KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan paradigma kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah survei, yaitucross sectional survey dimana pengumpulan data penelitian dilakukan pada saat yang bersamaan antara peubah X dengan Y. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksploratory. Adapun peubah- peubah yang diujikan adalah (1) Kararteristik Pribadi Penyuluh, (2) Dukungan lingkungan penyuluhan, (3) Intensitas Pemanfaatan Media Massa, (4) Intensitas Pemanfaatan Media Terprogram, (5) Intensitas Pemanfaatan Media Lingkungan, dan (6) Kompetensi Penyuluh.
Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual terhadap peubah yang diujikan dengan pendekatan kuantitatif dan didukung oleh data kualitatif sehingga memperoleh hasil penelitian yang lebih bermakna. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan: karakteristik pribadi penyuluh, dukungan lingkungan penyuluhan, intensitas pemanfaatan media, tingkat kompetensi penyuluh, dan faktor-faktor yang dominan mempengaruhinya, serta merumuskan strategi pengembangan kompetensi penyuluh pertanian berbasis pemanfaatan media.
Peubah, Definisi Operasional, dan Pengukuranya
Peubah (variabel) merupakan atribut seseorang atau obyek yang mempunyai keragaman antara satu orang dengan orang yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain (Hatch dan Farhody, Sugiyono 2004). Inti dari peubah menurut Kerlinger (1993) adalah karakteristik atau sifat yang akan diteliti. Ini berarti peubah merupakan sesuatu yang dapat diukur dan memiliki keragaman yang dapat membedakan dengan yang lainnya.
Peubah dalam penelitian ini secara umum dikelompokkan dalam dua yaitu peubah bebas (yang mempengaruhi) dan peubah terikat (yang dipengaruhi). Adapun peubah yang dimaksudkan, sebagai berikut:
(1) Kararteristik Pribadi Penyuluh (X1) (2) Dukungan Lingkungan Penyuluhan (X2) (3) Intensitas Pemanfaatan Media Massa (Y1) (4) Intensitas Pemanfaatan Media Terprogram (Y2) (5) Intensitas Pemanfaatan Media Lingkungan (Y3) (6) Kompetensi Penyuluh (Y4)
Masing-masing peubah telah dijelaskan secara konseptual dalam kajian teori. Selanjutnya setiap peubah didefinisikan secara operasional. Definisi operasional merupakan petunjuk pelaksanaan bagaimana caranya mengukur suatu peubah, yang sekaligus dapat digunakan sebagai informasi ilmiah yang dapat membantu peneliti lain yang ingin menggunakan peubah yang sama (Singarimbun dan Effendi, 1989). Pengukuran untuk setiap peubah didasarkan pada definisi operasional yang diturunkan berdasarkan kajian teori dan definisi konsep yang melandasinya. Ini berarti definisi operasional merupakan operasionalisasi dari definisi konseptual. Selanjutnya dirumuskan indikator dan parameter masing-masing peubah sebagai dasar dalam pengukuran peubah tersebut.
Kararteristik Pribadi Penyuluh (X1)
Karakteristik pribadi penyuluh adalah sifat-sifat atau ciri-ciri internal yang dimiliki penyuluh yang diduga mempengaruhi terhadap pemanfaatan media belajar serta peningkatan kompetensi. Karakteristik pribadi penyuluh yang dimaksudkan adalah umur, tingkat pendidikan formal, pengalaman kerja sebagai penyuluh PNS, kepemilikan media komunikasi dan informasi, dan motivasi. Definisi operasional masing-masing peubah tersebut, sebagai berikut:
(a) Umur adalah usia responden yang dihitung sejak lahir sampai ke tahun terdekat pada waktu penelitian dilakukan.
(b) Pendidikan adalah jumlah tahun dalam mengikuti pendidikan formal, mulai dari Sekolah Dasar hingga jenjang pendidikan terakhir.
(c) Pengalaman kerja adalah jumlah waktu dalam melaksanakan tugas penyuluh Pegawai Negeri Sipil dalam hitungan tahun.
