BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
Metode atau cara peneliiitian adalah merupakan serangkaian kegiatan ilmiah dalam rangka pemecahan suatu permasalahan 31Metode penelitian adlaah ilmu untuk mengungkapkan dan menerangkan gejala-gejala alam dan social dalam kehidupan manusia dengan menggunakan prosedur kerja sistematis, teratur, tertib, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah32.Pemelitian ini menggunakan metode yuridis Normatif dengan menggunakaan penelitian pendekatan undang-undang dan pendektan kasus. Metode yuridis Normatif dengan mengacu pada pendekatan undang-undang Maksudnya adalah menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan cara melakukan telaah terhadap kasus yang berkaitan dengan isu hukum yang sedang ditangani.33Pendekatan kasus dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus yang berkaitan dengan isu telah dihadapi yang elah menjadi putusan pengadilan
31Saifuddin Azwar., Metode Penelitian,(Yogyakarta,Pustka Pelajar, 2013),hlm., 1
32Hadari Nawiwi dan Mimi Martii, (Yogyakarta,Gadjah Mada University, 1994),hlm., 9
33Peter Mahmud marzzuki, Penelitian Hukum Edisi Revisi,( Jakarta, Kharisman Putra Utama, 2014),hlm., 41
yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.,34Dalam pendekatan kasus yang perlu dipahami adalah alasan-alasan hukum yang dgunakan dalam proses pengambilan keputusam terdahulu .Alasan hukum tersebut dapat ditemukan dengan memperhatikan fakta materil baik berupa orang , tempat dan waktu35
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normative yang meneliti hukum dari perspektif internal dengan objek penelitian.Oleh karena itu mengacu pada putusan pengadilan serta norma-norma hukum yang ada serta melihat sinkronisasi aturan satu dengan yang ainnya secara hirarki.36Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada analisis dinamika hubungan antarfenomena yang diamati menggunakan ligika ilmiah.37
2. Sifat Penelitian
Sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif.Dengan teknik deskriptif dimaksudkan penelitian memaparkan adanya tentang suatu peristiwa hukum atau kondisi hukum dalam kasus dihadapi. Memaparkan apa adanya maksudnya dengan disertai tanggapan pribadi peneliti yang memfokuskan pengumpulan semua peraturan perundang-undangan terkait dengan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan. Melakukan pengkajian terhadap buku, peraturan
perundang-34Ibid hlm., 134
35Abu Yasid, Apek-Aspek penelitian Hukum Islam-Hukum Barat (Yogyakarta, pustaka Pelajar ,2010),hlm., 76
36Zainuddin, Ali, Metode Peelitian Hukum(Jakarta,Sinar Grafks, 2014),hkm., 105
37Saifuddin Azwar, Opcit., hlm 7
undangan yang berhubungan dengan pengaturan hukum dan impiikasi pelaksanaanya di Indonesia maupun hukum yang diputuskan melalaui proses pengadilan.
3. Sumber Data
Sumber data yang digunakan primer yaitu bahan hukum yang mengikat dan terdiri dari38 Bahan Hukum/sumber primer adalah bahan pustaka yang berisikan penegtahuan ilmiah yang baru dan mutakhir ataupun pengertian baru tentang fakta yang diketahui maupun mengenai suatu gagasan39
a. Peraturan Perundang-undnagan
Undang-Undang Pokok Agraria No. 5Tahun 1960
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 Tentang Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 Tentang Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
Undang-Undang No 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan PPAT
Peraturan Menteri Agraria Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Peraturan Pelaksana Perauran Pemerintah Nomor 22 Tahun 1997
a. Bahan Hukum sekunder, yang memberikan gambaran penjelasan mengenai bahan hukum sekunder seperti misalnya rancangan undang-undang, hasil
38Saifuddin Azwar, Opcit,hlm., 7
39Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, (Jakarta, Sinar Grafika, 1991),hlm., 52
penelitian selain itu bahan hukum yang berkaitan dengan konsep hukum yang digunakan dalam tesis ini misalnya journal, text book
b. Bahan Hukum tersier, bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan bahan hukum primer dan sekunder.
