• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Peran

4. Faktor Masyarakatnya

masyarakat terhadap hukum dan pemahaman masyarakat tentang hak-hak dan kewajibannya yang dilindungi oleh undang-undang.

Landasan Hukum :

- UUD RI 1945 (Amandemen)

- UU No. 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP - UU No 39 Tahun 1999 Tentang HAM - UU No. 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan - Instrumen Internasional HAM

Bentuk-bentuk Perlindungan hak-hak tersangka di Kejari Merauke

1. Pada Tahap Penyidikan 2. Pada Tahap

Prapenuntutan

(X1)

Faktor-faktor yang mempengaruhi : 1. Faktor hukum

I. Defenisi Operasional

1. Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur oleh undang-undang untuk mencari dan menemukan alat bukti yang dengan alat bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan menemukan siapa pelakunya.

2. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam hal ini adalah jaksa yang bertugas di Kejari Merauke

3. Penuntut Umum adalah Jaksa yang melakukan tugas penuntutan.

4. Prapenuntutan adalah tindakan Penuntut Umum dalam meneliti berkas perkara dari penyidik untuk meneliti secara seksama kelengkapan syarat formil dan materiil dari berkas perkara tersebut guna menentukan layak tidaknya berkas perkara tersebut ditingkatkan ketahap penuntutan.

5. Penuntutan adalah tindakan Penuntut Umum dalam melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur oleh undang-undang dengan permintaan untuk diperiksa dan diputus oleh hakim di persidangan.

6. Perlindungan Hak adalah setiap tindakan aparat penegak hukum berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh undang-undang untuk

mengakui, melindungi dan memenuhi hak-hak dari pemilik hak dalam hal ini hak-hak dari tersangka dan terdakwa.

7. Pelanggaran hak adalah setiap perbuatan aparat penegak hukum yang tidak memenuhi hak-hak yang telah diatur dalam KUHAP bagi tersangka.

8. Tersangka adalah subyek hukum yang karena perbuatannya atau keadaannya berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana

9. Perspektif diartikan sebagai sudut pandang atau pandangan.

Perspektif dalam hal ini disamakan dengan proyeksi yang mencoba memberi pandangan tentang perlindungan hak-hak tersangka dan terdakwa dari aspek Hak Asasi Manusia.

10. Hak Asasi Manusia didefinisikan sebagai hak-hak yang melekat pada sifat manusia, termasuk didalamnya adalah hak-hak tersangka.

Penelitian ini merupakan penelitian normatif empiris, yaitu penelitian hukum yang fokus kajiannya terhadap ketentuan peraturan-peraturan perundang-undangan dalam penerapannya secara empiris.

Tipe penelitian hukumnya adalah deskriptif analitis, yaitu menjelaskan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan hak-hak tersangka dan terdakwa serta penerapannya secara empiris dalam hal ini berkaitan dengan rumusan masalah yang akan dibahas dalam penulisan ini.

F. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kejaksaan Negeri Merauke Kabupaten Merauke Propinsi Papua. Adapun alasan peneliti memilih lokasi penelitian berdasarkan alasan :1). Faktor kemudahan peneliti dalam memperoleh data karena merupakan tempat tugas peneliti; 2) Luasnya wilayah kerja Kejaksaan Negeri Merauke serta wilayah-wilayah tersebut merupakan daerah pemekaran kabupaten yang memiliki banyak potensi pelanggaran hak-hak terdakwa yang dilakukan oleh aparat penegak hukum.

G. Populasi dan Sampel

Populasi merupakan sejumlah manusia atau unit yang mempunyai ciri-ciri atau karakteristik yang sama. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah Kejaksaan Negeri Merauke, Polresta Merauke, Polres Boven Digoel, Polres Mappi, Polres Asmat, Lapas Kelas II A Kabupaten Merauke serta pelaku tindak pidana di Kabupaten Merauke.

