Penelitian dilakukan pada lokasi yang dipilih secara sengaja (purposive) yaitu Kabupaten Jember, Lumajang, Malang. Dipilihnya ketiga lokasi tersebut karena termasuk sentra kopi rakyat robusta dan yang mempunyai unit-unit pengolah kopi serta mempunyai tempat penjualan produk olahan kopi yang telah dihasilkan. Teknik penentuan unit sampel (responden) yang digunakan dalam
commit to user
penelitian sikap kepercayaan konsumen dengan menggunakan teknik quota sampling, dimana setiap kabupaten sebanyak 60 responden sehingga total untuk tiga kabupaten sebanyak 180 responden sedangkan untuk setiap responden menggunakan teknik accidental sampling (tidak sengaja). Untuk sikap kepercayaan konsumen atribut-atribut yang terdapat pada kopi olahan meliputi : harga, rasa, aroma, label, umur simpan, ukuran kemasan, kemudahan memperoleh, desain kemasan, merek, dan ketajaman warna kopi.
Data yang digunakan untuk penelitian ini adalah data primer. Data primer diperoleh melalui teknik observasi dan wawancara yang mendalam, dengan bantuan kuesioner yang telah disiapkan terhadap konsumen kopi rakyat robusta olahan. Model Fishbein menggambarkan bahwa sikap konsumen terhadap sebuah produk atau merek sebuah produk ditentukan oleh dua hal, yaitu 1) kepercayaan terhadap atribut yang dimiliki produk atau merek (komponen bi), dan 2) valuasi pentingnya atribut dari produk tersebut (komponen ei). Model ini menggunakan rumus sebagai berikut:
n Ao = bi ei
i =1
Ao = Sikap terhadap suatu objek
bi = Kekuatan kepercayaan bahwa objek tersebut memiliki atribut i ei = Evaluasi mengenai atribut i
n = Jumlah atribut yang menonjol Sumber : (Engel et al., 1995)
Atribut sangat berbeda dalam hal kepentingannya bagi konsumen, pentingnya atribut didefinisikan sebagai penilaian umum seseorang terhadap signifikansi atribut atas produk atau jasa tertentu (Sangaji dan Sopiah, 2013).
Atribut yang diamati dalam penelitian ini ada 10 macam atribut, terdiri dari harga, rasa, aroma, label, umur simpan, ukuran kemasan, kemudahan memperoleh, disain kemasan, merek, dan ketajaman warna kopi.
commit to user C. Hasil dan pembahasan
Sikap berguna bagi pemasaran sebagai contoh sikap sering digunakan untuk menilai keefektifan kegiatan pemasaran, sikap dapat pula membantu mengevaluasi tindakan pemasaran sebelum dilaksanakan di pasar. Sikap juga sangat berhasil dalam membentuk pangsa pasa r dan memilih pangsa target, keputusan mengenai pengemasan adalah salah satu contoh dalam menetapkan versi mana dari beberapa kemasan alternatif yang membangkitkan sikap paling menguntungkan konsumen (Engel et al., 1995). Berdasarkan hasil analisis data m elalui responden yang dipilih untuk penelitian ini selain dari aspek multiatribut produk kopi rakyat robusta (olahan).
Tabel 9. Nilai evaluasi (ei) dan kepercayaan (bi) kopi rakyat Robusta olahan No
Atribut ei bi Ao
1 Aroma 1,411 0,889 1,254
2 Rasa 1,311 0,844 1,106
3 Kemudahan memperoleh 0,883 0,911 0,804
4 Harga 0,985 0,750 0,739
5 Desain Kemasan 0,717 0,922 0,661
6 Labeling 0,867 0,617 0,535
7 Merek 0,832 0,634 0,527
8 Umur simpan 1,044 0,433 0,452
9 Ukuran kemasan 1,267 0,061 0,077
10 Ketajaman warna 0,911 0,069 0,063
Sumber : Data Primer (diolah)
Tabel 9. Menunjukkan bahwa berdasarkan analisis multiatribut Fishbein dimana aroma memperoleh nilai yang paling tinggi sebesar 1,254, kemudian diikuti oleh atribut rasa dengan nilai 1,106 dan kemudahan memperoleh sebesar 0,804 serta harga sebesar 0,739 diikuti disain kemasan sebesar 0,661. Sementara itu atribut label menempati urutan keenam dengan nilai 0,535, diikuti atribut merek dengan nilai 0,527, atribut umur simpan 0,452, ukuran kemasan sebesar 0,077 dan ketajaman warna menempati urutan paling belakang dengan nilai 0,063.