4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan hasil yang objektif dan dapat dibuktikan kebenarannya serta dapat dipertanggungjawabkan hasilnya, maka data penelitian diperoleh melalui studi dokumen dilakukan dengan studi kepustakaan yang berhubungan dengan topik yang akan diteliti. Dan menggunakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara dengan beberapa notaris senior, junior.
5. Analisis Data
Analisis data adalah proses menyusun, mengkategorikan data, mencari pola thema dengan maksud untuk memahami maknanya, Analisis data adalah menggunakan metode tafsiran yaitu memberikan makna kepada analisis, mencari hubungan antara konsep. Tesis ini menggunakan data kualitatif.data kualitatif bersifat rinci sehingga panjang lebar. Akibatnya data kualitatis bersifat spesifik terutama untuk meringkas data dan menyatukannya dalam suatu alur analisis yang mudah dipahami.
BAB II
PERTANGGUNGJAWAB PPAT ERHADAP PENITIPAN BPHTB YANG BERITIKAD BAIK
A. Bea Perolehan Hak atas Tanah
Pasal 1 Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana yang dirubah dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 Tentang Pajak Bea Perolehan hak atas Tanah dan Bangunan adalah “pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan bangunan.”40
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan oleh seseorang atau badan hukum dapat terjadi melalui dua cara, yaitu:
1. Origananair
Perolehan Hak atas Tanah ini terjadi untuk pertama kali melalui penetapan pemerintah, atau karena ketentuan undang-undang. Bentuk hak atas tanah ini adalah hak atas tanah lahir dari tanah yang berasal dari tanah Negara melalui permohonan pemberian hak atas tanah Negara
2. Derivatif
Perolehan hak atas tanah ini terjadi dari tanah yang dimiliki atau dikuasai oleh pihak lain melalui peralihan hak atas tanah. Perolehan hak terjadi pemindahan hak melalui ja beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dlam modal perusahaan atau lelang.41
“Bentuk/tata cara pengadaan hak atas tanah bagi pelaksanaan kepentingan
pembangunan untuk kepentingan umum ada tiga cara, yaitu pembebasan tanah, pencabutan hak atas tanah dan peralihan hak.”42
40Pasal 1 Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 sebagaimana yang telah dirubah dengan Undang Undang Nomor 21 Tahun 1997
41Urip Santoso,Perolehan Hak atas Tanah.(Jakarta, Kharisma Putra, 2015),hlm., 28
42Umar said Sugiharto,dkk,Hukum Pengadaan Tanah Pengadaan Hak atas Tanah untuk Kepentingan Umum Pra dan Pasc Reformasi ,(Malang, Setara Press, 2015).hlm.,75
Selain itu perolehan hak atas tanah dapat diperoleh melalui antara lain penetapan pemerintah, ketentuan undang-undang, peralihan hak, pemberian hak.
