• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Perlindungan Hak-hak Tersangka

Proses Prapenuntutan yang dilakukan oleh seorang Penuntut Umum tidak terlepas dari tindakan penyidikan yang dilakukan oleh penyidik dalam mengumpulkan bukti-bukti yang cukup dan dijadikan dalam bentuk berkas perkara yang dikirim kepada PU untuk diteliti kelengkapan formil dan materiilnya.

Penyidikan menurut Pasal 1 angka 2 KUHAP serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur oleh undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti ini membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya; sedangkan pada Pasal 1 angka 1 menyebutkan bahwa penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang ini untuk melakukan penyidikan.

Pasal 7 ayat (1) menjelaskan wewenang penyidik sebagai berikut :

a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;

b. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;

c. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka;

d. Melakukan penangkapan penahanan, pengeladahan dan penyitaan;

e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat

f. Mengambil sidik jari dan memotret

g. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi

h. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;

i. Mengadakan penghentian penyidikan;

j. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab

Berdasarkan kewenangan penyidik tersebut terlihat bahwa tindakan-tindakan penyidik dalam melaksanakan tugas dalam mengumpulkan bukti-bukting serta alat bukti yang yang yang didukung dengan upaya-upaya berupa penangkapan, panahanan, penggeledahan, penyitaan dan dibuat dalam berita acara, sebagaimana disebutkan dalam pasal 8 KUHAP sebagai berikut :

“penyidik membuat berita acara tentang pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 dengan tidak mengurangi ketentuan ini”.

Berita acara yang dimaksud pada pasal 75 KUHAP tersebut dibuat untuk setiap tindakan tentang :

a. Pemeriksaan tersangka b. Penangkapan

c. Penahanan d. Penggeledahan e. Pemasukan rumah f. Penyitaan benda g. Pemeriksaan surat h. Pemeriksaan saksi

i. Pemeriksaan di tempat kejadian

j. Pelaksanaan penetapan dan putusan pengadilan

k. Pelaksaanaan tindakan lain sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini

Berita acara tersebut setelah dilengkapi menjadi berkas perkara hasil penyidikan selanjutnya penyidik menyerahkan kepada PU untuk diteliti kelengkapannya baik secara formiil maupun materiil.

Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negera Republik Indonesia pada pasal 4 menyebutkan bahwa Kepolisian Negara Republik Indonesia bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketenteraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka sedah seharusnya penyidik yang adalah anggota Polri menjunjung tinggi hak asasi manusia termasuk hak-hak dari tersangka.

Berkaitan dengan perlindungan hak-hak tersangka pada tahap penyidikan, secara ideal perlindungan terhadap hak-hak tersangka adalah sebagai berikut :

a. Perlindungan terhadap hak-hak tersangka saat memberikan keterangan.

Hak tersangka untuk memberikan keterangan tanpa ada tekanan ini berhubungan erat dengan hak untuk didampingi oleh PH. Keberadaan PH tentu memberikan nuansa tersendiri dalam pemeriksaan tersangka walaupun pada saat

penyidikan PH hukum masih bersifat pasif, namun tentu kehadiran PH bisa memudahkan tersangka dalam menjalani pemeriksaan dengan tanpa adanya tekanan.

Perlindungan hak tersangka untuk memberikan keterangan tanpa adanya tekanan diatur dalam KUHAP sebagai berikut :

 Hak untuk memberikan keterengan secara bebas tanpa ada tekanan dari siapapun dan atau dalam bentuk apapun (pasal 117 ayat (1) KUHAP)

 Hak untuk dicatat keterangan yang diberikan dengan seteliti-telitinya sesuai dengan kata-kata yang dipergunakan oleh tersangka sendiri (pasal 117 ayat (2) KUHAP)

 Hak untuk meneliti dan membaca kembali hasil pemeriksaan sebelum tersangka menandatangani hasil pemeriksaan tersebut (pasal 118 ayat (1) KUHAP).