(d) Kepemilikan media komunikasi dan informasi adalah jumlah alat komunikasi dan informasi publik yang dimiliki penyuluh saat penelitian dilakukan, yaitu koran, majalah/tabloid, brosur/leaflet, radio, televisi, internet, dan handphone. (e) Motivasi adalah dorongan dari dalam dan luar diri penyuluh dalam
melaksanakan tugasnya sebagai penyuluh pertanian.
Secara lebih rinci indikator dan parameter karakteristik pribadi penyuluh (umur, tingkat pendidikan formal, pengalaman kerja sebagai penyuluh, kepemilikan media komunikasi dan informasi, dan motivasi) dijelaskan dalam Tabel 3.
Tabel: 3 Indikator dan Parameter Karakteristik Pribadi Penyuluh
Peubah/indikator Parameter
Karakteristik Pribadi Penyuluh (X1)
(1) Umur
Usia penyuluh yang dihitung sejak lahir sampai ke tahun terdekat pada waktu penelitian dilakukan yang dinyatakan dalam jumlah tahun
(2) Pendidikan
Jumlah tahun dalam mengikuti pendidikan formal, mulai dari SD hingga jenjang pendidikan terakhir.
(3) Pengalaman kerja penyuluh
Jumlah waktu dalam melaksanakan tugas penyuluh PNS dalam hitungan tahun.
(4) Kepemilikan media komunikasi dan informasi
Jumlah alat komunikasi dan informasi publik (koran, majalah/tabloid, brosur/bookleat, radio, televisi, dan internet) yang dimiliki penyuluh saat penelitian dilakukan
(5) Motivasi
Dorongan dari dalam (dorongan meningkatkan kompetensi, melaksanakan tugas sebaik-baiknya, dan mengembangkan karier); dan dari luar diri (kesesuaian imbalan, lingkungan mendukung bekerja, apresiasi terhadap penyuluh, dukungan pimpinan lembaga penyuluhan, hubungan sesama penyuluh) penyuluh dalam melaksanakan tugasnya sebagai penyuluh pertanian).
Dukungan lingkungan penyuluhan (X2)
Dukungan lingkungan penyuluhan adalah faktor eksternal di sekitar penyuluh yang diduga memiliki konstribusi mendukung dalam pemanfaatan media dan peningkatan kompetensi penyuluh. Dukungan lingkungan penyuluhan tersebut adalah dukungan lingkungan keluarga, dukungan kebijakan pemerintah daerah kabupaten, dukungan lingkungan yang kondusif untuk bekerja, dukungan lingkungan yang kondusif untuk belajar, dan tuntutan klien/petani terhadap perubahan penyuluhan di tempat tugasnya. Definisi operasional masing-masing peubah tersebut, sebagai berikut:
(a) Dukungan keluarga adalah dorongan istri/suami, anak, dan anggota keluarga (rumah tangga) lainnya terhadap peningkatan kompetensi penyuluh. Dukungan keluarga ini diukur dengan tingkat dukungan keuangan keluarga dan tingkat perhatian anggota keluarga terhadap penyuluhan.
(b) Dukungan pemerintah daerah adalah dukungan kebijakan pemerintah daerah kabupaten terhadap realisasi kelembagaan dan anggaran penyuluhan.
(c) Dukungan lingkungan yang kondusif untuk belajar adalah dorongan lembaga tempat penyuluh bertugas dalam menciptakan kemudahan untuk belajar guna meningkatkan kompetensinya. Lingkungan yang kondusif untuk belajar diukur melalui: tingkat dukungan melanjutkan pendidikan formal, dukungan mengikuti pelatihan, ketersediaan bahan belajar, kemudahan akses informasi, dukungan melaksanakan ujicoba inovasi, dan dorongan memanfaatkan berbagai sumber belajar.
