BAB I PENDAHULUAN
1.5. Metode Penelitian
Metode sejarah merupakan sebuah cara yang bertujuan untuk memastikan dan menganalisis serta mengungkapkan fakta-fakta mengenai masa lampau. Sistematika dalam sebuah penulisan mengenai penelitian yang akan dilaksanakan terangkum didalam sebuah metode penelitian sejarah yang membentu setiap penelitian dalam tujuan untuk merekonstruksi ataupun melakukan reka ulang terhadap kejadian-kejadian ataupun peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau.
Seorang peneliti, dalam melakukan penelitian di lapangan terlebih dahulu mengadakan sejumlah pengamatan untuk membuktikan akan anggapan-anggapan dasar yang berdasarkan pada kenyataan yang ada di lokasi penelitian. Di dalam metode sejarah, ada beberapa teknik ataupun langkah-langkah yang terlebih dahulu dilakukan oleh penulis sebelum merampungkan tulisan yang akan dibuat. Adapun langkah-langkah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Heuristik, yaitu metode pengumpulan data atau sumber melalui studi kepustakaan (library research) yaitu mengumpulkan sumber-sumber tertulis yang akan berkaitan dengan penelitian (pengumpulan buku, majalah, artikel, ataupun surat kabar), melakukan pengamatan lapangan (field research), ataupun studi wawancara kepada narasumber yang dapat membantu penelitian dan berkaitan dengan judul penelitian yang akan diteliti. Dalam penelitian mengenai kajian yang dibahas, penelitian mengumpulkan sumber-sumber pendukung penelitian dari buku-buku yang terkait dengan judul penelitian baik yang ada di perpustakaan daerah Bandar Pasir Mandoge, Perpustakaan
Universitas Sumatera Utara, dan dari Kantor PTP IV Unit Usaha Pasir Mandoge. Selain buku, data-data yang diperoleh juga berupa dokumen dan laporan-laporan dari kantor Camat Bandar Pasir Mandoge dan dari beberapa departemen di PTP IV Unit Usaha Pasir Mandoge. Dalam metode wawancara peneliti menggunakan interview guide sebagai pedoman dalam melakukan wawancara kepada narasumber yang merupakan informan dalam memberikan sumber-sumber penelitian yang dikaji. Penyebaran koesioner dilakukan selain melakukan wawancara langsung dengan narasumber.
2. Kritik sumber, merupakan sebuah usaha yang akan dilakukan peneliti untuk menyeleksi sumber atau bahan-bahan yang akan dikumpulkan. Setelah sumber-sumber dikumpulkan kemudian diverifikasi melalui kritik, baik kritik ekstern maupun kritik intern. Kritik ekstern digunakan untuk mengetahui tentang kebenaran sumber yang diperoleh, sedangkan kritik intern digunakan untuk menilai kelayakan sumber yang akan dilakukan dalam penulisan.
3. Interpretasi, pada tahapan ini peneliti akan mencoba menafsirkan sumber-sumber maupun laporan yang telah terkumpul dan telah diverifikasi agar menjadi sebuah fakta yang teruji kebenaranya. Dalam menganalisa sumber yang diperoleh diperlukan analisa yang lebih bersifat objektif dan ilmiah terhadap objek yang diperoleh diperlukan analisa yang bersifat objektif dan ilmiah terhadap objek yang akan diteliti. Disini peneliti telah memiliki konsep, ide dan gambaran kerangka acuan untuk menuli, yang selanjutnya akan dituliskan dalam tulisan sejarah yakni pada tahap keempat.
4. Historigrafi, setelah semua sumber-sumber yang diperoleh selesai diuji kebenaran dan kelayakannya, tahap selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah merampungkan dari hasil laporan yang telah diperoleh menjadi sebuah tulisan untuk dituangkan secara sistematis dan kronologis. Dalam melakukan penulisan sejarah aspek kronologis memang perlu diperhatikan agar menghasilkan sebuah tulisan yang bernilai sejarah yang ilmiah dan objektif.