Sampel adalah contoh dari suatu populasi yang cukup besar jumlahnya dan sampel harus dapat mewakili populasi. Sampel dalam penelitian ini bersifat Non-Probability Sampling yaitu suatu teknik pengambilan sampel dimana peran peneliti sangat besar, semua keputusan terletak di tangan peneliti, dengan demikian tidak ada dasar-dasar yang dapat digunakan untuk mengukur sampai berapa jauh sampel yang diambil dapat mewakili populasinya dengan menggunakan Purposive Sampling yaitu peneliti menentukan sendiri responden mana yang dianggap dapat mewakili populasi. Dalam penelitian ini peneliti menetapkan 62 (enam puluh dua) orang yang terdiri atas 5 (lima) orang jaksa, 5 (lima) orang penyidik Polri, 2 (dua) orang pengacara dan 50 (lima puluh) orang terpidana.

Adapun alasan penulis memilih sample tersebut karena sample tersebut berkaitan erat dengan beberapa contoh perkara yang dijadikan menjadi acuan dalam penelitian nanti.

H. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah :

1. Data Primer berupa data yang diperoleh secara langsung di lokasi penelitian yang bersumber dari pihak-pihak yang berkaitan dengan masalah yang diteliti yaitu sample yang telah ditentukan oleh penulis.

2. Data sekunder yang diperoleh dari penelaan kepustakaan berupa peraturan perundang-undangan, literatur-literatur hukum, makalah, hasil penelitian dan dokumen lain yang lain yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.

3. Data tertier, berupa data-data yang diperoleh dari kamus hukum, kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus Bahasa Inggris.

I. Teknik Pengumpulan Data

Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh dengan teknik pengumpulan data yaitu :

1. Wawancara mendalah dengan informan dan pemberian kuisioner pada responden.

2. Studi kepustakaan berupa pengkajian teori-teori dan konsep-konsep, doktrin serta peraturan perundang-undangan, kamus-kamus yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

J. Teknik Analisa Data

Hasil dari penelitian ini berupa data primer dan sekunder selanjutnya dianalisis secara kualitatif hingga diperoleh kesimpulan secar induktif untuk menjawab permasalahan yang teliti.

Adapun mempertajam analisis kualitatif, peneliti juga menggunakan data kuantitatif dalam menyimpulkan hasil peroleh data melalui kuisioner yang dijawab oleh responden yang telah dipilih.

Adapun rumus yang digunakan dalam menganilasa hasil kuisioner adalah:

f

P = --- X 100 % N

Keterangan: P = Presentase F = Frekuensi

n = Jumlah responden

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

J. Perlindungan Hak-Hak Tersangka dalam Perkara Pidana Umum di Kejaksaan Negeri Merauke

Negara Indonesia sebagai negara hukum dimana salah satu unsur dari negara hukum itu adalah menjunjung harkat dan martabat manusia dalam segala aspek termasuk dalam sistem peradilan pidana. KUHAP sebagai landasan hukum bagi sistem penangan pidana terpadu dimana pada pasal-pasal dalam KUHAP tersebut mengatur secara tegas pembatasan kekuasaan negara melalui aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya demi terwujudnya suatu peradilan yang adil.

Hak-hak tersangka ini merupakan rambu-rambu bagi penyidik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sehingga, mencegah terjadinya penyalahgunaan kewenangan bagi penyidik selaku aparat penegak hukum dalam mengungkap suatu perkara, dengan menemukan pelakunya serta dalam mengumpulkan barang bukti dan alat bukti yang cukup yang diperoleh secara sah guna kepentingan pembuktian.

Berdasarkan uraian diatas jelaslah bahwa KUHAP memberikan jaminan perlindungan bagi seseorang yang melakukan tindak pidana sejak dari awal tahapan penanganan perkara hingga akhir proses peradilan pidana bagi pelaku tersebut.

Berkaitan dengan perlindungan hak-hak tersangka dan terdakwa tersebut tentu tidak terlepas dari berjalannya sistem peradilan pidana dengan baik.

Berdasarkan hal tersebut Said Karim (2012 : 1), dalam perkuliahan Sistem Peradilan Pidana menyebutkan bahwa sub sistem dalam sistem peradilan pidana terpadu terdiri dari :

f. Kepolisian dengan ketentuan pokok yang mengatur tugas pokok dan fungsinya yaitu Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002

g. Kejaksaan dengan ketentuan pokok tugas dan fungsinya yaitu Undang-Undang Nomor 16 tahun 2004.

h. Pengadilan dengan ketentuan pokok yang mengatur tugas dan fungsinya yiaitu Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004.

i. Advocat dengan ketentuan pokok yang mengatur tugas dan fungsinya yaitu Undang-Undang Nomor 18 tahun 2003

j. Lembaga Pemasyarakatan dengan ketentuan pokok yang mengatur tugas pokok dan fungsinya yaitu Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995.