Menurut Pasal 6 ayat 1 Undang Nomor 20 Tahun 2000 yang menjadi dasar pengenan pajak pada BPHTB adalai Nilai Perolehan Objek Pajak
a. Pemindahan Hak karena : 1. Jual beli
2. Tukar Menukar 3. Hibah
4. Hibah Wasiat 5. Warisan
6. Pemasukan dalam Perseroan
7. Pemisahan Hak yang mengakibatkan peralihan Hak 8. Penunjukan Pembelian Lelang
9. Pelaksanaan Putusan Hakim yang mempunyai kekuatan Hukum tetap 10. Penggabungan Usaha
11. Peleburan Usaha 12. Pemekaran Usaha 13. Hadiah
Pasal 6 ayat 2 menentukan yang menjadi Nilai Perolehan Objek Pajak sebagai dasar Pengenaan Pajak pada masing jenis perolehan hak :
a. Pada perolehan hak karena jual beli, yang menjdi NPOP adalah harga transaksi
b. Pada perolehan hak karena tukar menukar yang menjadi NPOP adalah nilai pasar
c. Pada Perolehan hak karena hibah yang menjadi dasar NPOP adalah nilai pasar
d. Nilai Perolehan hak karena hibah wasiat adalah nilaipasar
e. Pada perolehan hak karena waris, yang menjadi Nilai Perolehan Objek Pajak adalah nilai pasar
f. Pada perolehan hak karena pemasukan dalam perseroan dan badan hukum lainnya yang menjadi Nilai Perolehan Objek Pajak adalah nilai pasar g. Pada perolehan hak karena pemisahan hak karena yang mengakibatkan
peralihan sebagai pelasanaan putusan hakim mempunyai kekuatan hukum tetap yamg menjadi NPOP adalah nilai pasar
h. Pada Perlehan hak hak karena pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan pelepasan hak yang menjadi Nilai Perolehan Objek Pajak adalah Nilai Pasar
i. Pada Perolehan Hak karena penggabungan usaha yang menjadi nilai perolehan objek pajak adalah nilai pasar
j. Pada Perolehan hak karena peleburan usaha yang menjadi NPOP adalah nilai pasar
Sesuai dengan Pasal 6 ayat 3 Undang-Undang Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan Nomor 20 tahun 2000 sebagaimana yang telah dirubah dengan undng – undang Nomor 21 Tahun 1997 menyatakan bahwa Nilai Perolehan Objek Pajak
sebagaimana huruf a sampai dengan j tidak diketahui atau lebih rendah daripada Nilai Perolehan Objek Pajak yang digunakan dalam pengenaan pajak bumi dan Bangunan adalah Nilai Jual Objek Pajak. Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bamgunan adalah rata-rata yang diperoleh dari harga transakasi jual beli yang terjadi secara wajar. Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan dapat dilihat dari Surat Pemberitahuan Pajak yang terutang yang dikeluarkan kantor pelayanan Pajak teruang. Untuk memberikan surat SPPT maka obyek tanah dan bangunan sudah terdaftar di kantor pelayanan PBB setempat.43
Setiap Undang-Undang yang berlaku mempunyai subjek hukum. Subjek Hukum yang menjadi wajib pajak adalah memenuhi syarat-syarat ditentukan oleh Undang-Undang.Undang Nomor 20 Tahun 2000 Tentang Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan bagunan menetapkan yang ditetapkan sebagai subjek pajak dalam undang-undang tersebut. Sedangkan Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan karena pemberian hak pengelolaan diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 112 Tahun 2000 Adapun mekanisme pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah penjual dan pembeli yang sudah menyepakati harga jual beli rumah menyepakati harha jual beli rumah, pada umumnya penjual dan pembeli kurang memahami bagaimana menghitung BPHTB sehingga mereka datang ke PPAT tanpa membawa SSB
Selain itu Undang-Undang menetapkan ketentuan bagaimana cara pembayaran pajak atas Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana yang ditetapkan
43Marihot Pahala Siahaan, hlm 172
dalam Pasal 10 Undang –Undang Nomor 21 Tahun 1997 sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 sebagai berikut:
1. Wajib Pajak yang terutang dengan tidak berdasarkan adanya surat ketetapan pajak
a. Pajak yang terutang dibayar ke kas Negara melalui Kantor Pos dan atau Bank Badan Usaha milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah atau tempat pembayaran lain yang dirunjuk oleh Menteri dengan Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan“.
Pasal 10 ayat 1 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 Tentang Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan mengatakan
Wajib Pajak wajin membayar pajak yang terutang dengan tidak mendasarkan pada adanya surat ketetapan pajak. Menurut Pasal 24 ayat 1 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 Tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan:”Pejabat Pembuat Akta tanah seelah wajib pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak.”
