SIKAP PEMAKAI BAHASA TERHADAP BAHASA INDONESIA
Dra. Siti Rukiyah, M.Pd.Dosen PNSD FKIP Universitas PGRI Palembang
ABSTRAK
Sikap Bahasa adalah anggapan atau pandangan seseorang terhadap suatu bahasa, apakah senang atau tidak senang terhadap bahasa. Selain itu, sikap merupakan suatu peristiwa kejiwaan dalam bentuk tindakan atau perilaku yang tidak dapat diamati secara langsung. Sikap bahasa adalah posisi mental atau perasaan terhadap bahasa sendiri atau bahasa orang lain. Sikap bahasa dapat diamati melalui perilaku berbahasa atau perilaku tutur seseorang. Sikap bahasa terdiri dari dua jenis yaitu sikap positif dan sikap negatif. Sikap positif bahasa adalah penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah bahasa dan sesuai dengan situasi kebahasaan, bangga menggunakan bahasa Indonesia, menghargai bahasa, peduli terhbadap bahasa Indonesia. Sikap negatif bahasa adalah sikap acuh tak acuh, tidak menghargai, tidak peduli terhadap bahasa Indonesia.
Kata Kunci: Sikap bahasa,sikap positif, sikap negatif
PENDAHULUAN
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat bilingual. Hal ini, berarti bahwa masyarakat dan anggota masyarakat Indonesia itu memerlukan penguasaan bahasa Indonesia, bahasa daerah, maupun bahasa asing. Penguasaan bahasa dapat diperoleh secara alamiah dan ilmiah. Penguasaan bahasa secara alamiah diperoleh dari lingkungan penggunaan bahasa seperti di lingkungan keluarga, masyarakat. Proses ini disebut dengan pemerolehan bahasa. Penguasaan bahasa secara ilmiah diperoleh melalui belajar dan pembelajaran bahasa yang dilakukan secara formal di lingkungan sekolah. Proses ini disebut belajar bahasa.
Belajar bahasa yang dilakukan seseorang dalam pengajaran bahasa dengan tujuan untuk mencapai kemahiran berbahasa, sehingga tumbuh sikap yang positif terhadap bahasa yang dipelajari. Dengan demikian akan timbul
konsep pengajaran yang disebut dengan pendidikan bahasa, seperti pendidikan bahasa Indonesia, pendidikan bahasa daerah dan pendidikan bahasa asing.
Bahasa Indonesia dalam dunia pendidikan merupakan salah satu mata kuliah atau mata pelajaran yang diberikan dalam kurikulum baik di perguruan tinggi maupun di sekolah. Pengajaran bahasa Indonesia harus sesuai dengan target apa yang ingin dicapai sesuai dengan kurikulum dan silabus. Pendidikan bahasa Indonesia dilaksanakan untuk mengembangkan tentang kemahiran berbahasa sehingga timbul sikap positif terhadap bahasa.
Pembelajaran bahasa Indonesia yang dilaksanakan di sekolah ataupun di perguruan tinggi dalam kenyataan sering diikuti dan dilaksanakan oleh siswa maupun mahasiswa dengan sikap tidak baik seperti acuh tak acuh, tidak menghargai bahasa Indonsia mereka menganggap tidak perlu lagi belajar bahasa Indonesia karena mereka sudah pandai berbahasa Indonesia. Sebaliknya dengan bahasa asing mereka lebih tertarik dan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menguasai bahasa asing tersebut.
Berdasarkan uraian di atas dalam makalah ini akan membahas tentang sikap bahasa, sikap positif dan sikap negatif berbahasa,
PEMBAHASAN Sikap Bahasa
Kata sikap dalam bahasa Indonesia mengacu pada perilaku atau gerak-gerik dan tindakan atau perbuatan yang dilakukan sebagai reaksi dari suatu kejadian. Selain itu, sikap merupakan suatu peristiwa kejiwaan dalam bentuk tindakan atau perilaku yang tidak dapat diamati secara langsung. Sikap bahasa adalah posisi mental atau perasaan terhadap bahasa sendiri atau bahasa orang lain. Sikap bahasa dapat diamati melalui perilaku berbahasa atau perilaku tutur seseorang.
