• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

Dalam dokumen SIKAP BAHASA MAHASISWA UHN (Halaman 59-67)

KATA PENGANTAR

II. METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode ini dipergunakan karena peneliti ingin memberikan deskripsi dan memberikan perian tentang sikap mahasiswa program studi pendidikan bahasa Indonesia terhadap bahasa Indonesia dan bahasa Batak. Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen, khususnya Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun pembelajaran 2013/ 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada tahun pembelajaran 2013/ 2014 yang berjumlah 400 orang, dengan pengambilan sampel sebanyak 10%, maka jumlahnya adalah 40 orang. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket, wawancara, dan pengamatan partisipatif. Subjek penelitian diminta untuk mencatat penggunaan bahasa mereka dalam kolom yang disediakan pada angket.

Observasi partisipatif juga digunakan sebagai alat pengumpul data meskipun data yang diperoleh melalui teknik ini sifatnya sebagai alat untuk mempertegas data yang diperoleh melalui angket. Data primer penelitian ini

adalah data survei yang diperoleh melalui angket. Melalui teknik observasi, diperoleh data tentang penggunaan bahasa pada pertemuan-pertemuan intrakelompok. Data seperti itu diperlukan untuk mendukung data yang diperoleh melalui teknik angket.

Data yang diperoleh melalui angket, dianalisis secara kuantitatif. Untuk setiap ciri karakteristik dihitung angka rata-rata nilai (mean) sikap bahasa, dengan menggunakan Skala Likert atau teknik Likert, yaitu dengan cara meminta responden menandai satu posisi pada skala penilaian (rating scale), misalnya 1-5 sesuai dengan kesetujuan atau ketidaksetujuannya atas sebuah pertanyaan. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan sikap bahasa responden, di dalam daftar pertanyaan disediakan lima pilihan jawaban dengan bobot (nilai) sebagai berikut. Nilai 5 untuk sangat setuju, nilai 4 untuk setuju, nilai 3 untuk kurang setuju, nilai 2 untuk tidak setuju, dan nilai 1 untuk sangat tidak setuju. Berdasarkan jawaban yang diberikan responden inilah nantinya akan diketahui nilai rata-rata (mean) untuk setiap pertanyaan. Nilai rata-rata ini diperoleh dengan menggunakan rumus berikut.

Dalam hal ini n1 = jumlah responden yang memberikan nilai 1 untuk karakteristik yang bersangkutan, ... n5 = jumlah responden yang memberikan nilai 5 untuk karakteristik yang bersangkutan. Nilai rata-rata ini dikelompokkan ke dalam dua kelompok; nilai 1,0 – 2,5 dianggap atau ditafsirkan tidak setuju, dan itu dikategorikan sikap negatif, sementara nilai 2,6 – 5,0 dianggap setuju dan dikategorikan sebagai sikap positif.

Demikian juga untuk pertanyaan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa responden berdasarkan hubungan peran dan peristiwa bahasanya. Untuk pertanyaan yang menyediakan lima pilihan jawaban, bobot (nilai) yang diberikan adalah: 5 untuk selalu bahasa Indonesia, 4 untuk lebih banyak bahasa Indonesia, 3 untuk bahasa Indonesia sama banyaknya dengan bahasa Batak, 2 untuk lebih banyak bahasa Batak, dan 1 untuk selalu bahasa Batak. Untuk mencari nilai rata-rata digunakan rumus yang sama seperti di atas. Sementara itu, untuk pernyataan yang menyediakan 2 pilihan jawaban, nilai 2 diberikan untuk bahasa Indonesia, dan nilai 1 untuk bahasa Batak. Dengan mengetahui angka rata-rata dan standar penyimpangan (standar deviasi), maka akan diperoleh atau diketahui kecenderungan pemertahanan bahasa responden. Nilai rata-rata yang diperoleh untuk tiap-tiap pertanyaan dikelompokkan menjadi dua, yaitu kecenderungan pemertahanan yang aktif, atau pemertahanan yang pasif. Pemertahanan dianggap tinggi jika nilai rata-ratanya ada pada kisaran 2,6 – 5,0 dan sebaliknya, pemertahanan dianggap rendah jika nilai rata-ratanya ada pada kisaran 1,0 - 2,5. III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan kuesioner yang diisi oleh responden ditemukan bahwa kecenderungan responden berasal dari daerah di luar Kota Medan yang menggunakan bahasa Batak Toba sebagai bahasa ibu. Hal itu akan disajikan dalam tabel mengenai sikap bahasa mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia terhadap bahasa Batak Toba dan bahasa Indonesia di bawah ini.