Setelah penjual dan pembeli mengisi SSB dan melakukan pembayaran BPHTB ke Bank, pejabat Bank dan pos menandatanani SSB, mengambil SSB lembar ke 2 dan lembar ke 4 kemudian meyerahkan kembali ssb lembar 1,3 dan 5 kepada Wajib Pajak.44Wajib Pajak datang kembali menyerahkan SSB KE-5 setelah itu barulah PPAT menandatanagi akta jual beli karena menurut Pasal 24 ayat 1 Undang –Undang Nomor 20 Tahun 2000 Tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan menentukan bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah hanya dapat menandatangani pemindahan hak dan
44https://www.scribd.com/doc/58704749/MEKANISME-PEMBAYARAN-BPHTB pada 28/10/2016 pada jam 08.01
bangunan pada saat Wajib Pajak menyerahkan pembayaran Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan berupa setoran Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan, Wajib Pajak (pembeli menyerahkan SSB lembar ke 3 ke KKP Pratama secara langsung atau dikirim melalui pos sedangkan SSB Lembar 1 sebagai arsip untk wajib pajak.
Cara pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang dilakukan melalui Internet adalah sebagai berikut:
Wajib Pajak membayarkan BPHTB yang terutang tidak didasarkan pada surat ketetapan pajak atau SKP, melainkan dengan cara mengisi Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan. Pajak yang dibayar dapat melalui Bank Pemerintah, Bank DKI dan juga di Kantor Pos di wilayah Kotamadya Kabupaten/Kota yang meliputi letak Tanah dan Bangunan. SSB dapat diperoleh melalui kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan yang ada di wilayah DKI Jakarta, Kantor Pos.
Pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dapat dilakukan tanpa menunggu diterbitkannya Suray Ketetapan Pajak. Surat Ketetapan Pajak adalah dukumen yang kurang /lebih bayar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal setelah adanya pemeriksaan SKP. SKP dapat dikeluarkan dalam jangka waktu lima tahun semenjak saat terutang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan . SKP dapat berupa SKBKB untuk yan kurang baya dan SKBN untuk yang nihil dan nol bayar.
B. Kewajiban Notaris dalam Undang-Undang Jabatan Notaris
Pengertian Notaris menurut Pasal 1 ayar 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Peraturan Jabatan Notaris. Notaris adalah pejabat yang berwenang dalam
membuat akta .45Akta yang dibuat oleh PPAT merupakan suatu alat pembuktian yang kuat.
Notaris sebagai pejabat yang mempunyai peranan penting untuk membantu pemerintah dalam proses pengalihan hak, mempunyai peraturan untuk mengatur tata tertib Notaris di Indonesia. Berikut ini Pasal yang harus diperhatikan tugas dan wewenang Notaris:
Pasal 15 ayat 1,2, dan 3 Undang-Undng Nomr 2 Tahun 2014 yaitu perubahan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris . Pasal 15 ayat 1 menyebutkan:
Notaris berwenang membuat akta autentik mengenai semua urusan perbuatan pejanjian dan ketetapan yang dihauskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta autentik , menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosee, salinan dan ktipan akta semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditegaskan atau dikecualikan pada pejabat lai atau orang lain yang ditetapkan oleh unang-undang.46
Berdasarkan ketentuan Pasal 15 ayat 1 Undang-Undang Jabatan Notaris disebutkan bahwa Notaris berwenang membuat akta autentik (…)” yang dalam pengertian teknis “membuat” sejumlah pekerjaan yang diperlukan akta Notaris.
Membuat akta terdiri atas penyusunan, pembacaan, dan penandatanganan akta oleh para penghadap, saksi, dan notaris.
