commit to user BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Analisis Daya Saing Kopi Rakyat Robusta di Jawa Timur Indonesia
A. Pendahuluan
Kopi di Jawa Timur termasuk komoditas yang penting, untuk itu perlunya penanganan yang tepat dan cepat. Pentingnya kopi ini belum diimbangi dengan penanaman, juga pemeliharaan yang meliputi pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dan pemangkasan ranting. Mengetahui kekuatan kelemahan peluang dan ancaman masalah kopi rakyat robusta ini, maka secara otomatis akan diperlukan strategi pengembangan dan penanganannya.
Vincent dan Zegarra (2014), menyatakan bahwa dengan pendekatan terpadu dalam menciptakan strategi pengembangan dan peningkatan daya saing regional. Ranjitha (2016), model bisnis yang efektif karena adanya kombinasi yang selaras antara sumber daya dan kemampuan untuk mencapai keunggulan kompetitif. Ciutacua dan Chivu (2014), menyatakan bahwa mengevaluasi pengaruh strategi ekonomi, perusahaan pada tingkat lokal, regional, nasional maka indikatornya harus dirancang sejauh mana strategi itu akan diterapkan.
Pembentukan keunggulan kompetitif dalam rangka persaingan yang sehat maka perlu adanya proses integrasi dan realisasi perubahan organisasi (Gumba et al., 2016). Potensi pemasaran mempengaruhi keunggulan kompetitif dari perusahaan importir (Ejramia et al., 2016). Todericiu dan Stanit (2015), modal intelektual sangat menentukan untuk mencapai keunggulan kompetitif dari perusahaan. Pelc (2014), menyampaikan bahwa untuk memenangkan keunggulan kompetitif, maka diperlukan formulasi yang tepat sasaran dalam strategi persaingannya. Adanya kemajuan teknologi, perbaikan yang berkaitan dengan keunggulan kompetitif jangka panjang dengan pesaingnya lebih mudah dicapai (Oteroa et al., 2013).
Barham dan Weber (2012), norma-norma sertifikasi penting untuk meningkatkan pertumbuhan dan dipertahankan untuk kesejahteraan petani.
commit to user
Nugroho (2014), variabel Product Domestic Bruto dan Produksi masih merupakan faktor yang penting untuk daya saing. Setyari dan Widodo (2016), keunggulan komparatif di Indonesia merupakan koefisien dari industri padat modal industri ke industri padat karya, dan kelompok ini mempunyai korelasi yang lebih tinggi daripada industri padat modal. Berdasarkan pola pengembangan ekonomi mempunyai dampak terhadap perdagangan dengan keunggulan komparatif untuk produk pertanian (Heguang et al., 2009). Serbia dalam hal liberalisasi perdagangan dengan Uni Eropa berhasil mempertahankan pertumbuhan produk dengan keuntungan yang relatif (Kuzman et al., 2016),
Era industri sumber daya yang diperlukan untuk mencapai keunggulan kompetitif adalah modal, sumber daya alam (Slobodan et al., 2016). Herciu (2013), menyampaikan bahwa Rumania tidak memiliki keunggulan kompetitif, tetapi memiliki beberapa keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan negara Uni Eropa.
Weber (2011), menyampaikan bahwa daya saing pasar pada perdagangan kopi organik meningkat dengan orientasi harga dan diferensiasi atribut. Disatu sisi Ruben dan Fort (2012), menyampaikan bahwa prospek dan kendala untuk sertifikasi kopi yang efisien dan efektif cenderung didasarkan pada stratifikasi petani produsen. Peluang yang lebih baik dapat dihasilkan melalui pasar pertanian bersertifikat atau produk lokal lainnya (Barham et al., 2011).
Sementara itu Takahashi dan Todo (2014), menyampaikan bahwa kopi daerah hutan yang bersertifikat meningkatkan probabilitas konservasi hutan sebesar 19,3 persen dibandingkan daerah kopi hutan tidak bersertifikasi.
Serbu (2014), menyatakan bahwa melalui E-pertanian di Rumania lingkungan wirausaha tumbuh dengan relatif cepat dan kompetitif. Aziza dan Samad (2016), menyatakan bahwa pengaruh inovasi pada keunggulan kompetitif akan menjadi lebih kuat jika perusahaan UKM yang mempunyai usia kurang dari lima tahun.
Policy Analysis Matrix (PAM) membantu pengambil kebijakan, baik dipusat maupun didaerah untuk menalaah tiga isu sentral analisis kebijakan pertanian. Isu pertama, berkaitan sistem usahatani memiliki daya saing pada
commit to user
tingkat harga dan teknologi yang ada. Isu kedua, dampak investasi publik terhadap tingkat efisiensi sistem usaha tani. Isu ketiga, dampak investasi baru yang berkaitan dengan riset atau teknologi pertanian terhadap tingkat efisiensi sistem usahatani (Soetriono et al ., 2010). Pendekatan Policy Analysis Matrix (PAM) untuk mempelajari daya saing produksi safron di Iran. PAM menyediakan kerangka kerja yang dapat menghitung komparatifnya indeks keuntungan, koefisien proteksi dan indeks daya saing biaya. Dapat digunakan pula untuk menganalisis kebijakan ekonomi dari pemerintah serta cara untuk memperbaikinya (Najarzadeh et al., 2011). Policy Analysis Matrix (PAM) mengenai keunggulan komparatif dan perdagangan produk pertanian di Cina, menunjukkan Cina memiliki kelebihan dalam hal tenaga kerja (Mortazavi et al., 2014). Mengevaluasi daya saing dan keunggulan komparatif dari tiga skala produksi ayam pedaging di Johor menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM) (Elsedig et al., 2015).
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kopi rakyat robusta di Jawa Timur mempunyai keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.
B. Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Juli sampai dengan bulan Desember 2016. Lokasi penelitian ini ditentukan secara sengaja (purposive) yaitu di tiga Kabupaten Jember, Lumajang,dan Malang dengan pertimbangan sebagai kabupaten yang mempunyai areal perkebunan kopi rakyat robusta yang cukup luas
Tabel 5. Kabupaten, Luas Areal Perkebunan Rakyat Robusta dan Produksi Kopi (ton) (Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, 2016)
N
No Kabupaten
Rerata Luas Areal (Ha) Tahun 2009-2015
Rerata Produksi Kopi Tahun 2009-2015
(ton)/Tahun
1 Jember 12.910,71 8.196,29
2 Lumajang 5.095,71 2.586,57
3 Malang 6.649,60 2.646,00
commit to user
Teknik penentuan unit sampel (responden) yang digunakan dalam penelitian ini, menggunakan quota sampling dimana setiap kabupaten sebanyak 100 responden sehingga untuk tiga kabupaten (Jember, Lumajang, dan Malang) sebanyak 300 responden. Daya saing usahatani kopi rakyat robusta diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM). PAM terdiri dari matriks yang disusun berdasarkan hasil analisis finansial (privat) dan analisis ekonomi (sosial).
Penerimaan dan biaya produksi pada harga privat dan harga sosial dibagi menjadi komponen tradable (asing) dan nontradable (domestik). Input yang digunakan seperti pupuk urea, peralatan, jasa pengangkutan, tenaga kerja, bibit, pupuk kandang dan tenaga kerja serta sewa lahan dan pajak lahan. Input tradable berupa pupuk Urea dan pada faktor domestik terdiri dari tenaga kerja mulai dari pemeliharaan tanaman sampai proses pemanenan, biaya transportasi, penyusutan alat, dan biaya lahan yang terdiri dari pajak lahan dan sewa lahan serta input nontradable yang terdiri dari pupuk organik, bibit dan plastik brongsong. Pada penelitian ini, pengolahan data dilakukan dengan menggunakan bantuan software microsoft excel. Penentuan komponen fisik untuk faktor input dan output secara lengkap dari aktivitas ekonomi mulai dari usahatani sampai pemasaran pada tahun 2015. Data jumlah komponen fisik untuk faktor input dan output merupakan data rata-rata usahatani kopi rakyat robusta.
Analisis biaya sumber daya domestik berdasarkan harga sosial digunakan untuk mendeteksi keunggulan komparatif pada usahatani kopi rakyat robusta di Jawa Timur. Keunggulan komparatif usahatani kopi rakyat robusta pada Tabel 6 matriks PAM dapat diketahui dari koefisien DRCR (Domestic Resources Cost Ratio). Jika nilai DRCR lebih kecil dari satu (DRCR<1) berarti mempunyai keunggulan komparatif. Tingkat efisiensi ekonomi pada keunggulan komparatif komoditas kopi rakyat robusta di Jawa Timur di tunjukkan dengan angka DRCR.
Nilai DRCR lebih kecil dari satu, berarti bahwa memproduksi kopi rakyat robusta di Jawa Timur efisien di pandang dari segi penggunaan sumberdaya domestik.