Dengan demikian diharapkan penulisan mengenai Kehidupan Sosial Ekonomi Karyawan PTP VII Di Kecamatan Bandar Pasir Mandoge 1975-1996 yang mencakup beberapa aspek kehidupan karyawan dapat dipaparkan secara jelas, rinci, logis, objektif dan mudah dipahami.
BAB II
LATAR BELAKANG BERDIRINYA PTP VII DI KECAMATAN BANDAR PASIR MANDOGE
2.1. Letak Geografis Bandar Pasir Mandoge
Kecamatan Bandar Pasir Mandoge merupakan salah satu kecamatan dari 25 kecamatan yang ada dibawah Pemerintahan Kabupaten Asahan. Kecamatan Bandar Pasir Mandoge mempunyai Ibukota Desa Bandar Pasir Mandoge, dengan koordinat 2o46¹,15¹¹LU 99o20¹, 34¹¹ BT. Mempunyai batas wilayah:
Sebelah Utara berbatasan dengan Kec. Huta Bayu (Kab. Simalungun)
Sebelah Timur berbatasan dengan Kec. Buntu Pane (Kab. Asahan)
Sebelah Selatan berbatasan Kec. Bandar Pulau, Tinggi Raja, (Kab. Asahan), dan kec. Pintu Pohon Meranti (Kab. Tobasa)
Sebelah Barat berbatasan dengan Kec. Hatonduhan (Kab. Simalungun)7
Desa Bandar Pasir Mandoge adalah salah satu desa dari 9 desa yang ada didalam kawasan Pemerintahan Kecamatan Bandar Pasir Mandoge Kabupaten Asahan. Arti nama Bandar Pasir Mandoge yaitu Pelabuhan dengan tanah berpasir yang dipimpin oleh seorang Raja bermarga Manurung yang merupakan tempat
7Arsip Kantor Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, dalam buku : Pembukuan Unsur Rupabumi, Administrasi dan Alami, Kab. Asahan, Tahun 2000. hlm. 101.
perdagangan (barter) antara masyarakat dari dataran tinggi Toba dengan pedagang dari Tanjung Balai. Adapun 9 desa tersebut adalah:
1. Desa Huta Padang Perkampungan Rakyat dan 4 Dusun termasuk kedalam wilayah Perkebunan (Dusun 7, 8, 9, 10). Adapun batas-batas wilayahnya adalah :
Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Sei Kopas
Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Suka Makmur
Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Huta Bagasan
Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Huta Padang9
8Ibid, hlm 101
9 Arsip Kantor Desa Bandar Pasir Mandoge, dalam : Papan Tabel Profil Desa dan Batas Wilayah.
Pada awal tahun 1950an wilayah Mandoge masih terdiri dari beberapa kampung diantaranya Ujung Sipinggan, Pasar Bambu, Buntu Maraja, Saut Maraja, Pasir Mandoge, Perladaan. Kawasan ini masih dikelilingi oleh hutan alami dengan kayu-kayu besarnya yang sangat luas. Kegiatan utama masyarakatnya adalah bertani.
2.2. Keadaan Bandar Pasir Mandoge sebelum Berdirinya PTP VII
Pada awal tahun 1950an, Jumlah penduduk Mandoge diperkirakan sebanyak 60 KK. Suku yang mendominasi adalah Suku Batak Tapanuli Utara seperti Sitorus, Manurung, Butar-butar dan Sirait. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Pardembanan Sirih, perpaduan antara bahasa Tapanuli Utara dengan Simalungun, namun menggunakan logat bahasa Asahan.10 Wilayah mandoge masih banyak hutan yang dihuni banyak binatang buas, seperti; harimau, babi hutan, landak, dan lainnya.