Penelitian sikap konsumen terhadap aroma ini diukur dengan sikap kepercayaan konsumen terhadap aroma kopi mulai sangat tidak beraroma hingga sangat beraroma. Aroma kopi dengan nilai sikap kepercayaan sebesar 1,254
commit to user
dimana responden juga masih tetap menghendaki aroma yang khas dari kopi robusta ini, para penikmat kopi jenis robusta ini menempatkan nilai sikap kepercayaan aroma pada urutan nomor satu karena aroma kopi ini sebetulnya merupakan atribut yang diutamakan bagi penikmat kopi. Nilai tambah yang paling besar pada proses pengolahan kopi ini adalah pada proses sangrai (roasting) sehingga para produsen pada skala kecil ini perlu untuk memahami kondisi ini karena aroma menjadi yang paling utama untuk kopi olahan ini.
Wood (2007), menyatakan bahwa secara signifikan, atribut yang paling penting untuk setiap produk adalah aspek-aspek sensorik dan dalam positioning merek ini dapat dianggap sebagai karakteristik fungsional serta citra merek penting, karena mempunyai pengaruh yang paling utama dalam pembelian.
Penelitian sikap konsumen terhadap rasa diukur dengan sikap kepercayaan konsumen terhadap rasa kopi, mulai dari kesan sangat tidak enak hingga sangat enak. Rasa kopi dengan nilai sikap kepercayaan sebesar 1,106 dimana rasa yang khas dari kopi robusta agak pahit dan getir, responden yang sebagian besar laki-laki ini masih memiliki kepercayaan terhadap kopi robusta ini. Rasa bagi penggemar kopi merupakan hal yang sangat penting karena memiliki rasa yang enak dan sensasional pada saat seduhan pertama. Hubungan antara lima indera dan loyalitas merek adalah sangat penting dan indera penglihatan, sentuhan, rasa, suara dan bau mampu mempengaruhi evaluasi menuju merek (Jamaluddin et al., 2013). Ting dan Thurasamy (2016), menyatakan bahwa secara kuantitatif ditemukan bahwa produk yang berkualitas, kualitas layanan dan kualitas pengalaman menunjukkan memiliki efek positif terhadap persepsi nilai dan tren niat berkunjung kembali ke café kopi, dan kualitas pengalaman ditemukan memiliki efek lebih besar daripada kualitas yang lain.
Sejauh mana konsumen mendapatkan kemudahan untuk mendapatkan kopi rakyat robusta olahan dalam penelitian ini, diukur dengan sikap kepercayaan konsumen terhadap kemudahan memperoleh kopi, mulai sangat sulit diperoleh hingga sangat mudah diperoleh. Kemudahan memperoleh kopi mempunyai nilai sikap kepercayaan dari konsumen sebesar 0,804, hal ini menunjukkan bahwa konsumen kopi rakyat robusta olahan ini menghendaki
commit to user
adanya kemudahan untuk pembeliannya kembali. Konsumen yang sudah mengkonsumsi secara rutin (fanatik) memang sulit untuk pindah ke jenis kopi yang lain. Bagi konsumen kemudahan memperoleh produk yang diinginkan ini merupakan suatu penghematan waktu, biaya, dan tenaga. Sementara itu bagi produsen kondisi seperti ini harus disikapi dengan membuka banyak stan penjualan untuk lebih memudahkan konsumen untuk membeli kembali dengan produk yang sama. Khuong dan Hong (2016), menunjukkan bahwa tidak semua faktor memiliki efek langsung dan tidak langsung pada niat konsumen membeli kembali untuk beberapa alasan subjektif dan obyektif. Untuk meningkatkan tingkat minat konsumen untuk membeli kembali, produsen minuman susu harus memiliki desain kemasan produk, terutama bentuk kemasan, paket warna-warni, dan bahan kemasan.