Sub-sub sistem tersebut masing-masing berperan dalam setiap tahapan-tahapan dalam penanganan perkara pidana dimana menurut Aswanto (2013) dalam Makalah yang disampaikan pada Simposium Nasional Hukum Pidana dan Kriminologi yang diselenggarakan di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin menyampaikan bahwa :

Desain prosedur (procedurel design) sistem peradilan pidana yang ditata melalui Hukum Acara Pidana (KUHAP) meliputi :

a. Tahap pra-ajudikasi (pre adjudication);

b. Tahap ajudikasi (adjudication);

c. Tahap purna-ajudikasi (post adjudication)

Desain prosedur tersebut dalam KUHAP dijelaskan dalam tahapan proses penanganan perkara pidana sebagai berikut :

6. Tahap penyelidikan yaitu tahapan berupa serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan. KUHAP pada pasal 1 angka 4 menyebutkan bahwa penyelidik adalah pejabat kepolisian negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk melakukan penyelidikan.

7. Tahap penyidikan; tahap ini berupa tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Penyidik sendiri menurut pasal 1 angka 1 adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau

pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan.

8. Tahap penuntutan; berupa tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan.

9. Tahap pemeriksaan di pengadilan; tahapan ini berupa serangkaian tindakan hakim untuk menerima, memeriksa dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur dan tidak memihak di sidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang

10. Tahap Pelaksanaan Putusan; palaksanaan eksekusi oleh jaksa eksekutor dan aktivitas lembaga pemasyarakatan yang berhubungan dengan penghukuman atau pemenjaraan terpidana dan merehabilitasi pelaku tindak pidana agar dapat kembali menjalani kehidupan normal kembali didalam masyarakat.

Pada uraian BAB II telah dijabarkan hak-hak seseorang yang berstatus tersangka. Adapun tersangka sendiri mengandung pengertian barangsiapa yang berdasarkan bukti awal yang cukup diduga merupakan pelaku dari suatu tindak pidana yang terjadi. Untuk meninjau perlindungan hak-hak tersangka yang dalam penanganan perkara tindak pidana umum yang terjadi di wilayah Kejari Merauke dalam kaitannya dengan peran

Proses Prapenuntutan yang dilakukan oleh seorang Penuntut Umum tidak terlepas dari tindakan penyidikan yang dilakukan oleh penyidik dalam mengumpulkan bukti-bukti yang cukup dan dijadikan dalam bentuk berkas perkara yang dikirim kepada PU untuk diteliti kelengkapan formil dan materiilnya.

Penyidikan menurut Pasal 1 angka 2 KUHAP serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur oleh undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti ini membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya; sedangkan pada Pasal 1 angka 1 menyebutkan bahwa penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang ini untuk melakukan penyidikan.

Pasal 7 ayat (1) menjelaskan wewenang penyidik sebagai berikut :

a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;

b. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;

c. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka;

d. Melakukan penangkapan penahanan, pengeladahan dan penyitaan;

e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat

f. Mengambil sidik jari dan memotret

g. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi

h. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;

i. Mengadakan penghentian penyidikan;

j. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab

Berdasarkan kewenangan penyidik tersebut terlihat bahwa tindakan-tindakan penyidik dalam melaksanakan tugas dalam mengumpulkan bukti-bukting serta alat bukti yang yang yang didukung dengan upaya-upaya berupa penangkapan, panahanan, penggeledahan, penyitaan dan dibuat dalam berita acara, sebagaimana disebutkan dalam pasal 8 KUHAP sebagai berikut :

“penyidik membuat berita acara tentang pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 dengan tidak mengurangi ketentuan ini”.

Berita acara yang dimaksud pada pasal 75 KUHAP tersebut dibuat untuk setiap tindakan tentang :

a. Pemeriksaan tersangka b. Penangkapan

c. Penahanan d. Penggeledahan e. Pemasukan rumah f. Penyitaan benda g. Pemeriksaan surat h. Pemeriksaan saksi

i. Pemeriksaan di tempat kejadian

j. Pelaksanaan penetapan dan putusan pengadilan

k. Pelaksaanaan tindakan lain sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini

Berita acara tersebut setelah dilengkapi menjadi berkas perkara hasil penyidikan selanjutnya penyidik menyerahkan kepada PU untuk diteliti kelengkapannya baik secara formiil maupun materiil.

Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negera Republik Indonesia pada pasal 4 menyebutkan bahwa Kepolisian Negara Republik Indonesia bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketenteraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka sedah seharusnya penyidik yang adalah anggota Polri menjunjung tinggi hak asasi manusia termasuk hak-hak dari tersangka.

Berkaitan dengan perlindungan hak-hak tersangka pada tahap penyidikan, secara ideal perlindungan terhadap hak-hak tersangka adalah sebagai berikut :

a. Perlindungan terhadap hak-hak tersangka saat memberikan keterangan.

Hak tersangka untuk memberikan keterangan tanpa ada tekanan ini berhubungan erat dengan hak untuk didampingi oleh PH. Keberadaan PH tentu memberikan nuansa tersendiri dalam pemeriksaan tersangka walaupun pada saat

penyidikan PH hukum masih bersifat pasif, namun tentu kehadiran PH bisa memudahkan tersangka dalam menjalani pemeriksaan dengan tanpa adanya tekanan.

Perlindungan hak tersangka untuk memberikan keterangan tanpa adanya tekanan diatur dalam KUHAP sebagai berikut :

 Hak untuk memberikan keterengan secara bebas tanpa ada tekanan dari siapapun dan atau dalam bentuk apapun (pasal 117 ayat (1) KUHAP)

 Hak untuk dicatat keterangan yang diberikan dengan seteliti-telitinya sesuai dengan kata-kata yang dipergunakan oleh tersangka sendiri (pasal 117 ayat (2) KUHAP)

 Hak untuk meneliti dan membaca kembali hasil pemeriksaan sebelum tersangka menandatangani hasil pemeriksaan tersebut (pasal 118 ayat (1) KUHAP).

Berdasarkan data yang diperoleh bahwa dalam meminta keterangan penyidik mencatat setiap keterangan yang diambil dari tersangka dalam bentuk berita acara dimana pada bagian dari berita acara tersebut telah dimuat pertanyaan yang menanyakan apakah tersangka dalam keadaan sehat dan tidak dalam keadaan tertekan saat memberikan keterangan. Selain itu pada setiap akhir berita

acara tersebut dibubuhi tanda tangan tersangka dan paraf pada bagian bawah kiri di setiap halaman berita acara tersebut untuk menunjukkan bahwa isi dari berita acara tersebut benar sesuai dengan apa yang disampaikan oleh tersangka kepada penyidik yang memeriksanya.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa masih sering terjadi pelanggaran terhadap hak tersangka untuk memberikan keterangan dengan bebas dan tidak tertekan. Hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 1. Jawaban Responden Tentang Hak Untuk Memberikan Keterangan Tanpa Ada Tekanan

No Tindakan penyidik F %

1. Dipukuli dan tindakan kekerasan lain 22 44

2. Dimarahi atau diancam 18 36

3. Tidak dipukuli/dimarahi 10 20

Jumlah 50 100

Sumber : Data Primer Tahun 2013

Tabel diatas menunjukkan bahwa tindakan kekerasan masih terjadi pada saat pemeriksaan tersangka oleh oknum penyidik, hal ini dapat dilihat bahwa 22 orang atau sekitar 44 persen responden yang mengaku dipukuli atau mengalami kekerasan lain oleh penyidik, 18 orang atau 36 persen mengaku dimarahi sedangkan 10 orang atau 20 persen mengaku tidak dipukuli atau dimarahi oleh penyidik.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pengacara pada yang berpraktek pada kabupaten Merauke, menerangkan

bahwa umumnya pelaku kekerasan terhadap tersangka dilakukan bukan oleh penyidik yang memeriksa, artinya tersangka sudah menerima kekerasan dan ancaman oleh oknum polisi atau penyidik lain setelah itu barulah diperiksa oleh penyidik yang menangani perkara tersebut. Modus tersebut dilakukan oleh penyidik untuk mengantisipasi dilakukan pemeriksaan saksi verbalisan jika tersangka pada persidangan mengaku mengalami kekerasan saat diperiksa.

