BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang digunakan manusia untuk menyampaikan pesan dan tujuan kepada orang lain. Bahasa dijadikan sebagai mediasi dalam menyampaikan konsep yang tersimpan dalam pikiran untuk disampaikan kepada penerima pesan. Ciri tersebut sekaligus menandai harkat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang bercirikan multietnik. Multietnik tersebut sekaligus menandai banyaknya bahasa daerah yang menunjukkan identitas setiap etnik. Kelompok-kelompok etnik tersebut masing-masing mempunyai kebudayaan dan bahasa yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, bahasa Indonesia muncul sebagai pemersatu setiap etnik tersebut untuk menjalin interaksi antaretnik dalam menyampaikan pesan dari yang satu kepada yang lain. Bahasa Indonesia yang hidup di tengah-tengah multietnik berada di tengah masyarakat yang bercirikan dwibahasawan maupun multibahasawan. Setiap orang menguasai bahasa daerah dan menguasai bahasa Indonesia.
Pemilihan bahasa (language choice) dapat dikaji berdasarkan perspektif penggunaan bahasa dan penentuan bahasa. Masalah pemilihan bahasa biasanya terjadi di masyarakat bahasa, baik yang berdwibahasa maupun yang berganda bahasa (multilingual). Kontribusi pemilihan bahasa sebagai langkah penentuan bahasa merujuk ke arah penentuan garis haluan kebahasaan (kebijaksanaan bahasa) yang tercermin lewat perencanaan bahasa.
Sedangkan sikap bahasa merupakan perasaan seseorang tentang obyek, aktivitas, peristiwa dan orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yang merepresentasikan suka atau tidak sukanya (positif, negatif, atau netral) seseorang terhadap sebuah bahasa.
Program studi pendidikan bahasa Indonesia merupakan wadah yang menempah para mahasiswa yang akan memberikan pengajaran kepada anak-anak mengenai penggunaan bahasa Indonesia di tengah-tengah masyarakat. Umumnya, bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa kedua, di samping bahasa daerah yang sebelumnya telah menjadi bahasa pertama (bahasa ibu).
Sikap dapat memudahkan seseorang mempelajari bahasa kedua. Hasil penelitian Lambert at all (1968, dalam Fasold 1984:148) menunjukkan bahwa sikap dapat mempengaruhi pemelajaran bahasa kedua. Sikap yang positif terhadap bahasa kedua memungkinkan seseorang untuk lebih cepat memahami bahasa kedua tersebut. Sebaliknya, sikap negatif terhadap bahasa kedua akan menghalangi pemahaman bahasa kedua tersebut.
para calon guru, yang dalam hal ini mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, agar mereka juga berhasil mengarahkan para siswa untuk melakukan hal yang sama.
Universitas HKBP Nommensen, khususnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, memiliki mahasiswa yang mayoritasnya berasal dari suku Batak Toba. Kondisi tersebut menyebabkan kecenderungan penggunaan bahasa tersebut dalam beberapa konteks. Konteks tersebut tidak dipermasalahkan apabila tidak termasuk konteks formal seperti proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, penelitian ini akan memfokuskan pengkajian pada sikap bahasa mahasiswa dalam menggunakan bahasa Batak dan bahasa Indonesia, baik dalam konteks formal maupun dalam konteks nonformal.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka akan diadakan penelitian yang bertajuk, “Sikap Bahasa Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
Beretnis Batak dalam Konteks Kedwibahasaan: Ancangan Sosiolinguistik”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan di atas, maka masalah tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut.
1. Tingginya pluralitas mahasiswa etnis Batak yang dididik dalam program studi Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.
2. Tingginya intensitas interferensi penggunaan bahasa Batak Toba dalam konteks pembelajaran.
C. Batasan Masalah
Penelitian ini hanya difokuskan pada pengkajian sikap bahasa mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas HKBP Nommensen beretnis Batak dalam konteks kedwibahasaan. Sikap bahasa yang akan dikaji adalah sikap terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan sikap terhadap bahasa Batak sebagai bahasa daerah.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang disajikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah sikap mahasiswa program studi pendidikan bahasa Indonesia FKIP Universitas HKBP Nommensen terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional?
2. Bagaimanakah sikap mahasiswa program studi pendidikan bahasa Indonesia FKIP Universitas HKBP Nommensen terhadap bahasa Batak?
E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang dapat dicapai adalah sebagai berikut.
2. Untuk mengetahui sikap mahasiswa program studi pendidikan bahasa Indonesia FKIP Universitas HKBP Nommensen terhadap bahasa Batak sebagai bahasa daerah.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Hasil penelitian ini dapat memberi motivasi bahwa bahasa Indonesia harus
digunakan dalam konteks formal, sedangkan bahasa Batak digunakan dalam konteks nonformal.
2. Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi dosen pengajar bahasa Indonesia untuk mengarahkan mahasiswa menggunakan bahasa yang baik dan benar.
3. Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu pengajaran bagi mahasiswa program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia sejak dini.
BAB II
LANDASAN TEORETIS, KERANGKA KONSEPTUAL, DAN PERTANYAAN PENELITIAN
A. Landasan Teoretis
1. Sikap Bahasa
a. Hakikat Sikap Bahasa
Sikap bahasa adalah posisi mental atau perasaan terhadap bahasa sendiri atau bahasa orang lain (Kridalaksana, 2001:197). Dalam bahasa Indonesia kata „sikap‟ dapat mengacu pada bentuk tubuh, posisi berdiri yang tegak, perilaku atau
gerak-gerik, dan perbuatan atau tindakan yang dilakukan berdasarkan pandangan (pendirian, keyakinan, atau pendapat) sebagai reaksi atas adanya suatu hal atau kejadian.
Sikap merupakan fenomena kejiwaan, yang biasanya termanifestasi dalam bentuk tindakan atau perilaku. Sikap tidak dapat diamati secara langsung. Untuk mengamati sikap dapat dilihat melalui perilaku, tetapi berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa apa yang nampak dalam perilaku tidak selalu menunjukkan sikap. Begitu juga sebaliknya, sikap seseorang tidak selamanya tercermin dalam perilaku atau tindakannya.
(langue), sedangkan perilaku tutur lebih cenderung merujuk kepada pemakaian bahasa secara konkret (parole).
Triandis (1971) berpendapat bahwa sikap adalah kesiapan bereaksi terhadap suatu keadaan atau kejadian yang dihadapi. Kesiapan ini dapat mengacu kepada “sikap perilaku”. Menurut Allport (1935), sikap adalah kesiapan mental
dan saraf, yang terbentuk melalui pengalaman yang memberikan arah atau pengaruh yang dinamis kepada reaksi seseorang terhadap semua objek dan keadaan yang menyangkut sikap itu. Sedangkan Lambert (1967) menyatakan bahwa sikap itu terdiri dari tiga komponen, yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen konatif. Penjelasan ketiga komponen tersebut sebagai berikut.
a) Komponen kognitif berhubungan dengan pengetahuan mengenai alam sekitar dan gagasan yang biasanya merupakan kategori yang dipergunakan dalam proses berpikir.
b) Komponen afektif menyangkut masalah penilaian baik, suka atau tidak suka, terhadap sesuatu atau suatu keadaan, maka orang itu dikatakan memiliki sikap positif. Jika sebaliknya, disebut memiliki sikap negatif. c) Komponen konatif menyangkut perilaku atau perbuatan sebagai “putusan
akhir” kesiapan reaktif terhadap suatu keadaan.
hubungan ketiga komponen itu tidak sejalan. Apabila ketiga komponen itu sejalan, maka bisa diramalkan perilaku itu menunjukkan sikap. Tetapi kalau tidak sejalan, maka dalam hal itu perilaku tidak dapat digunakan untuk mengetahui sikap. Banyak pakar yang memang mengatakan bahwa perilaku belum tentu menunjukkan sikap.