Penelitian sikap konsumen terhadap harga yang diukur dengan sikap kepercayaan konsumen terhadap harga, mulai dari kesan harga yang sangat mahal hingga sangat murah. Harga kopi dengan nilai sikap kepercayaan sebesar 0,739 hal ini menunjukkan bahwa responden dalam penelitian ini tidak menempatkan harga sebagai alasan yang utama dalam membeli kopi robusta. Hal ini dikarenakan kopi termasuk sebagai kebutuhannya sehari-hari, sehingga anggaran untuk pembelian ini sudah direncanakan untuk setiap bulan. Nilai tambah kopi sebagian besar terdapat pada proses pemanggangan, di Peru berkonsentrasi menyediakan energi surya untuk memanggang kopi selain terjangkau maka pendapatan produsen lokal dan kualitas hidupnya dapat ditingkatkan dengan teknologi semacam ini (Hadzich et al., 2014). Variabel sosial demografis mempengaruhi perilaku konsumen di Italia untuk memberikan gambaran profil konsumen pada perdagangan yang fair dengan membuat segmentasi pasar tertentu sesuai dengan peran yang dimainkan oleh nilai-nilai pribadi konsumen (Coppola et al., 2015).
Penelitian sikap konsumen terhadap desain kemasan ini diukur dengan sikap kepercayaan konsumen terhadap kemasan kopi mulai sangat tidak menarik hingga sangat menarik. Desain kemasan dengan nilai sikap kepercayaan yang paling tinggi yaitu sebesar 0,661 hal ini dapat dikatakan bahwa responden masih
commit to user
beranggapan bahwa atribut disain kemasan itu harus mempunyai daya tarik yang bagus tanpa mengesampingkan atribut yang lainnya. Kemasan kopi ini dipasaran banyak ragamnya, mulai dari yang berbahan plastik, kertas, serta aluminium foil, atau gabungan plastik dan kertas. Begitu pula kemasan kopi dengan bentuk yang sangat bervariasi dengan gambar yang menarik serta tulisan yang terdapat pada kemasan tersebut. Bagi produsen kondisi seperti ini segera disikapi dengan cepat mengingat konsumen kopi robusta olahan ini banyak yang menghendaki adanya kemasan yang menarik. Wyrwa dan Barska (2017), menyatakan bahwa kemasan disamping berfungsi sebagai pelindung serta fungsi transportasi, pengemasan juga harus memenuhi sebagai fungsi sumber informasi, terutama dalam kondisi terbatasnya keterlibatan staf penjualan dalam perdagangan juga permintaan konsumen sebagai informasi akibat dari semakin meningkatnya kesadaran akan nutrisi. Penting bagi setiap produsen untuk merancang kemasan produk kopi, juga mempunyai rasa yang diminati oleh pasar yang mereka miliki (Harith et al., 2014). Ma dan Wang (2014), bahwa untuk bahan kemasan makanan selain dapat memastikan keamanan pangan, memperpanjang umur simpan makanan, limbah kemasan yang secara efektif harus dapat digunakan kembali sebagai bahan baku kemasan, dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan kemasan hijau.
Penelitian sikap konsumen terhadap label, diukur dengan sikap kepercayaan konsumen terhadap label produk kopi mulai sangat tidak lengkap hingga sangat lengkap. Label dengan nilai sikap kepercayaan sebesar 0,535 , beberapa responden menyampaikan pentingnya label ini karena dengan adanya label maka akan dapat mengingatkan konsumen daripada kopi robusta tersebut.