Adapun menurut Pasal 15 ayat 2 berwenang pula:
45Pasal 15 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014
46 Herlien Budion, Dasar Teknik Pembuatan Akta PPAT, ( Bandung: Citra Adita Banti, 2014),hlm., 7
a. Mengesahkan tanda tagan dan menetapkan kepastian tanggal surat dibawah tangan dengan mendaftarkan dalam buku khusus;
b. Membubuhkan surat dibawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
c. Membuat kopi dan surat-surat dibawah tangan berupa salinan yang membuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan;
d. Melakukan pengecekan kecocokan fotkopi dengan surat aslinya;
e. Memberikan penyuluhan hukum sehungan dengan pembuatan akta f. Membuat akta yang berkaitan dengan petanahan;atau
g. Membuat akta risalah lelang
Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 Notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Dalam arti peraturan perundang-undangan yang bersangkutan menyebutkan agar perbuatan hukum tertentu wajib dibuat dengan akta notaris.Selain itu PPAT dapat merangkap menjadi PPAT hal ini disebabkan untuk mempermudah kerja PPAT itu sendiri dalam menjalankan pekerjaannya yang diembankan kepadanya. Oleh karena itu kewenangan yang dimiliki oleh PPAT sebagai Pejabat umum sebelum diangkat menjadi PPAT , berwenang membuat akad kredit yang dijaminkan oleh Bank.47
Syarat untuk menjadi Notaris sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 3 Undang-Undang Jabatan Notaris adalah sebagai berikut:
1. Warga Negara Indonesia
47Supriadi,Hukum agrarian,(Jakarta, Snar Grafika, 2009),hlm., 171
Karena Warga Negara Indonesia adalah pejabat umum yang menjalankan sebagian dari fungsi publik perdata, kewenangan ini tidak dapat diberikan kepada Warga Negara Asing karena menyangkut dengan menyimpan rahasia Negara, PPAT bersumpah setia atas Negara Republik Indonesia, sesuatu yang tidak bisa dipenuhi seutuhnya oleh Warga Negara Asing.
2. Berumur minimal 27 Tahun
Umur 27 Tahun dianggap siap mental dan emosional 3. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Diharapkan PPAT tidak melakukan tindakan perbuatan asusila, amoral.
4. Pengalaman
Telah mejalani magang dan nyata-nyata telah bekerja sebagai karyawan PPAT dalam waktu 2 tahun berturut-turut pada kantor PPAT atas prakarsa sendiri atau rekomendasi organisasi notaris setelah lulus magister kenotariatan, supaya telah mengetahui praktisi notaris, mengetahui struktur yang dipakai dalam pembuaan aktanya, baik akta aotentik, dibawah tangan, dan pengetahuan administrasi notaris
5. Ijazah 6. Non-PNS
Demikian dengan PPAT, PPAT juga memeriksa apakah syarat formal dan materil sudah terpenuhi arau tidak untuk melakukan pengikatan jual beli tersebut.
B.1.1 Kewajiban Notaris dalam Undang-Undang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 Tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Dalam Undang-Undang tersebut yang dimaksud dengan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Pajak yang dikenakan atas Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Subjek pajak yang ditentukan dalam Undang-Undang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Nomor 20 Tahun 2000 Tentang Perubahan atas Undang Undang-Undang Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 Tentang Bea Perolehan hak atas Tanah dan Bangunan adaah orang pribadi, atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan Bangunan dengan kata lain yang menerima pengalihan hak tersebut, Oleh karena itu asas yang digunakan dalam Undang-Undang asas Self Asessment. Self Asessment adalah Wajib Pajak diberikan kepercayaan oleh pemerintah untuk menghitung, menyetorkan pajak sendiri.
Sesuai deengan Pasal 24 Undang-Undag Nomor 20 Tahun 2000 Tentang Perubahan atas Undang undang Nomor 21 Tahun 1997 Tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan menyarkan Pejabat Pembuat akta Tanah PPAT hanya dapat menandatangani akta pemindahan hak atas tanah dan bangunan pada saat Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran berupa Surat Setoran Hak atas Tanah dan Bangunan . Pasal 26 Undang Nomor 20 Tahun 2000 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 Tentang Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
meyatakan Pejabat Pembuat Akta tanah /PPAT dan Pejabat Lelang Negara yang melanggar ketentuan sebagaiman dimaksud dengan Pasal 24 ayat (1) dan ayat (2) dikenakan sanksi administratip dan denda sebesar Rp.7.500.000,00 untuk setiap pelanggaran
B.1.2 Kewajiban Notaris dalam Undang-Undang Peraturan Daerah
Dalam Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaiman yang ditulis dalam Pasal 26:
(1) Pejabat Pembuat Akta Tanah/PPAT dan Kepala Kantor yang membidangi peayanan lelang Negara melaporkan pembuatan akta atau risalah lelang perolehan hak atas tanah dan bangunan kepada Kapala Daerah paling lambat 10 (sepuluh) bulan berikutnya:
(2) Tata Cara pelaporan bagi pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatuu dengan Peraturan Derah
Sebelum adanya penandatanganan akta maka PPAT yang ada di kota Surabaya berkewajiban meminta kwitansi pembayaran Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan dalam pembuatan akta yang dimaksud. Dengan lahirnya peraturan Daerah ini maka semakin memudahkan transaksi perikatan perikatan Perjanjian Jual Beli di Kota Surabaya terkait pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang belum memiliki sertifikat.