Wilayah hutan tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk membuka lahan untuk dijadikan perladangan, mereka bertempat tinggal di perladangan masing-masing karena menganut sistem ladang berpindah. Mereka sudah mengenal tempat tinggal, walaupun tidak layak pakai pada masa itu, yaitu rumah dengan ukuran 5x6 M yang berbentuk rumah Panggung (sekarang seperti gubuk diladang), dimana atap rumah terbuat dari anyaman ilalang ataupun anyaman daun rumbia. Masyarakat bertempat tinggal diladang bertujuan untuk menjaga ladang. Namun ada juga beberapa rumah yang sudah dibangun di pinggir jalan. Setiap pagi masyarakat pergi ke jurang
10 Wawancara dengan A.N. Sinurat, Dusun I Desa Bandar Pasir Bandoge, Rabu 26 april 2017
(Sungai) / mata air untuk mandi ataupun mengambil air untuk kebutuhan minum dan memasak sebab belum ada sumber air selain sungai.
Pada awal tahun 1960an ini sebenarnya masyarakat sudah mengenal sistem pemerintahan desa. Namun waktu itu masih disebut Kepala kampung. Beberapa tahun kemudian sebutan untuk kepala kampung berubah menjadi Pangulu, Pak Ketua, dan terakhir Kepala Desa.
2.2.1. Keadaan Penduduk
Pada awal tahun 1950an, Jumlah Penduduk diperkirakan sebanyak 60 KK.
Suku yang mendominasi adalah Suku Batak Tapanuli Utara seperti Sitorus, Manurung, Butar-butar dan Sirait. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Pardembanan Sirih yang merupakan perpaduan antara bahasa Tapanuli Utara dengan Simalungun, namun menggunakan Dialek bahasa Asahan. Bahasa ini berkembang pada saat wilayah ini dikuasai oleh Kolonial Belanda. Pada saat itu Mandoge merupakan wilayah perbatasan antara Melayu dan Simalungun serta Tapanuli Utara.
Masyarakat juga sudah mengenal agama, masyarakat terbagi kepada agama Islam, Kristen dan sebagian kecil aliran kepercayaan pada leluhur (siPelebegu). Hal ini ditandai dengan sudah adanya bangunan tempat ibadah seperti Mesjid dan Gereja yang terbuat dari papan dan atap rumbia masih berlantaikan tanah, ukurannya juga
tidak terlalu besar.11 Acara khusus keagamaan belum ada, hanya ibadah wajib yang dilakukan masyarakat baik itu Islam ataupun Kristen seperti sholat dan sekolah minggu. Sudah ada pemangku adat ataupun orang-orang tua yang disegani dalam hal keagamaan.
2.2.2. Mata Pencaharian
Mata pencaharian masyarakat desa Mandoge bertumpu kepada perladangan berpindah. Tanaman utama yang ditanam masyarakat adalah padi. Setiap keluarga memiliki tanaman padi sendiri, jadi pada masa itu masyarakat tidak membeli beras, bekerja sampingan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lain seperti membeli ikan, garam dan pakaian.
Tata cara penanaman padi ini adalah pertama-tama setiap keluarga melakukan pembukaan lahan (mengimas)12 dengan cara menebang pohon-pohon kayu. Setelah proses pembukaan selesai, kemudian tunggul-tunggul kayu dibakar. Setelah pembakaran selesai, kemudian lahan didiamkan beberapa hari, lalu dilanjutkan dengan proses penugalan atau melubangi tanah untuk tempat bibit padi di tanam.