Hal ini juga dapat memberikan informasi yang lengkap mulai tanggal kedaluarsa, kandungan bahan yang terdapat pada kopi serta keterangan lain yang dianggap penting. Tetapi responden pada umumnya hanya memperhatikan masa kadaluarsanya saja tidak sampai memeriksa sampai detil, hal ini diduga karena hampir semua responden penggemar kopi rakyat robusta olahan karena mereka sudah faham akan manfaat mengkonsumsi kopi. Schollenberg (2012), memberikan bukti menarik mengenai fungsi pasar dan tanggung jawab untuk produk yang berlabel memiliki keberlanjutan di mana kesadaran yang semakin
commit to user
meningkat terhadap masalah perdagangan yang terbuka. Kanama and Nakazawa (2017), menyimpulkan bahwa banyak IBF (Igredient Branding Food) telah diperkenalkan ke pasar dan mereka telah melakukan diversifikasi dalam berbagai kategori produk.
Penelitian sikap konsumen terhadap merek, diukur dengan sikap kepercayaan konsumen terhadap merek daripada produk kopi olahan mulai sangat tidak menarik hingga sangat menarik. Merek dengan nilai sikap kepercayaan sebesar 0,527, berdasarkan pengamatan dilapang merek ini tidak menjadikan masalah bagi responden baik laki-laki maupun perempuan karena sebagian besar perbedaannya tidak terlalu nyata menurut pengalaman mereka mengenai merek kopi rakyat robusta olahan yang satu dengan merek yang lainnya. Sebenarnya merek ini merupakan semacam tanda pengenal untuk memudahkan konsumen untuk mengenali dan mengingat membeli kembali, tetapi pada kenyataannya konsumen kopi rakyat Robusta ini tidak begitu mempersoalkan tentang merek ini. Glaser (2008), menyampaikan bahwa secara empiris peran merek memainkan dinamika rantai nilai, implikasi praktisnya tanggung jawab manajemen pemasaran menjadi lebih difokuskan pada persyaratan rantai pasokan. Dalam perspektif komersial, dampak emosional dari merek sangat penting karena dalam memutuskan apakah akan mendekati atau menghindari produk dan Ini merupakan dimensi perilaku konsumen yang jarang diakui. Erkollar dan Oberer. (2016), menyatakan bahwa merek memainkan peran penting dalam pengembangan produk dan selalu perlu untuk menemukan faktor penting Mempengaruhi merek untuk berbagai tujuan seperti mendapatkan pangsa pasar yang lebih banyak, retensi pelanggan.
Penelitian sikap konsumen terhadap umur simpan, diukur dengan sikap kepercayaan konsumen terhadap lamanya umur simpan produk kopi olahan, mulai sangat lama hingga sangat tidak lama/sebentar. Umur simpan dengan nilai sikap kepercayaan sebesar 0,4270. Secara umum rata-rata responden berpendapat bahwa tidak menghendaki umur simpan yang lama dengan alasan dapat mempengaruhi kualitas kopi robusta tersebut. Pada umumnya, penggemar kopi ini rata-rata relatif mengutamakan untuk membeli kembali daripada
commit to user
berpedoman kepada umur simpan kopi ini karena lebih mengutamakan kepraktisan dan faktor kemudahan saja.
Penelitian sikap konsumen terhadap ukuran kemasan, diukur dengan sikap kepercayaan konsumen terhadap ukuran kopi mulai sangat besar hingga sangat kecil. Ukuran kemasan kopi dengan nilai sikap kepercayaan sebesar 0,077.
Ukuran kemasan ini nampaknya tidak dipersoalkan oleh responden karena ukuran kemasan yang tersedia memang tidak begitu banyak pilihannya dimana hanya terdapat 3 pilihan ukuran kemasan yaitu 125 gram, 250 gram, dan 400 gram. Dari hasil pengamatan rata-rata responden membeli kopi robusta ini yang berukuran antara 125 gram dengan jumlah yang bervariasi sekitar 1 sampai 5 kemasan. Hal ini responden beralasan dengan ukuran kemasan antara 125 gram selain mudah membawanya juga mempunyai alasan untuk mempertahankan kualitas serta memudahkan untuk menyimpan dengan ukuran yang kecil. Jumlah responden (72%) semuanya dominan memilih paket yang 200 gram, dengan bantuan informasi yang ada maka produsen dapat menyesuaikan produksi mereka terhadap kopi paling sesuai dengan yang dibutuhkan pasar (Vlahovic et al., 2012).