Sikap terdiri dari tiga komponen yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen konatif (Lambert dalam Ghaer dan Leoni Agustina, 2004:150). Komponen kognitif berkaitan dengan pengetahuan dalam proses
berpikir. Komponen afektif berhubungan dengan penilaian dan perasaan, seperti rasa senang dan rasa tidak senang atau peduli dan masa bodoh, suka tidak suka. Komponen konatif menyangkut perilaku atau perbuatan sebagai putusan akhir kesiapan reaktif terhadap suatu hal atau keadaan.
Komponen sikap bahasa ini dapat digambarkan misalnya; seorang yang berpendidikan tinggi yang pernah tinggal di luar negeri. Dan berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Tuturan yang digunakan akan dipengaruhi oleh pengetahuannya tentang bahasa Indonesia dan bahasa asing yang dikuasainya. Secara kognitif harus memilih kata-kata dan strukturnya dalam bahasa Indonesia dengan tepat. Dengan sikap afektif kelompok masyarakat terdidik dan dari luar negeri kurang puas atau tidak bergengsi jika tidak ada kata asing yang digunakannya.
Contoh;
Mereka akan married bulan depan. Ini merupakan task yang besar.
Yah apa boleh buat, better laat dan noit. (Yah apa boleh buat, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali).
Contoh di atas menunjukkan komponen konatif, yakni perilaku yang tampak berupa ujaran atau tutran bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa asing yang ditentukan oleh komponen afektif. Dalam hal ini komponen kognitif tidak mendominasi afektifnya. Dengan demikian, jika seseorang memilih menggunakan bahasa Indonesia secara situasional dan benar secara gramatikal maka komponen konatifnya cenderung merujuk kepada komponen kongnitifnya Sedangkan apabila yang keluar dari tuturannya menggunakan bahasa Indonesia yang bercampur aduk dengan bahasa asing atau bahasa daerah berarti komponen konatif lebih menentukan daripada komponen afektifnya.
Sikap dan perilaku saling berkaitan. Perilaku sesorang atau sekelompok orang terhadap suatu hal atau keadaan menunjukan sikap mereka terhadap suatu hal atau keadaan. Seperti tertarik dengan mendengarkan penjelasan tentang bahasa. Rasa senang terhadap suatu benda, rasa bangga terhadap
keadaan. Perilaku seperti ini disebut dengan sikap positif. Sikap bahasa terdiri dari dua jenis yaitu sikap positif dan sikap negatif
Sikap Positif
Sikap positif adalah sikap atau tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku. Sikap positif bahasa adalah penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah bahasa dan sesuai dengan situasi kebahasaan. Sikap positif terhadap bahasa dapat kita temui dalam pelaksanaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari oleh pemakai bahasa.
Sikap positif berbahasa adaalh sikap yang diwujudkan dengan 1) kesetiaan berbahasa, yaitu suatu upaya agar si pengguna bahasa tetap berpegang teguh memelihara dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara dan mencegah adanya pengaruh masuknya bahasa asing. 2) kebanggaan berbahasa, yaitu suatu upaya agar si pengguna bahasa lebih mengutamakan bahasa sendiri dan menggunakannya sebagai lambang identitas bangsa. 3) kesadaran akan aadanya norma atau kaidah berbahasa, suatu upaya agar si pengguna bahasa dapat menggunakan bahasa sesuai dengan kaidah dan aturan-atauran yang berlaku dalam bahasa Indonesia.
Setia berbahasa Indonesia adalah suatu sikap positif berbahasa yang tetap berpegang terguh untuk memelihara, menjaga dan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar serta berusaha membina dan mengembangkan bahasa Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan global dan mencegah pengaruh asing yang berlebihan. Penggunaan bahasa asing sebaiknya harus dihindari dan dicari padanan katanya
Contoh:
1) Ayah pergi ke airpot menjemput ibu. ( bandara)
2) I sama you harus pulang naik kijang. (Saya dan kamu)
Penggunaan kosa kata baku merupakan salah satu ciri yang dapat dipakai untuk menentukan sikap bahasa seseorang. Karena dengan menggunakan kosa kata merupakan bentuk nyata dari perilaku terhadap sikap
penggunaan bahasa. Sikap positif terlihat juga dari pengnggunaan kata dan struktur bahasa Indonesia dengan cermat dan tepat.