Selanjutnya pada tabel 2 dibawah ini akan digambarkan jawaban responden mengenai tempat mengambil keterangan kepada tersangka yang dilakukan oleh penyidik.

Tabel 2. Pandangan Responden Tentang Tempat Pengambilan Keterangan Dari Penyidik Terhadap Tersangka.

No Tindakan penyidik F %

1. Diperiksa dalam ruangan khusus dan

tersangka diberi tempat duduk 20 40 2. Diperiksa dalam ruangan khusus dan

tersangka hanya berdiri selama pemeriksaan

18 36

3. Diperiksa didepan ruang tahanan dimana tersangka tetap didalam tahanan sambil penyidik menanyakan pertanyaan

12 24

Jumlah 50 100

Sumber : Data Primer Tahun 2013

Tabel diatas jelas menggambarkan bagaimana proses pengambilan keterangan tersangka yang dilakukan oleh

penyidik dimana 20 orang atau sekitar 40 persen mengaku diperiksa dalam ruangan khusus dan tersangka diberi tempat duduk, selanjutnya 18 orang atau 36 persen diperiksa dalam ruangan khusus dan tersangka tidak diberikan tempat duduk, jadi dalam hak ini terdakwa memberikan keterangan sambil berdiri, lebih lanjut sekitar 12 orang atau 24 persen mengaku diambil keterangannya didalam ruangan tahanan, dimana penyidik hanya memberikan pertanyaan dari luar ruangan tahanan dan tersangka memberikan jawabannya melalui balik terali besi.

Tindakan dari beberapa oknum tersebut tentu bertentangan dengan apa yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2004 tentang Kepolisian RI pada Pasal 19 ayat (2) ditegaskan bahwa dalam menjalankan tugasnya kepolisian RI selalu menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia dan hukum negera.

Selain itu praktek penanganan perkara sebagaimana dijelaskan diatas tersebut bertentangan dengan instrumen HAM internasional sebagaimana disebutkan dalam Kovenan Internasional tentang hak-hak sipil dan politik pada Pasal 14 ayat (3) huruf g yang berbunyi bahwa dalam menentukan tindak pidana yang dituduhkan, setiap orang berhak untuk

tidak dipaksa memberikan kesaksian yang memberatkan dirinya, atau dipaksa mengakui kesalahannya.

b. Perlindungan terhadap hak-hak tersangka saat penangkapan dan penahanan

Pasal 1 angka 20 KUHAP menyebutkan bahwa penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan peradilan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Selanjutnya mengenai prosedur penangkapan diatur dalam Pasal 16 hingga Pasal 19 KUHAP.

Pasal 1 angka 21 KUHAP menerangkan bahwa penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa ditempat tertentu oleh penyidik atau Penuntut Umum atau Hakim dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Secara tegas mengenai penahanan diatur dalam Pasal 20 hingga pasal 31 KUHAP

Pada pembahasan sebelumnya telah diuraikan Hak-hak tersangka menurut KUHAP, berikut ini adalah hak-hak tersangka yang ditahan menurut KUHAP yaitu :

a. Pasal 21 ayat (2), hak untuk menerima surat perintah penahanan atau penahanan lanjutan atau penetapan hakim

b. Pasal 21 ayat (3), hak untuk menerima tembusan surat perintah penahanan, penahanan lanjutan atau penahanan hakim. Tembusan tersebut harus diberikan kepada keluarga tersangka;

c. Pasal 29 ayat (7), hak untuk mengajukan keberatan terhadap perpanjangan penahanan;

d. Pasal 30, hak untuk meminta ganti rugi terhadap penahan yang tidak sah sesuai dengan pasal 95 dan 96 KUHAP;

e. Pasal 31 Hak untuk mengajukan penangguhan penahanan dengan atau tanpa jaminan uang atau jaminan orang berdasarkan syarat yang ditentukan f. Hak untuk setiap saat menghubungi penasihat

hukumnya dan bertemu selama masih jam kantor (pasal 57 KUHAP)

g. Dalam hal tersangka atau terdakwa warga asing, setiap saat dapat menghubungi perwakilan negaranya. Pasal 57 ayat (2).

h. Hak tersangka atau terdakwa menerima dokter pribadi atau keluarganya (Pasal 58)

i. Hak untuk menerima kunjungan keluaraga dengan atau tanpa melalui PH nya (pasal 60 dan pasal 61 KUHAP.

