MENILIK SIKAP BAHASA MAHASISWA PBSI UNJ: UPAYA PENEGUHAN BAHASA INDONESIA MENUJU INTERNASIONALISASI BAHASA
Azzahra Mutiara Ananda¹, Cahya Sasmita², Irena Aprilia Putri³ Universitas Negeri Jakarta
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (a) sikap bahasa mahasiswa PBSI UNJ terhadap bahasa Indonesia dan (b) sikap bahasa mahasiswa PBSI UNJ dalam meneguhkan keterampilan berbahasa Indonesia sebagai upaya menuju bahasa Internasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa PBSI UNJ angkatan 2020, 2021, dan 2022. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Stratified Random Sampling dengan total 48 mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap bahasa mahasiswa PBSI UNJ terhadap bahasa Indonesia sangat baik. Hasil tersebut menunjukkan adanya respon positif terhadap peneguhan bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional.
Kata kunci: sikap bahasa, bahasa Indonesia, mahasiswa PBSI UNJ
ABSTRACT
This study aims to describe (a) the language attitudes of UNJ PBSI students towards Indonesian and (b) the language attitudes of UNJ PBSI students in strengthening Indonesian language skills as an effort towards an international language. This study uses a quantitative approach. The population of this study were students of PBSI UNJ batches of 2020, 2021 and 2022. Sampling was carried out using the Stratified Random Sampling technique with a total of 48 students. The results showed that the language attitudes of PBSI UNJ students towards Indonesian were very good. These results indicate a positive response to the strengthening of Indonesian to become an international language.
Keywords: language attitude, Indonesian, PBSI UNJ students
PENDAHULUAN
Bahasa adalah alat yang kita gunakan untuk berkomunikasi. Bahasa memiliki peran yang luas dan penting bagi manusia dan masyarakat, contohnya untuk membuat formasi dan alat pemelihara suatu masyarakat atau kelompok tertentu, alat untuk membagikan ide antar maupun didalam suatu kelompok, juga dihitung sebagai identitas individu. Komunikasi adalah kegiatan yang mampu mempersatukan banyak orang dan menjaga hubungan diantaranya.
Meskipun begitu, di dunia ini ada beragam bahasa yang berasal dari negara dan budaya yang berbeda. Semakin berkembangnya globalisasi dengan tersebarnya teknologi yang membantu kita untuk berkomunikasi satu sama lain membuat kita tentunya membutuhkan bahasa umum yang dapat digunakan semua orang di dunia.
Dinamika globalisasi menyebabkan pola perpindahan informasi tidak lagi mengenal batas-batas fisik antarnegara.
Semangat internasionalisasi di segala dimensi kehidupan sangat kuat. Semangat ini menumbuhkan budaya berbahasa asing di berbagai kesempatan. Sejumlah bahasa kemudian memiliki peran dan fungsi baru, dalam kaitannya sebagai bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara global. Salah satu bahasa yang berperan
pesat dalam perubahan tersebut adalah bahasa Inggris.
Dari semua bahasa yang ada di dunia, bahasa Inggris adalah bahasa yang paling umum yang dijadikan sebagai ‘first language’ di dunia internasional yang digunakan dalam berbagai media maupun kegiatan internasional. Tidak hanya itu, bahasa Inggris sendiri sudah menjadi salah satu syarat di berbagai bidang pekerjaan khususnya yang berhubungan dengan negara asing. Oleh karena itu, bahasa Inggris sendiri menjadi bahasa yang esensial sebagai penyambung komunikasi banyak orang.
Banyak sekolah yang menjadikan bahasa Inggris sebagai salah satu mata pelajaran wajib; proses pembelajaran menggunakan bahasa Inggris; ini semakin menunjukkan peran bahasa Inggris yang sangat dominan. Tidak itu saja, di tingkat perguruan tinggi ada beberapa universitas yang membuka kelas internasional, yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi dalam kegiatan perkuliahan.
Instansi-instansi dan perusahaan- perusahaan besar pun juga menjadikan bahasa Inggris sebagai salah satu prasyarat untuk bisa menduduki posisi suatu pekerjaan.
Sikap bahasa (language attitude) adalah peristiwa kejiwaan dan merupakan
bagian dari sikap (attitude) pada umumnya.
Menurut Kridalaksana (1982), sikap bahasa adalah posisi mental atau perasaan terhadap bahasa itu sendiri atau orang lain. Sikap bahasa dari seorang pemakai bahasa atau masyarakat bahasa baik yang dwibahasawan maupun yang multibahasawan akan berwujud perasaan bangga atau mengejek, menolak atau sekaligus menerima suatu bahasa tertentu atau masyarakat pemakai bahasa tertentu, baik terhadap bahasa yang dikuasai oleh setiap individu maupun oleh anggota masyarakat (Rusyana, 1984). Sikap yang dimiliki seorang pembelajar perlu dipertimbangkan dalam pendidikan karena sikap akan banyak berpengaruh terhadap kegiatan belajar maupun hasil belajarnya.