Penelitian sikap konsumen terhadap ketajaman warna kopi, diukur dengan sikap kepercayaan konsumen terhadap warna kopi mulai agak coklat hingga coklat kehitaman. Ketajaman warna kopi dengan nilai sikap kepercayaan sebesar 0,063 dimana secara umum rata-rata responden berpendapat bahwa tidak mempermasalahkan terhadap warna kopi. Hal ini karena masih banyak yang belum memahami dimana kualitas selain dipengaruhi oleh aroma dan rasa juga dipengaruhi oleh seberapa lama kopi tersebut disangrai. Semakin lama disangrai maka akan mengurangi zat antioksidan yang terdapat pada kopi tersebut.
D. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang sikap kepercayaan konsumen terhadap kopi rakyat robusta olahan bahwa multiatribut yang terdapat pada kopi rakyat robusta yaitu aroma, rasa, dan kemudahan memperoleh serta harga menjadi prioritas untuk produk kopi robusta ini. Aroma dan rasa ini merupakan
commit to user
faktor yang paling menentukan untuk kopi olahan. Selanjutnya, kemudahan untuk memperoleh kembali menjadi pilihan ketiga kemudian diikuti harga kopi.
Dalam hal ini konsumen kopi robusta ini tidak mempermasalahkan harga, sehingga dapat dikatakan bahwa megkonsumsi kopi sudah merupakan kebutuhan yang rutin dan harus ada setiap saat, maka anggaran untuk kebutuhan ini sudah disiapkan dengan baik. Atribut disain kemasan juga masih dipertimbangkan oleh beberapa konsumen karena memiliki daya tarik, ketajaman warna, labeling, merek, umur simpan dan ukuran kemasan merupakan atribut yang mempunyai nilai sikap lebih kecil dibandingkan dengan atribut yang lainnya. Namun tetap harus menjadi perhatian terutama dari pihak produsen mengingat hal ini dapat memengaruhi pembelian kembali konsumen.
commit to user
Konsep daya saing merupakan konsep ekonomi yang berpijak pada konsep keunggulan komparatif. Sementara itu, konsep keunggulan kompetitif adalah konsep politik bisnis yang digunakan sebagai dasar dalam analisis strategis peningkatan kinerja perusahaan. Konsep keunggulan komparatif merupakan konsep kelayakan ekonomi, yang merupakan ukuran daya saing potensial dalam kondisi perekonomian tidak mengalami distorsi. Sementara itu, keunggulan kompetitif merefleksikan kelayakan finansial dalam kondisi ekonomi aktual (Simatupang 1991; Daryanto, 2009).
Analisis biaya sumber daya domestik berdasarkan harga sosial, digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif pada usahatani kopi rakyat robusta di Jawa Timur. Keunggulan komparatif usahatani kopi rakyat robusta pada tabel 2 matriks PAM dapat diketahui dari koefisien DRCR (Domestic Resources Cost Ratio). Nilai DRCR lebih kecil dari satu (DRCR<1) berarti mempunyai keunggulan komparatif. Tingkat efisiensi ekonomi pada keunggulan komparatif komoditas kopi rakyat robusta di Jawa Timur di tunjukkan dengan angka DRCR.
Nilai DRCR lebih kecil dari satu, berarti bahwa memproduksi kopi rakyat robusta di Jawa Timur efisien di pandang dari segi penggunaan sumberdaya domestik.