Dengan kata lain, secara ekonomi memproduksi kopi rakyat robusta dalam negeri lebih efisien dan menguntungkan daripada melakukan impor. Sebaliknya, jika
commit to user
nilai DRCR lebih besar dari satu, berarti memproduksi kopi rakyat robusta tidak efisien di pandang dari segi pemakaian sumberdaya domestik dan secara regionalitas terjadi diskomparatif. Sementara itu analisis biaya sumber daya domestik berdasarkan harga privat, digunakan untuk mendeteksi keunggulan kompetitif pada usahatani kopi rakyat robusta. Keunggulan kompetitif merupakan ukuran aktual untuk mengukur daya saing pada kondisi pasar yang berlaku tanpa mempermasalahkan ada tidaknya distorsi pasar. Keunggulan kompetitif dapat dilihat dari indikator nilai PCR. Keunggulan kompetitif usahatani kopi rakyat robusta di Jawa Timur pada tabel 6 Matrik PAM dapat diketahui dari koefisien PCR (Private Cost Ratio), jika nilai PCR lebih kecil dari satu berarti mempunyai keunggulan kompetitif. Hasil analisis keunggulan kompetitif dapat dilihat dengan menggunakan matriks PAM. Analisis PAM memperlihatkan dua nilai keunggulan kompetitif. Nilai pertama menunjukkan nilai keunggulan kompetitif di tingkat petani dengan menggunakan input dan output dalam negeri, sedangkan nilai yang kedua menunjukkan nilai keunggulan kompetitif dengan harga privat import parity.
Tabel 6. Perhitungan PAM
Keterangan Penerimaan Biaya Keuntungan
Input Tradable
Input non Tradable
Harga privat A B C D
Harga sosial E F G H
Divergensi I J K L
Sumber : Pearson et al., 2005 Keterangan :
1. Analisis keuntungan finansial : D=A – (B+C) 2. Analisis keuntungan sosial : H=E – (F+G) 3. Analisis efisiensi finansial : PCR = C / (A-B) 4. Analisis efisiensi ekonomis : DRCR= G / (E-F)
5. Transfer output : OT = A – E
6. Koefisien proteksi nominal terhadap output : NPCO = A/E
7. Transfer input : IT = B – F
8. Koefisien proteksi nominal terhadap input : NPCI = B / F
9. Transfer faktor : FT = C – G
commit to user
10. Koefisien proteksi efektif : EPC= (A-B) / (E-F)
11. Transfer bersih : NT = D – H
12. Koefisien profitabilitas : PC = D / H 13. Nisbah subsidi bagi produsen : SRP = L / E
C. Hasil dan pembahasan
Adapun hasil perhitungan menggunakan matriks PAM untuk usahatani kopi rakyat robusta di Jawa Timur sebagai berikut.
Tabel 7. Matriks PAM Usahatani Kopi Rakyat Robusta di Jawa Timur
Tradables Total
Profits Output Inputs Domestic
Factors
Private 50.995.601 6.122.937 19.836.015 25.036.650 Social 63.062.383 7.804.919 20.938.177 34.319.288 Divergences -12.066.782 -1.681.982 -1.102.162 -9.282.638 DRC = 0,3789
PCR = 0,4421
Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2017
Hasil analisis keunggulan komparatif tersebut dengan menggunakan Policy Analysis Matrix. Berdasarkan Tabel 7 nilai DRCR komoditas kopi rakyat robusta di Jawa Timur sebesar 0,3789 artinya kurang dari 1 (DRCR < 1). Hal ini mengindikasikan bahwa dari segi ekonomi usahatani kopi rakyat robusta di Jawa Timur efisien dalam menggunakan sumberdaya domestik, sebab untuk menghasilkan devisa sebesar satu-satuan hanya dibutuhkan biaya faktor domestik sekitar 0,6211 satuan. Masih rendahnya produksi kopi rakyat robusta disebabkan sebagian petani masih kurang optimal dalam pembudidayaan tanaman kopi, diantaranya pemupukan yang tidak sesuai dengan jadwal dan pengendalian hama dan penyakit kurang optimal. Selain itu, sebagian petani kopi rakyat robusta ini memiliki tanaman naungan yang terlalu rimbun karena penanaman dilakukan diantara tegakan yang tidak memungkinkan untuk dikurangi karena termasuk hutan konservasi. Masalah yang paling banyak adalah mayoritas tanaman kopi ini berumur tua sehingga perlu untuk dilakukan peremajaan dengan varitas dengan produktivitas yang tinggi. Adanya pengaruh anomali cuaca yang
commit to user
terjadi hal ini menyebabkan produksi tanaman kopi menjadi menurun menyebabkan permintaan pasar belum dapat dipenuhi secara kontinyu.
Bukti lain bahwa usahatani kopi rakyat robusta di Jawa Timur memiliki keunggulan komparatif, ditunjukkan dengan nilai keuntungan yang lebih besar daripada nol (bernilai positif), keuntungan tersebut didapat dari selisih antara penerimaan sosial dengan biaya faktor domestik. Penerimaan dan biaya untuk analisis keunggulan komparatif dihitung berdasarkan harga sosial. Nilai keuntungan sosial usahatani kopi rakyat robusta adalah sebesar Rp. 34.319.288,-.
Olagunju (2015), menyampaikan bahwa harga sosial yang lebih tinggi mencerminkan pasar yang tidak sempurna dalam hal input yang digunakan, maka dapat dikatakan tindakan pengendalian mutu, dan pemanfaatan sumber daya yang belum maksimal. Mengembangkan sistem evaluasi kualitas berdasarkan informasi spektral inframerah untuk menilai parameter kualitas kopi dan membawa manfaat ekonomis untuk industri kopi dengan meningkatkan kepercayaan konsumen dalam kualitas produk (Barbin et al., 2014). Selanjutnya Adeoye dan Oni (2014) menyampaikan bahwa rasio biaya sumber daya domestik dan rasio biaya sosial ini menunjukkan bahwa Nigeria bagian barat daya memiliki keunggulan komparatif. Nayantakaningtyas dan Daryanto (2012), menyatakan bahwa industri minyak sawit Indonesia juga mempunyai keunggulan komparatif hal ini ditunjukkan melalui perhitungan nilai RCA yang lebih dari satu.
Perhitungan keunggulan komparatif di Tabel 7 juga menunjukkan dua struktur biaya yang digunakan dalam usahatani kopi rakyat robusta yaitu biaya input tradeable dan biaya faktor domestik. Modal kerja yang digunakan sebesar 14,79 persen dimana data tersebut merupakan rata-rata suku bunga kredit rupiah menurut penjumlahan suku bunga bank ditambah persentase laju inflasi pada tahun 2015. Pendapatan dan biaya pada tingkat harga sosial didasarkan pada estimasi social opportunity cost dari komoditas yang diproduksi dan input yang digunakan. Estimasi harga sosial ini kemudian dikalikan dengan jumlah output maupun input yang digunakan dimana input output ini juga digunakan dalam perhitungan biaya maupun keuntungan privat.
commit to user
Usahatani kopi rakyat robusta di Jawa Timur mempunyai keunggulan komparatif dengan nilai SER sebesar Rp. 13.389,51,-. Dalam penelitian ini, harga nilai tukar rupiah yang digunakan adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar yang berlaku pada tahun 2015 (kementerian Keuangan RI), yaitu nilai tukar rata-rata (NTR) Bank Indonesia sebesar Rp. 13.389,41,- per US dollar. SER (Shadow Exchange Rate) merupakan harga bayangan nilai tukar rupiah yang dihitung dengan membagi antara nilai tukar rata-rata sebesar Rp. 13.389,51,- per US dollar dengan faktor konversi baku (SCF) sebesar 0,993. Hasil produksi dan pendapatan yang diperdagangkan secara internasional penaksiran sosial didasarkan pada harga pasaran dunia. Harga kopi rakyat robusta pada pasar dunia pada tahun 2015 (http://pubdocs.worldbank.org) sebesar U$ dollar 1,94 per kilogram. Harga sosial kopi rakyat robusta yang diterima petani sebesar Rp. 25.881,1,- per kilogram.
Kebijakan pemerintah telah mendukung pengembangan dan peningkatan keunggulan komparatif dan kompetitif usahatani kakao di Luwu Utara (Emelda et al., 2014). Selanjutnya Mushanyuri dan Mzumara (2013) Mauritius telah menunjukkan perbedaan keuntungan dengan indeks (RCA) ≥1 dan memiliki keunggulan komparatif. Ishchukova dan Smutka (2013), menyatakan bahwa di Rusia kelompok produk (Grup A) yang mencakup 5% dari barang yang diekspor, dengan menyumbang sekitar 50% dari nilai total ekspor produk pertanian.
Kelompok produk ini memiliki keunggulan komparatif dan neraca perdagangan yang positif.