Tabel 3. Sikap Bahasa Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Karakteristik No. Soal Frekuensi Rata-rata Sikap Bahasa SS (%) S (%) KS (%) TS (%) STS (%) I. Sikap Mahasiswa terhadap

Bahasa Batak Toba

1 33 7 0 0 0 4,8 P 2 5 15 20 0 0 3,6 P 3 7 9 6 14 4 3 P 4 5 12 9 11 3 3,1 P 5 2 5 17 13 3 2,8 P 6 9 18 12 1 0 3,9 P 7 4 12 11 9 4 3,1 P 8 7 26 6 0 1 4 P 9 2 9 18 10 1 3 P 10 5 20 7 8 0 3,6 P 11 16 21 3 0 0 4,3 P 12 23 17 0 0 0 4,6 P 13 20 18 2 0 0 4,5 P 14 34 6 0 0 0 4,9 P 15 29 10 1 0 0 4,7 P

II. Sikap Bahasa Mahasiswa terhadap Bahasa Indonesia

16 25 15 0 0 0 4,6 P 17 14 25 1 0 0 4,3 P 18 6 28 5 1 0 4 P 19 9 27 3 1 0 4,1 P 20 20 18 1 0 1 4,4 P 21 2 30 7 1 0 3,8 P 22 1 18 14 7 0 3,3 P 23 5 29 5 1 0 4 P 24 11 27 2 0 0 4,2 P 25 5 33 2 0 0 4,1 P 26 8 18 14 0 0 3,9 P 27 8 13 17 2 0 3,7 P 28 12 17 10 1 0 4 P 29 8 21 11 0 0 3,9 P 30 5 11 19 5 0 3,4 P

III. Pemilihan Bahasa 31 2 2 15 16 5 2,5 N

32 2 1 7 14 16 2 N 33 3 9 12 14 2 2,9 P 34 1 7 19 6 7 2,7 P 35 8 12 14 8 8 3,1 P 36 7 2 8 12 11 2,6 P 37 8 5 10 9 8 2,9 P 38 3 4 8 11 14 2,3 N 39 18 9 7 1 5 3,9 P 40 12 12 12 3 1 3,8 P

Berdasarkan tabel tersebut dapat ditemukan bahwa sikap mahasiswa terhadap bahasa Batak Toba cenderung positif. Dari 15 soal kuesioner yang diujikan kepada 40 responden, semua soal menunjukkan nilai yang sangat baik, yakni rentang 2,6 – 5,0. Hal itu mencerminkan bahwa mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia memiliki sikap yang positif terhadap bahasa Batak Toba. Soal kuesioner tersebut akan dibahas dalam paparan di bawah ini.

(1) Bahasa Batak Toba merupakan identitas suku

(2) Bahasa Batak Toba merupakan alat komunikasi masyarakat di lingkungan kota Medan.

Soal di atas merupakan soal pada nomor urut soal (1) dan (2). Soal tersebut digunakan untuk mengetahui keberadaan bahasa Batak Toba dalam pemahaman para responden. Berdasarkan kuesioner yang telah diisi oleh responden, terlihat bahwa rata-rata nilai pada soal nomor (1) mencapai 4,8, sedangkan pada soal nomor (2) mencapai 3,6. Hal itu menyiratkan bahwa para responden sangat setuju bahwa Bahasa Batak Toba merupakan identitas suku dan dapat digunakan sebagai alat komunikasi masyarakat di lingkungan kota Medan. Lebih jelas akan terlihat pada tabel di bawah ini.

