru dan Kampung Cieurih di sebelah barat, dan Kampung Cimanggu Girang di sebelah timur.
4.3Topografi Wilayah
UPT Cimanggu II, yang memiliki ketinggian 600 meter diatas permukaan laut, apabila dilihat secara topografi merupakan suatu wilayah yang berbukit. Dengan daerah datar 4 hektar dan daerah yang bergelombang 14 Hektar. Apabila dikonfersikan ke persentase dari total luas wilayah UPT, maka daerah datar hanya mencapai sekitar 3 persen dari total luas wilayah UPT 118,78 hektar. Dengan keadaan kontur wilayah yang bergelombang ini maka penempatan rumah hunian warga transmigran pun ditempatkan secara berjauhan. Jarak terdekat antara satu
39
rumah dengan rumah lainnya hanya mencapai ±10 meter sedangkan jarak terjauh antara satu rumah dengan rumah lainnya ada yang mencapai ±50 meter. Apabila dipetakan dalam fungsional lahan adalah; 7 Hektar untuk lahan pekarangan, 52,5 hektar untuk lahan usaha, 21 hektar untuk fasilitas umum, dan 38 Hektar untuk lahan cadangan.
4.4 Aksesibilitas Wilayah
UPT Cimanggu II terletak sangat jauh dari pusat kota Kabupaten Sukabumi. Jarak yang harus ditempuh untuk dapat sampai ke lokasi UPT ini adalah; 24 kilometer dari Kecamatan Lengkong dan 72 kilometer dari Ibukota Kabupaten, yang apabila dikonversikan kedalam waktu maka perjalanan memerlukan waktu sekitar dua sampai tiga jam, apabila kita bertolak dari pusat kota Kabupaten Sukabumi. Apabila kita bertolak dari terminal Baranang Siang Bogor, maka kendaraan yang disarankan adalah Colt mini bus atau bus MGI dengan rute Bogor-Jampang Via Surade. Jalan yang dilalui adalah jalan aspal, hanya pada saat akan memasuki lokasi UPT jalan yang ada hanya jalan biasa, bukan aspal dan bahkan cenderung ke jalan batu yang masih kasar dan sulit untuk dilalui baik untuk kendaraan roda empat maupun roda dua. Namun meskipun demikian warga transmigran masih bisa memanfaatkan sarana transportasi. Sarana transportasi yang digunakan warga transmigran adalah jenis kendaraan roda dua dan itu juga setelah mengalami pemodifikasian ban, yaitu dengan memasangkan rantai besi ukuran kecil pada ban dengan tujuan agar jalan yang dilalui tidak licin. Pemodifikasian alat transportasi ini memang sudah menjadi sarat agar alat
transportasi dapat dimanfaatkan mengingat kondisi jalankurang memungkinkan untuk dilakui oleh kendaraan bermotor.
4.5Lapangan Pekerjaan
Warga transmigran merupakan petani semi-subsisten, yang berarti warga mengkonsumsi hasil pertanian yang diusahakannya serta menjual sebagian hasil taninya di pasar. Komoditas yang biasa ditanam di lokasi UPT Cimanggu II diantaranya; padi gogo, kacang panjang, buncis, bawang daun, cabe merah, ketela pohon, ubi jalar, salak, jagung, dan pisang. Dalam sektor peternakan, warga transmigran sudah mampu beternak ayam dan domba yang diberikan oleh Pemda Kabupaten Sukabumi sebagai salah satu upaya dalam pemberdayaan warga transmigran dalam sektor peternakan dan pertanian.
Kegiatan sehari-hari warga transmigran adalah bertani. Kegiatan ini dipandang sangat sarat dengan kehidupan warga. Hal ini dikarenakan warga hanya dapat bekerja pada sektor pertanian saja. Kalau pun ada pada sektor perdagangan