BAB 1 PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
Metode penelitian berasal dari kata “Metode dan Logos”. Metode yang artinya adalah cara yang tepat untuk melakukan sesuatu dan logos yang artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan. Penelitian adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya.38
Penelitian sebagai suatu sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran-kebenaran secara sistematis, metodologis dan konsisten karena melalui proses penelitian tersebut dilakukan analisis dan konstruksi terhadap data yang telah dikumpulkan dan diolah.
1. Sifat Penelitian dan Jenis Penelitian
Ditinjau dari segi sifatnya, penelitian ini bersifat deskriptif analitis39 berarti menggambarkan serta menjelaskan Studi Mengenai Pelaksanaan Perkawinan Angkap Pada Masyarakat Gayo di Kabupaten Aceh Tengah Dengan Berlakunya Undang-Undang Nomor: 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
Jenis Penelitian dalam penelitian ini adalah yuridis empiris40 untuk mengetahui sejauh mana hukum itu dapat mengakibatkan perubahan social dilakukan maka diperlukan suatu pengkajian bagaimana hukum bekerja dapat mengubah
38 Bambang Sunggono, Metode Penelitian hukum Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grpindo Persada 2001), hlm 3
39 Ronny Hanitidjo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurumetri, (Jakarta Ghalia Indonesia 1990), hlm 14
40Cholid Narbuho Dan Haji Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Bumi Aksara 2002) hlm 1
kehidupan sehari-hari yaitu dengan menselaraskan dengan peraturan yang ada baik hukum Islam maupun Undang-undang nomor 1 tahun 1974.
2. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yuridis empiris yaitu pendekatan dengan melihat sesuatu kenyataan hukum di dalam masyarakat, digunakan untuk melihat aspek-aspek hukum dalam interaksi sosial di dalam masyarakat, dan berfungsi sebagai penunjang untuk mengidentifikasi dan mengklarifikasi temuan bahan non hukum bagi keperluan penelitian atau penulisan hukum.41
3. Lokasi dan Populasi Penelitian
Untuk melengkapi data sekunder, maka penelitian tentang Perkawinan Angkap pada Masyarakat Gayo di Kabupaten Aceh Tengah ini juga didukung oleh data primer dengan penelitian lapangan yang dilakukan terhadap masyarakat Gayo yang bertempat tinggal di Kampung Pasar Pagi, Kecamatan Lut Tawar, Kampung Gelelungi, Kecamatan Pegasing, Kampung Mongal, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, alasan pemilihan lokasi untuk penelitian ini karena di lokasi tersebut merupakan daerah di Kabupaten Aceh Tengah yang masih ada melaksanakan Perkawinan Angkap.
Dalam hal ini data diperoleh dari populasi penelitian yang terdiri dari masyarakat Gayo yang tinggal di kota Takengon dengan karakteristik yang pernah
41Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum (Jakarta: Sinar Grafika 2011), hlm 105
menyelenggarakan perkawinan angkap serta Tokoh Adat yang berkaitan dengan Perkawinan Angkap pada masyarakat Gayo di Kampung tersebut.
4. Teknik Sampling
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonrandom sampling, dalam hal ini dipakai purposive sampling, yaitu teknik yang biasa dipilih karena alasan biaya, waktu dan tenaga, sehingga tidak dapat mengambil dalam jumlah yang besar. Penarikan sample ini dilakukan dengan cara mengambil subyek yang didasarkan pada tujuan tertentu.
Jadi yang diambil dalam penelitian ini adalah tokoh adat, lima pasangan yang melakukan perkawinan angkap,dan aparat desa.
5. Sumber Data a. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari penelitian lapangan (field research). Penelitian lapangan ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan langsung kepada responden. Sifat interview adalah bebas terpimpin.
Dalam melakukan penelitian dimungkinkan tidak hanya menggunakan pertanyaan yang disediakan secara tertulis dalam bentuk daftar pertanyaan, tetapi dapat dilakukan pengembangan pertanyaan sepanjang tidak menyimpang dari permasalahan.
b. Data sekunder
Data sekunder yaitu data yang diperoleh berdasarkan studi kepustakaan dimaksudkan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan yang terjadi dilapangan. Melalui studi kepustakaan ini diusahakan pengumpulan data melalui
mempelajari buku-buku, majalah, surat kabar, artikel dan internet, serta referensi lain yang berkaitan dan berhubungan dengan penelitian ini.
6. Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan metode pengumpulan data, yaitu:
a. Studi Dokumentasi dan Bahan Pustaka
Studi dokumen yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan mencari informasi berdasarkan dokumen-dokumen maupun arsip yang berkaitan dengan penelitian, meliputi penelaahan terhadap bahan kepustakaan atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier meliputi peraturan perundang-undangan, dokumen-dokumen, teori-teori dan laporan-laporan yang bertalian dengan penelitian ini. Dalam metode pengumpulan data melalui kepustakaan ini, menggunakan dari berbagai bacaan yang berhubungan dengan judul pembahasan, baik itu dari literatur-literatur ilmiah, majalah, media massa serta perundang-undangan.42
b. Wawancara (interview)
Adalah kegiatan wawancara yang dilakukan kepada responden dengan terlebih dahulu membuat pedoman wawancara secara sistematis agar mendapatkan data yang lengkap dan memiliki kebenaran baik menurut hukum maupun kenyataan yang dapat dilihat dilapangan. Adapun beberapa narasumber yang diwawancara adalah beberapa informan, diantaranya tokoh Adat Gayo di Kampung Pasar Pagi, Kecamatan Lut Tawar, di Kampung Gelelungi, Kecamatan Pegasing, di
42Burhan Ashofa, Op. cit hlm 104
Kampung Mongal, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, serta para Masyarakat Adat, selaku orang tua yang mengadakan acara perkawinan angkap di Kampung tersebut.
7. Analisis Data
Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.
Analisis data pada hakekatnya dalam penelitian hukum artinya untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis. Oleh karena itu sesuai metodepenulisan data yang sesuai dengan penelitian deskriptif analisis dengan menggunakan pendekatan secara kualitatif, yaitu analisis data mengungkapkan dan mengambil kebenaran yang diperoleh dari kepustakaan dan penelitian lapangan yaitu dengan menggabungkan antara peraturan-peraturan, buku-buku ilmiah yang ada hubungannya dengan perkawinan angkap pada masyarakat Gayo di Kabupaten Aceh Tengah, kemudian dianalisis secara kualitatif sehingga mendapat suatu pemecahannya, sehingga ditarik kesimpulan.
Dengan demikian rangkaian kegiatan analisis data yang diperlukan dalam penelitian penulis adalah sebagai berikut: semua data yang telah diperoleh terlebih dahulu diolah agar dapat memberikan gambaran yang sesuai kebutuhan, kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis kualitatif, dimana data-data yang diperlukan guna menjawab permasalahan, baik data primer maupun data sekunder, dikumpulkan untuk kemudian diseleksi, dipilah-pilah berdasarkan kualitas dan
relevansinya untuk kemudian ditentukan antara data yang penting dan data yang tidak penting untuk menjawab permasalahan.45
Dipilih dan disistematisasi berdasar kualitas kebenaran sesuai dengan materi penelitian, untuk kemudian dikaji melalui pemikiran yang logis induktif, sehingga akan menghasilkan uraian yang bersifat deskriptif, yaitu uraian yang menggambarkan permasalahan serta pemecahannya secara jelas dan lengkap berdasarkan data-data yang diperoleh dari penelitian sehingga hasil analisis tersebut diharapkan dapat menjawab permasalahan yang diajukan43 setelah analisi data selesai maka hasilnya kemudian akan disajikan secara deskriptif, yaitu dengan menuturkan dan menggambarkan apa adanya sesuai dengan permasalahan yang diteliti.44
43Soerjono Soekanto, Op.cit, hlm 32
44HB. Sutopo, Op.cit, hlm 32
BAB II
PELAKSANAAN PERKAWINAN ANGKAP PADA MASYARAKAT GAYO DI KABUPATEN ACEH TENGAH
A. Sistem Kekerabatan Masyarakat Gayo