Berdasarkan data yang diperoleh bahwa dalam meminta keterangan penyidik mencatat setiap keterangan yang diambil dari tersangka dalam bentuk berita acara dimana pada bagian dari berita acara tersebut telah dimuat pertanyaan yang menanyakan apakah tersangka dalam keadaan sehat dan tidak dalam keadaan tertekan saat memberikan keterangan. Selain itu pada setiap akhir berita

acara tersebut dibubuhi tanda tangan tersangka dan paraf pada bagian bawah kiri di setiap halaman berita acara tersebut untuk menunjukkan bahwa isi dari berita acara tersebut benar sesuai dengan apa yang disampaikan oleh tersangka kepada penyidik yang memeriksanya.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa masih sering terjadi pelanggaran terhadap hak tersangka untuk memberikan keterangan dengan bebas dan tidak tertekan. Hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 1. Jawaban Responden Tentang Hak Untuk Memberikan Keterangan Tanpa Ada Tekanan

No Tindakan penyidik F %

1. Dipukuli dan tindakan kekerasan lain 22 44

2. Dimarahi atau diancam 18 36

3. Tidak dipukuli/dimarahi 10 20

Jumlah 50 100

Sumber : Data Primer Tahun 2013

Tabel diatas menunjukkan bahwa tindakan kekerasan masih terjadi pada saat pemeriksaan tersangka oleh oknum penyidik, hal ini dapat dilihat bahwa 22 orang atau sekitar 44 persen responden yang mengaku dipukuli atau mengalami kekerasan lain oleh penyidik, 18 orang atau 36 persen mengaku dimarahi sedangkan 10 orang atau 20 persen mengaku tidak dipukuli atau dimarahi oleh penyidik.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pengacara pada yang berpraktek pada kabupaten Merauke, menerangkan

bahwa umumnya pelaku kekerasan terhadap tersangka dilakukan bukan oleh penyidik yang memeriksa, artinya tersangka sudah menerima kekerasan dan ancaman oleh oknum polisi atau penyidik lain setelah itu barulah diperiksa oleh penyidik yang menangani perkara tersebut. Modus tersebut dilakukan oleh penyidik untuk mengantisipasi dilakukan pemeriksaan saksi verbalisan jika tersangka pada persidangan mengaku mengalami kekerasan saat diperiksa.

Selanjutnya pada tabel 2 dibawah ini akan digambarkan jawaban responden mengenai tempat mengambil keterangan kepada tersangka yang dilakukan oleh penyidik.

Tabel 2. Pandangan Responden Tentang Tempat Pengambilan Keterangan Dari Penyidik Terhadap Tersangka.

No Tindakan penyidik F %

1. Diperiksa dalam ruangan khusus dan

tersangka diberi tempat duduk 20 40 2. Diperiksa dalam ruangan khusus dan

tersangka hanya berdiri selama pemeriksaan

18 36

3. Diperiksa didepan ruang tahanan dimana tersangka tetap didalam tahanan sambil penyidik menanyakan pertanyaan

12 24

Jumlah 50 100

Sumber : Data Primer Tahun 2013

Tabel diatas jelas menggambarkan bagaimana proses pengambilan keterangan tersangka yang dilakukan oleh

penyidik dimana 20 orang atau sekitar 40 persen mengaku diperiksa dalam ruangan khusus dan tersangka diberi tempat duduk, selanjutnya 18 orang atau 36 persen diperiksa dalam ruangan khusus dan tersangka tidak diberikan tempat duduk, jadi dalam hak ini terdakwa memberikan keterangan sambil berdiri, lebih lanjut sekitar 12 orang atau 24 persen mengaku diambil keterangannya didalam ruangan tahanan, dimana penyidik hanya memberikan pertanyaan dari luar ruangan tahanan dan tersangka memberikan jawabannya melalui balik terali besi.

Tindakan dari beberapa oknum tersebut tentu bertentangan dengan apa yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2004 tentang Kepolisian RI pada Pasal 19 ayat (2) ditegaskan bahwa dalam menjalankan tugasnya kepolisian RI selalu menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia dan hukum negera.

Selain itu praktek penanganan perkara sebagaimana dijelaskan diatas tersebut bertentangan dengan instrumen HAM internasional sebagaimana disebutkan dalam Kovenan Internasional tentang hak-hak sipil dan politik pada Pasal 14 ayat (3) huruf g yang berbunyi bahwa dalam menentukan tindak pidana yang dituduhkan, setiap orang berhak untuk

tidak dipaksa memberikan kesaksian yang memberatkan dirinya, atau dipaksa mengakui kesalahannya.

b. Perlindungan terhadap hak-hak tersangka saat penangkapan dan penahanan

Pasal 1 angka 20 KUHAP menyebutkan bahwa penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan peradilan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Selanjutnya mengenai prosedur penangkapan diatur dalam Pasal 16 hingga Pasal 19 KUHAP.