Nilai Private Cost Ratio (PCR) menunjukkan nilai keunggulan kompetitif, dimana PCR merupakan rasio antara biaya faktor domestik dengan nilai tambah output dari biaya faktor domestik yang diperdagangkan pada harga di tingkat petani. Hasil analisis yang menunjukkan nilai keunggulan kompetitif terdapat dalam Tabel 7 diperoleh sebesar 0,4421. Hasil perhitungan untuk koefisien biaya finansial (privat) didapatkan nilainya lebih kecil dari 1 yaitu 0,4421. Hasil ini membuktikan bahwa usahatani kopi rakyat robusta mempunyai keunggulan kompetitif. Nilai PCR ini menunjukkan bahwa jumlah biaya yang harus dikorbankan akibat pemakaian sumberdaya pada harga pasar nilainya lebih rendah daripada keuntungan yang diperoleh produsen untuk setiap satu-satuan mata uang.
commit to user
Semakin kecil nilai PCR, usahatani kopi rakyat robusta semakin efisien secara privat dan semakin besar keunggulan kompetitifnya. Model PAM mengungkapkan produksi tomat di kedua daerah Punjab memiliki daya saing dalam situasi pasar yang berlaku sebagaimana ditunjukkan oleh keuntungan privat yang positif dan nilai PCR yang kurang dari 1 (Akhtar et al., 2016).
Fairtrade kopi organik, terbukti efektif dalam mendukung peningkatan kapasitas sebagai jaringan yang memanfaatkan dana pembangunan global untuk menghasilkan kopi dalam skala kecil (Me’ndez et al., 2010).
Bukti lain bahwa usahatani kopi rakyat robusta di Jawa Timur masih dapat dijalankan, hal ini ditunjukkan dengan nilai keuntungan (profit financial) yang lebih besar daripada nol (bernilai positif), dimana keuntungan tersebut didapat dari selisih antara penerimaan privat dengan biaya privat. Penerimaan dan biaya privat untuk analisis keunggulan kompetitif dihitung berdasarkan harga sesungguhnya yang diterima dan dibayar oleh petani. Nilai keuntungan privat usahatani kopi rakyat robusta di Jawa Timur adalah positif yaitu sebesar Rp.
25.036.650,- per hektare. Pada hasil perhitungan keunggulan kompetitif di Tabel 7 juga menunjukkan dua struktur biaya yang digunakan dalam usahatani kopi rakyat robusta yaitu biaya input tradeable dan biaya faktor domestik. Faktor domestik merupakan total biaya yang dikeluarkan petani kopi rakyat robusta yang terdiri atas biaya tenaga kerja, input nontradable dan modal kerja. Tenaga kerja yang digunakan oleh petani kopi rakyat robusta di Jawa Timur kebanyakan berasal dari luar keluarga. Petani kopi rakyat robusta umumnya menggunakan modal sendiri dalam pengusahaan tanaman kopi. Wen (2015), menyatakan bahwa untuk menciptakan lingkungan baik internasional dan domestik untuk pengembangan pertanian dan peningkatan daya saing internasional produk pertaniannya, China memberikan peran secara penuh untuk meningkatkan permintaan dalam industri pertanian dalam negeri. Nilai indeks daya saing berdasarkan harga ekspor diperkirakan menjadi 0,33. Manfaat keaslian merek makanan tidak boleh diabaikan dan harus dilindungi karena dapat menjadi salah satu keuntungan yang kompetitif (Assiouras et al., 2015).
commit to user D. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa kopi rakyat robusta memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif hal ini dapat dikatakan bahwa usaha tani kopi rakyat robusta di Jawa Timur masih menguntungkan dan layak untuk dijalankan serta dikembangkan. Nilai keunggulan komparatif sebesar 0,3789. Hal ini menegaskan bahwa indikator menunjukkan usahatani kopi rakyat robusta masih memiliki keunggulan komparatif, artinya bahwa usahatani kopi rakyat robusta masih tetap menguntungkan dan layak untuk diusahakan.
Nilai keunggulan kompetitif sebesar 0,4421 berarti untuk menghasilkan satu- satuan nilai tambah output pada harga privat hanya di perlukan korbanan sumberdaya domestik 55,79 persen.
2. Rantai Nilai Kopi Rakyat Robusta di Jawa Timur Indonesia
A. Pendahuluan
Rantai nilai merupakan pendekatan yang semakin populer untuk bisa memahami tantangan kebijakan yang kompleks dalam pembangunan pertanian (Lowitt et al., 2015). Donovan dan Poole (2013), menyampaikan bahwa VCD (Value Chain Development) fokus membentuk hubungan diantara pelaku, dalam menghadapi tantangan besar dengan menyediakan jalur yang berkelanjutan.
Selanjutnya Kaula (2016), menyatakan bahwa model rantai nilai dari suatu organisasi menjadi cara yang sangat mudah dan berarti dalam analisis proses suatu bisnis. Serbanel (2015), menyampaikan bahwa pengembangan rantai nilai global telah meningkatkan keterkaitan ekonomi, dan menyebabkan spesialisasi secara terus-menerus dalam tahap produksi di seluruh industri. Membangun hubungan rantai nilai yang efektif membutuhkan inisiatif di berbagai bidang (Maestre et al., 2017). Perlunya hubungan strategi bisnis dan evolusi perusahaan dalam rantai nilai global (Armandoa et al., 2016). Globalisasi rantai nilai shea telah dipengaruhi oleh volume dan harga ekspor kacang shea di masa lalu (Rousseau et al., 2015). Selanjutnya Hernandeza dan Pedersen (2017), menyampaikan bahwa analisis konfigurasi rantai nilai global, konsep, keputusan yang dihasilkan dari manajemen memberikan dasar untuk memahami fenomena
commit to user
ini. Azmeh dan Nadvi (2014), menyampaikan bahwa dalam rantai nilai global modern, maka diantara aktor yang berbeda tidak terdapat dominasi strategi.
Danse dan Vellema (2014), menyampaikan bahwa pengembangan sosial teknologi terhadap produk dan layanan yang inovatif memungkinkan petani perusahaan skala kecil dan mikro untuk memenuhi persyaratan kinerja dalam mengatur rantai pertanian pangan yang berorientasi ekspor. Selanjutnya Briones (2015), menyampaikan bahwa petani kecil dengan menerapkan rantai nilai dapat meningkatkan keuntungan dan mendukung pertumbuhan secara inklusif di pedesaan. Rantai nilai yang pendek dan terdiri dari agen hulu; petani dan pengumpul, serta agen hilir, pedagang, primer prosesor, grosir dan pengecer dan konsumen (Bandula et al., 2016).
Neilson (2008), menyampaikan bahwa regulasi swasta pada etika global dan standar lingkungan memiliki beberapa implikasi untuk struktur rantai nilai dan sistem lembaga petani kecil kopi dari Indonesia. Mengkaji konsep rantai nilai perusahaan yang terjadi dalam rantai nilai global (Dahlan et al., 2015).
Rantai nilai dalam penelitian ini mengidentifikasi rantai yang mencakup pola rantai nilai, mulai dari kegiatan budidaya petani, pengolahan buah kopi menjadi biji, pengolahan biji sampai menjadi kopi bubuk, pengemasan, dan konsumen akhir dimana semuanya sangat terkait dengan kopi rakyat robusta.
Memetakan rantai nilai kemudian mencari bagian yang menjadi penghambat kedalam kegiatan rantai nilai kopi tersebut pada prinsipnya bertujuan menciptakan dan meningkatkan nilai serta keunggulan produk yang dihasilkan petani / kelompok tani selain itu, untuk mengetahui sejauh mana hubungan antar pelaku yang ada dalam rantai nilai ini, apakah ada huubungan yang kurang baik dalam arti tidak menguntungkan antar pelaku, dengan demikian, hubungan yang kurang baik tersebut akan cepat diketahui dan dapat segera dilakukan perbaikan yang pada akhirnya rantai nilai kopi rakyat robusta dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan memetakan rantai nilai kopi rakyat robusta.
commit to user B. Metode penelitian.
Lokasi penelitian ini ditentukan secara sengaja (purposive) yaitu Kabupaten Jember, Lumajang, dan Malang dengan pertimbangan sebagai kabupaten yang mempunyai areal perkebunan kopi rakyat Robusta yang rata-rata memiliki luas areal mulai tahun 2009 sampai dengan tahun 2015. Perkebunan kopi di Kabupaten Jember, Lumajang, dan Malang masing-masing seluas 2.612,85 Ha; 2.702,67 Ha; dan 8.070,34 Ha (Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, 2016). Selain faktor luas areal pertimbangan yang lain adalah mempunyai industri pengolahan kopi yang dikelola oleh kelompok tani atau petani sendiri. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa narasumber memiliki keahlian dan kompetensi yang sesuai dengan ruang lingkup penelitian, meliputi budidaya kopi, pengolahan, dan pemasaran, serta konsumen.