Dengan kata lain, secara ekonomi memproduksi kopi rakyat robusta didalam negeri lebih efisien dan menguntungkan daripada melakukan impor. Sebaliknya jika nilai DRCR lebih besar dari satu, berarti memproduksi kopi rakyat robusta tidak efisien di pandang dari segi pemakaian sumberdaya domestik dan secara regionalitas terjadi diskomparatif.
Hasil analisis keunggulan komparatif dengan menggunakan matrik PAM (tabel lampiran 1) sebesar 0,3789. Nilai DRCR komoditas kopi rakyat robusta di Jawa Timur sebesar 0,3789 yaitu kurang dari 1 (DRCR< 1). Hal ini mengindikasikan bahwa usahatani kopi rakyat robusta di Jawa Timur dari sisi ekonomi adalah efisien dalam menggunakan sumberdaya domestik. Sebab, untuk menghasilkan devisa sebesar satu-satuan hanya dibutuhkan biaya faktor domestik sekitar 0,62 satuan. Nilai DRCR ini juga menunjukkan bahwa biaya untuk memproduksi kopi rakyat robusta adalah sebesar 37,89 persen dari biaya impor. Jika produk untuk pemenuhan permintaan kopi rakyat robusta dilakukan
commit to user biaya impor yang diperlukan.
Nilai keuntungan sosial usahatani kopi rakyat robusta sebesar Rp.
34.319.288,-. Perhitungan keunggulan komparatif (tabel lampiran 5) juga menunjukkan dua struktur biaya yang digunakan dalam usahatani kopi rakyat robusta yaitu biaya input tradeable dan biaya faktor domestik. Modal kerja yang digunakan sebesar 14,79 persen, data tersebut merupakan rata-rata suku bunga kredit rupiah menurut penjumlahan suku bunga bank ditambah persentase laju inflasi pada tahun 2015. Pendapatan dan biaya pada tingkat harga sosial didasarkan pada estimasi social opportunity cost dari komoditas yang diproduksi dan input yang digunakan. Estimasi harga sosial ini kemudian dikalikan dengan jumlah output maupun input yang digunakan dimana input output ini juga digunakan dalam perhitungan biaya maupun keuntungan privat (baris pertama pada tabel lampiran 5 Matriks PAM).
Usahatani kopi rakyat robusta di Jawa Timur mempunyai keunggulan komparatif dengan nilai SER sebesar Rp. 13.389,51,-. Dalam penelitian ini, harga nilai tukar rupiah yang digunakan adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar yang berlaku pada tahun 2015 (kementerian Keuangan RI), yaitu nilai tukar rata-rata (NTR) Bank Indonesia sebesar Rp. 13.389,41,- per US dollar. SER (shadow exchange rate) merupakan harga bayangan nilai tukar rupiah yang dihitung dengan membagi antara nilai tukar rata-rata sebesar Rp. 13.389,51,- per U$ dollar dengan faktor konversi baku (SCF) sebesar 0,993. Produksi dan pendapatan yang diperdagangkan secara internasional taksiran sosial didasarkan pada harga pasaran dunia. Harga kopi rakyat robusta pada pasar dunia pada tahun 2015 (worldbank.org) sebesar U$ dollar 1,94 per kilogram. Harga sosial kopi rakyat robusta yang diterima petani sebesar Rp. 25.881,1,- per kilogram.
Nilai keunggulan komparatif sebesar 0,3789. Hal ini dikarenakan pada daerah tersebut para petani tidak melakukan usahatani kopi rakyat robusta secara intensif, sehingga produktivitasnya yang masih rendah untuk memenuhi permintaan pasar. Penyebab utama dari produksi kopi rakyat robusta yang masih rendah, yaitu anomali cuaca dan petani kurang intensif dalam pembudidayaan kopi rakyat robusta. Wollni and Brummer (2012), menyampaikan bahwa
commit to user
faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi dan tambahan penghasilan.