(d) Dukungan lingkungan yang kondusif untuk bekerja adalah dukungan lembaga penyuluhan dalam menciptakan situasi bekerja. Lingkungan yang kondusif untuk bekerja diukur melalui: penghargaan dan sangsi, distribusi tugas, dan memfasilitasi kemudahan komunikasi dengan sesama penyuluh, lembaga penyuluhan, dan dengan klien.
(e) Tuntutan klien/petani adalah tantangan bagi penyuluh untuk melakukan perubahan dalam menerapkan inovasi dan informasi baru untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi klien. Tuntutan klien/petani diukur melalui:
tingkat tantangan perubahan dalam penerapan inovasi dan kebaruan informasi.
Indikator dan parameter dukungan lingkungan penyuluhan (dukungan lingkungan keluarga, kebijakan pemerintah daerah kabupaten, dukungan lingkungan yang kondusif untuk bekerja, dukungan lingkungan yang kondusif untuk belajar, dan tuntutan klien/petani) dijelaskan dalam Tabel 4.
Tabel: 4 Indikator dan Parameter Dukungan lingkungan penyuluhan
Peubah/indikator Parameter
Dukungan Lingkungan Penyuluh an (X2)
(1) Dukungan keluarga (1) Dukungan keuangan untuk peningkatan kemampuan
(2) Dorongan melaksanakan tugas penyuluhan (2) Dukungan kebijakan
pemerintah daerah
(1) Realisasi kelembagaan penyuluhan (2) Realisasi anggaran kegiatan penyuluhan (3) Dukungan ingkungan yang
kondusif untuk belajar
(1) Dorongan melanjutkan pendidikan formal (2) Dukungan mengikuti pelatihan
(3) Ketersediaan bahan belajar (4) Kemudahan akses informasi (5) Dukungan ujicoba inovasi
(6) Dorongan memanfaatkan sumber belajar (4) Dukungan lingkungan
yang kondusif untuk bekerja
(1) Penghargaan dan sangsi prestasi kerja (2) Distribusi tugas sesuai spesialisasinya (3) Kemudahan komunikasi dengan pimpinan
sesama penyuluh, dan dengan klien. (5) Tuntutan klien (1) Tuntutan penerapan inovasi
(2) Tuntutan kebaruan informasi
Intensitas Pemanfaatan Media Massa (Y1)
Media belajar diartikan sebagai wahana yang dapat digunakan proses pembelajaran baik dalam pendidikan formal, non formal, maupun informal guna meningkatkan kompetesi penyuluh. Intensitas pemanfaatan media massa adalah tingkat keseringan penyuluh dalam memanfaatkan berbagai media komunikasi publik dalam meningkatkan kemampuannya. Media Massa yang dimaksudkan adalah koran, majalah, buku, radio, televisi, dan internet. Definisi operasional masing-masing peubah tersebut, sebagai berikut:
(a) Pemanfaatan media koran adalah intensitas membaca surat kabar yang dilakukan penyuluh dalam seminggu terakhir saat penelitian dilakukan. (b) Pemanfaatan media majalah adalah intensitas membaca majalah yang
dilakukan penyuluh dalam sebulan terakhir saat penelitian dilakukan.
(c) Pemanfaatan buku adalah intensitas membaca buku yang dilakukan penyuluh dalam sebulan terakhir saat penelitian dilakukan.
(d) Pemanfaatan radio adalah intensitas mendengarkan siaran radio yang dilakukan penyuluh dalam seminggu terakhir saat penelitian dilakukan. (e) Pemanfaatan televisi adalah intensitas menonton televisi yang dilakukan
penyuluh dalam seminggu terakhir saat penelitian dilakukan.
(f) Pemanfaatan internet adalah intensitas mengakses internet yang dilakukan penyuluh dalam sebulan terakhir saat penelitian dilakukan.
Indikator dan parameter karakteristik intensitas pemanfaatan media massa (koran, majalah, buku, radio, televisi, dan internet) dijelaskan dalam Tabel 5.