Esensi dari semuanya itu menyatakan bahwa sikap bahasa merupakan sikap yang dimiliki oleh para pemakai bahasa, baik yang dwibahasawan maupun yang multibahasawan terhadap suatu bahasa.
Maka dari itu, hal tersebut melatarbelakangi peneliti melakukan riset untuk menilik sikap mahasiswa Program Studi PBSI UNJ dalam upaya peneguhan bahasa Indonesia menuju internasionalisasi bahasa. Peneliti beranggapan bahwa mahasiswa yang tidak memiliki sikap positif terhadap mata kuliah yang
dipelajarinya akan sukar memperoleh hasil yang baik.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Menurut Robert Donmoyer (dalam Given, 2008: 713), pendekatan kuantitatif adalah pendekatan- pendekatan terhadap kajian empiris untuk mengumpulkan, menganalisa, dan menampilkan data dalam bentuk numerik daripada naratif. Alat ukur yang digunakan adalah model skala Likert yang dikenal dengan metode The Method of Summated Ratting (Sugiono, 2008). Skala Likert ini berisikan pertanyaan-pertanyaan yang diharapkan dapat menunjukkan sikap berbahasa mahasiswa PBSI UNJ dengan menggiring kecenderungan menggunakan pernyataan sangat setuju, setuju, dan tidak setuju.
Penskoran dilakukan dengan menerapkan teori apriori, yaitu untuk pernyataan positif Sangat Setuju (SS) diberi bobot 3, Setuju (S) diberi bobot 2, dan Tidak Setuju (TS) diberi bobot 1, sedangkan untuk pernyataan negatif yaitu Sangat Setuju (SS) diberi bobot 1, Setuju (S) diberi bobot 2, dan Tidak Setuju (TS) diberi bobot 3.
Instrumen pengumpul data sikap berbahasa dalam penelitian ini adalah kuesioner berupa sejumlah butir soal untuk
mengukur sikap bahasa Indonesia mahasiswa PBSI UNJ dalam aspek kognitif, afektif, dan konatif. Pernyataan sikap bahasa ini disusun sebanyak 6 butir soal, yaitu 3 butir pernyataan positif dan 3 butir pernyataan negatif.
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini merupakan Stratified Random Sampling, yakni mengambil sampel berdasarkan tingkatan tertentu.
Kuesioner diisi oleh mahasiswa PBSI UNJ angkatan 2020, 2021, dan 2022 dengan total 48 mahasiswa yang terdiri dari 3 mahasiswa angkatan 2020, 33 mahasiswa angkatan 2021, dan 12 mahasiswa angkatan 2022.
Data yang diperoleh dari kuesioner dikalkulasi secara kuantitatif dengan melihat persentase pilihan jawaban.
Analisis data berupa frekuensi dan deskriptif. Perhitungan dilakukan dengan rumus skala Likert. Indikator perhitungan dilakukan dengan interval 33,33% sebagai berikut.
Angka 0% - 33,33% kriteria kurang Angka 34,33% - 66,66% kriteria baik Angka 67,66% - 100% kriteria sangat baik HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan mengukur sikap berbahasa Indonesia dengan melihat dari 3 kriteria sesuai dengan Lambert
(dalam Chaer dan Agustina, 2004) yang menyebutkan sikap bahasa terdiri dari tiga komponen yaitu: (1) komponen kognitif, (2) komponen afektif, dan (3) komponen konatif. Komponen kognitif bertalian dengan proses berpikir, jadi bersifat mental;
afektif menyangkut masalah yang berhubungan dengan perasaan, dan nilai rasa, misalnya rasa senang dan tidak senang, baik dan buruk, suka dan tidak suka; konatif adalah komponen yang merujuk kepada perilaku atau perbuatan sebagai putusan akhir kesiapan reaktif terhadap sesuatu keadaan. Melalui komponen konatif inilah biasanya orang mencoba mengukur sikap seseorang terhadap keadaan yang sedang dihadapinya.
Sikap Berbahasa Indonesia Mahasiswa PBSI UNJ
Dari 6 butir pernyataan yang diajukan kepada mahasiswa untuk mengetahui sikap berbahasa Indonesia dengan melihat dari tiga kriteria yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Pada kriteria secara umum berada pada kategori positif dengan persentase 78,5%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diartikan bahwa mahasiswa PBSI UNJ memiliki sikap positif terhadap penggunaan bahasa Indonesia. Sebagian besar responden mengaku sangat setuju (58,3%) dan setuju (41,7%) dengan pertanyaan yang berkaitan
dengan kemampuan berbahasa Indonesia mereka lebih baik daripada berbahasa daerah atau asing. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa PBSI UNJ memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang baik.
Pada kriteria afektif berada pada kategori positif dengan persentase 79%.
Berdasarkan hasil pertanyaan yang berkaitan dengan rasa bangga terhadap penggunaan bahasa Indonesia menunjukkan bahwa mahasiswa PBSI UNJ merasa lebih bangga dalam menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa daerah atau bahasa asing. Sebagian besar responden mengaku sangat setuju (52,1%) dan setuju (47,9%) yang menunjukkan mahasiswa bangga terhadap bahasa mereka sendiri.