Edward (1957) mengatakan bahwa sikap hanyalah salah satu faktor, yang juga tidak dominan, dalam menentukan perilaku. Oppenheim (1976) dapat menentukan perilaku atas dasar sikap. Sedangkan Sugar (1967) berdasarkan penelitiannya memberi kesimpulan bahwa perilaku itu ditentukan oleh empat buah faktor utama, yaitu sikap, norma sosial, kebiasaan, dan akibat yang mungkin terjadi. Dari keempat faktor itu dikatakan bahwa kebiasaan adalah faktor yang paling kuat, sedangkan sikap merupakan faktor yang paling lemah. Jadi, dengan demikian jelas bahwa sikap bukan satu-satunya faktor yang menentukan perilaku, tetapi yang paling menentukan perilaku adalah kebiasaan.
a) Kesetiaan Bahasa (Language Loyalty) yang mendorong masyarakat suatu bahasa mempertahankan bahasanya dan apabila perlu mencegah adanya pengaruh bahasa lain.
b) Kebanggaan Bahasa (Language Pride) yang mendorong orang mengembangkan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambang identitas dan kesatuan masyarakat.
c) Kesadaran adanya norma bahasa (Awareness Of The Norm) yang mendorong orang menggunakan bahasanya dengan cermat dan santun merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap perbuatan yaitu kegiatan menggunakan bahasa (language use).
Ketiga ciri yang dikemukakan Garvin dan Mathiot tersebut merupakan ciri-ciri sikap positif terhadap bahasa. Sikap positif yaitu sikap antusiasme terhadap penggunaan bahasanya (bahasa yang digunakan oleh kelompoknya/ masyarakat tutur di mana dia berada). Sebaliknya jika ciri-ciri itu sudah menghilang atau melemah dari diri seseorang atau dari diri sekelompok orang anggota masyarakat tutur, maka berarti sikap negatif terhadap suatu bahasa telah melanda diri atau kelompok orang itu. Ketiadaan gairah atau dorongan untuk mempertahankan kemandirian bahasanya merupakan salah satu penanda sikap negatif, bahwa kesetiaan bahasanya mulai melemah, yang bisa berlanjut menjadi hilang sama sekali.
gengsi, menganggap bahasa tersebut terlalu rumit atau susah dan sebagainya. Sikap negatif juga akan lebih terasa akibat-akibatnya apabila seseorang atau sekelompok orang tidak mempunyai kesadaran akan adanya norma bahasa. Sikap tersebut nampak dalam tindak tuturnya. Mereka tidak merasa perlu untuk menggunakan bahasa secara cermat dan tertib, mengikuti kaidah yang berlaku.
b. Jenis-jenis Sikap Bahasa
Tata keyakinan atau kognisi yang relatif berjangka panjang, sebagian mengenai bahasa, mengenai objek bahasa, yang memberi kecenderungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya. Sikap itu biasanya akan ada sikap positif (kalau dinilai baik atau disukai) dan biasanya negatif (kalau dinilai tidak baik atau tidak disukai), maka sikap terhadap bahasa pun demikian.
Sikap bahasa menunjukkan senang atau tidaknya seorang penutur bahasa terhadap suatu bahasa. Oleh karena itu, bahasa dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni sikap posif dan sikap negatif. Menurut Anderson (dalam Chaer, 1995 : 200) sikap bahasa adalah sebagai berikut.
1) Sikap positif
Adul (1986 : 44) berpendapat bahwa “pemakai bahasa bersifat positif ialah
pemakaian bahasa yang memihak kepada bahasa yang baik dan benar, dengan wajar dan sesuai dengan situasi”. Dittmar, (dalam Suwito, 1996 : 31)
(1) Keberhasilan suatu bangsa yang multilingual dalam menentukan salah satu bahasa yang dijadikan sebagai bahasa nasional dari sejumlah bahasa yang dimiliki bangsa tersebut;
(2) Kecermatan pemakaian bentuk bahasa dan struktur bahasa serta ketepatan dalam pemilihan kata yang dipergunakan oleh pemakai bahasa;
(3) Sejauhnya mengurangi atau manusia, menghilangkan sama sekali warna bahasa daerah atau dialeknya dalam berbahasa nasional.
Sedangkan Garvin dan Marthiot (dalam Suwito, 1996 : 31) mengemukakan ciri- ciri pokok sikap berbahasa positif yaitu: “kesetiaan bahasa, kebanggaan bahasa, dan kesadaran akan adanya norma bahasa”.
2) Sikap negatif
Adul (1986 : 44), berpendapat “pemakaian bahasa bersifat negatif adalah
tidak mengacuhkan pemakaian bahasa yang baik dan benar, tidak memperdulikan situasi bahasa, tidak berusaha memperbaiki diri dalam berbahasa”. Sikap negatif terhadap bahasa merupakan sikap yang tidak bertanggung jawab terhadap bahasa nasionalnya. Ia akan beranggapan bahwa bahasa orang lain lebih baik dari bahasanya sehingga timbul sikap negatif terhadap bahasa.
Garvin dan Marthiot, (dalam suwito, 1996 : 33) memberikan ciri-ciri sikap bahasa negatif pemakai bahasa adalah sebagai berikut.
(2) Jika seseorang atau sekelompok orang sebagai anggota suatu masyarakat tidak ada rasa bangga terhadap bahasanya dan mengalihkan kebanggannya kepada bahasa lain yang bukan miliknya.
(3) Jika seseorang atau sekelompok orang sebagai anggota suatu masyarakat sampai kepada ketidaksadaran akan adanya norma bahasa. Sikap demikian biasanya akan mewarnai hampir seluruh perilaku berbahasanya. Mereka tidak ada lagi dorongan atau merasa terpanggil untuk memelihara cermat bahasanya dan santun bahasanya.
Moeliono (dalam Antilan, 1996 : 34) memberikan rincian tentang sikap bahasa negatif yakni sebagai berikut.
(1) Sikap yang meremehkan mutu sejajar dengan sikap bahasa orang yang sudah puas dengan mutu bahasa yang tidak perlu tinggi, asal saja dimengerti.
(2) Sikap yang suka menerobos terpantul dalam sikap bahasa yang merasa dapat memperoleh kemahiran tanpa bertekun.
(3) Sikap harga tunadiri dapat disaksikan perwujudannya dalam sikap bahasa orang yang dalam hati kecilnya beranggapan bahwa bahasa lain lebih bergengsi dan lebih bermutu.
(4) Sikap yang menjauh dari disiplin tercermin pada sikap bahasa orang yang tidak merasa mutlak mengikuti kaidah bahasa.
(5) Sikap yang enggan memikul tanggung jawab kolerat bahasanya terungkap dalam ucapan, “apa yang salah kaprah lebih diterima saja karena kita semua bersalah”. Lagi pula masalah kebahasaan itu belum perlu diprioritaskan
(6) Sikap yang suka melatah dapat disaksikan dalam sikap bahasa orang yang mengambil alih diksi dari bahasa muktahir tanpa kritik.
Demikian jenis-jenis sikap bahasa, orang akan dapat mengukur sikap bahasa seseorang dalam menggunakan suatu bahasa, suatu dialek, atau suatu aksen dengan menggunakan suatu bahasa. Orang itu berperan sebagai samaran untuk melakoni sikap bahasa dengan menggunakan aksen tertentu.
Untuk mengetahui sikap penutur suatu bahasa dengan menggunakan aksen tertentu kita perlu instrumen yang tepat untuk itu.
c. Pengukuran Sikap Bahasa
Pengukuran sikap bahasa merupakan suatu hal yang sangat abstrak, oleh karena itu kita harus sangat hati-hati menentukan sikap bahasa seseorang dengan berbahasa, berdialek atau beraksen apapun. Untuk itu, pengukuran sikap suatu bahasa memerlukan instrumen yang baik. Trandis (dalamMar‟at 1984 : 75)
menyatakan bahwa instrumen yang baik itu adalah sebagai berikut. (1) Verbal statements of affects (pernyataan verbal dan perasaan)
(2) Verbal ststements of belief (pernyataan verbal berdasarkan keyakinan) (3) Verbal statements concerning behavior (pernyataan yang berhubungan
dengan tingkah laku).
2. Etnis dan Bahasa Batak
Suku Batak merupakan salah satu etnik yang terdapat di Sumatera. Mereka sebagian besar bertempat tinggal di Tapanuli, sebagian lagi menempati bagian Timur Laut Tapanuli yaitu daerah Simalungun dan yang lain bermukim di sebelah barat laut Danau Toba yakni tanah Karo. Etnik Batak terdiri dari beberapa sub-etnik, masing-masing mempunyai bahasa sendiri. Menurut pembagian linguistik bahasa Batak dapat dibedakan atas lima bahasa yang berbeda satu dengan lain, yaitu (1) bahasa Batak Toba, (2) bahasa Batak Karo, (3) bahasa Batak Simalungun, (4) bahasa Batak Pakpak-Dairi, dan (5) bahasa Angkola-Mandailing.