Tabel: 5 Indikator dan Parameter Intensitas Pemanfaatan Media Massa
Peubah/indikator Parameter
Pemanfaatan Media Massa (Y1)
(1) Pemanfaatan koran (1) Intensitas membaca koran dalam seminggu terakhir saat penelitian dilakukan
(2) Kesesuain informasi koran dengan penyuluhan (2) Pemanfaatan majalah/
tabloid
(1) Intensitas membaca majalah dalam sebulan terakhir saat penelitian dilakukan
(2) Kesesuain informasi majalah dengan penyuluhan (3) Pemanfaatan buku (1) Intensitas membaca buku dalam sebulan terakhir
saat penelitian dilakukan
(2) Kesesuain informasi buku dengan penyuluhan (4) Pemanfaatan radio (1) Intensitas mendengarkan siaran radio dalam
seminggu terakhir saat penelitian dilakukan (2) Kesesuaian isi siaran radio dengan penyuluhan (5) Pemanfaatan televisi (1) Intensitas mengikuti siaran TV dalam seminggu
terakhir saat penelitian dilakukan
(2) Kesesuaian isi siaran TV dengan penyuluhan (6) Pemanfaatan internet (1) Intensitas akses internet dalam sebulan terakhir
saat penelitian dilakukan
(2) Kesesuaian isi internet dan kesesuaian dengan penyuluhan
Intensitas Pemanfaatan Media Terprogram (Y2)
Media terprogram merupakan wahana pembelajaran yang direncanakan secara khusus (by design) dalam menciptakan proses belajar guna meningkatkan kompetensi penyuluh. Media belajar terprogram yang dimaksudkan adalah pendidikan formal lanjutan setelah menjadi penyuluh PNS, intensitas pelatihan, dan intensitas pertemuan antar penyuluhan. Definisi operasional masing-masing peubah tersebut, sebagai berikut:
(a) Pendidikan formal lanjutan adalah jumlah tahun lamanya mengikuti pendidikan formal setelah menjadi penyuluh PNS.
(b) Pelatihan adalah intensitas pelatihan yang diikuti penyuluh dalam lima tahun terakhir.
(c) Pertemuan adalah intensitas mengikuti pertemuan antar penyuluh dalam satu bulan terakhir saat penelitian dilakukan.
Indikator dan parameter karakteristik intensitas pemanfaatan media terprogram (pendidikan formal lanjutan setelah menjadi penyuluh PNS, intensitas pelatihan, dan intensitas pertemuan antar penyuluhan) dijelaskan dalam Tabel 6.
Tabel 6 Indikator dan Parameter Intensitas Pemanfaatan Media Terprogram
Peubah/indikator Parameter
Pemanfaatan Media Terprogram (Y2) (1) Pendidikan formal
lanjutan
(1) Jumlah tahun lamanya mengikuti pendidikan formal setelah menjadi penyuluh PNS
(2) Status perguruan tinggi (negeri dan swasta) yang diikuti dalam pendidikan formal terakhir
(2) Pertemuan Intensitas mengikuti pertemuan antar penyuluh dalam tiga bulan terakhir
(3) Pelatihan Intensitas pelatihan dalam lima tahun terakhir
Pemanfaatan Media Lingkungan
Pemanfaatan media lingkungan merupakan aktivitas penyuluh dalam mempelajari kondisi lingkungan di sekitar tempat tugasnya dalam memperkaya
kemampuannya yang terkait dengan pelaksaaan penyuluh. Lingkungan yang dimaksudkan adalah pengamatan lingkungan alam, pengamatan lingkungan usaha pertanian, dan lingkungan pendalaman inovasi mandiri. Definisi operasional masing-masing peubah tersebut, sebagai berikut:
(a) Pengamatan lingkungan alam adalah intensitas pengamatan yang dilakukan penyuluh terhadap perubahan alam di tempat tugasnya yang terkait dengan usaha tani dalam empat bulan terakhir.
(b) Pengamatan lingkungan usaha pertanian adalah intensitas pengamatan penyuluh terhadap kebiasaan petani dalam melakukan produksi, pasca panen, dan pemasaran hasil pertanian dalam empat bulan terakhir.
