Jenis Penelitian
Berdasarkan jenis data dan analisis yang peneliti lakukan di lapangan maka peneliti menggunakan jenis penelitian bersifat kualitatif dengan metode penelitian deskriptif. Peneliti turun langsung ke lapangan untuk melihat dan mengamati secara langsung penelitian di lapangan dengan mengumpulkan bukti-bukti dan menuliskan fakta yang ada di lokasi penelitian baik menggunakan wawancara maupun observasi langsung.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui gambaran pelayanan Unit Laundry RS USU yang mencakup sarana, prasarana, dan tenaga kerja/Staff Pelaksana (input), proses pengelolaan linen mulai dari pengumpulan linen kotor hingga pendistribusian linen bersih ke setiap ruangan lalu membandingkannya dengan Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Tahun 2004 Tentang Pedoman Manajemen Linen Rumah Sakit (output).
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah Unit Instalasi Laundry Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (RS USU) yang terletak di Jl. Dr. T. Mansyur No. 66
Kampus USU 20154, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan atas pertimbangan yaitu RS USU adalah salah satu rumah sakit pemerintah sekaligus rumah sakit pendidikan yang memiliki unit instalasi pengelolaan linen dan laundry sendiri artinya tidak bekerja sama lagi dengan pihak ketiga. Unit Laundry RS USU aktif beroperasi sejak tahun 2016 dan RS USU sejak Juni 2018 sudah menjadi rumah sakit tipe B sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian.
Terakhir, sebab lokasi penelitian dekat dengan lokasi kampus dan belum ada dari Peminatan AKK FKM USU yang melakukan penelitian ini.
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2018 – Selesai.
Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini adalah Kepala Bagian Penunjang Medis RS USU, Kepala Unit Laundry RS USU, Staff Pelaksana.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam, teknik observasi dan teknik dokumentasi.
1. Teknik Wawancara (interview)
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan Tanya jawab dengan bertatapan muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai (Sumantri, 2013). Teknik ini
berpedoman kepada instrument penelitian yang telah dipersiapkan. Teknik ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana gambaran pelayanan Unit Laundry Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (RS USU) Tahun 2018.
2. Teknik Observasi (Pengamatan)
Observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja, sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejala - gejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan. Teknik ini dilakukan untuk mengetahui pelayanan Unit Laundry RS USU Tahun 2018 secara langsung.
3. Teknik Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang (Sugyono, 2011). Dokumen yang ditunjukkan dalam penelitian ini adalah segala dokumen yang berhubungan dengan gambaran pelayanan Unit Laundry RS USU Tahun 2018 yang telah dijalankan. Dokumentasi disini berupa Peraturan Menteri Kesehatan dan Keputusan Menteri Kesehatan yang berhubungan dengan penelitian, data Profil RS USU Tahun 2016 dan data mengenai Unit Laundry RS USU.
Instrumen Penelitian
Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif yaitu instrument penelitian adalah peneliti sendiri. Dalam wawancara mendalam (indepth interview), peneliti menggunakan pedoman wawancara mendalam disertai dengan pertanyaan terbuka yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan menggunakan alat bantu
berupa: buku catatan (notes), perekam suara (voice recorder/ tape recorder), dan alat tulis.
Validasi Data
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data itu (Afrizal, 2014).
Norman K. Denkin mendefinisikan triangulasi sebagai gabungan atau kombinasi berbagai metode yang dipakai untuk mengkaji fenomena yang saling terkait dari sudut pandang dan perspektif yang berbeda. Menurutnya, triangulasi meliputi 4 (empat) hal yaitu: triangulasi metode, triangulasi antar - peneliti (penelitian kelompok), triangulasi sumber data, triangulasi teori. Dalam penelitian ini, ada 2 jenis triangulasi yang digunakan peneliti yaitu:
a. Triangulasi metode dilakukan dengan cara membandingkan informasi atau data dengan cara yang berbeda. Dalam penelitian kualitatif, peneliti menggunakan metode wawancara, observasi dan survei. Untuk memperoleh kebenaran informasi yang handal dan gambaran yang utuh mengenai informasi tertentu, peneliti bisa menggunakan metode wawancara dan observasi atau pengamatan untuk mengecek kebenarannya. Selain itu, peneliti juga bisa menggunakan informan yang berbeda untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. Triangulasi tahap ini dilakukan jika data atau informasi yang diperoleh dari subjek atau informan penelitian diragukan kebenarannya.
b. Triangulasi sumber data adalah menggali kebenaran informasi tertentu melalui berbagai metode dan sumber perolehan data. Misalnya, selain melalui wawancara dan observasi, peneliti bisa menggunakan observasi terlibat (participant observation), dokumen tertulis, arsip, dokumen sejarah, catatan resmi, catatan atau tulisan pribadi dan gambar atau foto.