Sejalan dengan penjelasan di atas, soal di bawah ini merupakan soal yang menunjukkan hubungan intrakelompok penutur bahasa Batak Toba yang berada di lingkungan Kota Medan pada umumnya, dan di lingkungan Universitas HKBP Nommensen pada khususnya.

(3) Bahasa Batak Toba mampu menyampaikan gagasan dengan baik dalam lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

(4) Bahasa Batak Toba digunakan ketika bercerita (berbincang-bincang) dengan teman Anda atau orang di sekitar Anda di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

Berdasarkan perolehan nilai ditemukan bahwa penggunaan bahasa Batak Toba juga mampu menunjukkan hubungan baik antarmahasiswa sesama penutur bahasa Batak Toba. Hal tersebut terlihat pada tabel di atas.

Selain itu juga disajikan beberapa soal atau pertanyaan yang merujuk pada keseringan penggunaan bahasa Batak Toba sesuai dengan peristiwa bahasa. Berikut soal yang dimaksud.

(5) Bahasa Batak Toba digunakan ketika bersenda gurau dengan teman-teman di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

(6) Bahasa Batak Toba digunakan ketika bercerita tentang (berbincang-bincang) dengan teman Anda atau orang di sekitar Anda di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

(7) Bahasa Batak Toba digunakan untuk mengekspresikan kemarahan di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

(8) Bahasa Batak Toba digunakan ketika bersenda gurau dengan teman-teman di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

(9) Bahasa Batak Toba digunakan ketika memba ca (berhitung) dalam hati di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

(10)Bahasa Batak Toba digunakan ketika mengadakan percakapan melalui telepon di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

Soal tersebut mengarahkan peneliti untuk mengetahui intensitas penggunaan bahasa Batak Toba para responden dalam setiap peristiwa bahasa, baik dalam bercerita, membaca, marah, bergurau, maupun ketika mengadakan

percakapan dalam telepon. Berdasarkan soal tersebut diperoleh nilai baik yang menunjukkan sikap positif para responden terhadap bahasa Batak Toba.

Bentuk soal yang terakhir dalam kuesioner yang dibagikan merupakan soal mengenai tanggapan para responden terhadap bahasa Batak Toba. Hal itu digambarkan sebagai keramahtamahan, kekeluargaan, keakraban, kecintaan terhadap suku, dan kekayaan budaya yang perlu dilestarikan. Lebih jelas terlihat dalam soal berikut ini.

(11) Bahasa Batak Toba menunjukkan keramahtamahan. (12) Bahasa Batak Toba menunjukkan kekeluargaan.

(13) Bahasa Batak Toba menunjukkan keakraban/ keintiman.

(14) Penggunaan bahasa Batak Toba menunjukkan kecintaan terhadap suku. (15) Penggunaan bahasa Batak Toba menunjukkan kekayaan budaya yang perlu dilestarikan dan dipertahankan.

Berdasarkan semua paparan di atas dapat disimpulkan bahwa sikap para responden terhadap bahasa Batak Toba merupakan sikap yang sangat positif. Rentang nilai yang ditentukan untuk sikap positif adalah 2,6 – 5,0, dan apabila hal itu diperhatikan pada perolehan nilai para responden, dapat ditemukan bahwa nilai-nilai tersebut mendekati nilai sempurna. Dengan demikan, sikap mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia terhadap penggunaan bahasa Batak Toba tergolong positif.

Perolehan nilai yang ditunjukkan para responden melalui hasil uji data tidak jauh berbeda dibanding sikap sebelumnya. Perolehan nilai menunjukkan bahwa bahwa sikap mahasiswa terhadap bahasa Indonesia cenderung positif. Hal itu mencerminkan bahwa mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia juga memiliki sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia, meski memiliki kecintaan terhadap bahasa ibunya, yakni bahasa Batak Toba. Soal kuesioner yang disajikan untuk mengetahui sikap terhadap bahasa Indonesia juga tidak berbeda dengan soal yang digunakan untuk mengetahui sikap terhadap bahasa Batak Toba. Soal tersebut akan dibahas dalam paparan di bawah ini.