j. Hak untuk menerima dan mengirim surat kepada penasehat hukum atau sanak saudaranya (pasal 62 KUHAP).

k. Hak untuk menerima kunjungan rohaniawan, Pasal 63 KUHAP

l. hak untuk mengajukan keberatan atas penahan atau jenis panahanan (pasal 123 KUHAP)

KUHAP secara jelas mengatur mengenai jangka waktu penahan pada pasal 24, 25, 26, 27, 28 dan 29 KUHAP, dimana apabila jangka waktu yang telah diatur tersebut telah

dijalani maka demi hukum tersangka atau terdakwa yang ditahan harus dikeluarkan. Apabila tidak dikeluarkan maka tersangka mempunyai hak mengajukan pra peradilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 77 KUHAP.

Salah satu contoh kasus yaitu dalam perkara pra peradilan pada Pengadilan Negeri Merauke, yang telah diputus sesuai dengan penetapan Pengadilan Nomor : 01/Pid.Pra/2012/PN.Mrk yang dibacakan pada hari Jumat tanggal 15 Juni 2012 menyatakan permohonan praperadilan atas nama : RAMA ROSSY JHON BUTIOP dan RICHARD KUPUMIM dinyatakan gugur dengan pertimbangan pasal 82 ayat (1) huruf (d) KUHAP yang menyebutkan bahwa :

“dalam hal suatu perkara sudah dimulai diperiksa oleh Pengadilan Negeri, sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan kepada praperadilan belum selesai, maka permintaan tersebut gugur”

Berdasarkan hasil wawancara dengan Pengacara dari pemohon praperadilan tersebut bahwa pengajuan prapradilan tersebut terhadap :

a. penangkapan yang tidak sesuai prosedur, dimana orang tua pemohon tidak mengetahui kalau anaknya sudah ditangkap dan setelah 2 minggu baru diketahui kalau anaknya ditangkap oleh penyidik

b. orang tua pemohon hanya menerima tembusan surat perpanjangan penahanan dari Kejari Merauke.

c. Para Pemohon sudah ditahan melebihi batas waktu perpanjangan penahan selama 7 hari namun penyidik tidak mengeluarkan para pemohon demi hukum.

Hal-hal tersebut diatas menunjukkan bahwa perlindungan terhadap hak-hak tersangka yang ditahan, terutama pada masalah prosedur penahanannya masih terjadi pelanggaran yang disebabkan oleh arogansi dari penyidik dan tidak menghargai hak-hak tersebut, padahal tujuan diberikan hak-hak-hak-hak tersebut disamping untuk mewujudkan kepastian hukum, untuk memberi perlindungan terhadap hak asasi dan harkat martabatnya, tetapi juga sebagai rambu-rambu bagi penyidik dalam melaksanakan wewenangnya.

Tahap Prapenuntutan tentu tidak terlepas dari tindakan penyidik dalam melakukan penyidikan sehingga berkas perkara hasil penyidikan tersebut memenuhi syarat secara formil dan materiil dan menurut Penuntut Umum layak ditingkatkan ke tahap Penuntutan.

Adapun tindakan Penuntut Umum pada tahap Prapenuntutan dalam rangka penyempurnaan hasil penyidikan oleh penyidik sebagaimana diuraikan dalam Standar Opersional Prosedur Penanganan Perkara Pidum (SOP Pidum) sebagai berikut :

Setelah Penyidik mengirim SPDP pada Kejaksaan maka ditunjuk Penuntut Umum untuk melakukan tindakan pra penuntutan.

Adapun tindakan yang dilakukan oleh Penuntut Umum dalam tahap Prapenuntutan berdasarkan SOP Penanganan Perkara yaitu :

1. melaksanakan koordinasi dengan penyidik sebelum pemberkasan mengenai terpenuhinya syarat formiil dan syarat materiil dari berkas perkara.

2. melakukan Penelitian Berkas Perkara

a. meneliti berdasarkan hukum acara dan UU lain

b. menentukan sikap tentang lengkap tidaknya berkas perkara tersebut baik secara formiil dan materiil

c. apabila Penuntut Umum (PU) berpendapat bahwa berkas sudah lengkap maka PU membuat Rencana Surat Dakwaan dan selanjutnya memberitahukan kepada

Dokumen terkait