Sikap positif akan mendorong setiap penutur untuk sejauh mungkin atau menghilangkan sama sekali warna bahasa daerah atau dialeknya. Sikap seperti ini akan sangat menunjang usaha pembakuan bahasa Indonesia.
Ciri-ciri sikap Positif berbahasa
Seseorang yang memilki sikap positif terhadap bahasa memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Selalu berhati-hati menggunakan bahasa.
b. Tidak merasa senang melihat orang yang menggunakan bahasa secara serampangan.
c. Memperingatkan pemakai bahasa kalau ternyata terjadi kekeliruan. d. Tertarik terhadap penjelasan yang berhubungan dengan bahasa. e. Dapat mengoreksi pemakaian bahasa oran lain.
f. Berusaha menambah pengetahuan tentang bahasa.
g. Bertanya kepada ahlinya kalau menghadapi persoalan bahasa.
h. Kesetiaan bahasa yang mendorong masyarakat suatu bahasa mempertahankan bahasa dan jika perlu mencegah adanya pengaruh bahasa lain.
i. Bangga menggunakan bahasa
j. Kesadaran adanya norma bahasa yang mendoorong orang menggunakan bahasa dengan cermat dan santun.
Sikap Negatif
Sikap negatif adalah sikap atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai atau norma yang berlaku. Sikap negatif terhadap bahasa terlihat dari perilaku pemakai bahasa, misalnya tidak menyukai, tidak bangga, tidak
mempertahankan bahasa daerah, tidak mau berusaha mempelajari dan meningkatkan pengetahuan tentang bahasa daerah. Menggunakan bahasa Indonesia secara serampangan, tidak bangga terhadap bahasa Indonesia dan tidak berusaha meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa Indonesia.
Sikap negatif yang dimiliki para pelajar dalam mempelajari bahasa Indonesia mereka beranggapan mempelajari bahasa Indonesia itu mudah. Dengan anggapan seperti itu pelajar atau mahasiswa tidak begitu serius menerima pelajaran. Dan tanpa belajar pun mereka sudah pandai menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang lain. Berbeda dengan belajar bahasa asing mereka lebih antusias dan bahkan mereka ikut kursus untuk dapat berbahasa asing. Begitupun dikalangan mahasiswa minat mereka untuk belajar bahasa Indonesia sangat kurang, mereka lebih mengutamakan mata kuliah lain yang berkaitan dengan disiplin ilmu yang diambilnya.
Sikap negatif dari pelajar atau penutur dalam menggunakan bahasa adalah mereka meremehkan mutu. Hal ini tercermin dalam perilaku kebahasaan yang beranggapan “pokoknya mengerti”. Sikap ini menyebabkan bahasa yang digunakan asal-asalan tanpa memperdulikan apakah bahasa yang digunakan benar arau salah.
Sikap mentalitas dari pengguna bahasa yang berkeinginan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar tanpa melalui proses belajar. Mereka beranggapan bahwa bahasa Indonesia itu adalah bahasa yang diperoleh secara alami tanpa harus dipelajari. Hal ini benar, karena kita dilahirkan di Indonesia dan dibesarkan di Indonesia sehingga dapat menguasai bahasa Indonesia. Anggapan ini salah karena untuk dapat menguasai bahasa terutama struktur dan kaidah harus dipelajari.
Sikap tuna harga diri, berarti tidak mau menghargai bahasa sendiri lebih menganggungkan atau membanggakan bahasa asing daripada bahasa Indonesia. Seperti tertulis di tempat umum kata-kata WELCOME bukan “selamat datang”, EXIT dan IN bukan “keluar” dan “masuk”.
Sikap latah atau ikut-ikutan dengan meniru ucapan orang atau tindakan orang tanpa dipikir dulu benar atau salah ucapan seseorang.
Sikap terhadap bahasa Indonesia, apakah sikap negatif atau positif dapat diamati melalui berbagai perilaku. Kegiatan ini dapat diamati melalui perilaku berbahasa atau perilaku tutur. Perilaku berbahasa atau perilaku bertutur seseorang atau sekelompok orang tidak selalu merupakan cerminan sikap bahasa. Demikian pula sebaliknya, sikap bahasa tidak selamanya tercermin dalam perilaku tutur.