Kemudian, kategori konatif juga berada pada kategori positif dengan persentase 78%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diartikan bahwa mahasiswa PBSI UNJ mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia. Sebagian besar responden mengaku sangat setuju (58,3%) dan setuju (41,7%) dengan pertanyaan yang berkaitan dengan keutamaan penggunaan bahasa Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa PBSI UNJ menganggap bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi lebih diutamakan daripada bahasa daerah atau bahasa asing.
Berdasarkan hasil ketiga kategori di atas rata-rata sikap bahasa mahasiswa UNJ berada pada 78% yang dapat disimpulkan bahwa sikap berbahasa Indonesia mahasiswa PBSI UNJ sangat baik. Para mahasiswa menggunakan bahasa Indonesia dalam pembelajaran maupun kegiatan sehari-hari. Sudah seharusnya mahasiswa PBSI UNJ memiliki kemampuan berbahasa Indonesia lebih baik daripada bahasa daerah maupun bahasa asing. Mahasiswa juga harus bangga dan lebih mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia daripada bahasa daerah maupun bahasa asing. Hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa mahasiswa PBSI UNJ telah menjalankan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan program studi mereka dengan baik.
Sikap Mahasiswa PBSI UNJ terhadap Upaya Peneguhan Bahasa Indonesia Menuju Internasionalisasi Bahasa
Sikap mahasiswa PBSI UNJ terhadap upaya peneguhan bahasa Indonesia menuju internasionalisasi bahasa sebagian kecil dapat terlihat melalui hasil penelitian pada kategori afektif. Rasa bangga terhadap penggunaan bahasa Indonesia merupakan salah satu wujud dari nasionalisme. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa PBSI UNJ telah memenuhi salah satu ciri pokok sikap bahasa, yakni kebanggaan bahasa (language pride).
Ciri pokok sikap bahasa dikemukakan oleh Garvin dan Mathiot (dalam Chaer dan Agustina, 2004).
Menurut mereka sikap bahasa setidak- tidaknya mengandung tiga ciri pokok yakni: kesetiaan bahasa (language loyalty);
kebanggaan bahasa (language pride);
kesadaran akan adanya norma-norma bahasa (awareness of the norm). Mengacu pada ciri pokok sikap bahasa tersebut dan berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diartikan bahwa mahasiswa PBSI UNJ mendukung bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional.
KESIMPULAN
Sikap bahasa yang dimiliki oleh mahasiswa PBSI UNJ sangat baik.
Mahasiswa lebih baik, lebih bangga, dan lebih mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia daripada bahasa daerah atau bahasa asing. Berdasarkan sikap tersebut dapat disimpulkan bahwa mahasiswa PBSI UNJ mendukung penginternasionalisasian bahasa Indonesia. Sikap mereka terhadap bahasa Indonesia merupakan upaya peneguhan bahasa Indonesia menuju internasionalisasi bahasa.
DAFTAR PUSTAKA
Andarwulan, T. &. (2019). Menilik Sikap Bahasa Mahasiswa Universitas Brawijaya: Upaya Peneguhan Bahasa Indonesia Menuju Internasionalisasi Bahasa. WASKITA: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter, 61-70.
Budiaji, W. (2013). SKALA PENGUKURAN DAN JUMLAH RESPON SKALA LIKERT.
Jurnal Ilmu Pertanian dan Perikanan Vol. 2 No. 2, 127-133.
mamikos. (2023, Mei 1). Cara Menghitung Kuesioner Penelitian Kuantitatif yang Baik dan Benar. Retrieved Mei 6, 2023, from mamikos: https://mamikos.com/info/cara- menghitung-kuesioner-mhs/
Mansyur, U. (2018). Sikap bahasa dan pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi.
Mansyur, U. (n.d.). SIKAP BAHASA DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI PERGURUAN TINGGI.
Mulyaningsih, I. (2017). SIKAP MAHASISWA TERHADAP BAHASA INDONESIA.
Journal Indonesian Language Educational and Literature Vo. 3, no. 1, 79-87.
Pengguna Kumparan. (2021, Februari 14). Teknik Pengambilan Sampel Kuantitaif yang Penting Untuk Diketahui. Retrieved Mei 6, 2023, from Kumparan:
https://kumparan.com/berita-terkini/teknik-pengambilan-sampel-kuantitatif-yang- penting-untuk-diketahui-1vAvh2RDa56
Pranatawijaya, V. H., Widiatry, Priskila, R., & Adidyana Anugrah Putra, P. B. (2019).
Pengembangan Aplikasi Kuesioner Survey Berbasis Web Menggunakan Skala Likert dan Guttman. Jurnal Sains dan Informatika Volue 5, Nomor 2, 128-137.
Rohimah, D. (2018). Internasionalisasi bahasa Indonesia dan internalisasi budaya Indonesia melalui bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA). An-Nas: Jurnal Humaniora, 199- 212.
Sudaryanto. (2018). TIGA FASE PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA (1928—
2009): KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS. Aksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 1-16.
Zuchdi, D. (1995). PEMBENTUKAN SIKAP. Cakrawala Pendidikan Nomor 3, Tahun XIV, 51-63.