Sistem Kekerabatan Suku Gayo bukan Patrilineal Murni, ini dapat kita lihat pada perkawinan angkap. Perkawinan angkap dalam istilah lain perkawianan ambil anak (inlijfhuwelijk) yang juga terdapat dibeberapa suku di Indonesia. Perkawianan ini salah satu jenis perkawinan dalam suku Gayo yang dikenal sejak suku Gayo ada, perkawinan ini terjadi karena beberapa alasan alasan diantaranya yang paling sering terjadi karena dua hal. Pertama; ada suatu keluarga mempunyai anak perempuan tunggal, dengan alasan agar anaknya tersebut tidak berpindah tempat ke belah lain maka perkawinan angkap adalah solusi satu-satunya. Kedua; Adanya pemuda pendatang yang tidak mempunyai keluarga, maka dengan kawin angkap pemuda tersebut tidak perlu membayar mahar. Pemuda tersebut datang dari pesisir atau etnis lain yang merantau ke daerah Gayo yang akhlaknya baik dan dapat berusaha.45
Masyarakat Gayo pada umumnya merupakan kesatuan keluarga batih, sama seperti yang dianut oleh masyarakat Aceh pada umumnya. Rumah tangga terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak yang belum menikah. Jika seorang anak sudah menikah, ia akan mendirikan rumah tangganya sendiri sebagai keluarga batih yang baru menikah, untuk sementara akan menetap pada keluarga batih ayahnya. Ada yang beberapa
45 Syahdansyah Putera Jaya,”Sistem Kekerabatan Suku Gayo Bukan Patrilineal Murni”, //http:lintasgayo.co/2014/04/10/system-kekerabatan-suku-gayo-bukan-patrilineal-murni, diakses tanggal 20 Oktober 2014
bulan saja atau sampai lahir anaknya yang pertama. Akan tetapi, ada pula terkecualiannya yang ditentukan oleh sistem perkawinan, apakah ia menetap terus dalam keluarga batih pihak laki-laki atau orang tua perempuan.
Semua kegiatan dalam keluarga batih merupakan tanggung jawab bersama dalam keluarga. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya adalah turun keume (turun ke sawah), turun keume artinya, bekerja di kebun dan menanam sayur-sayuran diladang.
Seluruh anggota keluarga batih ikut membantu bekerja sebagai tenaga pelaksana.
Dalam pembagian kerja disesuaikan dengan tingkat kemampuan anggota keluarga batih. Bagi orang yang sudah tua dan anak-anak mendapatkan tugas pekerjaan yang lebih ringan, dibandingkan dengan yang muda-muda atau kepala keluarga dalam keluarga batih tersebut. Meskipun di daerah Gayo terdapat keluarga batih, namun tidak menutup kemungkinan adanya keluarga Luas. Keluarga Luas ini menempati sebuah rumah besar yang disebut dengan umah timeruang.
Rumah ini terdiri dari beberapa bilik (kamar), dan tiap-tiap kamar didiami oleh satu keluarga batih. Tiap-tiap kamar juga dilengkapi dengan dapur masing-masing. Antara satu keluarga batih dengan keluarga batih lainnya dalam satu umah timeruang ini, biasanya akan mempunyai pertalian keturunan (genealogis). Pada awalnya umah timeruang ini adalah milik keluarga batih. Tetapi setelah keluarga ini menikah, maka ia akan pindah ke dalam kamar tersendiri. Begitulah seterusnya, setiap ada pernikahan berarti menambah keluarga batih dalam umah timeruang tersebut, maka di dalam umah timeruang terjadilah keluarga besar yang disebut dengan sedere.
Dalam bidang mencari mata pencarian hidup tidak menggambarkan kegiatan sedere, tetapi dilakukan oleh masing-masing keluarga batih, kadang-kadang pada saat tertentu, suatu kegiatan dilakukan bersama-sama sedere, misalnya melakukan pekerjaan disawah. Berhubung pekerjaan tersebut membutuhkan banyak tenaga dan membutuhkan bantuan dari sederenya.
Demikian juga dalam menghadapi masalah-masalah keluarga seperti mengadakan musyawarah untuk menyelenggarakan upacara perkawinan dan lain-lainnya haruslah melibatkan seluruh sederenya. Mereka selalu menghadapi dengan pakat sedere. Kegiatan semacam ini sering diucapkan dalam pepatah-pepatah seperti bulet lagu umut, yang artinya bulat seperti batang pisang, lurus seperti gelas.
Maksudnya, untuk mencapai suatu tujuan, setiap kebijaksanaan harus dilakukan berdasarkan musyawarah tiap anggota keluarga dan sedere-sederenya.