Sikap positif bahasa erat kaitannya juga dengan pemilihan bahasa karena penutur bahasa di Indonesia tergolong yang bilingual. Timbulnya pemilihan bahasa akibat adanya kontak bahasa, sosial dan budaya. Sesuai dengan kebijaksanaan dalam bahasa Indonesia penutur harus dapat menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam berkomunkasi. Penggunaan bahasa yang baik adalah penggunaan bahasa yang sesuai dengan konteks situasinya. Penggunaan bahasa dan taat kaidah. Konteks situasi yang dimaksud meliputi, lawan bicara, tempat, topik pembicaraan, medium atau alat, yaitu bahasa lisan atau tulis. Konteks situasi dapat berupa juga resmi atau formal, tidak resmi atau nonformal. Adapun yang dimaksud dengan kaidah bahasa atau gramatika meliputi struktur bahasa, baik kata maupun kalimat.
Misalnya,jika berbincang-bincang sesama mahasiswa, dengan topik pembicaraan tentang kehidupan mahasiswa yang dilaksanakan di luar kelas, dalam suasana akrab, maka konteks situasinya nonformal. Pemilihan bahasa dan kata, istilah dan struktur yang digunakan akan berbeda jika pembicaraan dilaksanakan dalam rapat, atau seminar yang dilaksanakan dalam sutau ruangan khusus dan dihadiri oleh orang banyak dan membahas suatu masalah. Penggunaan kata seperti aku, gue, ngobrol, bilangin, ngapo dapat digunakan dalam situasi yang nonformal tetapi pada situasi yang resmi tidak dapat digunakan. Begitupun dalam penulisan kata yang disampaikan melalui fasilitasi SMS yang mengharuskan penyingkatan kata seperti sdh, mrk , tpt.
Contoh :
Penggunaan kata seperti di atas tidak boleh digunakan jika dalam konteks situasi yang resmi. Kata istilah dan struktur bahasa yang digunakan dalam konteks situasi resmi harus menggunakan kata, istilah dan struktur bahasa yang baku dan standar.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang multilingual. Masyarakat yang ada di Indonesia minimal menguasai dua bahasa yaitu bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Selain itu ada juga masyarakat yang menguasai selain bahasa daerah dan bahasa Indonesia menguasai pula bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Korea, bahasa Jepang, dan sebagainya. Kondisi yang seperti ini ditambah adanya pengaruh globalisasi sehingga menuntut penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.
Berdasarkan keadaan masyarakat yang seperti itu sehingga membuat seseorang untuk melakukan sikap dalam pemilihan bahasa manakah yang akan digunakan sebagai alat komunikasi. Pemilihan bahasa ini dipengaruhi pula dengan situasi dan latar, waktu ,lawan bicara, topik pembicaraan. Situasi konteks pembicaraan inilah yang menuntut seorang agar dapat menggunakan bahasa yang baik dan benar.
SIMPULAN
Sikap bahasa merupakan peristiwa kejiwaan yang dapat diamati melalui perilaku. Sikap bahasa terdiri dari sikap positif dan sikap negatif. Sikap positif bahasa adalah menyenangi dan memiliki rasa bangga terhadap bahasa daerah atau bahasa Indonesia serta mempertahankan bahasa daerah atau bahasa Indonesia sesuai dengan kebutuhannya. Sikap negatif adalah sikap kurang menyenangi tidak peduli, tidak bangga terhadap bahasa daerah atau bahasa Indonesia, meremehkan bahasa Indonesia, bahasa Indonesia tidak perlu lagi dipelajari, sikap latah ikut-ikutan atau meniru yang belum tentu benar ucapan atau tindakan orang lain.
Sikap positif bahasa mempengaruhi dalam pemilihan bahasa. Sikap positif dapat ditumbuhkan dengan membiasakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan menggunakan bahasa yang baik dan
benar penutur bahasa sudah dapat melakukan sikap positif kapan menggunakan bahasa Indonesia ragam resmi dan ragam tidak resmi begitu juga kata-kata yang digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 1993. Pembakuan Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka CIpta. Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal.
Jakarta: Rineka Cipta.
Finoza, Lamuddin. 2009. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Ohoiwurun, Paul. 1997. Sosiolinguistik. Jakarta: Kessaint Blanc. Pateda, Mansur. 1987. Sosiolinguistik.Bandung: ANgkasa.
Suwito. 1983. Pengantar Awal Sosiolinguistik Teori dan Problema. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.