B.1.3 Kewajiban PPAT dalam Peraturan Pemerintah PPAT
Jabatan PPAT bukanlah jabatan yang diemban oleh PPAT untuk seumur hidup, namun juga dibatasi oleh waktu dan peristiwa-peristiwa lainnya.Berhentinya yang
dalam bahsa Inggris disebut dengan termination sedangkan dalam Bahasa Belanda Otlanding adalah berakhirnya atau selesainya jabatan sebagai PPAT. Pemberhentian jabatan sebagai PPAT diatur dalam pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 Tentang Peraturan Jabatan Pembuat Akta Tanah dan Pasal 28 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2006 disebutkan empat alasan diberhentikan dari jabatan , karena
1. Meninggal dunia 2. Telah mencapai usia 65
3. Diangkat dan mengangkat sumpah jabatan atau melaksanakan tugas sebagai PPAT dengan tempat kedudukan di Kabupaten/ota yang lain daripada daerah kerjanya
4. Diberhentikan oleh Badan
Diberhentikan dengan tidak hormat yang dalam bahasa Inggris disrespectfully merupakan cara berakhirnya atau selesainya PPAT dengan cara tidak sopan atau dengan penghargaan tidak tinggi terhadap PPAT yang bersangkutan. Ada tiga alasan PPAT diberhentikan dengan tidak hornat dari jabatannya oleh kepala badan yang meliputi:
1. Melakukan pelanggaran berat terhadap larangan dan kewajiban sebagai PPAT 2. Dijatuhi hukuman kurungan/penjara karena melakukan kejahatan perbuatan
pidana yang diancam hukuman kurungan atau penjara paling lama 5 tahun 3. Melanggar Kode etik PPAT
Pelanggaran berat yang dilakukan PPAT antara lain:
a. Membantu melakukan pemufakatan jahat yang mengakibatkan sengketa atau konflik pertanahan
b. Melakukan pembuatan akta sebagai pemufakatan jahat yang mengakibatkan sengketa atau konflik pertanahan
c. Melakukan pembuatan aka diluar daerah kerjanya
d. Memberikan keterangan yang tidak benar dalam akta mengakibatkan sengketa
e. Melanggar sumpah jabatan PPAT
B.1.4 Kewajiban PPAT dalam Undang-Undang PPAT
Landasan utama yang mendasari pelaksanaan tugas PPATadalah Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 Tentang Jabatan Pembuat Akta Tanah.
Kewajiban Pejabat Pembuat Akta Tanah yaitu:
1. Mendaftarkan dokumen selambat-lambatnya 7(tujuh) hari kerja sejak ditandatangani akta yang bersangkutan, PPAT wajib menyampaikan akta yang dibuatnya berikut dokumen-dokeumen yang bersangkutan kepada kepala kantor pertanahan disamping itu PPAT wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis mengenai telah disampaikannya akta kepada pihak yang bersangkutan:
2. Menjunjung tinggi Pancasila, Undang-UndangDasar 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
3. Mengikuti Pelantikan dan pengangkatan sumpah jabatan sebagai PPAT;
4. Menyampaikan laporan bulanan mengenai akta yang dibuatnya kepada Kepala Kantor Pertanahan , Kepala Kantor Wilayah dan Kepala Kantor Pajak Bumi dan Bangunan setempat paing lambat 10(sepuluh) bulan berikutnya;
5. Menyerahkan protocol PPAT dalam hal:
a. PPAT yang berhenti menjabat kepadaa PPAT daerah kerjanya atau
a. PPAT yang berhenti menjabat kepadaa PPAT daerah kerjanya atau