Setelah penanam bibit selesai barulah membangun gubuk atau rumah untuk tempat tinggal di ladang, yang terbuat dari atap nipah dan dinding dari kulit kayu.13
11 Ginting, suheriyanto :”Pengaruh Penetapan Ibu Kota Kecamatan Terhadap Perkembangan Desa Bandar Pasir Mandoge Kabupaten Asahan Tahun 1964-1998” (skripsi), fakultas ilmu budaya, USU, medan, 2015 hlm. 19
12 Mengimas adalah tradisi membuka ladang ramai-ramai dengan menggunakan parang
13 wawancara dengan A.N Sinurat, Dusun I desa Bandar Pasir mandoge, Rabu 26 April 2017
Tanaman padi ini akan dipanen setelah 6 bulan. Selama proses ini, di sekitar tanaman padi juga akan ditanam dengan berbagai jenis tanaman tumpang sari seperti cabai, sayuran, terong, bawang dan lainnya untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu juga pembersihan lahan disekitar tanaman padi untuk menghindari gulma atau rumput liar dilakukan dengan cara mengguris14.
Setelah padi dipanen, kemudian akan dibawa kerumah ataupun lumbung dan dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama akan ditumbuk untuk mendapatkan beras dan dikonsumsi. Sedangkan bagian yang kedua akan disimpan untuk persediaan cadangan makanan, apabila panen periode selanjutnya gagal. Lahan padi yang sudah dipanen kemudian digunakan untuk berladang dan ditanami dengan kacang, cabai, terong dan hasilnya akan dibawa Rabuan15.
Selain berladang dan menanam padi, mata pencaharian lainnya yang dilakukan masyarakat adalah membalok, memancing, mencari rotan, membuat gula merah, mencari getah hutan, dan mencari bambu kecil. Membalok atau mencari balok kayu dilakukan oleh orang laki-laki dewasa, balok-balok kayu ini akan dijual ke Tokeh16 balok dan akan dibawa ke Tanjung Balai. Cara membawa balok ini ada dua dan diberi nama balok darat dan balok air. Balok air, yaitu dihanyutkan dengan rakit
14 Mengguris, membersihkan lahan disekitar tanaman padi menggunakan alat khusus menyerupai cangkul, namun berukuran lebih kecil, dan biasa digunakan dilahan padi darat.
15 Rabuan, artinya Pekan (Pasar) tempat masyarakat menjual hasil panen dan membeli pakaian dan juga kebutuhan dapur lainnya seperti garam dan ikan asin, dan pedagangnya berasal dari Siantar, Simalungun dan juga Kisaran (Tanjung Balai) yang diadakan setiap hari Rabu.
16 Tokeh, artinya pedagang yang menguasai pembelian satu jenis barang pada satu wilayah, seperti tokeh balok, tokeh getah, tokeh rotan.
melalui aliran sungai Silau ke Tanjung Balai sedangkan balok darat dijemput Tokeh menggunakan truk balok langsung kelokasi. Kayu-kayu yang akan dihanyutkan diikat terlebih dahulu menjadi satu bagian menggunakan rotan. Kemudian akan dihanyutkan menuju hilir sungai Silau di Kisaran dan Tanjung Balai. Biasanya kayu-kayu ini juga akan dibawa ke malaysia dan singapura.
2.2.3. Sosial, Budaya, Dan Pendidikan
Didalam kehidupan sosialnya, masyarakat mengenal sistem Marsiadapari, sebagian masyarakat menyebutnya dengan sambatan, yaitu sistem tolong menolong secara bergantian tanpa upahan seperti pembukaan lahan dan membangun rumah.
Apabila ingin membuka lahan, maka kerabat terdekat akan diundang untuk ikut membantu membuka lahan, menanam, dan juga memanen. Kerabat yang membantu tidak diberi gaji hanya diberi makan setiap harinya. Biasanya sistem ini terdiri dari 4-5 keluarga sesuai dengan kesepakatan. Mereka hanya mengandalkan ikatan kekeluargaan. Hal ini berlaku secara bergantian bagi setiap anggota kelompok.