Bahasa Batak Toba yang digunakan oleh masyarakat penutur di Pulau Sumatera mulai bagian timur, utara, dan selatan Danau Toba, dan di Pulau Samosir termasuk rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Batak Toba itu sendiri merupakan salah satu dari lima subbahasa Batak yaitu bahasa Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak-Dairi, dan Batak Angkola-Mandailing. Masyarakat penutur masing-masing subbahasa Batak disebut sesuai dengan subbahasanya, misalnya penutur subbahasa Batak Toba disebut suku Batak Toba, penutur subbahasa Batak Karo disebut suku Batak Karo, dan seterusnya. Berdasarkan hubungan kedekatan antara kelima bahasa Batak tersebut, terdapat tiga kelompok pembagian bahasa-bahasa Batak yaitu kelompok I adalah bahasa Batak Toba dan bahasa Batak Angkola-Mandailing, kelompok II adalah hanya bahasa Batak Simalungun, dan kelompok III adalah bahasa Batak Karo dan bahasa Batak Pakpak-Dairi.
a. Dalam kehidupan keluarga; suami-istri, orang tua-anak, antarsaudara. b. Interaksi sosial; tetangga sesuku, perkumpulan marga.
c. Kegiatan kerohanian (gereja); berkhotbah, berdoa. d. Adat-istiadat, dan sebagainya.
3. Kedwibahasaan
Kedwibahasaan secara umum diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Mackey, 1962: 12, Fishman, 1975 73). Orang yang dapat menggunakan dua bahasa disebut dwibahasawan atau orang yang bilingual. Bloomfield (1933) menyatakan bahwa bilingualisme adalah kemampuan seorang penutur untuk menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya; dalam hal ini adalah bahasa ibu (B1) dan bahasa kedua (B2).
4. Konsep dan Variabel Penelitian
a. Penggunaan bahasa
Penggunaan bahasa adalah kebiasaan berbahasa seorang penutur di dalam peristiwa bahasa tertentu dengan penuturnya (mitra bicara) pada ranah-ranah.
b. Sikap bahasa
Sikap bahasa adalah kepercayaan, penilaian, dan pandangan terhadap bahasa, penutur, atau masyarakatnya serta kecenderungan untuk berperilaku terhadap bahasa, penutur bahasa atau masyarakatnya dalam cara tertentu.
c. Ranah penggunaan bahasa
Ranah penggunaan bahasa ialah susunan situasi atau cakrawala interaksi yang pada umumnya di dalamnya digunakan satu bahasa. Satu ranah dikaitkan dengan ragam bahasa tertentu. Dibandingkan dengan situasi sosial, ranah adalah abstraksi dari persilangan antara status dan hubungan-peran, lingkungan, dan pokok bahasan tertentu. Ranah yang menjadi pusat perhatian di dalam penelitian ini adalah ranah kelas pembelajaran. Namun demikian, ranah yang lain juga dibicarakan, meskipun tidak sedetail pertanyaan yang diajukan dalam kaitannya dengan ranah kelas pembelajaran.
d. Hubungan-Peran
e. Tempat
Tempat adalah tempat terjadinya peristiwa bahasa seperti kelas pembelajaran, atau di luar rumah, sedangkan peristiwa bahasa merupakan interaksi fungsional pokok bahasan dan tindak ujaran di dalam suatu interaksi linguistik, misalnya bercakap-cakap, dan berdiskusi. Pemilihan jenis peristiwa bahasa ini diharapkan dapat membentuk suatu dimensi interaksi yang formal dan informal.
B. Kerangka Konseptual
Pluralitas etnis dalam sebuah konteks sosial menyebabkan pluralitas bahasa sesuai dengan etnis tersebut. Hal itu menyebabkan setiap individu harus menguasai lebih dari satu bahasa untuk dapat menjalin interaksi dengan individu dari etnis lain. Oleh sebab itu, penguasaan terhadap lebih dari satu bahasa yang kemudian disebut kedwibahasaan atau bilingualisme secara tidak langsung menuntut penutur untuk menentukan sikap terhadap masing-masing bahasa yang dikuasai. Sikap tersebut biasanya terbagi atas dua bagian, yakni sikap negatif dan sikap positif.
Dalam penelitian ini akan ditemukan bagaimana sikap mahasiswa program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia terhadap bahasa Indonesia dan bahasa Batak sebagai bahasa daerah.
C. Pertanyaan Penelitian
Sebagai penelitian yang bersifat deskriptif, maka hipotesis dalam penelitian ini diganti menjadi pertanyaan penelitian. Berdasarkan kerangka teoretis dan kerangka konseptual yang telah dipaparkan di atas, maka pertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah sikap mahasiswa program studi pendidikan bahasa Indonesia FKIP Universitas HKBP Nommensen terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional?
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode ini dipergunakan karena peneliti ingin memberikan deskripsi dan memberikan perian tentang sikap mahasiswa program studi pendidikan bahasa Indonesia terhadap bahasa Indonesia dan bahasa Batak.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen, khususnya Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun pembelajaran 2013/ 2014.
C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada tahun pembelajaran 2013/ 2014.
TABEL I
RINCIAN POPULASI PENELITIAN
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Stambuk Group A Group B Group C Jumlah
2011 40 40 28 108
2012 40 40 17 97
2013 27 26 - 53
Jumlah keseluruhan 400
2. Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan untuk memudahkan penjaringan data diambil 10% dari jumlah populasi yang ada yakni 40. Maka sampel penelitian ini adalah 40 orang mewakili seluruh populasi yang ada. Teknik yang digunakan adalah random sampling, yakni mengambil sampel secara acak dari semua kelas dan stambuk yang terdapat di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia.
D. Teknik dan Prosedur Penelitian
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket, wawancara, dan pengamatan partisipatif. Subjek penelitian diminta untuk mencatat penggunaan bahasa mereka dalam kolom yang disediakan pada angket.
Observasi partisipatif juga digunakan sebagai alat pengumpul data meskipun data yang diperoleh melalui teknik ini sifatnya sebagai alat untuk mempertegas data yang diperoleh melalui angket. Data primer penelitian ini adalah data survei yang diperoleh melalui angket. Melalui teknik observasi, diperoleh data tentang penggunaan bahasa pada pertemuan-pertemuan intrakelompok. Data seperti itu diperlukan untuk mendukung data yang diperoleh melalui teknik angket.
menggunakan Skala Likert atau teknik Likert, yaitu dengan cara meminta responden menandai satu posisi pada skala penilaian (rating scale), misalnya 1-5 sesuai dengan kesetujuan atau ketidaksetujuannya atas sebuah pertanyaan. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan sikap bahasa responden, di dalam daftar pertanyaan disediakan lima pilihan jawaban dengan bobot (nilai) sebagai berikut. Nilai 5 untuk sangat setuju, nilai 4 untuk setuju, nilai 3 untuk kurang setuju, nilai 2 untuk tidak setuju, dan nilai 1 untuk sangat tidak setuju. Berdasarkan jawaban yang diberikan responden inilah nantinya akan diketahui nilai rata-rata (mean) untuk setiap pertanyaan. Nilai rata-rata ini diperoleh dengan menggunakan rumus berikut.
Dalam hal ini n1 = jumlah responden yang memberikan nilai 1 untuk karakteristik yang bersangkutan, ... n5 = jumlah responden yang memberikan nilai 5 untuk karakteristik yang bersangkutan. Nilai rata-rata ini dikelompokkan ke dalam dua kelompok; nilai 1,0 – 2,5 dianggap atau ditafsirkan tidak setuju, dan itu dikategorikan sikap negatif, sementara nilai 2,6 – 5,0 dianggap setuju dan dikategorikan sebagai sikap positif.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Kebahasaan
Universitas HKBP Nommensen merupakan salah satu universitas swasta yang terdapat di Sumatera Utara. Universitas tersebut berada dalam naungan lembaga gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Sesuai dengan nama lembaganya, masyarakat yang terdapat dalam universitas tersebut mayoritas berasal dari suku Batak Toba, baik dosen, pegawai, maupun mahasiswa. Kecenderungan tersebut membuat masyarakat penutur juga cenderung menggunakan bahasa Batak Toba sebagai bahasa sehari-hari yang digunakan dalam percakapan, baik formal maupun informal. Hal itu pulalah yang akan menunjukkan sikap bahasa penutur tersebut terhadap bahasa Batak Toba sebagai bahasa ibu, maupun terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
mencampuradukkan penggunaan bahasa Batak Toba dalam konteks formal. Di bawah ini disajikan jumlah responden berdasarkan jenis kelamin.