Teknik penentuan unit sampel (responden) yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik quota sampling dimana rantai nilai melibatkan pelaku- pelaku yang terlibat dalam analisis rantai nilai meliputi UMKM kopi, Dinas terkait (Dinas Perkebunan serta Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan) dan petani kopi sebanyak 90 orang di kabupaten Jember, Lumajang, Malang.
Pemetaan pola rantai nilai produk olahan kopi menggunakan metode survei dan wawancara mendalam terhadap aktor pelaku.
Wawancara terhadap pihak yang terkait dengan rantai nilai kopi rakyat robusta bertujuan untuk mengumpulkan data pengelolaan rantai nilai serta mengidentifikasi hambatan yang terjadi. Selanjutnya hal tersebut dapat dijadikan acuan untuk merumuskan strategi peningkatan (upgrading) yang tepat dalam meminimalkan hambatan yang terjadi.
C. Hasil dan pembahasan.
Kopi rakyat robusta di Jawa Timur ini mempunyai keragaman yang sangat banyak selain lokasi dengan ketinggian yang berbeda, cara perawatan serta cara pemanenan dan pengolahan buah kopi segar sampai menjadi biji kopi hijau (Green Bean). Terdapat tiga cara pengolahannya yaitu sistem olah kering dan sistem olah basah tidak difermentasi dan sistim olah basah yang difermentasi sehingga secara otomatis juga akan berpengaruh didalam memetakan pola rantai
commit to user
nilainya. Manfaat rantai nilai ini untuk mengetahui bagian- bagian yang menjadi hambatan dan tidak menguntungkan. Bagian yang terhambat akan dapat segera diperbaiki hambatannya dan bagian yang sudah baik perlu untuk dipertahankan.
1. Pemetaan Rantai Nilai
Pemetaan rantai nilai merupakan cara dalam suatu rangkaian kegiatan usaha yang saling terkait antar kegiatan yang satu dengan kegiatan yang lainnya, dengan mengetahui pola dan peranannya yang dilakukan oleh pelaku bisnis kopi rakyat robusta. Berbagai aktivitas yang terdapat dalam alur rantai kegiatan ini yang mempunyai tujuan untuk memberikan nilai tambah pada masing-masing proses dan dapat mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi. Pada akhirnya dapat diperbaiki proses-proses yang mengalami hambatan tersebut dan masing- masing aktor sehingga saling menguntungkan. Dari hasil penelitian ini didapatkan empat rantai nilai dengan melibatkan enam aktor, yaitu 1) petani, 2) tengkulak, 3) pedagang pengumpul, 4) pedagang besar, 5) pengolah biji kopi, 6) konsumen.
2. Identifikasi hambatan
Secara umum, para petani masih beranggapan bahwa melakukan budidaya kopi bukan merupakan pekerjaan yang utama tetapi hanya sebagai pekerjaan sampingan. Pemeliharaan tanaman kopi mulai pemberian pupuk kandang/kompos, pupuk NPK, pengendalian hama dan penyakit, serta pemangkasan cabang dan ranting jarang dilakukan. Pemangkasan ini mempunyai manfaat dan dampak yang sangat nyata, terutama terhadap produktivitas tanaman termasuk didalamnya kualitas dari buah kopi yang dihasilkan. Secara umum, para petani kopi memanen dengan cara “plurut” antara yang masih hijau dan merah dipetik secara bersamaan dengan alasan efisiensi. Padahal pemetikan ini sangat penting karena akan berpengaruh terhadap kualitas, juga penanganan pasca panen yang harus disesuaikan dengan permintaan pasar.
Masih banyak petani yang belum mempunyai pengetahuan tentang penanganan pasca panen tertutama yang dijual dalam bentuk kopi olahan (bubuk).
Perlu ditingkatkan pentingnya pemahaman tentang komoditas kopi untuk
commit to user
meningkatkan posisi tawar dari petani kopi yang selama ini banyak bergantung kepada para tengkulak. Berdasarkan faktor manajemen, petani kopi belum mempunyai pengetahuan manajemen petani terbiasa dengan pengelolaan tanaman kopi mulai budidaya sampai dengan informasi pasar terutama masalah harga kopi.
Tabel 8 . Analisis pendukung dan kendala rantai nilai kopi rakyat robusta di Jawa Timur.
Aktor Pendukung Kendala Kontribusi
terhadap rantai nilai kopi Petani Lahan milik sendiri
tetapi sebagian ada yang milik perhutani
Sudah banyak tanaman yang berumur tua;
Pemeliharaan tanaman tidak maksimal Usaha perkebunan
dianggap sebagai pekerjaan sampingan bukan utama.
Modal terbatas;
Ketrampilan SDM kurang baik; Tidak memahami standar mutu.
Sebagai produsen buah kopi
robusta
Tengkulak Mempunyai modal dan jaringan yang luas di daerah perkebunan
Menentukan harga dengan cara sepihak
Membantu distribusi Pedagang
pengumpul
Mempunyai modal dan jaringan yang luas.
Memberi bantuan kepada petani berupa pupuk kimia maupun pupuk kandang
Menunggu waktu panen terlalu lama
Seringkali tidak dapat melayani pembelian dalam jumlah yang besar.
Membantu distribusi dan member ibantuan sarana produksi
Pengolah biji kopi
Mempunyai modal Mempunyai peralatan pengolahan
Mempunyai akses pemasarannya
Kapasitasnya terbatas;
Pengemasan; Pemasaran
Memberikan nilai tambah
Pedagang besar
Mempunyai modal yang banyak
Mempunyai jaringan yang luas
Mempunyai akses dengan eksportir
Pasokan dari pedagang pengumpul atau tengkulak kadang tersendat
Membantu distribusi
Konsumen Menjadi acuan bagi produsen kopi olahan;
pedagang
Belum memahami tentang standar kualitas
Sebagai sumber informasi produk
commit to user 3. Perumusan Strategi Peningkatan
Tabel 8 menunjukkan bahwa, petani harus mempunyai strategi dalam pembudidayaan tanaman kopi dan penanganan pasca panen khususnya pengolahan biji kopi menjadi kopi bubuk, pengemasan serta pemasaran.
Koordinasi lintas sektor institusi pemerintah, pembentukan kelompok tani, dan bekerja sama dengan pihak luar sangat diperlukan untuk memperpendek rantai pasar yang ada. Petani kopi juga perlu melakukan musyawarah dengan semua pihak yang terkait dalam rantai nilai kopi, sehingga dapat diketahui kekurangan dan kelebihan yang terjadi. Mengenai kualitas buah kopi yang disyaratkan petik buah merah, petani kopi perlu diberi pengetahuan tentang ini mengingat buah merah kopi ini akan sangat mempengaruhi aroma dan rasa dari kopi bubuk yang dihasilkan. Selain itu sangrai juga mempengaruhi kualitas dari kopi yang dihasilkan.
1. Product upgrading
Product upgrading, upaya peningkatan kuantitas, kualitas, serta nilai tambah dari produk yang dihasilkan, baik untuk produk bahan baku (buah kopi) dan produk olahan dari bahan baku yang menjadi biji kopi (green bean) sampai kopi bubuk.
Product upgrading meliputi beberapa hal antara lain a) penerapan manajemen sederhana untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas buah kopi melalui pemeliharaan tanaman kopi yang lebih baik mulai pemberian pupuk kompos, pupuk NPK, pengendalian hama dan penyakit serta pemangkasan cabang dan ranting. b) meningkatkan produk buah kopi serta petik merah yang baik secara kuantitas sehingga akan dihasilkan buah kopi yang berkualitas. c) meningkatkan kualitas biji kopi terutama dengan sistem olah basah yang difermentasi sehingga dapat memenuhi GMP (Good Manufacture Practice), pengolahan dilakukan dalam kondisi yang higienis serta sistem sanitasi yang lebih baik dan limbahnya kulit kopi dapat dimanfaatkan untuk bahan baku pakan ternak. dan d) produk olahan kopi rakyat robusta perlunya perbaikan kualitas terutama saat sangrai dan pengemasannya. Pentingnya memahami manajemen rantai pasok merupakan upaya solusi cepat serta berbagi informasi internal (Shakeriana et al., 2016).
commit to user 2. Process upgrading
Process upgrading, upaya melakukan efisiensi terhadap seluruh kegiatan proses produksi mulai budidaya tanaman kopi, panen buah kopi, pengolahan buah kopi, pengolahan biji kopi, sangrai, penggilingan, kemasan, sampai dengan pemasarannya yang diharapkan akan diperoleh produk yang memenuhi standar kualitas dengan biaya yang efisien. Proses upgrading yang harus dilakukan antara lain a) peningkatan kualitas sumber daya manusia para petani kopi rakyat robusta terutama mengenai proses pemeliharaan tanaman kopi yang terencana serta terjadwal dengan baik; b) Meningkatkan kualitas buah kopi maupun biji kopi dengan cara petik merah dan sistim olah kering maupun olah basah yang memenuhi standar kualitas sehingga akan dapat meningkatkan posisi tawar kopi rakyat robusta, c) perbaikan dalam proses pengolahan biji kopi yang seragam baik jenis maupun ukurannya. Aktor menunjukkan perspektif dominan yang mengungkapkan keyakinan bahwa rantai pasok mereka memiliki kinerja keberlanjutan yang kuat (Harnesk et al., 2015). Penghematan biaya termasuk mengurangi label pada kemasan, pengurangan stok siklus, stok pengaman (Wonga et al., 2011).