Tolong menolong ini juga berlaku apabila ada kerabat atau ibu-ibu yang ingin melahirkan atau setelah melahirkan, akan ada acara lek-lekan17(kumpul bersama) selama 3 hari 3 malam di rumah si ibu tersebut. Dan malam terakhirnya para kerabat yang hadir tidak akan tidur semalaman. Kerabat yang datang berkunjung biasanya juga membawa beras, gula dan kelapa untuk buah tangan, dan untuk membantu
17 Lek-lekan artinya menjenguk ibu-ibu yang melahirkan, dan ikut menjaga di rumah agar terhindar dari serangan roh-roh ghaib.
keluarga dari ibu yang melahirkan. Para kerabat yang datang akan membuat kue-kue basah seperti lemet dan gorengan untuk tamu yang berhadir. Tamu yang hadir tidak akan tidur untuk menjaga si ibu dan bayinya.
Pada proses melahirkan biasanya akan dibantu oleh dukun beranak, karena belum ada bidan. Memotong uri menggunakan belahan bambu yang sudah dibersihkan. Kemudian diberi ramuan yang terbuat dari induk kunyit dan sirih serta kapur, supaya luka sehabis melahirkan bisa cepat kering.
Belum ada Catatan Sipil, hanya memanggil orang KUA supaya datang kerumah untuk menjadi saksi pernikahan. Para tamu undangan biasanya juga akan membawa beras, kelapa dan juga ayam pada saat acara hajatan berlangsung, hal ini karena masih kentalnya rasa kekeluargaan diantara masyarakat. Acara pernikahan juga sudah menerapkan acara upa-upa karena adanya percampuran budaya antara Batak Toba dan juga Melayu. Acara hiburannya menggunakan alat musik Batak (Tortor), Menggual, dengan alat lengkap seperti Seruni, Gong, Gondang.
Berbicara tentang tingkatan pendidikan, hampir seluruh masyarakat masih belum berpendidikan sebelum tahun 1970, karena keterbatasan pengetahuan dan masih minimnya pusat pendidikan, sebagian besar anak-anak kampung hanya ikut membantu orang tua mereka masing-masing untuk berladang, mencari kayu,mengangkat air, dan juga menjual hasil panen mereka ke pekanan. Sekolah pada waktu itu juga masih sebatas SR (Sekolah Rakyat).
2.2.4. Infrakstruktur Jalan
Pada awal tahun 1960, jalan penghubung antar kampung sudah ada. Namun keadaan jalan masih sangat sederhana. Masih bertanah dan juga berpasir putih, dan hampir disepanjang jalan masih terdapat lubang yang besar. Jalan ini memiliki lebar sekitar 3-4 Meter dan sudah bisa dilewati oleh truk-truk tentara dan juga truk pengangkut balok kayu. Jalan ini sudah terhubung ke Tanah Jawa (Simalungun) dan Siantar. Hal ini ditandai dengan sudah adanya jembatan penghubung yang terletak di Kampung Ujung Sipinggan. Jembatan ini diperkirakan dibangun pada Tahun 1936 oleh Pemerintahan Kolonial Belanda. Jalan menuju ke Kisaran juga sudah ada.
Namun tidak melewati jembatan Sei Silau, jalan yang sekarang. Masih melalui Kampung Jati Sari, masuk dari Simpang Gori, melewati beberapa kampung dan keluar dari Simpang B.W. Tinggi Raja, Kabupaten Asahan.
2.3. Awal Pembukaan PTP VII Unit Usaha Pasir Mandoge
Wilayah Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan perkebunan terluas dan penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia. Secara umum kondisi perkebunan kelapa sawit di Provinsi Sumatera Utara cukup berkembang dengan baik, hal ini terbukti dengan terus bertambahnya areal perkebunan baik perkebunan rakyat, swasta asing, maupun nasional dan perkebunan negara (PTPN). Pada umumnya perusahaan-perusahaan perkebunan di Sumatera
Utara memiliki sejarah panjang sejak zaman belanda. Pada awalnya keberadaan perkebunan ini merupakan milik maskapai Belanda yang dinasionalisasikan pada tahun 1959 dan selanjutnya berdasarkan kebijakan pemerintah telah mengalami beberapa kali perubahan organisasi sebelum akhirnya menjadi PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) saat ini.