Tabel 1. Identitas Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No. Jenis Kelamin Jumlah Persentase
1. Laki-laki 5 orang 12,5%
2. Perempuan 35 orang 87,5%
Jumlah yang ditampilkan di atas memang jauh berbeda, namun hal ini memang sesuai dengan perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan yang terdapat di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, jumlah yang dijadikan sebagai responden telah representatif.
Selain itu, responden tersebut juga ditentukan berdasarkan rentang waktu yang dihabiskan setiap responden selama tinggal di kota Medan. Hal ini dianggap perlu mengingat setiap lingkungan akan memengaruhi penggunaan bahasa setiap orang. Berdasarkan penentuan rentang waktu tersebut akan ditemukan bagaimana sikap bahasa mahasiswa terhadap bahasa Batak Toba dan bahasa Indonesia.
Tabel 2. Lamanya Responden Tinggal di Kota Medan
No. Rentang Waktu Jumlah Persentase
1. 1,0 – 2,0 tahun 8 20%
2. 2,1 – 3,0 tahun 7 17,5%
3. 3,1 – 4,0 tahun 18 45%
Berdasarkan kuesioner yang diisi oleh responden ditemukan bahwa kecenderungan responden berasal dari daerah di luar Kota Medan yang menggunakan bahasa Batak Toba sebagai bahasa ibu. Berdasarkan identitas tersebut akan ditemukan sikap responden terhadap bahasa Batak Toba sebagai bahasa ibunya dan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Penjelasan di bawah ini akan didasarkan pada tiga hal, yakni sikap mahasiswa terhadap bahasa Batak Toba, sikap mahasiswa terhadap bahasa Indonesia, dan pemilihan penggunaan bahasa yang mereka tentukan dalam beberapa peristiwa bahasa.
B. Sikap Bahasa
Sikap bahasa merupakan posisi mental atau perasaan terhadap bahasa sendiri atau bahasa orang lain. Berdasarkan hal itu, sikap bahasa biasanya dibedakan atas dua hal, yakni sikap positif dan sikap negatif.
Sikap positif yaitu sikap antusiasme terhadap penggunaan bahasanya (bahasa yang digunakan oleh kelompoknya/ masyarakat tutur di mana dia berada). Sebaliknya jika ciri-ciri itu sudah menghilang atau melemah dari diri seseorang atau dari diri sekelompok orang anggota masyarakat tutur, maka berarti sikap negatif terhadap suatu bahasa telah melanda diri atau kelompok orang itu. Ketiadaan gairah atau dorongan untuk mempertahankan kemandirian bahasanya merupakan salah satu penanda sikap negatif, bahwa kesetiaan bahasanya mulai melemah, yang bisa berlanjut menjadi hilang sama sekali.
Tabel 3. Sikap Bahasa Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Karakteristik No. Soal
Frekuensi
Rata-rata Sikap Bahasa SS (%) S (%) KS (%) TS (%) STS (%) I. Sikap Mahasiswa terhadap
Bahasa Batak Toba
1 33 7 0 0 0 4,8 P
2 5 15 20 0 0 3,6 P
3 7 9 6 14 4 3 P
4 5 12 9 11 3 3,1 P
5 2 5 17 13 3 2,8 P
6 9 18 12 1 0 3,9 P
7 4 12 11 9 4 3,1 P
8 7 26 6 0 1 4 P
9 2 9 18 10 1 3 P
10 5 20 7 8 0 3,6 P
11 16 21 3 0 0 4,3 P
12 23 17 0 0 0 4,6 P
13 20 18 2 0 0 4,5 P
14 34 6 0 0 0 4,9 P
15 29 10 1 0 0 4,7 P
II. Sikap Bahasa Mahasiswa terhadap Bahasa Indonesia
16 25 15 0 0 0 4,6 P
17 14 25 1 0 0 4,3 P
18 6 28 5 1 0 4 P
19 9 27 3 1 0 4,1 P
20 20 18 1 0 1 4,4 P
21 2 30 7 1 0 3,8 P
22 1 18 14 7 0 3,3 P
23 5 29 5 1 0 4 P
24 11 27 2 0 0 4,2 P
25 5 33 2 0 0 4,1 P
26 8 18 14 0 0 3,9 P
27 8 13 17 2 0 3,7 P
28 12 17 10 1 0 4 P
29 8 21 11 0 0 3,9 P
30 5 11 19 5 0 3,4 P
III. Pemilihan Bahasa 31 2 2 15 16 5 2,5 N
32 2 1 7 14 16 2 N
33 3 9 12 14 2 2,9 P
34 1 7 19 6 7 2,7 P
35 8 12 14 8 8 3,1 P
36 7 2 8 12 11 2,6 P
37 8 5 10 9 8 2,9 P
38 3 4 8 11 14 2,3 N
39 18 9 7 1 5 3,9 P
Pemerolehan nilai tersebut didapatkan berdasarkan 40 soal kuesioner yang telah dibagikan kepada 40 responden. Data yang diperoleh melalui kuesioner, dianalisis secara kuantitatif. Untuk setiap ciri karakteristik dihitung angka rata-rata nilai (mean) sikap bahasa, dengan menggunakan Skala Likert atau teknik Likert, yaitu dengan cara meminta responden menandai satu posisi pada skala penilaian (rating scale), misalnya 1-5 sesuai dengan kesetujuan atau ketidaksetujuannya atas sebuah pertanyaan. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan sikap bahasa responden, di dalam daftar pertanyaan disediakan lima pilihan jawaban dengan bobot (nilai) sebagai berikut. Nilai 5 untuk sangat setuju, nilai 4 untuk setuju, nilai 3 untuk kurang setuju, nilai 2 untuk tidak setuju, dan nilai 1 untuk sangat tidak setuju. Berdasarkan jawaban yang diberikan responden inilah nantinya akan diketahui nilai rata-rata (mean) untuk setiap pertanyaan. Nilai rata-rata tersebut dikelompokkan ke dalam dua kelompok; nilai 1,0 – 2,5 dianggap atau ditafsirkan tidak setuju, dan itu dikategorikan sikap negatif, sementara nilai 2,6 – 5,0 dianggap setuju dan dikategorikan sebagai sikap positif.
1. Sikap Mahasiswa terhadap Bahasa Batak Toba
positif terhadap bahasa Batak Toba. Soal kuesioner tersebut akan dibahas dalam paparan di bawah ini.
(1) Bahasa Batak Toba merupakan identitas suku
(2) Bahasa Batak Toba merupakan alat komunikasi masyarakat di lingkungan kota Medan.
Soal di atas merupakan soal pada nomor urut soal (1) dan (2). Soal tersebut digunakan untuk mengetahui keberadaan bahasa Batak Toba dalam pemahaman para responden. Berdasarkan kuesioner yang telah diisi oleh responden, terlihat bahwa rata-rata nilai pada soal nomor (1) mencapai 4,8, sedangkan pada soal nomor (2) mencapai 3,6. Hal itu menyiratkan bahwa para responden sangat setuju bahwa Bahasa Batak Toba merupakan identitas suku dan dapat digunakan sebagai alat komunikasi masyarakat di lingkungan kota Medan. Lebih jelas akan terlihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4. Sikap mengenai BBT sebagai Identitas Suku
No.soal Frekuensi
Rata-rata
Sikap
SS S KS TS STS
1 33 7 0 0 0 4,8 P
2 5 15 20 0 0 3,6 P
Sejalan dengan penjelasan di atas, soal di bawah ini merupakan soal yang menunjukkan hubungan intrakelompok penutur bahasa Batak Toba yang berada di lingkungan Kota Medan pada umumnya, dan di lingkungan Universitas HKBP Nommensen pada khususnya.
(4) Bahasa Batak Toba digunakan ketika bercerita (berbincang-bincang) dengan teman Anda atau orang di sekitar Anda di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
[image:30.595.91.570.279.337.2]Berdasarkan perolehan nilai ditemukan bahwa penggunaan bahasa Batak Toba juga mampu menunjukkan hubungan baik antarmahasiswa sesama penutur bahasa Batak Toba. Hal tersebut terlihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 5. Sikap mengenai BBT sebagai Hubungan Intrakelompok
No.soal Frekuensi
Rata-rata
Sikap
SS S KS TS STS
3 7 9 6 14 4 3 P
4 5 12 9 11 3 3,1 P
Selain itu juga disajikan beberapa soal atau pertanyaan yang merujuk pada keseringan penggunaan bahasa Batak Toba sesuai dengan peristiwa bahasa. Berikut soal yang dimaksud.