Namun demikian perkembangan sedere tidak mungkin dapat ditampung dalam umah timeruang karena semangkin banyak terjadi keluarga batih, maka akan semangkin banyak pula membutuhkan bilik (kamar). Bagi mereka yang tidak tertampung dalam umah timeruang kemudian memisahkan diri ke tempat lain dengan mendirikan rumah baru yang kemudian berkembang pula menjadi umah timeruang seperti tersebut di atas. Walaupun terjadi pemisahan tempat tinggal, tetapi tali keluarga lainnya masih diikat oleh pertalian sedere dan timbullah klan kecil yang disebut dengan kuru. Kuru ini kemudian dapat juga bertempat tinggal di beberapa kampung. Hal ini dapat terjadi karena adanya perpindahan tempat tinggal di beberapa kampung. Hal ini dapat terjadi karena adanya perpindahan tempat tinggal dan adanya
sistem perkawinan exogam. Menurut adat masyarakat Gayo perkawinan endogami menjadi larangan atau pantangan. Dengan demikian, akan memudahkan hubungan genealogis antara satu kampung dengan kampung lainnya.
Adanya pengaruh perkawinan baru disebabkan oleh perpindahan anggota kuru dan perkawinan menyebabkan tidak kentara lagi perhubungan darah yang murni pada suatu kuru, karena proses perkembangan ini masih terjadi terus menerus. Namun demikian mereka merasa dirinya mempunyai nenek moyang yang sama dan satu sistem sosial serta ikatan tertorial yang sama. Hasil perkembangan kuru yang demikian masih terlihat dalam klen besar yang disebut dengan belah. Dengan demikian, pada masyarakat Gayo timbul bermacam-macam belah, seperti belah jalil, belah Cik, belah gunung, belah Hakim, belah Bale dan lain-lain.46
B. Sistem Perkawinan dalam Masyarakat Gayo
Perkawinan dalam adat Gayo mempunyai arti yang sangat penting terhadap sistem kekerabatan karena masyarakat Gayo menganut sistem Perkawinan exogami (perkawinan antar belah atau antar klan). Menurut adat masyarakat Gayo perkawinan dengan sistem endogami (kawin satu belah atau satu klan) menjadi larangan atau pantangan karena sesama klan masih dianggap masih memiliki ikatan persaudaraan atau ikatan darah. Dengan demikian akan memudahkan hubungan genealogis antara satu kampung dengan kampung lainnya.
46Sistem Kekerabatan Orang Melayu Gayo, Naggroe Aceh Darussalam, //http, melayuonline.com/ind/culture/dig/2748/Sistem Kekerabatan –orang-melayu-Gayo-nanggroe-aceh-darussalm, diakses tanggal 21 Oktober 2014
Ada tiga macam jenis perkawinan yang terdapat dalam masyarakat Gayo yaitu Kawin ango atau jeulen, kawin angkap dan kawin kuso kini.
1. Kawin Ango atau Juelen
Kawin ango atau juelen adalah bentuk perkawinan yang mengharuskan pihak calon suami seakan-akan membeli wanita yang akan dijadikan istri. Setelah dibeli, maka istri menjadi belah suami. Jika pada suatu ketika terjadi cere banci (cerai perselisihan), si istri menjadi ulak kemulak (kembali ke belah asalnya). Mantan istri dapat membawa kembali harta tempah (harta pemberian orang tuanya) dan demikian pula harta sekarat (harta dari hasil usaha bersama). Namun jika terjadi cere kasih (cerai mati), tidak menyebabkan perubahan status (belah) bagi keduanya. Sebagai contoh misalnya, jika suami meninggal, maka belah suami berkewajiban untuk mencarikan jodoh mantan istrinya tadi dengan salah seorang kerabat yang terdekat dengan almarhum suaminya. Apabila yang meninggal itu tidak mempunayi anak, maka pihak yang ditinggalkan berhak mengembalikan harta tempah kepada belah asal harta itu. Jika yang meninggal itu ada keturunan, maka harta tempah itu menjadi milik anak keturunannya.
2. Kawin Angkap
Kawin angkap adalah bentuk perkawinan yang memiliki ketentuan-ketentuan yang harus ditaati. Pihak laki-laki (suami) ditarik ke dalam belah istri.