(1) Bahasa Indonesia merupakan identitas bangsa.

(2) Bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi masyarakat di lingkungan kota Medan.

Berdasarkan kuesioner yang telah diisi oleh responden, terlihat bahwa rata-rata nilai pada soal nomor (1) mencapai 4,6, sedangkan pada soal nomor (2) mencapai 4,3. Untuk soal nomor (1), perbedaan perolehan nilai yang terdapat pada sikap terhadap bahasa Batak Toba dan sikap terhadap bahasa Indonesia hanya sekitar 0,2. Hal itu menyiratkan bahwa responden sangat setuju untuk menjadikan bahasa Batak Toba sebagai identitas suku dan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. Selain itu, pada soal nomor (2), terdapat perbedaan nilai yang cukup signifikan antara sikap terhadap bahasa Batak Toba dengan sikap terhadap bahasa Indonesia. Hal ini menyiratkan bahwa para responden lebih setuju menjadikan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi di kota Medan, daripada bahasa Batak Toba. Berkaitan dengan itu, pemahaman para responden tergolong baik mengingat bahasa Indonesia harus dijadikan sebagai pemersatu dan digunakan dalam konteks yang tepat.

Sejalan dengan penjelasan di atas, soal di bawah ini merupakan soal yang menunjukkan hubungan intrakelompok penutur bahasa Indonesia yang berada di

lingkungan Kota Medan pada umumnya, dan di lingkungan Universitas HKBP Nommensen pada khususnya.

(3) Bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi yang digunakan mahasiswa di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

(4) Bahasa Indonesia mampu menyampaikan gagasan dengan baik dalam lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

Berdasarkan perolehan nilai ditemukan bahwa penggunaan bahasa Indonesia juga mampu menunjukkan hubungan baik antarmahasiswa sesama penutur bahasa Indonesia.

Selain itu juga disajikan beberapa soal atau pertanyaan yang merujuk pada keseringan penggunaan bahasa Batak Toba sesuai dengan peristiwa bahasa. Berikut soal yang dimaksud.

(5) Bahasa Indonesia digunakan ketika berkomunikasi dalam konteks formal, seperti ketika belajar di ruangan kelas.

(6) Bahasa Indonesia digunakan ketika bercerita tentang (berbincang-bincang) dengan teman Anda atau orang di sekitar Anda di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

(7) Bahasa Indonesia digunakan untuk mengekspresikan kemarahan di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

(8) Bahasa Indonesia digunakan ketika bersenda gurau dengan teman-teman di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

(9) Bahasa Indonesia digunakan ketika membaca (berhitung) dalam hati di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

(10)Bahasa Indonesia digunakan ketika mengadakan percakapan melalui telepon di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.

Soal tersebut mengarahkan peneliti untuk mengetahui intensitas penggunaan bahasa Batak Toba para responden dalam setiap peristiwa bahasa, baik dalam bercerita, membaca, marah, bergurau, maupun ketika mengadakan percakapan dalam telepon. Berdasarkan soal tersebut diperoleh nilai baik yang menunjukkan sikap positif para responden terhadap bahasa Batak Toba.

Bentuk soal yang terakhir dalam kuesioner yang dibagikan merupakan soal mengenai tanggapan (konsep) para responden terhadap bahasa Indonesia. Hal itu digambarkan sebagai keramahtamahan, kekeluargaan, keakraban, kecintaan terhadap suku, dan kekayaan budaya yang perlu dilestarikan. Lebih jelas terlihat dalam soal berikut ini.

(11) Kemampuan dan kemahiran dalam berbahasa Indonesia menunjukkan intelegensi/ kepandaian seseorang.

(12) Pengetahuan yang baik tentang bahasa Indonesia menunjukkan tingginya pendidikan seseorang.