3. Functional upgrading
Functional upgrading, merupakan cara meningkatkan manfaat rantai nilai sebuah proses dengan meningkatkan rantai nilai tambah suatu produk dalam hal ini kopi olahan (bubuk). Pasokan bahan baku yang berkualitas merupakan salah satu kunci untuk bisa memberikan nilai tambah ini termasuk juga dengan sangrai kopi. Tugas perusahaan adalah untuk menemukan cara baru untuk menghasilkan nilai tambah bagi pelanggan yang merupakan sebagian dari nilai surplus ini (Matzler et al., 2013).
4. Chanel upgrading
Chanel upgrading merupakan kondisi dimana suatu perusahaan memasuki satu atau lebih pasar sasaran dengan produk yang sejenis, baik di pasar lokal, regional, nasional dan pasar global. Diperlukan adanya kerja sama dengan institusi yang terkait baik institusi pemerintah, dan swasta terutama produk yang spesifik masing-masing daerah yang ada di Jawa Timur. Chen dan Hu (2010),
commit to user
menyatakan bahwa hubungan antara nilai yang dirasakan dengan loyalitas pelanggan akan lebih dipahami dengan persepsi nilai fungsional dan simbolis, terutama manfaat hubungan yang semakin kompetitif.
D. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian rantai nilai kopi rakyat robusta, dapat disimpulkan bahwa dalam rantai nilai terdapat empat rantai nilai yang terdapat di lokasi penelitian, melibatkan enam aktor antara lain petani, tengkulak, pedagang pengumpul, pedagang pengumpul besar, pengolah biji kopi, dan konsumen.
Diperlukan adanya strategi untuk memberikan perbaikan dengan cara product upgrading melalui peningkatan produktivitas baik kuantitas maupun kualitas.
Selanjutnya strategi process upgrading melalui sumberdaya manusia serta perbaikan proses pemetikan dan pengolahannya. Selanjutnya strategi peningkatan functional upgrading melalui peningkatan nilai tambah produk. Strategi chanel upgrading melalui perluasan pasar.
3. Perilaku Konsumen Kopi Robusta Olahan di Jawa Timur, Indonesia
A. Pendahuluan
Di beberapa daerah sentra produksi kopi di Jawa Timur, sudah mulai banyak bermunculan pengolahan kopi bubuk. Usaha kecil mikro pengolahan kopi bubuk dalam skala rumah tangga ini masih mempunyai peluang untuk merebut pangsa pasar yang dimiliki oleh industri perusahaan kopi besar. Hal ini tentunya jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, mempunyai komitmen, menggunakan alat yang tepat, pengawasan kualitas yang ketat, penggunaan teknologi kemasan yang menarik, serta didukung dengan bahan baku biji kopi yang diperoleh dari kebun sendiri atau kelompok tani dalam kondisi masak merah. Kondisi demikian industry usaha kecil mikro ini akan dapat bersaing dengan kopi bubuk produksi perusahaan besar.
Fadah dan Handriyono (2016), menyatakan bahwa masalah utama yang dihadapi dalam bisnis kopi olahan di Sidomulyo adalah rendahnya kualitas sumberdaya manusia, sehingga pengetahuan budidaya dan pengolahan pasca panen, serta upaya pemasaran juga rendah. Cailleba dan Casteran (2010),
commit to user
menyatakan bahwa semua kopi tradisional tidak dapat dianggap sebagai produk tunggal, mereka memiliki karakteristik pemasaran yang sangat berbeda.
Saat ini kosumen semakin memperhatikan kualitas dan atribut-atribut yang dimiliki kopi olahan hal ini disebabkan semakin ketatnya persaingan dalam industri pengolahan kopi, serta semakin banyaknya merek dan varian daripada kopi olahan baik dari industri besar, industri rumahan maupun industri kelompok tani. Dengan demikian dapat diketahui bagaimana perilaku konsumen kopi dalam membeli dan mengkonsumsi. Bagi penggemar kopi, kenikmatan dan keistimewaan citarasa kopi sangatlah penting karena dapat memberikan kepuasan tersendiri yang ditandai dengan usaha mengumpulkan informasi-informasi tentang produk terlebih dahulu, membandingkan produk, kemudian mengevaluasi untuk menentukan pilihan yang terbaik.
Hessami dan Yousefi (2013), menyatakan bahwa komponen utama yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen hijau meliputi ide lingkungan, faktor lingkungan, kesadaran akan produk hijau dan nilai-nilai konsumen.
Konsumen yang berpendidikan mempunyai kesadaran akan produk yang ramah lingkungan (Angelovska et al., 2012). Pengetahuan mempengaruhi sikap konsumen dan dirasakan sebagai pengendalian perilaku konsumsi yang berkelanjutan (Kim et al., 2014). Selanjutnya Zhang dan Gu (2015), menyampaikan bahwa informasi dapat mempengaruhi kepercayaan konsumen.
Faktor individu, sosial, ekonomi, sikap konsumen, dan karakteristik mempengaruhi modus belanja secara online (Crocco et al., 2013). Persepsi konsumen penting dalam keputusan pembelian makanan organik karena akan dapat menentukan niat untuk membeli dan mengkonsumsi produk, sedangkan pengaruh normatif mempengaruhi kepercayaan terhadap produk (Wee et al., 2014).
Budaya adalah keseluruhan yang rumit dan melibatkan pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, tradisi dan setiap kemampuan dan kebiasaan anggota masyarakat mempengaruhi perilaku individu dalam mengkonsumsi (Rasouli et al ., 2015). Selanjutnya Haiyan (2012), menyampaikan bahwa analisis lintas-budaya sangat penting dan efektif untuk survei terhadap merek, serta persepsi konsumen
commit to user
terhadap merek global. Konsumen dengan individualisme horisontal, dan dengan kolektivisme horizontal dan vertikal cenderung menahan persepsi yang lebih tinggi (Lu et al ., 2013). Pelanggan Cina cenderung menjadi pengikut dari temannya (Mingxia et al., 2006). Sedangkan Ates dan Ceylan (2010), menyampaikan bahwa terdapat perbedaan sosio ekonomi antara populasi perkotaan dan pedesaan, dalam hal usia, pendidikan, pekerjaan, serta pendapatan, yang berpengaruh terhadap perilaku konsumsi mereka. Kombinasi komponen sosial dan budaya yang berbeda pada perilaku kelompok konsumen juga memiliki hubungan peran dalam mediasi yang signifikan (Shahzad et al., 2015).
Pada Internal Market dan efektivitas Eksternal Market (produk, harga, promosi dan distribusi), dengan orientasi pelanggan menjadi mediator, maka hubungan antara Internal Market dan Eksternal Market akan berjalan dengan efektif (Saad et al., 2015). Selanjutnya Guo (2013), menyampaikan bahwa integrasi pemasaran dengan jaringan pemasaran yang lebih baik dapat mempromosikan dan membawa kembali terhadap capaian perusahaan sehingga dapat memberikan dasar untuk mengembangkan strategi pemasaran. Ubeja (2014), bauran pemasaran menyediakan promosi dengan cara yang lebih bermakna untuk mengidentifikasi dan memahami berbagai segmen pelanggan.
Khan (2014), Manfaat lain bauran pemasaran membantu untuk mengungkapkan dimensi lain dari pekerjaan manajer pemasaran.
Cain (2014), menyatakan bahwa ekspansi merek spesifik memberikan pemasaran yang akurat atas investasi dan alokasi anggaran, serta memfasilitasi hubungan produsen dan pengecer. Andorfer dan Liebe (2012), menerapkan pendekatan psikologis sosial terutama fokus pada sikap konsumen, sedangkan pendekatan ekonomi fokus pada keinginan konsumen atau pendekatan sosiologis yang mengandalkan konsep identitas konsumen.
Konsumen dalam membeli kopi selain karena sudah menjadi kebiasaan juga karena adanya perubahan gaya hidup. Semakin banyaknya para produsen dalam mengemas produknya dengan sangat menarik sehingga banyak konsumen yang lebih tertarik untuk mencoba, disatu sisi juga semakin bertambahnya para penggemar kopi. Kopi olahan rakyat sudah mempunyai pangsa tersendiri di
commit to user
daerahnya dengan demikian maka konsumen yang paling diuntungkan karena banyaknya pilihan produk kopi olahan ini.