Perkawinan angkap ini dapat dibedakan menjadi dua macam angkap, yaitu angkap nasap dan angkap sementara. Pada perkawinan angkap nasap menyebabkan suami kehilangan belahnya, karena telah ditarik ke dalambelah istrinya. Jika terjadi
perceraian karena cere banci (cerai perselisihan) dalam kawin angkap nasap ini, menyebabkan terjadinya perubahan status suaminya karena suami harus kembali ke belah asalnya, dan tidak diperbolehkan membawa harta tempah, kecuali harta sekarat.
Namun jika terjadi cere kasih, misalnya istri meninggal, maka mantan suaminya tetap tinggal dalam belah istrinya. Pada suatu ketika, saat mantan suami tersebut akandikawinkan kembali oleh belah istrinya dengan salah seorang anggota kerabat istrinya. Jika yang meninggal itu adalah suaminya, maka istrinya pada belah asalnya. Namun jika yang meninggal tersebut mempunyai keturunan, maka harta tempah peninggalannya jatuh ketangan anak keturunannya.
Kawin angkap sementara pada masyarakat Gayo juga disebut dengan angkap edet. Seorang suami dalam waktu tertentu menetap dalam belah istrinya sesuai dengan perjanjian saat dilakukan peminangan. Status sementara itu tetap berlangsung terus selama suami belum mampu memenuhi semua persyaratan yang telah ditetapkan waktu peminangannya. Jika terjadi perceraian dalam bentuk cere banci, suami akan kembali kedalam pihak belahnya, dan harta sekarat akan dibagi-bagi, jika syarat-syarat angkap sementara telah dipenuhi oleh suami, sedangkan harta tempah, misalnya istri meninggal, maka suami tidak akan berubah statusnya sampai masa perjanjian angkap selesai. Oleh karena itu, menjadi kewajiban belah istrinya untuk mengawinkan kembali dengan salah seorang kerabatnya.
3. Kawin Kuso Kini
Kawin kuso kini adalah suatu bentuk perkawinan yang memberi kebebasan kepada suami istri untuk memilih tempat tinggal dalam belah suami atau belah istri.
Pada kawin kuso kini, suami istri dapat menetap pada keluarga atau mandiri pada rumah dan pekerjaan mereka sendiri tetapi tetap memandang dan membantu keluarga kedua belah pihak dengan baik. Bentuk perkawinan kuso kini ini berbeda dengan perkawinan anggo dan angkap yang selalu mempertahankan belah. Bentuk perkawinan ini masih banyak pula terjadi dalam masyarakat Gayo hingga sekarang.
Upacara daur hidup (life cycle) merupakan kegiatan sedere dalam bentuk pakat sedere dengan tujuan agar dapat dicapai suatu kesepakatan dalam melaksanakan setiap kegiatan bersama. Mengenai bentuk-bentuk upacara daur hidup tersebut dapat berwujud pada upacara turun mandi bayi (cukur rambut), bereles (sunat rasul). Bagi anak laki-laki yang berumur 10 tahun ke atas, upacara perkawinan dan kemudian setelah adanya kematian. Semua kegiatan upacara tersebut merupakan kegiatan sedere.
C. Perkawinan Angkap Pada Masyarakat Gayo
Perkawinan Angkap terjadi jika suatu keluarga tidak mempunyai keturunan anak lelaki yang berminat mendapat seorang menantu lelaki, maka keluarga tersebut meminang sang pemuda (umumnya lelaki berbudi baik dan alim) inilah yang dinamakan “Angkap Berperah, Juelen Berango” (Angkap dicari/diseleksi, Juelen diminta). Menantu lelaki ini disyaratkan supaya selamanya tinggal dalam lingkungan keluarga pengantin wanita dan dipandang sebagai pagar pelindung keluarga. Sang menantu mendapat harta waris dari keluarga Istri. Dalam konteks ini dikatakan “Anak angkap penyapuni kubur kubah, si muruang iosah umah, siberukah iosah ume”
(menantu lelaki penyapu kubah kuburan, yang ada tempat tinggal beri rumah, yang ada lahan beri sawah).47
Perkawinan angkap ini dapat dibedakan menjadi dua macam angkap, yaitu angkap nasap dan angkap sementara. Pada perkawinan angkap nasap menyebabkan suami kehilangan belahnya, karena telah ditarik ke dalam belah istrinya. Jika terjadi perceraian karena cere banci (cerai perselisihan) dalam kawin angkap nasap ini, menyebabkan terjadinya perubahan status suaminya karena suami harus kembali kebelah asalnya, dan tidak diperbolehkan membawa harta tempah, kecuali harta sekarat.