Nilai PCR menunjukkan nilai keunggulan kompetitif, PCR merupakan rasio antara biaya faktor domestik dengan nilai tambah output dari biaya faktor domestik yang diperdagangkan pada harga di tingkat petani. Hasil analisis yang menunjukkan nilai keunggulan kompetitif (tabel lampiran 5) diperoleh sebesar 0,4421. Hasil ini menunjukkan bahwa usahatani kopi rakyat robusta mempunyai keunggulan kompetitif. Nilai sebesar 0,4421 ini menunjukkan bahwa untuk menghasilkan satu-satuan nilai tambah output pada harga privat hanya diperlukan nilai korbanan sumberdaya domestik sebesar 55,79 % di Jawa Timur.
Bukti lain bahwa usahatani kopi rakyat robusta di Jawa Timur masih dapat dijalankan, ditunjukkan dengan nilai keuntungan (profit financial) yang lebih besar daripada nol (bernilai positif). Keuntungan tersebut didapat dari selisih antara penerimaan privat dengan biaya privat. Penerimaan dan biaya privat untuk analisis keunggulan kompetitif dihitung berdasarkan harga riil yang diterima dan dibayar oleh petani. Hasil perhitungan keunggulan kompetitif (tabel lampiran 5) juga menunjukkan dua struktur biaya yang digunakan dalam usahatani kopi rakyat robusta yaitu biaya input tradeable dan biaya faktor domestik. Petani kopi umumnya menggunakan modal sendiri dalam pengusahaan tanaman kopi robusta. Selain itu ada juga petani yang menggunakan modal kerja pinjaman dengan bunga sebesar 11,44 persen dimana pengembalian modal per bulannya sebesar 1 persen pada Bank Indonesia. Pelc (2014), menyampaikan bahwa analisis perbedaan dan kesamaan dalam strategi persaingan mungkin berguna untuk formulasi yang tepat sasaran dalam hubungannya, untuk memenangkan keunggulan kompetitif. Sementara itu Satria dan Wulandari (2011), menyatakan bahwa menghadapi kancah ekonomi yang penuh kompetisi maka peran pemerintah diharapkan dapat lebih matang untuk mendorong penciptaan daya saing yang lebih baik. Untuk masa selanjutnya hambatan perdagangan sudah harus ditinggalkan oleh semua negara, termasuk Indonesia. Ilham dan Rusastra (2009), menyatakan bahwa tantangan pembangunan pertanian dan ekonomi nasional tidak akan terselesaikan dengan mengandalkan bantuan material dan
commit to user
sejak hari ini, dengan memanfaatkan semua potensi yang dimiliki.
Keuntungan komoditas kopi rakyat robusta adalah selisih antara penerimaan (nilai komoditas kopi rakyat robusta yang diterima) dengan biaya yang dikeluarkan oleh petani. Analisis keuntungan pada penelitian ini terdiri dari keutungan privat dan keuntungan sosial. Keuntungan privat (Private Profit atau PP) pada komoditas kopi rakyat robusta menunjukkan selisih antara penerimaan dengan biaya yang sesungguhnya diterima atau dibayar oleh petani kopi rakyat robusta. Apabila nilai PP komoditas kopi rakyat robusta lebih besar dari nol berarti secara finansial usahatani kopi rakyat robusta menguntungkan untuk diusahakan. Apabila nilai PP komoditas kopi rakyat robusta kurang dari nol, berarti usahatani kopi rakyat robusta tidak menguntungkan pada kondisi intervensi pemerintah terhadap input dan output.
Keuntungan sosial (Social Profit atau SP) pada komoditas kopi rakyat robusta menunjukkan selisih antara penerimaan dengan biaya yang dihitung dengan harga sosialnya atau harga bayangan. Nilai SP komoditas kopi rakyat robusta lebih besar dari nol berarti secara ekonomi usahatani kopi rakyat robusta menguntungkan pada
Keuntungan sosial (Social Profit atau SP) pada komoditas kopi rakyat robusta menunjukkan selisih antara penerimaan dengan biaya yang dihitung dengan harga sosialnya atau harga bayangan. Nilai SP komoditas kopi rakyat robusta lebih besar dari nol berarti secara ekonomi usahatani kopi rakyat robusta menguntungkan pada