Structural Equation Model (SEM) merupakan pengembangan sebuah model yang mempunyai justifikasi teoritis yang mendalam. Oleh karena itu, harus dilakukan serangkaian eksplorasi ilmiah melalui telaah pustaka yang intensif untuk mendapatkan justifikasi atas model teoritis yang dikembangkannya.
SEM tidak digunakan untuk menghasilkan sebuah model, tetapi digunakan untuk mengkonfirmasi model teoritis tersebut melalui data empirik (Ferdinand, 2002).
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis: faktor budaya, faktor individu/perorangan, faktor psikologi, dan faktor bauran pemasaran terhadap perilaku konsumen kopi rakyat robusta olahan di Jawa Timur.
B. Metode penelitian.
Lokasi penelitian ini ditentukan secara sengaja (purposive) di tiga kabupaten, yaitu Jember, Lumajang, Malang dengan pertimbangan sebagai kabupaten yang mempunyai areal perkebunan kopi rakyat robusta yang rata-rata memiliki areal yang cukup luas juga mempunyai industri pengolahan kopi.
Pengambilan sampel responden dilakukan dengan menggunakan teknik quota sampling kemudian untuk masing masing responden menggunakan teknik accidental sampling (tidak sengaja). Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 180 orang dengan rincian setiap kabupaten masing-masing sebanyak 60 responden. Data yang digunakan untuk penelitian ini merupakan data primer.
Data primer diperoleh melalui teknik observasi, wawancara yang mendalam dengan bantuan kuesioner yang telah disiapkan. Konstruk endogen terdiri dari harga, rasa, aroma, label, umur simpan, ukuran kemasan, kemudahan memperoleh, desain kemasan. Sementara itu, untuk konstruk eksogen terdiri dari : budaya, psikologi, individu, dan bauran pemasaran.
Data yang diperoleh selanjutnya akan diolah sesuai dengan kebutuhan analisis. Untuk kepentingan pembahasan, data diolah dan dipaparkan berdasarkan prinsip-prinsip statistik deskriptif kuantitatif. Analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian ini (perilaku konsumen) adalah dengan menggunakan Structural Equation Model (SEM) yang juga dinamakan Model Persamaan
commit to user
Struktural (MPS) dengan menggunakan piranti lunak (soft ware) WarpPLS versi 6.0, WarpPLS adalah software aplikasi yang dikembangkan oleh Ned Kock menggunakan Matlab compiler dan Java. Software ini dapat menganalisis model SEM yang berbasis varian atau lebih dikenal dengan Partial Least Square. Model analisis SEM dengan WarpPLS dapat mengidentifikasi dan mengestimasi hubungan antar variabel laten apakah hubungan tersebut bersifat linier atau non linier.
H1 Faktor budaya berpengaruh terhadap sikap (perilaku) konsumen.
H2 Faktor individu berpengaruh terhadap sikap (perilaku) konsumen.
H3 Faktor psikologis berpengaruh terhadap sikap (perilaku) konsumen.
H4 Faktor bauran pemasaran berpengaruh terhadap sikap (perilaku) konsumen.
C. Hasil dan pembahasan Hasil
Analisis faktor konfirmasi ( Validasi Konvergen), berdasarkan hasil uji validitas masing-masing nilai loading dan diuji signifikansi pada setiap indikator pembentuk konstruk. Semua indikator memiliki nilai loading yang lebih besar dari 0,5, berarti semua indikator tersebut dapat digunakan untuk mengukur semua konstruk. Nilai probabilitas eror (p) pada semua indikator tersebut p <
0.001 artinya indikator tersebut signifikan dapat digunakan untuk semua mengukur konstruk. Nilai koefisien loading untuk semua indikator menunjukkan kontribusi terhadap pembentukan konstruk. Sementara itu analisis faktor konfirmasi second order psikologi konsumen dan bauran pemasaran semua memiliki nilai loading yang lebih besar dari 0,5 yang berarti konstruk tersebut dapat digunakan untuk mengukur konstruk psikologi konsumen dan konstruk bauran pemasaran. Nilai probabilitas eror (p) pada konstruk tersebut p < 0.001 artinya semua konstruk tersebut signifikan dan dapat digunakan untuk mengukur konstruk psikologi konsumen dan konstruk bauran pemasaran.
Validitas diskriminan untuk mengetahui bahwa indikator yang membentuk konstruk memang sesuai untuk konstruk tersebut. Indikator tersebut mempunyai nilai loading terbesar dibanding dengan nilai loading indikator lainnya yang
commit to user
bukan membentuk konstruk tersebut. Berdasarkan analisis ( Lampiran 15), nilai pada setiap konstruk setelah di akar hasilnya mempunyai nilai yang lebih besar daripada konstruk lain sehingga bisa dikatakan fit.
Nilai koefisien reliabilitas komposit semuanya mempunyai nilai yang lebih besar dari 0,7. Sementara itu nilai koefisien reliabilitas konsistensi internal (Koefisien Cronbach’s Alpha ) mempunyai nilai yang lebih besar daripada 0,6.
Nilai path coeffisien untuk budaya 0,024 dengan P values 0,371 berarti tidak signifikan, Pribadi 0,116 dengan P values 0,011 berarti signifikan, Psikologi 0,352 dengan P values <0,001 signifikan, Bauran Pemasaran 0,597 dengan P values
<0,001 signifikan.
Pembahasan
H1 Faktor budaya berpengaruh terhadap sikap (perilaku) konsumen.
Berdasarkan hasil analisis WarpPLS 6.0 maka pengaruh budaya (X1) terhadap Sikap (Y) didapatkan hasil koefesian jalur sebesar 0,024 dan p = 0,371.
Sesuai dengan hasil analisis p lebih besar dari 0,05 dapat dikatakan non siginifikan, sehingga hipotesis tersebut ditolak. Walaupun sebenarnya indikator- indikator penyusun konstruk budaya semuanya mempunyai nilai yang lebih besar daripada 0,5, artinya dapat digunakan mengukur konstruk budaya tersebut.
Pertimbangan budaya merupakan faktor kurang penting dalam memilih produk, tetapi budaya cenderung lebih memainkan peran penting yang sesuai dengan produk yang unik (Constantinides et al., 2010). Stancu (2015), menyampaikan bahwa model budaya setiap negara berpengaruh terhadap pola konsumsi dan jenis makanan yang akan dikonsumsi. Sementara Moraru (2013), menghargai keragaman dan kredibilitas tradisi maka merupakan pertanda baik untuk globalisasi.
Mengkonsumsi kopi untuk saat ini sudah merupakan suatu kegiatan yang perlu dilakukan bahkan mengkonsumsi kopi sudah merupakan suatu kebiasaan bagi kelompok masyarakat tertentu. Mengkonsumsi kopi sudah merupakan tradisi dari generasi ke generasi. Bahkan, mengkonsumsi kopi sudah merupakan suatu budaya yang populer. Hal ini menyebabkan semakin banyak bermunculan kedai kopi, cafe maupun warung baik dipedesaan maupun di pedesaan. Karena
commit to user
sudah merupakan kebiasaan, sering terjadi penikmat kopi yang minum kopi asal hitam sehingga kadang tidak memperhatikan kualitas dari kopi tersebut.
Gountas dan Gountas (2016), menyatakan bahwa dengan menggunakan WarpPLS sebuah pemodelan persamaan struktural, menunjukkan pentingnya standar untuk pemberian layanan (kultur organisasi), supervisor dan rekan kerja mendukung orientasi pelanggan. Menemukan proses pengambilan keputusan konsumen dari India yang tinggal di Inggris memiliki kesamaan dan dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dari kedua negara India dan Inggris (Lindridge et al ., 2014). Perbedaan antar budaya yang ditemukan sebagai informasi terhadap faktor pembelian dan perilaku (Klemencic et al., 2012).
H2 Faktor individu berpengaruh terhadap sikap (perilaku) konsumen.
Berdasarkan hasil analisis WarpPLS 6.0 bahwa indikator-indikator yang membentuk konstruk pribadi/individu semuanya mempunyai nilai yang lebih besar dari 0,5 sehingga indikatornya dapat digunakan untuk mengukur konstruk individu/pribadi. Pengaruh pribadi (X2) terhadap sikap (Y) dengan koefesian jalur sebesar 0,166 dan p = 0,011. Sesuai dengan hasil analisis p lebih kecil dari 0,05, maka dikatakan siginifikan positif (mengingat nilai koefisien path positif), sehingga hipotesis tersebut diterima. Saat ini kopi sudah merupakan gaya hidup bagi semua orang baik laki-laki maupun wanita, semua kelompok penghasilan, usia, dan jenis pekerjaan. Berdasarkan pengamatan dilapang penikmat kopi rakyat robusta ini dari kelompok jenis kelamin wanita mengalami peningkatan yang cukup besar, demikian juga dengan kelompok usia dimana dari sejumlah responden kelompok usia penikmat kopi ini hampir merata dan selisihnya tidak begitu banyak. responden juga memiliki opini bahwa penampilan, merek, dan harga yang berkorelasi satu sama lain dalam rangka untuk menyampaikan pesan yang tepat (Harith et al., 2014). Secara umum responden lebih menyukai campuran kopi 3:1 terutama peubah warna, aroma, dan rasa. Semakin tinggi umur konsumen pria, semakin menyukai rasa. Sementara itu semakin tinggi umur konsumen wanita semakin tinggi ketidaksukaannya terhadap aftertaste (Tarigan et al ., 2015). Motif utama yang mendominasi selama pembelian kopi adalah kualitas (65%) (Vlahovic et al., 2012). Analisis diskriminan menunjukkan
commit to user
potensi yang signifikan untuk memprediksi perilaku individu dan menjadikannya alternatif untuk aplikasi industri terhadap segmentasi pasar dengan pemasaran (Carvalho et al., 2015).