(5) Bahasa Batak Toba digunakan ketika bersenda gurau dengan teman-teman di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
(6) Bahasa Batak Toba digunakan ketika bercerita tentang (berbincang-bincang) dengan teman Anda atau orang di sekitar Anda di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
(7) Bahasa Batak Toba digunakan untuk mengekspresikan kemarahan di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
(8) Bahasa Batak Toba digunakan ketika bersenda gurau dengan teman-teman di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
(10)Bahasa Batak Toba digunakan ketika mengadakan percakapan melalui telepon di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
[image:31.595.94.568.361.477.2]Soal tersebut mengarahkan peneliti untuk mengetahui intensitas penggunaan bahasa Batak Toba para responden dalam setiap peristiwa bahasa, baik dalam bercerita, membaca, marah, bergurau, maupun ketika mengadakan percakapan dalam telepon. Berdasarkan soal tersebut diperoleh nilai baik yang menunjukkan sikap positif para responden terhadap bahasa Batak Toba seperti tabel di bawah ini.
Tabel 6. Sikap mengenai Penggunaan Bahasa dalam Peristiwa Bahasa
No.soal Frekuensi
Rata-rata
Sikap
SS S KS TS STS
5 2 5 17 13 3 2,8 P
6 9 18 12 1 0 3,9 P
7 4 12 11 9 4 3,1 P
8 7 26 6 0 1 4 P
9 2 9 18 10 1 3 P
10 5 20 7 8 0 3,6 P
Bentuk soal yang terakhir dalam kuesioner yang dibagikan merupakan soal mengenai tanggapan para responden terhadap bahasa Batak Toba. Hal itu digambarkan sebagai keramahtamahan, kekeluargaan, keakraban, kecintaan terhadap suku, dan kekayaan budaya yang perlu dilestarikan. Lebih jelas terlihat dalam soal berikut ini.
(11) Bahasa Batak Toba menunjukkan keramahtamahan. (12) Bahasa Batak Toba menunjukkan kekeluargaan.
(13) Bahasa Batak Toba menunjukkan keakraban/ keintiman.
(15) Penggunaan bahasa Batak Toba menunjukkan kekayaan budaya yang perlu dilestarikan dan dipertahankan.
[image:32.595.94.570.222.325.2]Maka perolehan nilai untuk setiap soal di atas dapat diperhatikan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 7. Sikap mengenai Respon terhadap BBT
No.soal Frekuensi
Rata-rata
Sikap
SS S KS TS STS
11 16 21 3 0 0 4,3 P
12 23 17 0 0 0 4,6 P
13 20 18 2 0 0 4,5 P
14 34 6 0 0 0 4,9 P
15 29 10 1 0 0 4,7 P
Berdasarkan semua paparan di atas dapat disimpulkan bahwa sikap para responden terhadap bahasa Batak Toba merupakan sikap yang sangat positif. Rentang nilai yang ditentukan untuk sikap positif adalah 2,6 – 5,0, dan apabila hal itu diperhatikan pada perolehan nilai para responden, dapat ditemukan bahwa nilai-nilai tersebut mendekati nilai sempurna. Dengan demikan, sikap mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia terhadap penggunaan bahasa Batak Toba tergolong positif.
2. Sikap Mahasiswa terhadap Bahasa Indonesia
disajikan untuk mengetahui sikap terhadap bahasa Indonesia juga tidak berbeda dengan soal yang digunakan untuk mengetahui sikap terhadap bahasa Batak Toba. Soal tersebut akan dibahas dalam paparan di bawah ini.
(1) Bahasa Indonesia merupakan identitas bangsa.
(2) Bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi masyarakat di lingkungan kota Medan.
[image:33.595.89.573.637.695.2]Berdasarkan kuesioner yang telah diisi oleh responden, terlihat bahwa rata-rata nilai pada soal nomor (1) mencapai 4,6, sedangkan pada soal nomor (2) mencapai 4,3. Untuk soal nomor (1), perbedaan perolehan nilai yang terdapat pada sikap terhadap bahasa Batak Toba dan sikap terhadap bahasa Indonesia hanya sekitar 0,2. Hal itu menyiratkan bahwa responden sangat setuju untuk menjadikan bahasa Batak Toba sebagai identitas suku dan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. Selain itu, pada soal nomor (2), terdapat perbedaan nilai yang cukup signifikan antara sikap terhadap bahasa Batak Toba dengan sikap terhadap bahasa Indonesia. Hal ini menyiratkan bahwa para responden lebih setuju menjadikan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi di kota Medan, daripada bahasa Batak Toba. Berkaitan dengan itu, pemahaman para responden tergolong baik mengingat bahasa Indonesia harus dijadikan sebagai pemersatu dan digunakan dalam konteks yang tepat. Lebih jelas akan terlihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 8. Sikap mengenai BI sebagai Identitas Bangsa
No.soal Frekuensi
Rata-rata
Sikap
SS S KS TS STS
1 25 15 0 0 0 4,6 P
Sejalan dengan penjelasan di atas, soal di bawah ini merupakan soal yang menunjukkan hubungan intrakelompok penutur bahasa Indonesia yang berada di lingkungan Kota Medan pada umumnya, dan di lingkungan Universitas HKBP Nommensen pada khususnya.
(3) Bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi yang digunakan mahasiswa di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
(4) Bahasa Indonesia mampu menyampaikan gagasan dengan baik dalam lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
[image:34.595.93.569.414.476.2]Berdasarkan perolehan nilai ditemukan bahwa penggunaan bahasa Indonesia juga mampu menunjukkan hubungan baik antarmahasiswa sesama penutur bahasa Indonesia. Hal tersebut terlihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 9. Sikap mengenai BBT sebagai Hubungan Intrakelompok
No.soal Frekuensi
Rata-rata
Sikap
SS S KS TS STS
3 6 28 5 1 0 4 P
4 9 27 3 1 0 4,1 P
Selain itu juga disajikan beberapa soal atau pertanyaan yang merujuk pada keseringan penggunaan bahasa Batak Toba sesuai dengan peristiwa bahasa. Berikut soal yang dimaksud.
(5) Bahasa Indonesia digunakan ketika berkomunikasi dalam konteks formal, seperti ketika belajar di ruangan kelas.
(7) Bahasa Indonesia digunakan untuk mengekspresikan kemarahan di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
(8) Bahasa Indonesia digunakan ketika bersenda gurau dengan teman-teman di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
(9) Bahasa Indonesia digunakan ketika membaca (berhitung) dalam hati di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
(10)Bahasa Indonesia digunakan ketika mengadakan percakapan melalui telepon di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
[image:35.595.92.568.497.616.2]Soal tersebut mengarahkan peneliti untuk mengetahui intensitas penggunaan bahasa Batak Toba para responden dalam setiap peristiwa bahasa, baik dalam bercerita, membaca, marah, bergurau, maupun ketika mengadakan percakapan dalam telepon. Berdasarkan soal tersebut diperoleh nilai baik yang menunjukkan sikap positif para responden terhadap bahasa Batak Toba seperti tabel di bawah ini.
Tabel 10. Sikap mengenai Penggunaan Bahasa dalam Peristiwa Bahasa
No.soal Frekuensi
Rata-rata
Sikap
SS S KS TS STS
5 20 18 1 0 1 4,4 P
6 2 30 7 1 0 3,8 P
7 1 18 14 7 0 3,3 P
8 5 29 5 1 0 4 P
9 11 27 2 0 0 4,2 P
10 5 33 2 0 0 4,1 P
terhadap suku, dan kekayaan budaya yang perlu dilestarikan. Lebih jelas terlihat dalam soal berikut ini.
(11) Kemampuan dan kemahiran dalam berbahasa Indonesia menunjukkan intelegensi/ kepandaian seseorang.
(12) Pengetahuan yang baik tentang bahasa Indonesia menunjukkan tingginya pendidikan seseorang.
(13) Penggunaan bahasa Indonesia menunjukkan kepercayaan diri. (14) Penggunaan bahasa Indonesia menunjukkan kemajuan/ kemodrenan. (15) Penggunaan yang baik tentang bahasa Indonesia berarti menjamin
posisi/ kedudukan yang baik.