Pasal 1 angka 21 KUHAP menerangkan bahwa penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa ditempat tertentu oleh penyidik atau Penuntut Umum atau Hakim dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Secara tegas mengenai penahanan diatur dalam Pasal 20 hingga pasal 31 KUHAP

Pada pembahasan sebelumnya telah diuraikan Hak-hak tersangka menurut KUHAP, berikut ini adalah hak-hak tersangka yang ditahan menurut KUHAP yaitu :

a. Pasal 21 ayat (2), hak untuk menerima surat perintah penahanan atau penahanan lanjutan atau penetapan hakim

b. Pasal 21 ayat (3), hak untuk menerima tembusan surat perintah penahanan, penahanan lanjutan atau penahanan hakim. Tembusan tersebut harus diberikan kepada keluarga tersangka;

c. Pasal 29 ayat (7), hak untuk mengajukan keberatan terhadap perpanjangan penahanan;

d. Pasal 30, hak untuk meminta ganti rugi terhadap penahan yang tidak sah sesuai dengan pasal 95 dan 96 KUHAP;

e. Pasal 31 Hak untuk mengajukan penangguhan penahanan dengan atau tanpa jaminan uang atau jaminan orang berdasarkan syarat yang ditentukan f. Hak untuk setiap saat menghubungi penasihat

hukumnya dan bertemu selama masih jam kantor (pasal 57 KUHAP)

g. Dalam hal tersangka atau terdakwa warga asing, setiap saat dapat menghubungi perwakilan negaranya. Pasal 57 ayat (2).

h. Hak tersangka atau terdakwa menerima dokter pribadi atau keluarganya (Pasal 58)

i. Hak untuk menerima kunjungan keluaraga dengan atau tanpa melalui PH nya (pasal 60 dan pasal 61 KUHAP.

j. Hak untuk menerima dan mengirim surat kepada penasehat hukum atau sanak saudaranya (pasal 62 KUHAP).

k. Hak untuk menerima kunjungan rohaniawan, Pasal 63 KUHAP

l. hak untuk mengajukan keberatan atas penahan atau jenis panahanan (pasal 123 KUHAP)

KUHAP secara jelas mengatur mengenai jangka waktu penahan pada pasal 24, 25, 26, 27, 28 dan 29 KUHAP, dimana apabila jangka waktu yang telah diatur tersebut telah

dijalani maka demi hukum tersangka atau terdakwa yang ditahan harus dikeluarkan. Apabila tidak dikeluarkan maka tersangka mempunyai hak mengajukan pra peradilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 77 KUHAP.

Salah satu contoh kasus yaitu dalam perkara pra peradilan pada Pengadilan Negeri Merauke, yang telah diputus sesuai dengan penetapan Pengadilan Nomor : 01/Pid.Pra/2012/PN.Mrk yang dibacakan pada hari Jumat tanggal 15 Juni 2012 menyatakan permohonan praperadilan atas nama : RAMA ROSSY JHON BUTIOP dan RICHARD KUPUMIM dinyatakan gugur dengan pertimbangan pasal 82 ayat (1) huruf (d) KUHAP yang menyebutkan bahwa :

“dalam hal suatu perkara sudah dimulai diperiksa oleh Pengadilan Negeri, sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan kepada praperadilan belum selesai, maka permintaan tersebut gugur”

Berdasarkan hasil wawancara dengan Pengacara dari pemohon praperadilan tersebut bahwa pengajuan prapradilan tersebut terhadap :

a. penangkapan yang tidak sesuai prosedur, dimana orang tua pemohon tidak mengetahui kalau anaknya sudah ditangkap dan setelah 2 minggu baru diketahui kalau anaknya ditangkap oleh penyidik

b. orang tua pemohon hanya menerima tembusan surat perpanjangan penahanan dari Kejari Merauke.

c. Para Pemohon sudah ditahan melebihi batas waktu perpanjangan penahan selama 7 hari namun penyidik tidak mengeluarkan para pemohon demi hukum.

Hal-hal tersebut diatas menunjukkan bahwa perlindungan terhadap hak-hak tersangka yang ditahan, terutama pada masalah prosedur penahanannya masih terjadi pelanggaran yang disebabkan oleh arogansi dari penyidik dan tidak menghargai hak-hak tersebut, padahal tujuan diberikan hak-hak-hak-hak tersebut disamping untuk mewujudkan kepastian hukum, untuk memberi perlindungan terhadap hak asasi dan harkat martabatnya, tetapi juga sebagai rambu-rambu bagi penyidik dalam melaksanakan wewenangnya.

Dokumen terkait