(c) Pendalaman inovasi mandiri adalah aktivitas penyuluh mendalami inovasi atau teknologi baru sesuai dengan kebutuhan petani secara mandiri dalam empat bulan terakhir.
Indikator dan parameter karakteristik intensitas pemanfaatan media lingkungan (pengamatan lingkungan alam, pengamatan lingkungan usaha pertanian, dan pendalaman inovasi mandiri) dijelaskan dalam Tabel 7.
Tabel 7 Indikator dan Parameter Intensitas Pemanfaatan Media Lingkungan
Peubah/indikator Parameter
Pemanfaatan Media Lingkungan (Y3)
(1) Pengamatan lingkungan alam
(1) Intensitas mengamati ketersediaan air. (2) Intensitas mengamati kesuburan tanah. (3) Intensitas mengamati potensi lahan (4) Intensitas mengamati perubahan iklim (2) Pengamatan lingkungan
usaha pertanian
(1) Intensitas pengamatan pengolahan lahan (2) Intensitas pengamatan penyediaan benih (3) Intensitas pengamatan pemupukan (4) Intensitas pengamatan penanaman (5) Intensitas pengamatan membasmi hama (6) Intensitas pengamatan memanen hasil (7) Intensitas pengamatan pasca panen (8) Intensitas pengamatan pemasaran hasil (3) Pendalaman inovasi
mandiri
(1) Intensitas mencari referensi inovasi (2) Intensitas uji coba inovasi
(3) Tingkat keterlibatan petani dalam ujicoba
(4) Menganalisis petani yang sukses dan gagal dalam menerapkan inovasi
Kompetensi Penyuluh (Y4)
Kompetensi penyuluh adalah kemampuan yang dilandasi oleh
pengetahuan, keterampilan, dan didukung oleh sikapnya dalam melaksanakan tugas penyuluhan dalam memberdayakan petani. Kompetensi penyuluh dalam upaya memberdayakan petani dikelompokkan ke dalam tujuh dimensi yaitu: (1) Kompetensi pemahaman potensi wilayah, (2) Kompetensi komunikasi inovasi, (3) Kompetensi pengelolaan pembelajaran, (4) Kompetensi pengelolaan pembaharuan, (5) Kompetensi pengelolaan pelatihan, (6) Kompetensi mengembangkan kewirausahaan, dan (7) Kompetensi pemandu sistem jaringan.
Pengukuran kompetensi penyuluh dilakukan melalui kuesioner terhadap penyuluh sendiri dan dilakukan pula konfirmasi terhadap petani sebagai klien dari penyuluh yang bersangkutan. Definisi operasional masing-masing indikator tersebut, sebagai berikut:
(a) Kompetensi pemahaman potensi wilayah adalah kemampuan penyuluh dalam mengidentifikasi sumberdaya yang dapat dikembangkan sesuai tuntutan kebutuhan petani.
(b) Kompetensi komunikasi inovasi adalah kemampuan penyuluh memfasilitasi kebutuhan petani dalam meningkatkan usaha pertanian dengan mencari usaha pertanian yang tepat.
(c) Kompetensi pengelolaan pembelajaran adalah kemampuan penyuluh dalam menciptakan proses belajar agar petani menguasai dan menerapkan inovasi melalui berbagai media belajar yang ada di sekitar lingkungannya.
(d) Kompetensi pengelolaan pembaharuan adalah kemampuan penyuluh dalam memfasilitasi petani agar dapat menyesuaikan usaha pertaniannya dengan lingkungan yang terus berubah.
(e) Kompetensi pengelolaan pelatihan adalah kemampuan penyuluh dalam mengelola perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi dan tindaklanjutnya dalam kegiatan pelatihan atau kursus tani yang sesuai dengan kebutuhan petani.
(f) Kompetensi mengembangkan kewirausahaan adalah kemampuan penyuluh dalam mendorong petani untuk berani mengambil resiko, mencari peluang, cara pandang (visi) terhadap perubahan, dan inisiatif untuk berubah.