[image:36.595.92.568.441.547.2]Maka perolehan nilai untuk setiap soal di atas dapat diperhatikan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 11. Sikap mengenai Respon terhadap BBT
No.soal Frekuensi
Rata-rata
Sikap
SS S KS TS STS
11 8 18 14 0 0 3,9 P
12 8 13 17 2 0 3,7 P
13 12 17 10 1 0 4 P
14 8 21 11 0 0 3,9 P
15 5 11 19 5 0 3,4 P
3. Pemilihan Bahasa
[image:37.595.91.568.277.451.2]Sikap bahasa tidak akan bisa melepaskan diri dari pemilihan bahasa. Oleh karena itu, berdasarkan kuesioner yang telah dibagikan kepada para responden ditemukan bahwa dari sepuluh soal yang disajikan, tujuh di antaranya menggambarkan sikap yang positif, sedangkan tiga di antaranya menunjukkan sikap yang negatif. Hal itu dapat dilihat lebih jelas dalam tabel di bawah ini.
Tabel 12. Pemilihan Bahasa
No.soal Frekuensi
Rata-rata
Sikap
SS S KS TS STS
1 2 2 15 16 5 2,5 N
2 2 1 7 14 16 2 N
3 3 9 12 14 2 2,9 P
4 1 7 19 6 7 2,7 P
5 8 12 14 8 8 3,1 P
6 7 2 8 12 11 2,6 P
7 8 5 10 9 8 2,9 P
8 3 4 8 11 14 2,3 N
9 18 9 7 1 5 3,9 P
10 12 12 12 3 1 3,8 P
Dengan perincian soal sebagai berikut:
(1) Bahasa apakah yang Anda gunakan sehari-hari kepada teman sesuku di rumah (lingkungan kost)?
(2) Bahasa apakah yang Anda gunakan sehari-hari kepada teman Anda sesuku jika bertemu di luar rumah?
(3) Bahasa apakah yang lebih Anda sukai di dalam percakapan dengan teman-teman Anda di lingkungan Universitas HKBP Nommensen. (4) Menurut Anda, bahasa apa yang terasa lebih indah?
(7) Jika sedang mengkhayal/ merenung, bahasa apakah yang Anda gunakan? (8) Dengan teman karib, bahasa apa yang paling sering Anda gunakan jika
berada di rumah, di rumah teman, di jalan, dsb. pada saat berbincang-bincang tentang masalah pribadi dengan teman sesuku.
(9) Bahasa apa yang digunakan jika berdoa/ memohon kepada Tuhan? (10)Bahasa apa yang digunakan jika mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada teman atau orang-orang di sekitar Anda?
Berdasarkan perolehan nilai dalam tabel dan soal yang diurutkan di atas dapat diketahui bahwa soal nomor (1), (2), dan (8) menggambarkan sikap negatif. Hal itu menyiratkan bahwa para responden cenderung memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari dengan teman sesuku di lingkungan kost. Selain itu, para responden juga cenderung memilih menggunakan bahasa Indonesia apabila bertemu dengan teman-teman sesuku Batak Toba di luar rumah. Bahkan, sesuai dengan data, juga ditemukan bahwa para responden juga cenderung memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam bercerita atau berbincang-bincang mengenai masalah pribadi dengan teman karib. Ketiga soal tersebut menggambarkan pemilihan bahasa Indonesia dalam tiga konteks yang berbeda, maka sikap terhadap bahasa Batak Toba digolongkan dalam sikap negatif.
mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada orang-orang yang ada di sekitar mereka. Dengan demikian, hal itu menyimpulkan bahwa para responden, yakni mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia memiliki sikap yang sangat positif terhadap penggunaan dan pemilihan bahasa Batak Toba sebagai bahasa sehari-hari.
BAB V KESIMPULAN A. SIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dipaparkan di atas, maka simpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Sikap para responden terhadap bahasa Batak Toba tergolong dalam sikap yang sangat positif. Hal itu tergambar dari 15 soal yang diberikan dan semuanya menunjukkan sikap yang sangat positif. Nilai rata-rata yang diperoleh adalah 4,1. Oleh karena itu, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia memiliki sikap yang positif terhadap penggunaan bahasa Batak Toba.
2. Sikap para responden terhadap Indonesia juga tergolong dalam sikap yang sangat positif. Hal itu tergambar dari 15 soal yang diberikan dan semuanya menunjukkan sikap yang sangat positif. Nilai rata-rata yang diperoleh adalah 4,2. Oleh karena itu, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia memiliki sikap yang positif terhadap penggunaan bahasa Indonesia.
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Alwasila, A. Chaedar. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa
Arikunto, Suharsimi. 2000. Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara .2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Boomfield, leonardo.1993.Language.New York: holt, Rinerhart end Winston. Chaplin, J.P. 1968. Dictionary of Psykology. New York: American Book Co. Chaer, Abdul. Agustina Leoni. 1995. Sosiolingustik Perkenalan Awal. Jakarta:
Rineka Cipta
Depdiknas. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Edwards, Alen L. 1957. Technique of Attitude Scale Construction. Newyork:
Apleton Century Crofts.
Evan, K.M. 1965. Attitude and Interest in Education. London: Routledge and Kegan Paul.
Fishbein, Martin (ed). 1967. Attitude Theory and Measurement. New York: John Wiley and Sons. Inc.
Garvin, P.L. Mathiot M. 1968. The Urbaization of Guarani Language. Problem in Language and Culture, dalam Fishman, J.A. (Ed) Reading in Tes Sosiology of Language, Mounton. Paris–The Hague.
Gerungan. 1987. Psikologi Sosiologi. Bandung: Eresco.
Kridalaksana, Hanmurti. 1987. Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa. Jakarta: PT Gramedia
Nababan, P.W.J. 1991. Sosiolingustik Suatu Pengantar. Jakarta: PT Gramedia. Richard, et al. 1985. Longman Dictionary of Apllied Linguistict.
Rusyana, Yus. 1982. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: C.V. Diponegoro.
Rusyana. 1984. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa.
Suwito. 1983. Pengantar Awal Sosiolingustik (Edisi 2). Surakarta: FS UNS
LAMPIRAN KUESIONER
I. Isilah tempat yang disediakan sesuai dengan keterangan yang diperlukan
1. Nama :
2. Jenis kelamin : 3. Tempat tinggal :
4. Umur :
5. Tempat lahir :
6. Suku bangsa :
7. Suku bangsa pihak ayah : 8. Suku bangsa pihak ibu : 9. Bahasa Pertama : 10.Bahasa sehari-hari di rumah :
11.Alamat asal :
12.Lama tinggal di Medan :
II. Sikap Mahasiswa terhadap Bahasa Batak Toba 1. Bahasa Batak Toba merupakan identitas suku.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
2. Bahasa Batak Toba merupakan alat komunikasi masyarakat di lingkungan kota Medan.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
3. Bahasa Batak Toba merupakan alat komunikasi yang digunakan mahasiswa Batak Toba di lingkungan Universitas HKBP Nommensen. 1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
4. Bahasa Batak Toba mampu menyampaikan gagasan dengan baik dalam lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
5. Bahasa Batak Toba digunakan ketika berkomunikasi dalam konteks formal, seperti ketika belajar di ruangan kelas.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
6. Bahasa Batak Toba digunakan ketika bercerita (berbincang-bincang) dengan teman Anda atau orang di sekitar Anda di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
8. Bahasa Batak Toba digunakan ketika bersenda gurau dengan teman-teman di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
9. Bahasa Batak Toba digunakan ketika membaca (berhitung) dalam hati di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
10.Bahasa Batak Toba digunakan ketika mengadakan percakapan melalui telepon di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
11.Bahasa Batak Toba menunjukkan keramah-tamahan.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
12.Bahasa Batak Toba menunjukkan kekeluargaan.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
13.Bahasa Batak Toba menunjukkan keakraban/ keintiman.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
14.Penggunaan Bahasa Batak Toba menunjukkan kecintaan terhadap suku. 1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
15.Penggunaan bahasa Batak Toba menunjukkan kekayaan budaya yang perlu dilestarikan dan dipertahankan.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
III. Sikap Mahasiswa terhadap Bahasa Indonesia 1. Bahasa Indonesia merupakan identitas bangsa
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
3. Bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi yang digunakan mahasiswa di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
4. Bahasa Indonesia mampu menyampaikan gagasan dengan baik dalam lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
5. Bahasa Indonesia digunakan ketika berkomunikasi dalam konteks formal, seperti ketika belajar di ruangan kelas.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
6. Bahasa Indonesia digunakan ketika bercerita (berbincang-bincang) dengan teman Anda atau orang di sekitar Anda di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
7. Bahasa Indonesia digunakan untuk mengekspresikan kemarahan di Universitas HKBP Nommensen.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
8. Bahasa Indonesia digunakan ketika bersenda gurau dengan teman-teman di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
9. Bahasa Indonesia digunakan ketika membaca (berhitung) dalam hati di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
10.Bahasa Indonesia digunakan ketika mengadakan percakapan melalui telepon di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
11.Kemampuan dan kemahiran dalam berbahasa Indonesia menunjukkan intelegensi/ kepandaian seseorang.
