• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Metode Penelitian

Untuk meneliti peranan film sebagai Media propaganda politik Jepang Yang terjadi pada tahun 1942-1945 penulis menggunakan metode historis. Menurut Louis Gottschalk, yang dimaksudkan dengan metode historis adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dari pengalaman masa lampau.21

Berbeda dengan ilmu sosial lain yang menekankan pada pengulangan dan objek yang bersifat general, sejarah justru meneliti sesuatu yang unik. Hal ini karena peristiwa sejarah adalah einmalegh. Artinya, peristiwa yang menjadi kajian sejarah tidak akan

pernah mengalami pengulangan yang sama persis dalam konstruksi peristiwanya.22 Metode sejarah digunakan karena penggunaan metode harus disesuaikan dengan objek yang dikaji. Hal tersebut menurut Koentjoroningrat, metode yang merupakan cara kerja untuk dapat memahami objek harus sesuai dengan ilmu yang bersangkutan.23 Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan dengan

menggunakan ilmu komunikasi. Khususnya komunikasi politik. Dalam memahami komunikasi politik ini kemudian digunakan teori tentang propaganda. Hal ini karena propaganda merupakan salah satu cara dalam komunikasi politik yang sangat efektif dan sesuai dengan background yang akan diteliti. Pendekatan ini kemudian dijalankan dengan metode historis yang terdiri dari empat tahap. Tahapan dalam metode sejarah saling berkaitan antara tahap satu dengan tahap yang lainnya karena tahap yang dilakukan akan berurutan dalam cara kerjanya. Tahapan itu adalah Heuristik, Kritik Sumber, Inteprestasi, dan Historiografi.24

22 Peter Burke, 2003, Sejarah dan Teori Sosial, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hlm 32.

23Koentjaraningrat, 1983, Metode-Metode Penelitian Masyarakat , Jakarta: P.T. Gramedia, hlm 7.

24 Nugroho Notosusanto, 1988, Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer, Jakarta: Yayasan Idayu, hlm 36.

Tahap pertama adalah Heuristik, yaitu cara mengumpulkan

bahan atau sumber-sumber sejarah dengan mengumpulkan jejak-jejak

sejarah. Sumber-sumber sejarah tersebut tentunya yang sejaman dan

dalam bentuk tercetak, tertulis maupun lisan. Dalam penulisan ini

tehnik yang digunakan untuk mendapatkan sumber adalah dengan

Studi Dokumen dan Studi Pustaka.

Studi Dokumen dalam hal ini adalah suatu cara untuk

mendapatkan data primer atau data sejaman atau sumber utama dari

tangan pertama yang bisa digunakan untuk menceritakan peristiwa

tersebut. Hal ini karena dalam ilmu sejarah tidak akan ada fakta “no

fact no history”. Fakta dalam sejarah diartikan sebagai pernyataan atas

kenyataan.

Dokumen sendiri dibedakan menjadi dua yaitu dokumen dalam

arti sempit dan dokumen dalam arti luas.

25

Dokumen dalam arti sempit

adalah kumpulan data verbal dalam bentuk tulisan seperti surat kabar,

catatan harian, laporan dan lain-lain. Dokumen dalam arti luas adalah

termasuk didalamnya foto-foto, artefact, film dan lain sebagainya.

Dokumen mempunyai arti yang sangat besar dalam metode

penelitian Historis. Dalam dokumen, terkandung banyak data primer

25 Sartono Kartodirjo, 1992, PendekatanIlmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, Jakarta: P.T. Gramedia, hlm. 98.

yang akan bisa menjelaskan peristiwa yang telah terjadi, semakin

banyak data primer akan mendapatkan hasil sejumlah besar fakta. Hal

ini karena dokumen dapat digunakan untuk menjawab 5W+1H (apa,

siapa, kapan, dimana, mengapa dan bagaimana).

26

Dokumen-dokumen yang diperlukan dalam penelitian ini

diantaranya adalah arsip-arsip berupa surat resmi maupun tidak resmi,

selebaran, foto, film, dan lain-lain. Arsip Adachi, Osahi, Yoshikawa,

dan tsuda “Replies Of Questionaire Concerning Sendenbu” dalam

arsip Kementerian pertahanan Belanda dengan No. GG-21-1947.