(g) Kompetensi pemandu sistem jaringan adalah kemampuan penyuluh dalam melakukan hubungan kerjasama yang sinergis antar pihak terkait dalam menunjang pelaksanaan penyuluhan.
Secara rinci indikator dan parameter kompetensi penyuluh dijelaskan dalam Tabel 8.
Data yang diperoleh dari lapangan melalui kuesioner merupakan data skala ordinal dengan simbol 1, 2, 3 dan 4. Untuk keperluan analisis statistik (statistik parametrik), dilakukan tranformasi data ke data interval atau rasio. Dalam tranformasi indeks indikator, tiap indikator memiliki nilai 0 s.d 100. Nilai indeks terkecil 0 diberikan untuk jumlah skor terendah dan nilai 100 untuk jumlah skor tertinggi dari tiap indikator (Sumardjo, 1999). Pembulatan angka menyesuaikan pembualatan dalam program komputer. Transformasi data ini dilakukan dalam dua cara yaitu (1) tranformasi indeks indikator, dan (2) tranformasi indeks peubah.
Rumus umum tranformasi indeks indikator dan indeks peubah sebagai berikut :
Indeks Indikator = Jumlah skor indikator yang dicapai – jumlah skor indikator minimal x 100
Jumlah skor indikator maksimal – jumlah skor indikator minimal Indeks peubah = Jumlah skor peubah yang dicapai x 100
Jumlah skor peubah maksimal
Dengan menggunakan perhitungan rumus tersebut, maka sebaran data berubah menjadi skala interval dengan skor berkisar dari 0 sampai 100. Untuk keperluan interpretasi, skor data dikelompokkan menggunakan empat jenjang tingkatan sebagai berikut: (1) Sangat Rendah berada pada kisaran nilai 0 sampai 25; (2) Rendah berada pada kisaran 26 sampai 50; (3) Sedang berada pada kisaran nilai 51 sampai 75; dan (4) Tinggi berada pada kisaran nilai 76 sampai 100.
Tabel 8 Indikator dan Parameter Kompetensi Penyuluh Pertanian Peubah/indikator Parameter Kompetensi Penyuluh Pertanian (Y4) (1) Kemampuan pemahaman potensi wilayah
(1) Pemahaman potensi sumberdaya alam
(2) Pemahaman permasalahan petani dan solusinya melalui penyuluhan
(2) Kemampuan komunikasi inovasi
(1) Mencari informasi inovasi melalui berbagai saluran komunikasi
(2) Pemahaman inovasi yang dibutuhkan petani (3) Mengkomunikasikan inovasi
(4) Berkomunikasi secara dialogis
(5) Berempati atau merasakan permasalahan yang dihadapi petani dalam usaha pertanian
(3) Kemampuan pengelolaan pembelajaran
(1) Memfasilitasi interaksi/belajar sesama petani (2) Memanfaatkan media pembelajaran
(3) Menumbuhkan kebiasaan belajar sambil bekerja (4) Kemampuan
pengelolaan pembaharuan
(1) Membangkitkan motivasi untuk menerapkan teknologi atau inovasi
(2) Menumbuhkan kepekaan terhadap perubahan (3) Menerapkan teknologi/inovasi dalam memecahkan
masalah yang dihadapi petani
(5) Kemampuan
pengelolaan pelatihan
(1) Merancang pelatihan/ kursus tani
(2) Melaksanakan: fasilitator, menggunakan metode, dan media yang tepat.
(3) Mengevaluasi hasil pelatihan
(4) Mengembankan kegiatan tindak lanjut (5) Melibatkan petani dalam tahapan pelatihan (6) Kemampuan
mengembangkan kewirausahaan
(1) Mengembangkan cara pandang petani untuk mengikuti perubahan.