H3 Faktor psikologis berpengaruh terhadap sikap (perilaku) konsumen.
Berdasarkan hasil analisis WarpPLS 6.0 bahwa indikator-indikator yang membentuk konstruk psikologis semuanya mempunyai nilai yang lebih besar dari 0,5 sehingga ketujuh indikatornya dapat digunakan untuk mengukur konstruk psikologis. Pengaruh psikologi (X3) terhadap sikap (Y) dengan koefesian jalur sebesar 0,352 dan p <0.001. Sesuai dengan hasil analisis p lebih kecil dari 0,05 dapat dikatakan siginifikan positif ( mengingat nilai koefisien path positif), sehingga hipotesis tersebut diterima. Faktor pendorong konsumen dalam membeli kopi rakyat robusta ini karena merupakan suka meminum kopi, sehingga sudah merupakan suatu kebutuhan dalam kehidupannya apalagi saat ini sudah merupakan trend. Tujuan dari konsumen kopi ini sangat bervariasi, ada yang mempunyai tujuan membeli karena memang sangat menggemari kopi tetapi juga ada yang mempunyai tujuan untuk kesehatan. Secara umum konsumen mempunyai persepsi yang hampir sama. Porrala dan Mangin (2017), menyatakan bahwa bagi pelanggan low perceived quality, menekankan penting pengaruh merek harga toko terhadap niat beli, yang menekankan bahwa keterjangkauan merek toko mempengaruhi mereka dan hubungan ini ternyata tidak signifikan bagi konsumen high perceived quality. Pelanggan high perceived quality menunjukkan nilai dan persepsi pembelian yang lebih rendah yang dipengaruhi oleh kepercayaan diri, dibandingkan dengan pelanggan low perceived quality. Li (2013), motivasi konsumen mencerminkan kesediaan untuk menunjukkan, mengerahkan pengaruh dan memperoleh prestasi terutama konsumen laki-laki.
Melakukan analisis SEM berbasis PLS, dengan koefisien jalur 0,15 pada p <0,01.
Dapat dinyatakan bahwa pengaruh pengaruh sosial terhadap niat konsumen untuk berperilaku ramah lingkungan kecil namun signifikan (Orzan et al., 2013).
commit to user
H4 Faktor bauran pemasaran berpengaruh terhadap sikap (perilaku) konsumen.
Berdasarkan hasil analisis WarpPLS 6.0, indikator-indikator yang membentuk konstruk bauran pemasaran semuanya mempunyai nilai yang lebih besar dari 0,5 sehingga kesepuluh indikatornya dapat digunakan untuk mengukur konstruk bauran pemasaran. Pengaruh bauran pemasaran (X4) terhadap sikap (Y) dengan koefesian jalur sebesar 0,597 dan p <0.001 Mengingat p lebih kecil dari 0,05, dikatakan siginifikan positif ( mengingat nilai koefisien path positif), sehingga hipotesis tersebut diterima. Dari sisi harga rata-rata konsumen kopi rakyat robusta ini tidak begitu mempermasalahkan. Hal ini disebabkan minum kopi sudah merupakan kebutuhan sehingga bukan harga yang dipermasalahkan, tetapi sudah mengarah kepada kualitas produk dalam hal ini adalah aroma.
Kemudian, kemasan produk kemasan yang menarik juga menjadi daya tarik tersendiri. Bacon et al (2014), menyampaikan bahwa melalui strategi yang berorientasi produksi dengan mengintensifkan diversifikasi pertanian serta strategi yang berorientasi pertukaran yang mencakup penyimpanan, harga, redistribusi, dan kredit. Zhou (2014), menyatakan bahwa kemasan hijau perlu mempertimbangkan bahan kemasan yang akan digunakan dimana akan mempengaruhi biaya pembuatan kemasan, 60% ~ 80% dari biaya kemasan.
Meningkatkan pemahaman tentang pengaruh kemasan, yang merupakan elemen visual konsumen daripada produk makanan (Seo et al., 2016). Strategi pemasaran yang tepat dapat mendukung pertumbuhan produksinya (Syafinara et al., 2015).
D. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian perilaku konsumen kopi rakyat robusta, faktor pribadi, psikologi, dan bauran pemasaran memberikan pengaruh yang nyata positif terhadap sikap (perilaku) konsumen. Kopi sebagai salah satu komoditas yang menarik untuk ditumbuh kembangkan. Kebutuhan yang semakin meningkat, hal ini sejalan dengan semakin bertambahnya penikmat kopi khususnya kopi di Jawa Timur, serta sudah menjadi kebiasaan dari masyarakat dan merupakan trend saat ini. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumen kopi
commit to user
ingin mengetahui pemahaman tentang kopi khususnya kopi robusta terutama kualitas, termasuk didalamnya termasuk aroma, rasa dan kemasan.
4. Sikap Konsumen Kopi Rakyat Robusta di Jawa Timur Indonesia.
A. Pendahuluan
Kopi termasuk salah satu komoditas perkebunan yang penting di dunia, dimana Indonesia termasuk kelompok besar negara yang mengekspor kopi untuk mengisi kebutuhan dunia. Di Jawa Timur, kopi rakyat robusta telah menjadi bagian dari masyarakat untuk membudidayakan walaupun dengan tingkat produktivitas yang rendah untuk beberapa daerah tetapi beberapa daerah yang lain kopi rakyat robusta ini sudah memiliki tingkat produktivitas yang cukup tinggi.
Hal ini disebabkan karena sudah dilakukan penggantian pohon yang tua dengan bibit dan varietas yang baru serta dengan pemeliharaan yang intensif. Kopi rakyat Robusta di Jawa Timur merupakan kopi yang mempunyai potensi besar untuk ditumbuhkembangkan mengingat dengan luas areal mencapai 50.362 Ha dari seluruh total areal 102.660 Ha (Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, 2016).
Pengembangan kopi robusta tidak hanya terhadap aspek biofisik, tetapi juga perlu melihat aspek sosial ekonominya terutama minat petani, sehingga perlu adanya kerjasama diantara stakeholder yang ada. Melihat gaya hidup yang menjadi trend dalam kehidupan masyarakat saat ini dalam hal minum kopi yang berdampak pada peningkatan jumlah permintaan karena semakin bertambahnya jumlah konsumen. Untuk itu perlu dihasilkan produk kopi yang berkualitas serta aman dikonsumsi. Sikap memiliki peran yang besar dalam membentuk perilaku konsumen, termasuk didalamnya keputusan untuk membeli suatu produk yang diinginkan sesuai dengan selera, kualitas bahkan dengan merek tertentu (Suciati et al., 2008). Sikap memainkan peran utama dalam membentuk perilaku, dalam memutuskan merek apa, toko yang dievaluasi paling menguntungkan, sikap dapat pula membantu mengevaluasi pemasaran (Engel et al., 1995). Kirezli dan Kuscu (2012), menyatakan bahwa sikap dalam fair trade dapat diberdayakan dengan memperluas akses terhadap perdagangan produk, yang bisa dijadikan dalam prinsip dasar pemasaran. Nadanyiova (2015), menyatakan bahwa konsumen di
commit to user
Slowakia dalam membeli produk makanan, mereka berorientasi pada kualitas produk, harga, merek, asal negara produsen serta rekomendasi dari teman. Kao dan Tu (2015), nilai konsumsi hijau sangat berkorelasi dengan sikap dan perilaku dimana dapat diprediksi melalui nilai fungsional, nilai kebaruan serta sikapnya.