Masing-masing cara itu akan menghasilkan bukti atau data yang berbeda yang selanjutnya akan memberikan pandangan (insights) yang berbeda pula mengenai fenomena yang diteliti. Triangulasi ini juga didefinisikan mendapatkan data dari sumber yang berbeda dengan teknik yang sama yakni dengan memilih informan yang dianggap dapat memberikan jawaban sesuai dengan pertanyaan yang diajukan (Sugiyono, 2013).
Menurut Patton dalam Moleong (2010) triangulasi sumber berarti dengan membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat, yang berbeda dalam penelitian kualitatif yakni dengan membandingkan hasil wawancara yang diperoleh dari masing-masing sumber atau informan penelitian sebagai pembanding untuk mengecek kebenaran informasi yang didapatkan.
Definisi Operasional
1. Sarana
Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan. Dengan kata lain, sarana lebih ditunjukkan untuk benda - benda atau peralatan yang bergerak. Menurut PerMenkes RI No 340 Tahun 2010, sarana adalah segala sesuatu benda fisik yang dapat
tervisualisasi oleh mata maupun teraba oleh panca-indera dan dengan mudah dapat dikenali oleh pasien dan umumnya merupakan bagian dari suatu bangunan gedung ataupun bangunan gedung itu sendiri.
Contoh: meja penerima, timbangan, troli, mesin cuci, mesin pengering, alat setrika biasa atau manual, lemari, rak, meja administrasi.
2. Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses. Adapun proses tersebut dapat berupa suatu usaha, pembangunan ataupun proyek. Dengan kata lain, prasarana lebih ditujukan untuk benda-benda yang tidak bergerak. Menurut PerMenkes RI No 340 Tahun 2010, prasarana adalah benda maupun jaringan/ instansi yang membuat suatu sarana yang ada bisa berfungsi sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Contoh: prasarana listrik, prasarana air, dan prasarana uap.
3. Tenaga Kerja/Staff Pelaksana adalah orang yang mampu melakukan pekerjaan sesuai bidangnya guna menghasilkan barang atau jasa dan memberikan pelayanan kepada orang banyak. Dalam hal ini, orang yang bekerja di instalasi unit laundry yang sudah memiliki kemampuan memberikan pelayanan laundry kepada pasien/pengunjung di RS USU.
4. Unit Linen Laundry RS USU adalah unit pelayanan penunjang dalam pengelolaan dan penyediaan kebutuhan linen di rumah sakit dengan tugas utama memperoses, menyelenggarakan dan membantu menyiapkan kebutuhan linen bersih, baik, higienis, nyaman, cukup dan layak pakai untuk tindakan bedah dan perawatan pasien serta kerumah tanggaan semua
unit yang membutuhkan dan menggunakan linen di rumah sakit khususnya di RS USU mulai dari pengumpulan linen kotor/ perencanaan kebutuhan hingga pendistribusian linen bersih ke setiap ruangan. Secara singkat bahwa Laundry Rumah Sakit adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana penunjangnya berupa mesin cuci, alat dan desinfektan, mesin uap (steam boiler), pengering, meja dan meja setrika (Kepmenkes RI No 1204 Tahun 2004).
5. Pengumpulan & Perencanaan
Perencanaan adalah proses menentukan dan mengusulkan kebutuhan linen rumah sakit disesuaikan dengan jumlah, jenis bahan, ukuran dan warna linen yang diinginkan termasuk juga kebutuhan peralatan, bahan kimia pencuci dan barang habis pakai.
Pengumpulan adalah pemilahan antara linen infeksius dan non-infeksius dimulai dari sumber dan memasukkan linen ke dalam kantong plastic sesuai jenisnya serta diberi label.
6. Penerimaan adalah proses serah terima linen kotor dari petugas ruangan pengguna linen dengan petugas penerima unit laundry.
7. Penimbangan adalah proses untuk mengetahui berat linen kotor yang telah diserahterimakan oleh petugas unit laundry yang berguna untuk mengukur berapa banyak dosis bahan kimia pencuci yang dibutuhkan.
8. Pemilahan dan Perhitungan adalah rangkaian proses pemeriksaan dan pemisahan benda padat atau tajam berbahaya yang terdapat dalam linen kotor, menyortir linen berdasarkan karakteristiknya (linen kotor infeksius
dan linen kotor non infeksius), tingkat kekotorannya (ringan, sedang, dan berat), jenisnya (laken, stek laken, selimut, baju pasien) maupun warnanya kemudian menghitung dan mencatat jumlah linen yang diterima kedalam bon serah terima linen.
9. Perendaman adalah proses desinfeksi linen kotor infeksius dan atau linen kotor yang tingkat kekotorannya sangat sulit untuk dibersihkan atau dihilangkan.
10. Pencucian adalah proses membersihkan noda kotor dan menghilangkan mikroorganisme pathogen pada linen dengan menggunakan mesin cuci (washing machine) dan bahan kimia pencuci.