12.Pengetahuan yang baik tentang bahasa Indonesia menunjukkan tingginya pendidikan seseorang.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
13.Penggunaan bahasa Indonesia menunjukkan kepercayaan diri.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
14.Penggunaan bahasa Indonesia menunjukkan kemajuan/ kemodernan. 1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
15.Pengetahuan yang baik tentang bahasa Indonesia berarti menjamin posisi/ kedudukan yang baik.
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang setuju 4. Tidak setuju 5. Sangat tidak setuju
IV. Pemilihan Bahasa
1. Bahasa apakah yang Anda gunakan sehari-hari kepada teman sesuku di rumah (lingkungan kost)?
1. Selalu bahasa Indonesia
2. Lebih banyak bahasa Indonesia
3. Sama banyaknya bahasa Indonesia dengan bahasa Batak Toba 4. Lebih banyak bahasa Batak Toba
5. Selalu bahasa Batak Toba.
2. Bahasa apakah yang Anda gunakan sehari-hari kepada teman Anda sesuku jika bertemu di luar rumah?
1. Selalu bahasa Indonesia
2. Lebih banyak bahasa Indonesia
3. Sama banyaknya bahasa Indonesia dengan bahasa Batak Toba 4. Lebih banyak bahasa Batak Toba
5. Selalu bahasa Batak Toba.
3. Bahasa apakah yang lebih Anda sukai di dalam percakapan dengan teman-teman Anda di lingkungan Universitas HKBP Nommensen.
1. Selalu bahasa Indonesia
2. Lebih banyak bahasa Indonesia
3. Sama banyaknya bahasa Indonesia dengan bahasa Batak Toba 4. Lebih banyak bahasa Batak Toba
5. Selalu bahasa Batak Toba.
4. Menurut Anda, bahasa apa yang terasa lebih indah? 1. Selalu bahasa Indonesia
3. Sama banyaknya bahasa Indonesia dengan bahasa Batak Toba 4. Lebih banyak bahasa Batak Toba
5. Selalu bahasa Batak Toba.
5. Jika Anda bersenandung, bahasa apakah yang Anda gunakan? 1. Selalu bahasa Indonesia
2. Lebih banyak bahasa Indonesia
3. Sama banyaknya bahasa Indonesia dengan bahasa Batak Toba 4. Lebih banyak bahasa Batak Toba
5. Selalu bahasa Batak Toba.
6. Jika Anda menggerutu, bahasa apakah yang Anda gunakan? 1. Selalu bahasa Indonesia
2. Lebih banyak bahasa Indonesia
3. Sama banyaknya bahasa Indonesia dengan bahasa Batak Toba 4. Lebih banyak bahasa Batak Toba
5. Selalu bahasa Batak Toba.
7. Jika sedang mengkhayal/ merenung, bahasa apakah yang Anda gunakan? 1. Selalu bahasa Indonesia
2. Lebih banyak bahasa Indonesia
3. Sama banyaknya bahasa Indonesia dengan bahasa Batak Toba 4. Lebih banyak bahasa Batak Toba
5. Selalu bahasa Batak Toba.
8. Dengan teman karib, bahasa apa yang paling sering Anda gunakan jika berada di rumah, di rumah teman, di jalan, dsb. pada saat berbincang-bincang tentang masalah pribadi dengan teman sesuku.
1. Selalu bahasa Indonesia
2. Lebih banyak bahasa Indonesia
3. Sama banyaknya bahasa Indonesia dengan bahasa Batak Toba 4. Lebih banyak bahasa Batak Toba
5. Selalu bahasa Batak Toba.
9. Bahasa apa yang digunakan jika berdoa/ memohon kepada Tuhan? 1. Selalu bahasa Indonesia
2. Lebih banyak bahasa Indonesia
3. Sama banyaknya bahasa Indonesia dengan bahasa Batak Toba 4. Lebih banyak bahasa Batak Toba
5. Selalu bahasa Batak Toba.
10.Bahasa apa yang digunakan jika mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada teman atau orang-orang di sekitar Anda?
1. Selalu bahasa Indonesia
2. Lebih banyak bahasa Indonesia
3. Sama banyaknya bahasa Indonesia dengan bahasa Batak Toba 4. Lebih banyak bahasa Batak Toba
LAPORAN PENELITIAN
SIKAP BAHASA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA BERETNIS BATAK
DALAM KONTEKS KEDWIBAHASAAN: TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK
Oleh:
Elza Leyli Lisnora Saragih, S. S., M. Hum. Beslina Afriani Siagian, S. Pd.
(Dosen FKIP Universitas HKBP Nommensen)
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN
MEDAN
PENGESAHAN LAPORAN PENELITIAN
1. a. Judul Penelitian : Sikap Bahasa Mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Beretnis Batak dalam Konteks Kedwibahasaan: Tinjauan Sosiolinguistik
b. Bidang Ilmu : Bahasa
c. Kategori Penelitian : Penelitian untuk Mengembangkan Fungsi Kelembagaan Perguruan Tinggi
2. Identitas Peneliti:
a. Nama Lengkap dan Gelar : Elza Leyli Lisnora Saragih, S.S.,M.Hum. b. Tempat/ tanggal lahir : Parapat, 21 Maret 1975
c. Jenis Kelamin : Perempuan d. Golongan/ Pangkat : IIId/ Lektor
e. Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia f. Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
g. Perguruan Tinggi : Universitas HKBP Nommensen h. Bidang Keilmuan : Bahasa dan Sastra Indonesia 3. Susunan Tim Peneliti
a. Ketua : Elza Leyli Lisnora Saragih, S.S.,M.Hum. b. Anggota : Beslina Afriani Siagian, S. Pd.
4. Lokasi Penelitian : FKIP UHN Medan 5. Lama Penelitian : 3 (tiga) bulan 6. Biaya Penelitian : Rp. 6.000.000,00
7. Sumber Dana : - Pihak Universitas : Rp. 4.000.000,00 - Swadaya sendiri : Rp. 2.000.000,00
Medan, Februari 2014
Mengetahui, Menyetujui, Disusun oleh, Wakil Dekan, Ketua Lembaga Penelitian Peneliti,
dan Pengabdian Masyarakat,
ABSTRAK
Elza L. Saragih. Sikap Bahasa Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Beretnis Batak dalam Konteks Kedwibahasaan: Tinjauan Sosiolinguistik. Laporan. Medan. 2014. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas HKBP Nommensen.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap bahasa mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Indonesia yang beretnis Batak dalam konteks kedwibahasaan.
Sampel penelitian ini berjumlah 40 orang dari 400 populasi yang ada. Sampel tersebut diambil 10% dari populasi yang ada dengan menggunakan tekni acak (random sampling). Sampel tersebut akan diuji berdasarkan 40 soal kuesioner yang digunakan untuk menjaring sikap bahasa.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data yang diperoleh melalui angket, dianalisis secara kuantitatif. Untuk setiap ciri karakteristik dihitung angka rata-rata nilai (mean) sikap bahasa, dengan menggunakan Skala Likert atau teknik Likert.
Berdasarkan hasil penelitian, sikap para responden terhadap bahasa Batak Toba tergolong dalam sikap yang sangat positif. Hal itu tergambar dari 15 soal yang diberikan dan semuanya menunjukkan sikap yang sangat positif. Nilai rata-rata yang diperoleh adalah 4,1. Sedangkan sikap para responden terhadap Indonesia juga tergolong dalam sikap yang sangat positif. Hal itu tergambar dari 15 soal yang diberikan dan semuanya menunjukkan sikap yang sangat positif. Nilai rata-rata yang diperoleh adalah 4,2. Selain itu, sikap para responden terhadap penggunaan dan pemilihan bahasa Batak Toba sebagai bahasa sehari-hari tergolong sikap yang positif. Tujuh dari sepuluh soal menggambarkan sikap yang positif, sedangkan tiga lainnya menggambarkan sikap yang negatif. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia memilih menggunakan bahasa Batak Toba sebagai bahasa dalam percakapan sehari-hari.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan anugerah-Nya sehingga laporan penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik.