(13) Penggunaan bahasa Indonesia menunjukkan kepercayaan diri. (14) Penggunaan bahasa Indonesia menunjukkan kemajuan/ kemodrenan. (15) Penggunaan yang baik tentang bahasa Indonesia berarti menjamin

posisi/ kedudukan yang baik.

Berdasarkan semua paparan di atas dapat disimpulkan bahwa sikap para responden terhadap bahasa Indonesia merupakan sikap yang sangat positif. Rentang nilai yang ditentukan untuk sikap positif adalah 2,6 – 5,0, dan apabila hal itu diperhatikan pada perolehan nilai para responden, dapat ditemukan bahwa nilai-nilai tersebut mendekati nilai sempurna. Dengan demikan, sikap mahasiswa

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia terhadap penggunaan bahasa Indonesia tergolong positif.

Sikap bahasa tidak akan bisa melepaskan diri dari pemilihan bahasa. Oleh karena itu, berdasarkan kuesioner yang telah dibagikan kepada para responden ditemukan bahwa dari sepuluh soal yang disajikan, tujuh di antaranya menggambarkan sikap yang positif, sedangkan tiga di antaranya menunjukkan sikap yang negatif dengan perincian soal sebagai berikut.

(1) Bahasa apakah yang Anda gunakan sehari-hari kepada teman sesuku di rumah (lingkungan kost)?

(2) Bahasa apakah yang Anda gunakan sehari-hari kepada teman Anda sesuku jika bertemu di luar rumah?

(3) Bahasa apakah yang lebih Anda sukai di dalam percakapan dengan teman-teman Anda di lingkungan Universitas HKBP Nommensen. (4) Menurut Anda, bahasa apa yang terasa lebih indah?

(5) Jika Anda bersenandung, bahasa apakah yang Anda gunakan? (6) Jika Anda menggerutu, bahasa apakah yang Anda gunakan?

(7) Jika sedang mengkhayal/ merenung, bahasa apakah yang Anda gunakan? (8) Dengan teman karib, bahasa apa yang paling sering Anda gunakan jika

berada di rumah, di rumah teman, di jalan, dsb. pada saat berbincang-bincang tentang masalah pribadi dengan teman sesuku.

(9) Bahasa apa yang digunakan jika berdoa/ memohon kepada Tuhan? (10)Bahasa apa yang digunakan jika mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada teman atau orang-orang di sekitar Anda?

Berdasarkan perolehan nilai dalam tabel dan soal yang diurutkan di atas dapat diketahui bahwa soal nomor (1), (2), dan (8) menggambarkan sikap negatif. Hal itu menyiratkan bahwa para responden cenderung memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari dengan teman sesuku di lingkungan kost. Selain itu, para responden juga cenderung memilih menggunakan bahasa Indonesia apabila bertemu dengan teman-teman sesuku Batak Toba di luar rumah. Bahkan, sesuai dengan data, juga ditemukan bahwa para responden juga cenderung memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam bercerita atau berbincang-bincang mengenai masalah pribadi dengan teman karib. Ketiga soal tersebut menggambarkan pemilihan bahasa Indonesia dalam tiga konteks yang berbeda, maka sikap terhadap bahasa Batak Toba digolongkan dalam sikap negatif.

Berbeda dengan hal di atas, tujuh soal dari sepuluh soal, yakni soal (3), (4), (5), (6), (7), (9), dan (10) yang disajikan untuk mengukur pemilihan bahasa menggambarkan sikap yang positif. Hal itu menyiratkan bahwa para responden memilih menggunakan bahasa Batak Toba dalam percakapan, bersenandung, menggerutu, mengkhayal/ merenung, berdoa/ memohon kepada Tuhan, dan mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada orang-orang yang ada di sekitar mereka. Dengan demikian, hal itu menyimpulkan bahwa para responden, yakni mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia memiliki sikap yang sangat positif terhadap penggunaan dan pemilihan bahasa Batak Toba sebagai bahasa sehari-hari.