11. Pengeringan adalah proses pemerasan dan pengurangan kadar air yang terdapat pada linen yang telah selesai dicuci dengan menggunakan mesin pengeringan (drying tumbler) bersuhu sampai 70 dan uap panas bertekanan (steam) dari boiler.
12. Penyetrikaan adalah proses merapikan linen dengan mesin gosok (ironer) agar linen tidak kelihatan kusut sehingga mudah untuk dilipat, juga dimaksudkan untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme pathogen yang menempel pada serat linen melalui pemanasan.
13. Pelipatan adalah proses membentuk linen dalam bagian-bagian terkecil dari ukuran linen yang sebenarnya sehingga linen tidak kusut kembali, mudah menyusunnya, mudah menyimpannya dan mudah saat digunakan di ruangan.
14. Penjahitan adalah proses memperbaiki linen yang koyak, sobek atau retas jahitannya yang diperkirakan masih layak pakai sehingga dapat dipergunakan kembali oleh ruangan sebagaimana fungsinya.
15. Penyimpanan adalah proses mengatur, menata dan menyusun semua linen yang telah dilipat ke dalam rak atau lemari berdasarkan jenis dan ruangannya agar kelihatan rapi, mudah pada saat pengambilannya serta menghindari kontaminasi ulang dari mikroorganisme dan pest.
16. Pendistribusian adalah proses serah terima linen bersih dari unit laundry kepada ruangan pengguna linen sesuai dengan jumlah kebutuhan ruangan masing-masing.
17. Linen adalah Semua bahan yang terbuat dari kain/ barang tenun atau semua produk tekstil yang digunakan dalam tindakan bedah dan perawatan serta kerumah tanggaan di rumah sakit.
Metode Pengukuran
Metode pengukuran adalah melihat gambaran pelayanan Unit Laundry RS USU Kota Medan dengan melihat bagian Input berupa sarana & prasarana, tenaga kerja/staff pelaksana, melihat kegiatan Unit Laundry RS USU (Proses) yang meliputi pengumpulan, penerimaan, penimbangan, pemilahan dan perhitungan, perendaman, pencucian, pengeringan, penyetrikaan, pelipatan, penjahitan, penyimpanan hingga pendistribusian.
Aspek pengukuran tersebut akan disesuaikan dengan Kepmenkes RI Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit dan Departemen Kesehatan RI Direktorat
Jenderal Pelayanan Medik Tahun 2004 Tentang Pedoman Manajemen Linen Rumah Sakit (Output).
Metode Analisis Data
Menurut Miles (2013) dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus-menerus. Data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan lain disusun agar dapat dipahami dan diinformasikan kepada orang lain. Pada penelitian kualitatif dilakukan langkah-langkah analisis dan interpretasi data sebagai berikut:
1. Reduksi data adalah kegiatan merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian, data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data.
2. Transkripsi data adalah proses menerjemahkan hasil rekaman wawancara, tulisan yang berisi pembicaraan selama wawancara antara peneliti dengan responden apa adanya, tidak ada yang dikurangi atau ditambahkan.
3. Penyajian data dalam penelitian kualitatif selain dengan teks naratif, penyajian data juga dapat dilakukan dengan grafik, matrix dan chart. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan matrix dalam penyajian data.
4. Interpretasi data adalah proses memaknai data. Interpretasi ini dapat berupa interpretasi pribadi peneliti dengan berpijak pada pengalaman dan kemampuan pribadinya, maupun berupa makna yang berasal dari
perbandingan antara hasil penelitian dengan informasi yang berasal dari perbandingan antara hasil penelitian dengan informasi yang berasal dari literature atau teori (Sugiyono, 2010).
Secara singkat dan sederhana dapat dijelaskan mengenai metode analisis data sebagai berikut:
a. Dimulai dari proses perencanaan kegiatan, mengumpulkan data dari informasi yang didapat baik dari catatan maupun hasil rekaman pada saat wawancara mendalam yang telah dilakukan dengan informan yang ada.
b. Membuat transkrip catatan dan rekaman hasil wawancara yaitu dengan cara memindahkan data tersebut kedalam bentuk tulisan.
c. Melakukan klasifikasi data dengan mengkategorikan data yang mempunyai karakteristik yang sama dengan mengelompokkan untuk memudahkan interpretasi data.
d. Membuat matriks untuk mengklasifikasikan data yang sesuai dengan data yang diinginkan.
e. Hasil pengamatan maupun literature buku kemudian dihubungkan dengan masalah pokok penelitian juga faktor - faktor pendukung atau penghambat yang memberikan pengaruh.
f. Dari rangkaian analisis tersebut, diungkapkan evaluasi kegiatan yang dilakukan, ditarik kesimpulan untuk memberikan alternatif jalan keluar dari permasalahan yang ada sebagai jawaban dari rumusan masalah.