(2) Mengembangkan kemampuan petani dalam mencari peluang (kesempatan)
(3) Menanamkan sikap berani mengambil resiko (4) Mengembangkan sikap untuk berinisiatif dalam
usaha pertanian sesuai tuntutan perubahan (5) Memfasilitasi kerjasama dalam kelompok usaha
sesuai potensi yang dimiliki petani (7) Kemampuan pemandu
sistem jaringan
(1) Memfasilitasi hubungan dengan lembaga penelitian/ PT serta mengaksesnya
(2) Bernegosiasi/koordinasi dengan pemerintah daerah kabupaten
(3) Mengembangkan kelompok tani dan kerjasama dalam tim.
(4) Memfasilitasi informasi produksi pertanian dan harga pasar
(5) Memfasilitasi kerjasama kemitraan dengan dunia usaha.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah penyuluh pertanian Pegawai Negeri Sipil (PNS) padi di kabupaten Karawang dan penyuluh sayuran di kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Pertimbangan penentuan lokasi penelitian, antara lain: tantangan penyuluhan di daerah sayuran berbeda dengan daerah padi dan arus informasi dan komunikasi di daerah sayuran lebih dinamis dibandingkan dengan daerah padi.
Wilayah kabupaten Karawang umumnya terdiri dari dataran rendah yang dialiri oleh irigasi dari sungai Citarum (bendungan Walahar) sehingga pertanian padi menyebar di seluruh kabupaten. Penyuluh yang bertugas di wilayah padi juga menyebar di setiap wilayah/kecamatan sehingga populasi penyuluh pertanian padi adalah penyuluh PNS yang bertugas di seluruh wilayah kabupaten Karawang yang berjumlah 129 orang.
Wilayah pertanian sayuran di kabupaten Garut berada di daerah sekitar dataran tinggi atau pegunungan yang iklimnya sejuk. Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian Garut, hampir seluruh wilayah kabupaten Garut cocok untuk menanam sayuran yaitu 37 kecamatan, kecuali di lima kecamatan berada di daerah pinggir pantai (Garut bagian Selatan), yaitu kecamatan Caringin, Cibalong, Cikelet, Mekarmuti, dan kecamatan Pameungpeuk. Adapun jumlah penyuluh pertanian PNS di luar lima kecamatan tersebut seluruhnya berjumlah 162 orang.
Sampel diambil secara random menggunakan teknik random sampling
dengan menggunakan rumus Slovin (Sevilladkk., 1993), yaitu:
Keterangan:
n = ukuran sampel N = ukuran populasi
e = persen kelonggaran sebesar 7 %
Hasil perhitungan dengan rumus Slovin tersebut, ditetapkan jumlah sampel penelitian sebanyak 170 orang, yang terdiri dari 80 orang penyuluh yang
N n =
bertugas di pertanian padi dan 90 orang penyuluh yang bertugas di pertanian sayuran (Tabel 9).
Tabel 9 Sampel Penelitian Penyuluh Pertanian Padi di Karawang dan Penyuluh Sayuran di Garut
Penyuluh Populasi Sampel
Penyuluh padi (Karawang) 129 80 Penyuluh sayuran (Garut) 162 90 Jumlah 291 170
Sumber: diolah dari Dinas Pertanian Kabupaten Karawang dan Garut
Pengumpulan data terhadap penyuluh didasarkan atas pendapat atau persepsi penyuluh terhadap indikator-indikator yang diajukan dalam mengukur peubah-peubah penelitian. Menurut Sarwono (1984), persepsi adalah proses katagorisasi terhadap rangsangan dari luar yang didalamnya terdapat unsur pemberian arti dan penilaian (inferensiasi) terhadap objek tersebut. Persepsi dapat diartikan sebagai proses pemberian makna yang di dalamnya terdapat proses seleksi/penilaian terhadap rangsangan berdasarkan pengamatan, wawasan, dan pengalamannya. Ini berarti persepsi penyuluh terhadap peubah penelitian didasarkan pada pengamatan, wawasan, dan pengalamannya yang di dalamnya terdapat unsur penilaian terhadap peubah penelitian tersebut.