Sikap positif yang dijelaskan di atas merupakan sikap antusiasme terhadap penggunaan bahasa Batak Toba. Kecintaan terhadap bahasa tersebut digambarkan dengan sikap positif, dan sikap positif tersebut tercermin dari intensitas pemilihan

penggunaan bahasa tersebut dalam percakapan sehari-hari. Hal ini pula yang akan menjadi bentuk pemertahanan bahasa sebagai bagian dari kebudayaan dan sekaligus kearifan lokal.

IV. KESIMPULAN 4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dipaparkan di atas, maka simpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Sikap para responden terhadap bahasa Batak Toba tergolong dalam sikap yang sangat positif. Hal itu tergambar dari 15 soal yang diberikan dan semuanya menunjukkan sikap yang sangat positif. Nilai rata-rata yang diperoleh adalah 4,1. Oleh karena itu, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia memiliki sikap yang positif terhadap penggunaan bahasa Batak Toba.

2. Sikap para responden terhadap Indonesia juga tergolong dalam sikap yang sangat positif. Hal itu tergambar dari 15 soal yang diberikan dan semuanya menunjukkan sikap yang sangat positif. Nilai rata-rata yang diperoleh adalah 4,2. Oleh karena itu, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia memiliki sikap yang positif terhadap penggunaan bahasa Indonesia.

3. Sikap para responden terhadap penggunaan dan pemilihan bahasa Batak Toba sebagai bahasa sehari-hari tergolong sikap yang positif. Tujuh dari sepuluh soal menggambarkan sikap yang positif, sedangkan tiga lainnya menggambarkan sikap yang negatif. Oleh karena itu, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia memilih menggunakan bahasa Batak Toba sebagai bahasa dalam percakapan sehari-hari.

4.2 Saran

Sikap positif yang dijelaskan di atas merupakan sikap antusiasme terhadap penggunaan bahasa Batak Toba. Kecintaan terhadap bahasa tersebut digambarkan dengan sikap positif, dan sikap positif tersebut tercermin dari intensitas pemilihan penggunaan bahasa tersebut dalam percakapan sehari-hari. Hal ini pula yang akan menjadi bentuk pemertahanan bahasa sebagai warisan kebudayaan. Selain itu, sikap bahasa juga akan menjadi inventaris suku bangsa sebagai bagian dari kebudayaan dan sekaligus kearifan lokal.

DAFTAR PUSTAKA

Alwasila, A. Chaedar. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa

Arikunto, Suharsimi. 2000. Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara .2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Boomfield, leonardo.1993.Language.New York: holt, Rinerhart end Winston. Chaplin, J.P. 1968. Dictionary of Psykology. New York: American Book Co. Chaer, Abdul. Agustina Leoni. 1995. Sosiolingustik Perkenalan Awal. Jakarta:

Depdiknas. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Edwards, Alen L. 1957. Technique of Attitude Scale Construction. Newyork:

Apleton Century Crofts.

Evan, K.M. 1965. Attitude and Interest in Education. London: Routledge and Kegan Paul.

Fishbein, Martin (ed). 1967. Attitude Theory and Measurement. New York: John Wiley and Sons. Inc.

Garvin, P.L. Mathiot M. 1968. The Urbaization of Guarani Language. Problem in Language and Culture, dalam Fishman, J.A. (Ed) Reading in Tes Sosiology of Language, Mounton. Paris–The Hague.

Gerungan. 1987. Psikologi Sosiologi. Bandung: Eresco.

Kridalaksana, Hanmurti. 1987. Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa. Jakarta: PT Gramedia

Nababan, P.W.J. 1991. Sosiolingustik Suatu Pengantar. Jakarta: PT Gramedia. Richard, et al. 1985. Longman Dictionary of Apllied Linguistict.

Rusyana, Yus. 1982. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: C.V. Diponegoro.

Rusyana. 1984. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa.

Suwito. 1983. Pengantar Awal Sosiolingustik (Edisi 2). Surakarta: FS UNS --- 1988. Perihal Kedwibahasaan (Bilingualisme). Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti PPLPT.

Dalam dokumen SIKAP BAHASA MAHASISWA UHN (Halaman 59-67)

Dokumen terkait