Letak geografis kecamatan Bandar Pasir Mandoge cukup strategis dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Simalungun. Hal ini yang mendorong pemerintah Asahan dan Pemerintah Simalungun untuk membangun jalan raya dengan harapan meningkat perekonomian masyarakat Mandoge. Masyarakat Mandoge menggantungkan hidup mereka dengan berladang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hal tersebut ditopang dengan keadaan wilayah dan iklim mandoge yang sangat baik untuk membuka lahan untuk dijadikan ladang mereka. Walaupun keadaan wilayah Mandoge berbukit-bukit dan dikelilingi banyak sungai, sangat baik digunakan untuk bercocok tanam. Tidak hanya bercocok tanam sayuran saja, wilayah Mandoge juga sangat cocok untuk perkebunan seperti perkebunan karet dan kelapa sawit. Berdasarkan hal tersebut PTP VII membangun perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, yaitu PTP VII unit Usaha Pasir Mandoge. Dan sebagai pengembangan dari perkebunan-perkebunan yang sudah ada lebih dulu.
Unit Usaha Pasir Mandoge merupakan salah satu unit usaha PTP Nusantara IV (persero) Medan yang dibangun pada tahun 1975 yang bernama PNP VII dengan Hak Guna Usaha (HGU) seluas : ± 8.411,95 Ha. Hak Guna Usaha ini berlaku sampai
dengan tanggal 30 Desember 2010. Pada tanggal 14 april 1985 perkebunan ini berganti nama dari PNP VII menjadi PTP VII (Persero).18
2.3.1. Pembukaan Lahan
Proses awal daripada pembukaan sebuah perkebunan adalah persiapan dan penyediaan lahan yang cocok untuk komoditas yang akan ditanam. PTP VII melihat potensi tersebut ada pada lahan yang ada di Kecamatan Bandar Pasir Mandoge untuk dijadikan lahan perkebunan. Pada tahun 1975 dilakukan pemetaan lahan dan didatangkan tenaga ahli topografi untuk memetakan lahan yang akan dipersiapkan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Adapun lahan berupa hutan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon yang besar dengan kondisi semak belukar dan sungai-sungai.
Tahap awal pembukaan lahan setelah proses pemetaan lahan selanjutnya masuk pada tahapan tumbang atau tebang pohon. Pada tahap ini pohon-pohon besar yang merupakan hutan tersebut ditebang dan ditumbang oleh para pekerja dengan menggunakan peralatan seperti; kapak, gergaji, dan chainsaw (mesin penumbang pohon).
Lahan yang dibuka PTP VII untuk lahan perkebunan kelapa sawit tersebut adalah hutan dan sebagian lahan perladangan masyarakat Mandoge. Proses pengambilan lahan dari masyarakat Mandoge tersebut dengan cara ganti rugi tanam
18 Dokumen PTP VII Unit Pasir Mandoge-pemetaan lahan
yang dilakukan pihak PTP terhadap masyarakat19. Proses ini dilakukan dengan cara pihak perkebunan membayar lahan tersebut dan menganti rugi tanaman masyarakat yang ada di lahan tersebut dengan ganti rugi tanaman. Dan perkampungan yang ada di areal lahan perkebunan dipindahkan pihak PTP sesuai dengan kesepakatan antara masyarakat Mandoge dengan pihak perkebunan, walaupun tidak ada ganti rugi bangunan untuk rumah yang sudah ada diareal tersebut.