Untuk memperoleh data lebih akurat terutama dalam pengukuran peubah kompetensi penyuluh, dilakukan verifikasi atau konfirmasi data kepada 204 petani yang menjadi klien dari 68 penyuluh yang bersangkutan. Penentuan penyuluh tersebut ditentukan secara acak. Setiap penyuluh terpilih dikonfirmasi kepada tiga orang petani sebagai sampel yang terdiri dari satu orang ketua/ pengurus kelompok tani dan dua orang anggota kelompok tani yang menjadi binaan dari penyuluh tersebut. Jumlah petani tersebut terdiri dari 96 petani yang berasal dari 32 kelompok tani di daerah pertanian padi (Karawang) dan 108
petani dari 36 kelompok tani di daerah sayuran (Garut). Penentuan petani ini dilakukan secara acak.
Validitas Instrumen
Validitas instrumen atau kesahihan kuesioner berkaitan dengan mengukur apa yang seharusnya diukur. Alat ukur dikatakan valid atau sahih apabila alat ukur tersebut dapat digunakan untuk mengukur secara tepat konsep yang sebenarnya ingin diukur (Ancok, 1989).
Validitas instrumen yang diuji dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity) dan validitas konstruk (construct validity). Validitas isi dilakukan dengan mengkaji peubah-peubah penelitian melalui konsep dan teori yang relevan yang selanjutnya diturunkan menjadi definisi operasional dan indikator pengukuran. Pengkajian ini juga berdasarkan pendapat para ahli dari berbagai literatur ini dan dilakukan diskusi dengan pakar (pembimbing dan nara sumber lainnya). Validitas isi ditujukan untuk mengetahui apakah substansi alat ukur telah mencerminkan seluruh isi yang dimiliki, serta apakah informasi yang dikumpulkan telah sesuai dengan konsep yang digunakan. Berdasarkan kajian konsep dan teori serta hasil diskusi dengan para pakar maka instrumen penelitian telah memenuhi validitas isi.
Validitas konstruk menggambarkan mengenai kemampuan sebuah alat ukur untuk menjelaskan suatu konsep (Ferdinand, 2006). Uji validitas konstruk dilakukan uji coba kuesioner terhadap sasaran yang relatif sama dengan objek penelitian. Uji coba ini dilakukan terhadap 30 penyuluh di kabupaten Bogor. Selanjutnya skor tiap item dikorelasikan (Korelasi Pearson Product Moment) antara skor tes dengan skor kriteria. Koefisien ini merupakan koefisien validitas bagi tes yang bersangkutan. Hasil pengujian ini diketahui bahwa instrumen penelitian terbukti valid (Tabel 10), artinya dapat dipercaya mengukur konsep yang hendak diukur sesuai tujuan penelitian.
Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas sering diartikan sebagai keterpercayaan, keterandalan, keajegan, atau kekonsistensian. Instrumen yang reliabel berarti instrumen yang dapat dipercaya, ajeg, atau konsisten mengukur suatu konsep. Instrumen dikatakan reliabel apabila instrumen itu secara konsisten memunculkan hasil yang sama setiap kali dilakukan pengukuran (Ferdinand, 2006). Menurut Ancok (1989) reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauhmana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau diandalkan. Ini berarti bahwa uji reliabilitas ditujukan untuk mengetahui dan mengukur tingkat akurasi atau konsisten dari jawaban responden.
Untuk menguji reliabilitas instrumen, sebelum penelitian dilaksanakan, dilakukan uji coba instrumen terhadap 30 penyuluh pertanian yang ada di kabupaten Bogor, yang memiliki karakteristik yang hampir sama dengan sampel penelitian. Hasil ujicoba instrumen selanjutnya diolah dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach. Teknik ini menurut Hadjar (1999) merupakan teknik yang paling cocok untuk menguji reliabilitas instrumen yang masing-masing butirnya lebih dari satu alternatif jawaban yang mungkin terjadi (tidak ada jawaban yang salah atau benar).
Menurut (Arikunto, 1998), teknik Alpha Cronbach digunakan untuk