Penelitian ini berjudul “Sikap Bahasa Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Beretnis Batak dalam Konteks Kedwibahasaan: Tinjauan Sosiolinguistik.” Penelitian bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Universitas HKBP Nommensen, khususnya Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Ucapan terimakasih khusus disampaikan kepada pihak yang turut berperan, yakni sebagai berikut.
1. Rektor Universitas HKBP Nommensen Medan, Dr. Ir. Jongkers Tampubolon,
2. Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen, Dr. Tagor Pangaribuan, M.Pd.
3. Wakil Dekan Khusus Bidang Akademik kelas Medan, Drs. Juliper Nainggolan, M.Si.
4. Ketua Lembaga Penelitian, Prof. Dr. Monang Sitorus, M. Si.
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 3
C. Batasan Masalah ... 4
D. Rumusan Masalah ... 4
E. Tujuan Penelitian ... 4
F. Manfaat Penelitian………. 5
BAB II LANDASAN TEORETIS, KERANGKA KONSEPTUAL, DAN PERTANYAAN PENELITIAN ... 6
A. Landasan Teoretis ... 6
1. Sikap Bahasa ... 7
a. Hakikat Sikap Bahasa ... 7
b. Jenis-jenis Sikap Bahasa ... 11
c. Pengukuran Sikap Bahasa ... 14
2. Etnis dan Bahasa Batak ... 15
3. Kedwibahasaaan ... 16
4. Konsep dan Variabel Penelitian ... 16
B. Kerangka Konseptual ... 18
C. Pertanyaan Penelitian ... 19
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 20
A. Metode Penelitian ... 20
D. Teknik dan Prosedur Penelitian ... 21
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 24
A. Latar Belakang Kebahasaan ... 24
B. Sikap Bahasa ... 26
1. Sikap Bahasa Mahasiswa terhadap Bahasa Batak Toba ... 28
2. Sikap Bahasa Mahasiswa terhadap Bahasa Indonesia ... 32
3. Pemilihan Bahasa ... 37
BAB V KESIMPULAN ... 40
A. SIMPULAN ... 40
B. SARAN ... 41
DAFTAR TABEL
1 Identifikasi Responden... 25
2 Lamanya Responden Tinggal di Medan ... 25
3 Sikap Bahasa Mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia ... 26
4 Sikap Mengenai BBT Sebagai Identitas Suku ... 29
5 Sikap Mengenai BBT Sebagai Hubungan Intrakelompok ... 30
6 Sikap Mengenai Penggunaan Bahasa dalam Peristiwa Bahasa ... 31
7 Sikap Mengenai Respon terhadap BBT ... 32
8 Sikap Mengenai BI Sebagai Identitas Bangsa ... 33
9 Sikap Mengenai BBT Sebagai Hubungan Intrakelompok ... 34
10 Sikap Mengenai Penggunaan Bahasa dalam Peristiwa Bahasa ... 35
SIKAP BAHASA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA BERETNIS BATAK
DALAM KONTEKS KEDWIBAHASAAN: TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK
Elza Leyli Lisnora Saragih, S. S., M. Hum. Beslina Afriani Siagian, S. Pd.
The objective of the research is to determine the languages attitude of students at Study Program Bahasa Indonesia, FKIP of Nommensen University. The method used in this research is descriptive method. Data were obtained through a questionnaire, were analyzed quantitatively. For each characteristic features calculated the average number of values (mean) language attitudes, using a Likert Scale or Likert technique. Based on the research results, the attitude of the respondents to the Batak Toba language belonging to the very positive attitude. It was drawn from the 15 questions given and all showed a very positive attitude. The average value obtained was 4.1. While the attitude of the respondents towards Indonesia are also considered a very positive attitude. It was drawn from the 15 questions given and all showed a very positive attitude. The average value obtained was 4.2. Moreover, the attitude of the respondents towards the use and selection of Batak Toba language as belonging colloquially positive attitude. Seven of the ten questions illustrate a positive attitude, while the other three depict a negative attitude . Therefore, it can be concluded that the students at Study Program Bahasa Indonesia, FKIP of Nommensen University choose to use the Batak Toba language as the language of everyday.
---
Key words: languages attitude, Batak Toba, FKIP students
I. PENDAHULUAN
Kondisi bangsa Indonesia dikenal yang bercirikan multietnik menyebabkan adanya beberapa penyimpangan yang terjadi dalam penggunaan bahasa. Penyimpangan-penyimpangan tersebut dalam istilah sosioliguistik disebut interferensi, alih kode, dan campur kode. Selain itu, kondisi di atas juga menyebabkan penutur harus mengambil tindakan dalam menyikapi penggunaan bahasa tersebut. Hal itu disebut sebagai pemilihan dan sikap bahasa.
Pemilihan bahasa (language choice) dapat dikaji berdasarkan perspektif penggunaan bahasa dan penentuan bahasa. Masalah pemilihan bahasa biasanya terjadi di masyarakat bahasa, baik yang berdwibahasa maupun yang berganda bahasa (multilingual). Sedangkan sikap bahasa merupakan perasaan seseorang tentang obyek, aktivitas, peristiwa dan orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yang merepresentasikan suka atau tidak sukanya (positif, negatif, atau netral) seseorang terhadap sebuah bahasa.
penelitian ini akan memfokuskan pengkajian pada sikap bahasa mahasiswa dalam menggunakan bahasa Batak dan bahasa Indonesia, baik dalam konteks formal maupun dalam konteks nonformal.
Penelitian ini akan difokuskan pada upaya mengidentifikasi sikap mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Nommensen terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Batak Toba sebagai bahasa daerah.
Sikap bahasa adalah posisi mental atau perasaan terhadap bahasa sendiri atau bahasa orang lain (Kridalaksana, 2001:197). Sikap bahasa dapat diamati melalui perilaku berbahasa atau perilaku tutur. Namun dalam hal ini juga berlaku ketentuan bahwa tidak setiap perilaku tutur mencerminkan sikap bahasa. Demikian pula sebaliknya, sikap bahasa tidak selamanya tercermin dalam perilaku tutur. Dibedakannya antara bahasa (langue) dan tutur (parole) (de Saussure, 1976), maka ketidaklangsungan hubungan antara sikap bahasa dan perilaku tutur semakin lebih jelas lagi. Sikap bahasa cenderung mengacu kepada bahasa sebagai sistem (langue), sedangkan perilaku tutur lebih cenderung merujuk kepada pemakaian bahasa secara konkret (parole).
Anderson (1974) membagi sikap atas dua macam, yaitu (1) sikap kebahasaan dan (2) sikap nonkebahasaan, seperti sikap politis, sikap keagamaan, dan lain-lain. Menurut Anderson, sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif berjangka panjang, sebagian mengenai bahasa, mengenai objek bahasa, yang memberikan kecenderungan seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya. Namun sikap tersebut dapat berupa sikap positif dan negatif, maka sikap terhadap bahasa pun demikian. Garvin dan Mathiot (1968) merumuskan tiga ciri sikap bahasa yaitu:
d) Kesetiaan Bahasa (Language Loyalty) yang mendorong masyarakat suatu bahasa mempertahankan bahasanya dan apabila perlu mencegah adanya pengaruh bahasa lain.
e) Kebanggaan Bahasa (Language Pride) yang mendorong orang mengembangkan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambang identitas dan kesatuan masyarakat.
f) Kesadaran adanya norma bahasa (Awareness Of The Norm) yang mendorong orang menggunakan bahasanya dengan cermat dan santun merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap perbuatan yaitu kegiatan menggunakan bahasa (language use).
Ketiga ciri yang dikemukakan Garvin dan Mathiot tersebut merupakan ciri-ciri sikap positif terhadap bahasa. Sikap positif yaitu sikap antusiasme terhadap penggunaan bahasanya (bahasa yang digunakan oleh kelompoknya/ masyarakat tutur di mana dia berada). Sebaliknya jika ciri-ciri itu sudah menghilang atau melemah dari diri seseorang atau dari diri sekelompok orang anggota masyarakat tutur, maka berarti sikap negatif terhadap suatu bahasa telah melanda diri atau kelompok orang itu. Ketiadaan gairah atau dorongan untuk mempertahankan kemandirian bahasanya merupakan salah satu penanda sikap negatif, bahwa kesetiaan bahasanya mulai melemah, yang bisa berlanjut menjadi hilang sama sekali.
(4) Keberhasilan suatu bangsa yang multilingual dalam menentukan salah satu bahasa yang dijadikan sebagai bahasa nasional dari