Pembukaan lahan merupakan salah satu faktor yang menentukan kuantitas produksi selain jenis tanah dan kualitas bibit. Biaya pemeliharaan dan panen pada waktu tanaman menghasilkan20. Lahan yang dibuka PTP VII untuk lahan perkebunan kelapa sawit tersebut adalah hutan dan sebagian lahan perladangan masyarakat Mandoge. Proses pengambilan lahan dari masyarakat Mandoge tersebut dengan cara pencekingan yang dilakukan pihak PTP VII terhadap masyarakat21. Proses ini dilakukan dengan cara pihak perkebunan membayar lahan tersebut dan menganti rugi tanaman masyarakat yang ada di lahan tersebut dengan ganti rugi tanaman. Dan perkampungan yang ada di areal lahan perkebunan dipindahkan pihak PTP VII sesuai dengan sepakatan antara masyarakat Mandoge dengan pihak perkebunan, walaupun tidak ada ganti rugi bangunan untuk rumah yang sudah ada diareal tersebut
.
19 Wawancara dengan Hadi Surkano, Dusun I Desa Bandar Pasir Bandoge, Kamis 9 Februari 2017
20Yan Fauzi, dkk, Kelapa Sawit: Budi Daya Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analisis Usaha dan Pemasaran, Jakarta:Penebar Swadaya, 1992, hlm. 56.
21 Wawancara A.N. Sinurat, Dusun I Desa Bandar Pasir Bandoge, Rabu 8 Februari 2017
2.3.2. Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi bisa didefenisikan dalam artian salah satu mekanisme-mekanisme secara formal tentang sistem pengolahan dari organisasi tersebut. Struktur organisasi mencakup aspek-aspek seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam satuan kerja. Pada sebuah perusahaan, pembuatan struktur organisasi tidak hanya menggambarkan terhadap wewenang dan tugas karyawan dalam sebuah organisasi. Dalam sebuah perusahaan anggota dalam organisasi tersebut wajib bertanggung jawab terhadap apa yang harus dipertanggungjawabkan.
Struktur organisasi memberikan gambaran secara jelas mengenai pertanggungjawaban kepada pimpinan yang telah memberikan tugas atau wewenang, karena wewenang tersebut harus dipertanggungjawabkan. Kedudukan setiap orang pada struktur organisasi dapat mempermudah melakukan koordinasi, karena adanya keterkaitan penyelesaian pekerjaan terhadap suatu fungsi yang dipercayakan pada seseorang.
Lingkungan sebuah organisasi terbentuk dari lembaga-lembaga atau kekuatan-kekuatan diluar organisasi yang berpotensi mempengaruhi kinerja organisasi tersebut.
Kekuatan-kekuatan tersebut biasanya meliputi pelanggan, pesaing, badan peraturan pemerintah, kelompok-kelompok tekanan publik, dan sebagainya. Struktur organisasi dipengaruhi oleh lingkungan karena selalu berubah.
Seperti halnya PTP VII Pasir Mandoge juga memiliki struktur organisasi yang jelas dan sistematis mulai dari pimpinan perusahaan sampai karyawan yang paling bawah. Struktur organisasi ini dibuat supaya karyawan mendapat tugas dan wewenang yang harus dipertanggungjawabkan pada perusahaan. Tempat tinggal pun membedakan status karyawan di perkebunan. Bagi karyawan rendahan bulanan (PRB) hampir seluruhnya tinggal di afdeling kecuali karyawan pabrik yang tinggal dekat sekitar pabrik, demikian seterusnya dengan administratur. Disetiap afdeling yang menjadi penanggungjawabnya adalah mandor besar, yaitu yang mengepalai seluruh pekerjaan di lapangan. Diatas mandor besar adalah beberapa asisten yang mengepalai bidang-bidang, antara lain bidang tanaman, bidang pengolahan, bidang teknik dan tata usaha. Selanjutnya tingkat atas yaitu Askep, KPP, KDT, dan KTU.
Sedangkan yang paling tinggi adalah Administratur (ADM)22. Dari mandor besar
Sedangkan yang paling tinggi adalah Administratur (ADM)22. Dari mandor besar