Namun jika terjadi cere kasih, misalnya istri meninggal, maka mantan suaminya tetap tinggal dalam belah istrinya. Pada suatu ketika, saat mantan suami tersebut akan dikawinkan kembali oleh belah istrinya dengan salah seorang anggota kerabat istrinya. Jika yang meninggal itu adalah suaminya, maka istrinya pada belah asalnya. Namun jika yang meninggal tersebut mempunyai keturunan, maka harta tempah peninggalannya jatuh ketangan anak keturunannya.
Kawin angkap sementara pada masyarakat Gayo juga disebut dengan angkap edet. Seorang suami dalam waktu tertentu menetap dalam belah istrinya sesuai dengan perjanjian saat dilakukan peminangan. Status sementara itu tetap berlangsung terus selama suami belum mampu memenuhi semua persyaratan yang telah ditetapkan waktu peminangannya.
47Batavusqu “Pernikahan adat masyarakat gayo aceh”,http://Zipuer 7, Wordpress.com/2009/10/04/pernikahan –adat-masyarakat-gayo-aceh,diakses pada tanggal 10 juni 2014
Jika terjadi perceraian dalam bentuk cere banci, suami akan kembali kedalam pihak belahnya, dan harta sekarat akan dibagi-bagi, jika syarat-syarat angkap sementara telah dipenuhi oleh suami, sedangkan harta tempah tidak, misalnya istri meninggal, maka suami tidak akan berubah statusnya sampai masa perjanjian angkap selesai. Oleh karena itu, menjadi kewajiban belah istrinya untuk mengawinkan kembali dengan salah seorang kerabatnya.
Tabel 1
L/P SD/SD Petani/Ibu RT 1960
2. Azhar / Sakdiah L/P SD/SMP Petani/Ibu RT 1969 3. Subhan/Radiani L/P SMP/SMA Petani/Ibu RT 1968 4 Suparman/Murni L/P SMP/SMA Wiraswasta/Ibu RT 1992 5 Nuransyah/Yulia L/P SMP/SMP Petani/Ibu RT 1984
Keterangan Tabel
1. Responden nomor 1 dan nomor 2 yang melakukan perkawinan angkap di Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah.
2. Responden nomor 3 dan nomor 4 yang melakukan perkawinan angkap di Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah.
3. Responden nomor 5 yang melakukan perkawinan angkap di Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.
Dari hasil wawancara dengan responden pasangan suami istri, yaitu Bapak Kamaluddin R dan Jaunah, mereka telah menikah pada tanggal 8 Mei 1960, dalam perkawinan angkapnya dahulu mahar yang diberikannya kepada istrinya merupakan pemberian dari orang tua Nyonya Jaunah, dan mendapatkan hibah dan warisan dari orang tua Nyonya Jaunah tersebut, ia tidak mendapatkan warisan dari orang tuanya
sendiri, hubungan kekerabatan dengan klannya sendiri terputus, dan sampai sekarang ia masih menetap dalam klan istrinya tersebut.
Dari hasil wawancara denganresponden pasangan suami istri yaitu Bapak Azhar dan Sakdiah, mereka telah menikah pada tanggal 17 Juni 1969, dalam perkawinan angkapnya dahulu, mahar yang diberikannya kepada istrinya merupakan pemberian dari orang tua Sakdiah , dan mendapatkan hibah dan warisan dari orang tua Sakdiah tersebut, ia tidak mendapatkan warisan dari orang tuanya sendiri, hubungan dengan klannya sendiri juga terputus, dan sampai sekarang ia masih menetap dalam klan istrinya tersebut.
Dari hasil wawancara dengan responden pasangan suami istri yaitu Bapak Subhan dan Radiani, mereka telah menikah pada tanggal 5 Agustus 1968dalam perkawinan angkapnya dahulu, mahar yang diberikannya kepada istrinya merupakan pemberian dari orang tua Radiani, dan mendapatkan rumah dan kebun kopi dari orang
Dari hasil wawancara dengan responden pasangan suami istri yaitu Bapak Subhan dan Radiani, mereka telah menikah pada tanggal 5 Agustus 1968dalam perkawinan angkapnya dahulu, mahar yang diberikannya kepada istrinya merupakan pemberian dari orang tua Radiani, dan mendapatkan rumah dan kebun kopi dari orang