Efek positifnya yang juga mempengaruhi kemudahan sebuah merek untuk mendapatkan dukungan konsumen secara on line, semakin baru sebuah merek, maka akan lebih mudah untuk mendapat dukungan pada media sosial (Bernritter et al., 2016). Pelt dan Hey (2011), menyampaikan bahwa pengembangan sebuah produk untuk konsumen maka metode TRIZ (Teoriya Resheniya Izobretatelskikh Zadatch) tidak hanya menyediakan alat tetapi yang memahami dan belajar dari konsumen, membutuhkan fungsionalitas yang sederhana, terutama berkaitan dengan makna sistem. Pantano dan Priporas (2016), pemasar harus memberikan pengalamannya kepada konsumen melalui aplikasi yang menarik dan selalu diperbarui serta melibatkan mereka, termasuk informasi tentang hal baru, koleksi, tawaran baru, dan penawaran yang dipersonalisasi. Calin (2015), menyatakan bahwa persepsi konsumen terhadap perubahan kualitas dari waktu ke waktu sebagai akibat dari bertambahnya informasi, meningkatnya persaingan serta perubahan harapan terhadap kategori produk, maka pemasar bisa mengajarkan kepada konsumen cara mengevaluasi kualitas suatu produk.
Pemahaman dan penggunaan dipengaruhi oleh karakteristik demografi, nilai manusia dan perbedaan negara (Grunert et al., 2014). Selanjutnya Signoria dan Forno (2016), menyatakan bahwa bergabung dengan kelompok konsumen yang mempunyai solidaritas tidak hanya dapat mengubah konsumsi tetapi juga lebih kolaboratif serta percaya pada orang lain, dan memiliki sebuah peningkatan efektifitas rasa sosial. Menyiapkan strategi pemasaran dengan baik terhadap pasar yang sudah jenuh dan untuk meyakinkan serta mengubah pendapatnya maka juga harus menghilangkan hambatan yang dihadapi (Kurajdova et al., 2015). Selanjutnya Shirai (2017), menyampaikan bahwa penggunaan Informasi berbasis UP (Unit Pricing) paling banyak bermanfaat bagi konsumen. Namun, perbedaan antara penggunaan berbasis UP dan TRP (Temporal Reframing of Prices) tidak besar. Prinsip solidaritas dan tanggung jawab sosial setiap
commit to user
perusahaan mempunyai hubungan dengan volume produk yang meningkat secara permanen, struktur dan cara penjualan yang diimplementasikan berubah secara dinamis (Macaka et al., 2014). Tren baru perusahaan besar internasional adalah memiliki brand yang kuat dan melayani pelanggan secara khusus (Vanharanta et al., 2015). Cor dan Zwolinski (2014), menyatakan bahwa model hubungan antara penggunaan variabel perilaku dan dampak lingkungan selama fase penggunaan prosedur yang digunakan maka akan membantu pengembangan strategi intervensi. Mechtcheriakova dan Gurianova (2015), mengembangkan tindakan untuk meminimalkan fungsi biaya untuk pencapaian tingkat daya saing yang tinggi di pasar, tetapi juga tergantung pada kemampuan efektif membangun rantai nilai perusahaan. Secara keseluruhan, pengaruh ecollabeling merupakan fenomena yang kuat, tetapi juga tergantung pada Interaksi antara tipe produk dan dimensi penilaian (Sorqvist et al., 2015). Konsumen harus menunjukkan preferensi melalui keinginan yang mereka bayar untuk ikan yang berekolabel (Reczkovaa et al., 2013). Kopi dengan aroma khusus karamel, ramuan dengan buah bisa diproduksi dengan menggunakan kultur starter C. parapsilosis UFLA YCN448 dan S. cerevisiae UFLA YCN727 pada kopi yang diproses dengan metode kering (Evangelista et al., 2014). Deteksi kotoran dan benda asing menjadi perhatian dalam hal verifikasi karena sulit untuk mengetahui keadaan dengan mata telanjang dalam sampel kopi sangrai dan kopi bubuk (Domingues et al., 2014). Mengkonsumsi sampai 400 mg kafein / hari pada orang dewasa sehat tidak terkait dengan efek kardiovaskular yang mencolok dan merugikan, efek perilaku, efek reproduksi dan perkembangan, efek akut (Wikoff et al., 2017).
Konsumsi kafein berulang dan / atau kekurangan tidur menyebabkan perubahan signifikan pada pola perilaku (Onaolapo et al., 2016). Hasil penelitian Sekeroglu (2012), menunjukkan bahwa, beberapa kopi herbal tradisional terdapat enam belas mineral berbeda (B, Ca, Cd, Cr, Cu, Fe, K, Mg, Mn, Mo, Na, Ni, P, Pb dan S) yang terdeteksi dalam sampel kopi. Kopi yang dipanggang dengan menggunakan cahaya menunjukkan kapasitas antioksidan dan kandungan polifenol yang lebih besar. Kopi robusta menunjukkan AA (Aktfitas Antioksidan) yang lebih besar daripada kopi arabika (Vignoli et al., 2014). Konsumsi kopi
commit to user
yang tepat kemungkinan memiliki efek yang berpotensi membantu terhadap faktor resiko metabolik tertentu, seperti obesitas perut, hipertensi, dan tinggi glukosa (Song et al., 2016). Astuti dan Hanan (2012), menyatakan bahwa mengkonsumsi makanan bukan hanya merupakan kebutuhan dasar, tapi juga ada kebutuhan fungsi sosial, mengkonsumsi makanan merupakan sistem simbolis oleh karena itu kegiatan ini menjadi suatu komoditas. Khaleka (2014), menyatakan bahwa pemerintah dan badan-badan terkait harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap dan kesadaran konsumen terhadap makanan halal dan sertifikasi halal. Li (2012), menyampaikan bahwa kemasan hijau merupakan perubahan pada konsep kemasan, pengembangan kemasan hijau merupakan langkah maju dalam teknologi kemasan.
Sementara itu sikap konsumen merupakan gambaran multiatribut produk kopi rakyat olahan yang dipengaruhi oleh harga, rasa, aroma, label, umur simpan, ukuran kemasan, kemudahan memperoleh dan disain kemasan. Bagi penggemar kopi, kenikmatan dalam mengkonsumsi kopi tidak hanya pada aroma dan rasa yang dapat memberikan kenikmatan tersendiri tetapi juga mencari informasi tentang asal produk, kemasan serta kemudahan untuk mendapatkannya, juga informasi tentang kandungan bahan yang terdapat dalam kopi (label) serta umur simpan bahkan sampai kepada ukuran kemasan. Selanjutnya, melakukan evaluasi semua atribut yang dimiliki produk kopi rakyat robusta. Hingga akhirnya konsumen tersebut melakukan pembelian serta mengkonsumsinya.
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis sikap kepercayaan konsumen terhadap kopi rakyat robusta olahan di Kabupaten Jember, Lumajang dan Malang berdasarkan atribut yang dimiliki.
B. Metode penelitian
Penelitian dilakukan pada lokasi yang dipilih secara sengaja (purposive) yaitu Kabupaten Jember, Lumajang, Malang. Dipilihnya ketiga lokasi tersebut karena termasuk sentra kopi rakyat robusta dan yang mempunyai unit-unit pengolah kopi serta mempunyai tempat penjualan produk olahan kopi yang telah dihasilkan. Teknik penentuan unit sampel (responden) yang digunakan dalam
commit to user
penelitian sikap kepercayaan konsumen dengan menggunakan teknik quota sampling, dimana setiap kabupaten sebanyak 60 responden sehingga total untuk tiga kabupaten sebanyak 180 responden sedangkan untuk setiap responden menggunakan teknik accidental sampling (tidak sengaja). Untuk sikap kepercayaan konsumen atribut-atribut yang terdapat pada kopi olahan meliputi : harga, rasa, aroma, label, umur simpan, ukuran kemasan, kemudahan memperoleh, desain kemasan, merek, dan ketajaman warna kopi.
Data yang digunakan untuk penelitian ini adalah data primer. Data primer diperoleh melalui teknik observasi dan wawancara yang mendalam, dengan bantuan kuesioner yang telah disiapkan terhadap konsumen kopi rakyat robusta olahan. Model Fishbein menggambarkan bahwa sikap konsumen terhadap sebuah produk atau merek sebuah produk ditentukan oleh dua hal, yaitu 1) kepercayaan terhadap atribut yang dimiliki produk atau merek (komponen bi), dan 2) valuasi pentingnya atribut dari produk tersebut (komponen ei). Model ini menggunakan rumus sebagai berikut:
n Ao = bi ei
i =1
Ao = Sikap terhadap suatu objek
bi = Kekuatan kepercayaan bahwa objek tersebut memiliki atribut i ei = Evaluasi mengenai atribut i
n = Jumlah atribut yang menonjol Sumber : (Engel et al., 1995)
Atribut sangat berbeda dalam hal kepentingannya bagi konsumen, pentingnya atribut didefinisikan sebagai penilaian umum seseorang terhadap signifikansi atribut atas produk atau jasa tertentu (Sangaji dan Sopiah, 2013).
Atribut yang diamati dalam penelitian ini ada 10 macam atribut, terdiri dari harga, rasa, aroma, label, umur simpan, ukuran kemasan, kemudahan memperoleh, disain kemasan, merek, dan ketajaman warna kopi.