Surat resmi yang dikelurkan oleh pemerintahan Jepang berkaitan

dengan kondisi dan situasi sekitar keadaan politik pada masa itu yang

diperoleh di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di antaranya:

Undang-undang No. 1 Dari Pembesar Balatentara Dai Nippon (7

Maret 1942), Undang-undang No. 2 Tentang Keamanan Masyarakat

(Maret 1942), Undang-undang No. 6 tentang memakai waktu Nippon

dan mengubah batasan berjalan diwaktu malam (27 Maret 1942),

Undang-undang No. 8 tentang mengibarkan bendera “Kokki” (11

April 1942),Undang-undang No. 27 tentang perubahan tata

pemerintahan daerah (5 Agustus 1942), Undang-undang No. 21

tentang pembatasan gelombang pesawat radio (16 juni 1942),

26 Sartono Kartodirjo, 1998, Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia, Suatu Alternatif, Jakarta: P.T. Gramedia, hlm. 97.

undang No. 16 tentang pengawasan baan-badan pengumuman

penerangan dan pemilikan pengumuman dan penerangan (25 Mei

1942), Eiga Ho (Undang-undang Film Juli 1938, Eiga Ho petunjuk

tambahan oktober 1939.

Sumber lain tak kalah pentingnya adalah surat Pembentukan

Keimin Bunka Shidoso (Pusat Kebudayaan) pada bulan April 1943,

pembentukan Nihon Eigasha\Nichi’e (Perusahaan film Jepang) pada

bulan April 1943 sebagai produksi film, Eiga haikyusha\Eihai

(Perusahaan Pendistribusian Film) pada bulan April 1943 sebagai

distribusi film, surat Perjanjian antara Nippon Eiga Sha Production,

cabang Jakarta dan Berita Film Indonesia Jakarta (6 Oktober 1945). Di

Pusat Perfilman Sinematek Usmar Ismail ada juga koleksi film-film

bertemakan propaganda-propaganda Jepang seperti film berjudul

Hawai-Marei Oki Kaisen (perang Laut dari Hawaii sampai Malaya),

kris Pusaka, Gelombang dll. Juga dipakai sumber berupa surat kabar

dan majalah yang memuat berita atau artikel mengenai propaganda

Jepang serta hal-hal yang berkaitan dengan film yang bertemakan

propaganda jepang. Mayoritas surat kabar yang diambil sebagai

sumber adalah surat kabar nasional, dan hanya sedikit yang bersekala

daerah, diantaranya Almanak Asia-Raya 2603: Tahoen I, Asia Raya,

Shinbun , Pandji Poestaka, Sande Mainichi , Serebes Shinbun ,Shin

Jawa, Star News, Tjahaya, Tokyo Asahi Shinbun, Unabara, dan

Wawasan Kepulauan yang kesemuanya itu berada dan diperoleh di

perpustakaan nasional, monumen pers nasional, perpustakaan

mangkunegaran, Arsip Nasional dan Japan Foudation.

Studi pustaka adalah metode pengumpulan data dengan

mempelajari literatur serta buku yang relevan dengan pokok

permasalahan. Data yang didapatkan dari studi ini adalah berupa data

sekunder. Studi pustaka ini dimaksudkan untuk memperkuat dan

menambah data untuk mendukung kelengkapan penulisan.

Studi pustaka dilakukan diberbagai perpustakaan yang ada di

Surakarta, Jakarta. Selain itu juga di perpustakaan lain yang

menyimpan koleksi-koleksi buku berkaitan dengan pokok

permasalahan dalam penelitian ini seperti perpustakaan Sinematek.

Selain studi dokumen dan pustaka juga dipakai wawancara.

Teknik pengumpulan data ini dilakukan untuk mendapatkan informasi

dan pendukung data yang ada. Agar lebih kredibel dan valid maka

wawancara dilakukan terhadap para pelaku sebagai cara untuk

menginformasikan fakta yang telah ditemukan sebelumnya dan

tentunya mengklarifikasi serta mencari informasi baru yang

sebelumnya tampak bias pada penulisan sejarah.

Tahap kedua adalah Kritik terhadap bahan atau sumber yang

telah ditemukan. Hal ini untuk mendapatkan keabsahan

(trustworthies) sumber. Dalam kritik ini terdapat dua jenis kritik yaitu

pertama kritik ekstern untuk memastikan otensitas dan orisinalitas

sumber, dan kedua kritik intern untuk memastikan kapabilitas dan

validitas isi sumber.

Tahap ketiga adalah intepretasi yaitu penafsiran terhadap

sumber yang telah terseleksi, dimana tahap ini adalah pernyataan atas

kenyataan berdasarkan sumber yang ditemukan. Intepretasi dalam hal

ini adalah analisis terhadap sumber untuk menggambarkan fenomena

yang diteliti.

Pada tahap ini data-data dikerjakan dan diolah sedemikian rupa

sampai berhasil menemukan kebenaran yang dipakai untuk menjawab

permasalahan yang diajukan.

Tahap Keempat adalah historiografi, yaitu penyusunan sumber-sumber data yang telah di seleksi ke otentikannya tersebut menjadi suatu kisah atau penyajian yang saling berhubungan dengan tetap mengutamakan aspek kronologis.